BAB II TINJAUAN TEORI
2.3 Degreasing Solvent
2.3.2 Aplikasi Penggunaan Degreasing Solvent
Degreasing solvent dapat digunakan sebagai pelarut pembersih di berbagai industri sesuai dengan karakternya masing – masing. Industri yang biasa menggunakan degreasing solvent adalah industri otomotif, elektronik, pipa, pesawat terbang, pendinginan, dan bisnis industri mesin. Selain sebagai degreasing solvent, banyak juga digunakan untuk aplikasi lainnya seperti percetakan, bahan kimia, plastik, karet, tekstil, kaca, dan tenaga listrik. Bengkel-bengkel kendaraan bermotor dan peralatan listrik juga tidak lepas dari penggunaan degreasing solvent. Proses pembersihan langsung ke permukaan dapat melalui penyemprotan, menyikat, atau menyeka. Proses ini menghilangkan minyak-minyak, kotoran, partikel, dan kontaminan lainnya yang mungkin ada pada permukaan material secara langsung.
Keunggulan penggunaan degreasing solvent adalah sebagai pembersih logam dan pembersih elektronik (Speight, 2002).
21
BAB III
METODOLOGI PELAKSANAAN
Dalam melaksanakan Tugas Akhir, mahasiswa diharapkan mampu melakukan studi kasus yaitu mengangkat suatu kasus yang dijumpai di tempat Tugas Akhir menjadi suatu kajian sesuai dengan bidang keahlian yang ada ataupun melakukan pengamatan terhadap suatu proses atau alat untuk kemudian dikaji sesuai dengan bidang keahlian yang dimiliki. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen, dengan penjelasan sebagai berikut :
3.1 Alat dan Bahan 3.1.1 Alat
Alat yang digunakan dalam pengujian ini adalah Automated Atmospheric Distillation Analyzer (ASTM D-86), Beaker Glass, Copper Strip Test (ASTM D-130), Gelas Ukur, Hydrometer (ASTM D-1298), Labu Erlenmeyer, Lempengan Tembaga, Manual Pensky-Martens Closed Cup Analyzer (ASTM D-56), Manual Saybolt Chromometer Color (ASTM D-156), Stopwatch, dan Thermometer.
3.1.2 Bahan
Bahan yang digunakan dalam pengujian ini adalah Aquadest, Aseton, Indikator Phenolphthalein, Larutan Iso-Oktana, Larutan NaOH 0,1 N, Naphtha, Sampel Solphy-2, dan Tissue.
3.2 Prosedur Kerja
3.2.1 Uji Wujud (Appearance) dan Uji Warna (Color Saybolt) 1. Uji Wujud (Appearance)
Diagram 3.1 Diagram Alir Uji Wujud (Appearance) Sampel Solphy-2 diletakkan di botol kaca yang tidak berwarna kemudian diletakkan di atas kertas berwarna putih.
Setelah itu sampel Solphy-2 diamati wujudnya secara visual.
Langkah selanjutnya yaitu membandingkan hasil yang telah diamati dengan standar spesifikasi yang telah ditetapkan oleh PT Pertamina (Persero).
Letakkan botol kaca di atas kertas yang berwarna putih Mulai
Masukkan sampel Solphy-2 ke dalam botol kaca
Amati sampel Solphy-2 secara visual
Selesai
Catat Hasil Pengujian dari Uji Wujud (Appearance)
2. Uji Warna (Color Saybolt)
Diagram 3.2 Diagram Alir Uji Warna (Color Saybolt) Pertama, memasukkan sampel Solphy-2 ke dalam Tabung pada alat Saybolt Chromometer Color (ASTM D-156). Setelah itu, menyalakan lampu penerangan terlebih dahulu pada bagian belakang alat tersebut kemudian mencocokkan warna pada sampel Solphy-2 dengan warna standar pada alat, dimana warna standar yaitu udara yang ada dalam tabung lain.
Apabila warna pada sampel Solphy-2 belum cocok dengan warna standar pada alat maka perlu dilakukan pengurangan volume
Nyalakan lampu penerangan pada bagian belakang alat
Cocokkan warna sampel Solphy-2 dengan warna standar Masukkan sampel Solphy-2 ke
dalam Tabung Saybolt Chromometer Color
Mulai
Catat hasil pengujian dari uji Warna (Color Saybolt)
Selesai
pada sampel Solphy-2 yang ada di dalam Tabung. Setelah itu, lakukan hal tersebut sampai didapatkan kesamaan warna antara warna sampel Solphy-2 dengan warna standar pada alat. Dari titik ini diteruskan pengurangan volume pada sampel Solphy-2 sampai mendekati skala pada warna standar yang terdapat pada tabung lain.
