• Tidak ada hasil yang ditemukan

Arah Kebijakan

Dalam dokumen | Website Resmi Bappeda Kota Dumai | (Halaman 13-46)

BAB V SASARAN, ARAH KEBI JAKAN DAN STRATEGI

5.2 Arah Kebijakan

5.4. Program Pembangunan Kesehatan 5.5. Rencana Kerja (Renja) Tahun 2016

BAB VI . PENUTUP

BAB I I

2.1. Tugas Pokok Dan Fungsi

Dinas Kesehatan Kota Dumai berdasarkan Peraturan Daerah Kota Dumai Nomor 16 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Daerah merupakan unsur pelaksana Pemerintah Kota Dumai yang dipimpin oleh seorang Kepala Dinas yang berada dibawah dan bertanggungjawab kepada Walikota melalui Sekretaris Daerah. Dinas Kesehatan mempunyai tugas membantu walikota dalam melaksanakan kewenangan desentralisasi dibidang kesehatan.

Berdasarkan Peraturan Walikota Dumai Nomor 19 Tahun 2013, tentang Tugas, Fungsi dan Uraian Tugas Dinas Kesehatan Kota Dumai, bahwa Dinas Kesehatan menyelenggarakan fungsi:

1. Perumusan kebijakan teknis penanganan dibidang kesehatan;

2. Pemberian perizinan dan pelaksanaan pelayanan umum dibidang kesehatan;

3. Pembinaan terhadap unit pelaksana teknis dinas dalam lingkup tugas dan fungsinya;

4. Pembinaan umum dibidang kesehatan meliputi pendekatan, pencegahan, pengobatan dan pemeliharaan kesehatan;

5. Perencanaan sistem kesehatan daerah, akreditasi dan sertifikasi kesehatan serta peningkatan sumber daya manusia kesehatan berdasarkan kebijakan teknis;

6. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Walikota sesuai dengan tugas dan fungsinya.

Susunan Organisasi Dinas Kesehatan Kota Dumai ditetapkan berdasarkan Peraturan Daerah Kota Dumai Nomor 16 tahun 2008 yang terdiri dari :

1. Kepala Dinas 2. Sekretariat

a. Subbagian Administrasi dan Umum

b. Subbagian Program, Evaluasi dan Pelaporan c. Subbagian Kepegawaian

3. Bidang Kesehatan Masyarakat a. Seksi Kesehatan Keluarga b. Seksi Promosi Kesehatan

c. Seksi Gizi dan Peran serta Masyarakat

4. Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan a. Seksi Pengendalian Penyakit

b. Seksi Penyehatan Lingkungan

c. Seksi Surveilans dan Kesehatan Matra 5. Bidang Pelayanan Kesehatan

a. Seksi Pelayanan Kesehatan Dasar b. Seksi Bina Rumah Sakit

c. Seksi Farmasi dan Alat Kesehatan 6. Bidang Sumber Daya Kesehatan

a. Seksi Jaminan Kesehatan

b. Seksi Sumber Daya Kesehatan dan Akreditasi c. Seksi Pelayanan Sarana Kesehatan

7. Unit Pelaksana Teknis Dinas Kesehatan a. Puskesmas

8. Kelompok Jabatan Fungsional

Bagan Struktur Organisasi Dan Tatakerja Dinas Kesehatan Kota Dumai

KEPALA DI NAS BI DANG KESEHATAN MASYARAKAT BI DANG PENGENDALI AN PENYAKI T DAN PENYEHATAN LI NGKUNGAN BI DANG PELAYANAN KESEHATAN KELOMPOK JABATAN FUNGSI ONAL SEKRETARI AT SUBBAGI AN ADMI NI STRASI DAN UMUM SUBBAGI AN PROGRAM, EVALUASI DAN PELAPORAN SEKSI KESEHATAN KELUARGA SEKSI PROMOSI KESEHATAN SEKSI PENGENDALI AN PENYAKI T SEKSI PENYEHATAN LI NGKUNGAN SEKSI PELAYANAN KESEHATAN DASAR SEKSI BI NA RUMAH SAKI T U P T SUBBAGI AN KEPEGAWAI AN

