RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH NASIONAL 2015-
PEMBANGUNAN SOSIAL BUDAYA DAN KEHIDUPAN BERAGAMA
B. Arah Kebijakan dan Strategi Pembangunan Bidang
1. Keuangan Negara
Sebagai upaya untuk meningkatkan rasio penerimaan perpajakan, arah kebijakan yang dilakukan ke depan adalah reformasi kebijakan secara komprehensif dan optimalisasi penerimaan perpajakan. Reformasi kebijakan secara komprehensif dilakukan terhadap tiga bidang pokok yang secara langsung menyentuh pilar perpajakan, yaitu:
1) Bidang administrasi, yakni melalui modernisasi administrasi perpajakan.
2) Bidang peraturan, dengan melakukan amandemen terhadap Undang-Undang Perpajakan beserta peraturan perundangundangan yang terkait.
3) Bidang pengawasan, dengan membangun bank data perpajakan nasional.
b. Peningkatan Kualitas Belanja Negara Melalui Sinergitas Perencanan dan Penganggaran
Untuk meningkatkan kualitas belanja negara, penyempurnaan perencanaan dan pelaksanaan anggaran negara perlu dilakukan. Dari sisi perencanaan penganggaran, penyempurnaan dapat dicapai melalui peningkatan keterkaitan perencanaan penganggaran pemerintah pusat dan juga pemerintah daerah. Dengan perencanaan penganggaran yang lebih baik, diharapkan alokasi belanja akan lebih tepat sasaran dan menempatkan prioritas pendanaan pada kegiatan-kegiatan yang produktif.
Dari sisi pelaksanaan anggaran, peningkatan kualitas tidak dapat dilakukan secara terpisah tanpa melakukan perbaikan dalam proses perencanaan dan pelaporan keuangan. Integrasi sistem perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan keuangan Negara dilakukan melalui Sistem Perbendahaan dan Anggaran Negara (SPAN) yang di dalamnya termasuk penerapan basis data tunggal (single database) dan penyempurnaan proses bisnis. Strategi yang dilakukan adalah:
1) Pengurangan pendanaan bagi kegiatan konsumtif dalam alokasi anggaran K/L.
2) Merancang ulang kebijakan subsidi guna mewujudkan subsidi yang rasional penganggarannya dan tepat sasaran.
3) Pemantapan PBK dan KPJM.
4) Penataan remunerasi aparatur negara dan sistem jaminan sosial nasional.
5) Penyempurnaan dan perbaikan regulasi dan kebijakan.
6) Pengelolaan kas yang efektif untuk mencapai jumlah likuiditas kas yang ideal.
7) Memodernisasi kontrol dan monitoring pelaksanaan anggaran dengan sistem informasi yang terintegrasi.
8) Pemberian insentif bagi lembaga dan daerah yang memiliki penyerapan anggaran yang tinggi dalam mendukung prioritas pembangunan.
Strategi yang akan dilakukan dalam hubungan keuangan pusat dan daerah adalah:
1) Mempercepat penyelesaian rancangan Undang-Undang tentang hubungan keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah (HKPD) yang merupakan revisi dari Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004. 2) Mempercepat pelayanan evaluasi Perda/Raperda tentang Pajak
Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD), meningkatkan kualitas evaluasi Perda PDRD serta meningkatkan kapasitas pemerintah daerah dalam pengelolaan PDRD.
3) Mempercepat pelaksanaan pengalihan anggaran pusat ke daerah untuk fungsi-fungsi yang telah menjadi wewenang daerah, mengalihkan secara bertahap dana dekonsentrasi dan tugas
pembantuan menjadi Dana Alokasi Khusus (DAK) dan
mempengaruhi pola belanja daerah untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik.
Strategi yang akan dilakukan terkait pengelolaan pembiayaan anggaran adalah:
1) Pemanfaatan Sisa Anggaran Lebih (SAL) sebagai penyangga fiskal (fiscal buffer) untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya krisis pasar SBN.
