• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka

2. Ansietas

Kecemasan adalah suatu keadaan tegang yang berlebihan tidak pada tempatnya yang ditandai dengan perasaan bersalah, tidak menentu, maupun takut (Maramis, 2009). Kecemasan merupakan sinyal adanya bahaya pada ketidaksadaran (Sadock, 2010).

Berdasarkan National Comorbidity Study satu di antara empat orang yang memenuhi kriteria, sedikitnya satu orang mengalami ansietas. Prevalensi kecemasan menunjukkan 17,7% perempuan (prevalensi seumur hidup 30,5%) lebih cenderung mengalami ansietas dibandingkan dengan laki-laki (prevalensi

commit to user

seumur hidup 19,2%). Dalam studi epidemiologi dan sampel klinis kurang lebih dua pertiga individu yang menderita kecemasan adalah perempuan (Barlow dan Durand, 2006).

b. Etiologi

Terjadinya kecemasan dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain faktor biologis, faktor emosional kognitif, pengalaman hidup, obat-obatan, keadaan medis, pasca kejadian trauma, faktor sosial, maupun faktor psikologis.

1) Faktor biologis

Kerentanan yang diturunkan untuk mengalami kecemasan dan aktivitas sirkuit-sirkuit otak, neurotransmitter, dan sistem neurohormonal tertentu (Barlow dan Durand, 2006). Orang tua yang memiliki gangguan neurotik cenderung akan mewariskan sifat tersebut pada perkembangan kepribadian anaknya (Maramis, 2005; Fricchione, 2004).

2) Faktor emosional kognitif

Sensitivitas meningkat terhadap situasi atau orang-orang yang dipersepsikan sebagai ancaman (Barlow dan Durand, 2006).

3) Pengalaman hidup

Seseorang dengan lingkungan tingkat stres yang tinggi (kekerasan, kejahatan, kemiskinan, hinaan, dan lain-lain.)

commit to user

akan menyebabkan individu mudah mengalami rasa cemas (Fricchione, 2004).

4) Obat-obatan

Obat-obatan seperti amfetamin, kokin, dan kafein juga obat serotonergik (LSD, MDMA), kortikosteroid, ginseng, rokok, dan alkohol dapat menyebabkan seseorang mengalami sindrom kecemasan akut maupun kronis (Sadock, 1997). 5) Keadaan medis

Kecemasan juga sering menyertai gangguan neurologis, gangguan endokrin, gangguan kardiovaskuler, defisiensi vitamin B12, hipoglikemi, dan depresi (Sadock, 1997). Ansietas yang disebabkan oleh keadaan medis cenderung dialami seseorang pada usia 35 tahun (Fricchione, 2004). 6) Pasca kejadian trauma

Adanya kejadian-kejadian khusus antara lain bencana alam, peperangan, kecelakaan pada masa anak-anak mampu mempengaruhi sistem saraf yang sedang berkembang sehingga akan sangat rentan pada masa dewasa untuk mengalami stres maupun gejala kecemasan (Sadock, 1997; Yehuda, 2002).

commit to user 7) Faktor sosial

Kurangnya dukungan sosial akan meningkatkan potensi timbulnya kecemasan pada seseorang (Barlow dan Durand, 2006).

8) Faktor psikologis

Kecemasan merupakan salah satu kondisi sebagai antisipasi untuk menghadapi peristiwa-peristiwa yang akan datang (Semiun, 2010).

c. Patofisiologi

Kecemasan merupakan respon dari persepsi terancam yang diterima oleh Sistem Saraf Pusat (SSP) akibat adanya rangsangan berupa pengalaman masa lalu dan faktor genetik. Rangsang tersebut kemudian akan dipersepsikan oleh panca indra, diteruskan, dan direspon oleh cortex cerebri menuju ke sistem limbik ke reticular activating system kemudian ke hipotalamus yang memberikan impuls ke kelenjar adrenal yang akan memacu sistem saraf otonom melalui mediator yang lain.