SEKSI GI ZI DAN PERAN SERTA MASYARAKAT

SEKSI SURVEI LANS DAN KESEHATAN MATRA

SEKSI FARMASI DAN ALAT KESEHATAN

BI DANG SUMBER DAYA KESEHATAN

SEKSI JAMI NAN KESEHATAN

SEKSI SUMBER DAYA KESEHATAN DAN

AKREDI TASI

SEKSI PELAYANAN SARANA KESEHATAN

EVALUASI PELAKSANAAN RENJA TAHUN 2014

3.1. Sumber Daya Kesehatan

.

a. Sarana Kesehatan

Sejak berdirinya Kota Dumai pada tahun 1999 sampai dengan tahun 2011 telah terjadi peningkatan jumlah sarana pelayanan kesehatan di Kota Dumai, baik itu rumah sakit, puskesmas, puskesmas pembantu, dan puskesmas keliling serta sarana Upaya Kesehatan Bersumber Masyarakat (UKBM) seperti Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) , Pos Kesehatan Desa/ Kelurahan (Poskesdes), dan Pos Upaya Kesehatan Kerja (Pos UKK) . Hal tersebut menunjukan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan dasar dan pelayanan kesehatan rujukan di rumah sakit sudah meningkat. Diharapkan dengan meningkatnya jumlah sarana pelayanan kesehatan tersebut sebagian besar masyarakat akan memanfaatkannya secara optimal.

Namun akses terhadap pelayanan kesehatan belum merata di seluruh Kota Dumai terutama di beberapa daerah terpencil yang berada di Kecamatan Bukit Kapur, Medang Kampai, dan Sungai Sembilan, karena kondisi geografis yang sulit dan masih terbatasnya transportasi dan infrastruktur.

1) Rumah Sakit

Pada tahun 2014 jumlah rumah sakit yang ada di Kota Dumai

sebanyak 3 rumah sakit yang terdiri dari 1 rumah sakit milik pemerintah

Kota Dumai tipe C yakni RSUD Kota Dumai, 1 rumah sakit milik BUMN tipe

D yakni RS Pertamina (Rumah Sakit Pelabuhan sejak tahun 2007 sudah

tidak operasional lagi dan berubah status menjadi Balai Pengobatan) dan 1

rumah sakit milik TNI/POLRI yakni RS Bhayangkara yang mulai operasional

sejak tahun 2007. Total jumlah tempat tidur rumah sakit sebesar 266 yang

terdiri dari RSUD Kota Dumai sebanyak 211 tempat tidur, RS Pertamina

sebanyak 35 tempat tidur dan RS Bhayangkara sebanyak 20 tempat tidur.

Rasio jumlah rumah sakit per 100.000 penduduk adalah 1 per 100.000

penduduk. Hal ini berarti setiap 100.957 penduduk dilayani oleh 1 rumah

sakit.

2) Puskesmas

Pada awal berdirinya Kota Dumai jumlah puskesmas yang ada

sebanyak 3 (tiga) buah dan merupakan hibah dari Kabupaten Bengkalis

yakni Puskesmas Dumai Timur (sekarang bernama Puskesmas Dumai

Kota), Puskesmas Dumai Barat dan Puskesmas Bukit Kapur. Dari tahun ke

tahun jumlah puskesmas yang ada terus berkembang dan pada saat ini

jumlah puskesmas yang ada di Kota Dumai sebanyak 10 buah. Sejak bulan

Oktober 2014 Puskesmas Bukit Kayu Kapur (puskesmas baru yang

dibangun tahun 2013 dengan menggunakan dana budget sharing propinsi)

sudah mulai beroperasi. Puskesmas baru Bukit Kayu Kapur pada awalnya

adalah puskesmas pembantu yang kemudian ditingkatkan statusnya

menjadi puskesmas. Pada umumnya pembangunan

puskesmas-puskesmas di Kota Dumai menggunakan anggaran bersumber non APBD

Kota Dumai seperti dana Budget Sharing Propinsi Riau, dana APBN (DAK

Kesehatan) dan dana bantuan luar negeri (DHS ADB).

