• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendahuluan

Secara geografis wilayah Indonesia merupakan negara kepulauan yang berbasis pada pengembangan di sektor ekstraktif seperti pertanian, perkebunan, perikanan dan peternakan. Kondisi ini ditunjang dengan kenyataan bahwa mayoritas masyarakat Indonesia tinggal di pedesaan dengan mata pencaharian utama di sektor pertanian. Strategi pembangunan yang berorientasi pada pengembangan sektor pertanian di pedesaan merupakan langkah konkrit mewujudkan Indonesia yang lebih adil dan merata (Prawoto 2012). Apalagi ditunjang dengan kenyataan masih adanya sebagian masyarakat Indonesia yang termasuk dalam kategori masyarakat yang masih tinggal di sekitar sumber daya alam melimpah tetapi masih miskin.

Seperti halnya pada masyarakat yang berada di sekitar kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop. Kondisi masyarakat yang berada di kawasan lindung dengan akses yang sangat dekat dengan sumber daya alam menyebabkan kemampuan mereka dalam mengakses sumber-sumber ekonomi (resources) menjadi sangat mudah, tetapi di sisi lain masyarakat ini belum terpenuhi dalam kemampuan finansial yang menunjang kehidupan secara berkelanjutan.

Keadaan ini nampak pada rendahnya kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat yang berada disekitar kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop secara umum. Dengan demikian perlu adanya perlakukan (treatment) tersendiri untuk melindungi kehidupan mereka dan memberikan penyuluhan, bimbingan serta pendampingan dalam proses pemberdayaan masyarakat yang berada disekitar kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop khususnya menyangkut masalah ketahanan pangan, sehingga pada saat masyarakat itu sudah mampu menyediakan sumber pangan bagi keluarga mereka, secara otomatis masyarakat akan siap untuk menjaga kualitas dan kuantitas Cagar Alam Pegunungan Cycloop secara berkelanjutan.

Secara obyektif kelekatan Masyarakat yang berada disekitar kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop dengan kondisi lingkungan alam CAPC – yaitu pertanian dan hasilnya - begitu erat bisa diibaratkan seperti ‗ikan dengan air‘. Kebutuhan hidup mereka ditopang oleh ketersediaan sumber daya alam terutama di sektor pertanian di kawasan CAPC.

Melalui program pengembangan dan pemberdayaan ekonomi dan ketahanan pangan masyarakat disekitar kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop berbasis kemandirian diharapkan dapat melindungi mereka dari resiko kelaparan. Ketahanan pangan merupakan situasi yang setiap rumah tangga di setiap saat memiliki akses untuk memperoleh pangan yang cukup, aman, dan sehat untuk seluruh anggota keluarga. Empat komponen yang harus ada dalam ketahanan pangan yaitu, ketersediaan, aksesibilitas, keamanan, dan keberlanjutan (Vini, Wulandari. 2008).

Kawasan hutan merupakan suatu kesatuan ekosistem dalam kehidupan yang memberikan banyak manfaat terhadap kelangsungan hidup manusia sejak pertama kali manusia diciptakan. Semua spesies yang berada di hutan mempunyai nilai ekologi, ekonomi dan sosial bagi masyarakat setempat dan berpotensi menjadi gudang sumber daya genetis bagi tanaman pertanian. Selain itu, hutan dan masyarakat lokal memiliki hubungan dan interaksi yang bersifat sosio-kultural. Kedekatan masyarakat secara emosional serta fisik akan melahirkan pengetahuan mengenai hutan itu sendiri sehingga menciptakan kearifan tradisional bagi masyarakat itu sendiri. Kearifan tradisional sebagai modal sosial bagi masyarakat lokal dapat digunakan untuk landasan dalam pengelolaan sumber daya hutan.

Tindakan untuk melakukan penguasaan dan pengelolaan terhadap sumber daya hutan oleh masyarakat lokal (adat), baik yang berada di dalam maupun di sekitar kawasan hutan merupakan suatu produk kebudayaan yang menjadi tata nilai tersendiri. Dengan segala kemampuan yang dimiliki, masyarakat melihat, memahami, memilah- milah gejala untuk kemudian merencanakan tindakan dan menentukan sikap serta perbuatan dalam memanfaatkan sumber daya hutan. Hak dari sumber daya hutan diperoleh karena hubungan jangka panjang antara hutan sebagai tempat menggantungkan hidup dengan masyarakat itu sendiri. Kewajiban untuk mengelola hutan secara berkesinambungan diharapkan dapat menjadi respon balik dari masyarakat lokal setelah memanfaatkan apa yang sudah disediakan oleh alam.