Kecemasan menyeluruh menunjukkan adanya gangguan pada reseptor serotonin, 5 HT-1A. Sistem limbik terletak di diensefalon yang merupakan sentrum integrasi emosi (Mudjadid, 2007).

commit to user d. Gejala

Seseorang yang mengalami kecemasan memiliki karakteristik fisik, gelisah, gugup, gemetar, banyak berkeringat, pening, mengalami kesulitan dalam berbicara, jantung berdebar kencang, suara bergetar, merasa cemas, panas dingin, wajah terasa merah, dan mudah marah. Orang cemas akan cenderung memiliki perilaku menghindar, khawatir, sulit dalam berkonsentrasi, perasaan terganggu, dan merasa lebih sensitif (Nevid, 2005).

d. Jenis-jenis

Klasifikasi gangguan kecemasan menurut Diagnostic and

Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-IV-TR) antara lain

berupa kecemasan umum, kecemasan yang berhubungan dengan kondisi medis, serangan panik, agorafobia (rasa takut sendirian di tempat umum atau tempat sulit untuk keluar) dengan atau tanpa riwayat panik, panik dengan atau tanpa agorafobia, spesifik fobia, fobia sosial, obsesif kompulsif, post traumatic

stress disorder, dan stres akut (Sadock, 2010; Murtagh, 2003).

Berdasarkan Diagnosis Gangguan Jiwa, PPDGJ III (Maslim, 2003) gangguan neurotik, gangguan somatoform, dan gangguan yang terkait dengan ansietas terbagi atas tujuh, antara lain:

1) Gangguan Ansietas Fobik

commit to user 1) Tanpa gangguan panik 2) Dengan gangguan panik b) Fobia sosial

c) Fobia khas (terisolasi)

d) Gangguan ansietas fobik lainnya

e) Gangguan ansietas fobik yang tidak tergolongkan 2) Gangguan Ansietas lainnya

a) Gangguan panik (ansietas paroksismal episodik) b) Gangguan ansietas menyeluruh

c) Gangguan campuran ansietas dan depresif d) Gangguan ansietas campuran lainnya e) Gangguan ansietas lainnya yang ditentukan f) Gangguan ansietas yang tidak tergolongkan 3) Gangguan Obsesif –Kompulsif

4) Reaksi terhadap Stres Berat dan Gangguan Penyesuaian 5) Gangguan Disosiatif (Konversi)

6) Gangguan Somatoform

7) Gangguan Neurotik lainnya e. Diagnosis

Kecemasan secara umum memiliki tiga atau lebih dari sifat yaitu mudah marah, gelisah, tegang, mudah lelah, kesulitan berkonsentrasi, dan memiliki kualitas tidur yang buruk. Diagnosis seseorang yang mengalami kecemasan didasarkan atas

commit to user

anamnesa yang dilakukan dengan pasien, kecuali jika seseorang tersebut mengalami gangguan organik (Murtagh, 2003). Berdasarkan kriteria DSM-IV-TR, fitur-fitur kecemasan meliputi antara lain:

1) Kecemasan dan kekhawatiran eksesif selama enam bulan atau lebih akan sejumlah kejadian atau aktivitas

2) Kesulitan dalam mengontrol kekhawatiran

3) Menunjukkan minimal tiga di antara gejala-gejala, antara lain:

a) Kegelisahan atau perasaan tegang b) Menjadi mudah lelah

c) Sulit dalam berkonsentrasi d) Iritabilitas

e) Ketegangan otot dan mengalami kualitas tidur yang buruk

4) Distress yang signifikan

5) Kecemasan tidak terbatas akan sebuah isu tertentu (Barlow dan Durand, 2006).

1. Taylor Manifest Anxiety Scale (TMAS)

TMAS merupakan suatu tes yang dipergunakan untuk mengukur tingkat kecemasan dari subjek penelitian baik ringan, sedang, atau berat yang dapat dikerjakan sendiri secara praktis dan dalam kurun waktu relatif singkat. Tes ini tersusun atas 50 pernyataan dengan tiap

commit to user

jawabannya memperhatikan dua hal, yaitu butir-butir pernyataan yang sesuai dengan kecemasan atau favourable dan butir-butir pernyataan yang tidak sesuai dengan kecemasan atau unfavourable

(Sudiyanto, 2003).

Adapun butir-butir pernyataan yang sesuai pada keadaan kecemasan atau pertanyaan favourable terdapat 35 butir antara lain nomor 2, 5, 6, 7, 8, 10, 11, 13, 14, 16, 17, 19, 21, 22, 23, 24, 26, 27, 28, 30, 31, 32, 33, 34, 36, 37, 39, 40, 41, 4, 45, 46, 47, 48, dan 49. Sedangkan butir-butir pernyataan yang tidak sesuai dengan keadaan kecemasan atau pertanyaan unfavourable terdapat 15 butir antara lain nomor 1, 3, 4, 9, 12, 15, 18, 20, 25, 29, 35, 38, 43, 44, dan 50 (Sudiyanto, 2003).

