• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISA DAN PEMBAHASAN

4.1.6. Dampak Dana BOS

4.1.6.2. Angka Mengulang Kelas dan Angka Kelulusan

Pada jenjang SMP, Juara 1 olimpiade sains IPS tingkat propinsi (2010), juara 8 (2011), MTQ juara 1 nasional (2012), olimpiade sains.

4.1.6.2. Angka Mengulang Kelas dan Angka Kelulusan

Angka mengulang kelas (AMK) untuk jenjang SD dalam empat tahun terakhir menunjukkan adanya penurunan dari 1439 (tahun 2009) menjadi 1257 (2010), 1174 (2011) dan 1134 (2012). Angka mengulang kelas (AMK) jenjang SD pada tahun 2012 adalah sebesar 3,10%. Dengan kata lain, dari 100 siswa ada sekitar 3 orang yang mengulang kelas. Data mengulang kelas jenjang SD ini dalam lima tahun terakhir dapat dilihat pada Grafik 4.1.

Grafik 4.6. Angka Mengulang Kelas (AMK) pada Jenjang SD.

Pada tahun 2012, siswa SMP yang putus sekolah atau mengulang kelas berada pada kategori kecil sekali, yaitu sebesar 0,002 atau 2 orang per 1000 siswa. Alasan siswa yang mengalami putus sekolah secara umum adalah karena: (1) malas, (2) tidak ada minat sekolah, (3) orangtua tidak mampu, (4) siswa tidak mau sekolah lagi. Angka putus sekolah dan angka mengulang kelas jenjang SMP dapat dilihat pada Grafik 4.2.

43

Grafik 4.7. Angka Putus Sekolah dan Angka Mengulang Kelas SMP

Grafik 4.8. Angka Kelulusan SD

Angka kelulusan SD dan SMP dalam lima tahun terakhir telah menunjukkan ada peningkatan. Secara berturut angka kelulusan SD adalah 92,64% (2008), 92,73% (2009), 95,11% (2010), 95,11% (2011), 95,45% (2012). Semewntara itu, angka jelulusan jenjang SMP adalah 84,59% (2008), 92,53% (2009), 93,14% (2010), 94,33% (2011), 95,35% (2012).

44

Grafik 4.9. Angka Kelulusan SMP

45 4.2. PEMBAHASAN

Guru dan Pegawai

Keadaan guru yang berkualifikasi S1 pada jenjang SD telah mencapai 63,79%; sementara pada jenjang SMP telah mencapai 88,8%; Ini berarti bahwa semua sekolah dasar telah memenuhi standar pelayanan minimal untuk jumlah guru yang berkualifikasi S1. Yang patut menjadi perhatian adalah jumlah guru honor yang terlalu besar, yaitu mencapai 31,64% atau hampir sepertiga dari guru SD Negeri. Ini berarti bahwa kekurangan guru di SD sangat besar. Jika rata-rata guru SD dibayar dari dana BOS rata-rata Rp. 580.000,- per bulan, maka jumlah dana BOS yang digunakan untuk membayar guru per bulan adalah 561 x Rp. 580.000 = Rp. 325.380.000. Dalam setahun maka jumlah honor guru yang harus dibayar dari dana BOS hampir mencapai Rp. 4 milyar. Selanjutnya, jika rata-rata guru SMP dibayar dari dana BOS rata-rata Rp. 640.000,- per bulan, maka jumlah dana BOS yang digunakan untuk membayar guru per bulan adalah 57 x Rp. 640.000 = Rp. 36.480.000. Dalam setahun maka jumlah honor guru yang harus dibayar dari dana BOS hampir mencapai Rp. 1/2 milyar.

Pegawai administrasi di SD Negeri yang dibayar dari dana BOS SD mencapai 100 orang. Ini berarti bahwa rasio antara SD Negeri dengan pegawai administrasi adalah 1,15; meskipun ada diantara SD Negeri yang tidak memiliki pegawai administrasi dan ada SD Negeri yang memiliki pegawai administrasi 10 orang. Pada jenjang SMP, jumlah pegawai yang honornya dibayar dari dana BOS berjumlah 67 orang, artinya rata-rata SMP memiliki 3 orang pegawai yang dibayar dari dana BOS.