Pengembangan ekonomi lokal merupakan proses pemerintah lokal dan organsisasi masyarakat terlibat untuk mendorong, merangsang, memelihara aktivitas usaha untuk menciptakan lapangan pekerjaan (Blakely, Bradshaw. 1999).

Keberadaan masyarakat adat disekitar kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop, tercatat dalam penelitian ini ada 5 suku besar, yaitu masyarakat adat Sentani, Masyarakat adat Numbay, Masyarakat Adat Tanah Merah, Masyarakat Adat Mooy, Masyarakat Adat Ormu Wari. Masyarakat adat ini telah bermukim diareal kawasan hutan baik diluar maupun di dalam kawasan hutan Pegunungan Cycloop dan masyarakat masyarakat adat memiliki ketergantungan terhadap sumber daya hutan yang berupa manfaat lahan untuk pertanian, sumber kayu dan sumber air untuk masyarakat lokal (adat) tersebut. Masyarakat adat disekitar kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop memanfaatkan sumber daya hutan untuik pemenuhan kebutuhan hidup sehari- hari dan penambahan penghasilan. Salah satu manfaatnya dapat dilihat dari data pengamatan penelitian ini yang mencatat bahwa 80% masyarakat adat disekitar kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop bermata pencaharian sebagai petani dan buruh tani.

Metode Analisis Data Persepsi Masyarakat terhadap keberadaan CAPC

Nilai penting dari persepsi masyarakat lokal terhadap keberadaan CAPC, dapat dijadikan rujukan bagi penentuan model pengembangan ekonomi lokal di kawasan CAPC. Hasil persepsi akan menggunakan skor penilaian yang dirumuskan berdasarkan Skala Likert (Meuller 1996). Dalam penelitian ini, untuk mengukur tingkat persepsi masyarakat terhadap CAPC dilakukan pengukuran terhadap beberapa obyek persepsi yang meliputi manfaat CAPC, dengan masing-masing obyek persepsi ini dirinci lagi ke dalam beberapa butir persepsi. Pengukuran persepsi pada setiap butir penilaian disusun

dalam bentuk gradasi penilaian yang bergerak dari sangat bermanfaat sampai tidak bermanfaat.

Skala pengukuran yang akan dipakai dalam penelitian ini adalah Skala Likert, yaitu skala yang digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau kelompok tentang kejadian atau gejala sosial. Dengan menggunakan Skala Likert, maka dimensi dijabarkan menjadi variabel kemudian variabel dijabarkan lagi menjadi indikator-indikator yang dapat diukur. Akhirnya indikator-indikator yang terukur ini dapat dijadikan titik tolak untuk membuat item instrument yang berupa pertanyaan atau pernyataan yang perlu dijawab oleh responden. Bentuk kuesioner ini adalah semi tertutup yaitu sebagian berupa pertanyaan tertutup yang jawabannya harus dipilih responden berdasarkan pilihan yang disediakan. Skala yang digunakan untuk mengukur tingkat penilaian responden dalam pengelolaan kawasan cagar alam yang berkelanjutan berupa metode scoring data menurut Likert yang berupa skala ordinal, menyangkut skala 1 sampai dengan 5 yaitu:

a) Sangat Setuju = Bobot 5 b) Setuju = Bobot 4

c) Cukup Setuju = Bobot 3 d) Tidak Setuju = Bobot 2 e) Sangat tidak Setuju = Bobot 1

Terdapat 8 (delapan) kriteria pernyataan yang digunakan dalam mengukur persepsi masyarakat mengenai kondisi kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop di Kota dan Kabupaten Jayapura.

Tabel 37. Kriteria Penilaian persepsi masyarakat tentang kawasan CAPC

No Persespsi Skor Partisipasi

1 2 3 4 5

1. Kerusakan Kawasan CAPC dikarenakan faktor alam … …. … … …. 2. Kerusakan Kawasan CAPC lebih dikarenakan faktor

manusia

… … … … …

3. Kerusakan hutan yang berada di CAPC lebih dikarena untuk kepentingan ekonomi

… … … … …

4. Kawasan CAPC mempunyai nilai penting bagi keanekaragaman hayati yang berada di dalamnya

… …. … … ….

5. Pengelolaan kawasan CAPC tanggung jawab bersama

… … … … …

6. Penegakan Hukum di kawasan CAPC dinilai cukup memadai

… … … … …

7. Partisipasi masyarakat dalam pelestarian CAPC sudah meningkat

… …. … … ….

