• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

3.4. Pengolahan Data

a. Relokasi gempabumi dengan metode Double-Difference

Data gempabumi yang telah diperoleh sebelumnya harus didapatkan perbedaan travel-time antara event gempa dengan fase dan ditulis berdasarkan file input ph2dt (berekstensi .pha) dan juga stasiun yang merekam (berekstensi .sta).

Lalu selanjutnya menentukan file ph2dt.inp yang digunakan sebagai Input dari program ph2dt yang digunakan sebagai parameter pada aplikasi ph2dt. Output dari program ph2dt merupakan file-file yang digunakan sebagai masukan untuk mengolah data menggunakan program hypoDD, yaitu diantaranya file dt.ct, event.sel, event.dat, dan ph2dt.log. Kemudian untuk menjalankan program ph2dt

40

digunakan RedHat dengan virtual player WMware berbasis Linux. didapatkan tampilan pada aplikasi ph2dt setelah di running adalah seperti berikut:

Gambar 3. 4Contoh display setelah running program ph2dt di software RedHat VMware

Kemudian tahap selanjutnya yaitu menganalisa file output dari ph2dt, biasanya file output tidak akan baik jika langsung menggunakan file ph2dt.inp dari contoh yang disediakan. Yang perlu di perhatikan dari tampilan output running di atas adalah pada baris yang bertuliskan “outliers” dan “weakly linked

events”. Semakin kecil nilai persen hasil outliersnya maka data akan semakin maksimal. Dan juga pada baris “weakly linked events” semakinkecil presentasenya maka errornya semakin kecil. Maka pada file input ph2dt yaitu ph2dt.inp harus di edit, yang harus di edit adalah maxsept(jarak maksimum antar

41

event) juga maxdist (jarak antar gempa ke stasiun). Jika sudah didapatkan nilai

yang baik maka didapatkan output:

1. Dt.ct : data katalog waktu tempuh gempa yang terhubung

2. Event.dat : data parameter gempabumi yang sudah terproses di ph2dt 3. Ph2dt.log : Laporan hasil running ph2dt

Setelah didapatkan nilai “outliers” dan “weakly linked event” yang bagus maka selanjutnya adalah memindahkan file output dari ph2dt yaitu dt.ct event.dat dan stasiun.dat ke folder hypoDD yang digunakan sebagai input pada aplikasi hypoDD. Lalu running aplikasi hypoDD yang hasil displaynya sebagai berikut :

Gambar 3. 5Contoh display setelah running hypoDD

Ketika selesai di run maka yang harus di perhatikan pertama adalah nilai CND yang bisa diperhatikan pada gambar diatas, nilai CND yang tertera belum

42

baik, karena pada referensi yang penulis pakai nilai CND harus pada rentan 40 – 80. Maka yang harus diubah adalah file input hypoDD.inp yaitu nilai DAMP.

Selanjutnya yang diperhatikan adalah file output hypoDD.reloc yaitu kita perhatikan perbandingan jumlah event,kemungkinan jumlah event akan semakin sedikit dibandingkan dengan sebelum direlokasi. Tetapi, ketika event gempa terlalu sedikit kemungkinan banyak event yang tidak terdeteksi oleh hypoDD, dan harus diubah nilai DIST (jarak maksimum antar hiposenter gempa) atau WDCT (jarak antara gempa ke stasiun). Ketika sudah mendapatkan hasil yang maksimal maka kita dapatkan file output hypoDD sebagai berikut:

1. hypoDD.res: berisi residual (tcal-tobs) yang didapatkan dari hasil perhitungan relokasi dengan metode double-difference

2. hypoDD.reloc: berisi lokasi kedalaman dan parameter lain yang sudah di relokasi dengan metode double-difference

3. hypoDD.loc: berisi parameter event sebelum relokasi

4. hypoDD.sta: berisi data stasiun yang dan fase yang telah di relokasi

Selanjutnya kita analisa file hypoDD.res yang berisi hasil residu perhitungan metode double-difference, jika dihasilkan nilai residu yang didominasi nilai yang mendekati 0, maka data hasil relokasi sudah bagus.

