C. Hasil Magang
1. Aplikasi Metode Ovitrap
Salah satu metode pengendalian nyamuk Ae. aegypti yaitu dengan menggunakan ovitrap. Ovitrap merupakan salah satu alat survei nyamuk yang dilakukan dengan cara memasang ovitrap di dalam dan di luar rumah yang di survei (Depkes RI, 2005). Alat ini berupa container terbuat dari bahan kaleng, plastik, gelas, ataupun bambu yang diisi air, diletakkan pada tempat-tempat tertentu. Alat ini digunakan untuk mendeteksi adanya nyamuk Aedes dan juga untuk pemberantasan larvanya (Kemenkes RI, 2010). Ovitrap
diletakkan di tempat yang gelap dan lembab. Setelah satu minggu dilakukan pemeriksaan ada atau tidaknya nyamuk dalam padel (Depkes RI, 2005).
Aplikasi ovitrap B2P2VRP Salatiga lebih kepada fungsi pengukuran populasi nyamuk di masyarakat dengan menjebak telur nyamuk. Menurut Tanjung (2011) oleh karena fungsinya, ovitrap dapat sangat membantu dalam upaya pengendalian vektor demam berdarah. Ovitrap sering digunakan ketika evaluasi program fogging di wilayah Salatiga. Ovitrap dipasang di dalam dan di luar rumah, hal ini dilakukan agar pengukuran populasi nyamuk lebih valid. Menurut Utomo dkk, (2005) kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) yang dijalankan pengendalian nyamuk Aedes di masyarakat, menimbulkan nyamuk ini kehilangan banyak tempat perindukan di dalam rumah, dan mencari tempat lain di luar rumah. Penelitian ini membuktikan bahwa ovitrap yang dipasang di luar rumah menghasilkan kepadatan telur Aedes yang tinggi. Oleh karena itu hasil survei lebih optimal apabila ovitrap dipasang di dalam dan di luar rumah.
Perilaku/bionomik nyamuk biasanya dijadikan sebagai dasar pengendalian yang tepat. Tempat perkembangbiakkan utama nyamuk Aedes sp. adalah tempat-tempat penampungan air/kontainer di dalam atau di sekitar rumah atau tempat-tempat umum, biasanya berjarak kurang 500 meter dari rumah, berupa genangan air yang tertampung di suatu tempat atau bejana (kontainer) dan bukan genangan air yang langsung berhubungan dengan tanah (Soegijanto, 2004). Nyamuk Aedes lebih tertarik untuk meletakkan telurnya
pada TPA berair yang berwarna gelap, paling menyukai warna hitam, terbuka lebar, dan terutama yang terletak di tempat-tempat terlindung sinar matahari langsung (Purnamasari dkk, 2011). Oleh karenanya, ovitrap dibuat mirip dengan perindukan aslinya yaitu kontainer yang berasal dari barang bekas seperti kaleng/ gelas plastik yang berisi air bersih didalamnya biasanya berwarna gelap.
Menurut Kemenkes RI, 2011 Nyamuk Ae. aegypti betina mempunyai kebiasaan mengisap darah. Darah diperlukan untuk pematangan sel telur, agar dapat menetas. Waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan perkembangan telur mulai dari nyamuk mengisap darah sampai telur dikeluarkan, waktunya bervariasi antara 3-4 hari. Jangka waktu tersebut disebut dengan siklus gonotropik. Nyamuk ini beristirahat pada tempat yang gelap dan lembab di dalam atau di luar rumah, berdekatan dengan habitat perkembangbiakannya. Oleh karena itu, agar mendapatkan hasil telur yang optimal, pemasangan ovitrap sebaiknya mengikuti kebiasaan vektor. Hal inilah yang menjadikan ovitrap dipasang di dalam dan di luar rumah dengan jarak kurang dari 500 m serta pada tempat yang gelap dan lembab diduga habitat nyamuk.
Ovitrap yang pernah dikembangkan di B2P2VRP adalah ovitrap standar dan lethal ovitrap. Ovitrap standar berupa gelas plastik 350 mililiter, tinggi 91 milimeter dan diameter 75 milimeter dicat hitam bagian luarnya, diisi air tiga per empat bagian, dan diberi lapisan kertas, bilah kayu, atau bambu sebagai tempat bertelur (ovistrip) (Polson et al, 2002). Pada
pelaksanannya yang biasa dipakai adalah ovitrap standar yang terbuat dari gelas plastik/kaca yang diwarnai hitam yang dilapisi kertas saring dibagian dalamnya kemudian diisi air hingga ¾ bagian gelas. Pengendalian dengan menggunakan ovitrap juga pernah dilakukan di B2P2VRP salah satunya saat pelaksanaan penelitian mengenai model pengendalian terpadu vektor demam berdarah dengue di kota Salatiga. Ovitrap digunakan untuk mengukur kepadatan nyamuk sebelum dan sesudah pengendalian. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan ovitrap indeks dari 14,49% turun menjadi 8,88% (Darwin dkk, 2013).