8. Pemda sudah menjalankan tugas pengelolaan kawasan CAPC dengan baik

… … … … …

Jumlah Skor … … … … …

Rata - rata Skor

Ket: 1 = Sangat tidak setuju 2 = tidaksetuju 3 = cukup setuju 4 = Setuju 5 = sangat setuju

Arah pengembangan ekonomi masyarakat di kawasan CAPC

Sama halnya dengan persepsi, sikap dalam pengelolaan kawasan CAPC yang berkelanjutan, arah pengembangan ekonomi masyarakat lokal di kawasan CAPC juga dilakukan dengan skoring yang dirumuskan berdasarkan Skala Likert (Meuller 1996). Arah pengembangan ekonomi masyarakat lokal di kawasan yang diukur adalah partisipasi langsung dan partisipasi tidak langsung, dengan masing-masing obyek persepsi ini dirinci lagi ke dalam beberapa butir persepsi.

Model pengembangan ekonomi berdasarkan setiap variabel yang mempengaruhi ekonomi masyarakat di sekitar kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop dirumuskan dari perpaduan variabel yang mempengaruhi, serta kemampuan setiap rumah tangga responden dalam pemberdayaan ekonomi mereka, sehingga tercipta masyarakat yang berdaya, berkekuatan atau berkemampuan dalam menolong dirinya sendiri. Pengukuran persepsi pada setiap butir penilaian disusun dalam bentuk gradasi penilaian yang bergerak bagi arah pengembangan yang dimulai sangat tinggi sampai terendah. Penentuan ketegori didasarkan pada total skor penilaian dengan interval kelas: (skor tertinggi dikurangi skor terendah) dibagi jumlah kelas (3 kelas).

Hasil Variabel Persepsi Masyarakat

Variabel persepsi adalah pandangan dan pemahaman seseorang terhadap suatu temuan setelah menerima masukan dari pihak lain yang mendorong untuk tumbuhnya motivasi sehingga memberikan suatu respon untuk melakukan atau tidak melakukan dalam bentuk sikap dan perilaku terhadap suatu program atau kegiatan. Persepsi merupakan proses internal yang memungkinkan seseorang memilih, mengorganisasikan, dan menafsirkan rangsangan dari lingkungan, dan proses tersebut akan mempengaruhi perilaku seseorang (Mulyana 2001).

1) Persepsi masyarakat terhadap kondisi Kawasan CAPC

Persepsi dari rumah tangga responden disekitar kawasan CAPC mengenai kondisi kawasan diperoleh sebagian besar menyatakan bahwa kawasan ini masih sangat baik dan masih lestari, walaupun dibeberapa tempat disekitar kawasan Cagar Alam Cycloop terdapat beberapa pembangunan perumahan, jalan raya serta lahan pertanian, perkebunan dan kegiatan ekonomi lainnya. Dari hasil wawancara rumah tangga responden, sekitar 87% responden menyatakan kondisi kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop masih lestari dan bagus, 9% responden menyatakan sudah rusak dan akan menjadi gundul atau tidak lestari, dan 4% menyatakan tidak tahu mengenai kondisi kawasan CAPC. Berikut gambar yang menjelaskan hasil wawancara responden mengenai kondisi kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop.

Masih Bagus 87% Tidak Bagus 9% Tidak Tahu 4%

Gambar 45. Persepsi masyarakat terhadap kondisi kawasan CAPC 2) Kondisi Hutan di Kawasan CAPC

Kondisi hutan di kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop menurut rumah tangga responden hampir sama dengan kondisi kawasan CAPC secara keseluruhan. Menurut salah satu responden yang merupakan kepala suku Kampung Ormuwari (Ondoafi) Bapak Paulus Nari, ia menyatakan bahwa

Hutan yang berada di kampung kami, secara adat kami menjaga dengan baik, bahkan kampung kami pernah mendapatkan penghargaan dari bapak Menteri Lingkungan Hidup pada pemerintahan Presiden Soeharto, yakni Bapak Emil Salim. Hutan di kampung kami ada aturan pemakaiannya. Dalam kampung kami juga sudah ada suku yang menjaga hutan agar tetap lestari. Hukum adat dan aturan adat yang berlaku sudah turun temurun, walaupun kami selaku masyarakat yang mengakui adanya hukum negara, tetapi kami dalam mengelola dan memanfaatkan kawasan hutan di Pegunungan Cycloop ini kami tetap menggunakan hukum adat kami‖.