b. Membuat histogram hasil dari relokasi Double-Difference

Setelah didapatkan hasil dari relokasi Double-Differencemaka yang harus dilakukan pertama kali adalah membuat histogram karna jika didapatkan nilai residu yang tidak terlalu bagus maka harus dilakukan pengolahan ulang dengan hypoDD, contoh dari hasil pembuatan histogram dengan excel adalah:

43

Gambar 3. 6. Contoh histogram hasil residual hypoDD

Jika didapatkan grafik seperti diatas dan nilai residual banyak yang mendekati nilai 0, maka sebetulnya nilai residual sudah baik, dan dilanjutkan dengan pemetaan hasil relokasi.

c. Pemetaan data distribusi gempabumi sebelum dan sesudah relokasi

Untuk dapat melihat perbedaan antara event gempabumi sebelum dan sesudah relokasi maka dalam penelitian ini dibutuhkan pemetaan hasil sebelum dan sesudah relokasi yang sudah di proses di hypoDD. Dalam pemetaan ini digunakan software GMT untuk melakukan pemetaan. Berikut adalah contoh scriptgempabumi:

Gambar 3. 7Contoh Script GMT untuk distribusi gempabumi

Setelah dibuat skrip GMT, maka pemetaan pun siap untuk dilakukan, berikut adalah pemetaan distribusi gempabumi sebelum relokasi menggunakan GMT yang telah diproses:

Gambar 3. 8Contoh Peta Topografi Dengan GMT (raga-bhumi)

45

Setelah didapatkan hasil distribusi gempabumi sebelum relokasi, kita sudah bisa melanjutkan untuk membuat hasil distribusi gempabumi setelah relokasi. Dan ketika sudah bisa dibandingkan hasil sebelum dan sesudah relokasi, maka selanjutnya yang penulis lakukan adalah membuat segmen dan membuat cross-section.

d. Membuat cross-section gempabumi

Cross-section gempabumi berfungsi sebagai analisa perubahan hasil relokasi

sebelum dan sesudah relokasi pada parameter kedalaman fokus gempabumi.

Sebelum menentukan cross-sectiongempabumi, ditentukan segmen-segmen untuk memisahkan daerah-daerah penelitian pada hiposenter yang akan dibahas pada penelitian ini. Gunanya sebagai analisa perubahan secara mendetil pada seluruh hiposenter event gempabumi dan juga melihat garis subduksi pada daerah penelitian.

46

Gambar 3.9 Diagram alir penelitia Menyiapkan Data

Membuat input parameter (stasiun.dat, fase.pha, ph2dt.inp)

untuk di olah di program ph2dt

Mendapatkan output dari ph2dt (event.dat, dt.ct & stasiun.dat)

Membuat input hypoDD yaitu hypoDD.inp

Mendapatkan output hypoDD.loc, hypoDD.reloc, hypoDD.res dan

hypoDD.sta

CND 40-80

Residual ≈ 0 Tidak

Selesai

47

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Parameter Hasil Sebelum dan Sesudah Relokasi Hiposenter Menggunakan Metode Double-Difference

Hasil hiposenter pengolahan data dengan menggunakan metode Double-Difference dengan software hypoDD versi 1.3 sudah memenuhi kriteria standar dari hasil relokasi hiposenter yaitu CND 40-80 dan residual mendekati 0, dilakukan percobaan hingga beberapa kali agar menghasilkan data yang optimal.

Dibawah ini terdapat tabel hasil sebelum dan sesudah 10 event gempa dan juga parameter-parameternya.

Tabel 4. 1Parameter gempabumi sebelum direlokasi

NO Tangggal OT (UTC) Lat (LS) Long (BT) Depth (Km) Magnitudo

1 1/15/2015 14:01:53 -4.78 102.82 31 5.5

2 1/16/2015 10:31:41 -6.25 105.37 10 3.2

3 1/16/2015 20:43:41 -7.58 106.35 10 4.6

4 1/17/2015 8:24:03 -6.73 105.2 28 4

5 1/17/2015 11:35:28 -4.68 102.66 28 4.6

6 1/20/2015 14:34:51 -5.35 102.6 3 5.1

7 1/23/2015 12:57 -4.6 104.33 160 4

8 1/23/2015 17:48:31 -4.63 101.98 12 3.1

9 1/26/2015 13:11:54 -6.46 104.45 10 4.5

10 1/27/2015 5:51:09 -4.84 102.28 16 3.4

48

Tabel 4. 2Parameter gempabumi sesudah direlokasi

No Tanggal OT(UTC) Lat(LS) Long(BT) Depth (KM) Magnitude 1 1/15/2015 14:01:52 -4.82278 102.828 22.672 5.5

