28 A. Analisis Situasi Umum B2P2VRP Salatiga
1. Lokasi
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit (B2P2VRP) Salatiga terletak di Jalan Hasanudin No. 123 PO BOX 200, dibangun di atas tanah seluas 2,75 Ha.
2. Sejarah B2P2VRP
Pada tahun 1976 didirikan dengan nama Unit Penelitian Biologi dan Pemberantasan Vektor, merupakan kerjasama Balitbangkes dengan VBCRU/WHO. Pada tahun 1984 berubah menjadi UPT Balitbangkes di Balai Latihan Kesehatan (BLK) Ungaran. Pada tahun 1987 berubah nama menjadi Stasiun Penelitian Vektor Penyakit (SPVP). Pada tahun 1999 berubah nama menjadi Balai Penelitian Vektor dan Reservoir Penyakit (BPVRP). Akhirnya pada tahun 2005 balai ini dinamakan dengan Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit (B2P2VRP).
3. Visi
Menjadi institusi rujukan penelitian dan pengembangan penanggulangan penyakit tular vektor dan reservoir, termasuk penyakit baru dan yang akan timbul kembali.
4. Misi
B2P2VRP memiliki beberapa misi dalam mencapai Visi utama diantaranya sebagai berikut:
a. Menjamin mutu penelitian dan pengembangan dalam menghasilkan produk (model/metode/prototype/formula/standar) untuk pengendalian penyakit tular vektor dan reservoir dengan memanfaatkan IPTEK
dan reservoir yang rasional, efektif dan efisien, berkesinambungan serta diterima masyarakat
c. Meningkatkan kajian, evaluasi dan diseminasi informasi hasil penelitian dan pengembangan di bidang pengendalian dan pemberantasan penyakit tular vektor dan reservoir
d. Menciptakan lingkungan kerja yang kondusif bagi peneliti dan pengguna agar dapat berkarya secara professional.
5. Tupoksi
Tugas pokok B2P2VRP adalah melaksanakan perencanaan, koordinasi, pelaksanaan, dan evaluasi penelitian dan pengembangan dalam penanggulangan penyakit tular vektor dan reservoir penyakit baik yang baru muncul maupun yang akan timbul kembali.
Adapun fungsi B2P2VRP adalah sebagai berikut :
1) Perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi penelitian vektor dan reservoir penyakit
2) Perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pengembangan metoda dan model pengendalian vektor dan reservoir penyakit.
3) Perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pelatihan teknis pengendalian vektor dan reservoir penyakit.
4) Perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi kajian dan pengembangan teknologi pengendalian vektor dan reservoir penyakit.
5) Perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pelayanan laboratorium entomologi kesehatan rujukan.
7) Perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pengembangan jejaring kerjasama dan kemitraan di bidang pengendalian vektor dan reservoir penyakit. 8) Perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi kajian dan diseminasi informasi
hasil-hasil penelitian di bidang pengendalian vektor dan reservoir penyakit 9) Pelaksanaan ketatausahaan dan kerumahtanggaan balai besar.
6. Struktur Organisasi
Gambar 4.1 Struktur Organisasi B2P2VRP Salatiga 7. Sarana dan Prasarana
a. Fasilitas Umum
1) Gedung Administrasi (struktural, staf dan peneliti) 2) Laboratorium pelatihan
3) Aula 4) Asrama
Kepala
Dr. Vivi Lisdawati, M.Si, A.Pt
Ka. Bagian Tata Usaha M. Choirul Hidajat, SKM, M.Kes
Ka. Subbagian Umum Akhid Darwin, SKM, M.Sc
Ka. Subbagian Keuangan Maria Agustini, SKM, MPH
Ka. Bidang Pelayanan Penelitian Drs. Ristiyanto, M.Kes Ka. Bidang Kerjasama dan Jaringan Informasi
dr. Bagus Febrianto, M.Sc
Ka. Subbidang Sarana Penelitian dan Pengujian
Farida Handayani, S.Si, MS Ka. Subbidang
Pelayanan Teknis Lulus Susanti, SKM, MPH Ka. Subbidang Jaringan
Informasi dan Perpustakaan Dra. Suskamdani, M.Kes Ka. Subbidang
Program dan Evaluasi Siti Alfiah, SKM,
M.Sc
Kelompok Jabatan Fungsional Laboratorium (11 lab)
5) Mushola 6) Perpustakaan
7) Etalase Tanaman Insektisida b. Laboratorium
8. Kegiatan
a. Kegiatan penelitian
b. Kegiatan pelatihan dan magang c. Penyebarluasan hasil
d. Kerjasama dan Pengembangan jaringan Litbangkes e. Abstrak penelitian B2P2VRP
9. Kemampuan
Dalam melakukan fungsinya B2P2VRP didukung oleh: a. Sumber Daya Manusia (SDM)
Sumber daya manusia yang ada terdiri dari disiplin ilmu yang beragam diantaranya ahli Entomologi Kesehatan, Ilmu Sosial, Biologi, Kesehatan Masyarakat, Dokter Umum, Kesehatan Lingkungan, Komputer, Perpustakaan, dan Teknisi Laboratorium.
b. Laboratorium
1) Laboratorium Biologi Molekuler dan Imunologi 2) Laboratorium Parasitologi
5) Laboratorium Pengendalian Hayati 6) Laboratorium Hewan Uji
7) Laboratorium Pestisida Botani 8) Laboratorium Epidemiologi dan GIS 9) Laboratorium Pengujian Insektisida
10)Laboratorium Promosi Kesehatan dan Perilaku 11)Laboratorium Referensi, Koleksi dan DUVER 12)Laboratorium Insektarium Koloni Nyamuk 13)Laboratorium Insektarium Lalat
14)Laboratorium Insektarium Lipas c. Perpustakaan dan Jaringan Informasi
1) Mengkoordinasi jaringan informasi
2) Sirkulasi buku teks, majalah, jurnal, bulletin, dll 3) Katalogisasi
4) Bank data dan database line penelitian B2P2VRP 5) Publikasi (news letter).
d. Fasilitas Pendukung
1) Spesimen nyamuk, larva, parasit malaria, tikus dan ektoparasitnya yang tersertifikasi
2) Mikroskop dissecting, compound dan teaching
4) Koloni nyamuk, lalat, lipas dan pinjal untuk uji susceptibility dan
bioassay
5) Peralatan: OHP, LCD Proyektor dan slight projector
6) Perangkat lunak dan keras SIG (Sistem Informasi Geografis) 7) Asrama dan alat transportasi dan ruang PPPK.
10. Kemitraan
a) Nasional: Sektor Kesehatan Pemerintah Daerah, institusi pendidikan, Komisi Pestisida (KOMPES), Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) b) Regional: ASEAN Exchange Information
c) Internasional: WHO-CC (World Health Organization-Collaborating Centres), CVC, ICDC (International Centers of Deases Control and Prevention).
B. Hasil Kegiatan Kunjungan Laboratorium 1. Insektarium koloni nyamuk
Kegiatan pada laboratorium ini yaitu pemeliharaan dan pengembangbiakkan berbagai spesies nyamuk yang termasuk dalam genus
Anophelinae dan Culicinae, seperti An. maculatus, An. aconitus, An. sinensis,
karena merupakan satu-satunya tempat yang dapat melakukan kolonisasi Anopheles.