Sesekali air ovitrap dimodifikasi dengan atraktan berupa air rendaman jerami. Berdasarkan uji laboratorium air jerami memamg lebih disukai oleh nyamuk Ae. aegypti untuk bertelur. Hasil penelitian membuktikan bahwa jumlah telur yang terperangkap pada air rendaman jerami paling banyak (669,1 butir), dibandingkan kontrol positif (+) 314,1 butir; air hujan 297,3 butir; dan air ragi tape 114,4 butir (Bugis, 2013). Oleh karena itu, B2P2VRP menambahkan atraktan berupa air rendaman jerami 10%.
Jenis ovitrap yang lain adalah lethal ovitrap. Lethal ovitrap (LO) adalah varian nama untuk ovitrap hasil modifikasi yang dapat membunuh nyamuk Aedes. Lethal ovitrap di buat untuk membunuh nyamuk, dikarenakan nyamuk yang akan bertelur bersentuhan dengan ovistrip (Oviposition trip) yang mengandung insektisida dan dalam waktu relatif singkat akan mati (Sayono, 2008). Aplikasi dengan menggunakan insektisida tidak dianjurkan
untuk pengendalian di B2P2VRP. Hal ini dikarenakan insektisida dapat menimbulkan resistensi pada vektor yang bersangkutan. Beberapa penelitian juga telah melaporkan resistensi Ae. aegypti terhadap beberapa insektisida seperti organofosfat, malathion, Allethrin, Permethrin, dan Cypermethrin
(Astari, 2005). Aplikasi lethal ovitrap dengan insektisida hanya dilakukan apabila terdapat penelitian yang mengenai lethal ovitrap. Bilamana lethal ovitrap diaplikasikan pada lingkungan masyarakat, maka insektisida yang digunakan harus disesuaikan dengan kondisi daerah sasaran. Terkait dengan insektisida yang sudah resisten di daerah sasaran sebaiknya dihindari dan tidak digunakan untuk program pengendalian vektor Ae. aegypti.
Sebagai alat survei telur nyamuk Ae. aegypti, ovitrap memiliki beberapa keuggulan dan kekurangan dalam penggunaannya. Ovitrap juga berfungsi dalam pengendalian yaitu memutus siklus hidup vektor. Telur yang terjebakdalam ovitrap juga bisa langsung dibuang sehingga telur Ae. aegypti
mati dan tidak dapat berkembang menjadi larva maupun nyamuk. Pernyataan tersebut sesuai dengan hasil penelitian Tanjung (2011), bahwa ovitrap efektif dalam mengurangi jumlah vektor DBD karena telur atau larva dapat sangat mudah ditemukan dan dibuang, sehingga sangat membantu dalam program pengendalian DBD. Ovitrap merupakan alat yang murah dan sederhana, karena komponennya dapat dibuat sendiri dengan menggunakan barang bekas yang mudah ditemukan di setiap rumah, seperti kaleng bekas, kepingan bambu atau kayu dan air. Selain itu, ovitrap mudah, baik dalam pembersihan
maupun perawatan. Perawatan hanya dengan mengganti airnya setiap minggu dan menyikat bagian dalam bejananya. Perlakuan ini sama dengan prinsip menguras bak mandi (3M), hanya dilakukan pada wadah yang lebih kecil. Kelebihan lain menurut Puspitasari dkk (2012), survei telur dengan menggunakan ovitrap dapat menghasilkan data yang lebih spesifik, lebih ekonomis, dan sensitif untuk pengambilan sampel populasi dengan area yang lebih luas (Puspitasari dkk, 2012).
Hasil wawancara yang didapatkan menyatakan bahwa kekurangan ovitrap bisa menjadi tempat perindukan tambahan apabila telur tidak segera dibuang sehingga dalam pemakaiannya ovitrap harus selalu diperhatikan. Selain itu, menurut Mackay et al, (2013) keberadaan ovitrap bersaing dengan kontainer yang ada habitat di lingkungan. Oleh karena itu, sebaiknya ovitrap sebaiknya dibuat menarik agar bisa menjebak nyamuk Ae. aegypti .
Salah satu yang bisa dilakukan untuk membuat ovitrap lebih menarik adalah dengan penambahan atraktan. Menurut Sayono (2008), atraktan adalah sesuatu yang memiliki daya tarik terhadap serangga (nyamuk) baik secara kimiawi maupun visual (fisik). Kelebihan dari penambahan atraktan adalah dapat mempengaruhi perilaku, memonitor atau menurunkan populasi nyamuk secara langsung, tanpa menyebabkan cedera bagi binatang lain dan manusia, dan tidak meninggalkan residu pada makanan atau bahan pangan (Setya dan Eri, 2011).