BAB II. LANDASAN TEORI
A. Tinjauan Pustaka
2. Antasida
a. Pengertian antasida
Antasida adalah senyawa yang mempunyai kemampuan menetralkan asam lambung. Antasida bermanfaat untuk mengobati penyakit saluran cerna karena mengembalikan derajat keasaman lambung pada daerah pH 3 – 5 (Anonim, 2000).
Antasida yang ideal harus memenuhi beberapa kriteria, di antaranya mampu menetralkan asam, tidak diadsorbsi oleh saluran cerna, sedikit atau tidak mengandung natrium, dan tidak menimbulkan efek samping. Bahan baku antasida dapat digolongkan menjadi 3, yaitu: dengan kandungan alumunium atau magnesium, kandungan natrium bikarbonat, dan kandungan kalsium. Kalsium
commit to user
17
karbonat dapat menyebabkan acid rebound (asam berlebih pada lambung), konstipasi (sembelit), mual, muntah, pendarahan saluran cerna dan disfungsi ginjal. Karena efek samping yang sangat merugikan ini, kalsium karbonat tidak dianjurkan untuk pengobatan ulkus peptikum (luka pada lambung atau usus dua belas jari). Pada natrium karbonat cenderung menimbulkan alkalosis sistemik, sehingga tidak dianjurkan untuk digunakan sebagai antasida dalam pengobatan ulkus peptikum. Di sisi lain, penggunaan aluminium hidroksida menetralkan asam lambungnya lambat, tetapi masa kerjanya lebih panjang. Efek samping yang utama adalah konstipasi (sembelit). Hal ini dapat diatasi dengan memberikan antasida garam Mg (Djuwantoro, 1992).
Secara umum, hydrotalcite memiliki sejumlah sifat yang membuatnya sesuai sebagai bahan baku farmasi seperti memiliki surface area yang besar dan memiliki efek sinergis interlayer(Orthman et al., 2003). Oleh karena itu, saat ini hydrotalcite merupakan salah satu formula yang telah dikembangkan sebagai golongan antasida. Hydrotalcite merupakan salah satu contoh antasida yang memiliki kemampuan lebih baik dibanding antasida lainnya dalam menetralisasi asam lambung yang berlebihan. Nalawade et al. (2009) menyatakan bahwa hydrotalcitememiliki sifat antasida sehingga dapat di interkalasi dengan material obat yang dapat merusak mukosa lambung sehingga hydrotalcite dapat diaplikasikan sebagai controled release. Hydrotalcite merupakan hydroxymagnesium aluminate complex, di mana dengan cepat asam lambung akan berubah menjadi Mg(OH)2 dan Al(OH)3 yang sangat sulit diabsorpsi sehingga efeknya bisa bertahan lebih lama, dan dapat mempertahankan pH lambung normal (pH = 3,5) dalam waktu lama. Selain itu, hydrotalcite juga dapat membantu melindungi mukosa lambung (selaput lendir pada lambung) sehingga tidak mudah rusak oleh asam lambung (Troy, 2005). Mekanisme hydrotalcite dalam menetralkan asam lambung/tukak peptik (HCl):
commit to user
18
b. Karakterisasi bahan baku antasida
Mg/Al-hydrotalcite hasil sintesis berupa serbuk memiliki peran utama sebagai zat aktif dan sebagai bahan awal untuk pembuatan bahan baku obat, seperti granulat, tablet bersalut, dan suspensi. Sementara itu, untuk membuat suatu bahan baku obat diperlukan tahapan–tahapan proses yang meliputi preformulasi, formulasi dan proses pengontrolan. Preformulasi memerlukan pertimbangan karakteristik fisika, kimia dan biologi dari semua bahan obat dan bahan–bahan tambahan yang digunakan dalam membuat produk tersebut (Ansel, 1989).
Karakterisasi sebagai bahan baku antasida bertujuan untuk mengetahui data-data karakter bahan obat yang dapat dijadikan pertimbangan formulator dalam merancang formulasi obat untuk mencapai hasil yang diinginkan (Ogungbenle, 2009). Oleh karena itu, sebagai tahapan preformulasi dilakukan karakterisasi sebagai bahan baku antasida terhadap Mg/Al-hydrotalcite yang meliputi beberapa pengujian.
