• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pada pembahasan ini akan disajikan data pembahasan untuk memperoleh data tentang keseluruhan opini penonton terhadap acara stasiun dangdut di JTV. Dilakukan dengan cara menghitung total skor dari keseluruhan jawaban kuesioner yang telah dibagikan kepada 100 orang responden.

Pemberian skor meliputi apabila jawaban setuju, skornya adalah 3, selanjutnya untuk pertanyaan netral, skornya adalah 2, sedangkan untuk pertanyaan tidak setuju, skornya adalah 1. kemudian untuk menentukan arah positif, netral, atau negatif dilakukan dengan rumus :

Interval = diinginkan yang jenjang terendah skor tertinggi skor

Berdasarkan rumus tersebut maka diperoleh lebar interval untuk mengetahui arah opini penonton, daftar pertanyaan terhadap gerakan erotis pada acara stasiun dangdut di JTV terdiri dari 12 pernyataan, sehingga:

Interval = 3 ) 1 11 ( ) 3 11 ( xx = 3 ) 11 ( ) 33 (  = 3 22 = 7,33 = 7

Batasan skor untuk mengetahui arah opini penonton terhadap goyangan “Erotis” dalam video klip musik “Mari Bercinta” adalah:

Jumlah skor tertinggi 25 – 33 (opini positif). Jumlah skor sedang 18 – 24 (opini netral).

onton terhadap acara stasiun dangdu

Arah Opini Penonton Terhadap Acara Stasiun Dangdut Di JTV Total Skor Jumlah (orang) Opini Responden Jumlah skor rendah 11 – 17 (opini negatif).

Maka perolehan data terhadap opini pen t di JTV ditunjukkan pada tabel berikut ini :

Data opini penonton terhadap acara stasiun dangdut di JTV tersaji pada tabel 19 berikut ini :

Tabel 18

25 -31 58 Positif

18 – 24 41 Netral

11 – 17 1 Negatif

Jumlah 100 Sumber : Tabulasi Jawaban (Lampiran 2)

Berdasarkan penyajian data yang sudah ada maka data yang telah didapat f. Setelah dianalisis, hasil penelitian ini adalah

a didapatkan hasil sk

yang kemudian dianalisis secara deskripti

masyarakat mempunyai opini setuju terhadap acara Stasiun Dangdut yang ditayangkan di JTV, opini positif dari masyarakat yang dijadikan responden penelitian ini adalah masyarakat sebagian besar menyukai acara Stasiun Dangdut di JTV, dan sebagian juga ada yang tidak menyukai acara tersebut.

Tabel diatas menunjukkan hasil opini penonton terhadap Acara Stasiun Dangdut di JTV. Dari hasil pengolahan data melalui tabulasi, mak

or tingkat pengukuran opini penonton terhadap Acara Stasiun Dangdut di JTV, yaitu opini penonton terhadap acara stasiun dangdut di JTV. Berdasarkan

pada tabel 18 tersebut diatas, responden yang menjawab positif sebanyak 58 orang atau 58 %, kemudian yang menjawab Netral sebanyak 41 orang atau 41 %, tersisa 1 orang atau 1 %. Dan pada hasil penelitian yang menjawab positif memiliki jumlah yang tidak jauh dibandingkan yang menjawab Netral. Maka dari tabel 18 menunjukkan bahwa opini penonton terhadap acara stasiun dangdut di JTV adalah positif. Opini penonton terhadap acara stasiun dangdut di JTV bisa dikatakan positif . Bahwa acara ini banyak yang menyukai dan gerakan erotis tersebut dapat memberikan hiburan dan menarik perhatian penonton.

Berdasarkan data tersebut dapat diketahui bahwa penonton memiliki perhatian, pengertian dan penerimaan yang setuju atau terhadap acara stasiun Dangdut di JTV. Jawaban netral atau tidak mempermasalahkan dipilih dengan alasan bahwa hal ini disebabkan karena acara ini merupakan acara hiburan dan dangdut selalu identik dengan gerakan erotis . tapi masih ada kebanyakan ibu rumah tangga yang kurang menyukai artis atau penyanyi dangdut yang menampilkan gerakan erotis dalam acara tersebut. Apalagi acara Stasiun Dangdut terdapat gerakan erotis dalam suatu stasiun televisi Jawa Timur. Penilaian responden menyatakan acara ini terdapat gerakan erotis dilakukan biasa saja karena ingin menarik perhatian penonton meskipun kualitas suaranya tidak sebagus gerakannya dan bermodal memiliki tubuh yang menarik dan sexy. Dan ada juga responden yang menganggap acara Stasiun Dangut di JTV dengan melakukan gerakan erotis tidak dapat dikatakan mengangkat citra musik dangdut yang sebenarnya di masyarakat. Ada responden yang mengatakan tidak setuju dan

an penerim

mempermasalahkan dengan alasan hal ini disebabkan karena acara Stasiun Dangdut tidak layak ditonton oleh masyarakat karena terdapat gerakan erotis.

Sedangkan sebagian kecil penonton memiliki perhatian, pengertian, d aan yang negatif. Acara Stasiun Dangdut di JTV dikhawatirkan penonton akan terpengaruh untuk mengikuti gerakan erotis, khususnya anak-anak atau remaja putri, demi mendapatkan popularitas dikelompoknya. Dan apabila ada yang terpancing dengan gerakan tersebut, sehingga dapat menimbulkan nafsu birahi, maka dikhawatirkan akan menambah angka kriminalitas pelecehan seksual. Selain itu juga akan merusak moral anak-anak yang masih belum berpikir secara logis, karena anak-anak sangat mudah terpengaruh oleh hal baru yang dianggap menarik, apalagi bila menonton dengan tanpa didampingi dan tanpa bimbingan orang tua. Seorang pekerja seni maupun apabila melakukan gerakan yang bernuansa “erotis”, tidak akan pernah ada penonton yang mengatakan dapat mengangkat citra musik dangdut karena justru akan merusak nama baik pekerja seni tersebut. Banyak responden yang menyatakan acara Stasiun Dangdut di JTV masih menampilkan gerakan erotis, dan tidak layak untuk ditonton dan oleh siapa pun.

