BAB IV ANALISIS DATA
3. Antonimi (Lawan Kata)
Sumarlam (2008:40) mengatakan bahwa antonimi merupakan nama lain untuk benda atau hal lain, atau satuan lingual yang maknanya berlawanan atau beroposisi dengan satuan lingual lain. Berdasarkan sifatnya, antonimi atau oposisi dapat dibedakan menjadi lima macam. Kelima oposisi itu yaitu a) oposisi mutlak (pertentangan makna secara mutlak), misalnya oposisi antara kata mati dengan kata hidup, b) oposisi relatif atau gradasi (tidak bersifat mutlak dan terdapat tingkatan makna pada kata-kata tersebut), misalnya oposisi antara kata besar dengan kata kecil, c) oposisi hubungan atau relasional (memperlihatkan kesimetrisan dalam makna anggota pasangannya atau bersifat melengkapi), misalnya oposisi antara kata suami dengan kata istri, d) oposisi hierarkial (menyatakan deret jenjang atau tingkatan, dan biasanya berupa kata-kata yang menunjuk pada satuan ukuran, hitungan, penanggalan, dan lain-lain), e) oposisi majemuk (terjadi pada beberapa kata yang biasanya lebih dari dua), misalnya oposisi antara kata berdiri dengan kata duduk, jongkok, tidur, dan bersila.
commit to user 4) Kolokasi (Sanding Kata)
Halliday, M.A.K. & Ruqaiya Hasan (1976:287-288) mengatakan sebagai berikut.
Collocation should be borne in mind that is simply a cover term for the cohesion that result from the co-occurrence of lexical items that are in some or way other typically associated with one another because they tend occur in similar environment; the specific kinds of co-occurrence relations are variable and complex.
„Harus diingat bahwa sanding kata hanyalah istilah yang mencakup untuk kohesi yang dihasilkan dari kemunculan item-item leksikal yang dalam beberapa cara atau secara tipikal berhubungan satu sama lain, karena mereka cenderung muncul pada lingkungan yang sama; jenis khusus hubungan itu bersifat tidak tetap dan komplek‟.
Abdul Rani, Bustanul Arifin, dan Martutik (2006:130-132) mengatakan bahwa kolokasi adalah suatu hal yang berdekatan atau berdampingan dengan yang lain biasanya diasosiasikan dengan sebagai suatu kesatuan.
Contoh: (73)
Sifat terbuka atau demokratis dari Pancasila sebagai ideologi pertama-tama dapat kita lihat dari proses kelahirannya. Sebagaimana diketahui rumusan Pancasila dan UUD 1945 sebagai ideologi dan konstitusi bersama lahir melalui proses musyawarah mufakat yang besuasana terbuka dan demokratis. Bagi bangsa Indonesia, Pancasila dan UUD 1945 merupakan dua hal yang selalu berdampingan. Dalam pelbagai pembahasan di buku-buku, pembahasan Pancasila tentu tidak dapat dipisahkan dengan pembahasan UUD 1945. Kedua hal itu merupakan kolokasi. Pada contoh (73), pengulangan diikuti dengan penyajian kata yang menunjukkan kolokasi. Jadi, kata UUD 1945 pada contoh di atas tidak menimbulkan suatu penyimpangan proposisi karena keduanya menunjukkan kolokasi (Abdul Rani, Bustanul Arifin, Martutik, dan 2006:133-134).
Harimurti Kridalaksana (2001:113-114) mendefinisikan kolokasi sebagai asosiasi yang tetap antara kata dengan kata yang lain, yang berdampingan dalam kalimat, misalnya: antara kata buku dan tebal dalam Buku tebal ini mahal, dan antara keras dan kepala dalam Kami sulit meyakinkan orang keras kepala itu.
