BAB 3 GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH DAN
3.3. Arah Pengelolaan Pembiayaan Daerah
Pembiayaan adalah transaksi keuangan daerah yang dimaksudkan untuk menutup selisih antara pendapatan daerah dan belanja daerah. Pembiayaan daerah disediakan untuk menganggarkan setiap penerimaan yang perlu dibayar kembali, baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun tahun anggaran berikutnya. Penerimaan pembiayaan antara lain berasal dari sisa lebih perhitungan anggaran tahun lalu (SILPA), pencairan dana cadangan, pinjaman daerah, hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan, penerimaan piutang daerah, dan penerimaan kembali penyertaan modal. Sedangkan pengeluaran pembiayaan dapat dipergunakan untuk pembentukan dana cadangan, penyertaan modal Pemerintah Daerah, dan pembayaran pokok hutang.
Pada lima tahun yang akan datang pada APBD Kabupaten Gunungkidul diproyeksikan masih terjadi defisit anggaran karena besarnya belanja dibandingkan dengan pendapatan daerah, sehingga diperlukan perhitungan yang cermat dan hati-hati pada aspek pembiayaan baik yang menyangkut penerimaan pembiayaan, pengeluaran pembiayaan dan Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA).
Adanya defisit anggaran tentu berimplikasi pada keharusan untuk berupaya meningkatkan kapasitas keuangan daerah, agar mampu menutup defisit belanja daerah. Upaya peningkatan kemampuan keuangan daerah antara lain dapat ditempuh melalui kebijakan investasi Pemerintah Daerah secara selektif dan tepat, untuk meningkatkan pendapatan daerah. Defisit belanja daerah juga dapat ditutup dengan SILPA, namun SILPA yang besar bukan menjadi indikator positif, namun justru menjadi salah satu indikasi penyususnan perencanaan dan penganggaran yang kurang tepat atau capaian pelaksanaan program kegiatan yang kurang optimal.
Adapun strategi pembiayaan daerah antara lain :
1. Melaksanakan efisiensi dan penghematan pada pelaksanaan program dan kegiatan dengan menggunakan produk-produk dan jasa berkualitas dan dengan biaya yang efisien.
2. Melakukan investasi berupa penyertaan modal pada perusahaan daerah untuk meningkatkan pelayanan dan pendapatan daerah, serta untuk memenuhi amanat Perda Nomor 3 tahun 2010 tentang Penyertaan Modal Pemerintah Daerah kepada Perusahaan Daerah.
3. Pembiayaan daerah dimanfaatkan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat, pemenuhan kewajiban dan penguatan kemampuan keuangan daerah.
Kondisi pembiayaan daerah pada APBD Kabupaten Gunungkidul dalam kurun waktu tahun 2006-2010 dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 3.7
Kondisi Pembiayaan daerah APBD Kabupaten Gunungkidul Tahun 2006-2010
No Uraian Tahun
2006 Tahun 2007 Tahun 2008 Tahun 2009 Tahun 2010
3 PEMBIAYAAN DAERAH - 49.872.170.281 69.027.416.491 40.264.289.026 57.175.912.399 3.1 Penerimaan Pembiayaan - 52.271.497.191 79.896.743.401 41.770.408.436 59.263.407.309 3.1.1 SILPA - 48.303.272.191 76.754.243.401 39.957.654.436 57.667.207.309 3.1.2 Penerimaan Kembali Pemberian Pinjmanan - 3.968.225.000 3.142.500.000 1.812.754.000 1.596.200.000 Jumlah Penerimaan Pembiayaan - 52.271.497.191 79.896.743.401 41.770.408.436 59.263.407.309 3.2. Pengeluaran Pembiayaan - 2.399.326.910 10.869.326.910 1.506.119.410 2.087.494.910 3.2.1 Penyertaan Modal (Investasi) Pemerintah Daerah. - 2.330.000.000 10.800.000.000 1.400.000.000 1.580.200.000 3.2.2 Pembayaran Pokok Hutang - 69.326.910 69.326.910 106.119.410 507.294.910 Jumlah Pengeluaran Pembiayaan - 2.399.326.910 10.869.326.910 1.506.119.410 2.087.494.910
Berdasarkan data tersebut dapat diketahui pada APBD 2006 belum dikenal adanya pembiayaan daerah, karena pedoman pengelolaan keuangan daerah masih mempergunakan Permendagri Nomor 29 tahun 2003 dimana struktur APBD hanya terdiri dari Pendapatan dan Belanja (Belanja Aparatur Daerah dan Belanja Publik). Sedangkan mulai APBD tahun 2007 mempergunakan Permendagri Nomor 13 tahun 2006, yang mana pada struktur APBD terdiri dari Pendapatan Daerah, Belanja Daerah dan Pembiayaan Daerah. Pembiayaan daerah pada rentang waktu 2006-2010 fluktuatif besarannya, namun penerimaan pembiayaan sebagian besar bersumber dari SILPA. Pada APBD 2008, besaran SILPA (tahun 2007) mencapai angka Rp.76.754.243.401,00 yang antara lain disebabkan kelembagaan baru, awal penerapan Permendagri 13 tahun 2006 dan accres gaji pegawai sebesar 2,5%. Namun pada APBD 2009 SILPA turun ke angka yang cukup wajar yaitu sebesar Rp. 39.957.654.436. Sedangkan pada APBD tahun 2010 SILPA kembali naik mencapai angka sebesar Rp. 57.667.207.309 yang disebabkan adanya transfer dana penyesuaian dan otonomi khusus untuk tambahan penghasilan guru PNSD sekitar Rp. 22 milyar yang baru diterima pada akhir Desember 2009 dan baru bisa disalurkan pada bulan Februari 2010.