5.1 Kesimpulan

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan dan berdasarkan pengolahan data yang telah dilakukan dalam penelitian ini, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :

Program acara variety show “Stasiun Dangdut” di JTV ini mempunyai bagian yang disukai dan sedikit bagian yang tidak disukai oleh masyarakat, khususnya masyarakat Surabaya. Hal ini dapat dilihat dengan banyaknya opini positif yang dibeikan oleh masyrakat Surabaya terhadap acara “Stasiun Dangdut” di JTV. Hal ini berarti responden menganggap bahwa “Stasiun Dangdut” di JTV mempunyai hal yang positif. Sisi positif dari acara “Stasiun Dangdut” di JTV dapat menghibur masyarakat karena musik dangdutnya dan gerakan erotis yang mempengaruhi daya tarik penonton. Dalam teori S-O-R (Stimulus-Organism-Respon) stimulus dalam penelitian ini adalah acara Stasiun Dangdut JTV, komunikan adalah para penonton dan respon dari acara tersebut adalah khalayak menanggapi positif atau tidak mempermasalahkannya. Dengan demikian dapat disimpulkan media massa atau televisi memiiki pengaruh yang besar, teori ini terbukti dengan ditayangkan Acara Stasiun Dangdut hampir setiap hari, sehingga khalayak menjadi terbiasa dengan acara dangdut yang terdapat gerakan erotis tersebut. Penampilan penyanyi dangdut yang dikatakan melanggar norma kesopanan dan kesusilaan itu hanyalah bagian dari profesionalisme sebagai

seorang penyanyi dangdut, sehingga acara ini menjadi acara yang ditunggu bagi masyarakat Surabaya.

5.2 Saran

Beberapa saran yang dapat penulis berikan berkaitan dengan hasil penelitian ini adalah :

1. Gerakan atau goyangan penyanyi dalam acara musik dangdut memang mengandung unsur erotis yang pastinya dapat merusak moral bangsa dan dapat menambah angka kriminalitas pelecehan seksual. Dimana dalam acara nusik dangdut tersebut berkenaan dengan sensasi seks yang dapat menimbulkan rangsangan – ransangaan dan bersifat merangsang nafsu birahi. Tapi masyarakat tetap memandang biasa atau tidak mempermasalahkannya apabila gerakan erotis dilakukan, karena di kota-kota besar seperti Surabaya, sudah tidak menganggap tabu lagi dengan adanya gerakan erotis tersbut dalam sebuah musik dangdut akan lebih menarik perhatian penonton.

2. JTV agar menayangkan program acara variety show yang bersifat menghibur karena masyarakat Surabaya membutuhkan tayangan seperti itu untuk mengisi jam-jam istirahat setelah melakukan aktivitas. Namun tayangan-tayangan tersebut tetap harus sesuai dengan norma-norma yang berlaku di Indonesia. Selain itu bagi piha production house (PH) yag memproduksi tayangan “Stasiun Dangdut” di JTV diharapkan agar lebih kreatif membuat ide yang ingin ditampilkan.

3. Untuk mahasiswa FISIP UPN “Veteran” Jawa Timur skripsi ini bisa dijadikan bahan referensi bagi mahasiswa yang ingin melakukan penelitian selanjutnya.

Bagus, Lorens, 2004. Kamus Filsafat. PT. Gramedia Pustaka Umum, Jakarta. Bungin, Burhan, 2003. Pornomedia (Sosiologi Media, Konstruksi Sosial

Teknologi Telematika dan Perayaan Seks di media Massa). Prenada Media, Jakarta.

Effendy, Onong Uchjana, 1993. Televisi Teori dan Praktek. PT. Citra Aditya Bakti, Bandung.

, 2000. Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi, Remaja Rosdakarya, Bandung.

Ibrahim, Abdul Mu’num. 2004. Mendidik Anak Perempuan. Gema Insani, Jakarta.

Kuswandi, Drs., Wawan, 1998, Komunikasi Massa Dalam Sebuah Analisis Media Televisi, Rineka, Jakarta.

Moh. Lahib, 2002. Potret Sinetron Indonesia, PT. Mandar Utama Tiga Books Erlangga, Jakarta.

Mulyana, Deddy, 2004, Ilmu Komunikasi (Suatu Pengantar), PT. Remaja Rosdakarya, Bandung.

Rakhmat, Jalaludin, 2004, Metode Penelitian Komunikasi, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung.

Sunarto, 2009, Televisi Kekerasan dan Perempuan. PT. Kompas Media Nusantara, Jakarta.

Subroto, S., Bambang, 2005. good Corporate Governance, Elexmedia Komputindo, Jakarta.

Wahyudi, JB, 1991, Media Komunikasi Massa Televisi, PT. Alumi, Bandung.

Non Buku :

www.wikipwediaindonesia.com www.jtv.co.id

www.shsu.edu/listwh/book/other_notable_genres/video%20clips.htm http://warnadunia.com/penjelasang-tentang-erotisme-dan-pornografi/ s

Dokumen terkait