commit to user
Kolokasi adalah asosiasi tertentu dalam menggunakan pilihan kata yang cenderung berdampingan (Sumarlam, 2008:44). Kata-kata yang berkolokasi adalah kata-kata yang cenderung dipakai dalam satuan domain atau jaringan tertentu. Contohnya, dalam jaringan pendidikan akan digunakan kata-kata yang berkaitan dengan masalah pendidikan dan orang-orang yang terlibat di dalamnya, dalam jaringan pasar (usaha) akan digunakan kata-kata yang berkaitan dengan permasalahan pasar partisipan yang berperan di dalam kegiatan tersebut. Kata- kata seperti guru, murid, buku, sekolah, pelajaran, dan alat tulis, merupakan contoh kata-kata yang cenderung dipakai secara berdampingan dalam domain sekolah atau jaringan pendidikan, sedangkan kata-kata yang sering dipakai dalam jaringan pertanian adalah kata-kata lahan, sawah, petani, benih, padi, dan panen. 5) Hiponimi (Hubungan Atas-Bawah)
Hiponimi adalah satuan bahasa (kata, frasa, kalimat) yang maknanya dianggap merupakan bagian dari makna satuan lingual lain (Sumarlam, 2008: 45). Unsur atau satuan lingual yang berada di tingkat bawah (makan spesifik) disebut hiponim, sedangkan unsur atau satuan berhiponim itu disebut hipernim atau superordinat.
Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada bagan hubungan antara hipernimi dan hiponim dalam hiponimi berikut ini:
commit to user Bagan 2
Contoh Hubungan Hiponimi
………. Hipernimi
Hiponimi
.……… Hiponim
6) Ekuivalensi (Kesepadanan)
Sumarlam (2008:46) menjelaskan bahwa ekuivalensi adalah hubungan kesepadanan antara satuan lingual tertentu dengan satual lingual yang lain. Ekuivalensi merupakan pengembangan dari bentuk dasar sebagai akibat adanya afiksasi yang masih mempunyai persamaan bentuk dasarnya. Dalam hal ini, sejumlah kata hasil proses afiksasi dari morfem asal yang sama menunjukkan adanya hubungan kesepadanan. Contohnya hubungan makna antara kata membeli, dibeli, membelikan, dibelikan, dan pembeli, semuanya dibentuk dari bentuk asal yang sama yaitu beli. Demikian pula kata belajar, mengajar, pelajar, pengajar, dan pelajaran juga merupakan hubungan ekuivalensi karena dibentuk dari bentuk asal yang sama yaitu kata ajar.
6. Feature
Feature adalah cerita atau karangan khas yang berpijak pada fakta dan data yang diperoleh melalui proses jurnalistik (Haris Sumadiria, 2006:150). Menurut Haris Sumadiria (2006:156-157) feature dalam media massa memiliki kedudukan yang sangat penting posisi dan eksistensinya tak tergantikan oleh
UNGGAS
commit to user
produk jurnalistik yang lain. Bagi surat kabar yang dikelola secara profesional, kedudukan feature sebagai salah satu bentuk karya jurnalistik sastra, tidak hanya untuk memenuhi aspek kesemestaan media massa semata. Lebih dari itu, feature sekaligus juga diharapkan dapat meningkatkan citra media di mata khalayak.
Dalam Haris Sumadiria (2006:157) disebutkan fungsi feature mencakup lima hal, yaitu:
a. sebagai pelengkap sekaligus variasi sajian berita langsung (straight news), b. pemberi informasi tentang suatu situasi, keadaan, atau peristiwa yang terjadi, c. penghibur atau sarana rekreasi dan pengembangan imajinasi yang
menyenangkan,
d. wahana pemberi nilai dan makna tehadap suatu keadaan atau peristiwa, e. sarana ekspresi yang paling efektif dalam mempengaruhi khalayak.