Lain halnya bagi masyarakat yang berada di wilayah Sentani, khususnya di wilayah kampung Sereh. Menurut Bapak Ondikleuw:

hutan yang berada di kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop ini, akan semakin rusak apabila peraturan daerah yang telah dikeluarkan oleh pemerintah daerah tidak diterapkan dengan baik. Banyak orang luar yang tidak merasa memiliki hutan dan hanya mencari penghidupan di daerah ini akan tetap merambah hutan tanpa takut kena hukuman. Aturan adat yang sudah berlaku di kami masyarakat adat di wilayah Kampung Sereh ini tidak diakui dan diikuti oleh para pendatang. Para pendatang tersebut selain tidak takut terhadap hukum pemerintah, meraka juga tidak akan terkena hukuman yang diberlakukan oleh hukum adat yang telah di jalankan oleh kami masyarakat adat yang telah lama mengelola kawasan ini‖.

Jawaban responden rumah tangga yang menjawab dengan tidak tahu sebagian besar berasal dari penduduk pendatang di kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop.

0.00 20.00 40.00 60.00 80.00 100.00 Manfaat Air

Sumber Kayu Sumber bukan kayu

92.31 88.46 84.62 7.69 7.69 15.38 0.00 3.85 0.00 Persentase Tidak Tahu Tidak Baik Baik

Persepsi responden rumah tangga masyarakat yang berada disekitar kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop terhadap manfaat yang diberikan oleh kawasan CAPC bagi kehidupan masyarakat yang berada disekitar cukup beragam, mulai mengenai manfaat air yang berasa dari kawasan hingga pada sumber non kayu yang hasilkan oleh kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop bagi kehidupan masyarakat yang berada disekitar kawasan. Gambar 46 menjelaskan mengenai persepsi responden masyarakat mengenai manfaat kawasan CAPC bagi masyarakat.

Gambar 46. Persepsi masyarakat terhadap manfaat kawasan CAPC

Gambar 46 menjelaskan mengenai respon persepsi rumah tangga responden terhadap manfaat yang diperoleh dari kawasan CAPC baik yang berada di sekitar dan di dalam kawasan CAPC. Responden menganggap bahwa Cagar Alam Pegunungan Cycloop mampu memberikan manfaat yang baik yang dapat dirasakan secara langsung yakni berasal dari manfaat air (92,31%), manfaat berupah sumber kayu dari kawasan CAPC (88,46%) dan manfaat yang berupa bukan kayu (84,62%) itu berupa madu, rotan, obat-obatan, udara segar dan manfaat lainnya. Responden yang menjawab bahwa manfaat yang kurang baik dari kawasan CAPC yang diperoleh oleh setiap rumah tangga responden, respon responden menyatakan bahwa berupa manfaat air (7,69%) tidak dapat diperoleh oleh masyarakat, seperti kawasan sungai(aliran air) jika hujan lebat, maka akan menimbulkan banjir yang akan di terima oleh masyarakat. Kondisi sungai yang mulai kering, dikarenakan daerah tangkapan air sudah mulai rusak. Hal ini juga terjadi menurut responden bahwa kondisi hutan yang berada disekitar kawasan CAPC mengalami penurunan dan rusak sebagian. Kondisi ini bisa diakibatkan oleh ulah manusia yang berada disekitar kawasan. Serta manfaat yang kurang baik dari sumber bukan kayu (15,38%) bahwa nilai biodiversitas yang mengalami penurunan sehingga manfaat yang dirasakan untuk manfaat bukan kayu menurun. respon responden yang menjawab tidak tahu ada 3,85%.

4) Penurunan kualitas hutan di Kawasan CAPC karena faktor manusia

Penurunan kualitas hutan yang terjadi dibeberapa titik di wilayah sekitar kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop masih disebabkan oleh kegiatan masyarakat yang tidak ramah lingkungan. Kondisi ini terjadi seperti di wilayah Kota Jayapura. Berikut gambar menurut persepsi rumah tangga responden mengenai penurunan kualitas hutan di kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop akibat faktor manusia.

