Dian Wardiana Sjuchro, dan Yoki Yusanto
Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjadran Bandung, dan Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Sulta Ageng Tirtayasa Banten
Pendahuluan
Undang-undang Penyiaraan No. 32 Tahun 2002, mengisyaratkan berdirinya stasiun televisi komunitas secara analog dengan pemancar teresterial, pada perkembangannya TV komunitas pun kini dapat bersiaran dengan medium digital di era 4.0.
Televisi Komunitas di Indonesia bergairah di eta tahun 2002 hingga 2010 setelah itu tidak terdengar kiprahnya lagi, bahkan penulis sebagai pelopor berdirinya Asosiasis Televisi Komunitas Indonesia (ATVKI) pada Kongres di Magelang pada tahun 2008, kini tidak lagi mendengar siaran Televisi Komunitas baik di grup Komunitas di media sosial maupun forum email group para pengelola TV Komunitas.
Televisi Komunitas terbentuk dengan semangat konstitusi yang diatur dalam undang-undang penyiaran, juga diatur secara khsusus melalui Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 51 tahun 2005 tentang Penyelenggaraan Penyiaran, Lembaga Penyiaran Komunitas.
Tertuang dalam peraturan tersebut adalah ;
Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan:
1. Siaran, penyiaran, penyiaran radio, penyiaran televisi, siaran iklan, siaran iklan layanan masyarakat, spektrum frekuensi radio, lembaga penyiaran, pemerintah, dan izin penyelenggaraan penyiaran adalah sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran.
2. Lembaga Penyiaran Komunitas adalah lembaga penyiaran radio atau televisi yang berbentuk badan hukum Indonesia, didirikan oleh komunitas tertentu, bersifat independen, dan tidak komersial, dengan daya pancar rendah, luas jangkauan wilayah terbatas, serta untuk melayani kepentingan komunitasnya.
Semarak Stasiun televisi komunitas di era tahun 2008 dimeriahkan oleh berdirinya Asosiasi Televisi Komunitas Indonesia (ATVKI) yang dideklarasikan di Stasiun Televisi Grabag TV, di Dusun Grabag, Kabupaten Magelang. Namun keberadaannya bak ditelan bumi, tidak terdengar lagi hirup pikuk diskusi dan perdebatan di antara anggota Asosiasi dari pelbagai penjuru tanah air. Terakhir pertemuan kongres ATVKI ke-2 di kampus Institut Seni Indonesia (ISI) di Yogyakarta, tahun 2009. Kala itu kepengurusan ATVKI di rubah dan dihasilkan kepengurusan baru, namun sejak itu pula diksusi seakan terhenti dan tidak terdengar lagi eksistensinya baik di dunia maya maupun di dunia nyata, se-iring tidak terlihat dan terdengar siaran televisi komunitas di Indonesia.
Penulis pada tahun 2010 pernah mengunjungi stasiun televisi komunitas di sebuah pesantren bernama Sunan Drajat Televisi (SDTV), tepatnya di Pesantren Sunan Drajat, Pimpinan K.H. Abdul Ghofur, di Kabupaten Lamongan Jawa Timur, aktivitas di sana begitu bersemangat, ada tim liputan, tim produksi, dan tim di stasiun televisi yang bekerja secara sukarela dan belajar secara otodidak dikelola oleh para santri.
Bersiaran rutin setiap hari yang berkaitan tentang kegiatan di Pesantren Sunan Drajat.
Penulis pernah mendirikan stasiun televisi komunitas di kampus Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Serang Banten, pada tahun 2008, berdirinya hampir bersamaan dengan IAIN TV Maulana Hasanuddin (Kini UIN Maulana Hasanuddin Banten). Bersiaran dengan Chanel UHF Frekuensi rendah di saluran 50 UHF hanya berkekuatan 50 Watt dan hanya dapat di saksikan sejauh 5 KM dari pemancar, masyarakat sekitar kampus terutama mahasiswa yang indekos bisa menyaksikan siaran TV komunitas dengan menggunakan antena UHF teresterial.
Namun perjuangan dalam membangun stasiun televisi komunitas bisa di generalisasi, sebagaimana dialami oleh UNTIRTA TV, UIN TV, di kota Serang atau Sunan Drajat TV di Lamongan, tidak semudah dibayangkan, karena biaya operasional tinggi dan sumber daya manusia (SDM) yang tidak semudah dibayangkan menggunakan kader mahasiswa sebagai tim produksi, bukan penyelesaian masalah, atau proses siaran di TV Komunitas, faktor-faktor regenerasi, kemampuan dan keberminatan di bidang penyiaran televisi tidak selalu konsisten dan berkontribusi untuk kepentingan tim produksi.
