• Tidak ada hasil yang ditemukan

ASPEK-ASPEK PENDIDIKAN ISLAM DALAM SURAT AL-HUJURAT AYAT 11-13 DAN APLIKASINYA

B. Aplikasi Aspek Pendidikan Islam dalam Surat al-Hujurat ayat 11-13

1. Aplikasi Pendidikan Akhlak

Menurut Prof. Dr. H. Zakiah Daradjat, pendidikan akhlak perlu dilakukan dengan cara:

a. Menumbuhkembangkan dorongan dari dalam, yang bersumber pada

iman dan takwa. Hal ini bertanda pentingnya pendidikan agama.

b. Meningkatkan pengetahuan tentang akhlak al-Qur’an lewat ilmu

pengetahuan, pengamalan dan latihan, agar dapat membedakan yang baik dan yang buruk.

c. Meningkatkan pendidikan kemauan yang dapat mempengaruhi pikiran

dan perasaan agar dapat menumbuhkan kebebasan pada manusia untuk memilih yang baik dan melaksanakannya.

d. Melatih untuk melakukan yang baik dan mengajak orang lain untuk

melakukan perbuatan baik secara bersama-sama tanpa paksaan.

e. Membiasakan dan mengulang melaksanakan yang baik sehingga

perbuatan yang baik itu menjadi keharusan moral dan perbuatan akhlak terpuji.17

Untuk lebih jelasnya, penulis rincikan berdasarkan aspek-aspeknya masing-masing, sebagai berikut:

a. Larangan Menghina Orang Lain

Larangan menghina orang lain adalah bentuk antisipasi dan kehati-hatian dari terjerumus ke dalam perbuatan sombong. Masalah ini adalah masalah yang besar dan penting yang memerlukan perhatian khusus.

17

Zakiah Daradjat, Pendidikan Islam dalam Keluarga dan Sekolah, (Jakarta: CV. Ruhama, 1995), Cet. II, h. 11.

66

Timbulnya perbuatan menghina orang lain tidak terlepas dari adanya sifat sombong dalam diri. Artinya selalu merasa lebih tinggi dan mulia dari orang lain. Salah satu tindakan preventif dari perbuatan menghina adalah membiasakan hidup tawadhu (tidak sombong). Proses pendidikan tawadhu pada dasarnya adalah upaya penanaman nilai kerendahan hati dan untuk menjauhkan diri dari sifat sombong.

H.M. Saefuddaullah dan Ahmad Basyuni memberikan wasilah-wasilah sebagai terapi penyembuh sifat sombong (takabur) yaitu: 1. Mengingat akibat-akibat dan bahaya-bahaya sifat sombong.

2. Mengunjungi orang yang sedang dirundung duka, agar dapat

menggerakkan hatinya untuk kembali kepada Allah SWT. Seperti menjenguk orang sakit, mengantar jenazah dan ziarah kubur.

3. Berteman dengan orang-orang yang memiliki sikap rendah hati.

Seperti menghadiri majlis-majlis ta’lim yang diasuh oleh ulama yang memiliki jiwa tawadu’.

4. Senang duduk-duduk bersama dengan orang-orang lemah fakir

miskin.

5. Melakukan intropeksi diri untuk mengetahui penyakit-penyakit

hati yang bersemayam di dalam dirinya.

6. Merenungkan alam semesta dan nikmat yang telah diperoleh

sejak yang paling kecil hingga yang sebenar-benarnya. Dan riwayat hidup orang-orang takabur, seperti Iblis, fir’aun dan Abu Jahal.18

Terapi penyembuhan diri dari kesombongan tersebut merupakan upaya untuk menjauhkan diri dari penyakit tersebut dan berupaya menanamkan sikap kerendahan hati di dalam jiwa.

Dalam upaya menanamkan sifat tawaduk dan mencegah anak didik dari sifat takabur atau sombong, maka pendidik dapat

18

menggunakan beberapa metode diantaranya, metode ceramah, metode kisah, metode ibrah dan muidzah, dan metode teladan.

Metode ceramah dapat dimanfaatkan oleh pendidik untuk memberitahukan kepada anak didik, tentang akibat-akibat dan bahaya menghina orang lain (kesombongan), dan manfaat kerendahan hati. Penggunaan metode ceramah tersebut diyakini dapat menumbuhkan dan menanamkan apresiasi dari penghayatan

terhadap kedua sikap tersebut.19 Sehingga dengan penghayatan

tersebut anak didik selalu menjadi teringat sifat tersebut, dan menjadi pendorong untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