Setuju, 88.46 Tidak Setuju,

11.54

Tidak Tahu, 0.00

Setuju Tidak Setuju Tidak Tahu

Gambar 47. Persepsi masyarakat terhadap penurunan kualitas CAPC

Respon rumah tangga masyarakat yang dijadikan sebagai responden penelitian ini menjawab setuju (88,46%), bahwa kualitas kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop mengalami penurunan yang signifikan diakibatkan oleh faktor manusia. Hal ini terlihat pada beberapa wilayah yang dijadikan sebagai tempat berkebun dan bermukim di kawasan cagar alam (lampiran Gambar). Bagi jawaban responden tidak setuju (8%) mengenai penurunan kualitas kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop akibat faktor manusia, dinyatakan lewat hasil wawancara bapak Heluka:

kawasan Pegunungan Cycloop mengalami penurunan karena faktor alam itu sendiri, banyak hutan dan kawasan yang longsor dan tanah yang rusak karena pegunungan ini sudah tua, dan itu alami di pegunungan ini, banyak tempat juga sama terjadi dalam kondisi ini‖.

5) Penegakan hukum dalam pelestarian di kawasan CAPC sudah cukup memadai Proses kegiatan yang dilakukan oleh rumah tangga masyarakat disekitar kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop sangat berpengaruh terhadap kondisi dan keberlanjutan dari kawasan ini. Setiap kegiatan yang dilakukan oleh setiap rumah tangga masyarakat perlu di perhatikan dan perlu pengelolaan yang baik dengan maksud melindungi kawasan sehingg dapat mengurangi proses menuju pada kerusakan lingkungan. Menurut setiap responden yang ditemui di tempat penelitian, ditemui bahwa sekitar 40,77% responden mengatakan bahwa proses penegakan hukum untuk pelestarian kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop sudah memadai dan cukup melindungi kawasan ini agar tidak rusak. 57,69% responden dari total sampel yang diminta tanggapan mengenai penegakan hukum dalam pelestarian kawasan CAPC, menurut mereka proses hukum belum memadai dan belum berjalan dengan baik, sehingga masih ditemui kerusakan dan tidak taatnya masyarakat dalam pemanfaatan kawasan CAPC. 1,54% dari total responden mengatakan bahwa mereka tidak mengetahui tentang proses penegakan hukum di sekitar kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycoop. Berikut tabel mengenai proses penegakan di kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop.

Setuju, 40.77 Tidak Setuju, 57.69 Tidak Tahu, 1.54

Setuju Tidak Setuju Tidak Tahu

100.00 0.00 0.00 34.62 61.54 3.85 42.31 53.85 3.85 0.00 50.00 100.00 150.00 Setuju Tidak setuju Ragu-ragu Persentase Sik a p M a sy a ra k a

t Sumber bukan kayu

Sumber Kayu Manfaat Air

Gambar 48. Persepsi masyarakat terhadap penegakan hukum di CAPC a. Variabel sikap masyarakat di sekitar kawasan CAPC

Variabel sikap dari responden yang mengandung penilaian (setuju/tidak setuju, suka/tidak suka) masyarakat terhadap pernyataan untuk pelestarian dari sumber daya alam dan lingkungan di kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop yang telah dirasakan manfaatnya oleh responden seperti lahan hutan untuk pertanian, lahan pertanian untuk perkebunan, sumber kayu untuk pemenuhan kayu bakar dan kayu bahan bangunan rumah serta sumber air untuk pemenuhan air minum, mandi, cuci dan pengairan untuk pertanian dan perkebunan dan manfaat dari hasil hutan bukan kayu.

Gambar 49. Sikap masyarakat di sekitar kawasan CAPC

Sikap masyarakat terhadap pernyataan untuk pelestarian dari sumber daya alam dan lingkungan di kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop yang telah dirasakan manfaatnya oleh responden seperti lahan hutan untuk pertanian, lahan pertanian untuk perkebunan, sumber kayu untuk pemenuhan kayu bakar dan kayu bahan bangunan rumah serta sumber air untuk pemenuhan air minum, mandi, cuci dan pengairan untuk pertanian dan perkebunan, dan manfaat dari hasil hutan bukan kayu dikelompokkan menjadi tiga bentuk yaitu setuju, tidak setuju dan ragu-ragu. Bentuk sikap masyarakat terhadap pernyataan untuk pelestarian dari sumber daya alam dan lingkungan di kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop dapat dilihat pada gambar 49.