Menurut Wolseley dan Campbell dalam Exploring Journalism (Assegaff 1983:56, dalam Haris Sumadiria, 2006:161) disebutkan paling tidak terdapat enam jenis feature yang kita kenali sehari-hari, yaitu:
a. feature minat insani (human interest feature) adalah jenis berita kisah yang mengangkat kisah manusia biasa dalam peristiwa luar biasa. Atau sebaliknya, kisah manusia besar dalam peristiwa biasa, dalam lingkungan biasa (di tengah masyarakat awam), dan sebagainya,
b. feature sejarah (hystorical feature) yakni feature yang mengangkat peristiwa masa lalu, tetapi memiliki makna politik, sosial dan budaya yang selalu relevan dengan masa-masa sekarang,
c. feature biografi atau tentang riwayat perjalanan hidup seorang tokoh (biografical feature) tulisan yang mengangkat riwayat hidup atau kepribadian
commit to user
tokoh-tokoh masyarakat yang penting, baik karena kedudukannya, kreativitasnya, popularitasnya, kepribadiannya, jasa-jasanya, dan sebagainya. Akan tetapi, bisa pula sebaliknya, riwayat hidup orang biasa yang menarik dan penting untuk dijadikan pelajaran,
d. feature perjalanan (travelogue feature) mengangkat kisah perjalanan seseorang karena sesuatu yang menarik dan luar biasa, atau penuh petualangan yang mendebarkan. Sebuah perjalanan yang bernilai informasi, ilmu, dan pengetahuan,
e. feature yang mengajarkan suatu keahlian atau petunjuk praktis (how to do feature) berisi petunjuk untuk mencapai sesuatu atau proses terjadinya sesuatu, dalam feature ini bisa pula feature tentang masakan, tip-tip memelihara kesehatan dan lain-lain,
f. feature ilmiah (scientific feature) biasanya berisi tentang sesuatu penemuan baru dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi, atau kisah suatu penelitian.
commit to user
C.
Kerangka Berpikir
Kerangka pikir adalah cara kerja yang digunakan oleh penulis untuk menjawab berbagai rumusan masalah yang akan diteliti. Adapun kerangka pikir yang terkait dalam penelitian ini secara garis besar digambarkan sebagai berikut.
Sumber data penelitian Feature
Wacana
Analisis wacana
Pesona Alam dan Budaya Jogja Antologi Feature Bengkel Sastra Indonesia 2010 Wacana tulis Kohesi
Kohesi gramatikal Kohesi leksikal
commit to user Keterangan bagan:
Sumber data pada penelitian ini adalah Feature Pesona Alam dan Budaya Jogja Antologi Feature Bengkel Sastra Indonesia 2010. Data dalam penelitian ini adalah paragraf-paragraf yang mengandung penanda-penanda kohesi dalam wacana feature dalam Pesona Alam dan Budaya Jogja Antologi Feature Bengkel Sastra Indonesia 2010.
Hal pertama yang akan diteliti untuk mengetahui keutuhan wacana tulis (yakni wacana Feature dalam Pesona Alam dan Budaya Jogja Antologi Feature Bengkel Sastra Indonesia 2010) adalah aspek kohesi. Analisis terhadap kohesi ada dua macam yaitu kohesi gramatikal dan kohesi leksikal. Ada empat unsur dalam kohesi gramatikal yaitu pengacuan (reference), penyulihan (substitution), pelesapan (ellipsis), dan perangkaian (conjuction). Sementara itu, unsur yang ada dalam kohesi leksikal dibedakan menjadi repetisi (pengulangan), sinonimi (padan kata), antonimi (lawan kata), kolokasi (sanding kata), hiponimi (hubungan atas- bawah), dan ekuivalensi (kesepadanan).
Setelah itu, dilakukan penarikan simpulan. Simpulan dalam penelitian ini diperoleh dari data yang telah diolah dan dianalisis pada tahap sebelumnya.
commit to user
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Edi Subroto (1992:5-6) menyebutkan bahwa metode kualitatif adalah adalah metode pengkajian atau metode penelitian terhadap suatu masalah yang tidak didesain atau dirancang dengan menggunakan metode statistik. Penelitian kualitatif berusaha memahami makna dari fenomena-fenomena, peristiwa- peristiwa dan kaitannya dengan orang-orang atau masyarakat yang diteliti dalam konteks kehidupan dalam situasi sebenarnya. Dikatakan bersifat deskriptif sebab peneliti mencatat dengan teliti dan cermat data yang berwujud kata-kata, kalimat- kalimat, wacana, gambar-gambar/foto, catatan harian, memorandum, video-tipe (Edi Subroto, 1992:7).
