• Tidak ada hasil yang ditemukan

Aplikasi Pada Demplot Tanaman Padi

Hasil pertumbuhan semaian padi varitas Ciherang ditabur selama 2 minggu mempunyai daya tumbuh lebih dari 80 % . Setelah ditanam di sawah, rata-rata jumlah anakan per pohon mencapai 23-33 anakan/rumpun, jumlah malai padi per rumpun = 7 malai, jumlah bulir gabah per malai mencapai 160 bulir gabah. Panen dilakukan setelah padi berumur 3 bulan. Rendemen beras yang menggunakan Arkoba+Asap cair lebih tinggi yaitu 75kg/100 kg gabah, sedangkan rendemen beras yang ditanam secara anorganik hanya 65kg/100 kg.

110

Menunjukkan bahwa beras yang dihasilkan lebih bernas, padat dan berisi penuh serta tidak mudah patah. Tanaman padi yang ditanam menggunakan Arkoba+Asap cair tidak terserang hama dan tikus, sementara tanaman yang ditanam secara anorganik di lokasi yang sama terserang hama tikus. Tanah bekas panen padi yang menggunakan Arkoba dan asap cair meninggalkan bekas tanah yang lebih lembut kehitaman dan tidak mudah keras dan rengkah, walau sudah terpapar sinar matahari selama 2 hari, sementara tanah bekas panen tanaman padi yang menggunakan secara kimia, dengan waktu sama sudah keras dan rengkah Bertanam padi organik dengan menggunakan arkoba + asap cair sangat menguntungkan jika dibanding dengan non organik. Kelebihan keuntungan bertanam padi menggunakan Arkoba+asap cair dibanding non organik mencapai Rp. 10.525.000/ha, jika harga jual Rp. 11.500,-. Jika harga jual padi organik Rp. 15.000 saja (umumnya harga jual padi organik cianjur mencapai Rp.20.000-22.000) maka keuntungan yang akan diperoleh mencapai Rp. 20.900.000/ha/3 bulan. Dengan demikian bertanam padi organik dengan arkoba + asap cair adalah solusi yang menguntungkan. Selain menambah pendapatan, juga solusi sehat baik kesehatan manusia, juga kesehatan lingkungan. Oleh sebab itu sangat dianjurkan bertanam padi atau bertanam tanaman lainnya dengan menggunakan arkoba + asap cair.

B. Aplikasi pada Tanaman Kehutanan

Aplikasi akroba dan asap cair pada lahan agroforestri seluas kl 1 ha, dengan komposisi tanaman tahunan (kehutanan/perkebunan) seperti Mahoni, Sengon, Rambutan dan Durian, menunjukkan hasil yang sangat bagus pertumbuhannya baik tinggi maupun diameter batang tanaman. Rata-rata peningkatan pertambahan tinggi dan diamater pohon mahoni setelah pemberian arkoba dan asap cair secara terpadu meningkat 5 kali. Rata-rata peningkatan pertambahan tinggi pohon rambutan mencapai 10 kali, dengan pertambahan diameter 7 kali. Rata-rata peningkatan pertambahan tinggi dan diamater pohon sengon 17 kali, peningkatan pertambahan diameter 6 kali. Rata-rata peningkatan pertambahan

111

tinggi dan diamater pohon durian 3 kali, peningkatan pertambahan diameter 5 kali.

5. KESIMPULAN DAN SARAN

Aplikasi arang kompos bioaktif dan asap cair pada tanaman padi sawah yang ditanam dengan Arkoba+Asap cair tidak terserang hama dan tikus, bulir padi lebih padat dan berisi, tidak mudah roboh, tanah bekas panen padi yang menggunakan rkoba dan asap cair meninggalkan bekas tanah yang lebih lembut kehitaman dan tidak mudah keras dan rengkah, walau sudah terpapar sinar matahari selama 2 hari. Secara finansial lebih menguntungkan dibanding padi yang ditanam secara non organik.