TV Komunitas juga dibebani dengan persyararatan yang tidak jauh
Komunikasi dalam Media Digital | 27 berbeda dengan TV lokal di daerah dalam hal penyusunan persyaratan perizinan. Perizinan dari tingkat masyarakat yang paling rendah RT/RW, Desa/Kelurahan, Kecamatan hingga tingkat Kabupaten dan Provinsi, dengan dokumen yang harus lengkap seperti membangun stasiun televisi lokal. Tidak ada perbedaan persyaratan perizinan yang disampaikan ke Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) yang diteruskan ke Kementrian Komunikasi dan Informatika. Pada dasarnya KPID Provinsi hanya memberikan rekomendasi untuk selanjutnya Ijin penyiaran TV Komunitas ditandatangani oleh Menkominfo.
Sekelumit keruwetan dalam masalah perijinan untuk televisi komunitas kini sudah tidak bisa dihadapi lagi oleh para aktivis stasiun televisi penyiaran komunitas, jika beralih menjadi stasiun penyiaran dengan medium internet secara digital, tanpa menggunakan frekuensi teresterial secara analog. Jika bersiaran melalui internet dengan format digital, misalnya membuat situs stasiun televisi komunitas tentunya tidak diperlukan izin ke Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) di daerahnya masing-masing, karena untuk membuat situs (Website) tidak diperlukan izin, sebagaimana jutaan portal berita on line bermunculan diberbagai daerah bahkan dikelola oleh secara pribadi. Padahal sejatinya media massa pada konsep komunikasi masa dikelola oleh lembaga bukan dikelola secara perorangan. Lembaga itu harus resmi lembaga pers, bukan secara individual.
Kini di era 4.0 televisi komunitas menuju era digital dan tidak sama sekali menggunakan frekuensi milik publik secara teresterial. Kini di era digital penggunaan media internet menjadi salah satu alternatif pemecahan masalah keruwetan menghadapi persyaratan berdirinya stasiun televisi komunitas di pelbagai daerah. Semua komunitas kini bisa mendirikan stasiun televisi yang secara berdiri berdasarkan komunitas namun bersiaran secara global. Tidak lagi berpacuan pada undang-undang penyiaran dan peraturan pemerintah tentang penyiaran komunitas dalam pendiriannya. Di mana ketika berdiri tv komunitas harus melaksanakan sistem penyiaran sesuai undang-undang penyiaran, seperti halnya tercantum dalam penjelasan peraturan pemerintah di mana pada BAB I Pasal 1, menjelaskan tentang, “Wilayah Jangkauan Siaran adalah wilayah layanan siaran sesuai dengan izin yang diberikan, yang di dalam wilayah tersebut dijamin bahwa sinyal dapat diterima dengan baik dan bebas dari gangguan atau interferensi sinyal frekuensi radio lainnya.”
Jangkauan siaran televisi komunitas tidak terbatas pada jangkaun wilayah ketika bersiaran melalui jaringan internet melalui website.
Bahkan pemirsa tayangan TV Komunitas tidak hanya warga atau komunitas sekitar itu berada tetapi bersiaran ke seluruh dunia. Inilah yang dinamakan era Global Village.
Untuk itu insan televisi komunitas di era digital 4.0 tidak lagi memikirkan untuk berhubungan dengan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) atau KPID di daerah, karena dalam siaran digital tidak dijelaskan secara rinci baik di undang-undang penyiaran maupaun pemerintah tidak spesifik menuliskan tentang aturan tentang pendirian stasiun televisi komunitas dengan siaran digital di medium internet yakni website.
Bagaimana siaran digital dapat terlaksana oleh stasiun televisi komunitas, adalah tetap berpikir komunitas, tanpa komunitas atau tanpa tim yang bekerja stasiun televisi mustahil bisa beroperasi, pun komunitas itu misalnya dalam sebuah organisasi perusahaan swasta, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), lingkungan universitas, lingkungan kampus sekolah SMU/SMK, tataran lingkungan Desa/Dusun, Pesantren atau Instansi Pemerintah di pelbagai daerah.