Kegiatan rutin pada laboratorium ini adalah rearing (pemeliharaan) berbagai nyamuk meliputi pengambilan pupa pada tray, pemberian makanan pupa, pencatatan pupa yang diperoleh, temperatur minimal dan maksimal, kelembaban, serta membersihkan tray dari larva yang mati/ kotoran lainnya. Laboratorium ini diharapkan dapat menghasilkan nyamuk dengan usia yang sama, sesuai syarat penelitian. Misalnya, untuk pengujian larvasida diperlukan larva usia 3-4 hari sebanyak 25 ekor untuk satu kali ulangan. Larva yang digunakan untuk pengujian adalah larva instar II dan III. Menurut kemenkes RI (2011), instar II mempunyai ciri-ciri panjang 2,5-3,8 mm sedangkan Instar III lebih besar sedikit dari larva instar II.
Koloni nyamuk di laboratorium dari beberapa daerah yang spesifik antar spesies. Diantaranya adalah kebumen (An. maculatus), Kulonprogo (An. maculatus), Kendal (An. aconitus), Pulau Nias (An. sinensis), Ae. aegypti , dan Pekalongan (Cx. quinquefasciatus). Masing-masing nyamuk tersebut diambil dari daerah yang bebas kasus penyakit akibat vektor nyamuk yang bersangkutan sehingga nyamuk yang dipelihara adalah nyamuk yang steril, sehingga aman untuk dipelihara.
kelembaban, pecahayaan, ketersediaan makanan dan perlakuan dalam kandang. Namun yang paling penting dalam pemeliharaan adalah suhu dan kelembaban. Suhu optimal adalah suhu ruang sekitar 27oC, kecuali genus Aedes suhu 20 – 40oC, dan kelembaban 60-80%. Menurut Munif dan Imron (2010), rata-rata suhu optimum untuk pertumbuhan nyamuk adalah 25oC -27oC. Pertumbuhan akan berhenti sama sekali bila suhu kurang dari 10oC atau lebih dari 40oC dan suhu udara optimum bagi kehidupan nyamuk berkisar antara 25oC-30oC. Kelembaban udara juga mempengaruhi umur nyamuk. Pada kelembaban udara < 60% umur nyamuk akan menjadi pendek, nyamuk akan cepat payah, kering dan cepat mati (Munif dan Imron, 2010).
Pemeliharaan nyamuk termasuk perlakuan terhadap berbagai fase dan pemberian makan untuk larva dan nyamuk dewasa. Pakan untuk larva Aedes dan Culex dapat berupa dog food karena kedua genus ini senang makan di dasar, sedangkan untuk larva Anopheles berupa daging, dog food, dan yeast
yang dihaluskan. Perbandingan ketiga bahan tersebut syaitu 3:5:10. Misalnya, pakan dibuat dari 3 gram daging, 5 gram yeast, dan 10 gram dog food. Prosesnya meliputi penghalusan daging, kemudian dibakar, dihaluskan lagi, kemudian dicampur dengan yeast dan dog food yang juga dihaluskan. Pakan untuk nyamuk dewasa yaitu darah yang berasal dari marmut yang dimasukkan dalam kandang (untuk nyamuk betina) dan larutan gula.
dalam pemeliharaannya. Larva An. maculatus dipelihara tanpa bantuan cahaya lampu karena mempunyai habitat asli daerah pegunungan yang sejuk, sedangkan larva Ae. aegypti dan An. aconitus perlu bantuan cahaya lampu karena habitat aslinya bersifat hangat.
a. Pemeliharaan Koloni Nyamuk 1) Alat dan bahan
a) Kandang nyamuk ukuran 45 x 45 x 45 cm b) Rak bebas semut
c) Mangkok enamel diameter 11 cm untuk Aedes d) Mangkok gerabah untuk Anopheles dan Culex e) Kurungan kawat
f) Handuk g) Aspirator
h) Thermometer
i) Nyamuk seperti An. maculatus, An. aconitus, An. sinensis, Ae. aegypti dan Cx. quinquefasciatus , masing-masing jantan dan betina
j) Marmut k) Air sumur
l) Larutan gula 10% m) Kapas
2) Cara Kerja
a) Pemeliharaan Koloni Nyamuk Cx. quinquefasciatus
Tujuan : Memelihara koloni Nyamuk Cx. quinquefasciatus
(1) Kandang nyamuk disiapkan di atas rak bebas semut.
(2) Pupa Cx. quinquefasciatus yang telah dipisahkan dari larva dimasukkan ke dalam kandang.
(3) Diberikan larutan gula 10% (perbandingan gula pasir dan air adalah 1:10)
(4) Larutan gula diganti setiap 3 hari.
(5) Untuk nyamuk betina diberi darah marmut (marmut dimasukkan dalam kurungan kawat lalu dimasukkan dalam kandang nyamuk) setiap hari.
(6) Tempat teluran nyamuk (mangkok enamel, dua per tiga bagian diisi air dan bagian atas dilapisi dengan kertas saring) dimasukkan setiap hari, apabila ada telurnya kertas saring diambil dan disimpan.
(7) Di atas kandang nyamuk diberi handuk basah untuk menjaga kelembaban ideal antara 60-80%.
(8) Kandang nyamuk dibersihkan setiap hari.
Tujuan : Menyediakan nyamuk dalam jumlah yang cukup untuk studi biologi nyamuk (longevity study, kerentanan infeksi terhadap parasit malaria, kebiasaan makan, dan sebagainya) serta pelatihan ; Memperoleh populasi nyamuk dengan fisiologi dan umur yang setara untuk berbagai penelitian, seperti penelitian efek insektisida dalam berbagai kondisi.
(1) Kandang nyamuk disiapkan di atas rak bebas semut. Kendi diletakkan dan ditutup semua lubangnya dengan kain kasa agar nyamuk tidak masuk dan bertelur di dalam. Kendi dalam kandang tersebut berfungsi sebagai tempat istirahat nyamuk. (2) Nyamuk jantan dan betina dimasukkan dengan perbandingan
1:2 dalam kandang nyamuk
(3) Larutan gula 3-10% dalam erlenmeyer 100 ml diberikan minimal sebanyak 60 ml dengan gulungan kapas. Larutan glukosa tersebut diganti setiap 3 hari sekali.
(4) Marmut dimasukkan dalam kandang nyamuk
(5) Gerabah dimasukkan dalam kandang nyamuk yang diisi air tanah sebanyak ½ dari tinggi gerabah sebagai tempat bertelur nyamuk. Tempat teluran diperiksa setiap hari, apabila terdapat telur dipindah untuk ditetaskan.
menggunakan humidifier dan suhu lingkungan dijaga antara 25-280C.
(7) Kandang nyamuk dibersihkan setiap hari, serta nyamuk yang mati diambil menggunakan aspirator. Kandang nyamuk dicuci dan diganti kain kasanya setiap 1 bulan sekali.
c) Pemeliharaan Koloni Nyamuk Ae. aegypti
Tujuan: Memelihara koloni nyamuk Ae. aegypti
(1) Kandang nyamuk disiapkan di atas rak bebas semut.
(2) Pupa yang telah dipisahkan dari larva dimasukkan ke dalam kandang.
(3) Diberikan larutan gula 10% (perbandingan gula pasir dan air adalah 1:10).
(4) Larutan gula diganti setiap 3 hari.
(5) Nyamuk betina diberi darah marmut (marmut dimasukkan dalam kurungan kawat lalu masukkan dalam kandang nyamuk) setiap hari.
(6) Tempat teluran nyamuk (mangkok enamel, du per tiga bagian diisi air dan bagian atas dilapisi dengan kertas saring) dimasukkan setiap hari, apabila ada telurnya kertas saring diambil dan disimpan.