Tabel 3.1. Perincian Puskesmas Sekota Dumai Tahun 2014

No Kecamatan Nama Puskesmas Non Rawat

I nap Rawat I nap Jumlah Tempat Tidur

1. Dumai Timur 1. Jaya Mukti V

2. Dumai Barat 2. Dumai Barat V

3. Purnama V

3. Bukit Kapur 4. Bukit Kapur V 15

5. Bukit Kayu Kapur V

4. Sungai Sembilan 6. Sungai Sembilan V 15

5. Medang Kampai 7. Medang Kampai V 18

6. Dumai Kota 8. Dumai Kota V

7. Dumai Selatan 9. Bumi Ayu V

10. Bukit Timah V

Sebagai pengembangan program Upaya Kesehatan Usia Lanjut

(Usila), pada tahun 2008 Pemerintah Kota Dumai melalui Dinas Kesehatan

Kota Dumai telah mengembangkan Puskesmas Santun Usila yang

memberikan pelayanan khusus terhadap kelompok usia lanjut secara

terpadu dan menyeluruh yang meliputi kegiatan dalam gedung dan luar

bangunan lama Puskesmas Dumai Kota. Puskesmas santun usila telah

diresmikan oleh Ibu Walikota Dumai pada tanggal 21 Januari 2008.

3) Puskesmas Pembantu

Puskesmas pembantu berfungsi meluaskan jangkauan pelayanan puskesmas dan mendekatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Pada awal berdirinya Kota Dumai jumlah puskesmas pembantu yang ada sebanyak 10 (sepuluh) buah. Pada tahun 2014 jumlah puskesmas pembantu yang ada sebanyak 13 buah, dengan perincian sebagai berikut:

Tabel 3.2. Perincian Puskesmas Pembantu Sekota Dumai Tahun 2014

No Kecamatan Wilayah Kerja

Puskesmas

Nama Puskesmas Pembantu

1. Dumai Barat Purnama 1. Parit Pisang Mas

2. Bukit Kapur Bukit Kapur 2. Gurun Panjang 3. Simpang Murini 3. Sungai Sembilan Sungai Sembilan 4. Suka Damai

5. Basilam Baru 6. Simpang Pulai 7. Kampung Sejati 8. Sungai Sembilan/ Transmigrasi 9. Sungai Teras 10. Bulu Hala 11. Sei Sepit 4. Medang Kampai Medang Kampai 12. Pelintung

5. Dumai Kota Dumai Kota 13. Rimba Sekampung

4) Puskesmas Keliling dan Ambulans

Pada awal berdirinya Kota Dumai jumlah puskesmas keliling yang ada sebanyak 1 (satu) unit. Seiring dengan bertambahnya jumlah puskesmas, jumlah puskesmas keliling dan ambulans yang ada dari tahun ke tahun terus berkembang. Pada saat ini dari 10 puskesmas keliling lama yang ada, yang masih operasional sebanyak 6 unit dan 4 unit lainnya tidak operasional lagi karena sedang dalam proses penghapusan aset. Sedangkan puskesmas keliling yang sudah rusak total sehingga tidak

berfungsi/ operasional lagi sebanyak 2 unit. Jumlah ambulans yang ada dan masih operasional sebanyak 4 unit.

Sehingga total puskesmas keliling dan ambulans yang masih operasional di puskesmas sebanyak 10 buah. Adapun kondisi puskesmas keliling dari 6 unit yang masih operasional sebanyak 4 unit (67% ) rusak sedang dan 2 unit (33% ) rusak berat, sedangkan seluruh ambulans (100% ) kondisinya baik seperti terlihat pada tabel berikut ini:

Tabel 3.3. Perincian Penyebaran Puskesmas Keliling dan Ambulans

Se Kota Dumai Tahun 2014

No Nama Puskesmas

Uraian Pengadaan Puskesmas Keliling & Ambulans

Keterangan Jenis/ Merk Jumlah

Tahun Pengadaan/ Sumber Dana

1. Dumai Kota Pusling/ Mitsubitshi L 300

1 unit 2005/ APBD Kota Dumai

Dalam proses penghapusan Pusling/ Toyota Kijang 1 unit 1995/ APBD Kab

Bengkalis

Kondisi rusak berat 2. Bumi Ayu Pusling/ New Armada 1 unit 2005/ APBD

Propinsi Riau

Dalam proses penghapusan 3. Dumai Barat Pusling/ MI tsubitshi L

300

1 unit 2005/ APBD Kota Dumai

Dalam proses penghapusan Pusling/ Toyota Kijang 1 unit APBD Kab.

