BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.5. Aplikasi Pencatatan Gempa SeisComP
SeisComP (The Seismological Communication Processor) adalah suatu konsep untuk jaringan system seismografik yang memungkinkan kombinasi dari perolehan data umum, protokal transfer data real time, pengolahan untuk menentukan lokasi, kedalaman, magnitude dan parameter-parameter lain, aplikasi ini dikembangkan oleh jaringan GEOFON dan projek lebih jauh dari MEREDIAN (“Mediterranean-European Rapid Earthquake Data Information and Archiving Network”) dan GITEWS (German-Indonesian Tsunami Early Warning System).
Aplikasi SeisComP mempunyai beberapa sub paket yang diantaranya:
1. Acquisition (Akuisisi)= Yang termasuk didalamnya server SeedLink dan plugins untuk memperoleh data dari bermacam layar pengolahan. Dan yang
termasuk juga adalah slarchive-SeedLink klien untuk mengarsif data di penyimpanan lokal menggunakan SDS (SeisComP Data Structure)
2. Autopick (Picking Data Otomatis) = Membuat daftar pickyang digunakan sebagai penentuan lokasi otomatis dari kejadian gempa dan merekam bentuk gelombang yang terjadi.
21
3. Autoloc = Digunakan untuk membuat daftar lokasi gempa secara otomatis.
4. Slmon = Membuat halaman situs web yang menampilkan data dan kejadian umpan latensi dari stasiun
5. Seisgram = Menampilkan waktu real-timebentuk gelombang dari beberapa stasiun.
6. Qplot = Menampilkan bentuk gelombang dalam format yang menyerupai perekam, bisa juga untuk membuat file berformat GIF yang ditampilkan di halaman situs web.
7. Analysys = Berguna untuk menganalisa bentuk gelombang dan mengkoreksi pickingmanual.
Gambar 2. 6.Contoh Ruang Kerja SeisComP Yang Berada di PGN Jakarta
Komponen SeisComP adalah sebagai berikut:
22
1. Retrieve: Mengambil data bentuk gelombang dari stasiun jarak jauh, Arsipkan dan kirimkan ke klien berdasarkan permintaan.Modul: SeedLink, slarchive dan ArcLink
2. Processes: Proses data waveform secara otomatis dan memancarkan parameter yang diturunkan seperti picks, amplitudo, besaran, hiposenter dan kejadian.Modul: scmaster, scautoloc, scautopick, scamp,Scmag dan scevent 3. Provides:Menyediakan antarmuka pengguna grafis untuk dianalisis dan
diverifikasiHasil dan bentuk gelombang secara interaktif baik secara realtime maupunSebagai post event analysis, Modul: scrttv, scmv, scolv dan scesv
Gambar 2. 7 Contoh Display MapView SeisComP3
Gambar di atas adalah contoh salah satu displaydari aplikasi SeisComP, MapView disini berguna sebagai langkah awal dari pencatatan gempa ketika gempa itu terjadi, Pada table “Groung Motion Legend” disana adalah letak dan kecepatan gelombang dari gempa, pada table “Triggering Station” adalah letak
23
terjadinya suatu gempa yang terekam oleh stasiun, pada tabel “Station Showing The Recent Ground Motion” adalah perekaman sementara dari pergerakan dari gelombang gempa.
Gambar 2. 8Contoh 2 Display MapView SeisComP3
Pada tabel “Epicentre” berisi lokasi gempa sementara yang terekam oleh stasiun, pada tabel “ Associated Station” berisi lokasi stasiun terkait yang merekam kejadian gempa, tabel “Spreading S-Wave” menginformasikan besar cakupan gelombang S, tabel “Spreading P-Wave” menginformasikan besar cakupan gelombang P, dan tabel “Earthquake Information” berisi data gempa dengan parameter-parameter seperti Origin Time, Magnitudo, Tipe Magnitudo, Lintang, Bujur, dan Kedalaman.
24
Gambar 2. 9Display TraceView SeisComP3
Gambar diatas adalah contoh gambar dari bagian Aplikasi SeisComP yaitu TraceView, fungsi dari TraceView disini adalah secara khusus mendeteksi adanya getaran gempa yang terjadi di permukaan bumi, ketika gempa terjadi, maka pada tab traceview terlihat ada gelombang yang memiliki amplitude yang berbeda dari gelombang-gelombang pada umumnya. yang memungkinkan agar kita melihat besar gempa, maka kita perlu mem-picking gelombang tersebut agar dapat terlihat parameter-parameter gempa yang kita baru saja pick.
