LANDASAN TEORI PERTUMBUHAN EKONOMI
C. Core Periphery Models dikemukakan oleh Friedman (1966)
2.4 Angkatan Kerja
Angkatan kerja (Labour Force) adalah jumlah penduduk usia kerja yang mencari pekerjaan dan sedang bekerja, termasuk dalam kelompok ini adalah usia produktif yang mencari kerja. Angkatan kerja menurut Badan Pusat Statistika adalah ”bagian dari tenaga kerja yang benar-benar terlibat atau bekerja atau berusaha untuk terlibat dalam kegiatan tersebut”.
Angkatan kerja secara tradisional dianggap merupakan faktor positif yang memacu pertumbuhan ekonomi, semakin besar angkatan kerja maka semakin banyak pula tenaga kerja yang produktif (Todaro, 1999:125). Angkatan kerja
dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu penduduk yang bekerja dan penduduk yang tidak bekerja atau sedang mencari pekerjaan. Dengan demikian, angkatan kerja merupakan bagian penduduk yang sedang bekerja dan siap masuk pasar kerja, atau dapat dikatakan sebagai pekerja dan merupakan potensi penduduk yang akan masuk kepasar kerja.
Angka yang sering digunakan untuk menyatakan jumlah angkatan kerja adalah Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK), yang merupakan rasio antara angkatan kerja dan tenaga kerja. Semakin besar jumlah penduduk dan TPAK-nya maka semakin besar pula jumlah angkatan kerja. TPAK dipengaruhi oleh berbagai faktor demografis, sosial dan ekonomi. Faktor–faktor yang mempengaruhi TPAK adalah : umur, status perkawinan, tingkat pendidikan, daerah tempat tinggal (kota/desa), pendapatan, dan agama.
Pertambahan penduduk bukanlah merupakan suatu masalah, melainkan sebaliknya justru merupakan unsur penting yang memacu pembangunan ekonomi. Populasi yang besar adalah dasar pasar potensial yang menjadi sumber permintaan akan berbagai macam barang dan jasa yang kemudian akan menggerakkan berbagai macam kegiatan ekonomi sehingga menciptakan skala ekonomis produk yang menguntungkan semua pihak. Penduduk berfungsi ganda dalam perekonomian, dalam konteks pembangunan pandangan terhadap penduduk menjadi terpecah dua, ada yang mengatakan penduduk yang besar akan menghambat pembangunan serta beban dari pembangunan dan sebagian ahli mengatakan bahwa penduduk dianggap sebagai pemicu pembangunan. Jumlah penduduk yang besar akan memperkecil pendapatan perkapita dan akan
menimbulkan masalah ketenaga kerjaan dan dalam kaca mata modern penduduk justru dipandang sebagai pemacu pertumbuhan ekonomi.
Bertitik tolak dalam masalah penduduk dan angkatan kerja baik secara kuantitatif maupun kualitatif wajib diberi perhatian yang utama dalam ekonomi pembangunan karena kenaikan jumlah penduduk secara otomatis akan menaikkan jumlah angkatan kerja. Pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan angkatan kerja secara tradisional dianggap salah satu faktor yang positif yang memacu pertumbuhan ekonomi, jumlah angkatan kerja yang lebih besar berarti ukuran pasar domestiknya akan lebih besar.
2.4.1 Profil Angkatan Kerja a. Menurut Umur
Angkatan kerja yang ada di Indonesia tersebar dari umur 15 tahun sampai 65 tahun atau sampai tua. BPS membagi kelompok umur menjadi beberapa kelas dengan interval kelas tahun yaitu: 15 – 19 tahun, 20 – 24 tahun,
25 – 29 tahun, 30 – 34 tahun, 45 – 49 tahun, 50 – 54 tahun, 55 – 59 tahun, dan 60 tahun keatas.