Apabila warna sampel Solphy-2 masih tampak lebih gelap dibandingkan warna standarnya maka diteruskan pengurangan volume pada sampel Solphy-2 sampai skala berikutnya hingga diperoleh warna yang sesuai dengan warna standarnya. Setelah itu, mencatat hasil yang didapat pada pengujian tersebut yaitu berupa skala kedalaman warna sampel Solphy-2 yang ada di dalam Tabung tersebut dengan skala warna standar yang terdapat pada alat kemudian mencocokkan hasil yang didapat tersebut dengan tabel yang terdapat pada alat Saybolt Chromometer Color (ASTM D-156).
Pengujian ini dilakukan berdarkan metode ASTM D-156.
Setelah itu, membandingkan hasil yang didapat tersebut dengan standar spesifikasi yang telah ditetapkan oleh PT Pertamina (Persero).
3.2.2 Uji Kerapatan Relatif (Specific Gravity) pada 60/60 oF
Diagram 3.3 Diagram Alir Uji Kerapatan Relatif (Specific Gravity) pada 60/60 oF
Pertama, menyalakan instrumen dan dikalibrasi terlebih dahulu. Setelah itu, menekan tombol “Pump” untuk menginjeksikan Aquadest dengan selang kemudian menekan tombol “Pump” lagi untuk mengakhirinya dan instrumen akan bekerja selama 2 menit.
Alat Density or Spesific Gravity Meter mulai bekerja selama 2 menit
Pengujian Spesific Gravity dari sampel Solphy-2 dimulai Mulai
Injeksikan sampel Solphy-2 ke dalam alat Density or Spesific
Gravity Meter
Catat hasil pengujian dari Uji Spesific Gravity
Selesai
Langkah selanjutnya yaitu menginjeksikan Aseton pada selang dengan cara yang sama yaitu menekan tombol “Pump”
kemudian menekan tombol “Pump” lagi untuk mengakhirinya dan instrumen akan bekerja selama 2 menit.
Langkah berikutnya yaitu mengeringkan selang pada instrumen dengan cara menekan tombol “Purge” 2 kali. Jika sudah kering selanjutnya menekan tombol “Start Cell” yang berfungsi sebagai pengantar bahwa akan dilakukan kalibrasi pada instrumen dengan menggunakan Aquadest. Setelah itu menekan tombol
“Pump” untuk menginjeksikan Aquadest dengan selang dan memastikan tidak terdapat gelembung disepanjang selang kemudian menekan tombol “Pump” lagi untuk mengakhirinya dan instrumen akan bekerja selama 2 menit. Setelah itu, menekan tombol “Start” untuk memulai kalibrasi instrumen dengan Aquadest kemudian hasil kalibrasi dari Aquadest akan langsung keluar dan catat hasilnya.
Langkah selanjutnya yaitu menyiapkan sampel Solphy-2 kemudian menekan tombol “Pump” untuk menginjeksikan sampel Solphy-2 dengan selang dan memastikan tidak terdapat gelembung disepanjang selang. Setelah itu menekan tombol “Pump” lagi untuk mengakhirinya dan instrument akan bekerja selama 2 menit.
Selanjutnya, menekan tombol “Start” untuk memulai pengujian
Spesific Gravity dari sampel Solphy-2. Setelah itu, hasil pengujian tersebut akan langsung keluar dan catat hasilnya.
Langkah selanjutnya yaitu membersihkan instrumen dengan Naphtha (pelarut dari sampel Solphy-2) dengan cara menginjeksikannya dan menekan tombol “Pump”. Setelah itu, menekan tombol “Pump” lagi untuk mengakhirinya dan instrumen akan bekerja selama 2 menit. Selanjutnya, menekan tombol
“Purge” 2 kali untuk mengeringkan selang pada instrumen. Jika sudah kering, matikan instrumen. Pengujian ini dilakukan berdasarkan metode ASTM D – 1298.
Langkah selanjutnya yaitu membandingkan hasil yang didapat dengan standar spesifikasi yang telah ditetapkan oleh PT Pertamina (Persero).