2) Optimalisasi perencanaan dan pemanfaatan pinjaman untuk kegiatan produktif antara lain melalui penerbitan sukuk berbasis proyek.
3) Pengelolaan Surat Berharga Negara melalui pengembangan pasar SBN domestik dan pengembangan metode penerbitan SBN valas yang lebih fleksibel.
4) Pengelolaan risiko keuangan yang terintegrasi.
5) Penggabungan lembaga keuangan penjaminan investasi dalam satu wadah untuk membiayai kegiatan-kegiatan beresiko tinggi.
6) Implementasi manajemen kekayaan utang (Asset Liability
Management – ALM) untuk mendukung pengelolaan utang dan kas negara.
2. Moneter
Kebijakan moneter akan tetap diarahkan pada pencapaian sasaran inflasi dan penurunan defisit transaksi berjalan ke tingkat yang lebih sehat serta kebijakan suku bunga dan stabilisasi nilai tukar rupiah sesuai fundamentalnya. Penguatan operasi moneter, pengelolaan lalu lintas devisa, dan pendalaman pasar keuangan akan diintensifkan untuk mendukung efektivitas transmisi suku bunga dan nilai tukar, sekaligus untuk memperkuat struktur dan daya dukung sistem keuangan dalam pembiayaan pembangunan.
Beberapa hal penting terkait strategi kebijakan moneter ke depan, diantaranya:
a. Meningkatkan kedisiplinan dalam menjaga stabilitas dan
kesinambungan kebijakan moneter guna mendukung pertumbuhan ekonomi.
b. Meningkatkan komunikasi yang intensif untuk menjangkar persepsi pasar.
c. Meningkatkan koordinasi yang erat di antara berbagai pemangku kebijakan untuk meningkatkan efektivitas kebijakan.
d. Melakukan penguatan kebijakan struktural untuk menopang
keberlanjutan pertumbuhan ekonomi, termasuk kebijakan pengelolaan subsidi BBM, kebijakan di sektor keuangan, terutama terkait pendalaman pasar keuangan, dan kebijakan di sektor riil.
3. Jasa Keuangan
Arah kebijakan dan strategi utama sektor keuangan ke depan adalah sebagai berikut:
a. Peningkatan koordinasi kebijakan terkait stabilitas sistem keuangan dan penyusunan payung regulasi UU Jaring Pengaman Sistem Keuangan. b. Kebijakan penguatan fungsi intermediasi.
c. Pengembangan dan optimalisasi peran lembaga keuangan bukan bank (asuransi, pasar modal, dana pensiun, investment bank, dsb) sebagai sumber pembiayaan pembangunan.
d. Untuk mencapai tingkat keuangan inklusif dan literasi keuangan yang baik di Indonesia dalam 20 tahun mendatang, Otoritas Jasa Keuangan (2013) dalam Cetak Biru Strategi Nasional Keuangan Indonesia, telah membuat proyeksi dan kebijakan tingkat (indeks) literasi dan indeks utilitas (penggunaan) jasa keuangan beberapa industri keuangan di Indonesia sampai dengan tahun 2017 dan 2023.
e. Pada industri asuransi, peningkatan indeks literasi dan utilitasnya diupayakan melalui pengembangan skim produk perasuransian yang dapat dijangkau oleh masyarakat berpenghasilan rendah seperti asuransi mikro, dan asuransi terkait bencana alam seperti asuransi pertanian (perkebunan, peternakan, dan tanaman pangan).
f. Selain itu pada industri jasa Pasar Modal, upaya peningkatan indeks literasi dan utilitas dilakukan melalui: (i) kegiatan literasi dan edukasi pasar modal kepada masyarakat luas, (ii) penyediaan dan pemasaran produk dan jasa pasar modal yang lebih terjangkau untuk seluruh golongan pengguna pasar modal, agar pengguna produk dan jasa pasar modal dapat bertambah secara signifikan.