(8) Kandang nyamuk dibersihkan setiap hari. b. Pemeliharaan Larva dan Pupa Nyamuk
1) Alat dan bahan
a) Tray plastik berukuran 35 x 35 x 25 cm b) Pipet
c) Mangkok enamel diameter 11 cm d) Kipas angin
e) Bohlam 15 watt
f) Telur nyamuk An. maculatus, An. aconitus, An. sinensis, Ae. aegypti
dan Cx. quinquefasciatus. Masing- masing ditempatkan pada tray
berbeda.
g) Air bebas chlorine
h) Dog food untuk Aedes dan Culex i) Campuran untuk anopheles
j)Kertas saring ukuran 16 x 4 cm 2) Cara Kerja
a) Pemeliharaan larva dan pupa Cx. quinquefasciatus
Tujuan: Memelihara larva dan pupa Cx. quinquefasciatus
(1) Tray disiapkan di rak pemeliharaan larva. (2) Tray diisi dengan air sebanyak 2 liter.
(5) Larva yang telah menetas dipindahkan ke dalam tray
pemeliharaan sebanyak 400-600 larva. (6) Diberi makan 1 butir dog food setiap hari
(7) Tray dibersihkan setiap hari dari kotoran atau sisa makanan dan larva mati.
(8) Air ditambahkan apabila terjadi penyusutan atau penguapan. (9) Larva yang telah berubah menjadi pupa, diambil dengan
menggunakan pipet dan dimasukkan dalam mangkok enamel. (10)Mangkok enamel dilapisi dengan kertas saring dan dimasukkan
dalam kandang nyamuk.
(11)Kipas angin disediakan untuk menimbulkan aerasi pada pemeliharaan larva.
(12)Ditambah lampu bohlam 15 watt untuk menjaga temperatur dan kelembaban ruangan.
b) Pemeliharaan Larva dan Pupa An. maculatus, An. aconitus, An. sinensis, dan An. barbirostris (masing-masing pemeliharaan terpisah)
Tujuan : Memelihara larva dan pupa An. maculatus, An. aconitus,
An. sinensis,dan An. barbirostris.
(4) Label nama spesies dan tanggal penetasan telur ditulis.
(5) Larva yang telah menetas dipindahkan ke dalam tray
pemeliharaan sebanyak 400-600 larva. (6) Diberi makan 1 butir dog food setiap hari
(7) Tray dibersihkan setiap hari dari kotoran atau sisa makanan dan larva mati.
(8) Air ditambahkan apabila terjadi penyusutan atau penguapan. (9) Larva yang telah berubah menjadi pupa, diambil dengan
menggunakan pipet dan dimasukkan dalam mangkok enamel. (10)Mangkok enamel dilapisi dengan kertas saring dan dimasukkan
dalam kandang nyamuk.
(11)Kipas angin disediakan untuk menimbulkan aerasi pada pemeliharaan larva.
(12)Ditambah lampu bohlam 15 watt untuk menjaga temperatur dan kelembaban ruangan.
c) Pemeliharaan larva dan Pupa Aedes aegypti
Tujuan: Memelihara koloni nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus
(1) Tray disiapkan di rak pemeliharaan larva. (2) Tray diisi dengan air sebanyak 2 liter. (3) Telur dimasukkanke dalam tray penetasan.
(5) Larva yang telah menetas dipindahkan ke dalam tray
pemeliharaan sebanyak 400-600 larva. (6) Diberi makan 1 butir dog food setiap hari.
(7) Tray dibersihkan setiap hari dari kotoran atau sisa makanan dan larva mati.
(8) Ditambahkan air apabila terjadi penyusutan atau penguapan. (9) Larva yang telah berubah menjadi pupa diambil dengan
menggunakan pipet dan dimasukkan dalam mangkok enamel. (10)Mangkok enamel dilapisi dengan kertas saring dan dimasukkan
dalam kandang nyamuk.
(11)Diberi kipas angin yang berfungsi menimbulkan aerasi pada pemeliharaan larva.
(12)Ditambah lampu bohlam 15 watt untuk menjaga temperatur dan kelembaban ruangan.
c. Hasil pemeliharaan nyamuk
Tabel 4.1. Hasil pengambilan pupa di insektarium koloni nyamuk
Tanggal
Jumlah Pupa
An. maculatus An.
aconitus An.
sinensis Ae.
aegypti
Cx.
quinque-fasciatus
KBM KLP
5-8-14 918 440 355 72 254 -
6-8-14 782 397 370 84 122 -
7-8-14 486 369 253 84 136 -
8-8-14 334 306 241 56 - -
11-8-14 1131 1190 528 24 - -
13-8-14 882 737 578 4 - -
14-8-14 600 857 579 3 - -
15-8-14 683 842 426 1 - 156
(Sumber : Data primer diolah, 2014)
2. Laboratorium Insektisida
Laboratorium ini disebut juga lab. Uji Kaji yang berfungsi melakukan pengujian insektisida terhadap berbagai serangga dalam rangka pengendalian vektor. Terdapat dua ruangan pada laboratorium ini yaitu ruang uji kaji insektisida rumah tangga dan ruang uji kaji insektisida program. Insektisida rumah tangga merupakan insektisida yang digunakan untuk pengendalian vektor pada lingkungan rumah tangga yang terdiri dari berbagai bentuk. Adapun jenis insektisida yang diuji yaitu obat nyamuk bakar, mat,
aerosol, repelen, oil liquid, dan liquid vaporide.
Serangga yang diuji yaitu nyamuk, lalat, dan lipas. Alat yang digunakan untuk pengujian yaitu peet grady chamber, Glass chamber, Glass cylinder, dan kandang uji repelen. Laboratorium uji kaji juga bisa digunakan untuk uji susceptibility yang berfungsi menentukan sstatus resisten serangga terhadap insektisida yang sedang atau akan digunakan dalam program pengendalian vektor.
a. Pegujian Obat nyamuk bakar 1) Alat dan bahan
c) Kain kasa 6 buah d) Karet 6 buah e) Aspirator 1 buah f) Kapas
g) Lalat sebanyak 20 x 6 = 120 ekor h) Air gula
2) Cara kerja
a) Obat nyamuk bakar ditimbang sebanyak 0,5 gram kemudian dipasang pada penjepit dan dibakar pada kedua ujungnya
b) Obat nyamuk dan kipas dimasukkan ke dalam glass chamber
biarkan terbakar hingga menjadi abu, catat waktu pembakaran c) Semua alat yang berada di glass chamber dikeluarkan
d) Lalat dimasukkan ke dalam glass chamber, dibiarkan selama 20 menit
e) Knockdown yang terjadi diamati dan dicatat pada form pengujian f) Selanjutnya lalat dikeluarkan dan diholding pada cup plastik yang
diberi kapas dan air gula selama 24 jam g) Percobaan dilakukan sebanyak 3 kali ulangan
3) Hasil
Tanggal percobaan : 18 Agustus 2014 Sampel : Obat antinyamuk bakar Serangga : Lalat
Waktu pembakaran : 9’16” ; 12’19” dan 15’23” Temperatur : 24oC
Kelembaban : 63%
Bahan aktif : Transflutrin 0,03 %
Tabel 4.2. Hasil uji Glass chamber untuk menguji anti nyamuk bakar
Waktu (menit) Knockdown (Pengulangan) Total
1 2 3
0,30 1 1 8 10
1,00 1 - - 1
2,00 - - 3 3
3,00 - - - -
4,00 - 1 - 1
5,00 - 1 - 1
6,00 1 - 1 2
7,00 - - 1 1
8,00 5 2 - 7
10,00 4 5 4 13
15,00 2 7 1 10
20,00 5 1 - 6
Total nyamuk mati 20 18 18 56
b. Pengujian obat nyamuk cair (oil liquid) dengan metode Glass cylinder
Metode Glass cylinder digunakan untuk menguji lipas/kecoak. Insektisida yang digunakan hanya yang berbentuk cair (konvensional dan aerosol).