3.2.3 Uji Distilasi (Distillation)
Diagram 3.4 Diagram Alir Uji Distilasi (Distillation) Pertama, memasukkan sampel Solphy – 2 ke dalam Labu Distilasi sebanyak 100 mL. Setelah itu, merangkai Alat Distilasi dan memasang Termometer pada leher Labu Distilasi kemudian menghidupkan Alat Pemanas dan mengatur suhunya sesuai dengan kondisi pengujian sampel. Setelah itu, menaruh Gelas Ukur pada
Hidupkan Alat Pemanas
Atur kenaikan suhu pada Alat Pemanas dengan Stopwatch yaitu setiap 5 mL harus dalam 1 menit
Mulai
Masukkan sampel Solphy-2 sebanyak 100 mL ke dalam Labu Distilasi dan
Rangkai Alat Distilasi
Catat titik didih awal (IBP), titik didih akhir (FBP), titik kering (DP) dan suhu pada Volume Recovery yaitu 5%,
10%, 20%, 30%, 40%, 50%, 60%, 70%, 80%, 90%, dan 95%
Selesai
ujung Kondensor dan menutupnya dengan Aluminium Foil untuk mencegah uap distilat keluar..
Langkah selanjutnya yaitu mencatat titik didih awal (IBP), titik didih akhir (FBP), titik kering (DP), dan suhu pada Volume Recovery yaitu 5%, 10%, 20%, 30%, 40%, 50%, 60%, 70%, 80%, 90%, dan 95%. Catat titik didih awal ketika dimulai dengan keluarnya distilat dari ujung Kondensor pada tetesan pertama yang terjatuh di Gelas Ukur. Catat titik didih akhir yaitu pada saat mencapai suhu tertinggi. Catat titik kering yaitu saat distilat sudah tidak menetes lagi pada Gelas Ukur dari ujung Kondensor.
Langkah selanjutnya adalah mengatur kenaikan suhu pada Alat Pemanas dengan Stopwatch yaitu setiap 5 mL harus dalam 1 menit. Jika kurang atau lebih dari 1 menit maka suhu harus selalu diatur sampai konstan dalam waktu 1 menit. Apabila pengujian telah selesai dilakukan, selanjutnya mematikan Alat Pemanas dan membiarkan Labu Distilasi menjadi dingin terlebih dahulu. Setelah itu, menuangkan sisa sampel Solphy-2 yang ada di Labu Distilasi ke Gelas Ukur sebagai Residu yang didapat kemudian menghitung Volume Residu dengan cara mengurangi Volume Awal sampel Solphy-2 dengan Volume Distilat yang didapat pada Gelas Ukur.
Hasil Volume Residu tidak boleh lebih dari 2%.
Pengujian ini dilakukan berdasarkan metode ASTM D-86.
Setelah itu, membandingkan hasil yang telah dicatat dengan spesifikasi yang telah ditetapkan oleh PT Pertamina (Persero).
3.2.4 Uji Titik Nyala (Flash Point)
Diagram 3.5 Diagram Alir Uji Titik Nyala (Flash Point) Letakkan wadah pengujian pada Alat Manual Pensky – Martens
Closed Cup kemudian Pasang Termometer dan Pengaduk pada Alat tersebut
Hidupkan Alat Pemanas dan atur kenaikan suhu pada Alat Pemanas tersebut dengan Stopwatch yaitu
setiap 5 oC harus dalam 1 menit
Nyalakan api pencoba dan atur diameter api Mulai
Masukkan sampel Solphy-2 ke dalam wadah pengujian sampai batas tera
Arahkan api pencoba mulai dari suhu 23 ± 5 oC
Catat suhu pada termometer saat terjadi penyambaran api yang terang.
Itulah yang dinamakan Titik Nyala (Flash Point)
Selesai
Pertama, memasukkan sampel Solphy-2 ke dalam wadah pengujian flash point sampai tanda batas yang tertera pada wadah tersebut. Suhu sampel Solphy-2 dan wadah pengujian minimal 18oC (dibawah perkiraan titik nyala yang sudah ditentukan).
Setelah itu, meletakkan wadah pengujian pada peralatan uji kemudian menghidupkan Alat Pemanas dan mengatur suhunya sesuai dengan kondisi pengujian sampel. Setelah itu, memasang Termometer dan Pengaduk pada peralatan uji
Langkah selanjutnya yaitu mengatur kenaikan suhu yang terjadi pada Alat Pemanas dengan Stopwatch yaitu sebesar 5 oC per menit. Setelah itu menyalakan api pencoba dan mengatur diameter api. Kemudian mengarahkan api pencoba mulai dari suhu 23 ± 5 oC dibawah perkiraan titik nyala yang sudah ditentukan.