g. Untuk meningkatkan pembiayaan investasi selain melalui pengembangan lembaga yang sudah ada seperti perbankan, pasar modal melalui saham dan obligasi terutama surat perbendaharaan
negara dan obligasi korporasi (corporate bonds) diupayakan pula
melalui pengkajian pembentukan lembaga baru dan penyusunan kerangka regulasi terkait seperti sistem tabungan pos, dan lembaga keuangan lainnya.
h. Mengembangkan keuangan syariah diantaranya melalui: (i)
pembentukan komite nasional pengembangan keuangan syariah, (ii) sosialisasi dan kampanye mengenai keuangan syariah yang dipimpin oleh Komite dengan menggunakan saluran-saluran yang ada sekaligus meningkatkan kesadaran konsumen dan pelaku usaha, (iii) mendorong penempatan dana-dana pemerintah untuk sebagian ditempatkan di perbankan atau lembaga keuangan syariah, (iv) mendorong terbentuknya bank investasi berbasis syariah di Indonesia, (v) meningkatkan investasi untuk pengembangan SDM di bidang keuangan syariah, (vi) mendorong terjadinya inovasi di keuangan syariah, (vii) meningkatkan sistem teknologi informasi keuangan syariah, (viii) meningkatkan interaksi dengan dunia internasional bagi pelaku usaha dan pemangku kepentingan.
i. Pembentukan bank atau lembaga keuangan khusus untuk pembiayaan prioritas pembangunan (pembiayaan infrastruktur, pertanian dan kemaritiman dan UMKM).
j. Pengembangan dan implementasi Program Asuransi Pertanian.
k. Peningkatan pemberantasan tindak pidana pencucian uang dan pendanaan terorisme.
4. Industri
Kemampuan industri mikro dan kecil belum memadai untuk dapat digunakan basis penumbuhan populasi industri berskala besar dan sedang. Sehingga pengungkit utama akselerasi pertumbuhan industri adalah investasi baik dalam bentuk penanaman modal asing (PMA) ataupun penanaman modal dalam negeri (PMDN). Untuk menarik
investasi maka kebijakan pertama adalah pembangunan kawasan industri dengan seluruh sarana prasarana yang dibutuhkan.
Dengan demikian arah kebijakan pembangunan industri adalah:
a. Pengembangan Perwilayahan Industri di luar Pulau Jawa: (1) Wilayah Pusat Pertumbuhan Industri terutama yang berada dalam Koridor ekonomi; (2) Kawasan Peruntukan Industri; (3) Kawasan Industri; dan (4) Sentra IKM.
Strategi pengembangan perwilayahan industri adalah:
1) Memfasilitasi pembangunan 14 Kawasan Industri (KI) yang mencakup: (1) Bintuni-Papua Barat, (2) Buli-Halmahera Timur- Maluku Utara, (3) Bitung-Sulawesi Utara, (4) Palu-Sulawesi Tengah, (5) Morowali-Sulawesi Tengah, (6) Konawe-Sulawesi Tenggara, (7) Bantaeng-Sulawesi Selatan, (8) Batulicin-Kalimantan Selatan, (9) Ketapang-Kalimantan Barat, (10) Landak-Kalimantan Barat, (11) Kuala Tanjung-Sumatera Utara, (12) Sei Mangke-Sumatera Utara, (13) Tanggamus-Lampung, dan (14) Jorong, Tanah Laut-Kalimantan Selatan.
2) Membangun paling tidak satu kawasan industri di luar Pulau Jawa. 3) Membangun 22 Sentra Industri Kecil dan Menengah (SIKIM) yang
terdiri dari 11 di Kawasan Timur Indonesia khususnya Papua, Papua Barat, Maluku, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur), dan 11 di Kawasan Barat Indonesia.
4) Berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan dalam
membangun infra-struktur utama (jalan, listrik, air bersih, telekomunikasi, pengolah limbah, dan logistik), infrastruktur pendukung tumbuhnya industri, dan sarana pendukung kualitas kehidupan (Quality Working Life) bagi pekerja.
b. Penumbuhan Populasi Industri dengan menambah paling tidak sekitar 9 ribu usaha industri berskala besar dan sedang dimana 50 persen tumbuh di luar Jawa, serta tumbuhnya Industri Kecil sekitar 20 ribu unit usaha.
Strategi utama penumbuhan populasi adalah dengan mendorong investasi baik melalui penanaman modal asing maupun modal dalam negeri.
c. Peningkatan Daya Saing dan Produktivitas (Nilai Ekspor dan Nilai Tambah Per Tenaga Kerja) dengan strategi sebagai berikut:
1) Peningkatan Efisiensi Teknis
2) Peningkatan Penguasaan Iptek / Inovasi
3) Peningkatan Penguasaan dan Pelaksanaan Pengembangan Produk Baru (New Product Development) oleh industri domestik)
4) Pembangunan Faktor Input Fasilitasi dan insentif:
Dalam rangka peningkatan daya saing dan produktivitas industri, fasilitasi dan pemberian insentif:
a. Diprioritaskan pada: (1) industri strategis; (2) industri maritim; dan (3) industri padat tenaga kerja.
b. Terhadap impor bahan baku, komponen, dan barang setengah jadi diharmonisasikan sesuai dengan rantai pertambahan nilai berikutnya di dalam negeri, semakin besar forward linkage-nya semakin besar insentifnya.
5. BUMN
Dalam rangka membina dan mengembangkan BUMN dalam jangka menengah, diupayakan pelaksanaan kebijakankebijakan utama, yaitu: a. Mendukung peningkatan pelayanan publik kepada masyarakat.
b. Memantapkan struktur BUMN yang berdayaguna (daya saing) dan berhasil guna.
c. Membangun kapabilitas BUMN.
Dalam kaitannya dengan reformasi pembinaan BUMN, kebijakan yang ditempuh adalah: (1) menjaga BUMN dari intervensi politik, (2) meningkatkan dan mempertahankan profesionalisme pada jajaran pengelola BUMN, (3) menata pembagian kewenangan dan tanggung jawab antara regulator dan operator kewajiban pelayanan publik/PSO, dan terakhir, dan (4) mendorong BUMN menjadi perusahaan kelas dunia.
6. UMKM dan Koperasi
Kebijakan di bidang UMKM dan koperasi dalam periode 2015-2019 yaitu meningkatkan daya saing UMKM dan koperasi sehingga mampu tumbuh menjadi usaha yang berkelanjutan dengan skala yang lebih besar (“naik kelas”) dalam rangka mendukung kemandirian perekonomian nasional. Strategi pembangunan yang akan dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Peningkatan kualitas sumber daya manusia.
b. Peningkatan akses pembiayaan dan perluasan skema pembiayaan. c. Peningkatan nilai tambah produk dan jangkauan pemasaran.
d. Penguatan kelembagaan usaha.
e. Peningkatan kemudahan, kepastian dan perlindungan usaha. 7. Pariwisata
Arah kebijakan yang akan ditempuh dalam pembangunan pariiwisata merujuk pada PP 50 Tahun 2010 tentang Rencana Induk Pembangunan Pariwisata Nasional (RIPPARNAS), yaitu:
a. Pemasaran Pariwisata Nasional diarahkan untuk mendatangkan sebanyak mungkin wisatawan manca negara dan mendorong peningkatan wisatawan nusantara, dengan strategi fokus pada 16 pasar wisatawan manca negara dan 16 pasar utama wisatawan domestik.