Dalam penelitian ini, penulis mencatat dengan teliti dan cermat data-data yang berwujud paragraf-paragraf dalam Feature Pesona Alam dan Budaya Jogja Antologi Feature Bengkel Sastra Indonesia 2010. Dengan demikian, hasil analisis berbentuk deskripsi penanda kohesi gramatikal dan leksikal dalam Feature Pesona Alam dan Budaya Jogja Antologi Feature Bengkel Sastra Indonesia 2010.
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini berupa analisis wacana dan mengambil feature dalam Pesona Alam dan Budaya Jogja Antologi Feature Bengkel Sastra Indonesia 2010 sebagai sumber data penelitian. Pokok permasalahan yang diteliti adalah penanda kohesi gramatikal dan kohesi leksikal.
commit to user
B. Sumber Data dan Data
Data dan sumber data penelitian merupakan dua hal yang harus dibedakan secara jelas dalam penelitian. Sumber data yaitu asal data penelitian itu peroleh. Sumber data merupakan bahan mentah data, yang berbentuk konkret (Sudaryanto, 1990:33). Adapun sumber data dalam penelitian ini adalah wacana feature dalam Pesona Alam dan Budaya Jogja Antologi Feature Bengkel Sastra Indonesia 2010.
Data ialah semua informasi atau bahan yang disediakan alam yang harus dicari dan disediakan dengan sengaja oleh peneliti yang sesuai dengan masalah yang diteliti. Data tersebut dicari atau dikumpulkan dan dipilih peneliti. Data dapat diidentifikasikan atau dijadikan sebagai bahan penelitian dan bukan sebagai bahan jadi (Sudaryanto, 1990:3).
Dalam penelitian ini, datanya adalah paragraf yang mengandung penanda-penanda kohesi gramatikal dan kohesi leksikal dalam wacana feature dalam Pesona Alam dan Budaya Jogja Antologi Feature Bengkel Sastra Indonesia 2010.
C. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan cara yang digunakan untuk memperoleh data-data yang berkualitas. Sedangkan kualitas data sangat ditentukan oleh cara pengambilan data yang tepat. Teknik adalah cara melaksanakan metode (Sudaryanto, 1993:9). Dalam penelitian ini, pengumpulan datanya menggunakan teknik pustaka, metode simak dan teknik catat sebagai teknik lanjutannya.
commit to user
Teknik pustaka di sini adalah mempergunakan sumber-sumber tertulis untuk memperoleh data. Sumber-sumber tertulis itu dapat berwujud majalah, surat kabar, karya sastra, buku bacaan umum, karya ilmiah, buku perundang-undangan (Edi Subroto, 1992:42). Selanjutnya, metode simak adalah mengadakan penyimakan terhadap pemakaian bahasa (Edi Subroto, 1992:41). Metode simak digunakan untuk mendapatkan data-data yang diperlukan dalam penelitian, maka peneliti dengan kemampuannya menyimak dari sumber data tertulis berupa wacana feature dalam Pesona Alam dan Budaya Jogja Antologi Feature Bengkel Sastra Indonesia 2010. Selanjutnya, menggunakan teknik catat, maksudnya setelah data yang relevan yang sesuai dengan sasaran dan tujuan penelitian diperoleh, kemudian diketik untuk diseleksi dan diklasifikasikan.
D. Teknik Klasifikasi Data
Dalam Edi Subroto (2007:51) mengatakan bahwa perlu ditekankan kepada peneliti untuk membatasi dan merumuskan masalah secara jelas perihal apa atau segi tertentu tentang bahasa mana yang diteliti, menguraikan secara secukupnya ruang lingkup atau cakupan yang diteliti, yaitu bagaimana sifat penelitian itu dan semacamnya. Kesemuanya itu memberi arahan yang jelas yang bersifat menuntun tahapan demi tahapan di dalam pelaksanaan penelitian linguistik. Pemberian arahan atau tuntunan itu juga sekaligus memberikan isyarat- isyarat tahapan apa yang akan dikerjakan berikutnya dan bagaimana tahapan berikutnya itu dilakukan atau dikerjakan. Klasifikasi data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara memilih paragraf-paragraf yang mengandung penanda- penanda kohesi gramatikal dan kohesi leksikal.
commit to user
(1) Dengan tujuan hendak membanggakan kedua orang tua dan selalu menjadi juara dalam setiap kejuaraan bulutangkis, tidak membuat Monica lupa akan kewajiban utamanya sebagai seorang siswa SMP Negeri 1 Moyudan. Ia tetap rajin belajar.