Saat mengarahkan api pencoba, pengadukan dihentikan.
Titik nyala dibaca saat terjadi penyambaran api yang terang.
Setelah itu, mencatat suhu yang tertera pada Termometer.
Pengujian ini dilakukan berdasarkan metode ASTM D-56.
Setelah itu, membandingkan hasil yang dicatat dengan suhu dari standar spesifikasi yang telah ditetapkan oleh PT Pertamina (Persero).
3.2.5 Uji Bau (Odour)
Diagram 3.6 Diagram Alir Uji Bau (Odour)
Pertama, menuangkan sampel Solphy-2 ke dalam Botol Kaca. Setelah itu melakukan pengujian dengan metode manual yaitu menggunakan panca indera penciuman (hidung) kemudian menghirup secara perlahan aroma yang terdapat pada sampel Solphy-2. Setelah itu mencatat hasil yang didapat.
Langkah selanjutnya yaitu membandingkan hasil yang didapatkan dengan standar spesifikasi yang telah ditetapkan oleh PT Pertamina (Persero).
Lakukan pengujian dengan metode manual yaitu menggunakan panca indera penciuman (hidung)
Hiruplah secara perlahan aroma yang terdapat pada sampel Solphy-2
Mulai
Masukkan sampel Solphy-2 ke dalam Botol Kaca
Catat hasil pengujian dari Uji Bau (Odour)
Selesai
3.2.6 Uji Keasaman (Acidity)
Diagram 3.7 Diagram Alir Uji Keasaman (Acidity) Tambahkan Aquadest sebanyak 100 mL ke dalam Labu
Erlenmeyer
Tambahkan Indikator Phenolphthalein sebanyak 2 tetes ke dalam Labu Erlenmeyer
Goyangkan Labu Erlenmeyer tersebut sampai terbentuk 2 lapisan
Tambahkan Larutan NaOH 0,1 N tetes demi tetes dengan Pipet Tetes sampai larutan tersebut berubah warna menjadi merah muda (pink) yang artinya larutan tersebut bebas dari
kandungan asam (neutral) Mulai
Masukkan sampel Solphy-2 sebanyak 100 mL ke dalam Labu Erlenmeyer
Catat hasil pengujian dari uji Keasaman (Acidity)
Selesai
Pertama, menuangkan sampel Solphy-2 sebanyak 100 ml ke dalam Labu Erlenmeyer. Setelah itu, menambahkan Aquadest sebanyak 100 ml ke dalam Labu Erlenmeyer kemudian menambahkan Indikator Phenolphthalein sebayak 2 tetes ke dalam Labu Erlenmeyer. Setelah itu, menggoyangkan Labu Erlenmeyer tersebut sampai terbentuk 2 lapisan. Fungsi digoyangkannya Labu Erlenmeyer tersebut untuk mengekstrak kandungan asam yang terdapat pada sampel Solphy-2.
Langkah selanjutnya yaitu menambahkan Larutan NaOH 0,1 N tetes demi tetes sampai larutan tersebut berubah warna menjadi merah muda (pink). Artinya jika warna larutan sudah berubah menjadi merah muda (pink) maka larutan tersebut bebas dari kandungan asam (neutral). Setelah itu, membandingkan hasil yang didapat dengan standar spesifikasi yang telah ditetapkan oleh PT Pertamina (Persero).