Rata-rata peningkatan pertambahan tinggi dan diamater 4 jenis pohon yang ditanam pada lahan agroforestri di Desa Babakan Karet, Kabupaten Cianjur menunjukkan hasil yang sangat bagus setelah pemberian arkoba dan asap cair, baik tinggi maupun diameter batang yaitu:

• peningkatan pertambahan tinggi pohon mahoni 5 kali,

• peningkatan pertambahan tinggi pohon rambutan 10 kali, diameter 7 kali, • peningkatan pertambahan tinggi pohon sengon 17 kali, diameter 6 kali; • peningkatan pertambahan tinggi dan diamater pohon durian 3 kali,

Berdasarkan hasil yang diperoleh maka Teknologi arang terpadu dengan produk arang kompos bioaktif (arkoba) dan asap cair, perlu direkomendasikan untuk diterapkan dalam rangka pemanfaatan limbah/sampah organik. Apalagi jika dilanjutkan menjadi bionanofertilizer yang efisien dalam penggunaannya, dengan pertimbangan antara lain:

Pembuatan dan aplikasi arkoba + asap cair adalah solusi pemanfaatan limbah; bertanam secara organik yang lebih menguntungkan; sehat & higienis; memperbaiki kondisi lahan; murah & mudah; serta peluang usaha.

Pembuatan dan aplikasi arang kompos menunjang program CDM, karena : (1) dengan memanfaatkan arang sebagai sumber karbon, dapat mencegah peningkatan pelepasan jumlah karbon ke atmosfir sehingga karbon

112

akan tersimpan dalam batas waktu tertentu dalam arang di dalam tanah; (2) arang sebagai sumber karbon di dalam tanah dapat merangsang perkembangan mikroorganisme tanah, sehingga dapat membangun kondisi biologis tanah, meningkatkan pH tanah, memperbaiki kondisi fisik dan kimia tanah, sehingga meningkatkan produktivitas tanah dan tanaman. Meningkatnya pertumbuhan tanaman hutan memperbesar jumlah sink atau rosot CO2 dan selanjutnya akan dicapai net-source penyerapan > dari emisi; (3) mengurangi pelepasan emisi berbagai gas rumah kaca dari tumpukan sampah & TPA.

Penerapan pengolahan sampah organik dengan metode 3 in 1, menjadi bionanofertilizer + asap cair penting untuk mendukung program pengurangan tumpukan sampah dan emisi, mendukung program Gerakan Indonesia Peduli Sampah Menuju Masyarakat Berbudaya dalam rangka “Menuju Indonesia Bersih 2020”, serta mendukung program budidaya organik dan ketahanan pangan yang sehat.

113

Judul Kegiatan : Pengembangan Teknologi Ramah Lingkungan untuk peningkatan produktivitas tanaman

Jenis kegiatan : Pengembangan Integratif

RPPI : Pengembangan

Koordinator : Ir. Adang Sopandi, MSc.

Satker Pelaksana : Pusat Litbang Hasil Hutan

Pelaksana Kegiatan : Dra.Sri Komarayati, Dra.Gusmailina, M.Si., Prof.Dr.Gustan Pari, M.Si, Djeni Hendra, M.Si. Telah dilakukan kegiatan Alih Teknologi Pemanfaatan Limbah di desa Siosar, desa Sugihen dan desa Munthe di Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Tujuan kegiatan pengembangan yaitu alih teknologi pemanfaatan limbah organik menjadi produk yang berguna bagi masyarakat. Sasaran dari kegiatan ini adalah tersedianya paket teknologi pengolahan dan pemanfaatan limbah organik menjadi arang, arang kompos bioaktif dan asap cair.

Optimalisasi pemanfaatan limbah dengan teknologi inovatif yang mudah dan murah, merupakan salah satu solusi yang perlu diterapkan serta dikembangkan. Salah satu teknologi yang cukup strategis untuk diterapkan adalah teknologi pemanfaatan limbah untuk dibuat arang, arang kompos bioaktif dan asap cair. Kegiatan pengembangan ini menggunakan teknologi dan peralatan yang sederhana, mudah dan aplikatif. Bahan baku yang digunakan merupakan limbah organik seperti potongan kayu, ranting, kulit jagung, serasah, tempurung kelapa dan lain-lain yang terdapat disekitar wilayah tersebut. Melalui teknologi sederhana limbah organik dapat dirubah menjadi produk yang bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Melalui kegiatan alih teknologi, masyarakat dapat menyerap ilmu dan teknologi yang diberikan. Selanjutnya masyarakat dapat mengembangkan sendiri dan memproduksi arang, arang kompos bioaktif dan asap cair.