1) Alat dan Bahan
a) Glass cylinder D= 20 cm, Tinggi 45 cm (besar) b) Glass cylinder D= 14 cm, Tinggi 15 cm (kecil) c) Kepingan kaca 25 x 25 cm
d) Alat semprot e) 2 Cup plastik f) Stopwatch
g) Timbangan h) Karet i) Kain kassa j) Label
k) 10 ekor lipas Periplaneta americana
l) Obat anti nyamuk cair (oil liquid)
m) Margarin 2) Cara Kerja
a) Siapkan alat dan bahan yang diperlukan
c) 10 ekor lipas dimasukkan ke dalam gelas silinder kecil yang telah diolesi dengan margarin, biarkan lipas beradaptasi
d) Alat semprot yang berisi insekrtisida cair ditimbang kemudian dicatat hasilnya
e) Insektisida disemprotkan dengan tekanan maksimal sebanyak 10 x pada draft room, setelah itu ditimbang dan dicatat hasilnya. Dilakukan sebanyak 3x ulangan. Hasil setiap penimbangan dihitung hinggga mendapatkan dosis semprotan yang akan digunakan.
Perhitungan : Penimbangan 1 = T1
Penimbangan 2 = T2 T1- T2 = a Penimbangan 3 = T3 T2- T3 = b Penimbangan 4 = T4 T3- T4 = c Syarat: ∆ a –b dan ∆ b –c ≥ 0,2
Rumus: E = a + b + c 3x10 Dosis = 6 g
E
= ……. x semprotan
Ket: 6 g adalah standar berat lipas Periplaneta americana
g) Dengan hati-hati Glass cylinder besar dimiringkan hingga membentuk sudut 45o dan kepingan kaca digeser hingga terbuka sebagian. Obat nyamuk disemprotkan sesuai dengan hasil perhitungan.
h) Diamati selama 20 menit dan dihitung/dicatan lipas yang pingsan/mati pada form yang telah disediakan.
i) Semua lipas dipindahkan ke dalam cup plastik, kemudian diberi pelet dan kapas yang telah dicelupkan pada air gula. Diholding selama 24 jam.
j) Setelah diholding hitung jumlah lipas yang pingsan/mati dan tentukan persentase lipas yang mati dengan mnggunakan rumus ‘persentase kematian’.
3) Hasil
Tanggal : 21 Agustus 2014 Sampel : Obata antinyamuk cair Serangga : Lipas Peiplaneta Americana
Kelembaban : 67 % Temperatur : 24oC
Bahan aktif : Praletrin 0,2886 g/L dan sifenotrin 0, 5778 g/L Tabel 4.3. Hasil uji Glass cylinder untuk menguji anti nyamuk cair
Sampel Dosis 30” 1,15” Knockdown (menit) H P M
2 2,30” 3 3,30” 5 7 10 15 20
Lipas 6x - - - 2 2 3 - 8 1 1
c. Uji Repellent
Uji repelen adalah pengujian yang bertujuan untuk melihat efektivitas repelen yang digunakan dalam pengendalian vektor.
1) Alat dan bahan
a) Kandang uji repelen b) 50 nyamuk betina c) Repelen
d) Stopwatch
e) Alat tulis 2) Cara kerja
a) Pastikan kandang uji repelen dalam keadaan bersih dan bebas insektisida
b) Nyamuk dimasukkan ke dalam kandang uji, dibiarkan agar beradaptasi
c) Tangan probandus baik kiri maupun kanan dibersihkan dengan air d) Selanjutnya tangan kiri probandus diolesi repelen oleh koordinator
sesuai dosis yang sudah ditentukan secara merata, sedangkan tangan kanan dibiarkan sebagai control
f) Kemudian berganti tangan kiri probandus dimasukkan ke dalam kandang uji, diamati selama 5 menit, dicatat baik waktu maupun jumlah nyamuk yang hinggap
g) Pengamatan terhadap banyaknya nyamuk yang hinggap pada lengan dilakukan setiap jam mulai jam ke-1 segera setelah pengolesan hingga jam ke-6
h) Efektivias repelen yang diuji ditentukan berdasarkan daya proteksi yang dihitung dengan rumus:
DP = (K – R) x 100% K
Keterangan: DP = Daya Proteksi
K = Jumlah hinggap control R = Jumlah hinggap repelen
i) Repelen dengan efektif apabila proteksi ≥ 90% sampai 6 jam evaluasi
3) Hasil
Tanggal : 23 Agustus 2014 Serangga uji : Nyamuk Ae. aegypti
Temperatur : 24oC Kelembaban : 61 % Kode sampel : Repelen
Tabel 4.4. Hasil Pengamatan Uji Repelen
(Sumber : Data primer diolah, 2014)
3. Laboratorium Referensi
Laboratorium referensi berfungsi sebagai tempat untuk pembuatan spesimen atau preparat larva dan nyamuk, identifikasi larva dan nyamuk, serta penyediaan bahan, referensi, dan pelatihan.
a. Pengamatan morfologi nyamuk
Nyamuk terdiri dari 3 bagian utama, yaitu kepala, toraks, dan abdomen. Kepala nyamuk terdiri dari beberapa bagian yang penting untuk identifikasi yaitu antena, palpus, proboscis, bagian spiracular, dan post-spiracular. Antena berfungsi sebagai pengindraan yaitu untuk mencari sumber pakan darah. Antena adalah bagian penting untuk membedakan nyamuk jantan dan betina dimana nyamuk jantan memiliki antena yang lebih lebat dibandingkan nyamuk betina. Palpus memiliki 5 ruas yang dapat dilihat untuk melakukan identifikasi.
Perbandingan panjang antara palpus dan proboscis tergolong bagian yang mudah diidentifikasi dari segi morfologi. Ukuran palpus pada
Perlakuan Jam ke-1 Jam ke-2
K P K P
A 23 13 43 5
B 15 9 93 23
C 110 15 100 6
D 123 12 178 37
Jumlah 271 49 414 71
Culex dan Aedes lebih pendek dibandingkan probosisnya, sedangkan pada
Anopheles panjang palpus dan proboscisnya sama atau hampir sama panjang. Bagian toraks terdapat 3 pasang kaki bagiannya terdiri dari 1 femur, 1 tibia dan 5 tarsus pada setiap kaki. Kaki depan disebut foreleg, kaki bagian tengah yang disebut midleg, dan kaki belakang yang disebut
hinleg. Identifikasi biasanya dilakukan dengan melihat bagian tarsus. Tarsus terdiri dari 5 ruas, ruas kelima kaki belakang biasanya digunakan sebagai pembeda spesies. Contohnya An. maculatus dan An. karwari
memiliki tarsus kelima dengan warna seluruhnya putih, perbedaannya terletak pada ada tidaknya bintik-bintik pucat pada kaki. An. maculatus
memiliki bintik-bintik pucat tersebut, sementara An. karwari tidak memiliki. Pertemuan ujung tarsus dan tibia juga sering digunakan untuk identifikasi. Contohnya pada nyamuk grup leucosphyrus, nyamuk dalam grup ini memiliki gelang lebar pada pertemuan ujung tarsus dan tibia.