1) Berat jenis
Berat jenis didefinisikan sebagai perbandingan antara massa bahan (m) terhadap volumenya (v). Berat jenis merupakan suatu karakterisasi bahan yang penting, yang digunakan dalam pengujian identitas dan kemurnian (bahan obat dan bahan pembantu), khususnya sifat cairan dan zat yang berjenis. Di samping itu, penentuan berat jenis akan mempermudah dalam memformulasi obat untuk menentukan apakah suatu zat dapat bercampur atau tidak dengan zat lainnya. Penentuan berat jenis dilakukan dengan menggunakan piknometer, aerometer, timbangan hidrostatik, dan cara manometrik. Untuk zat padat tidak homogen dan serbuk yang memiliki pori dan ruang rongga, berat jenis tidak lagi terdefinisi secara jelas sehingga harus dibedakan antara berat jenis benar dengan berat jenis nyata. Berat jenis benar adalah perbandingan massa dengan volume dari zat padat tanpa pori dan tanpa ruang rongga, sedangkan berat jenis nyata adalah volumenya yang membesar akibat adanya pori-pori yang ikut diperhitungkan, dengan
commit to user
19
demikian secara numerik berat jenis nyata tetap lebih kecil daripada berat jenis benar (Voigt, 1994).
2) Sifat alir
Serbuk dikarakterisasikan melalui sifat-sifat spesifiknya. Dalam teknologi serbuk, pertimbangan-pertimbangan mengikuti sifat dimensi, sifat permukaan, sifat aliran dan sifat-sifat teknologi farmasi. Sifat aliran serbuk dipengaruhi bentuk partikel dan ukuran partikel, gaya kohesi di antara partikel melalui pembentukan lapisan tipis permukaan (misalnya air) dan faktor-faktor lainnya. Kekompakan atau gaya ikat dari serbuk berdasarkan pada gaya Van der Waals antara permukaan bahan zat padat, dan hubungan muatan elektrostatik atau gaya di interlayer teradsorpsi. Sifat alir serbuk dan granulat diperbaiki melalui penambahan bahan pelincir, yang menurunkan gesekan partikel (Voigt, 1994).
Sifat alir atau fluiditas serbuk tidak dapat dinilai atas karakter individu partikel. Secara umum, untuk partikel yang ekidimensional (teratur = bulat, kubus) semakin besar diameter maka sifat alir semakin baik, sedangkan untuk partikel yang anisometrik maka hasilnya bisa lain. Sifat alir terbaik terjadi pada diameter optimum partikel. Pada umumnya, semakin bulat (massif= peluru) maka sifat alir semakin baik. Semakin tidak beraturan maka sifat alir semakin jelek. Jika tekstur semakin halus maka semakin kecil gaya gesek (friksi) antarpartikel sehingga semakin mudah mengalir. Sebaliknya, semakin kasar permukaan partikel, maka semakin besar fraksi antarpartikel sehingga semakin sulit mengalir. Semakin besar porositas maka semakin kecil kontak antarpartikel, sehingga kecepatan alir akan semakin baik. Pada kondisi kandungan lembab yang tinggi, ikatan antarpartikel akan lebih kuat, karena luas kontak antarpermukaan serbuk naik. Apabila gaya tarik antarpartikel serbuk semakin kuat, maka serbuk akan semakin sukar mengalir (Martin et al., 1993). Sifat alir dari suatu serbuk dan granulat dapat diperbaiki dengan penambahan bahan pelincir yang dapat menurunkan gesekan partikel (Voigt, 1994).
commit to user
20
3) Kandungan lembab
Material yang akan dikempa harus memiliki kandungan lembab/kadar air dalam batas-batas tertentu. Hal ini penting karena berhubungan dengan sifat alir, proses pengempaan, kompatibilitas, dan stabilitas. Salah satu cara untuk mengetahui kelembaban suatu bahan padat adalah dengan perhitungan menggunakan data berdasarkan berat keringnya (Sulaiman, 2007).
Pengukuran kandungan air yang berada dalam bahan baku obat dapat dilakukan dengan beberapa cara yang tepat tergantung pada sifat bahannya. Kadar air dapat ditentukan dengan beberapa cara, antara lain: metode titrasi, destilasi dan gravimetri. Pengukuran kandungan air bertujuan untuk memberikan batasan minimal atau rentang tentang besarnya kandungan air dalam bahan, di mana nilai maksimal atau rentang yang diperbolehkan terkait dengan kemurniaan dan kontaminasi. Pada umumnya, penentuan kadar air dilakukan dengan mengeringkan bahan dalam ovenpada temperatur 105 –110 °C selama 3 jam atau sampai didapat berat yang konstan. Selisih berat sebelum dan sesudah pengeringan adalah banyaknya air yang diuapkan (Anonim, 2000).
