3.1 Kedudukan Kota Cilegon Dalam Kebijakan Nasional (RTRWN)
Berdasarkan RTRW Nasional (Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008), Kota Cilegon ditetapkan sebagai Pusat Kegiatan Nasional (PKN) berdasarkan kriteria kawasan perkotaan yang berfungsi atau berpotensi sebagai simpul utama kegiatan ekspor-impor atau pintu gerbang menuju kawasan internasional; berfungsi atau berpotensi sebagai pusat kegiatan industri dan jasa skala nasional atau yang melayani beberapa provinsi; dan/atau berfungsi atau berpotensi sebagai simpul utama transportasi skala nasional atau melayani beberapa provinsi.
Selanjutnya juga dijelaskan bahwa Kawasan Bojonegara – Merak – Cilegon ditetapkan sebagai Kawasan Andalan, dimana sektor unggulan kawasan ini adalah industri, pariwisata, pertanian, perikanan, dan pertambangan. Selain itu, Kawasan Selat Sunda juga ditetapkan sebagai Kawasan Strategis Nasional.
Kota Cilegon sebagai potensi inlet-outlet terhadap lokasi pasar dunia, dimana secara geografis memiliki akses langsung terhadap Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) I yang didukung oleh keberadaan 21 pelabuhan pengumpan dan terminal untuk kepentingan sendiri. ALKI yang merupakan salah satu jalur pelayaran internasional menjadi salah satu acuan pengembangan inlet-outlet wilayah nasional, yaitu dalam meningkatkan aksesibilitas terhadap lokasi pasar dunia. Peran penting Kota Cilegon sebagai inlet-outlet di tingkat nasional di sisi lain ditunjukkan dengan kinerja bongkar muat barang antar pulau dan luar negeri pada Pelabuhan PT. Krakatau Bandar Samudera (PT. KBS) yang menempati urutan ketiga di tingkat nasional pada tahun 2002.
Kota Cilegon sebagai simpul sistem transportasi Jawa - Sumatera, melalui posisi seperti ini Kota Cilegon turut menentukan pertumbuhan dan perkembangan wilayah di kedua pulau besar tersebut. Dalam sektor transportasi misalnya, keberadaan Pelabuhan Merak sebagai Pelabuhan Nasional menjadi penentu roda perekonomian yang bergerak dari Pulau Jawa ke Sumatera dan sebaliknya, khususnya dalam menjamin kelancaran distribusi arus barang dan manusia. Disamping itu, keberadaan Jalan Tol (jalan bebas hambatan) Tangerang – Merak semakin meningkatkan aksesibilitas eksternal Kota Cilegon, baik dengan ibukota negara (Jakarta) maupun wilayah-wilayah di Pulau Jawa lainnya.
RTRW Kota Cilegon 2010 - 2030 III-2 3.2 Kebijakan Pengembangan Provinsi Banten
Dalam arahan RTRW Provinsi Banten, Kota Cilegon terletak di Wilayah Kerja Pembangunan (WKP) II, yang mempunyai arti strategis bagi seluruh wilayah provinsi. Kota Cilegon, Kota Serang dan Kabupaten Serang berfungsi sebagai pemacu dan pusat pertumbuhan utama bagi wilayah belakangnya dengan kegiatan perekonomian terdiri dari industri, pelabuhan, pertanian, pariwisata, kelautan dan perikanan, pendidikan, kehutanan, pertambangan, dan jasa. Fungsi Kota Cilegon sebagai pusat pertumbuhan tidak dapat dilepaskan dari peran PT. Krakatau Steel yang alokasinya dalam RTRW Provinsi Banten sudah fix dan menjadi penggerak utama kegiatan industri di Provinsi Banten. Kawasan PT. Krakatau Steel dan sekitarnya ini pun kemudian direncanakan untuk ditetapkan menjadi Kawasan Ekonomi Khusus oleh Provinsi Banten dan PLTU Suralaya serta Waduk Krenceng sebagai Kawasan Strategis Provinsi.
Kota Cilegon sebagai salah satu PKN dan pusat pertumbuhan wilayah Provinsi Banten, sebagaimana dalam RTRW Provinsi Banten Tahun 2009–2029, Kota Cilegon lebih diarahkan pada pengembangan kelompok industri besar dan sedang, industri kecil, dan industri kerajinan. Dalam realisasinya, kawasan industri yang ada telah bertumbuh-kembang dan sekaligus berperan sebagai pembentuk utama perekonomian Kota Cilegon. Peran sektor industri di Kota Cilegon juga memiliki peranan penting terhadap perekonomian Provinsi Banten. Sebagai pusat permukiman dengan segenap fasilitas dan jasa perkotaan yang tersedia, Kota Cilegon merupakan orientasi pergerakan bagi wilayah-wilayah di sekitarnya, seperti Kota Serang, Kabupaten Serang, Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Lebak.