b. Larangan Berburuk Sangka

Di balik larangan berburuk sangka terdapat perintah untuk selalu positif thinking (berprasangka baik). Oleh karena itu, dalam mengaplikasikan anjuran untuk berbaik sangka, pendidik dapat menggunakan beberapa metode diantaranya metode keteladanan yaitu dengan cara memberi contoh apabila ada siswa yang tidak bisa masuk sekolah, seorang pendidik menganggap bahwa siswa tersebut sedang ada keperluan dan tidak menganggap bahwa siswa tersebut malas belajar. Metode keteladanan dapat dijadikan cara yang lebih efektif dalam menanamkan sikap berprasangka baik kepada orang lain, terlebih lagi kepada orang baik. Sebab anak didik cenderung meneladani gurunya dan menjadikannya sebagai tokoh identifikasi dalam segala hal, sebab secara psikologis anak adalah seorang peniru yang ulung. Selanjutnya pendidik dapat mengaplikasikan aspek tersebut dengan mengajarkan anak didiknya manfaat berprasangka baik (metode nasihat) dan menegaskan bahwa berburuk sangka merupakan perbuatan dosa, serta dapat menguras energy yang luar

19

Ramayulis, Metodologi Pengajaran Agama Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2001), Cet. Ke-3, h. 135

68

biasa, akibatnya hidup menjadi tidak produktif. Metode pembiasaan juga dapat digunakan yaitu dengan cara membiasakan agar siswa selalu berprasangka baik dalam segala hal, kecuali bila ditemukan bukti kuat yang mendukung dugaan tersebut.

Demikianlah metode keteladanan, metode nasihat dan pembiasaan yang dapat dilakukan dalam rangka menanamkan agar anak selalu berpikir positif.

c. Larangan Ghibah (Menggunjing)

Bila kita teliti lebih dalam maka kita akan mendapatkan bahwa sesungguhnya dibalik larangan menggunjing terdapat perintah untuk bersikap kasih sayang dan menghormati sesama. Artinya jika terdapat rasa kasih sayang maka tidak akan terjadi seorang penghinaan terhadap orang lain.

Oleh karena itu, dalam mengaplikasikan larangan tersebut pendidik dapat mempergunakan beberapa metode yaitu; metode keteladanan, metode pembiasaan, metode targhib, tarhib dan metode kisah.

Proses pendidikan kasih sayang yang diajarkan pada anak didik bukan hanya merupakan sebuah tindakan preventif dari penghinaan terhadap orang lain, tetapi lebih besar dari itu. Kasih sayang yang diberika kepada makhluk yang menjadi sebab turunnya rahmat Allah SWT dan tentunya kecintaan yang besar dari makhluk tersebut.

Metode keteladanan, yang dapat dijadikan cara yang lebih efektif oleh pendidik dalam menanamkan sifat kasih sayang tersebut kepada anak didiknya. Sebab “anak didik cenderung meneladani gurunya dan menjadikannya sebagai tokoh identifikasi dalam segala

hal, sebab secara psikologis anak adalah seorang peniru yang ulung”.20

Selanjutnya pendidik dapat mengaplikasikan aspek dengan mengajarkan kepada anak didiknya manfaat kasih sayang serta menjelaskan bahwa menyakiti dan menghina saudaranya sesama muslim adalah dosa besar. Sebagaimana firman Allah SWT yang berbunyi:

)

ا

ﺬ ﻻ

ا

\

׃

۵

(

Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, Maka Sesungguhnya mereka Telah memikul kebohongan dan dosa

yang nyata.(QS. Al-Ahzab: 58)

Dengan demikian diharapkan anak didik dapat mengambil pelajaran yang banyak serta dapat menggugah hatinya untuk menjalankan perintah-Nya. Karena menurut Ibrahim Amini ada dua tahapan yang harus diterapkan pada diri siswa agar dapat menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya yaitu dengan memberikan penjelasan kepada anak didik tentang betapa pentingnya melaksanakan perintah agama. Misalnya mengajarkan keagungan Allah SWT, kebesaran Nabi Muhammad SAW dan kasih sayang-Nya yang begitu besar dengan menyebutkan tentang karunia Allah SWT yang sangat melimpah, agar kasih sayang Allah SWT selalu diingat anak didik. Dan yang kedua dengan mengdisiplinkan artinya melatih anak didik untuk mengaplikasikan nilai kasih sayang

20

70

tersebut dalam kehidupan sehari-hari baik kepada teman sepermainan atau yang lebih tua darinya.21

Selain itu pendidik juga dapat mendidik mereka dengan membiasakan untuk berkata yang baik kepada pendidik dan teman-temannya, membiasakan untuk tidak mengejek-ejek, menghina dan tidak memanggil sesama temannya dengan panggilan yang buruk (laqob). Serta apabila ada di antara mereka yang bertengkar maka damaikanlah keduanya. Hal ini adalah tindakan antisipatif yang perlu ditanamkan dalam jiwa anak didik di samping penanaman rasa persaudaraan sesama muslim.

Berdasarkan uraian di atas maka aplikasi yang dapat dilakukan adalah dengan beberapa metode yaitu; metode keteladanan, metode nasihat, metode kisah dan metode tarhib.

Dokumen terkait