• Tidak ada hasil yang ditemukan

Angka Putus Sekolah Tingkat SMP/MTs Tahun 2010 –2015

ANGKA PARTISIPASI MURNI TINGKAT SMP/MTs TAHUN 2010/2015

Chart 8. Angka Putus Sekolah Tingkat SMP/MTs Tahun 2010 –2015

Meningkatnya prestasi siswa dan lembaga sekolah bidang akademis maupun non akademis

Angka Putus Sekolah (APS)

- APS SD/MI 0,05% 0% 0,06% 94%

- APS SMP/MTS 0,37% 0% 0,22% 88%

Berdasarkan data diatas dapat dijelaskan bahwa capaian Angka Putus Sekolah Tk. SD/MI sebesar 0.06% dari yang ditargetkan 0%, atau realisasi mencapai 94%. Sedangkan untuk tingkat SMP/MTs, Angka Putus Sekolah sebesar 0.22% dari yang ditargetkan 0%, atau realisasi mencapai 88%.

Untuk tingkat SD/MI, pada tahun 2014/2015dari jumlah siswa sebesar 87.976 orang terdapat sejumlah52anak putus sekolah dan tingkat SMP/MTs, dari 36.998 anak terdapat 80 anak putus sekolah.Jika dilihat dan dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, dapat dilihat dalam grafik sebagai berikut:

Chart 7. Angka Putus Sekolah Tingkat SD/MI Tahun 2010 –2015

Chart 8. Angka Putus Sekolah Tingkat SMP/MTs Tahun 2010 –2015

0,09 0,09 0,05 0,05 0,06 0 0,02 0,04 0,06 0,08 0,1 A xi s Ti tl e

Angka Putus Sekolah Tingkat SD Tahun 2010 - 2015

Angka Putus Sekolah

0,27 0,16 0,19 0,37 0,22 0 0,1 0,2 0,3 0,4 A xi s Ti tl e

Angka Putus Sekolah Tingkat SMP Tahun 2010 - 2015

Bab III, Akuntabilitas Kinerja

Laporan Akuntabilitas Kinerja

42

H a l.

Data di atas menunjukkan, bahwa masih terdapat peserta didik SD/MI dan SMP/MTs yang putus sekolah disebabkan karena :

a. Peserta didik yang berpredikat putus sekolah, adalah mengikuti orang tua pindah ke luar Kota Malang dan belum tercatat pada data pokok pendidikan;

b. Masih kurangnya minat anak-anak terutama kaum marjinal untuk bersekolah yang disebabkan karena kurangnya perhatian orangtua/kondisi keluarga yang kurang harmonis, jarak antara tempat tinggal anak dengan sekolah yang jauh, fasilitas belajar yang kurang, alasan ekonomidan pengaruh lingkungan sekitarnya. Minat yang kurang dapat disebabkan oleh pengaruh lingkungan misalnya tingkat pendidikan masyarakat rendah yang diikuti oleh rendahnya kesadaran tentang pentingnya pendidikan. Ada pula anak putus sekolah karena malas untuk pergi sekolah karena merasa minder, tidak dapat bersosialisasi dengan lingkungan sekolahnya. Ketidakmampuan ekonomi keluarga dalam menopang biaya pendidikan yang berdampak terhadap masalah psikologi anak sehingga anak tidak bisa bersosialisasi dengan baik dalam pergaulan dengan teman sekolahnya selain itu adalah peranan lingkungan. Untuk faktor ini banyak dijumpai di daerah pinggiran Kota Malang;

c. Adanya faktor sosial dan budaya masyarakat terutama di daerah pinggiran Kota Malang. Faktor budaya yang dimaksudkan di sini adalah terkait dengan kebiasaan masyarakat di sekitarnya. Yaitu, rendahnya kesadaran orang tua atau masyarakat akan pentingnya pendidikan. Mereka beranggapan tanpa bersekolah pun anak-anak mereka dapat hidup layak seperti anak-anak lainnya yang bersekolah. Oleh karena di desa jumlah anak yang tidak bersekolah lebih banyak dan mereka dapat hidup layak maka kondisi seperti itu dijadikan landasan dalam menentukan masa depan anaknya.Seperti adanya beberapa peserta didik SD/MI dan SMP/MTs yang tidak menyelesaikan sekolahnya dengan alasan bekerja membantu perekonomian orang tua.Namun lambat laun faktor ini sudah jarang kita temui karena semakin tingginya tingkat pendidikan orang tua;

d. Faktor lainnya seperti cacat, IQ yang rendah, rendah diri dan umur yang melampaui usia sekolah. Persentase anak yang putus sekolah yang disebabkan karena faktor ini sangat sedikit, yaitu kurang dari 1%.