3.2.7 Uji Korosi Lempeng Tembaga (Copper Strip Corrosion)
Diagram 3.8 Diagram Alir Uji Korosi Lempeng Tembaga (Copper Strip Corrosion)
Masukkan Lempengan Tembaga ke dalam masing-masing Tabung Penguji
Masukkan 3 buah Tabung Penguji yang telah berisi Lempengan Tembaga ke dalam Bath yang berisi air. Rendam pada suhu
100 ± 1 oC selama 3 jam. Setelah itu angkat dan biarkan menjadi dingin
Ambil Lempengan Tembaga dari masing-masing Tabung Penguji dengan menggunakan alat. Setelah itu, keringkan
Mulai
Tuang sampel Solphy-2 sebanyak 30 mL ke dalam 2 buah Tabung Penguji dan
Tuang Larutan Isooktana (sebagai blanko) sebanyak 30 mL ke dalam 1
buah Tabung Penguji
Cocokkan warna dari 3 buah Lempengan Tembaga tersebut dengan warna standar pada ASTM D – 130
Catat hasil pengujian dari uji Copper Strip Corrosion (Korosi Lempeng Tembaga)
Selesai
Pertama, membersihkan dan menggosokkan 3 (tiga) buah lempeng tembaga dengan kertas amplas jenis 240 grit sampai bersih. Setelah itu, menyelupkan 3 (tiga) buah lempengan tembaga yang telah dibersihkan ke dalam Larutan Isooktana kemudian mengangkat dan mengeringkannya dengan Tissue. Setelah itu, menyimpan 3 (tiga) buah Lempengan Tembaga tersebut di tempat yang gelap dan pada saat menaruhnya tidak boleh terpegang oleh jari.
Langkah selanjutnya yaitu menyiapkan 2 (dua) buah Tabung Penguji kemudian menuangkan sampel Solphy-2 sebanyak 30 mL ke dalam masing-masing Tabung Penguji. Setelah itu, menyiapkan lagi 1 (satu) buah Tabung Penguji kemudian menuangkan Larutan Isooktana sebanyak 30 mL ke dalam Tabung Penguji tersebut. Setelah itu memasukkan 3 (tiga) buah Lempengan Tembaga tersebut ke dalam masing-masing Tabung Penguji, dimana 2 (dua) buah Tabung Penguji berisi sampel Solphy-2 dan 1 (satu) buah Tabung Penguji berisi Larutan Isooktana.
Langkah selanjutnya yaitu memasukkan 3 (tiga) buah Tabung Penguji yang telah berisi Lempengan Tembaga tersebut ke
dalam Bath yang berisi air kemudian merendamnya pada suhu 100 ± 1 oC selama 3 jam. Setelah waktu perendaman tercapai,
mengangkat 3 (tiga) buah Tabung Penguji yang telah berisi
Lempengan Tembaga tersebut dari dalam Bath kemudian membiarkannya menjadi dingin.
Langkah selanjutnya yaitu mengambil Lempengan Tembaga dari masing-masing Tabung Penguji. Pada saat mengambil Lempengan Tembaga tersebut menggunakan Pinset dan jangan sampai terkena oleh jari. Setelah itu, mengeringkan 3 (tiga) buah Lempengan Tembaga tersebut di atas Tissue yang bersih.
Langkah selanjutnya yaitu mencocokkan warna dari 3 (tiga) buah Lempengan Tembaga tersebut dengan warna standar pada ASTM D-130 (standar korosi lempengan tembaga). Setelah itu, mencatat hasil yang didapat dari masing-masing Lempengan Tembaga tersebut.
Pengujian ini dilakukan berdasarkan metode ASTM D-130. Setelah itu, membandingkan hasil yang didapat tersebut
dengan spesifikasi yang telah ditetapkan oleh PT Pertamina (Persero).
3.3 Diagram Alir Pengujian Sampel Solphy-2
Diagram 3.9 Diagram Alir Pengujian Sampel Solphy-2 PENDAHULUAN
2. Nilai Spesific Gravity 3. Nilai IBP dan Nilai FBP 4. Nilai Flash Point
5. Characteristic 6. Nilai Color Saybolt
7. Nilai Korosif pada Tembaga 8. Netral 2. Kerapatan Relatif Solphy-2 3. IBP dan FBP
39 4.1 Profil Perusahaan
Research & Technology Center – Laboratory Services PT.
Pertamina (Persero) adalah nama fungsi baru dan mulai diberlakukan sejak Agustus 2017, yang telah mengalami beberapa perubahan nama dimana nama fungsi terakhir yaitu Research and Development. Fungsi ini sudah didirikan sejak tahun 1973, beralamatkan di Jalan Raya Bekasi Km.20, Pulogadung, Jakarta Timur. Pertamina RTC saat ini memiliki fungsi sebagai pusat inovasi dan teknologi yang berada dibawah Direktorat Perencanaan Investasi dan Manajemen Risiko PT Pertamina (Persero).