2 1/16/2015 10:31:41 -6.25135 105.3713 10.003 3.2 3 1/17/2015 20:43:41 -7.58377 106.3476 9.763 4.6 4 1/17/2015 8:24:03 -6.72897 105.1979 24.099 4 5 1/17/2015 11:35:28 -4.67997 102.6609 27.852 4.6

6 1/20/2015 14:34:51 -5.35047 102.62 2.989 5.1

7 1/23/2015 12:57:02 -4.59937 104.3286 160.016 4 8 1/23/2015 17:48:31 -4.63511 101.9809 12.156 3.1 9 1/26/2015 13:11:54 -6.46101 104.4473 9.931 4.5 10 1/27/2015 5:51:09 -4.84045 102.2804 16.319 3.4

Pada table sebelum dan sesudah direlokasi, terlihat bahwa parameter gempabumi tidak berbeda pada parameter Tanggal, Origin Time, Magnitude dan Lokasi. Tetapi, pada Latitude, Longitude dan Kedalaman.Parameter setelah direlokasi terlihat berbeda dan mempunyai nilai yang lebih detail dibandingkan sebelum relokasi, ini menandakan bahwa hasil setelah relokasi sudah mendekati keadaan yang sesungguhnya.

4.2 Peta Sebaran Gempabumi Sebelum dan Sesudah Relokasi

Peta Distribusi dibuat untuk melihat hasil perbedaan hasil relokasi dan juga perbandingannya dengan event gempabumi sebelum direlokasi, sehingga dapat diketahui seberapa banyak perubahan yang terjadi setelah direlokasi.

49

Gambar 4. 1Peta Persebaran Gempabumi Sebelum Direlokasi

Gambar diatas tidak memiliki parameter kedalaman maupun magnitude ini dimaksudkan agar pembaca dapat mengamati perubahan dalam hasil relokasi gempabumi. Pada peta persebaran diatas digunakan warna merah untuk membedakan hasil sebelum dan sesudah relokasi.

Gambar 4. 2Peta Persebaran Gempabumi Setelah Direlokasi.

50

Ketika dibandingkan hasil persebaran gempabumi sebelum maupun setelah relokasi tidak jauh berbeda satu sama lain. Tetapi ketika hasil overlaymenunjukan hasil yang berbeda pada beberapa gempa.

Gambar 4. 3Hasil Overlay Sebelum dan Setelah Relokasi ( = sebelum relokasi,

= setelah relokasi)

Disini kita dapat melihat bahwa hasil relokasi berbeda dengan hasil sebelum relokasi, ada dua event gempa yang ternyata tidak sesuai dengan sebelum direlokasi, kita bisa melihat pada event gempa di Sumatra Selatan, titik merah menunjukan bahwa event gempa telah berpindah posisi ke selatan. Juga pada daerah Jawa Barat event gempabumi telah berpindah ke selatan berdekatan dengan gempa lain. Hal ini menunjukan bahwa gempabumi telah berpindah ke lokasi yang berdekatan dengan perbatasan lempeng indo-australia ke sebelah selatan.

51

4.2 Cross-Section Sebelum dan Setelah Relokasi

Tujuan dari dilakukannya cross section adalah untuk melihat kedalaman dan jarak dari perubahan hiposenter suatu event gempa, tidak hanya itu pada cross-section

kita juga dapat melihat perubahan hasil relokasi yang lebih baik dari ketepatan pada bentuk zona subduksi pada lokasi gempa.

Gambar 4. 4Hasil Cross-Section Sebelum dan Sesudah Relokasi A-A’ ( = Sebelum Relokasi, = Sesudah Relokasi)

52

Gambar 4. 5. Hasil Cross-Section Sebelum dan Sesudah Relokasi B-B’ ( = Sebelum Relokasi, = Sesudah Relokasi)

53

Gambar 4. 6Hasil Cross-Section Sebelum dan Sesudah Relokasi B-B’ ( = Sebelum Relokasi, = Sesudah Relokasi)

Cross-Section A-A’ diatas merupakan distribusi gempa-bumi dan juga

hasil cross-section A-A’ yang lokasi nya berada pada Sumatra Selatan, didapatkan hasil relokasi yang banyak berubah pada parameter Kedalaman, banyak gempa setelah direlokasi bertambah dangkal, dan juga ada juga event gempabumi yang 54

bertambah kedalamannya setelah direlokasi, jarak perubahan kedalaman event gempabumi 0.5 Kilometer sampai 30 Kilometer.