Kuesioner TMAS yang mengandung 50 butir pernyataan dapat dijawab oleh responden dengan memberikan jawaban “ya” atau “tidak” berupa tanda (V) pada kolom jawaban ya atau tidak sesuai dengan keadaan dirinya. Pernyataan yang favourable bila dijawab dengan jawaban “ya” diberi nilai 1 dan jawaban “tidak” diberi nilai 0. Namun, untuk pernyataan yang unfavourable bila dijawab dengan jawaban “ya” diberi nilai 0 dan jawaban “tidak” diberi nilai 1. Jumlah skor TMAS ≤ 21 dinyatakan responden tidak cemas sedangkan bila skor TMAS > 21 dinyatakan responden cemas (Azwar, 2009).

commit to user

Instrumen pengukur dapat dikatakan memiliki validitas tinggi bila dapat menjalankan sesuai dengan fungsi ukurnya dan memberikan hasil pengukuran yang sesuai dengan maksud pengukuran. Kuesioner TMAS mempunyai derajat validitas yang cukup tinggi. Akan tetapi, hal ini dipengaruhi oleh kejujuran dan ketelitian responden dalam mengisi kuesioner TMAS (Azwar, 2009).

Kriteria tingkat cemas berdasarkan skor TMAS oleh Stuart dan Sunden tahun 1998 adalah:

a. Skor TMAS ≤ 21 (0- <50% nilai TMAS) tidak cemas b. Skor TMAS 22-25 (50% nilai TMAS) cemas ringan c. Skor TMAS 26-38 (51%-75% nilai TMAS) cemas sedang d. Skor TMAS 39-50 (>75%-100% nilai TMAS) cemas berat

2. Hubungan Asma dengan Ansietas

Serangan asma merupakan serangan yang terjadi tiba-tiba dan disebabkan karena adanya gangguan dari saluran pernapasan. Gangguan kecemasan atau ansietas lebih sering terjadi pada penderita asma dan memberikan pengaruh yang besar pada manajemen asma. Kecemasan yang berlebihan mengenai gejala asma dapat mempengaruhi respon pasien mengenai serangan asma. Demikian pula, kecemasan yang berkaitan dengan pemicu asma dapat menurunkan kualitas hidup pada penderita asma (Thoren et al., 2000).

commit to user

Gangguan kecemasan dapat meningkatkan jumlah serangan asma. Keadaan frustasi, tegang, cemas, takut, eksitasi yang hebat dapat mencetuskan timbulnya serangan asma. Ansietas dapat mempengaruhi kondisi somatik seseorang yang salah satunya dapat menimbulkan adanya masalah pernapasan misalnya asma, emfisema, emboli paru (Greist, 2000).

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Wayne J. Katon et al. (2004) menunjukkan seseorang yang memiliki riwayat asma dipengaruhi pula oleh gangguan kecemasan. Studi hasil pada remaja dengan asma, sepertiga mengalami ansietas, sedangkan pada orang dewasa kurang lebih berkisar 6,5%-24%. Serangan asma disebabkan oleh ansietas dapat melalui berbagai mekanisme antara lain:

a. Mekanisme kolinergik

Otot polos saluran napas memiliki reseptor muskarinik M2 dan M3. Stimulasi kolinergik atau parasimpatis akan melepaskan asetilkolin yang dapat menyebabkan kontraksi otot polos, sekresi mukus kelenjar di jaringan, dan dilatasi sirkulasi bronkial. Kontraksi otot polos saluran napas menimbulkan bronkokonstriksi yang disebabkan stimulasi M3 oleh asetilkolin yang dilepaskan oleh saraf kolinergik. Pelepasan asetilkokin dari saraf post ganglioner dipengaruhi oleh neurotransmitter dan zat-zat yang dihasilkan oleh sel inflamasi seperti histamin, serotonin, leukotrien. Apabila asetilkolin bekerja pada reseptor M2,

commit to user

pelepasan asetilkolin akan terhambat, sedangkan apabila pada reseptor M3 akan terjadi bronkokonstriksi (Widiyawati, 2004). b. Sistem endokrin