Kota Cilegon merupakan salah satu daerah andalan bagi Provinsi Banten dalam sektor industri yang berskala nasional maupun yang sudah berorientasi ekspor. Kondisi ini merupakan suatu potensi yang perlu untuk dipertahankan bahkan dapat terus ditingkatkan di masa yang akan datang. Selain potensi industri yang berskala nasional, Kota Cilegon juga memiliki potensi yang berbasis pada masyarakat menengah yang dapat dikembangkan untuk mendukung pengembangan ekonomi daerah. Potensi tersebut antara lain pengrajin dan emping serta potensi perkebunan.
Permasalahan yang dihadapi Kota Cilegon antara lain berupa permasalahan kemacetan, permasalahan pelayanan sarana dan prasarana kota, permasalahan akibat dampak limbah industri, dan pelayanan kesehatan. Untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi Kota Cilegon diperlukan beberapa langkah penyelesaian masalah seperti penyelesaian permasalahan transportasi, peningkatan kualitas sarana dan prasarana kota, dan juga perlu dipertimbangkannya dampak industri yang ada terhadap lingkungan sekitarnya.
RTRW Kota Cilegon 2010 - 2030 III-3 Tabel 3-1
Masalah, Potensi, dan Usulan Pembangunan Kota Cilegon dalam RTRWP Banten Tahun 2010-2030
MASALAH Air bersih Persampahan Fasilitas sosial Polusi industri Penghijauan
Kemacetan di koridor utama Urbanisasi
POTENSI Industri Berat dan Menengah Pelabuhan dan Pergudangan Wisata pantai dan bukit
USULAN Pelabuhan Internasional Kawasan Ekonomi Khusus
Jalan alternatif Merak – Bojonegara Kawasan Wisata Pantai
Sumber : RTRWP Banten, 2010-2030
Dalam RTRWP Banten 2010 - 2030 diatur kebijakan pola dan struktur pemanfaatan ruang, arahan pengelolaan kawasan perdesaan, kawasan perkotaan dan kawasan strategis, arahan pengembangan kawasan budidaya, arahan sistem pusat permukiman perkotaan dan perdesaan, serta arahan pengembangan sistem sarana dan prasarana wilayah. Aspek-aspek rencana ini menjadi acuan dalam menentukan arahan kebijakan bagi pengembangan Kota Cilegon.
3.2.1 Kebijakan Pemanfaatan Ruang
A. Arahan Pemanfaatan Ruang Kawasan Lindung
Arahan umum pemanfaatan ruang kawasan lindung Provinsi Banten adalah sebagai berikut :
1. Pemantapan batas dan status kawasan lindung sehingga keberadaannya lebih jelas, baik secara fisik maupun status hukum,
2. Pemanfaatan kawasan lindung dapat dilakukan sejauh tidak mengurangi fungsi lindungnya,
3. Mengikutsertakan masyarakat lokal dalam pemeliharaan kawasan lindung,
4. Pengelolaan kawasan lindung yang meliputi lebih dari satu wilayah administrasi, baik dari segi fisik maupun fungsional di bawah koordinasi pemerintah provinsi,
5. Kerjasama antar daerah kabupaten/kota menjadi salah satu pendekatan utama dalam pengelolaan kawasan lindung yang meliputi dari satu wilayah administrasi.
RTRW Kota Cilegon 2010 - 2030 III-4 B. Arahan Pemanfaatan Ruang Kawasan Budidaya
Arahan pengembangan kawasan budidaya yang menjadi kepentingan antar wilayah adalah mempertahankan kawasan lahan basah (sawah), khususnya yang beririgasi teknis. Sedangkan untuk kawasan budidaya lainnya diatur dalam standar dan kriteria teknis pemanfaatan ruang yang berlaku umum dan menjadi persyaratan minimal sebagai pedoman bagi seluruh kabupaten/kota di wilayah Provinsi Banten.
Untuk tujuan pemanfaatan ruang, maka kebijakan kawasan lindung dan budidaya di Provinsi Banten, antara lain:
1. Meningkatkan fungsi dan kualitas kawasan lindung dan budidaya Provinsi Banten, untuk mencegah timbulnya kerusakan dari ekosistem lingkungan hidup,
2. Meningkatkan keseimbangan dan keserasian perkembangan antar wilayah serta keserasian antar sektor melalui pemanfaatan ruang kawasan lindung dan budidaya secara serasi, selaras, dan seimbang,
3. Mewujudkan kelestarian fungsi lingkungan hidup, meningkatkan daya dukung lingkungan dan menjaga ekosistem antar wilayah guna mendukung proses pembangunan berkelanjutan,
4. Tercapainya proporsi luas kawasan lindung Provinsi Banten sebesar 30% dari luas Provinsi Banten atas dasar krteria kawasan-kawasan yang berfungsi lindung.