b. Pembangunan Destinasi Pariwisata diarahkan untuk meningkatkan daya tarik daerah tujuan wisata sehingga berdaya saing di dalam negeri dan di luar negeri. Jenis pariwisata yang akan dikembangkan khususnya untuk wisatawan manca negara mencakup: (i) wisata alam yang terdiri dari wisata bahari, wisata ekologi, dan wisata petualangan; (ii) wisata budaya yang terdiri dari wisata heritage dan religi, wisata kuliner dan belanja, dan wisata kota dan desa; dan (iii) wisata ciptaan yang terdiri dari wisata MICE & Event, wisata olahraga, wisata kebugaran (wellness) berbasis budaya nusantara, serta wisata kawasan terpadu.
c. Pembangunan Industri Pariwisata diarahkan untuk meningkatkan partisipasi usaha lokal dalam industri pariwisata nasional serta
meningkatkan keragaman dan daya saing produk/jasa pariwisata nasional di setiap destinasi pariwisata yang menjadi fokus pemasaran. d. Pembangunan Kelembagaan Pariwisata diarahkan untuk membangun
sumber daya manusia pariwisata serta organisasi kepariwisataan nasional dengan strategi: (i) berkoordinasi dengan perguruan tinggi penyelenggara pendidikan sarjana di bidang kepariwisataan; (ii)
meningkatkan kapasitas dan kualitas lembaga pendidikan
kepariwisataan, memperluas jurusan dan peminatan, membangun sekolah pariwisata; serta (iii) turut serta menjaga kualitas pendidikan kepariwisataan yang diselenggarakan swasta.
PRAKARSA QUICKWINS:
a. Peningkatan pemasaran Pariwisata di pasar internasional dan juga domestik.
b. Pembangunan Ekowisata Bahari mencakup pembangunan titik labuh untuk empat jalur pelayaran:
1) Pelabuhan masuk Tarakan – Kalimantan Utara berakhir di Biak – Papua.
2) Pelabuhan masuk Kupang – Nusa Tenggara Timur berakhir di Karimun Jawa – Jawa Tengah
3) Pelabuhan masuk Saumlaki – Maluku Tenggara berakhir di Bantaeng – Sulawesi Selatan.
4) Jalur Laut China Selatan mulai dari Anambas – Batam – Pulau Lingga.
8. Ekonomi Kreatif
Arah kebijakan pembangunan ekonomi kreatif adalah memfasilitasi orang kreatif (OK) di sepanjang rantai nilai yang dimulai dari tahap kreasi, produksi, distribusi, konsumsi, hingga konservasi.
Strategi pengembangan subsektor ekonomi kreatif dilaksanakan sesuai kebutuhan yaitu dengan:
a. Memperluas pasar produk kreatif Indonesia pasar baik di pasar ekspor maupun pasar domestik.
b. Memfasilitasi proses kreasi seperti pembangunan ruang kreasi, jaringan orang kreatif.
c. Memfasilitasi usaha kreatif sepanjang rantai produksi dengan menyediakan akses ke sumber permodalan atau pasokan SDM produksi, dan akses ke pasar.
d. Memfasilitasi penumbuhan usaha kreatif terutama bagi usaha pemula. 9. Penguatan Investasi
Penguatan investasi ditempuh melalui dua pilar kebijakan yaitu pertama adalah Peningkatan Iklim Investasi dan dan Iklim Usaha untuk meningkatkan efisiensi proses perijinan bisnis; dan kedua adalah Peningkatan Investasi yang inklusif terutama dari investor domestik. Arah kebijakan yang ditempuh dalam pilar pertama penguatan investasi adalah menciptakan iklim investasi dan iklim usaha yang lebih berdaya saing, baik di tingkat pusat maupun daerah, yang dapat meningkatkan efisiensi proses perijinan, meningkatkan kepastian berinvestasi dan berusaha di Indonesia, serta mendorong persaingan usaha yang lebih sehat dan berkeadilan.