Arang atau Biochar diketahui sebagai pembangun kesuburan tanah, karena biochar mempunyai pori-pori yang dapat menyerap dan menyimpan air dan hara, kemudian air dan hara tersebut akan dikeluarkan kembali sesuai kebutuhan. Arang dapat meningkatkan pH, KTK dan dapat memperbaiki sifat

114

kimia, fisik dan biologi tanah sehingga apabila tanaman diberi arang maka pertumbuhan akan meningkat, antara lain tinggi, diameter dan produksi

Sedangkan asap cair adalah cairan organik/destilat yang diperoleh dari kondensasi asap pada proses karbonisasi. Cairan tersebut berwarna kuning kecoklatan – hitam. Cairan asap cair ini multi manfaat, dapat digunakan sebagai obat penyakit kulit, biopestisida, pemacu pertumbuhan tanaman, pengawet makanan, pengawet kayu, pembersih ruangan, penyerap racun dalam tubuh, anti oksidan, anti mikroba, koagulan dan menghilangkan bau pada getah karet. Selanjutnya adalah Arang kompos bioaktif yaitu salah satu produk lanjutan dari arang. Merupakan gabungan antara arang dan kompos yang dihasilkan melalui proses pengomposan. Dari beberapa uji coba pemberian arang kompos pada tanah selain dapat menambah ketersediaan unsur hara tanah, memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologis tanah, juga dapat meningkatkan pH tanah dan nilai KTK tanah, sehingga cocok digunakan untuk rehabilitasi/reklamasi lahan-lahan kritis, masam yang makin meluas di Indonesia. Dari beberapa aplikasi arang kompos yang telah diuji cobakan, baik di laboratorium, maupun di lapangan menunjukkan bahwa pertumbuhan tanaman yang diberi arang kompos meningkat hingga 2 kali lipat dibanding dengan yang tidak diberi arang kompos.

Dari kegiatan Alih Teknologi ini selain diperoleh ilmu dan teknologi, juga akan didapat produk organik yaitu arang, asap cair dan arang kompos yang dapat dimanfaatkan untuk menyuburkan tanah/ lahan, meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman, juga dapat dijual untuk meningkatkan pendapatan masyarakat. Mudah-mudahan apa yang telah kita lakukan dapat terus berlangsung secara berkesinambungan.

115

Judul Kegiatan : Pengembangan Alat Pengolah bio etanol Jenis kegiatan : Pengembangan Integratif

RPPI : Pengembangan

Koordinator : Ir. Adang Sopandi, M.Sc

Satker Pelaksana : Pusat Litbang Hasil Hutan

Pelaksana Kegiatan : Djeni Hendra, M.Si, Prof. Dr. Gustan Pari, M.Si. Dr.Ina Winarni, S.Hut., M.Si., Heru Satrio Wibisono, S.Hut.

ABSTRAK

Saat ini pengembangan bahan bakar alternatif berbahan nabati sudah cukup banyak dilakukan baik di lembaga penelitian pemerintah, perguruan tinggi dan swasta. Salah satunya adalah bioetanol yang merupakan bahan bakar pencampur premium yang berasal dari minyak nabati berbagai macam tumbuhan. Dalam proses pembuatan bioetanol akan dihasilkan pupuk cair sebagai produk samping yang masih dapat dimanfaatkan dan mempunyai nilai ekonomi sebagai pengganti pupuk kimia. Tujuan kegiatan pengembangan ini adalah membuat alat/mesin produksi bioetanol. Sasaran kegiatan ini adalah tersedianya alat/mesin produksi etanol yang praktis, ekonomis dan efisien. Kegiatan pengembangan ini meliputi pembuatan alat produksi dan aplikasi pada bahan baku nira. Diharapkan dengan adanya alat ini dapat membantu mempercepat proses produksi dan dapat mengurangi biaya produksi dengan cara menggunakan pemanas dari kompos gas/kayu bakar.

Kata kunci : Alat/mesin, bioetanol, bahan bakar nabati, pengembangan.