Cross-section gempabumi segmen B-B’ setelah direlokasi menghasilkan

kedalaman yang bergelombang pada kedalaman kurang lebih 10 Kilometer, sedangkan sebelum direlokasi bentuk dari cross-section datar, karna banyak parameter kedalaman hanya 10 Kilometer saja, sementara ketika direlokasi parameter kedalaman di semua event tidak sama dan bervariatif. Dan juga beberapa gempa di tempat tertentu mengalami perubahan kedalaman yang signifikan.

Cross-section gempabumi segmen C-C’ setelah direlokasi tidak jauh

berbeda dengan segmen sebelumnya, beberapa gempa mengalami perubahan parameter kedalaman.

Walaupun tidak terlihat pada cross-section maupun distribusi gempa, kesemua hasil relokasi mempunyai kedalaman berbeda dan bervariasi.

Kebanyakan, sebelumrelokasi kedalaman hanya menunjukan hasil yang tidak detail dan tidak bervariasi, ketika direlokasi hasil menjadi lebih detail dan bervariasi, misalkan sebelum direlokasi kedalaman hanya 10 Kilometer, hasil setelah relokasi kedalaman berubah menjadi 10,521, hal ini menunjukan bahwa dengan metode Double-Difference tidak hanya lebih baik tetapi juga mendekati kondisi alam yang sebenarnya.

55

4.3 Residual Sebelum dan Setelah Relokasi

Residual pada penelitian ini diperlukan sebagai parameter penting untuk melihat ketepatan gempabumi, karna ketika residual mendekati nilai 0 maka letak hiposenter menunjukan bahwa hasil lebih mendekati pada kondisi alam sebenarnya berdasarkan formula untuk mencari residual yaitu tcal-tobs.

Gambar 4. 7. Grafik Residual Sebelum Relokasi

Histogram diatas menunjukan bahwa sebelum direlokasi menunjukan bahwa nilai 1 pada residual cukup mendominasi hingga banyak nilai residual mencapai lebih dari 70. Walaupun ada beberapa dari nilai residual mendekati 0 tetapi tidak ada residual yang benar-benar bernilai 0, rata-rata dari total residual sebelum relokasi adalah 0,568.

0

Gambar 4. 8.Grafik Residual Sebelum Relokasi

Grafik diatas menunjukan setelah relokasi, hasil dari residual semakin membaik terlihat dari banyaknya nilai 0 pada hasil residual relokasi, ini menandakan bahwa setelah relokasi, lokasi hiposenter mendekati keadaan yang sebenarnya. Walaupun demikian masih terlihat kekurangan karna nilai residual beberapa ada yang lebih dari 5 dan -5. Hasil relokasi ini mempunyai nilai rata-rata residual 0.501, yang artinya lebih kecil dibanding sebelum relokasi.

4.5 Perbandingan Hasil Relokasi Gempa Diatas 5 SR di Instansi Terkait Dalam menentukan hiposenter gempa dibutuhkan data gempa dari instansi terkait untuk dijadikan bahan untuk penelitian relokasi hiposenter, data yang saya ambil adalah dari data yang diolah di SeisComp3 milik BMKG, perbandingan diperlukan agar mengetahui seberapa besar perubahan yang terjadi akibat relokasi dan bagaimana ia dapat menjadi tolak ukur yang tepat jika dibandingkan dengan instansi-instansi yang merekam kejadian gempa terkait.

0

Tabel 4. 3Perbandingan Parameter dari BMKG, Setelah di Relokasi, dan USGS UTC Latitude Longitude Kedalaman Magnitude Instansi

14:01:53 -4.78 102.82 31 5.5 BMKG

14:01:52 -4.822 102.828 22.67 5.5 Relokasi

14:01:53 -4.762 102.7939 63.5 5.2 USGS

Dalam tabel diatas dapat disimpulkan bahwa parameter setelah di relokasi, sangat berbeda dengan data yang diunduh di USGS, tetapi dengan data BMKG terlihat identik, ini dikarenakan hypoDD melakukan pengolahan data dengan membandingkan gempa-gempa yang diunduh di BMKG sebagai data relokasi.