Bagian abdomen nyamuk terdiri dari 8 ruas. Bagian dorsal abdomen disebut tergit sedangkan bagian ventralnya disebut sternit. Antara toraks dan abdomen terdapat skutelum yang biasanya dijadikan sebagai bagian untuk identifikasi awal. Skutelum terdiri dari 2 macam yaitu skutelum 1 lobi dan 3 lobi. Nyamuk yng memiliki skutelum 1 lobi adalah Anopheles dan Toxorhyncites, sedangkan skutelum 3 lobi merupakan ciri dari nyamuk Aedes, Culex, Mansonia dan Armigeres. Nyamuk yang tergolong grup leukospirus yaitu An. leucosphyrus, An. balabacensis, An. puguthensis, An. sulawesi, An. haekeri, An. riparii, dan An. dirus. Pembeda spesies dalam grup tersebut terletak pada bagian sayap.
Identifikasi tingkat genus dapat diawali dengan melihat jumlah lobi pada bagian skutelum. Langkah penentuan genus selanjutnya sebagai berikut:
1) Satu lobi
a) Proboscis runcing dan melengkung ke bawah Toxorhynchites
b) Proboscis lurus dan tidak melengkung Anopheles
2) Tiga lobi
a) Palpus hampir setengah (1/2) panjang proboscis Armigeres b) Palpus kurang dari setengah (1/2) panjang proboscis, sisik-sisik
pada sayap banyak dan tidak simetris Mansonia
(1) Ada rambut/sisik postspiracular Aedes
(2) Tidak ada rambut/ sisik postspiracular Culex
Pembedaan spesies dalam genus Anopheles dapat dilakukan dengan melihat perbedaan gelap terang bagian costa, subcosta, dan vena pada sayap. Apabila costa, subcosta, dan vena 1 memiliki ≤ 3 noda pucat
maka termasuk subgenus Anopheles. Langkah selanjutnya yaitu melihat bagian palpus.
1) Palpus dengan 4 gelang pucat grup hyrcanus
2) Palpus seluruhnya hitam, maka dilihat sternit abdomen segmen 7 a) Ada kumpulan sisik-sisik hitam grup barbirostris
b) Tidak ada kumpulan sisik-sisik hitam grup umbrosus
Apabila costa, subcosta, dan vena 1 memiliki ≥ 4 gelang pucat,
maka langkah selanjutnya yaitu dengan melihat bagian kaki apakah ada bintik-bintik atau tidak. Jika ada bintik-bintik, maka langkah selanjutnya yaitu melihat pertemuan ujung tarsus dan tibia.
1) Ada gelang pucat lebar pada pertemuan ujung tarsus dan tibia grup leukospirus
2) Tidak ada gelang pucat lebar pada pertemuan ujung tarsus dan tibia, maka dilihat proboscis-nya. Jika proboscis hitam, maka dilihat tarsus ruas kelima.
a) Tarsus kelima berwarna putih An. maculatus
Pembedaan untuk spesies An. vagus, An. inditimitus, An. subpictus, dan Anopheles longirostris sebagai berikut:
1) An. vagus
a) Kaki tidak berbintik-bintik pucat
b) Gelang pucat pada ujung palpus 4 kali gelang gelap sesudahnya c) Ujung proboscis ada daerah pucat
2) An. inditimitus
a) Kaki tidak berbintik-bintik pucat
b) Gelang gelap pre-apikal palpus sama lebar dengan gelang pucat sesudahnya
c) Proboscis seluruhnya gelap 3) An. subpictus
a) Kaki tidak berbintik-bintik pucat
b) Gelang pucat ujung palpi sama atau hampir sama dengan gelang gelap sesudahnya
c) Proboscis gelap 4) An. longirostris
a) Kaki berbintik-bintik pucat b) Proboscis ½ bagian ujung pucat c) Palpus ¾ panjang proboscis
b. Prosedur identifikasi nyamuk dewasa
1) Alat dan Bahan a) Spesimen nyamuk b) Mikroskop compound
c) Buku kunci identifikasi nyamuk d) Kertas label
e) Alat tulis 2) Cara kerja
a) Spesimen nyamuk ditempelkan pada alat (mosquitoes holder) lalu dilekatkan di bawah lensa objektif mikroskop.
b) Perbesaran dan makrometer mikroskop diatur untuk mendapatkan gambar yang baik.
c) Digunakan buku kunci identifikasi yang tersedia, cocokkan cirri morfologi nyamuk dengan pernyataan yang ada pada buku kunci identifikasi.
d) Genus, spesies, dan sex serta informasi tentang spesimen yang telah teridentifikasi ditulis pada kertas label yang tersedia.
e) Ditempelkan pada spesimen, digunakan pin block untuk alat menempelkan label agar letak label rapi.
3) Hasil
a) Spesimen 1 Ciri-ciri:
(1) Skutelum 3 lobi
(2) Palpus kurang dari setengah panjang proboscis (3) Sisik sayap simetris sempit dan simetris
(4) Tidak ada rambut post spiracular
Kesimpulan : Culex
b) Spesimen 2 Ciri-Ciri:
(3) Skutelum 1 lobi
(4) Proboscis lurus dan tidak melengkung Kesimpulan : Anopheles
b. Pembedahan nyamuk
Pembedahan nyamuk bertujuan mengetahui dan membedah ovarium sehingga dapat diketahui dilatasi (pembengkakan) telur sebagai penentu umur nyamuk. Selain itu dengan pembedahan maka dapat diketahui kelenjar ludah nyamuk. Jenis nyamuk yang bisa dilihat dilatasinya adalah nyamuk unfeed, blood feed dan half gravid.
c) Object glass
d) Mikroskop e) kapas
f) Nyamuk betina dewasa g) Kloroform
h) Larutan NaCl/ aquades 2) Cara Kerja
a) Nyamuk dimatikan dengan menggunakan kapas yang telah diberi kloroform di dalam cup
b) Nyamuk dimasukkan ke dalam cawan petri
c) Mikroskop dihidupkan dan objek glass diletakkan diatas meja mikroskop
d) Nyamuk betina diambil dengan cara menusuk bagian torak dengan jarum bedah
e) Nyamuk diletakkan diatas objek glass dan siap dibedah
f) Jarum bedah yang terdapat nyamuk dipegang dengan tangan kanan, tangan kiri memegang jarum bedah tanpa nyamuk g) Jarum bedah pada tangan kiri ditusukkan pada bagian abdomen
hingga ovarium terlihat
3) Hasil
Gambar 4.2. Hasil pembedahan nyamuk c. Pembuatan spesimen nyamuk
Kegiatan ini bertujuan untuk mengawetkan nyamuk/ membuat spesimen nyamuk yang dapat digunakan untuk identifikasi nyamuk. 1) Alat dan bahan
a) Kloroform b) Nyamuk c) Cawan petri
d) Jarum serangga no. 3 e) Paper point
f) Pin block
g) Insert box
2) Cara Kerja
a) Nyamuk dimatikan dengan kloroform di dalam cup dengan menggunakan bantuan kapas
b) Nyamuk yang sudah mati dipindahkan ke cawan petri
c) Paper point ditusuk dengan jarum serangga, dimasukkan ke dalam lubang pin block yang terdalam
d) Nyamuk di letakkan diatas pin block degan posisi kepala nyamuk menghadap ke kanan dan kaki nyamuk menghadap ke pembuat
e) Jarum dipegang dibagian ujungnya, kemudian ujung paper point diberi lem
f) Ujung paper point ditempelkan pada toraks nyamuk g) Spesimen dimasukkan ke dalam insect box
h) Ditulis spesies, tempat asal, tanggal, dan kolektor pada kertas kecil
i) Diberi kamper dan silica gel untuk pengawet 3) Hasil
C. Hasil Magang
Hasil kegiatan magang diperoleh melalui pengamatan dan wawancara kepada kepala instalasi insektarium koloni nyamuk yaitu ibu Riyani Setyaningsih, S.Si, M.Sc. serta studi literatur dari perpustakaan yang terdapat di B2P2VRP Salatiga. Percobaan kecil pengendalian menggunakan ovitrap untuk mengetahui bagaimana aplikasi penggunaan ovitrap sebagai alat survei sekaligus pengendalian khusunya pada nyamuk Ae. aegypti.