1. LATAR BELAKANG

Bioetanol merupakan salah satu bahan bakar alternatif pengganti bahan bakar fosil seperti kerosine (minyak tanah), premium dan pertamax dengan rumus molekul adalah C2H5-OH, sehingga pemakaiannya akan menghemat devisa. Penelitian bioetanol sebagai pengganti minyak tanah pernah dilakukan pada tahun 2003. Merdjan dan Matione (2003) menyatakan bahwa bioetanol gel memiliki beberapa kelebihan dibanding bahan bakar alternatif lainnya yaitu selama pembakaran gel tidak berasap, tidak berjelaga, tidak mengemisi gas berbahaya, non karsinogenik dan non korosif. Bentuknya yang gel memudahkan dalam pengemasan dan dalam pendistribusian. Bioetanol gel

116

sangat cocok digunakan untuk memasak, dibawa pada saat berkemah dan lain-lain. Bioetanol dapat dihasilkan dari aren, tetes tebu, singkong, jagung, maupun sorghum, sehingga merupakan energi yang dapat diperbaharui. Selain itu gas buang dari mesin yang menggunakan bioetanol mempunyai emisi yang lebih rendah dibanding dengan minyak premium maupun pertamax. Pada umumnya mesin yang bisa memproses bahan bakar ethanol disebut Flex-Fuel dan mesin yang menggunakan bahan bakar minimal nilai octan 90 dapat juga dikonversi pemakaian bahan bakarnya dengan komposisi Premium 80%-90% (perkiraan nilai octan 88) ditambah etanol 10%-20% (dengan nilai octan 129) sehingga dapat menghasilkan nilai octan 91-93.

Saat ini di Indonesia telah dibangun beberapa pabrik bioetanol plant dengan kapasitas mulai dari 300 liter/hari dengan system batch sampai dengan 600 ton/hari dengan system kontinyu sebagai langkah awal untuk pengembangan selanjutnya ke skala komersial. Keputusan kebijakan untuk menentukan kelayakan penggunaan bioetanol secara umum perlu dilandasi suatu kajian yang mendalam dengan mempertimbangkan penguasaan teknologi, nilai ekonomis, kontinuitas suplai dan manfaat lain dari penggunaan bioetanol tersebut. Berdasarkan uraian tersebut, bioetanol merupakan energi alternatif yang layak untuk dikembangkan. Oleh karena itu, untuk mendukung ke-berhasilan produksi bioetanol diperlukan alat pengolah yang praktis, aplikatif guna menghasilkan remdemen bioetanol yang tinggi.

2. TUJUAN DAN SASARAN

Tujuan kegiatan pengembangan alat adalah membuat alat/mesin produksi bioetanol yang praktis, ekonomis dan efisien. Sasaran kegiatan adalah tersedianya alat/mesin produksi bioetanol.

3. METODE PENGEMBANGAN

117

1. Rancang bangun reaktor/tabung untuk proses pasteurisasi, yang menggunakan sumber panas dari kompor gas LPG atau atau bisa dengan kayu bakar dan dilengkapi dengan pengaduk yang meng-gunakan tenaga manual.

2. Rancang bangun reaktor/tabung untuk proses fermentasi yang dilengkapi dengan pengaduk dan termometer manual.

3. Rancang bangun reaktor/tabung dentilasi dengan dua kondensor untuk mendinginkan uap etanol menjadi cairan.

4. Pengerjaan pengelasan dan perakitan rangka meja reaktor untuk pemasakan (pasteurisasi), fermentasi dan reaktor untuk destilasi yang dilengkapi dengan dua alat pendingin (condensor).

5. Reaktor pasteurisasi : Pengerjaan pembentukkan plat stainless steell 304 menjadi bentuk tabung, tabung dengan ukuran Ø 380 mm, tinggi 650 mm.

6. Pengerjaan pengelasan tutup atas reaktor, pemasangan kran pada corong masuknya bahan baku, pemasangan kran untuk mengeluarkan bahan baku dan perakitan dudukan alat pengaduk manual untuk pengadukkan bahan baku.

7. Pembuatan dan pemasangan tungku dan cerobong asap direaktor 1 (satu) untuk pemanasan pasteurisasi.

8. Reaktor fermentasi : Pengerjaan pembentukkan plat stainless steell menjadi bentuk tabung, tabung dengan ukuran Ø 380 mm dan tinggi 650 mm.

9. Pengerjaan pengelasan tutup atas reaktor, pemasangan kran pada corong masuknya bahan baku, pemasangan kran untuk mengeluarkan bahan baku dan perakitan dudukan alat pengaduk manual untuk pengadukkan bahan baku.

10. Pengerjaan pembentukkan 2 plat stainless steell menjadi bentuk tabung dalam dengan ukuran Ø 380 mm, tinggi 650 mm dan tabung luar dengan

118

ukuran Ø 450 mm, tinggi 650 mm sesuai dengan gambar rancang bangun

11. Pembuatan, pengerjaan pengelasan dan perakitan 2 tabung pendingin uap etanol panas (condensor) yang dilengkapi dengan temperatur kontroler manual di tabung ke 1.

