3.1 Aplikasi
Bagian Diklat RSUD AL IHSAN Bagian Diklat
Awal berdiri tahun 1996 sebagai Insatalsi Diklat yang dipimpin oleh Dra. Hj. Maria Zaina Rachmansjah (1996-2004) dan sejak tahun 2004 sesuai dengan kebutuhan manajemen dirubah menjadi Bagian Diklat yang dipimpin oleh dr. H. Pandith A. Arismunandar, MM
Bagian Diklat mempunyai tugas pokok sebagai berikut :
1. pengembangan SDM rumah sakit melalui kegiatan pendidikan dan latihan Formal dan Non Formal yang kompeten dengan landasan Aqidah Islam
2. Meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap SDM rumah sakit yang Amanah dilandasi Iman dan Taqwa (IMTAQ), serta memenuhi persyaratan Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi (IPTEK) terkini
3. Menjalin kerjasama dengan pihak terkait dalam negeri / luar negeri , dalam penyelenggaraan pendidikan / pelatihan / training/ seminar / simposium yang berhasil guna dan berdaya guna
Visi
Menjadi tempat Pendidikan , Pelatihan dan Penelitian yang unggul dan mandiri yang bernuansa Islam
M i s i
� Menyelenggarakan pelayanan kegiatan pendidikan dan pelatihan yang berkualitas, efisien dan efektif dengan berpedoman kepada Rencana Strategis Rumah Sakit
� Menyiapkan SDM profesional yang bertumpu pada peningkatan aspek Knowledge, Skill dan Afektif dengan mengikuti perkembangan IPTEK (Evidence Based) yang memiliki jiwa Ahlakul kharimah
� Mengupayakan bagian Diklat menjadi Unit Profit Center dengan menyelenggarakan kegiatan pendidikan dan pelatihan formal / non formal yang mempunyai nilai jual
� Diperolehnya kepuasan dan kenyamanan dan keamanan dalam kegiatan diklat yang diselenggarakan baik secara internal dan external.
N i l a i - n i l a i :
� Adanya komitmen bersama untuk keselarasan dalam mencapai Visi Diklat dan Visi Rumah Sakit
� Berkomitmen dengan mutu melalui pola TQM sebagi kunci sukses keberhasilan
� Berpedoman kepada Bio Ethico Medico Legal yang tidak bertentangan dengan kaidah Islam
� Senyum, sapa, santun dan sabar menjadi sikap amanah para petugas diklat
Dalam bidang peningkatan sumber daya manusia menjadi perhatian penting khsusunya bidang pendidikan formal sdm keperawatan melalui penyetaraan jenjang DIII serta S1 Keperawatan, peningkatan SDM non medis jenjang DIII dan S1 berbagai disiplin ilmu serta program dokter spesialist.
Untuk melaksanakan tugas dan fungsi rumah sakit sejak tahun 2000 telah dibuat kebijakan bahwa tenaga keperawatan diharuskan berpendidikan minimlal DIII keperawatan. Untuk tenaga perawat yang berpendidikan SPK diusahakan untuk melanjutkan jenjang pendidikannya ke AKPER / DIII keperawatan dan dilakukan secara bertahap karena adanya keterbatasan dana.
Jumlah tenaga yang telah mengikuti pendidikan formal adalah : 1. Pendidikan DIII
� Keperawatan 44 orang � Kebidanan 1 orang � Kesehatan Gigi 1 orang � Anesthesi 1 orang
2. S1 Sedangkan untuk tenaga Non Medis sebagai berikut : � S2 Manajemen 7 orang
� S1 Keperawatan 5 orang � DIII Rekam Medis 1 orang
Untuk tenaga medis dari dokter umum kejenjang spesilaist sebagai berikut :
� Spesialist Patologi Klinik 1 orang � Spesialist Kebidanan 1 orang � Spesilaist Syaraf 1 orang
Dalam hal pelatihan, memfokuskan diri pada berbagai upaya peningkatan kinerja karyawan yang berkaitan dengan aspek manajemen dan klinis baik yang diselenggaranan oleh internal maupun oleh external, seperti manajemen kepala ruangan, manajemen pelayanan, PPGD, ACLS.
Berkaitan dengan peningkatan sumberdaya manusia RSI Al Ihsan juga dijadikan sebagai tempat pendidikan dan penelitian baik oleh tenaga medis maupun non medis mulai dari tingkat SLTA sampai program Pasca Sarjana.