1. Pelaksanaan pengendalian nyamuk Aedes aegypti dengan menggunakan metode ovitrap di B2P2VRP Salatiga.
Ovitrap merupakan salah satu alat survei nyamuk yang dilakukan dengan cara memasang ovitrap di dalam dan di luar rumah yang di survei. Ovitrap diletakkan di tempat yang gelap dan lembab. Setelah satu minggu dilakukan pemeriksaan ada atau tidaknya telur nyamuk dalam padel (Depkes RI, 2005). Ovitrap memiliki fungsi monitoring dan pengendalian Aedes sp.
Kelebihan dari survei entomologi dengan menggunakan ovitrap adalah menghasilkan data yang lebih spesifik, lebih ekonomis, dan sensitif untuk pengambilan sampel populasi dengan area yang lebih luas (Puspitasari dkk, 2012).
pengendalian vektor di lapangan. Namun pada pelaksanaanya, lebih kepada fungsi pengukuran populasi nyamuk di lapangan dengan menjebak telur nyamuk.
Aplikasi ovitrap langsung di lapangan yaitu pada pemukiman masyarakat. Biasanya kegiatan ini dilakukan saat penelitian yang berhubungan survei kepadatan nyamuk dan juga ketika evaluasi kegiatan
fogging. Pemasangan ovitrap dilakukan dengan frekuensi dua kali dengan jangka waktu satu minggu sesuai dengan standar fogging. Hal ini dilakukan juga untuk mewaspadai kemugkinan nyamuk dewasa yang masih hidup. Satu hari setelah fogging dilakukan, ovitrap dipasang pada 50 rumah di sekitar daerah fogging. Kegiatan ini dilakukan oleh B2P2VRP atas perintah dinas kesehatan Salatiga.
Pemasangan ovitrap di masyarakat ini selain dilaksanakan oleh perwakilan pihak B2P2VRP juga menjalin kemitraan bersama pihak puskesmas daerah yang bersangkutan serta kader Juru Pemantau Jentik (JUMANTIK). Ovitrap dipasang di dalam dan di luar rumah, hal ini dilakukan agar pegukuran populasi nyamuk lebih valid. Penggunaan lethal ovitrap
2. Kelebihan dan kekurangan pengendalian nyamuk Aedes aegypti dengan menggunakan metode ovitrap.
Hasil wawancara dengan ketua laboratorium insektarium koloni nyamuk menghasilkan informasi bahwa kelebihan metode ovitrap dalam pengendalian Ae. aegypti adalah dapat mengetahui populasi nyamuk sehingga bisa meningkatkan kewaspadaan terkait densitas vektor khususnya Ae. aegypti
agar dapat segera dikendalikan secara optimal. Selain itu telur Ae. aegypti
yang terjebak dalam ovitrap juga bisa langsung dibuang sehingga dapat memutus siklus hidup vektor. Hal ini karena telur Ae. aegypti mati dan tidak dapat berkembang menjadi larva. Selain itu, ovitrap juga tidak berbahaya bagi hewan bukan sasaran. Kekurangan dari metode ini adalah ovitrap bisa menjadi tempat perindukan tambahan apabila telur tidak segera dibuang sehingga dalam pemakaiannya ovitrap harus selalu diperhatikan.
3. Modifikasi ovitrap yang telah dilakukan di B2P2VRP Salatiga.
B2P2VRP juga telah melakukan beberapa modifikasi melalui penelitian yang dilakukan oleh peneliti ataupun mahasiswa yang mengadakan penelitian. Penelitian terbaru adalah modifikasi warna ovitrap oleh Rhomadhon (2014). Ovitrap ini terbuat dari container (ovitrap) berdiameter 6,5 cm, tinggi 9,5 cm (gelas plastik), kuas, kertas saring, air bersih, tiner dan cat berwarna putih, hitam merah, hijau, biru dan kuning. Variasi ovitrap yang dibuat adalah ovitrap warna hitam, merah, kuning, hijau, dan biru. Hasil penelitian yang didapatkan adalah bahwa nyamuk Ae. aegypti lebih menyukai ovitrap dengan warna hitam untuk tempat bertelur yaitu dengan persentase telur 31,09 % sedangkan ovitrap warna biru meupakan ovitrap yang paling tidak disukai dengan persentase telur yang terperangkap sebesar (11,91%).
Modifikasi yang pernah dibuat juga salah satunya adalah penambahan atraktan yaitu air rendaman jerami 10%. Air rendaman jerami menghasilkan CO2 dan amonia, suatu senyawa yang terbukti mempengaruhi saraf penciuman nyamuk Aedes (Purnamasari dkk, 2010). Ovitrap dengan air rendaman jerami ini digunakan ketika ingin mengetahui populasi nyamuk di daerah penelitian. Penerapan ovitrap di masyarakat juga memodifikasi
Gambar 4.4. Kontainer gelas kaca untuk ovitrap
4. Cara pembuatan ovitrap sebagai alat survei perangkap telur nyamuk Aedes aegypti.
Pelaksaan magang terkait ovitrap yaitu melakukan percobaan kecil untuk membuat dan mengaplikasikan pemasangan ovitrap di rumah penduduk setempat. Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui jenis ovitrap yang paling disukai nyamuk Ae. aegypti untuk tempat bertelur. Kegiatan ini diawali dengan pembuatan ovitrap yang terdiri dari 4 jenis ovitrap yaitu ovitrap dengan air rendaman jerami, air rendaman cabai merah segar, air yang disemprot insektisida dan air berisi kulit pupa bekas pemeliharaan Ae. aegypti.