4) Tingkat keasaman (pH)
pH adalah derajat keasaman yang digunakan untuk menyatakan tingkat keasaman atau kebasaan yang dimiliki oleh suatu larutan. Kestabilan suatu obat dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain panas, cahaya, oksigen, kelembaban, pengaruh pH, dan mikroorganisme. Suatu obat kestabilannya dapat dipengaruhi oleh pH, di mana reaksi penguraian dari larutan obat dapat dipercepat dengan penambahan asam (H+) atau basa (OH-) dengan menggunakan katalisator yang dapat mempercepat reaksi tanpa ikut bereaksi dan tidak mempengaruhi hasil dari reaksi (Ansel, 1989).
5) Kapasitas penetralan asam
Kapasitas penetralan merupakan salah satu tahap terpenting dalam preformulasi bahan baku antasida, karena pada umumnya di dalam lambung didominasi oleh suatu reaksi asam kuat dari cairan lambung yang mempunyai
commit to user
21
nilai pH 1,2 - 1,8 (Voigt, 1994). Ada beberapa kriteria dalam penentuan kapasitas penetralan asam (Ansel, 1989), yaitu sebagai berikut.
1. Mempunyai daya netralisasi asam lambung yang besar.
2. Netralisasi tersebut harus terjadi dengan cepat sebelum melewati lambung dan bertahan selama dua jam.
3. Netralisasi asam lambung bertujuan menjadikan derajat keasaman lambung mencapai pH 3 - 5.
Menurut Gunawan (2008), kecenderungan peningkatan nilai kapasitas penetralan asam dipengaruhi oleh ukuran partikel. Apabila ukuran dari suatu partikel antasida semakin kecil maka akan memberikan nilai kapasitas penetralan asam yang semakin besar.
6) Kelarutan
Untuk membuat suatu bahan baku obat tentunya diperlukan desain yang paling sesuai untuk setiap jenis zat aktif. Hal ini dipengaruhi sifat fisikokimia dari zat aktif tersebut, diantaranya: kelarutan, pH, bentuk kristal, inkompatibilitas (interaksi zat aktif dengan zat lain yang menimbulkan efek tidak diinginkan terhadap zat aktif), dan stabilitas. Data-data fisikokimia ini diperhitungkan dalam pemilihan bahan tambahan pada pembuatan bahan baku obat. Data-data tersebut juga mempengaruhi pemilihan bentuk obat, baik tablet, sirup, suspensi, emulsi, kapsul, dan yang lainnya. Pengetahuan mengenai kecepatan disolusi atau kelarutan sangat diperlukan untuk membantu dalam memilih medium pelarut yang paling baik untuk obat atau kombinasi obat, membantu mengatasi kesulitan-kesulitan tertentu yang timbul pada waktu pembuatan larutan farmasetis dan lebih jauh lagi, dapat bertindak sebagai standar atau uji kemurnian (Ansel, 1989).
Kelarutan obat dapat dinyatakan dalam beberapa cara, yaitu secara kualitatif dan kuantitatif. Kelarutan dalam besaran kuantitatif didefinisikan sebagai konsentrasi zat terlarut dalam larutan jenuh pada temperatur tertentu, sedangkan secara kualitatif didefinisikan sebagai interaksi spontan dari dua atau lebih zat untuk membentuk dispersi molekuler homogen. Menurut U. S.
commit to user
22
Pharmacopeiadan National Formulary, definisi kelarutan obat adalah jumlah mL pelarut dimana akan larut 1 gram zat terlarut (Martin et al.,1993).
Bahan baku obat yang diberikan di dalam saluran cerna harus mengalami proses pelepasan, sehingga zat aktif akan melarut dan selanjutnya diabsorpsi. Proses pelepasan zat aktif dan proses pelarutannya sangat dipengaruhi oleh sifat-sifat kimia fisika zat tersebut serta formulasi bahan bakunya. Salah satu sifat-sifat zat aktif yang penting untuk diperhatikan adalah kelarutan, karena pada umumnya zat baru diabsorpsi setelah terlarut dalam cairan saluran cerna.