Mengingat derajat variasi angkatan kerja akan lebih mudah dianalisis dengan perbedaan usia yang signifikan, maka angkatan kerja sebaliknya dikelompokkan menjadi 3 kelompok umur saja. Yaitu muda (15 – 24 tahun), prima (25 – 60 tahun) dan tua (60 tahun keatas).
b. Menurut Jenis Kelamin
Karena faktor–faktor sosial, budaya, dan psikologi maka besarnya TPAK berdasarkan jenis kelamin ini berbeda. Secara umum TPAK berdasarkan jenis kelamin ini juga dapat diananlisis dari maju tidaknya negara. Semakin maju
suatu negara, jumlah angkatan kerja perempuan semakin besar karena di negara maju semakin tersedia banyak pilihan pekerjaaan. Selain itu, pekerjaan di negara–negara maju memberikan gaji yang relatif tinggi sehinga hal ini menjadi perangsang bagi tenaga kerja perempuan untuk menawarkan tenaganya untuk bekerja. Sementara itu, di negara berkembang jumlah pekerjaan terbatas, harus diperebutkan dengan pihak laki–laki sehingga kemungkinan mendapat pekerjaan bagi perempuan relatif kecil.
c. Menurut Pendidikan
Secara umum jenis tingkat pendidikan diasumsikan dapat mewakili kualitas tenaga kerja. Karena dengan pendidikan seseorang akan bertambah keterampilannya, pengetahuannya, kemandiriannya, dan mampu membentuk kepribadian individu. Hal-hal yang melekat pada diri orang tersebut merupakan modal.
2.4.2 Teori tentang Tenaga Kerja 1. Adam Smith (1729 – 1790)
Dalam teorinya, Smith menganggap bahwa manusia merupakan faktor produksi utama yang menentukan kemakmuran suatu bangsa. Alasannya adalah bahwa alam (tanah) tidak ada artinya kalau tidak ada sumber daya manusia (SDM) yang mengelolanya, jadi alam yang tersedia tersebut akan lebih bermanfaat bagi kehidupan apabila sudah dikelola.
Smith juga melihat bahwa alokasi SDM yang efektif adalah awal pertumbuhan ekonomi. Setelah ekonomi tumbuh, akumulasi modal baru mulai dibutuhkan untuk menjaga agar ekonomi tetap tumbuh. Dengan kata lain, alokasi
SDM yang efektif merupakan syarat perlu (necessary conditional) bagi pertumbuhan ekonomi.
2. Lewis (1959)
Lewis menyebutkan bahwa kelebihan pekerja bukan merupakan suatu masalah melainkan merupakan suatu kesempatan. Kelebihan pekerja pada suatu sektor akan memberikan andil terhadap pertumbuhan produksi dan penyediaan kerja disektor lain. Ada dua sektor di dalam perekonomian, yaitu subsektor terbelakang dan kapasitas modern. Pada sektor subsektor terbelakang, tidak hanya terdiri dari sektor pertanian tetapi juga terdiri dari sektor informal seperti pedagang kaki lima dan pengecer Koran. Pekerja di sektor subsektor terbelakang mayoritas berada di wilayah pedesaan. Sektor subsisten terbelakang memiliki kelebihan penawaran kerja dan tingkat upah yang relatif lebih rendah daripada sektor kapitalis modern. Lebih rendahnya tingkat upah pekerja di pedesaan akan mendorong pengusaha di wilayah perkotaan untuk merekrut pekerja dari pedesaan dalam pengembangan industri modern perkotaan. Selama berlangsungnya proses industrialisasi, kelebihan penawaran pekerja disektor subsisten terbelakang akan diserap.
Bersamaan dengan diserapnya kelebihan pekerja disektor industri modern, maka pada suatu saat tingkat upah di pedesaan akan meningkat. Selanjutnya peningkatan upah ini akan mengurangi ketimpangan tingkat pendapatan antara perkotaan dan pedesaan.
Dengan demikian menurut Lewis, adanya kelebihan penawaran pekerja tidak memberikan masalah pada pembangunan ekonomi. Sebaliknya, kelebihan pekerja justru merupakan modal untuk mengakumulasi pendapatan, dengan adanya
asumsi bahwa perpindahan pekerja dari sektor subsisten terbelakang kesektor kapitalis modern berjalan lancar dan perpindahan tersebut tidak akan pernah menjadi terlalu banyak.