Adapun strategi yang ditempuh adalah:
a. Peningkatan kepastian hukum terkait investasi dan usaha.
b. Penyederhanaan prosedur perijinan investasi dan usaha di pusat dan daerah.
c. Pengembangan layanan investasi yang memberikan kemudahan, kepastian, dan transparansi proses perijinan bagi investor dan pengusaha.
d. Pemberian insentif dan fasilitasi investasi (berupa: insentif fiskal dan non fiskal) yang lebih selektif dan proses yang transparan.
e. Pendirian Forum Investasi, yang beranggotakan lintas kementerian dan
lintas pemangku kepentingan untuk memonitor, mengatasi
permasalahan investasi, dan mencarikan solusi terbaik agar dapat terus menjaga iklim investasi dan iklim usaha yang kondusif bagi pelaku usaha dan investor.
g. Peningkatan persaingan usaha yang sehat melalui pencegahan dan penegakan hukum persaingan usaha dalam rangka penciptaan kelembagaan ekonomi yang mendukung iklim persaingan usaha yang sehat, penyehatan struktur pasar serta penguatan sistem logistik nasional yang bertujuan untuk menciptakan efisiensi yang berkeadilan. Arah kebijakan yang ditempuh dalam pilar kedua penguatan investasi adalah mengembangkan dan memperkuat investasi di sektor riil, terutama yang berasal dari sumber investasi domestik, yang dapat mendorong pengembangan investasi dan usaha di Indonesia secara inklusif dan berkeadilan terutama pada sektor produktif yang mengutamakan sumber daya lokal. Adapun strategi yang akan dilakukan untuk Pengembangan Investasi yang inklusif adalah sebagai berikut:
a. Pengutamaan peningkatan investasi pada sektor:
1) Yang mengolah sumber daya alam mentah menjadi produk yang lebih bernilai tambah tinggi.
2) Yang mendorong penciptaan lapangan kerja.
3) Yang mendorong penyediaan barang konsumsi untuk kebutuhan pasar dalam negeri.
4) Yang berorientasi ekspor.
5) Yang mendorong pengembangan partisipasi Indonesia dalam jaringan produksi global (Global Production Network), baik sebagai
perusahaan subsidiary, contract manufacturer, maupun
independent supplier.
6) Yang mendorong penyediaan kebutuhan bahan baku untuk industri dalam negeri, baik berupa bahan setengah jadi, komponen, maupun sub komponen.
b. Peningkatan upaya penyebaran investasi di daerah yang lebih berimbang.
c. Peningkatan kemitraan antara PMA dan UKM lokal.
d. Peningkatan efektivitas strategi dan upaya promosi investasi.
e. Peningkatan koordinasi dan kerjasama investasi antara pemerintah dan dunia usaha.
f. Pengembangan investasi lokal, terutama melalui investasi antar wilayah yang dapat mendorong pengembangan ekonomi daerah.
g. Pengembangan investasi keluar (outward investment).
h. Pengurangan dampak negatif dominasi PMA terhadap perekonomian nasional, yang secara bertahap akan dilakukan melalui tiga jalur proses pengalihan, yaitu: (i) alih kepemilikan ke masyarakat domestik melalui pasar modal; (ii) alih teknologi/keahlian kepada pengusaha dan pekerja domestik, serta (iii) alih proses produksi dengan secara bertahap meningkatkan porsi pemasok domestik bagi kebutuhan bahan baku, barang setengah jadi, serta jasa-jasa industri.