Bab III, Akuntabilitas Kinerja

Laporan Akuntabilitas Kinerja

43

H a l.

Untuk menanggulangi Angka Putus Sekolah sekaligus menuntaskan Program Pendidikan Wajib Belajar 9 Tahun, Dinas Pendidikan Kota Malang melaksanakan kegiatan sebagai berikut:

1. Program Wajib Belajar 9 tahun dengan dibarengi memberikan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan bantuan bagi siswa prasejahtera. Kegiatan-kegiatan tersebut bertujuan agar peserta didik tidak ada yang putus sekolah karena faktor ekonomi;

2. Menyediakan pendidikan kesetaraan melalui Kelompok Belajar Paket A, bagi mereka yang tidak lulus/tamat SD/MI dan Paket B bagi yang tidak tamat SMP/MTs;

3. Mendirikan SMP Terbuka yaitu sekolah formal yang berinduk pada SMP regular yang terdekat baik negeri maupun swasta yang memenuhi syarat dengan bentuk pendidikan terbuka dan pendidikan jarak jauh. SMP Terbuka menitikberatkan pada belajar secara mandiri dan tetap ada kegiatan tatap muka tetapi terbatas. Konsepnya, proses pembelajaran tidak terikat tempat dan waktu.

5. PersentaseRuang KelasSD/MI dan SMP/MTs dengan Kondisi Bangunan Baik

Untuk dapat memberikan pelayanan pendidikan yang baik kepada masyarakat, Dinas Pendidikan Kota Malang bersama dengan seluruh stakeholder yang ada perlu menjamin ketersediaan tempat belajar yang memadai. Indikator Ruang Kelas dengan Kondisi Bangunan Baik adalah indikator penunjang semua indikator-indikator utama yang ada. Bahkan indikator ini juga termasuk salah satu indikator utama di Standar Pelayanan Minimal pendidikan. Sehingga dengan tercapaianya indikator ini, maka akan berpengaruh kepada indikator-indikator yang lain.

Capaian Persentase Persentase ruang kelas SD/MI dan SMP/MTs dengan Kondisi Bangunan Baik.

Bab III, Akuntabilitas Kinerja

Laporan Akuntabilitas Kinerja

44

H a l. Tabel 3. 10. Persentase SD/MI dan SMP/MTs dengan Kondisi Bangunan Baik Tahun 2015

No Sasaran Indikator Sasaran Tahun

2014 Target 2015 Realisasi 2015 % 1. Meningkatnya prestasi siswa dan lembaga sekolah bidang akademis maupun non akademis

1. Persentase Ruang Kelas SD/MI dengan Kondisi bangunan baik

60,69 % 61,94% 86,29% 139.31% 2. Persentase SMP/MTs dengan

kondisi bangunan baik

69,11 % 76,96% 91,85% 119.35%

Target yang ditetapkan dalam tahun 2015 untuk Ruang kelas sekolah dalam kondisi baik adalah untuk SD/MI sebesar 61,94%sedangkan SMP/MTs sebesar 76.96%.

Realisasi tahun 2015 untuk ruang kelas sekolah dalam kondisi baik adalah untuk SD/MI sebesar 86,29%atau dengan capaian 139,31%, artinya kondisi ruang kelas yang baik dan layak pakai untuk tingkat SD/MI, mengalami capaian yang melampaui target ditetapkan. Hal ini terjadi karena kebijakan prioritas anggaran bidang perbaikan sarana dan prasarana, sehingga cakupan peningkatan kualitas bangunan menjadi lebih besar dan capaian menjadi lebih tinggi.

Namun hal itu bukan berarti sudah tuntas bangunan yang perlu mendapat peningkatan kualitas karena masih terdapat sekitar 13,71% bangunan lagi yang membutuhkan perhatian. Dan yang perlu juga mendapat perhatian adanya kemungkinan adanya bangunan yang mengalami penurunan kualitas pada tahun 2016 berjalan akibat masa pakai maupun karena adanya kejadian yang tak terduga.