Sedangkan kebijakan proyeksi pembiayaan daerah tahun 2011 – 2015, pada sisi penerimaan pembiayaan diarahkan bahwa SILPA diupayakan secara bertahap makin menurun besarannya ke angka yang lebih ideal, dimana sampai dengan tahun 2015 SILPA berada pada kisaran angka sebesar Rp.20.000.000.000,00. Hal ini dapat ditempuh dengan beberapa strategi yaitu penyusunan perencanaan dan penganggaran yang makin baik sesuai tupoksi, beban kerja dan kinerja (performance budgeting
system), pengendalian anggaran, monitoring dan evaluasi kegiatan, penggunaan analisis standard biaya, penyusunan dan penggunaan Standard Harga Barang dan Jasa (SHBJ) dengan tepat dan konsisten. Penerimaan kembali pemberian pinjaman diarahkan masih berasal dari pinjaman pada kelompok-kelompok usaha produktif seperti kelompok ternak sapi. Sedangkan pada sisi pengeluaran pembiayaan diarahkan untuk investasi berupa penyertaan modal pada perusahaan daerah sebagaimana diamanatkan Perda Nomor 3 tahun 2010. Penyertaan modal dimaksudkan untuk peningkatan pelayanan pada masyarakat dan untuk meningkatkan pendapatan daerah. Pembayaran pokok hutang juga masih terus dianggarkan untuk memenuhi kewajiban pembayaran pokok hutang penerusan pinjaman Pemerintah Pusat berupa LOAN ADB yang dijadwalkan selesai tahun 2016.
Berikut tabel proyeksi pembiayaan daerah APBD Kabupaten Gunungkidul tahun 2011 – 2015 :
Tabel 3.8
Proyeksi Pembiayaan daerah APBD Kabupaten Gunungkidul Tahun 2011-2015
No Uraian Tahun 2011 Tahun 2012 Tahun 2013 Tahun 2014 Tahun 2015
3 PEMBIAYAAN DAERAH 25.962.615.792 22,026,873,090 19,026,873,090 17,026,873,090 15,026,873,090 3.1 Penerimaan Pembiayaan 30.912.142.702 28,596,200,000 25,596,200,000 23,596,200,000 21,596,200,000 3.1.1 SILPA 29.315.942.702 27,000,000,000 24,000,000,000 22,000,000,000 20,000,000,000 3.1.2 Penerimaan Kembali Pemberian Pinjaman 1.596.200.000 1,596,200,000 1,596,200,000 1,596,200,000 1,596,200,000 3.2. Pengeluaran Pembiayaan 4.949.526.910 6,569,326,910 6,569,326,910 6,569,326,910 6,569,326,910 3.2.1 Penyertaan Modal (Investasi) Pemerintah Daerah. 4.880.200.000 6,500,000,000 6,500,000,000 6,500,000,000 6,500,000,000 3.2.2 Pembayaran Pokok Hutang 69.326.910 69,326,910 69,326,910 69,326,910 69,326,910
Untuk mengimplementaskan arah dan strategi kebijakan keuangan daerah, serta untuk menjamin terlaksananya program kegiatan prioritas secara optimal, maka dalam penganggaran dipergunakan prinsip-prinsip : 1. Partisipasi masyarakat
Pengambilan keputusan dalam proses penyusunan dan penetapan anggaran sedapat mungkin melibatkan partisipasi masyarakat, sehingga masyarakat mengetahui akan hak dan kewajibannya dalam pelaksanaan anggaran.
2. Transparansi dan akuntabilitas anggaran
Anggaran yang disusun harus dapat menyajikan informasi secara terbuka dan mudah diakses oleh masyarakat yang meliputi tujuan, sasaran, sumber pendanaan, jenis/obyek belanja, manfaat, dan dampak yang akan diperoleh dari suatu kegiatan yang dianggarkan.
3. Disiplin anggaran
Pendapatan yang direncanakan merupakan perkiraan yang terukur secara rasional yang dapat dicapai untuk setiap sumber pendapatan dan belanja yang dianggarkan merupakan batas tertinggi pengeluaran. 4. Keadilan anggaran
Pajak daerah, retribusi daerah, dan pungutan daerah lainnya yang dibebankan kepada masyarakat harus mempertimbangkan kemampuan masyarakat untuk membayar.
5. Efisiensi dan efektivitas anggaran
Dana yang tersedia harus dimanfaatkan sebaik mungkin untuk dapat menghasilkan peningkatan pelayanan dan kesejahteraan bagi masyarakat sehingga perencanaan anggaran harus diperhitungkan secara efisien dan efektif.