(164/FMI/318)
Dalam penelitian ini, untuk memudahkan dalam analisisnya dilakukan penomoran data. Adanya penomoran data tersebut bermanfaat untuk mencocokkan data-data dengan analisisnya, yaitu memberikan syarat tambahan apa yang akan dikerjakan berikutnya dan bagaimana tahapan ini dilakukan dengan mengurutkannya sesuai dengan tujuan penelitian.
Contoh penomoran data:
Keterangan: 164 : Nomor urut data
FMI : Feature Minat Insani (jenis feature)
318 : Halaman
E. Teknik Analisis Data
Setelah data dikumpulkan, diseleksi, dan diklasifikasikan, langkah selanjutnya adalah analisis data. Menganalisis data berarti menguraikan atau memilahbedakan antara unsur-unsur yang membentuk satuan lingual ke dalam komponen-komponennya. Adapun metode analisis data yang peneliti pergunakan adalah metode distribusional. Metode distribusional adalah metode yang digunakan untuk menganalisis bahasa berdasarkan perilaku atau tingkah laku satuan-satuan lingual tertentu yang diamati dalam hubungannya dengan satuan lingual lain (Edi Subroto, 1992:64). Sementara itu, teknik lanjutan dari metode distribusional yaitu: 1) teknik urai unsur terkecil, 2) teknik urai unsur langsung, 3) teknik oposisi (pasangan minimal dan dua-dua), 4) teknik penggantian (subtitusi),
commit to user
5) teknik perluasan, 6) teknik pelesapan, 7) teknik penyisipan, 8) teknik permutasi, dan 9) teknik parafrasis (Edi Subroto, 1992:64-65). Dalam penelitian hanya menggunakan tiga teknik yang sesuai dengan keperluan penelitian, yaitu: 1) Teknik penggantian atau substitusi
Teknik ini dilakukan dengan menggantikan satuan lingual atau unsur tertentu dari konstruksi morfologis atau fraseologis tertentu oleh satuan lingual lain. Satuan lingual atau unsur yang saling menggantikan termasuk dalam kelas struktural yang sama. (Edi Subroto, 1992:74).
2) Teknik pelesapan
Teknik ini dilakukan dengan melesapkan (menghilangkan) unsur tertentu satuan lingual yang bersangkutan. Teknik ini digunakan untuk mengetahui kadar keintian unsur-unsur yang dilesapkan. Jika hasil unsur yang dilesapi tidak gramatikal maka unsur yang bersangkutan memiliki kadar keintian yang tinggi. (Edi Subroto, 1992:76).
3) Teknik parafrasis
Teknik ini menyatakan secara berbeda (secara normal) sebuah tuturan atau pernyataan atau konstruksi tertentu, tetapi informasi atau isi tuturan tetap terjaga atau lebih kurang sama. Teknik ini digunakan untuk mengetahui bentuk-bentuk tuturan yang mungkin terhadap isi atau informasi yang sama dan untuk memerikan isi atau arti gramatis secara tepat terhadap sebuah konstruksi (morfologis atau sintaksis). (Edi Subroto, 1992:82).
commit to user
F. Teknik Penyajian Data
Metode penyajian data meliputi penyajian formal dan informal. Metode penyajian formal adalah perumusan dengan tanda dan lambang-lambang. Tanda yang dimaksud di antaranya: tanda tambah (+), tanda kurang (-), tanda bintang (*), tanda panah (), tanda kurung biasa (()), tanda kurung kurawal ({}), tanda kurung siku ([]). Adapun lambang yang dimaksud diantaranya: lambang huruf
sebagai siangkatan nama (S, P, O, V, K), lambang sigma (∑) untuk satuan
kalimat, dan berbagai diagram (Sudaryanto, 1993:145). Selanjutnya, tanda yang digunakan dalam penelitian di antaranya: tanda tanya (?), tanda bintang (*), tanda kurung kurawal ({}), dan tanda pelesapan (Ø).