Bengkalis

Kondisi rusak total (tidak berfungsi lagi) 4. Bukit Timah Pusling/ I suzu 1 unit 2004/ APBD

Propinsi Riau

Kondisi rusak sedang 5. Bukit Kapur Pusling/ Toyota Kijang 1 unit 2002/ APBD

Propinsi Riau

Kondisi rusak sedang Pusling/ I suzu 1 unit 2003/ APBD

Propinsi Riau

Kondisi rusak berat Ambulance/ I suzu ELV 1 unit Hibah CSR

Pertamina 2011

Baik

6. Sungai Sembilan

Pusling/ Toyota Kijang 1 unit 2002/ APBD Kota Dumai

Kondisi rusak sedang Pusling/ I suzu 1 unit 2006/ APBD

Kota Dumai Kondisi rusak total (tidak berfungsi lagi) Ambulance/ KI A Travello 1 unit 2014/ APBD Kota Duma Kondisi baik 7. Medang Kampai

Pusling/ KI A Travello 1 unit 2007/ APBD Kota Dumai

Kondisi rusak sedang 8. Jaya Mukti Ambulance/ KI A

Travello

1 unit 2014/ APBD Kota Dumai

Kondisi baik

9. Purnama Pusling/ KI A Travello 1 unit 2007/ APBD Kota Dumai

Dalam proses penghapusan 10 B. Kayu Kapur Ambulance/ KI A

Travello

1 unit 2012/ APBN-P (Hibah Pusat)

Baik

Pada tahun 2014 melalui APBD Kota Dumai Tahun Anggaran 2014 telah

diadakan 5 unit mobil operasional puskesmas keliling Pada tahun 2014 melalui

operasional puskesmas keliling dan melalui dana Tugas Perbantuan dari Ditjen

Pembinaan Upaya Kesehatan (PUK) Kementerian Kesehatan RI Tahun

Anggaran 2014 telah diadakan 6 unit puskesmas keliling standar/single gardan

sehingga total mobil puskesmas keliling baru sebanyak 11 unit.

5) Posyandu

Pada awal berdirinya Kota Dumai jumlah posyandu balita yang ada sebanyak 121 buah. Dari tahun ke tahun perkembangan jumlah posyandu yang ada cenderung meningkat. Pada tahun 2014, jumlah posyandu yang ada di Kota Dumai sebanyak 190 posyandu, dengan perincian seluruhnya posyandu mandiri.

Dari jumlah tersebut, seluruh posyandu berstatus strata mandiri (100% ). Selain posyandu balita, di Kota Dumai telah dikembangkan posyandu usila sebagai salah satu pengembangan program pelayanan kesehatan usia lanjut (usila). Posyandu usila pertama kali dikembangkan pada tahun 2005 di kelurahan Jaya Mukti yakni Posyandu Lansia Nuri. Pada tahun 2014 jumlah posyandu usila yang ada di Kot a Dumai berjumlah 58 posyandu. Saat ini jumlah kader posyandu usila sebanyak 290 orang. Kegiatan yang dilaksanakan setiap bulannya adalah pemeriksaan kesehatan lansia, pengobatan, penyuluhan kepada para lansia, senam lansia, wirid pengajian, home care, membuat kerajinan tangan serta rekreasi.