Salah satu ilustrasi yang mendobrak dunia stasiun televisi komunitas di Indonesia adalah yang berhasil memanfaatkan era digital 4.0 adalah Bina Nusantara TV (Binus TV), yang kini bersiaran secara digital di internet, melalui Website, kita bisa menyaksikan karya mahasiswa Universitas Bina Nusantara setiap harinya. Hasil karya produksi siaran televisi Binus TV bisa dikatakan sudah sejajar dengan stasiun televisi nasional dari pengemasan dan pengelolaan acaranya. Penonton Binus TV pun beragam tidak hanya lingkungan komunitas Universitas Bina Nusantara, tetapi seantero dunia dapat menyaksikan melalui aplikasi video.com atau Web Site binus.tv yang disiarkan secara streaming.
Di Kampus Universitas Padjadjaran, ada studi televisi yang mumpuni dan memiliki fasilitas dan peralatan yang mewah bahkan memiliki pemancar UHF, dan sudah memiliki ijin siaran. namun hingga kini belum bersiaran secara komunitas secara kontinyuitas. Berbagai faktor permasalahan menjadi hal utama dalam pengelolaan stasiun televisi yang berdiri di Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM). Beberapa kali siaran dilakukan hanya untuk pemenuhan tugas praktikum saat ujian para mahasiswa, misalnya. Pemanfaatan fasilitas yang dimiliki Laboratorium Fikom Unpad sangat berbeda dengan yang sudah eksis yakni Binus TV.
Komunikasi dalam Media Digital | 29 Pembahasan
Televisi komunitas berdasarkan UU Penyiaran 32 tahun 2002, Lembaga Penyiaran Komunitas adalah lembaga penyiaran yang berbentuk badan hukum Indonesia, didirikan oleh komunitas tertentu, bersifat independen dan tidak komersial, dengan daya pancar rendah, luas jangkauan wilayhnya terbatas, serta untuk melayani kepentingan komunitasnya. Televisi Komunitas secara sosial harus bertanggung jawab terhadap masyarakatnya, dan karenanya harus berpihak pada kepentingan masyarakat. Media komunitas ini hadir sebagai media alternatif yang mengusung keberagaman kepemilikan (diversity of ownership), juga mendorong adanya kebaragaman isi (diversity of content) dalam program-program siaran karena melayani komunitasnya yang beragam. Stasiun Televisi Komunitas mempunyai hak yang sama sesuai UU Penyiaran untuk didirikan di berbagai daerah. Bisa di pedesaan, perkotaan maupun lingkungan akademis, seperti sekolah atau kampus. Televisi Komunitas sebagai media massa juga berfungsi sebagai kontrol sosial di masyarakat, terutama lingkungan tempat jangkauan siaran televisi komunitas itu beroperasi. Televisi komunitas dimungkinkan menyiarkan siaran berita, tentu saja menyangkut peristiwa-peristiwa yang berkembang di wilayah televisi komunitas itu berada.(Zoebazary, 2010 : 257).
Permasalahan muncul kembali apakah televisi yang bersiaran menggunakan ranah medium digital yakni internet, tidak mesti berizin sesuai undang-undang penyiaran karena tidak menggunakan frekuensi analog milik publik. Karena peraturan pemerintah hanya mengatur siaran digital secara teresterial sedangkan siaran digital memalui internet belum di atur secara jelas, tidak ada peraturan pemerintah tentang siaran televisi internet.
Dalam peraturan pemerintah dijelaskan siaran digital teresterial, melalui Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia, Nomor 28 Tahun 2013 Tentang Tata Cara dan Persyaratan Perizinan Penyelenggaraan Penyiran Jasa penyiaran Televisi Secara Digital Melalui sistem teresterial Pasal 2 (1) Penyelenggara Program Siaran menyiarkan program siarannya melalui Saluran Siaran yang disediakan oleh penyelenggara penyiaran multipleksing. (2) Jumlah Saluran Siaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Menteri dalam Peluang Penyelenggaraan PenyiaranLembaga Penyiaran Jasa Penyiaran Televisi secara Digital melalui Sistem Terestrial.(3)
Penyelenggara Program Siaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan oleh : a.Lembaga Penyiaran Publik TVRI (LPP TVRI)
; b.Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPP Lokal); c.Lembaga Penyiaran Swasta (LPS); dan d. Lembaga Penyiaran Komunitas (LPK).
Peraturan tentang siaran digital dengan website di internet belum diatur dalam undang-undang secara khsusus, jadi jika stasiun televisi komunitas bersiaran digital dengan menggunakan website secara streaming tidak memerlukan izin dari kementerian komunikasi dan informatika, melalui rekomendasi Komisi Penyiaran Indonesia.