Selanjutnya, hasil analisis data dapat disajikan dengan menggunakan metode penyajian secara informal. Penyajian informal ini berupa perumusan dengan kata-kata biasa yang berisi rincian hasil analisis data (Sudaryanto, 1993:145). Metode penyajian secara informal digunakan untuk memaparkan penanda-penanda kohesi gramatikal dan leksikal pada wacana feature dalam Pesona Alam dan Budaya Jogja Antologi Feature Bengkel Sastra Indonesia 2010.
commit to user
BAB IV
ANALISIS DATA
Dalam sebuah penelitian analisis data merupakan tahapan yang sangat penting. Dalam tahap ini peneliti menangani secara langsung masalah-masalah yang terkandung dalam data untuk menemukan jawaban-jawaban yang berhubungan dengan masalah penelitian. Adapun masalah penelitian yang akan peneliti teliti yaitu kohesi gramatikal dan kohesi leksikal. Ada empat unsur dalam kohesi gramatikal yaitu pengacuan (reference), penyulihan (substitution), pelesapan (ellipsis), dan perangkaian (conjuction). Sementara itu, unsur yang ada dalam kohesi leksikal dibedakan menjadi repetisi (pengulangan), sinonimi (padan kata), antonimi (lawan kata), kolokasi (sanding kata), hiponimi (hubungan atas- bawah), dan ekuivalensi (kesepadanan).
A. Kohesi Gramatikal 1. Pengacuan atau referensi (reference)
Pengacuan (referensi) adalah sifat khusus dari informasi yang diisyaratkan untuk menunjuk informasi itu kembali (M.A.K. Halliday dan Ruqaiya Hasan, 1976:31). Dalam penelitian ini, referensi atau pengacuan yang dianalisis berupa referensi endofora (baik yang bersifat anaforis maupun kataforis). Selanjutnya, referensi dalam penelitian ini ada yang menggunakan pronomina persona (kata ganti orang), dan pronomina demonstratif. Untuk memudahkan analisis, maka data akan dikelompokkan berdasarkan jenis pronomina yang digunakan.
commit to user a. Referensi Pronomina Persona
Dalam penelitian ini, analisis hanya dibatasi pada data yang relevan, yaitu penggunaan referensi pronomina persona III. Sementara, penggunaaan referensi pronomina persona I dan II tidak akan dianalisis, karena tidak relevan dengan penelitian ini.
Berikut adalah contoh penggunaan referensi pronomina persona III tunggal bentuk bebas ia dan bentuk terikat lekat kanan -nya, yang ditemukan dalam penelitian ini.
(1) Dengan tujuan hendak membanggakan kedua orang tua dan selalu menjadi juara dalam setiap kejuaraan bulutangkis, tidak membuat Monica lupa akan kewajiban utamanya sebagai seorang siswa SMP Negeri 1 Moyudan. Ia tetap rajin belajar.
(147/FMI/318)
(2) Bulan lalu Irvan mendapat pesanan partai besar yang akan dikirim ke Belanda. Ia terpaksa mencari tenaga tambahan agar pesanan dapat segera dibereskan. Bos “Pabrik” kerajinan bambu itu tetap memasang syarat utama bagi calon pekerjanya: difabel.