Berdasarkan data guru dan pegawai administrasi, pada jenjang SD dan SMP masih kurang efisien karena jumlah pegawai yang dibayar dari dana BOS terlalu besar. Sudah seharusnya pemerintah daerah dapat mengambil kebijakan dengan menambah jumlah guru dan pegawai administrasi tetap (PNS) pada jenjang SD dan SMP sehingga dana BOS untuk membayar honor mereka dapat digunakan untuk keperluan lainnya.

46 Penerimaan Dana BOS

Penerimaan dana BOS untuk tingkat SD pada umumnya terlambat atau tidak tepat waktu. Dikatakan terlambat apabila dana BOS diterima lebih dari 15 hari bulan pertama pada setiap awal triwulan. Dana BOS SD untuk Triwulan 1 diterima sekolah mulai dari tanggal 18,19, 20, 23, 24, 25, 26, 27 dan 31 Januari 2012. Dana BOS SD untuk Triwulan 2 diterima sekolah pada umumnya sejak 20 April 2012, bahkan ada SD yang menerima pada tanggal 4, 10, 21 Mei dan 3 Agustus 2012. Dana BOS SD untuk Triwulan 3 diterima sekolah pada umumnya antara tanggal 1-21 Agustus 2012. Dana BOS SMP untuk Triwulan 1-3 diterima sekolah pada tanggal 18 Januari, 24 April, dan 1 Agustus 2012. Jadwal penyaluran dana BOS yang dikeluarkan Kemdikbud adalah pertengahan bulan Januari, April, Agustus 2012.

Penggunaan Dana BOS

Berdasarkan data sampel SD, jumlah dana BOS yang diterima SD untuk triwulan 1-3 tahun 2012 adalah sebesar Rp. 20.1-31-32.946.800; sementara jumlah dana yang telah digunakan adalah sebesar Rp. 19.114.003.442 (94%). Namun demikian, di wilayah pembangunan IV ada 7 dari 16 SD yang telah menggunakan dana BOS melebihi dana yang telah diterima.

Proporsi penggunaan dana BOS untuk siswa miskin cukup kecil yaitu 0,23% di tingkat SD dan 0,9% di tingkat SMP. Kecilnya jumlah pengeluaran dana BOS disebabkan karena bantuan siswa miskin telah ada dan disalurkan oleh Dinas Pendidikan sebesar Rp. 360.000 per siswa per tahun.

Berdasarkan data sampel SMP, jumlah dana BOS yang diterima SMP untuk triwulan 1-3 tahun 2012 adalah sebesar Rp. 8.207.857.500; sementara jumlah dana yang telah digunakan adalah sebesar Rp. 7.828.170.947 (94%). Ini berarti bahwa dana BOS SMP telah digunakan oleh sekolah rata-rata sebesar 95,43 %. Namun demikian menurut data yang dikumpulkan ternyata ada SMP yang baru menerima 2 triwulan tetapi telah melaporkan penggunaan dana BOS untuk 3 triwulan, dengan demikian penggunaan dana BOS di di tiga sekolah melebihi 100%. Ada pula SMP baru membuat rincian penggunaan dana BOS sekitar 32,84

47

% dan 66,67%. Di masa depan, kedua hal ini patut diberi perhatian khusus oleh pihak yang berwenang.

Secara umum penggunaan dana BOS SD dan SMP di Kota Medan telah memenuhi ketentuan sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 51/2011 tentang Petunjuk Teknis Penggunaan Dana BOS dan Laporan Keuangan BOS Tahun Anggaran 2012. Namun demikian, tidak semua sekolah (SD maupun SMP) telah memenuhi ketetapan ketentuan tersebut, khususnya dalam penggunaan untuk “membantu siswa miskin”. Pada jenjang SD hanya tidak sampai 0,23 % dana BOS digunakan untuk membantu siswa miskin; sementara pada jenjang SMP dana BOS hanya digunakan 0,9 % untuk membantu siswa miskin. Keadaan ini tentu saja patut menjadi perhatian pihak terkait, dalam hal ini Dinas Pendidikan Kota Medan. Namun demikian ada juga pengeluaran dana BOS pada jenjang SD di luar ketentuan 1-13, yang besarnya sekitar 1,21%. Ada sebesar 35,63% responden yang mengatakan adanya pengeluaran dana dimaksud.