0.00 20.00 40.00 60.00 80.00 Kayu Bakar Kayu Bangunan Digunakan sendiri Dijual 76.92 23.08 73.08 26.92 Persentase K e p e n tingan P em anfaa tan Tu ju an Pem an faatan

b. Variabel motivasi masyarakat dalam pemanfaatan kawasan CAPC

Variabel terhadap dorongan yang menggerakan masyarakat untuk memanfaatkan sumber daya alam dan lingkungn di kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop, seperti lahan hutan untuk pertanian, lahan hutan untuk perkebunan, sumber kayu untuk kayu bakar dan kayu untuk bahan bangunan, sumber air untuk keperluan minum, mandi dan cuci serta pengairan untuk pertanian dan perkebunan. Hal ini berkaitan dengan alasan dan tujuan pemanfaatan sumber daya alam serta lingkungan yang tersedia dalam pemenuhan kebutuhan hidup rumah tangga masyarakat.

1) Motivasi dalam pemanfaatan lahan hutan di kawasan CAPC

Motivasi atau motif adalah dorongan yang menggerakan seseorang/rumah tangga untuk melakukan suatu tindakan dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya dan keluarganya. Motif yang dilakukan oleh rumah tangga responden di kawasan CAPC adalah untuk bercocok tanam dengan sistem tumpang sari atau agroforestry. Selain menanam tanaman palawija rumah tangga responden dilokasi penelitian juga menanam tanaman semusim dengan pola tanaman campuran seperti pisang, kopi, vanili. Jenis palawija (singkong, ubi kayu, ubi jalar, jagung, kacang-kacangan) dan tanaman tahunan/kayu-kayuan seperti petai, durian, coklat, buah merah.

2) Motivasi dalam pemanfaatan sumber kayu di kawasan CAPC

Motif rumah tangga responden di kawasan CAPC terhadap pemanfaatan sumber kayu dari kawasan hutan berdasarkan peruntukannya yaitu untuk pemenuhan kehidupan sehari-hari mereka seperti kayu bakar dan kayu bahan bangunan, dan tujuan pengambilan sumber kayu adalah untuk keperluan sehari-hari juga, sumber kayu ini digunakan untuk keperluan sendiri dalam rumah tangga atau dijual (tambahan penghasilan).

Bagi masyarakat yang bermukim di sekitar kawasan CAPC dalam pemanfaatan sumber kayu untuk keperluan kayu bakar dan bahan bangunan untuk perumahan merupakan hal yang telah dilakukan secara turun-temurun. Bagi masyarakat asli yang telah lama bermukim di kawasan ini, masyarakat asli sebagian besar memanfaatkan sumber kayu yang diambil di dalam hutan sudah ditentukan jumlah dan batas waktu pemakaian. Masyarakat asli melakukan pengambilan sumber kayu telah mendapatkan perijinan dari kepala kampung dan Ondoafi.

0.00 20.00 40.00 60.00 80.00 100.00 Minum, Mandi, Cuci (mck)

Pengairan lahan Kolam Pemandian 80.77 11.54 7.69 Persentase Po la Peman fa a ta n S u mbe r Ai r

Kondisi ini tidak terjadi pada masyarakat pendatang, mereka mengambil sumber kayu tidak terkontrol (gambar diatas). Sehingga di beberapa tempat di kawasan ini telah gundul dan rusak dikarenakan ulah tangan masyarakat yang tidak bertanggungjawab. Masyarakat pendatang beranggapan bahwa dalam menjaga kelestarian hutan dengan mereka tidak menggunakan azaz pemanfaataan kayu yang lestari, mereka hanya mengejar pemenuhan kebutuhan hidup lewat menjual sumber kayu tersebut guna mendapatkan uang secara cepat.

3) Motivasi dalam pemanfaatan sumber air di kawasan CAPC

Motivasi atau motif bagi masyarakat yang bermukim di sekitar kawasan CAPC terhadap pemanfaatan sumber air adalah untuk keperluan dasar hidup sehari-hari seperti air minum, air mandi, mencuci, dan pengairan bagi pertanian dan perkebunan. Selain masyarakat pemerintah daerah melalui Perusahaan Daerah Air Minum baik di Kabupaten Jayapura dan Kota Jayapura memanfaatkan sumber air yang berasal dari Pegunungan Cycloop. Berikut ini tabel motif pemanfaatan sumber air di kawasan CAPC.

Gambar 51. Motif masyarakat dalam pemanfaatan sumber air

Selain masyarakat yang berada disekitar kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop memanfaatkan sumber air sebagai kebutuhan sehari-hari dan pengairan lahan pertanian, masyarakat juga memanfaatkan air sebagai tempat berekreasi.

Arah pengembangan ekonomi lokal masyarakat

Model pengembangan ekonomi berdasarkan setiap variabel yang mempengaruhi ekonomi masyarakat di sekitar kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop yang telah