3.2.2 Kebijakan Struktur Ruang
A. Arahan Pengembangan Sistem Kota-kota dan Kawasan Pengembangan Fungsional
Berdasarkan RTRW Provinsi Banten, arahan pengembangan sistem perkotaan di Provinsi Banten 2010 - 2030 yaitu sebagai berikut:
1. Pusat Kegiatan Nasional (PKN) meliputi Kawasan Perkotaan Tangerang, Kawasan Perkotaan Tangerang Selatan (Jabodetabek), Kawasan Perkotaan Cilegon, dan Kawasan Perkotaan Serang.
2. Pusat Kegiatan Wilayah meliputi Kawasan Perkotaan Pandeglang dan Kawasan Perkotaan Rangkasbitung, sedangkan yang diusulkan untuk menjadi Pusat Kegiatan Wilayah Promosi (PKWp) Panimbang, Bayah, Maja, Balaraja dan Teluk Naga.
3. Pusat Kegiatan Lokal meliputi perkotaan : Labuan, Cibaliung, Malingping, Anyar, Baros, Kragilan, Kronjo dan Tigaraksa. .
Adapun rencana Wilayah Kerja Pembangunan (WKP) di Provinsi Banten adalah sebagai berikut:
RTRW Kota Cilegon 2010 - 2030 III-5 WKP I : Kota dan Kabupaten Tangerang, serta Kota Tangerang Selatan.
WKP II : Kota Cilegon, serta Kota dan Kabupaten Serang. WKP III : Kabupaten Pandeglang.
WKP IV: Kabupaten Lebak.
3.2.3 Kebijakan Pengembangan Kawasan Strategis
Pengembangan kawasan strategis ditetapkan berdasarkan 4 (empat) kepentingan, yaitu: 1. kawasan strategis dari sudut kepentingan pertahanan dan keamanan yaitu :
a. Pulau Deli sebagai kawasan pulau kecil terluar;
b. kawasan TNI AU Bandara Gorda di Kabupaten Serang;
c. kawasan TNI AD KOPASUS di Taktakan Kabupaten
Serang;
d. kawasan TNI AD komando pendidikan latihan tempur di Kecamatan Sajira Kabupaten Lebak
2. Kawasan strategis dari sudut kepentingan pertumbuhan ekonomi dibagi menjadi kawasan strategis di tingkat nasional dan provinsi :
a. Kawasan Starategis Nasional meliputi :
• Kawasan Selat Sunda;
• Kawasan perkotaan jabodetabek-punjur khususnya kota tangerang, kota tangerang selatan dan kabupaten tangerang.
b. Kawasan strategis Provinsi :
• Kawasan Perindustrian Kota Cilegon
• Banten Water Front City di Kota Serang;
• Kawasan Wisata Tanjung Lesung – Panimbang di Kabupaten Pandeglang;
• Kawasan Sport City di Kota Serang;
• KP3B (Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten) di Kota Serang;
• Kawasan Malingping di Kabupaten Lebak;
• Kawasan Cibaliung di Kabupaten Pandeglang;
• Kawasan Bayah di Kabupaten Lebak;
• Kawasan Balaraja di Kabupaten Tangerang;
• Kawasan Teluknaga di Kabupaten Tangerang;
• Kawasan Kota Kekerabatan Maja di Kabupaten Lebak;
• Kawasan Kaki Jembatan Selat Sunda;
• Kawasan pusat-pusat pertumbuhan.
3. Kawasan strategis dari sudut kepentingan sosial budaya yaitu:
• Situs Banten Lama di Kota Serang; dan
RTRW Kota Cilegon 2010 - 2030 III-7 4. Kawasan strategis dari sudut kepentingan pendayagunaan SDA dan/atau Teknologi
Tinggi yaitu:
• PLTU 1 Suralaya Kota Cilegon dengan kapasitas 600 s.d 700 MW;
• PLTU 2 Labuan Kabupaten Pandeglang dengan kapasitas 300 s.d 400 MW;
• PLTU 3 Lontar Kabupaten Tangerang dengan kapasitas 300 s.d 400 MW;
• PLT Panas Bumi Kaldera Danau Banten;
• Bendungan Karian di Kabupaten Lebak;
• Bendungan Pasir Kopo di Kabupaten Lebak;
• Bendungan Cilawang di Kabupaten Lebak;
• Bendungan Tanjung di Kabupaten Lebak;
• Bendungan Sindang Heula di Kabupaten Serang;
• Waduk Krenceng di Kota Cilegon;
• Bendungan Pamarayan di Kabupaten Serang;
• Bendungan Ranca Sumur di Kabupaten Tangerang;
• Bendungan Ciliman di Kabupaten Lebak;
• Puspiptek di Kota Tangerang Selatan.