10. Perdagangan Dalam Negeri
Strategi pembangunan yang akan ditempuh terkait dengan arah kebijakan perdagangan dalam negeri adalah sebagai berikut:
a. Meningkatkan ketersediaan sarana dan prasarana perdagangan. b. Meningkatkan kualitas sarana perdagangan (terutama pasar rakyat). c. Meningkatkan aktivitas perdagangan antar wilayah di Indonesia. d. Meningkatkan kapasitas pelaku usaha dagang kecil menengah.
e. Meningkatkan iklim usaha perdagangan konvensional dan non konvensional yang lebih kondusif.
f. Mendorong penggunaan produk domestik. g. Meningkatkan perlindungan konsumen.
h. Menerapkan Standar Nasional Indonesia (SNI) secara konsisten.
i. Meningkatkan efektivitas pengelolaan impor untuk menjaga stabilitas pasar domestik.
j. Mendorong Perdagangan Berjangka Komoditi.
k. Mendorong pengembangan Sistem Resi Gudang dan Pasar Lelang. l. Meningkatkan kuantitas dan kualitas sarana dan prasarana penunjang
perdagangan.
11. Perdagangan Luar Negeri
Arah kebijakan yang akan ditempuh untuk mencapai sasaran bidang perdagangan luar negeri adalah memperkuat daya saing ekspor produk
non-migas dan jasa bernilai tambah tinggi untuk meningkatkan kontribusi ekspor terhadap pertumbuhan ekonomi secara inklusif dan berkelanjutan. Arah kebijakan tersebut akan dicapai melalui 4 (empat) pilar strategi yaitu: (i) menjaga dan meningkatkan pangsa pasar produk Indonesia di pasar ekspor utama (market maintenance), (ii) meningkatkan pangsa pasar ekspor di pasar prospektif (market creation), (iii) mengidentifikasi peluang pasar ekspor produk dan jasa potensial (product creation), dan (iv) meningkatkan fasilitasi ekspor dan impor untuk mendukung daya saing produk nasional (export facilitation and import management).
Untuk itu, strategi yang akan ditempuh terkait upaya untuk menjaga dan meningkatkan pangsa pasar produk Indonesia di pasar ekspor utama (market maintenance) adalah:
a. Meningkatkan kemampuan diplomasi perdagangan. b. Meningkatkan peran perwakilan dagang di luar negeri.
Sedangkan strategi yang akan ditempuh terkait upaya meningkatkan pangsa pasar ekspor di pasar prospektif (market creation) adalah:
a. Memanfaatkan kerjasama perdagangan yang ada dan meningkatkan kerjasama perdagangan bilateral.
b. Meningkatkan peran perwakilan dagang di luar negeri. c. Meningkatkan promosi ekspor.
d. Meningkatkan pemanfaatan Rantai Nilai Global dan Jaringan Produksi Global.
Lebih lanjut, strategi yang akan ditempuh terkait upaya mengidentifikasi peluang pasar ekspor produk dan jasa potensial (product creation) adalah: a. Meningkatkan efektivitas market intelligence.
b. Meningkatkan kapasitas dan kemampuan calon eksportir dan eksportir pemula.
c. Meningkatkan sosialisasi dan diseminasi informasi mengenai produk potensial kepada seluruh produsen atau pelaku usaha potensial.
d. Meningkatkan daya saing produk nasional.
e. Meningkatkan kuantitas dan kualitas ekspor sektor jasa prioritas. Dalam hal ini sektor jasa prioritas meliputi jasa transportasi, jasa perjalanan
atau pariwisata, jasa konstruksi, jasa logistik, jasa distribusi, dan jasa keuangan.
Kemudian, strategi yang akan ditempuh terkait upaya meningkatkan fasilitasi ekspor dan impor untuk mendukung daya saing produk nasional (export facilitation and import management) adalah:
a. Meningkatkan efektivitas manajemen impor.
b. Mengoptimalkan fasilitas safeguards dan pengamanan perdagangan lainnya.
c. Melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan Free Trade Agreements (FTA) yang sudah dilakukan.
d. Meningkatkan upaya pemantauan produk dan jasa luar negeri yang berpotensi mengancam daya saing produk lokal di pasar domestik. e. Mengembangkan fasilitasi perdagangan yang lebih efektif.
12. Tenaga Kerja
Dengan arah kebijakan dan strategi pelaksanaannya sebagai berikut: a. Memperkuat daya saing tenaga kerja dalam memasuki pasar tenaga
kerja secara global.