a. Alat dan bahan
1) Gelas plastik air mineral 16 buah 2) Plastik kresek hitam
3) Solatip hitam
5) Botol 1,5 L 2 buah 6) Botol 600 mL 2 buah 7) Pisau
8) Timbangan 9) Cobek + ulekan 10)Jerami kering 100 gr 11)Cabai merah segar 100 gr 12)Air kulit pupa Ae. aegypti
13)Insektisida cair bahan aktif (D-fenotrin 0,125% dan Praletrin 0,100%) 14)Aquades 3,3 L
b. Cara Kerja 1) Persiapan
a) Semua gelas plastik dilapisi dengan plastik kresek hitam yang dipasang dengan bantuan solatip hitam, pastikan semua bagian telah terlapisi
b) Jerami kering dan cabai merah segar ditimbang sebanyak 100 gram
c) Cabai merah dihaluskan dengan cara ditumbuk kemudian dimsukkan ke dalam botol 1,5 L
e) Kedua botol ditambahkan dengan air sebanyak 500 mL, dibiarkan/ direndam selama 5-7 hari
f) Air sebanyak 600 mL disemprot baygon sebanyak 3 x semprot, selanjutnya dimasukkan ke dalam botol
g) Satu mangkok enamel yang berisi air dan kulit pupa bekas pemeliharaan nyamuk Ae. aegypti diambil dan ditambahkan aquades hingga volumenya 600 mL, dimasukkan ke dalam botol 2) Pelaksanaan
a) Ovitrap dilapisi kertas saring dibagian dalamnya, pastikan kertas saring melapisi dinding ovitrap
b) Air rendaman cabai dan jerami masing-masing disaring kemudian ditambahkan aquades hingga volumenya 1 L
c) Air jerami, air cabai, air kulit pupa dan air insektisida dimasukkan ke dalam ovitrap, diisi hingga ¾ volume
d) Masing-masing jenis ovitrap dibuat sebanyak 4 buah, pastikan sebagian kertas saring terendam air
e) Selanjutnya ovitrap dipasang di dalam (Gambar 4.5) dan di luar rumah (Gambar 4.6) pada 2 rumah penduduk, pada tempat yang diduga sebagai perindukan nyamuk Ae. aegypti dan jauh dari jangkauan anak-anak
g) Setelah 4 – 7 hari ovitrap diambil dan diamati keberadaan telurnya h) Ovitrap yang terdapat telur, dihitung telurnya dengan counter i) Diidentifikasi telurnya dengan mikroskop
Gambar 4.5. Pemasangan ovitrap di dalam rumah untuk pengujian ovitrap yang paling disukai
c. Hasil
Tabel 4.5. Hasil pemasangan ovitrap di rumah penduduk
No. Ovitrap Rumah 1 Rumah 2
Dalam Luar Dalam Luar
1 Air jerami + + + -
2 Air cabai - + - -
3 Air kulit pupa - - - -
4 Air insektisida - - - -
D. Pembahasan
Nyamuk Ae. aegypti merupakan nyamuk vektor utama yang menyebarkan virus dengue, penyebab penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). DBD merupakan salah satu masalah kesehatan yang penting di Indonesia. Sejak kemunculan kasus DBD pada tahun 1968 di Surabaya, angka kejadian DBD terhitung tinggi di Indonesia. Oleh karena itu, perlu pengendalian yang tepat untuk menekan kejadian DBD yaitu dengan memberantas vektor penyakit tersebut.
1. Aplikasi Metode Ovitrap
diletakkan di tempat yang gelap dan lembab. Setelah satu minggu dilakukan pemeriksaan ada atau tidaknya nyamuk dalam padel (Depkes RI, 2005).
Aplikasi ovitrap B2P2VRP Salatiga lebih kepada fungsi pengukuran populasi nyamuk di masyarakat dengan menjebak telur nyamuk. Menurut Tanjung (2011) oleh karena fungsinya, ovitrap dapat sangat membantu dalam upaya pengendalian vektor demam berdarah. Ovitrap sering digunakan ketika evaluasi program fogging di wilayah Salatiga. Ovitrap dipasang di dalam dan di luar rumah, hal ini dilakukan agar pengukuran populasi nyamuk lebih valid. Menurut Utomo dkk, (2005) kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) yang dijalankan pengendalian nyamuk Aedes di masyarakat, menimbulkan nyamuk ini kehilangan banyak tempat perindukan di dalam rumah, dan mencari tempat lain di luar rumah. Penelitian ini membuktikan bahwa ovitrap yang dipasang di luar rumah menghasilkan kepadatan telur Aedes yang tinggi. Oleh karena itu hasil survei lebih optimal apabila ovitrap dipasang di dalam dan di luar rumah.
pada TPA berair yang berwarna gelap, paling menyukai warna hitam, terbuka lebar, dan terutama yang terletak di tempat-tempat terlindung sinar matahari langsung (Purnamasari dkk, 2011). Oleh karenanya, ovitrap dibuat mirip dengan perindukan aslinya yaitu kontainer yang berasal dari barang bekas seperti kaleng/ gelas plastik yang berisi air bersih didalamnya biasanya berwarna gelap.
Menurut Kemenkes RI, 2011 Nyamuk Ae. aegypti betina mempunyai kebiasaan mengisap darah. Darah diperlukan untuk pematangan sel telur, agar dapat menetas. Waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan perkembangan telur mulai dari nyamuk mengisap darah sampai telur dikeluarkan, waktunya bervariasi antara 3-4 hari. Jangka waktu tersebut disebut dengan siklus gonotropik. Nyamuk ini beristirahat pada tempat yang gelap dan lembab di dalam atau di luar rumah, berdekatan dengan habitat perkembangbiakannya. Oleh karena itu, agar mendapatkan hasil telur yang optimal, pemasangan ovitrap sebaiknya mengikuti kebiasaan vektor. Hal inilah yang menjadikan ovitrap dipasang di dalam dan di luar rumah dengan jarak kurang dari 500 m serta pada tempat yang gelap dan lembab diduga habitat nyamuk.
pelaksanannya yang biasa dipakai adalah ovitrap standar yang terbuat dari gelas plastik/kaca yang diwarnai hitam yang dilapisi kertas saring dibagian dalamnya kemudian diisi air hingga ¾ bagian gelas. Pengendalian dengan menggunakan ovitrap juga pernah dilakukan di B2P2VRP salah satunya saat pelaksanaan penelitian mengenai model pengendalian terpadu vektor demam berdarah dengue di kota Salatiga. Ovitrap digunakan untuk mengukur kepadatan nyamuk sebelum dan sesudah pengendalian. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan ovitrap indeks dari 14,49% turun menjadi 8,88% (Darwin dkk, 2013).
Sesekali air ovitrap dimodifikasi dengan atraktan berupa air rendaman jerami. Berdasarkan uji laboratorium air jerami memamg lebih disukai oleh nyamuk Ae. aegypti untuk bertelur. Hasil penelitian membuktikan bahwa jumlah telur yang terperangkap pada air rendaman jerami paling banyak (669,1 butir), dibandingkan kontrol positif (+) 314,1 butir; air hujan 297,3 butir; dan air ragi tape 114,4 butir (Bugis, 2013). Oleh karena itu, B2P2VRP menambahkan atraktan berupa air rendaman jerami 10%.
untuk pengendalian di B2P2VRP. Hal ini dikarenakan insektisida dapat menimbulkan resistensi pada vektor yang bersangkutan. Beberapa penelitian juga telah melaporkan resistensi Ae. aegypti terhadap beberapa insektisida seperti organofosfat, malathion, Allethrin, Permethrin, dan Cypermethrin
(Astari, 2005). Aplikasi lethal ovitrap dengan insektisida hanya dilakukan apabila terdapat penelitian yang mengenai lethal ovitrap. Bilamana lethal ovitrap diaplikasikan pada lingkungan masyarakat, maka insektisida yang digunakan harus disesuaikan dengan kondisi daerah sasaran. Terkait dengan insektisida yang sudah resisten di daerah sasaran sebaiknya dihindari dan tidak digunakan untuk program pengendalian vektor Ae. aegypti.
Sebagai alat survei telur nyamuk Ae. aegypti, ovitrap memiliki beberapa keuggulan dan kekurangan dalam penggunaannya. Ovitrap juga berfungsi dalam pengendalian yaitu memutus siklus hidup vektor. Telur yang terjebakdalam ovitrap juga bisa langsung dibuang sehingga telur Ae. aegypti
maupun perawatan. Perawatan hanya dengan mengganti airnya setiap minggu dan menyikat bagian dalam bejananya. Perlakuan ini sama dengan prinsip menguras bak mandi (3M), hanya dilakukan pada wadah yang lebih kecil. Kelebihan lain menurut Puspitasari dkk (2012), survei telur dengan menggunakan ovitrap dapat menghasilkan data yang lebih spesifik, lebih ekonomis, dan sensitif untuk pengambilan sampel populasi dengan area yang lebih luas (Puspitasari dkk, 2012).