Perbandingan persentase penggunaan dana BOS SD dan SMP dapat dilihat pada grafik 4.4. Dalam beberapa jenis penggunaan dana BOS, ada 4 jenis penggunaan yang menunjukkan perbedaan yang sangat mencolok, yaitu untuk pembelian buku teks, pembelajaran dan ekstra kurikuler, perawatan sekolah, dan pengembangan profesi guru. Penggunaan dana BOS yang paling banyak pada jenjang SD adalah untuk untuk “pembelian buku teks pelajaran” dan “perawatan sekolah”, masing-masing 20,30%. Penggunaan dana BOS yang paling banyak pada jenjang SMP adalah untuk kegiatan “pembelajaran dan ekstra kurikuler” atau 21,95% dan “pengembangan profesi guru” atau 15,26%. Pengeluaran dana BOS pada jenjang SMP di luar ketentuan 1-13, besarnya sekitar 0,6 %. Hal ini diakui oleh 22,22% kepala sekolah SMP.

Ketika ditanyakan apakah rencana penggunaan dana BOS dikordinasikan dengan Dinas Pendidikan? Pertanyaan ini diajukan untuk mengetahui ada tidaknya dilakukan sinkronisasi penggunaan dana BOS antara sekolah dengan Dinas Pendidikan. Untuk hal ini, maka sebesar 68,96% kepala SD dan 77,78% kepala

48

SMP menyatakakan bahwa telah dilakukan koordinasi dengan Dinas Pendidikan. Akan tetapi tidak dapat dijelaskan seperti apa kordinasi dimaksud.

RAKS dan Pembukuan Dana BOS.

Pada umumnya SD dan SMP penerima dana BOS telah membuat Rencana Anggaran dan Kegiatan Sekolah (RAKS) atau Formulir BOS-K1 maupun Rincian Penggunaan dana BOS atau Formulir BOS-K2 sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 51/2011 tentang Petunjuk Teknis Penggunaan Dana BOS dan Laporan Keuangan BOS Tahun Anggaran 2012.

Berdasarkan tabel 4.9 dapat diketahui bahwa penerima dana BOS SD telah melakukan pembukuan dengan menggunakan buku kas umum (Formulir BOS-K3) sebanyak 100% , buku pembantu kas sebanyak 95,40% (Formulir BOS-K4), buku pembantu bank (Formulir BOS-K5) sebanyak 89,65%, dan buku pembantu pajak (Formulir BOS-K6) sebanyak 86,21%. Semua SMP penerima dana BOS juga sudah menggunakan keempat jenis buku ini.

Sebanyak 95,40% SD penerima dana BOS telah membuat buku catatan harian, sebanyak 56,32% SD memiliki jumlah uang tunai di kas antara Rp. 138.000,- sampai dengan 137.120.000,- Pada jenjang SMP, semuanya telahmembuat buku catatan harian, dan 83,33% memiliki uang tunai di kas berkisar antara Rp. 262.000 sampai Rp. 70.000.000,-

Bukti pengeluaran dana BOS pada jenjang SD dalam bentuk kwitansi, amprah dan bon faktur diketahui bahwa sebesar 100% SD dapat menunjukkan kwitansi pengeluaran dana BOS, sebesar 44,83% dapat menunjukkan ada amprah, dan sebesar 98,85% menunjukkan ada bon faktur. Pada jenjang SMP, ada sebesar 27,78% tidak dapat menunjukkan amprah sebagai bukti pengeluaran dana BOS. Dengan demikian, bukti amprah perlu menjadi perhatian pihak berwenang.

Pada umumnya SD dan SMP telah melakukan pengesahan bukti pengeluaran dana BOS, arsipnya ada, dan bukti-bukti tersebut disimpan dengan baik dan rapi.