6) Polindes

Pada awal berdirinya Kota Dumai jumlah polindes yang ada

sebanyak 13 buah. Jumlah polindes mengikuti jumlah bidan PTT yang ada

pada saat itu. Pada tahun 2014, jumlah polindes yang ada di Kota Dumai

sebanyak 27 polindes. Saat ini jumlah bangunan polindes yang permanen

sebanyak 7 buah. Sedangkan sebanyak 20 polindes yang lain status

bangunannya menumpang pada sarana kesehatan yang ada, menyewa

rumah penduduk, atau menumpang pada sarana kelurahan setempat.

7) Pos Kesehatan Desa/ Kelurahan (Poskeskel)

Salah satu upaya kesehatan bersumberdaya masyarakat adalah Pos

Kesehatan Kelurahan (Poskeskel). Dalam rangka pengimplementasian

Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 564/Menkes/SK/VIII/2007 tentang

Pengembangan Desa Siaga dan Pos Kesehatan Desa, pada tahun 2014

jumlah desa/kelurahan siaga di Kota Dumai sebanyak 33 kelurahan. Ini

berarti seluruh (100%) kelurahan di Kota Dumai sudah menjadi kelurahan

siaga dan memiliki Poskeskel.

Pada tahun 2008 Pemerintah Kota Dumai telah mendapatkan

penghargaan Manggala Karya Bakti Husada dari Pemerintah Indonesia

melalui Menteri Kesehatan RI atas keberhasilannya mengembangkan

Kelurahan Siaga di Kota Dumai.

Sampai saat ini telah dibangun 24 (dua puluh empat) buah poskeskel

bersumber dari APBD Kota Dumai dan Dana Alokasi Khusus (DAK), 3

poskesdes merupakan alih fungsi dari bangunan puskesmas pembantu.

Sedangkan untuk 9 poskeskel lainnya status bangunannya ada yang

menumpang di puskesmas pembantu, posyandu, rumah dinas/kantor, dan

menyewa. Guna meningkatkan penampilan poskeskel, setiap bangunan

poskeskel yang mengalami kerusakan secara bertahap direhabilitasi atau

direnovasi. Tenaga kesehatan yang ditempatkan di Poskesdes adalah

bidan PTT. Bidan PTT bersama-sama kader kesehatan mengelola

poskesdes. Kegiatan yang diberikan di poskeskel meliputi pelayanan

kesehatan dasar, surveilans, KIA, kesehatan lingkungan, pemantauan gizi,

usila, PHBS dll.

b. Tenaga Kesehatan

Pada tahun 2014 total tenaga yang ada di sarana kesehatan milik pemerintah Kota Dumai sebanyak 1.256 orang terdiri dari PNS, TKS Pemko Dumai, PTT, dan tenaga honorer/ lepas, yang tersebar di 3 unit kerja yang ada yakni puskesmas (511 orang), RSUD Kota Dumai (650 orang), dan Dinas Kesehatan Kota Dumai (

95

orang). Dari total tenaga

1.256

orang

sebanyak

1.002 orang (79,84%)

adalah tenaga kesehatan seperti terlihat pada grafik berikut:

Grafik 3.1. Persebaran Jumlah Tenaga Yang Bekerja

di Sarana Kesehatan Milik Pemerintah Kota Dumai

Berdasarkan Kategori Tenaga Tahun 2014

Sedangkan persebaran tenaga kesehatan menurut jenis tenaga menunjukan perawat merupakan jenis tenaga kesehatan yang paling banyak yakni sebesar 41% seperti terlihat pada grafik berikut ini:

Grafik 3.2. Persebaran Tenaga Kesehatan Menurut Jenis Tenaga

di RSUD Kota Dumai dan Puskesmas se Kota Dumai Tahun 2014

Sampai dengan tahun 2014 tenaga kesehatan yang jumlahnya masih kurang adalah tenaga dokter spesialis, dokter umum, dokter gigi, Perawat, perawat gigi, apoteker, asisten apoteker, ahli gizi, ahli sanitasi, ahli kesehatan

masyarakat dan terapi fisik. Untuk tenaga bidan dan teknisi medis jumlahnya sudah mencukupi.