Hasil wawancara yang didapatkan menyatakan bahwa kekurangan ovitrap bisa menjadi tempat perindukan tambahan apabila telur tidak segera dibuang sehingga dalam pemakaiannya ovitrap harus selalu diperhatikan. Selain itu, menurut Mackay et al, (2013) keberadaan ovitrap bersaing dengan kontainer yang ada habitat di lingkungan. Oleh karena itu, sebaiknya ovitrap sebaiknya dibuat menarik agar bisa menjebak nyamuk Ae. aegypti .
2. Penelitian Kecil Menggunakan Metode Ovitrap
Kegiatan magang ini juga menyertakan penelitian kecil yang bertujuan mengetahui jenis atraktan yang paling disukai nyamuk Ae. aegypti untuk bertelur. Atraktan yang digunakan terdiri dari 4 jenis yaitu air rendaman jerami, air rendaman cabai merah segar, air yang berisi skin pupa dan air yang dicampur insektisida cair, masing-masing jenis ovitrap tersebut dibuat 4 buah. Ovitrap yang dipasang terdiri 16 buah, ditempatkan pada 2 rumah. Masing-masing rumah dipasang 8 ovitrap 4 buah ovitrap ditempatkan di dalam dan 4 buah yang lain ditempatkan di luar rumah. Ovitrap yang dibuat berwarna hitam, karena berdasarkan penelitian Rhomadhon (2014), tentang pengaruh warna ovitrap dengan jumlah telur yang terperangkap, warna hitam adalah yang paling disukai. Ovitrap dibiarkan dan dipantau selama 4 hari. Penentuan 4 hari didasari bahwa telur nyamuk Aedes sp akan menetas pada hari ke 4 – 7, sehingga telur nyamuk tidak menetas dalam ovitrap selama penelitian dilakukan (Budiyanto, 2010).
adalah 395 butir sedangkan pada air cabai total telur yang terperangkap hanya sebanyak 8 butir.
Hasil penelitian yang didapatkan sesuai dengan yang dinyatakan Polson, et al (2002) telah melakukan berbagai modifikasi ovitrap. Hasil penelitiannya membuktikan bahwa dengan menggunakan atraktan air rendaman jerami 10% dan membuktikan jumlah telur terperangkap delapan kali lipat dibanding ovitrap standar. Setya dan Eri (2011) menyarankan agar mengoptimalkan penggunaan ovitrap, dengan memodifikasi penggunaan ovitrap dengan atraktan air rendaman udang windu, kerang dan rendaman jerami tidak hanya menggunakan air bersih biasa. Hal ini bermanfaat untuk melihat perbandingan penggunaan media tersebut sehingga pada akhirnya dapat dipilih penggunaan atrakan yang cocok/lebih baik dalam pemasangan ovitrap untuk menjebak jentik nyamuk lebih banyak.
Penelitian lain membuktikan bahwa air rendaman jerami 10% efektif dalam penurunan kepadatan larva di RT D Kelurahan Adatongeng Kecamatan Turikale Kabupaten Maros. Air rendaman jerami mengandung amonia, CO2, asam laktat dan octanol. Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan pada air rendaman jerami 10% terdapat kadar amonia sebesar 4,24 mg/l. Terdapat juga CO2 dalam air rendaman jerami 10% namun dengan kadar yang lebih rendah dari Amonia. Amonia dan CO2 merupakan suatu senyawa yang dapat mempengaruhi saraf penciuman nyamuk Aedes (Rakkang dkk, 2013). Santos
30% juga dapat mengundang nyamuk lebih banyak bertelur di ovitrap
tersebut.
Ovitrap positif yang didapatkan baik yang didalam maupun diluar rumah berjumlah sama yaitu masing-masing 2 buah. Menurut Utomo dkk, (2005) kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) yang dijalankan pengendalian nyamuk Aedes di masyarakat, menimbulkan nyamuk ini kehilangan banyak tempat perindukan di dalam rumah, dan mencari tempat lain diluar rumah. Hasil yang didapatkan membuktikan bahwa dewasa ini, perindukan nyamuk Aedes tidak hanya di dalam rumah namun dapat dimungkinkan berada diluar rumah.
3. Hal yang perlu diperhatikan dalam aplikasi metode ovitrap
a. Ovitrap diletakkan di dalam dan di luar rumah tempat yang gelap dan lembab yang diduga sebagai perindukan nyamuk (Depkes RI, 2005). Hal ini untuk memudahkan dalam mendapatkan telur nyamuk, penempatan yang salah akan mempengaruhi jumlah telur yang didapat.
b. Ovitrap segera diambil dalam waktu 1 minggu. Jangka waktu tersebut disesuaikan dengan sikus hidup nyamuk, karena lebih dari seminggu dimungkinkan telur telah menetas.
c. Ovitrap diletakkan pada tempat yang jauh dari jangkauan anak-anak dan tempat yang aman dari gangguan binatang peliharaan. Hal ini dilakukan untuk menghindari agar ovitrap tidak tumpah sampai pada waktu pemeriksaan ovitrap.
d. Jenis ovitrap yang digunakan sebaiknya ovitrap yang berwarna gelap (hitam) (Rhomadhon, 2014), sehingga dapat menarik nyamuk dan bila perlu dapat ditambahkan atraktan (Setya dan Eri, 2011).
4. Hambatan dalam aplikasi metode ovitrap
Beberapa hambatan yang dijumpai dalam pengguaan metode ovitrap adalah:
a. Pemasangan ovitrap pada perumahan penduduk mudah tumpah. Hal ini bisa dikarenakan masyarakat kurang memperhatikan keberadaan ovitrap yang dipasang dirumah yang bersangkutan. Selain itu dimungkinkan juga karena peletakkan ovitrap pada tempat yang kurang aman. Pada penelitian kecil yang telah dilakukan ovitrap sangat rentan tumpah, karena terbuat dari gelas plastik yang ringan.
b. Ovitrap yang dipasang diluar rumah rentan akan terkena air hujan. Pada musim hujan, jenis container ovitrap tanpa tutup akan mudah terisi dengan air hujan. Sehingga jika ovitrap tidak dijaga air ovitrap bisa terisi penuh air hujan, dapat mengakibatkan bias pada jumlah telur yang didapatkan.
c. Keberadaan ovitrap di dalam rumah bersaing dengan container
5. Cara mengatasi hambatan dalam aplikasi metode ovitrap
Cara mengatasi hambatan yang ada dalam aplikasi metode ovitrap adalah sebagai berikut:
a. Pemilihan tempat peletakkan ovitrap. Sebaiknya ovitrap diletakkan pada tempat yang memiliki permukaan tanah/lantai datar, jauh dari jangkauan anak-anak, binatang peliharaan atau jalan tikus. Ovitrap yang terbuat dari gelas plastik sebaiknya ditambahkan beratnya dengan memasukkan batu kecil ke dalam ovitrap dengan syarat batu dalam keadaan bersih dari kotoran. Ovitrap gelas kaca bisa menjadi alternatif, karena gelas kaca cenderung berat sehingga ovitrap tidak mudah tumpah.
b. Ovitrap dapat dimodifikasi dengan penutup jika pemasangannya bertepatan dengan musim hujan. Penutup akan dapat melindungi ovitrap dari air hujan.