Sehingga ketika direlokasi, hypoDD hanya menjadikan data-data gempa BMKG dan membandingkan data-data gempa yang identik dengan event gempa yang diproses. Jika dibandingkan dengan parameter-parameter lain USGS dan BMKG tidak memperoleh data yang identikdalam kedalaman maupun magnitude dikarenakan stasiun perekam yang berbeda-beda. Tetapi jika melihat angka dibelakang koma, dalam hasil relokasi, latitude juga longitude, hasil relokasi berupa 6 dijit dibelakang koma, sedangkan USGS 3 dijit, dan BMKG 2 dijit. Ini menandakan bahwa hasil relokasi sangat detil dalam memberikan informasi parameter gempa dibandingkan kedua instansi.

Untuk dapat membandingkan masing-masing parameter dari ketiga tabel diatas dirasa belum memungkinkan, karena adanya perbandingan dari stasiun-stasiun perekam.

58

Gambar 4. 9.Perbandingan Antara Episenter Event Gempabumi (BMKG = ,Setelah Relokasi = , USGS = )

Terlihat bahwa jarak episenter dari ketiga episenter gempa tidak berbeda jauh, tetapi memiliki kecenderungan bahwa gempa yang terekam di BMKG maupun USGS tidak terlalu berbeda, tetapi ketika direlokasi gempa tersebut berpindah kearah selatan dimana gempa tersebut mengikuti/mendekati lempeng tektonik Indoaustralia.

59

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Pada hasil yang telah dibahas sebelumnya, penulis mencatat poin-poin penting pada hasil yang telah didapat, maka kesimpulan yang dapat ditarik adalah:

1. Hasil sudah semakin baik setelah di relokasi karna sebagian besar nilai residual sudah dibawah 1 dan rata-rata residual telah mengalami penurunan dan mendekati 0.

2. Kedalaman yang flat (10 Km) setelah direlokasi didapatkan hasil yang bervariasi, karena hiposenter sudah terelokasi dengan baik terbukti dengan jumlah tobs-tcal yang selisihnya mendekati 0, maka bisa disimpulkan hasil relokasi sudah mendekati kejadian sebenarnya jika dilihat dari statistik.

3. Event episenter terjauh setelah direlokasi berada pada tanggal 4/15/2015 (4:16:18) yang perubahan pada jaraknya 29.92 Km ke Selatan. Sebelum = (-3.47▫LS, 102.97 ▫BT), Sesudah Relokasi = (-3.73926▫LS, 102.96919▫BT ) di Sumatra Selatan.

4. Perubahan kedalaman terdalam setelah direlokasi ada pada event pada tanggal 5/22/2015 (15:21:01) sejauh 48.1 Km di Sumatra Selatan.

5. Hasil gempa setelah direlokasi ketika dibandingkan dengan data dari instansi internasional (USGS) hasilnya tidak terlalu mendekati, ini disebabkan data yang dipakai pada hasil relokasi adalah gempa-gempa yang sebelumnya merupakan data unduhan dari situs BMKG yang mempunyai perbedaan pada stasiun pencatat dan dengan metode yang berbeda, sehingga hasil relokasi hiposenter yang didapatkan tidak sesuai dengan instansi lain.

60

5.2 Saran

Dalam penelitian ini banyak sekali yang dapat ditambahkan maupun diperbaiki, menurut penulis penelitian ini membutuhkan:

1. Kurangnya data, karna penelitian ini hanya menggunakan pengolahan di aplikasi excel maka jumlah event tidak dapat lebih banyak, jika saja menggunakan aplikasi coding penelitian ini akan lebih baik karna data yang dihasilkan otomatis dan secara langsung event gempa yang diolah bisa lebih banyak

2. Penelitian ini membutuhkan penelitian lanjutan mengenai relokasi hiposenter menggunakan metode lain untuk membuktikan keakuratan dalam metode relokasi, agar dapat dibandingkan dan didapat kekurangan serta kelebihan pada metode-metode tertentu.