Gambar 4.1 Peta PT Pertamina Research and Technology Center PT. Pertamina Research & Technology Center sangat peduli dengan HSE (Health, Safety and Environment) di lingkungan kerja para pekerja dengan menyediakan Alat Pelindung Diri (APD) untuk
melaksanakan pekerjaan riset dan pengujian. APD yang digunakan meliputi:
1. Jas Laboratorium 2. Sepatu Laboratorium
3. Respirator merk Half Facepiece Respirator 6000 Series 4. Sarung Tangan Tahan Bahan Kimia
5. Exhause 6. Ruang Asam 7. Shower
8. Smoke Detector
9.. Sirine tanda bahaya bila ada gempa dan kebakaran
Penyusun melaksanakan Tugas Akhir di Pertamina Research &
Technology Center dengan waktu kerja sebagai berikut :
Hari Waktu masuk
kerja Isirahat Waktu pulang
kerja Senin s/d Kamis 07:00 11:30 – 12:30 16:00
Jumat 07:00 11:30 – 13:00 16:00
Salah satu divisi yang berada di Pertamina Research & Technology Center adalah Non Fuel, Petrochemical and Environment, fungsinya yaitu meneliti dan melakukan inovasi terhadap produk non fuel dan lingkungan.
Pada Agustus 2016, Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Dwi Soetjipto menargetkan untuk melahirkan pusat riset dan teknologi atau
Pertamina Research & Technology Center yang bertujuan agar Indonesia tak hanya memanfaatkan teknologi dari asing, tetapi juga mandiri dalam teknologi. Selain itu, tujuan dibentuknya Research & Technology Center adalah agar investasi lebih efisien mengingat persaingan pada masa depan adalah terkait teknologi, efisiensi, dan produktivitas.
4.2 Latar Belakang Terbentuknya RTC
Latar belakang terbentuknya RTC adalah sebagai berikut :
1. Sesuai sasaran strategis RJPP 2008-2012 untuk membangun kemampuan teknologi, riset dan pengembangan.
2. Perusahaan memerlukan engineering center dan research &
development yang handal, seperti halnya di perusahaan minyak kelas dunia lain.
4.3 Visi dan Misi
Visi dari RTC adalah menjadi fungsi RTC Pertamina yang handal dan efisien dalam rangka meningkatkan daya saing produk dan margin pengolahan Pertamina guna mendukung pengembangan bisnis perusahaan mencapai kinerja kelas dunia.
Misi dari RTC, yaitu :
1. Menyelenggarakan penelitian dan pengembangan, jasa layanan teknis, dan jasa laboratorium untuk mendukung kegiatan operasional pengolahan yang berdaya saing searah dengan kebijakan perusahaan.
2. Memberikan nilai tambah bagi PT Pertamina Persero dalam mendukung operasional bisnis pengolahan sebagai penugasan utama dan pemasaran.
3. Melaksanakan kajian pengembangan energi ke depan sejalan dengan kebijakan Pertamina dan penugasan daerah.
4.4 Arti Logo
1. Elemen logo membentuk huruf P yang secara keseluruhan merupakan representasi bentuk panah, dimaksudkan sebagai PERTAMINA yang bergerak maju dan progresif.
2. Warna – warna yang berani menunjukkan langkah besar yang diambil PERTAMINA dan aspirasi perusahaan akan masa depan yang lebih positif dan dinamis, yaitu :
a. Biru : mencerminkan andal, dapat dipercaya, dan bertanggung jawab.
b. Hijau : mencerminkan sumber daya energi yang berwawasan lingkungan.
c. Merah : mencerminkan keuletan dan ketegasan serta keberanian dalam menghadapi berbagai macam kesulitan.
43
Pengujian ini dilakukan terhadap produk solvent yaitu Solphy – 2 di PT Pertamina Research and Technology Center – Pulo Gadung. Pengujian sampel Solphy – 2 dilakukan pada bulan Januari 2019 dan bulan Februari 2019.
Pengujian Solphy – 2 dilakukan setiap satu bulan sekali dengan parameter Appearance dan Color Saybolt, Spesific Gravity at 60/60 oF, Initial Boiling Point (IBP) dan Dry Point, Flash Point, Odour, Acidity, dan Copper Strip Corrosion.
Parameter tersebut telah disetujui atau disesuaikan dengan MIL PRF 680 Type I dengan masa berlaku produk tersebut adalah 12 bulan dari tanggal pembuatan di bawah kondisi penyimpanan yang tepat dan telah ditetapkan oleh PT Pertamina (Persero).