5. Kawasan strategis dari sudut kepentingan fungsi daya dukung lingkungan yaitu:
a. kawasan strategis nasional meliputi Taman Nasional Ujung Kulon di Kabupaten Pandeglang;
b. kawasan strategis provinsi meliputi:
• Cagar Alam Rawa Danau (kurang lebih 2.500 Ha) di Kabupaten Serang;
• Cagar Alam Gunung Tukung Gede (kurang lebih 1.700 Ha) di Kabupaten Serang;
• kawasan AKARSARI (Gunung Aseupan, Gunung Karang, dan Gunung Pulosari) di Kabupaten Serang dan Kabupaten Pandeglang;
• kawasan Penyangga Bandar Udara Soekarno-Hatta.
3.3 Isu Strategis (Kebijakan dan Aspek Legal) Pengembangan Wilayah Kota Cilegon
Berdasarkan tinjauan perkembangan dan permasalahan Kota Cilegon baik dari kondisi internal maupun eksternal dalam konteks Provinsi Banten, maka pengembangan Kota Cilegon ini akan dihadapkan beberapa isu strategis sebagai berikut:
1. Struktur Ruang Kota. Masih terpusatnya kegiatan perkotaan di satu pusat yaitu di sepanjang jalan utama kota. Di sisi lain terdapat kawasan perindustrian cukup luas di sebelah Barat Kota atau sepanjang pantai sebelah Barat yang belum termanfaatkan secara maksimal.
RTRW Kota Cilegon 2010 - 2030 III-8 2. Integrasi antar kegiatan atau guna lahan menjadi permasalahan yang cukup penting
untuk diperhatikan. Sering terjadi konflik antara kegiatan industri dengan kegiatan hunian.
3. Perubahan Pemanfaatan Ruang, terutama konversi lahan pertanian. Kurang cepatnya antisipasi (ketentuan, standar dan perangkat lainnya) perkembangan terutama yang disebabkan oleh tekanan ekonomi, sehingga muncul berbagai persoalan perubahan pemanfaatan lahan yang pada akhirnya menurunkan luas lahan pertanian yang beralih fungsi menjadi lahan non pertanian.
4. Fungsi Kota. Berkaitan dengan penetapan fungsi Kota Cilegon yang mempunyai karakter sebagai kota industri, untuk mendukung terciptanya tujuan ini, maka fungsi sebagai kota industri sekaligus pusat pemerintahan ini perlu lebih diarahkan.
5. Ruang Publik. Meskipun Kota Cilegon ini memiliki ruang yang belum terbangun cukup banyak, tetapi ruang publik dapat dikatakan hampir tidak ada kecuali jalan-jalan di Kota Cilegon serta lahan-lahan kosong. Beberapa lapangan yang dapat digunakan sebagai ruang publik umumnya merupakan lapangan sebagai bagian dari fasilitas pendidikan atau fasiltas yang disediakan oleh pengelola kawasan industri dan perumahan.
6. Pelayanan Publik. Kualitas pelayanan publik yang belum optimal, meliputi kualitas pelayanan yang memberikan pelayanan kesehatan dan pendidikan masyarakat, kualitas kebersihan dan keindahan lingkungan kota dan masih terbatasnya kemampuan dalam menyediakan air bersih dan pemeliharaan infrastruktur kota.
7. Sistem Transportasi. Tingkat pelayanan jalan masih dapat menampung kegiatan kota, akan tetapi kondisi jalan nasional yang buruk (karena lalu lintas regional melalui pusat kota) sering menimbulkan kemacetan, gangguan lalu lintas yang berasal dari kegiatan-kegiatan yang sering menggunakan badan jalan serta masalah yang berkaitan dengan sistem terminal dan penyediaan fasilitas pejalan kaki.
8. Kualitas Lingkungan Binaan. Perlunya penanganan dan peningkatan kualitas lingkungan pada kawasan pusat kota, serta rendahnya kemampuan pemeliharaan dan pengendalian pemanfaatan ruang publik (Taman, Ruang Milik Jalan).
RTRW Kota Cilegon 2010 - 2030 IV-1 B B B B B B B BAAABAAAAABBBBBBB