B. Uji coba alat pengolah bioetanol

1. Cairan nira aren segar sebanyak 50 liter, diukur pH dan kadar gula, kemudian di masukkan ke dalam reaktor pemasakan (Reaktor 1) melalui tempat pemasukan bahan cairan.

2. Reaktor dipanaskan dalam keadaan tertutup selama 10 menit pada suhu 60-700C, kemudian didinginkan kembali sampai suhu 280C.

3. Dilakukan pengaturan pH dengan penambahan larutan amonium hingga pH 5,5 sambil diaduk (jika diperlukan).

4. Cairan sebanyak 75% dimasukkan ke dalam reaktor fermentasi (reaktor 2), sedangkan sisanya (25%) ditambahkan ragi roti (Saccharomyces cerevisiae) dengan rasio 2 g/100 ml untuk 1 reaktor fermentor tergantung dari kadar gula niranya yaitu berkisar antara 1-3% (w/v), NPK 1% (w/v) dan Urea 0,5% (w/v).

5. Nira aren dalam Reaktor fermentor, difermentasi pada kondisi suhu 280C dan sambil dilakukan pengadukan setiap 6-8 jam sekali selama 2 menit.

6. Setelah 62-72 jam, nira aren disaring dan kemudian dipindahkan ke dalam reaktor destilasi (reaktor III) yang dilengkapi dengan dua alat pendingin (condensor).

7. Reaktor destilasi dipanaskan pada suhu 78-800C.

8. Destilat etanol yang dihasilkan diukur volume, data pH dan kadar etanol.

119

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

Alat pengolah bioetanol hasil rekayasa type P3HH-2 diuji coba pada nira aren. Nira aren yang diuji coba sebanyak 40 liter, diukur pH serta kadar gula. Berdasarkan hasil pengukuran, didapat data cairan nira awal yang tersaji pada Tabel 1.

Tabel 1. Data awal bahan baku nira aren

Data bahan baku nira aren

Volume pH Kadar Gula Kadar Alkohol

40 liter 6 15% 0%

Nira aren dengan pH 6,00 dan kadar gula 15% tersebut dipanaskan (pasteurisasi) pada suhu 600C. Pasteurisasi bertujuan membunuh organisme yang merugikan (bakteri, virus, protozoa dan lain-lain). Setelah mencapai suhu pasteurisasi, kemudian didinginkan sampai suhu 280C dan ditambahkan ragi roti (Saccharomyces cerevisiae) sebanyak 2% (b/v), NPK 1% (b/v) dan urea 0,5% (b/v), kemudian di fermentasikan selama 72 jam. Proses fermentasi dimaksudkan untuk mengkonversi glukosa (gula) menjadi etanol. Pada proses fermentasi ragi yang digunakan adalah Saccharomyces cerevisiae karena jenis ini dapat berproduksi tinggi, toleran terhadap alkohol yang cukup tinggi (12-18% v/v), tahan terhadap kadar gula yang tinggi dan tetap aktif melakukan fermentasi pada suhu 24-32oC.

Setelah proses fermentasi, tahapan selanjutnya dilakukan destilasi. Destilasi bertujuan memisahkan air dan etanol berdasarkan titik didihnya. Titik didih etanol murni adalah 78oC sedangkan titik didih air adalah 100oC. Dengan memanaskan larutan pada suhu rentang 78–100oC akan mengakibatkan sebagian besar etanol menguap. Dari hasil uji coba pembuatan bioetanol dengan reaktor hasil rekayasa, ternyata menunjukkan hasil kadar etanol yang beragam, berkisar

120

antara 75-96,5% , akan tetapi ada kenaikan kadar etanol tertinggi pada pengambilan sampel ke 1 yaitu 96,5%. Etanol mencapai kadar tertinggi tersebut diduga bahwa suhu pada pendingin 1 berada pada suhu optimum dimana etanol dapat terpisah dengan uap air secara maksimal. Pada pengambilan sampel terahir kadar bioetanol yang dihasilkan hanya sebesar 75%. Nilai ini mengindikasikan bahwa laju alir uap etanol ke kondensor 1 terpengaruh oleh suhu yang terlalu tinggi sehingga proses pemisahan etanol dengan uap air tidak berjalan optimal. Dapat diketahui bahwa kadar etanol 75% terdapat kandungan air yang terbawa oleh etanol pada saat proses pemisahan. Untuk mengatasi suhu laju alir uap etanol terlalu tinggi hal ini perlu segera diturunkan suhuya dengan cara menga-lirkan air ke kondensor 1 agar suhu pada kondensor 1 tersebut berada di-bawah suhu 900C, sehingga akan di peroleh kadar etanol yang maksimal.