5.1 Uji Wujud (Appearance) dan Uji Warna (Color Saybolt)
Pada parameter uji wujud ini, sampel Solphy – 2 diamati secara visual wujudnya dengan cara sampel diletakkan di botol kaca yang tidak berwarna lalu diletakkan di atas kertas berwarna putih.
Pada parameter ini, uji warna (color saybolt) dilakukan dengan menggunakan metode ASTM D – 156. Color saybolt digunakan untuk mengukur warna dari petroleum product yang belum diberi warna. Color saybolt memiliki skala mulai dari – 16 (warna paling gelap) sampai dengan + 30 (warna paling terang). Nilai tersebut didapat dari tingginya kolom saat pembacaan. Pengujian warna sangat penting dilakukan untuk menentukan
kualitas suatu pelarut. Jika warna color saybolt yang dihasilkan tidak sesuai dengan spesifikasi produk maka diduga ada indikasi kontaminasi dengan produk lain. Semakin rendah nilai color saybolt maka semakin keruh warna pelarut tersebut. Salah satu syarat pelarut yang baik adalah tidak berwarna atau jernih.
Jika uji wujud (appearance) dikaitkan dengan uji warna (color
saybolt) maka akan berpengaruh terhadap kondisi fisik dari sampel Solphy – 2. Dimana jika nilai uji warna (color saybolt) memiliki skala mulai
dari – 16 maka wujud dari sampel Solphy – 2 akan berwarna paling gelap.
Sebaliknya jika nilai uji warna (color saybolt) memiliki skala sampai dengan + 30 maka wujud dari sampel Solphy – 2 akan berwarna paling terang.
Tabel 5.1 Hasil Pengujian Uji Wujud (Appearance) dan Uji Warna (Color Saybolt) pada sampel Solphy – 2
Parameter Metode
Hasil uji wujud (appearance) yang didapat pada bulan Januari 2019 yaitu jernih (clear). Sedangkan hasil uji wujud (appearance) yang di dapat pada bulan Februari 2019 yaitu jernih (clear). Kedua hasil tersebut sesuai dengan spesifikasi MIL-PRF-680 Type I yang telah ditetapkan oleh PT Pertamina (Persero), yang artinya produk tersebut masih layak untuk dipasarkan kepada masyarakat. Jika wujud sampel Solphy – 2 tidak sesuai dengan standar spesifikasi yang telah ditetapkan maka sampel terindikasi terdapat kontaminasi pada sampel. Hal ini sesuai dengan uji warna (color saybolt), dimana hasil uji warna (color saybolt) pada sampel Solphy – 2 di bulan Januari 2019 yaitu + 25,2. Sedangkan hasil uji warna (color saybolt) pada sampel Solphy – 2 di bulan Februari 2019 yaitu + 25,2. Dari kedua hasil tersebut membuktikan bahwa warna yang dihasilkan adalah warna bening atau jernih dalam pengukuran warna sampel sehingga baik digunakan sebagai degreasing solvent.
5.2 Uji Kerapatan Relatif (Specific Gravity) pada 60/60 oF
Pada parameter ini, uji kerapatan relatif (specific gravity) pada 60/60 oF dilakukan dengan menggunakan metode ASTM D – 1298.
Kerapatan relatif adalah perbandingan densitas sampel dengan densitas air murni pada suhu yang sama. Semakin besar nilai kerapatan relatif maka semakin tinggi nilai kekentalannya (ASTM D – 1298, 2011).
Nilai kerapatan relatif pada Solphy – 2 berbanding lurus dengan jumlah kandungan fraksi berat. Jika nilai kerapatan relatif tinggi maka menunjukkan jumlah kandungan fraksi beratnya tinggi sehingga Solphy – 2
sulit menguap dan memiliki suhu distilasi yang tinggi. Begitupun sebaliknya jika nilai kerapatan relatif rendah maka menunjukkan jumlah kandungan fraksi beratnya rendah sehingga Solphy – 2 mudah menguap dan memiliki suhu distilasi yang rendah.
Berdasarkan kerapatan relatif (spesific gravity), klasifikasi minyak bumi dibagi menjadi 3 macam, yaitu :
Tabel 5.2 Nilai Kerapatan Relatif (Spesific Gravity) berdasarkan Klasifikasi Minyak Bumi
Tabel 5.2 Nilai Kerapatan Relatif (Spesific Gravity) berdasarkan Klasifikasi Minyak Bumi