Dalam rangka mempersiapkan tenaga kerja yang berkualitas sesuai kompetensi yang dibutuhkan industri, diperlukan berbagai kebijakan yang saling bersinergi melalui peningkatan kompetensi angkatan kerja. 1) Harmonisasi standardisasi dan sertifikasi kompetensi..
2) Mengembangkan program kemitraan antara pemerintah dengan
dunia usaha/industri dan antara pemerintah pusat dengan
pemerintah daerah untuk peningkatkan kualitas tenaga kerja. Tiga proses dalam strategi pengembangan:
a) Pengembangan standar kompetensi.
b) Pengembangan program pendidikan dan pelatihan berbasis kompetensi.
c) Pengembangan sertifikasi kompetensi.
3) Pengembangan pola pendanaan pelatihan untuk mendukung peningkatan keahlian tenaga kerja.
4) Peningkatan tata kelola penyelenggaraan program pelatihan untuk mempercepat sertifikasi pekerja.
5) Penguatan Balai Latihan Kerja (BLK).
6) Perluasan skala ekonomi ke arah sektor/sub-sektor yang produktivitasnya tinggi untuk menyediakan lapangan kerja yang
besar dan berkualitas untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat.
b. Menciptakan Hubungan Industrial yang harmonis dan memperbaiki Iklim Ketenagakerjaan.
Prinsip dasar sistim hubungan industrial yang kuat didasarkan pada prinsip dan standar yang berkaitan dengan kebebasan berserikat dan hak untuk berorganisasi. Fungsi utama adanya serikat pekerja yang bebas adalah untuk mendorong collective bargaining. Pengalaman internasional menunjukkan bahwa proses “keserikatan” dan collective bargaining antara pekerja dan pemberi kerja lebih efektif dalam meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan pekerja.
Agar pasar tenaga kerja berfungsi lebih baik diperlukan peraturan yang dapat mendorong investasi padat pekerja tumbuh dan berkembang. Strategi pelaksanaan yang akan dilakukan adalah:
1) Penguatan infrastruktur hubungan industrial. 2) Perbaikan kerangka hubungan industrial.
3) Pengenalan kewajiban hukum bagi semua pihak untuk bertindak berdasarkan itikad baik dalam negosiasi-negosiasi bipartit.
4) Pemberdayaan dan pembinaan serikat pekerja.
5) Meningkatkan kepatuhan perusahaan/industri terhadap peraturan ketenagakerjaan.
6) Penegakkan hukum bagi pelanggaran peraturan yang dapat merugikan pekerja dan pemberi kerja.
7) Peran instansi pemerintah daerah perlu diefektifkan.
c. Meningkatkan akses angkatan kerja kepada sumber daya produktif Kebijakan ini ditargetkan kepada sebagian dari pencari kerja dan pekerja rentan yang tidak mempunyai akses kepada kegiatan ekonomi.
Pertama, penciptaan lapangan kerja melalui pekerjaan umum (public works. Kedua, pengembangan usaha skala sedang maupun kecil dimana akses kepada kredit tidak dimungkinkan. Ketiga, pelatihan berbasis kompetensi termasuk pemagangan bagi pekerja agar dapat meningkatkan kualitas hidup. Strategi pelaksanaan yang akan dilakukan adalah:
1) Pemetaan penganggur kurang terdidik dan kebutuhan sarana penunjang.
2) Mendorong pekerja setengah menganggur untuk memanfaatkan
waktu senggang melaksanakan usaha produktif dengan
memanfaatkan potensi sumber daya alam, sumber daya manusia dan teknologi tepat guna.
3) Pendayagunaan tokoh-tokoh masyarakat atau kader desa.
4) Membangun jejaring kemitraan dengan berbagai instansi/organisasi. 5) Pemberian pelatihan untuk memasuki pasar tenaga kerja dan