Permasalahan tenaga kesehatan yang dihadapi dewasa ini dan di masa depan adalah: a) Pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan belum dapat memenuhi kebutuhan SDM untuk pembangunan kesehatan; b) Perencanaan kebijakan dan program SDM Kesehatan masih lemah dan belum didukung sistem informasi SDM Kesehatan yang memadai; c) Masih kurang serasinya antara kebutuhan dan pengadaan berbagai jenis SDM Kesehatan. Kualitas hasil pendidikan SDM Kesehatan dan pelatihan kesehatan pada umumnya masih belum memadai; d) Dalam pendayagunaan SDM Kesehatan, pemerataan SDM Kesehatan berkualitas masih kurang.

c. Pembiayaan Kesehatan

Selama tahun 2011 sampai dengan tahun 2014 perkembangan alokasi anggaran kesehatan (Dinas Kesehatan dan RSUD) bersumber APBD Kota Dumai cenderung meningkat. Namun bila dilihat berdasarkan unit kerja, alokasi anggaran kesehatan untuk Dinas Kesehatan Kota Dum ai lebih sedikit dibandingkan dengan RSUD Kota Dumai.

Anggaran kesehatan Kota Dumai berasal dari berbagai sumber biaya dengan perincian sebagai berikut:

Tabel 3.4. Perincian Pembiayaan Kesehatan Kota Dumai Berdasarkan Sumber Anggaran dan Unit Kerja Tahun 2014

No. Sumber Anggaran

Unit Kerja

Jumlah % Dinkes (Rp) RSUD Kota

Dumai (Rp)

1. APBD Kota Dumai 60.788.814.631,50 131.884.233.505,00 192.673.048.137,50 98,51 2. APBD Provinsi Riau 35.170.000,00 -- 35.170.000,00 0,02

3. APBN 2.664.130.000,00 -- 2.664.130.000,00 1,36

4. Sumber Lain (Global

Fund) 220.260.000,00 -- 220.260.000,00 0.11

Total Anggaran 63.708.374.631,50 131.884.233.505,00 195.592.608.136,50 100

Meskipun alokasi anggaran kesehatan bersumber APBD Kota Dumai untuk Dinas Kesehatan Kota Dumai terlihat berfluktuasi, namun bila

berdasarkan belanja terlihat persentase belanja tidak langsung (gaji pegawai) mengalami peningkatan setiap tahunnya, sedangkan persentase belanja langsung cenderung menurun.

Permasalahan pembiayaan kesehatan yang dihadapi lebih pada alokasi yang cenderung pada upaya kuratif dan masih kurangnya anggaran untuk biaya operasional dan kegiatan langsung untuk puskesmas. Akibat dari pembiayaan kesehatan yang masih cenderung kuratif dibandingkan pada promotif dan preventif mengakibatkan pengeluaran pembiayaan yang tidak efektif dan efisien, sehingga berpotensi menimbulkan permasalahan pada kecukupan dan optimalisasi pemanfaatan pembiayaan kesehatan.

Pembiayaan pembangunan kesehatan merupakan salah satu sumber daya yang penting untuk ikut menentukan keberhasilan pembangunan terutama di bidang kesehatan. Hasil dan dampak dari pembangunan kesehatan tidak dapat diukur dalam kurun waktu yang relatif singkat, tetapi pelaksanaan pembangunan harus dilaksanakan secara berkesinambungan, agar Visi Dumai Sehat 2015 dapat tercapai. Untuk itu pembiayaan pembangunan kesehatan perlu mendapatkan perhatian dan dukungan dari pemerintah daerah, lintas sektor dan swasta khususnya untuk pelayanan kesehatan di bidang pelayanan publik terutama untuk peningkatan kesehatan ibu, bayi, balita, penduduk miskin, dan kelompok lanjut usia serta difokuskan pada upaya promotif dan preventif dengan tetap memperhatikan besaran satuan anggaran kuratif yang relatif lebih besar dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