Sedangkan untuk jenjang SMP/MTs,dari taget yang ditetapkan yaitu 76,96% dan realisasi sebesar 91,85%, maka capaian kinerja mencapai 119,35% yang artinya melampaui target. Namun hal itu bukan berarti sudah tuntas bangunan yang perlu mendapat peningkatan kualitas karena masih terdapat sekitar 8,15% bangunan lagi yang membutuhkan perhatian. Dan yang perlu juga mendapat perhatian adanya kemungkinan adanya bangunan yang mengalami penurunan kualitas pada tahun 2016 berjalan akibat masa pakai maupun karena adanya kejadian yang tak terduga.

Bab III, Akuntabilitas Kinerja

Laporan Akuntabilitas Kinerja

45

H a l. 3.1.1.b. Capaian Program Pendidikan Menengah

Program pendidikan menengah yang mencakup SMA, SMK dan MA ditujukan untuk mendukung peningkatan mutu dan kualitas pendidikan bidang akademis dan non akademis jenjang pendidikan menengah yang dilandasai dengan akhlak mulia. Peningkatan karakter siswa dan lembaga sekolah, peningkatan kualitas pendidikan yang terjangkau bagi masyarakat, serta pemerataan akses pendidikan bidang pendidikan menengah tanpa adanya diskriminasi.

Berikut tingkat ketercapaian sasaran strategis untuk Program Pendidikan Menengah yang diukur melalui tingkat ketercapaian indikator kinerja sebagai berikut:

1. Angka Kelulusan Pendidikan Menengah (SMA/SMK/MA)

Indikator ini menggambarkan angka kelulusan siswa yang dihitung dengan cara membandingkan jumlah siswa yang lulus dengan jumlah siswa yang mengikuti ujian pada jenjang pendidikan menengah.

Tingkat ketercapaian indikator Angka Kelulusan siswa SMA/SMK/MA pada tahun 2015 dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

Tabel 3. 11. Angka Kelulusan Siswa Tk. SMA/SMK/MA Tahun 2015

No Sasaran Indikator Sasaran Tahun

2014 Target 2015 Realisasi 2015 % 1. Meningkatnya prestasi siswa dan lembaga sekolah bidang akademis maupun non akademis

1. Angka Kelulusan

SMA/MA, SMK 99,08% 99,31% 100,00% 107.17%

Berdasarkan hasil evaluasi capaian kinerja indikator angka kelulusan Tk. SMA/SMK/MA Program Pendidikan Menengah tahun 2015 seperti tampak dalam tabel 3.11 diatas, menunjukkan bahwapeserta ujian SMA/SMK/MI Kota Malang Tahun 2015sejumlah 14.374siswa. Target kelulusan yang diharapkan adalah 99,08%. Realisasi kelulusan adalah 100,00% dengan persentase capaian sebesar 107,17%, artinya dari perkiraan 0,69% peserta ujian SMA yang tidak lulus, ternyata semua peserta ujian menyandang predikat lulus.

Jika dibandingkan dengan realisasi kelulusan tahun 2014 sebesar 99.08%,maka pada tahun 2015 terjadi peningkatansebesar 0,66%. Faktor-faktor yang mempengaruhi ketidaklulusan tersebut adalah dikarenakan siswa bersangkutan

Bab III, Akuntabilitas Kinerja

Laporan Akuntabilitas Kinerja

46

H a l.

tidak mengikuti ujian karena pindah sekolah atau mengikuti orang tua yang pindah tugas ke daerah lain padahal siswa tersebut sudah masuk ke daftar nominatif ujian sekolah. Namun jika dilihat dan dibandingkan dengan data selama lima tahun kebelakang, secara overall capaian Angka Kelulusan tahun ini masih relatif cukup baik. Faktor-faktor pendukung adalah banyak kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Dinas Pendidikan dan sekolah dalam rangka peningkatan mutu pendidikan, juga berkat kerja keras dan doa Kepala Sekolah, Guru, Komite Sekolah serta peran orang tua wali murid yang besar dalam mendukung meningkatnya mutu pendidikan sehingga kualitas peserta didik terus meningkat.

Dokumen terkait