3. Penelitian ini akan lebih baik jika menggunakan model kecepatan lokal, karna hasil yang didapatkan juga akan semakin baik dan mendekati keadaan alam yang sebenarnya.

61

DAFTAR PUSTAKA

[1] Josef, Imre. (2006). “Alfred Wegener’s Hypothesis on Continental Drift and Its Discussion in Petermanns Geographische Mitteilungen (1912 – 1942)”Polarforschung 75 (1), 29 – 35, 2005 (erschienen 2006)

[2] Verstappen. Th. (2010).”Indonesian Landforms and Plate Tectonics”Jurnal Geologi Indonesia, Vol. 5 No. 3 September 2010: 197-207.

[3] Elnashai, Sarno. (2008). Fundamental of Earthquake Engineering. United Kingdom: Wiley

[4] Sunarjo., Dkk (2010). Gempa Bumi Indonesia Edisi Populer. Jakarta: Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika

[5] Madlazim., Prastowo T. (2016). “Evaluation of Earthquake Parameters Used In Tthe Indonesian Tsunami Early Warning System” Journal of Earth Science February 2016, Volume 29, Issue 1, pp 27–33.

[6] Bock,Y., et al. (2003). “Crustal Motion in Indonesia from Global Positioning System measurement”. Journal of Geophysical Research, Vol. 108, NO. B8, 2367, doi:10.1029/2001JB000324, 2003

[7] Dolce, Mauro., Di Bucci, Daniela. (2015).”Comparing Recent Italian Earthquakes” Bulletin of Earthquake Engineering DOI 10.1007/s10518-015-9773-7

[8] Waldhauser, F., Ellsworth, W.L. (2000). A Double-Diffference Earthquake Location Algorithm: Method and Aplication to the Northern Hayward Fault, California. BSSA, 90, 6, pp. 1353-1368, December 2000

[9] Kramer, Steven. (1996). Geotechnical Earthquake Engineering. Unied States of America: Prentice Hall International Series.

[10] Weber, Bernd., Becker Jan. SeisComP Introducion. June 30, 2014.

Http://www.seiscomp3.org

62

[11] Sari, Deswita (2017) ”Relokasi Hiposenter Gempabumi Menggunakan Metode Modified Joint Hypocener Determination (MJHD) Untuk Analisis Zona Subduksi Sumatra Bagian Selatan”.Skripsi. Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Universitas Lampung.

[12] Sahara., Dkk (2009)”Aplikasi Metode Double-Difference Untuk Relokasi Hiposenter Gempa Vulkanik Gunung Kelud Secara Akurat” JTM Vol, XVI No.1 2009

[13] Waldhauser, F. (2001). HypoDD - A program to Compute Double Difference Hypocenter Locations. U.S. Geol. Survey.

[14] Shearer, Peter M. (2010). Introduction to Seismology: The Wave Equation and Body Waves” California: Institute of Geophysics and Planetary Physics Scripps Intitution of Oceanography University of California, San Diego

[15] Dunn, Meredith M. (2004). Relocation of Eastern Tennessee Earthquake Using hypoDD. (Thesis). Blacksburg: Virginia Polytechnic Institute and State University.

[16] Bunaga, I Gusti K.S., Purwana, Ibnu., Muzli, M.(2015) “Relokasi Parameter Hiposenter Di Wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) Dan Sekitarnya Dengan Menggunakan Metode Double Difference” Jurnal Fisika dan Aplikasinya, Vol 16, No, Oktober 2015

[17] Maulidah, Dewi Fajriyyatul., Santosa, Bagus Jaya.(2016). “Analisa Persebaran Seismisitas Selatan Menggunakan Metode Double Difference” Jurnal Sains dan Seni ITS Vol. 5 No.2 (2016) 2337-3520 (2301-928X Print)

63

LAMPIRAN

LAMPIRAN 1

Format Data Arrival Time BMKG

64

LAMPIRAN 2

Format Data hypoDD

65

LAMPIRAN 3

Stasiun Perekam Data Gempa

66

67

LAMPIRAN 4

Input phdt.inp dan hypoDD.inp

68

LAMPIRAN 5

Hasil Pengolahan hypoDD.reloc Acxcz

69

asd

70

asd

71

Hasil hypoDD.res

72

73

74

Dokumen terkait