3.2. Situasi Derajat Kesehatan

Derajat kesehatan adalah tingkat keadaan kesehatan perorangan, kelompok atau masyarakat yang diukur dengan indikator kualitas hidup, mortalitas, morbiditas dan status gizi. Kualitas hidup antara lain dilihat dari indikator Angka Harapan Hidup Waktu Lahir sedangkan mortalitas dilihat dari indikator – indikator Angka Kematian Bayi, Angka Kematian Balita, Angka Kematian I bu Melahirkan dan Angka Kematian Diare pada Balita. Morbiditas dilihat dari indikator-indikator Angka Kesakitan Demam Berdarah Dengue, Angka kesakitan Malaria, Persentase Kesembuhan TB-Paru, Presentasi penderita

HI V/ AI DS Sedangkan Status Gizi dilihat dari indikator-indikator persentase Balita dengan Gizi Buruk dan Gizi Kurang.

A. Mortalitas ( Angka Kematian )

Angka Kematian Bayi

Angka kematian bayi mencerminkan kualitas dan kuantitas pelayanan kesehatan terhadap perinatal. Pada tahun 2014 jumlah kasus kematian bayi yang ditemukan di Kota Dumai sebanyak 103 kasus dari 7.875 kelahiran hidup. Dengan demikian angka kematian bayi di Kota Dumai sebesar 13,08 per 1.000 kelahiran hidup. Bila dibandingkan dengan pencapaian tahun 2013 dimana angka kematian bayi sebesar 14,70 per 1000 kelahiran hidup, terlihat angka kematian bayi pada tahun 2014 mengalami penurunan. Namun bila dibandingkan dengan target indikator Kota Dumai tahun 2014 yakni < 23 per 1.000 kelahiran hidup, maka pencapaian angka kematian bayi di Kota Dumai masih di bawah target (yang berarti tingkat pencapaiannya baik). Hal ini menggambarkan kualitas kuantitas pelayanan kesehatan terhadap perinatal masih baik. Pencapaian Angka Kematian Bayi Tahun 2011 sampai dengan 2014 dan target 2015 Kota Dumai dapat di lihat pada grafik 3.3 berikut ini :

Grafik 3.3

Pencapaian Angka Kematian Bayi Kota Dumai

Dari Tahun 2011 sampai dengan 2014 serta Target Tahun 2015

Berdasarkan kecamatan, jumlah kasus kematian bayi terbanyak berada di Kecamatan Dumai selatan yakni sebanyak 24 kasus, disusul dengan Kecamatan Dumai Timur sebanyak 22 kasus, seperti terlihat pada grafik 3.4 berikut ini :

Grafik 3.4

Jumlah Kematian Bayi Berdasarkan Kecamatan Di Kota Dumai tahun 2014

Penyebab kematian bayi didominasi oleh kasus Asfiksia dan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR).

Angka Kematian Balita

Angka kematian balita menggambarkan tingkat permasalahan kesehatan anak dan faktor-faktor lain yang berpengaruh terhadap kesehatan anak balita seperti gizi, sanitasi dan penyakit infeksi. Pada tahun 2014 jumlah kasus kematian balita yang ditemukan di Kota Dumai sebanyak 125 kasus. Dengan demikian angka kematian balita tahun 2014 di Kota Dumai sebesar 15,87 per 1.000 kelahiran hidup. Bila dibandingkan dengan pencapaian tahun 2013 dimana angka kematian bayi sebesar 16,90 per 1000 kelahiran hidup, terlihat adanya penurunan angka kematian balita. Namun bila dibandingkan dengan target indikator Kota Dumai tahun 2014 yakni < 32 per 1.000 kelahiran hidup, maka pencapaian angka kematian balita ini masih di bawah target (yang berarti tingkat pencapaiannya baik). Pencapaian Angka Kematian Balita dan Tahun 2011 sampai dengan 2014 serta target 2015 Kota Dumai dapat di lihat pada grafik 3.5 berikut ini :

Grafik 3.5

Pencapaian Angka Kematian Balita Kota Dumai Dari Tahun 2011 sampai dengan 2014 serta Target 2015

Gr

Berdasarkan Kecamatan, jumlah kasus kematian balita terbanyak berada di Kecamatan Dumai Selatan yakni sebanyak 28 kasus, disusul dengan Dumai Timur sebanyak 27 kasus, seperti terlihat pada grafik 3.6 berikut ini:

Grafik 3.6

Jumlah kematian Balita Berdasarkan Kecamatan Di Kota Dumai Tahun 2014

Penyebab kematian balita masih didominasi oleh kasus Asfiksia dan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR).