Ansietas menyebabkan hiperesponsif axis Hypothalami Pituitary

Adrenocortical (HPA axis) sehingga kadar kortisol dalam darah

akan meningkat. Hal ini akan menyebabkan penurunan sistem imun individu dan berhubungan dengan kelainan inflamasi sehingga pada beberapa penderita asma dapat menyebabkkan timbulnya eksaserbasi asma (Widiyawati, 2004).

c. Sistem imunologi

Gangguan emosional akan menyebabkan terjadinya penurunan sistem imun individu disebabkan karena stres memodulasi respon imun melalui jalur saraf yang menghubungkan saraf otonom dan sistem imun dengan cara melepas hormon dan neuropeptida yang berinteraksi dengan sel imun. Penurunan sistem imun individu akan menyebabkan seseorang mudah terkena infeksi virus salah satunya pada saluran pernapasan. Hal ini berakibat akan terjadi reaksi inflasmasi yang pada penderita asma dapat memicu timbulnya serangan asma (Widiyawati, 2004).

commit to user

3. Tidur a. Fisiologi

Tidur merupakan keadaan bawah sadar di mana seseorang dapat dibangunkan dengan diberikan rangsangan sensorik ataupun dengan pemberian rangsangan lainnya (Guyton dan Hall, 1997). Orang dewasa membutuhkan waktu kurang lebih sekitar tujuh setengah jam tiap malam untuk tidur (Kaplan dan Sadock, 2000). Saklar untuk tidur adalah nucleus preoptik ventrolateral (VLPO) di hipotalamus anterior. Area ini akan aktif saat tidur dan menggunakan neurotransmitter inhibisi GABA dan galanin untuk memulai tidur dengan menghambat daerah rangsangan otak. Nukleus VLPO akan menghambat daerah bangun. Neuron

hypocretin di hipotalamus lateral membantu menstabilkan saklar

ini. Jatuh tertidur merupakan hasil dari pemutusan fungsional antara batang otak dan thalamus rostral dengan korteks otak (Pinzon, 2010).

Pada orang dewasa, tahapan tidur dibagi menjadi tidur

Rapid Eye Movement (REM) dan tidur Non Rapid Eye Movement

(NREM), stadium 1 sampai 4, yang keduanya saling bergantian dalam siklus yang bertahan antara 70 sampai dengan 120 menit (Guyton dan Hall, 1997). Tidur NREM (tidak ada gerakan mata yang cepat) merupakan tidur dimana seseorang akan mengalami kegiatan yang tenang. Denyut nadi, pernapasan, dan tekanan

commit to user

darah tubuh akan bergerak tenang dan teratur. Pada tahap ini seseorang akan mengalami empat macam tahapan, tidur ringan, tidur sebenarnya, tidur lebih pulas, dan tidur terpulas. Adapun tidur REM (gerakan mata cepat) merupakan tidur dimana seseorang mengalami mimpi. Pada saat tahap ini denyut nadi, pernapasan, dan tekanan darah umumnya berlangsung lebih aktif, cepat, dan tidak teratur (Anonim, 2011). Umumnya, empat sampai enam siklus NREM-REM terjadi tiap malam (Guyton dan Hall, 1997).

Fisiologi tidur dapat diterangkan melalui gambaran aktivitas sel-sel otak selama tidur. Aktivitas tersebut dapat direkam menggunakan alat elektroenchephalography (EEG). EEG merupakan prosedur pencatatan aktifitas listrik otak yang nantinya dapat dilihat beberapa macam bentuk gambaran gelombang, alfa, beta, teta, dan delta.

1) Gelombang alfa merupakan gelombang dengan frekuensi 8-12 Hz dan amplitudo gelombang antara 10-15 mV. Gambaran gelombang alfa yang terjelas didapatkan pada daerah oksipital atau parietal. Pada keadaan mata tertutup dan relaks gelombang alfa akan muncul dan akan menghilang sesaat ketika membuka mata. Pada keadaan mengantuk (drowsy) didapatkan gambaran yang jelas kumparan tidur yang berupa gambaran waxing dan gelombang alfa (Musadik, 1988)

commit to user

2) Gelombang beta merupakan gelombang dengan frekuensi 14 Hz atau lebih dan amplitudo gelombang kecil rata-rata 25 mV. Gambaran glombang beta yang terjelas didapatkan pada daerah frontal. Gelombang ini merupakan gelombang dominan pada keadaaan jaga terutama apabila mata terbuka. Pada keadaaan REM juga muncul gelombang beta (Musadik, 1988).