Untuk itu agar eksistensi stasiun Televisi Komunitas bisa berlangsung dan kreativitas masyarakat baik di Desa, Pesantren, maupun kampus tidak berhenti karena aturan dan biaya yang besar untuk memasuki era digitalisasi penyiaran, seyogianya kini menggunakan ranah yang lebih efisien yakni internet. TV Internet melaui website bisa digunakan oleh stasiun televisi komunitas untuk dapat berkarya nyata dan tetap eksis di dunia penyiaran dan kreativitas, dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kepentingan sosial dan budaya lokal Indonesia untuk di expose ke belahan dunia melalui pemanfaatan jaringan internet.
TV Internet sebagai Solusi
TV internet jika situs (baik itu situs, blog, atau akun di layanan simpan video) memiliki tayangan video yang terkonsep, ter-update, kontinu, dan bisa diakses oleh publik secara bebas, apa pun bentuk pendistribusiannya.(Kusuma, 10 : 2009)
Salah satu cara untuk eksistensi kembali semarak, TV Komunitas menggunakan internet dan bermetamorfosa dari TV Komunitas yang bersiaran secara analog dengan Frekuensi UHF atau VHF, atau siaran TV Digital Teresterial yang sangat penuh aturan dan persyaratan yang membuat kita terpaku hanya dengan menyusun proposal, lebih baik stasiun televisi komunitas dipelbagai daerah di Indonesia yang sejak kongres ATVKI di Magelang dihadiri lebih dari 120 orang pegiat Televisi Komunitas Se-Indonesia, kini saatnya tetap bersiaran dengan menggunakan layanan internet sekaligus menyongsong era industri digital 4.0.
Secara teknis melalui sairan internet Hard Ware dan Soft Ware, tentunya tinggal menguji kreativitas para aktivis TV Komunitas itu sendiri karena dengan berbasis digital semua program siaran ditopang
Komunikasi dalam Media Digital | 31 dengan sistem siaran digital yang kesemuanya bisa di akses melalui internet.
Menurut Jauhari, Internet, media ini menjadi teknologi informasi yang paling mutakhir, lengkap, dan canggih. Bahkan untuk saat ini, pemirsa juga dapat menikmati radio maupun televisi melalui teknologi streaming, yaitu teknologi yang dapat menerima serta mengirim infomasi dari satu pihak ke pihak lain dengan menggunakan alat yang dapat menerima aliran streaming tersebut. Teknologi ini menggunakan Lossy Audio Codec semacam program komputer yang fungsinya mengkompres audio maupun video berdasarkan data yang diformat melalui streaming suara ke radio internet.(Jauhari, ed 2013 : 89)
Penutup
Internet sebagai saran siaran Televisi Komunitas menjadi alternative di mana, ketika masyarakat dalam sebuah komunitas memiliki kreativitas dibidang penyiaran memanfaatkan internet tv sebagai sarannya. TV digital terseterial bagi TV Komunitas serasa berat adanya jika harus berkoordinasi dengan lembaga penyiaran di atasnya yakni stasiun televisi publik misalnya TVRI atau stasiun tlevisi lokal, karena kebaradaan TV Komunitas dari awal berdirinya hidup dalam ruang lingkup marginalisasi dalam kancah industri penyiaran, keberadannya hanya pelengkap undang-undang dan peraturan pemerintah sedangkan dalam prakteknya TV Komunitas tidak memiliki kekuatan yang cukup mumpuni dari berbagai hal dari pada stasiun televisi publik maupun stasiun televisi swasta lokal maupun nasional.
Daftar Pustaka
Jauhari, Haris (ed),2013 Jurnalisme Televisi Indonesia, Penerbit KPG, Jakarta.
Kusumah, Yuliandi, 2009, Beken Dengan, TV On Line, Grasindo, Jakarta.
Zoebazary, Ilham, 2010, Kamus Istilah Televisi & Film, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Sumber Lain :
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 51 tahun 2005 tentang Penyelenggaraan penyiaran lembaga Penyiaran Komunitas.
Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia, Nomor 28 Tahun 2013 Tentang Tata Cara dan Persyaratan Perizinan Penyelenggaraan Penyiran Jasa penyiaran Televisi Secara Digital Melalui sistem teresterial
Undang-undang Penyiaraan Rebublik Indonesia No. 32 Tahun 2002 Tentang Penyiaran.
33