Angka kematian ibu berguna untuk menggambarkan tingkat kesadaran perilaku hidup sehat, status gizi dan kondisi ibu, kondisi kesehatan lingkungan, tingkat pelayanan kesehatan terutama untuk ibu hamil, waktu melahirkan dan masa nifas. Pada tahun 2014 jumlah kasus kematian ibu yang ditemukan di Kot a Dumai sebanyak 9 kasus dari 7.875 kelahiran hidup. Dengan demikian angka kematian ibu tahun 2014 di Kota Dumai sebesar 114,29 per 100.000 kelahiran hidup. Bila dibandingkan dengan pencapaian tahun 2013, di mana angka kematian ibu sebesar 64,49 per 100.000 kelahiran hidup, maka terlihat ada peningkatan angka kematian ibu pada tahun 2014. Bila dibandingkan dengan target indikator Kota Dumai tahun 2014 yakni 118 per 100.000 kelahiran hidup, maka pencapaian angka kematian ibu ini masih di bawah target (yang berarti tingkat pencapaiannya baik). Pencapaian Angka Kematian I bu dari tahun 2011 sampai dengan 2014 serta target 2015 Kota Dumai dapat di lihat pada grafik 3.7 berikut ini:

Grafik 3.7

Pencapaian Angka Kematian I bu di Kota Dumai Dari Tahun 2011 sampai dengan 2014 serta Target 2015

Berdasarkan Kecamatan, jumlah kasus kematian ibu terbanyak berada di kecamatan Dumai Timur sebanyak 3 kasus, seperti terlihat pada grafik 3.8 berikut ini :

Grafik 3.8 0 20 40 60 80 100 120 140 160 180 200 2011 2012 2013 2014 2015 172.41 84.26 64.49 114.29 200 185 155 118 102 P e r 1 0 0 .0 0 0 K e la h ira n H Id u p Tahun Pencapaian Target

Jumlah Kematian I bu Berdasarkan Kecamatan Di Kota Dumai Tahun 2014

Penyebab kematian ibu adalah Pendarahan ante partum, eklampsi dan pre eklampsi (sebanyak 3 kasus) perdarahan yang terjadi karena retensio plasenta, atonia uteri dan inveersio uteri. Berdasarkan kelompok umur, kasus kematian ibu banyak terjadi pada kelompok umur 20-35 tahun yakni sebanyak 6 kasus (66,66% ), sedangkan berdasarkan kelompok kematian, kasus kematian terbanyak pada kelompok ibu nifas sebanyak 4 kasus seperti terlihat pada grafik 3.9 berikut ini:

Grafik 3.9

Jumlah Kematian I bu Berdasarkan Jenis Kematian I bu dan Kelompok Umur Di Kota Dumai Tahun 2014

Angka Harapan Hidup Waktu Lahir

Pada tahun 2014 angka harapan hidup waktu lahir (umur harapan hidup) di Kota Dumai sebesar 72,29 tahun. Bila dibandingkan dengan pencapaian tahun 2013 yakni sebesar 71,64 tahun, terlihat ada peningkatan

0 1 2 3 4 5 6 Ibu HamilIbu Bersalin Ibu NifasTotal Kematian Ibu 0 0 0 0 1 2 3 6 1 1 1 3 Ju m la h

Kelompok Kematian Ibu < 20 Th 20 - 35 Th > 35 Th

harapan hidup waktu lahir secara tidak langsung memberikan gambaran tentang adanya kemungkinan peningkatan kualitas hidup dan kesehatan dalam masyarakat sehingga dapat menurunkan angka kematian. Pencapaian Angka Harapan Hidup waktu lahir di Kota Dumai tahun 2011 sampai dengan

Dalam dokumen | Website Resmi Bappeda Kota Dumai | (Halaman 13-46)

Dokumen terkait