Kadar bioetanol hasil uji coba belum mencapai standar untuk substitusi bahan bakar premium, akan tetapi dapat ditingkatkan kadarnya melalui proses dehidrasi. Prinsip proses dehidrasi tidak jauh berbeda dengan cara destilasi. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, secara umum kadar bioetanol mengalami kenaikan setelah dilakukan dehidrasi. Untuk bioetanol awal dengan kadar 80% setelah didehidrasi naik menjadi 90%. Selain itu, sampel dengan kadar etanol 96,5% jika di dehidrasi akan naik kadarnya menjadi 99,5%. Berdasarkan uraian tersebut, maka alat pengolah bioetanol type P3HH-2 memungkinkan untuk diaplikasikan dalam skala lebih besar.

5. KESIMPULAN DAN SARAN

Alat rekayasa pengolah bioetanol terdiri dari 3 reaktor. Reaktor 1 berfungsi sebagai alat pasteurisasi, reaktor 2 sebagai alat fermentasi, sedangkan reaktor 3 berfungsi sebagai alat destilasi.

Alat pengolah bioetanol type P3HH-2 telah diaplikasikan di Cirebon dengan bahan baku nira aren dan dapat menghasilkan bioetanol dengan kadar 80-90%. Dengan rendemen 17%.

121

Nira aren bersifat cepat berubah menjadi asam, sehingga setelah pemanenan perlu segera diproses (diolah) menjadi bioetanol.

Pengaturan suhu reaktor pada proses fermentasi, pastuerisasi dan destilasi memerlukan tingkat ketelitian dan kecermatan tinggi agar rendemen dan kadar bioetanol yang dihasilkan lebih baik.

122

Judul Kegiatan : Pengembangan penerapan teknologi

pelengkungan kayu untuk peningkatan nilai tambah dan efisiensi bahan baku

Jenis kegiatan : Pengembangan Integratif

RPPI : Pengembangan

Koordinator : Ir. Adang Sopandi, M.Sc

Satker Pelaksana : Pusat Litbang Hasil Hutan

Pelaksana Kegiatan : Abdurachman, ST, Karnita Yuniarti,S.Hut.M.Sc., Ph.D, Ir. Adang Sopandi, M.Sc.Mardiansah, S.E

Abstrak

Perkembangan disain mebel saat ini seringkali memerlukan bagian komponen lengkung seperti sandaran kursi, lengan kursi, kaki meja dan lain-lain untuk menambah nilai artistik dan nilai jual yang lebih tinggi. Oleh karena itu diperlukan teknologi untuk memproduksi mebel yang memiliki komponen lengkung sesuai dengan pesanan konsumen. Teknologi pelengkungan kayu atau 'wood bending' saat ini sudah mulai berkembang dan semakin banyak diminati oleh produsen furniture kayu. Selain karena hasilnya yang secara visual lebih baik daripada kayu hasil potongan melengkung. Teknologi ini relatif mudah dilakukan,hanya saja perlu investasi mesin kempa dan 'mould' nya yang tergolong cukup besar.Pelengkungan kayu atau ‘wood bending’ adalah proses melengkungkan kayu secara mekanis menggunakan teknologi yang tidak rumit sehingga mudah difahami oleh masyarakat pengguna terutama pengrajin mebel kayu. Banyak teknologi pelengkungan kayu yang dapat diterapkan pada industri mebel, namun harus mempertimbangkan biaya produk yang relative terjangkau. Tujuan dari kegiatan ini antara lain memberikan informasi ilmiah tentang metode pembuatan komponen mebel kayu berstruktur lengkung untuk meningkatkan nilai tambah bagi pengrajin atau industri mebel kayu dengan cara pengukusan (steam). Pada kegiatan ini akan diberikan metoda atau cara melengkungkan kayu dengan cara pengukusan berikut perangkat yang menyertainya mulai dari pembuatan kotak pengukus (steam box), mal lengkung, bending strap dan cara pemakaiannya.

123

Dokumen terkait