Sejak tahun 2004 RSI Al Ihsan telah mengadakan perjanjian kerjasama sebagai lahan praktek program pendidikan profesi dokter Universitas Islam Bandung.
Sumber : http://rsudalihsan.jabarprov.go.id/bag_diklat.html 3.2 Analisis kritis
Di RSI Al - Ihsan memiliki bagian instalasi diklat. Dimana instalasi diklat ini memiliki tugas pokok, yaitu pengembangan SDM
formal yang kompeten dengan landasan Aqidah Islam, meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap SDM rumah sakit yang amanah dilandasi iman dan taqwa (IMTAQ), serta memenuhi persyaratan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) terkini, menjalin kerjasama dengan pihak terkait dalam negeri / luar negeri , dalam penyelenggaraan pendidikan / pelatihan / training/ seminar / simposium yang berhasil guna dan berdaya guna. Dari tugas pokok yang ada di instalasi ini kita mendapatkan tiga aspek yang menjadi kefokusan instalasi ini dengan harapan dapat memaksimalkan konsep human capital, yaitu aspek aqidah, pengetahuan keterampilan, dan pengalaman. Tiga aspek ini mewakili komponen human capital, menurut ancook 2002 ada 6 komponen yaitu Modal intelektual, emosional, sosial, ketabahan, moral, kesehatan. Tiga aspek ini yang menjadi kefokusan diklat merupakan upaya konkrit yang dilakukan diklat dalam memaksimalkan konsep human capital.
Upaya pemaksimalan human capital juga terlihat dari visi yang diusung diklat instalasi ini yaitu Menjadi tempat Pendidikan , Pelatihan dan Penelitian yang unggul dan mandiri yang bernuansa Islam. Tanda upaya memaksimalkan konsep human capital yang tercermin dalam visi instalasi ini semakin jelas ketika kita mencoba memahami jabaran visi berupa misi-misi yaitu diadakannya pendidikan dan pelatihan untuk menyiapkan SDM profesional guna tercapainya kepuasan kerja.
Perhatikan sekali lagi, kita melihat alur pengelolaan yang di siapkan pihak instalasi diklat dalam upaya memaksimalkan konsep human capital. Yang pertama mengidentifikasi kesiapan sdm yang ada, itulah
kenapa pihak instalasi diklat ini memaparkan profil sdm yang tersedia, hal ini diharapakan dapat mengetahui sudah memenuhi standar tidak sdm yang tersedia, jika belum maka akan di berikan pendidikan dan pelatihan guna upgrade sdm. Mereka juga memberikan standar tingkat pendidikan. Pemberian pelatihan dan pendidikan merupakan salah satu tahap pengelolaan human capital yaitu pengembangan human capital.
BAB 4 PENUTUP 4.1 Kesimpulan
Human capital merupakan teori dalam manajemen SDM yaitu melihat bahwasanya sumber daya manusia merupakan suatu aset intengible. Ini berbanding terbalik dengan teori human resources yang menyatakan bahwa manusia sebagai suatu beban biaya. Namun dalam penerapannya kedua teori ini dapat bersinergis yaitu dimana human resources sebagai dasar penggunaan human capital.
Komponen human capital sendiri menurut Ancook 2002 terdapat 6 komponen yaitu intelektual, emosi, sosial, ketabahan, moral, kesehatan. Dimana keenam komponen ini akan bekerja optimal jika disertai dengan modal kepemimpinan dan modal struktur orgaanisasi yang efektif.
Adapun pengelolaan human capital melalui tiga tahapan yaitu mengidentifikasi kesiapan human capital, pengembangan human capital serta pengukuran human capital. Pengukuran human capital sangat diperlukan untuk dapat menilai kontribusi dan produktifitas karyawan pada suatu perusahaan.
4.2 Saran
Diharapkan semakin banyaknya organisasi yang menerapkan human capital pada manajemennya. Organisasi harus melihat manusia sebagai aset bukan sebagai beban, karena akan lebih memberikan keuntungan lebih baik bagi organisasi dan juga pekerja. Agar setiap
organisasi bisa menerapkan human capital pada setiap organisasinya, maka harus bisa memahi komponen, cara pengembangan, dan juga bagaimana cara pengukuran human capital. Penerapan human capital bisa berupa pemberian pendidikan dan pelatihan pada pekerja di organisasinya.