3) Gelombang teta merupakan gelombang dengan frekuensi antara 4-7 Hz dengan amplitudo gelombang bervariasi. Gelombang teta dengan amplitudo rendah tampak pada keadaan jaga pada anak-anak sampai usia 25 tahun dan usia lanjut di atas 60 tahun. Pada keadaan normal orang dewasa, gelombang teta muncul pada keadaan tidur (stadium 1,2,3,4) (Musadik, 1988).

4) Gelombang delta merupakan gelombang dengan frekuensi antara 0-3 Hz dengan amplitudo serta lokalisasi yang bervariasi. Pada keadaan normal gelombang delta muncul pada keadaan tidur (stadium 2,3,4) (Musadik, 1988).

Adapun tahapan tidur normal, antara lain:

a) Tahap 0 adalah periode kesadaran penuh dengan mata tertutup yang terjadi sesaat sebelum tidur. Pada tahapan ini, tonus otot dan aktivitas alpha cenderung meningkat

commit to user

disertai dengan peningkatan rasa kantuk (Kaplan dan Sadock, 2000).

b) Tahap 1 adalah tahap permulaan tidur yang ditunjukkan dengan transisi singkat dari periode sadar menuju tidur. Pada tahapan ini didapatkan amplitudo rendah dan aktivitas beta dan theta lebih lambat (4-7 siklus per detik). Tahap ini merupakan 5% dari total periode ketika tidur (Kaplan dan Sadock, 2000).

c) Tahap 2 adalah tahap yang didominasi oleh aktivitas theta dan dicirikan dengan sleep spindles berupa ritme gelombang komplek K yang berbentuk tajam, negatif, gelombang EEG tegangan tinggi, diikuti yang lebih lambat. Tahap ini merupakan 45%-55% dari total periode ketika tidur (Kaplan dan Sadock, 2000).

d) Tahap 3 memiliki ciri berupa 20%-50% aktivitas gelombang delta tegangan tinggi dengan frekuensi 1-2 siklus per detik, disertai dengan peningkatan tonus otot seperti halnya pada tahap 2 tetapi tidak disertai dengan gerakan mata (Kaplan dan Sadock, 2000).

e) Tahap 4 terjadi ketika gelombang delta menyusun >50% rekaman EEG. Baik tahap 3 maupun tahap 4 sering sulit dibedakan dan secara umum disebut dengan slow-wave

commit to user

sleep. Tahapan ini merupakan 15%-20% waktu tidur

(Kaplan dan Sadock, 2000).

Urutan tahapan tidur selama siklus tidur awal dimulai dengan tahap NREM 1, 2, 3, 4, 3, dan 2 kemudian tahap REM. Dewasa muda dari bangun sampai tahap NREM membutuhkan waktu kira-kira 90 menit sebelum periode REM pertama yang disebut dengan REM latency (Kaplan dan Sadock, 2000). Periode REM dan REM berikutnya lebih pendek pada bayi dibandingkan pada orang dewasa. Pada bayi, periode REM muncul setiap 50-60 menit selama waktu tidur bayi dan secara bertahap meningkat dengan panjang siklus 70-100 menit selama masa dewasa (Saisan et al., 2008).

b. Perubahan kardiovaskuler dan respirasi selama tidur

Pada fase tidur NREM, denyut jantung dan tekanan darah turun sekitar 10%. Ventilasi tidur pun menurun. Secara umum, menurut Krieger et al tahun 1990 didapatkan penurunan dalam volume tidal ketika perubahan laju respirasi lebih bervariasi. Ventilasi selama tidur REM secara konsisten lebih sedikit daripada saat keadaan terjaga. Selama fase tidur REM, aktivitas otot interkosta dan muskulus respiratori aksesori berkurang bersamaan dengan inhibisi general tonus otot skelet selama tidur REM. Resistensi saluran napas atas akan meningkat secara

commit to user

progresif dari stadium 1 ke stadium 2, 3, dan 4 fase tidur NREM (Bradley dan Phillipson, 2005).