(149/FMI/322) Pada contoh tersebut terdapat penanda kohesi gramatikal, yaitu referensi pronomina persona III. Pada contoh (1) dan (2) terdapat dua referensi pronomina persona III tunggal bentuk bebas ia dan bentuk terikat lekat kanan -nya. Kata ia pada contoh (1) menujuk atau mengacu secara endoforis karena pengendalinya terdapat di dalam teks, yaitu Monica. Pronomina persona ia di sini mengacu secara anaforis pada kalimat yang telah dituturkan sebelumnya, yaitu kata Monica. Selanjutnya, pada contoh (2) kata ia menujuk atau mengacu secara endoforis karena pengendalinya terdapat di dalam teks, yaitu Irvan dan bersifat anaforis karena mengacu pada kalimat yang telah dituturkan sebelumnya. Sementara itu, kata –nya contoh
commit to user
(2), pada pekerjanya mengacu pada Irvan dan merupakan referensi endoforis yang bersifat anaforis.
Contoh lain penggunaan referensi pronomina persona III tunggal bentuk bebas dia dan bentuk terikat lekat kanan –nya, sebagai berikut.
(3) Pada masa SD Sylfia sudah mengumpulkan 4 prestasi, diantaranya juara satu lomba lari 800 meter tingkat kecamatan dan mendapatkan juara ketiga antar kabupaten. Saat duduk dikelas 6 dia meraih juara satu gerak jalan pramuka tingkat kecamatan, sampai pada akhirnya dia menduduki peringkat 5 besar pada kelulusan SD.
(76/FMI/86)
(4) Awalnya semua orang tidak mengetahui kepandaiannya dalam bahasa Inggris, namun akhirnya dibongkar oleh sahabatnya sendiri di depan kepala SMP. Sahabatnya mengaku bahwa dia tidak suka dengan sikap Sylfia yang terus menerus menutupi kelebihannya. Berhubung pada saat itu ada seleksi bagi para siswa untuk mewakili sekolah untuk mngikuti lomba pidato bahasa Inggris, dan akhirnya dia berhasil mewakili sekolah.
(77/FMI/86)
Selanjutnya, pada contoh (3) dan (4) terdapat penanda kohesi gramatikal, yaitu referensi pronomina persona III tunggal bentuk bebas dia. Dikatakan referensi endofora karena pengendalinya terdapat di dalam teks yang ditunjukkan dengan kata dia, dan kata dia di sini menunjuk pada manusia, dalam hal ini Sylfia. Kata dia di sini sebagai referensi anafora, karena mengacu pada kalimat sebelumnya yaitu terhadap kata Sylfia. Sementara itu, pada contoh (4) juga terdapat referensi pronomina persona III tunggal bentuk terikat lekat kanan –nya yang menujuk atau mengacu secara endoforis karena pengendalinya terdapat di dalam teks, yaitu Sylfia. Pronomina persona -nya pada contoh (4) ada yang bersifat anaforis pada kata sahabatnya karena mengacu pada kalimat sebelumnya dan kata kepandaiannya secara katafois mengacu pada kalimat sesudahnya, yaitu kata Sylfia.
commit to user
Kemudian keempat contoh tersebut disubstitusikan, maka hasilnya menjadi.
(1a) Dengan tujuan hendak membanggakan kedua orang tua dan selalu menjadi juara dalam setiap kejuaraan bulutangkis, tidak membuat Monica lupa akan kewajiban utamanya sebagai seorang siswa SMP
Negeri 1 Moyudan. tetap rajin belajar.
(2a) Bulan lalu Irvan mendapat pesanan partai besar yang akan dikirim ke
Belanda. terpaksa mencari tenaga tambahan agar pesanan dapat segera dibereskan. “Pabrik” kerajinan bambu itu tetap memasang syarat utama bagi calon pekerjanya: difabel.
(3a) Pada masa SD Sylfia sudah mengumpulkan 4 prestasi, diantaranya juara satu lomba lari 800 meter tingkat kecamatan dan mendapatkan juara ketiga antar kabupaten. Saat duduk dikelas 6 meraih juara satu gerak jalan pramuka tingkat kecamatan, sampai pada akhirnya dia menduduki peringkat 5 besar pada kelulusan SD.
(4a) Awalnya semua orang tidak mengetahui kepandaiannya dalam bahasa Inggris, namun akhirnya dibongkar oleh sahabatnya sendiri di depan