25
Gambar 2. 10Display EventSummaryView Pada SeisComP3
Setelah kita tadi masuk ke dalam tab TraceView kita mendapatkan pick dari gelombang gempa yang terjadi maka selanjutnya pada tab EventSummaryView kita mendapatkan parameter-parameter gempa yang terjadi, pada kotak yang bertuliskan “OriginTime” adalah waktu terjadiya gempa yang berisi tanggal dan waktu dalam satuan UTC. Pada kotak yang berisi “Prefered magnitude+depth” adalah magnitudo gempa dan kedalaman. Pada kotak yang berisi “Magnitude Information” adalah tipe magnitudo dan informasi magnitudo.
Pada kotak “Epicenter” berisi letak episenter gempa pada peta. Pada kotak yang berisi “Hypocenter information” adalah letak lokasi dalam latitude,longitudeserta kedalaman.
26
Gambar 2. 11Display OriginLocatorView pada SeisComP3
Pada kotak “Event summary” berisi ringkasan parameter kejadian gempa yang tadi sudah ditentukan. Pada kotak “Phase table” berisi gelombang-gelombang yang sampai ke permukaan bumi akibat gempa, berisi gelombang-gelombang P dan gelombang S. Pada “Distance residual plot” adalah jarak residual. Pada tabel
“Import picks” adalah untuk memasukkan gelombang yang telah di olah sebelumnya, option ini hanya untuk melihat kembali hasil yang sudah dikerjakan.
Pada tabel “Manual Picker” berguna untuk memilih pickingevent gempa secara manual.[10]
2.5 Perbandingan Metode Double Difference Dengan Metode Lain
Metode awal yang biasa paling standar yaitu metode SED, metode ini adalah metode classic yang pernah dikembangkan oleh Geiger (1910) yang merupakan iterasi numerik dengan optimasi Gauss-Newton. Metode SED merupakan suatu metode pengolahan data gempa mikro untuk menentukan relokasi hiposenter,
27
pada umumnya digunakan model kecepatan 1-D yang harus ditentukan sebelum penghitungan relokasi atau bisa juga dengan literature dari model kecepatan global. Metode ini jikamempunyai hasil yang tidak cukup baik dibandingkan metode Double Difference dalam segi keakuratan, hal itu dikarenakan metode Double Differencemenganalisis koherensi semua hiposenter dalam satu cluster
dan mempunyai koherensi yang sangat mirip (mendekati satu). Dalam hal statistik, hasil metode Double-Difference juga memiliki tingkat kepercayaan yang lebih besar, karena memiliki nilai RMS waktu tempuh yang lebih mendekati 0.
[11][12]
Selanjutnya metode JHD (Joint Hypocentre Determination), metode JHD secara simultan akan menginversi waktu tempuh sekelompok hiposenter untuk mendapatkan lokasi hiposenter. Perbandingan metode SED dan JHD terletak pada besaran pada koreksi stasiun sebagai koreksi terhadap kesalahan akibat model kecepatan 1-D yang digunakan. Metode JHD terbukti mengurangi error akibat kesalahan lateral model kecepatan dan memberikan posisi hiposenter yang lebih baik dibandingkan metode SED. Dibandingkan metode JHD, metode Double-Difference dalam proses untuk mencari hiposenter lebih efisien karna data-data
dapat direlokasi dengan baik tanpa koreksi stasiun.[8][12]
Metode SED dan JHD hampir sama, maksimal perbedaan lokasi relokasi hiposenter kedua metode tersebut adalah 20m (dalam penelitian gempa vulkanik gunung kelud) dan terkonsentrasi disekitar Kawah Gunug Kelud. Persebaran hiposenter setelah direlokasi keseluruhan memiliki pola yang teratur.
28
Secara sifat fisika hasil relokasi metode Double Difference mempunyai hasil yang lebih baik dari metode JHD dan SED. Karena, metode Double-Difference mempunyai koherensi yang sangat mirip dan mempunyai residual yang
lebih baik walaupun tidak harus menghitung koreksi stasiun seperti metode JHD.[8][12]