Setelah stadium slow wave sleep terlewati, input respirasi mekanik berkurang dan pernapasan lebih diatur oleh sistem kontrol metabolik. Volume ventilasi per menit berkurang 1-2 L per menit, PCO2 artei meningkat 2-8 mmHg, dan PO2 arteri menurun 5-10 mmHg dibandingkan saat keadaan terjaga (Bradley dan Phillipson, 2005).

c. Kuantitas dan kualitas tidur

Kuantitas tidur merupakan total waktu individu tidur, sedangkan kualitas tidur seseorang menunjukkan kemampuan individu untuk tetap tertidur dan mendapatkan jumlah tidur REM dan NREM yang tepat (George dan Kryger, 2008). Keduanya dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain:

1) Umur

Seiring dengan bertambahnya faktor usia pola tidur-bangun pun mengalami perubahan. Saat neonatus, lama tidur sekitar 18 jam dan sekitar 50% adalah tidur REM. Pada usia satu tahun lama tidur seseorang kurang lebih sekitar 13 jam dan 30% adalah tidur REM. Waktu tidur akan menurun tajam setelah itu. Adapun, saat dewasa muda membutuhkan waktu tidur 7-8 jam dengan NREM 75% dan REM 25% (Amir, 2007).

commit to user 2) Rutinitas harian dan motivasi tidur

Semakin variatifnya rutinitas juga akan mempengaruhi aktivitas tidur. Seseorang yang bekerja shift malam dapat mengalami kesulitan dalam tidur. Berdasarkan siklus sirkadian, tubuh akan mempersiapkan untuk tidur di malam hari dengan menurunkan suhu tubuh dan melepaskan hormon melatonin. Hasrat untuk tetap terjaga dan siaga membantu mengatasi rasa kantuk dan tidur (Neubauer, 1999).

3) Aktivitas fisik dan latihan

Aktifitas fisik akan meningkatkan kelelahan dan mempromosikan relaksasi tidur. Berdasarkan Division of

Sleep Medicine Harvard University tahun 2007, aktifitas fisik

meningkatkan fase tidur REM dan NREM. 4) Kebiasaan konsumsi

Minuman beralkohol dalam takaran yang sedang dapat menginduksi tidur, akan tetapi, dalam jumlah yang besar dapat membatasi tidur dan delta. Kafein merupakan stimulator sistem saraf pusat. Sebagian besar orang, setelah minum-minuman berkafein akan menganggu kemampuan untuk tidur. Seorang perokok akan mendapatkan kesulitan untuk tidur karena nikotin akan menstimulasi tubuh yang menyebabkan seseorang mudah terbangun dan tidur dalam

commit to user

waktu yang singkat (Division of Sleep Medicine Harvard University, 2007).

5) Faktor lingkungan dan budaya

Lingkungan baru dapat mempengaruhi aktivitas tidur REM dan NREM. Budaya, keyakinan, dan kebiasaan seorang individu ikut dapat mempengaruhi aktivitas tidur (Kaplan dan Sadock, 2000; Saisan et al., 2008).

6) Stres psikologis dan ansietas

Stres psikologis dapat membuat seseorang mendapatkan kebutuhan tidur yang kurang. Ansietas dan stres juga dapat menurunkan jumlah fase tidur REM (Saisan et al., 2008). 7) Faktor penyakit

Seseorang yang memiliki kondisi medis kurang baik juga dapat menyebabkan tidak tercukupinya kebutuhan akan tidur. Faktor penyakit seperti hipertensi, stroke, kejang nokturnal, penyakit refluk gastroesofagus, maupun penyakit Parkinson dapat membatasi kedalaman tidur maupun episode singkat terbangun (Kaplan dan Sadock, 2000; Saisan et al., 2008). d. Gangguan tidur

International Classification Disorder (ICDS) dan DSM IV

mengklasifikasikan beberapa bentuk gangguan tidur. Berdasarkan DSM IV ada 12 penyakit gangguan tidur. Adapun

commit to user

berdasarkan penyebabnya, gangguan tidur diklasifikasikan menjadi empat, antara lain:

1) Gangguan tidur primer (disomnia dan parasomnia), 2) Gangguan tidur karena kelainan mental,

3) Gangguan tidur karena kondisi medis umum, dan 4) Substansi penginduksi gangguan tidur (Durand, 2007).