49 Pelaporan Dana BOS

Realisasi pengeluaran dana BOS pada jenjang SMP, ada 5,56% sekolah (1 dari 18 SMP) yang menyatakan tidak sesuai antara rencana dengan realisasi penggunaan dana BOS (Formulir BOS K-7). Hal ini disebabkan karena dua alasan, yaitu (a) terjadi perubahan harga, dan (b) adanya keperluan tak terduga. Pada jenjang SD, ada 3,45% sekolah (3 dari 87 SD) yang menyatakan tidak sesuai antara rencana dengan realisasi penggunaan dana BOS. Hal ini disebabkan karena beberapa alasan, yaitu (a) ada kebutuhan yang mendadak, (b) situasi dan kondisi yang ada didahulukan, dan (c) keperluan berubah dari yang sudah direncanakan. Tabel ini juga menunjukkan bahwa pengeluaran dana BOS telah mendapat pengesahan dari Kepala sekolah, Komite Sekolah dan Bendahara.

Pada jenjang SMP tidak ditemukan pengaduan dari masyarakat tentang penggunaan dana BOS, demikian juga halnya dengan cacatan kejadian penting lainnya. Pada janjang SD, ditemukan dua catatan kejadian penting, yang satu berupa “pengeluaran dana dipercepat”; sementara yang satu lagi pihak kepala sekolah tidak mau menyebutkan kejadian penting dimaksud.

Dampak BOS

Dana BOS (SD dan SMP) sebagian digunakan untuk kegiatan pengembangan profesi guru dan kegiatan pembelajaran. Guru yang telah memiliki Silabus dan RPP sudah cukup baik (91,86% dan 91,73%), namun masih rendah dalam kepemilikan LKS dan kumpulan soal (64,94% dan 79,06). Kepemilikan guru SMP terhadap perangkat pembelajaran berupa Silabus dan RPP sudah lebh baik dari kepemilikan guru SD (97% dan 97%), namun kepemilikan lembar kerja siswa (LKS) pada guru SMP baru mencapai 27%, hal ini lebih rendah dibanding guru guru SD; namun dalam kepemilikan kumpulan soal sudah hamper berimbang kumpulan soal (80%).

Dana BOS diyakini memiliki dampak terhadap berbagai hal maka dapat dilihat dari berbagai indikator pendidikan seperti angka mengulang kelas, angka kelulusan, nilai ujian nasional lain. Dampak lain juga dapat dilihat pada kepemilikan perangkat pembelajaran dan prestasi yang dicapai sekolah. Prestasi

50

siswa SD pada tingkat nasional dalam tiga tahun terakhir adalah berprestasi 1 orang pada olimpiade sains (2011), dan 1 orang pada lomba cerpen anak (2011), dan pada tingkat internasional 1 orang dalam bidang pencak silat (2010). Pada jenjang SMP, Juara 1 olimpiade sains IPS tingkat propinsi (2010), juara 8 (2011), MTQ juara 1 nasional (2012), olimpiade sains.

Angka mengulang kelas (AMK) untuk jenjang SD dalam empat tahun terakhir menunjukkan adanya penurunan dari 1439 (tahun 2009) menjadi 1257 (2010), 1174 (2011) dan 1134 (2012). Angka mengulang kelas (AMK) jenjang SD pada tahun 2012 adalah sebesar 3,10%. Dengan kata lain, dari 100 siswa ada sekitar 3 orang yang mengulang kelas.

Pada tahun 2012, siswa SMP yang putus sekolah atau mengulang kelas berada pada kategori kecil sekali, yaitu sebesar 0,002 atau 2 orang per 1000 siswa. Alasan siswa yang mengalami putus sekolah secara umum adalah karena: (1) malas, (2) tidak ada minat sekolah, (3) orangtua tidak mampu, (4) siswa tidak mau sekolah lagi. Angka putus sekolah dan angka mengulang kelas jenjang SMP dapat dilihat pada Grafik 4.2.

Angka kelulusan SD dan SMP dalam lima tahun terakhir telah menunjukkan ada peningkatan. Secara berturut angka kelulusan SD adalah 92,64% (2008), 92,73% (2009), 95,11% (2010), 95,11% (2011), 95,45% (2012). Semewntara itu, angka jelulusan jenjang SMP adalah 84,59% (2008), 92,53% (2009), 93,14% (2010), 94,33% (2011), 95,35% (2012).

51 BAB V

Dokumen terkait