ICSD membagi gangguan tidur berdasarkan hipoventilasi yaitu gangguan tidur terkait hipoventilasi alveolar nonobstruktif idiopatik, congenital central alveolar hypoventilation syndrome, gangguan tidur terkait hipoventilasi karena patologi jaringan parenkim paru atau vascular, gangguan tidur terkait hipoventilasi karena obstruksi saluran napas bawah, gangguan tidur terkait hipoventilasi karena kelainan dinding dada dan neuromuscular (Casey et al., 2007).

6. Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI)

PSQI merupakan suatu alat yang digunakan untuk pengukuran kualitas tidur yang sifatnya reliabel, valid, dan terstandardisasi. Penggunaannya didasarkan untuk mengukur kualitas tidur selama kurang lebih sebulan terakhir dan mengklasifikasikannya sebagai kualitas tidur yang baik atau buruk. Beberapa cakupan dalam skoring PSQI meliputi antara lain kualitas tidur subjektif, masa laten tidur, durasi tidur, kebiasaan efisiensi tidur, gangguan tidur, penggunaan

commit to user

obat-obat tidur, dan disfungsi pada siang hari. PSQI mengalami revisi pada sistem penilaian pada tahun 2005 (Rush et al., 2000; Busse, 1998).

PSQI tersusun atas 19 pertanyaan. Lima belas pertanyaan pilihan ganda untuk diri sendiri menanyakan frekuensi gangguan tidur dan kualitas tidur subjektif serta empat pertanyaan uraian menanyakan tentang jam tidur, jam bangun, masa laten tidur, dan durasi tidur. Lima pertanyaan untuk teman sekamar atau pasangan tidur merupakan soal pilihan ganda yang berfungsi untuk menilai gangguan tidur. Adapun pertanyaan diri sendiri saja yang dihitung dalam skor (Busse, 1998).

Setiap komponen pertanyaan mempunyai rentang nilai antara 0 sampai dengan 3. Nilai 0 berarti jika seseorang tidak mengalami kesulitan sedangkan nilai 3 merupakan nilai maksimum untuk kesulitan yang berat. Tiap komponen dijumlahkan dan menghasilkan nilai total yang berkisar antara 0-21. Total nilai PSQI > 5 menunjukkan seseorang mengalami kualitas tidur buruk. Hal ini signifikan dengan sensitivitas diagnostik 89,6% dan spesifitas 86.55 (kappa = 0,75; p < 0.001) (Backhause et al., 2002; Buysse, 1989).

7. Hubungan Asma dengan Tidur

Berdasarkan penelitian yang dilakukan sampai saat ini, terdapat berbagai pendapat mengenai hubungan asma dengan kualitas tidur.

commit to user

Janson et al. (1990) dan Bhagat et al. (1997) menyatakan seseorang yang menderita asma memiliki kualitas tidur buruk jika dibandingkan dengan orang normal. Majde dan Kruger (2005) menyatakan hubungan yang belum jelas antara keduanya, apakah gejala asma yang mengganggu tidur atau sebaliknya kualitas tidur buruk yang menimbulkan efek pada gejala asma. Chung et al. (2006) dalam penelitiannya menunjukkan hubungan antara kualitas tidur buruk dengan peningkatan gejala asma.

Adanya gangguan respirasi selama tidur NREM akan mengganggu periode siklus normal REM sepanjang malam. Hal ini akan mencegah progesivitas dan mengurangi jumlah tidur REM yang berakibat tidur akan kurang nyenyak dan menimbulkan rasa kantuk yang berlebih. Gangguan tidur akibat masalah pernapasan akan menunjukkan index apnea, hipopnea, derajat pemutusan tidur, dan derajat hipoksemia nokturnal yang berhubungan dengan peningkatan rasa kantuk pada siang hari dan dapat diukur menggunakan Multiple

Sleep Latency Test secara independent (Punjabi et al., 2002).

Pada malam hari gejala pada penderita asma sering memburuk atau dikenal dengan asma nokturnal. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Turner-Warwick (1998) menunjukkan dari 7792 pasien asma 74% terbangun dengan gejala asma paling sedikit sekali seminggu, 64% paling sedikit tiga malam per minggu, dan 40% mengalami gejala asma tiap malam. Seseorang yang menderita asma

commit to user

resistensi saluran pernapasan bawah meningkat secara progresif

Dokumen terkait