Potret Mekanisme Jurnalisme Warga di Indonesia dalam Jurnalisme Online di Era Digital
1. Menyoal Jurnalisme Warga dan Jurnalisme Online
Jurnalisme warga didefinisikan sebagai partisipasi aktif masyarakat dalam mencari, mengumpulkan, mengolah dan mendistribusikan informasi. Seperti yang dikutip dari Romli (2012) bahwa jurnalisme warga adalah sebuah praktik atau kegiatan terkait jurnalistik yang dilakukan oleh orang biasa, bukan jurnalis profesional di sebuah media mainstream.
Pepih Nugraha (2012:20), menjelaskan bahwa istilah jurnalisme warga juga dikenal dengan beberapa nama lain yaitu Participatory Journalism, Public Journalism, Democratic Journalism, Independent Journalism, Wiki Journalism, Open-source Journalism, dan Street Journalism. Pada salah satu istilah diatas, Participatory Journalism menurut JD Lasica yang dikutip dari Pepih Nugraha (2012:20) mempunyai enam kategori yaitu partisipasi khalayak media utama (komentar artikel); situs berita dan informasi independen; blog sosial; situs media kolaborasi dan kontribusi;
bentuk lain “media kecil” (mailing list); dan situs penyiaran pribadi. Dari kategori-kategori tersebut, dapat kita lihat bahwa masyarakat sebagai non-profesional praktisi, sering membuat dan menyebarkan informasi kepada khalayak luas. Karena itulah, kegiatan jurnalisme warga sering dikaitkan dengan keaktifan masyarakat dalam hal pembuatan dan penyebarluasan suatu informasi.
Dengan kemudahan internet di jaman sekarang membuat siapa saja dapat mengakses, membuat, mencari dan menyebarkan informasi secara cepat dan mudah. Hampir semua orang bisa memiliki akun media sosial dan media online lainnya seperti portal berita online Kompasiana.
Kompasiana merupakan media atau blog jurnalisme warga yang sudah digunakan oleh ratusan ribu orang untuk membaca, mencari, membuat dan membagikan informasi. Meskipun blog jurnalisme warga, namun di Kompasiana tidak hanya berisikan informasi seputar jurnalisme warga tapi juga informasi umum lainnya.
Dalam bukunya Romli (2012: 12) yang dikutip bahwa kehadiran jurnalistik online memberikan sebuah perubahan dalam kegiatan jurnalistik.
Perubahan tersebut tidak hanya dari bentuk media dan cara penyajiannya, tapi juga dalam praktisi atau jurnalisnya. Dengan adanya jurnalistik online, kini semua orang bisa menjadi seorang jurnalis yang berkontribusi dalam penyampaian sebuah informasi. Kegiatan tersebut sekarang dikenal dengan jurnalisme warga (citizen journalism) dimana kegiatan tersebut merupakan salah satu hasil di jaman sekarang dari adanya jurnalistik online. Jurnalistik online sendiri merupakan wadah atau tempatnya terjadi pengolahan sebuah informasi secara online. Sedangkan untuk jurnalisme warganya sendiri berasal dari dua kata yaitu jurnalistik dan warga dimana menurut Ensiklopedia Indonesia, jurnalistik merupakan sebuah bidang profesi yang melakukan penyajian informasi mengenai isu – isu yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari secara berkala dengan sarana media publikasi yang ada. Sedangkan warga menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yaitu anggota, perkumpulan, dan lain sebagainya sehingga dapat disimpulkan bahwa jurnalisme warga merupakan partisipasi aktif dalam kegiatan mengumpulkan, mengolah dan menyampaikan informasi dan berita yang dilakukan oleh masyarakat. Hal tersebut ditambahkan dengan penjelasan yang dikutip dari Romli (2012) bahwa jurnalisme warga adalah sebuah praktik atau kegiatan terkait jurnalistik yang dilakukan oleh orang biasa, bukan jurnalis profesional di sebuah media mainstream. Pada praktiknya, narasumber dari Kompasiana juga mengatakan bahwa penulis-penulis yang berpartisipasi dalam media tersebut merupakan warga biasa dengan latar belakang yang berbeda dan mungkin dengan ketidaktahuannya tentang jurnalistik tapi ingin berbagi informasi tentang apapun dalam keseharian mereka.
Tidak hanya tentang jurnalisme warga, di Kompasiana juga memberikan ruang untuk memberikan kritikan, opini, dan ikut membuat informasi terkait isu terkini dari sudut pandang warga. Dengan adanya media online seperti Kompasiana ini juga memberikan penyaringan terhadap informasi-informasi yang dibuat.
Selain Kompasiana, dalam penelitian ini juga menggunakan Aku Massa sebagai objek penelitian. Aku Massa ini dibentuk pada awalnya sebagai program pemberdayaan dan pendidikan media berbasis komunitas. Fokus awal yang dibentuk oleh Forum Lenteng ini yaitu pemberdayaan media video yang kemudian diadakan workshop selama kurang lebih 1 bulan dan berkolaborasi dengan beberapa komunitas lokal
Komunikasi dalam Media Digital | 49 di berbagai daerah. Sebelum menjadi website jurnalisme warga yaitu Akumassa.org, Aku Massa dulunya berbentuk sebuah blog yang dibuat untuk memuat catatan – catatan harian dari para partisipan workshop tersebut.
Sampai saat ini, beberapa penulis di Aku Massa berasal dari partisipan – partisipan yang pernah mengikuti workshop yang pernah diadakan oleh Aku Massa. Selain itu, penulisnya juga berasal dari warga masyarakat yang ada diluar komunitas – komunitas partisipan tersebut. Tidak hanya itu, Aku Massa juga biasanya mengajak penulis – penulis untuk membuat artikel yang kemudian akan dimuat di Aku Massa. Website Aku Massa ini sendiri dijadikan sebagai kanal bersama untuk memuat tulisan – tulisan yang telah dibuat oleh para partisipan tersebut. Dalam bukunya Romli (2012) yang dikutip bahwa kehadiran jurnalistik online memberikan sebuah perubahan dalam kegiatan jurnalistik. Perubahan tersebut tidak hanya dari bentuk media dan cara penyajiannya, tapi juga dalam praktisi atau jurnalisnya. Dengan adanya jurnalistik online, kini semua orang bisa menjadi seorang jurnalis yang berkontribusi dalam penyampaian sebuah informasi. Dengan hadirnya Aku Massa sebagai portal online jurnalistik warga ini membantu masyarakat dalam memperoleh informasi dari beberapa daerah yang komunitas-komunitasnya berpartisipasi dengan Aku Massa. Aku Massa ini merupakan salah satu media yang bekerjasama dengan komunitas – komunitas di beberapa daerah seperti Solok dan Lombok Utara. Hadirnya Aku Massa juga memberikan informasi yang tidak dijamah oleh media mainstream, seperti contohnya kegiatan, pemerintahan, budaya lokal, kuliner dan lainnya yang ada di Solok maupun Lombok Utara.
Outing dalam artikel berjudul The 11 Layers of Citizen Journalism yang dikutip dari Pepih Nugraha (2012:26), menjelaskan bahwa terdapat 11 lapisan atau langkah masyarakat biasa untuk membuat jurnalisme warga diantaranya (1) opening up to public comment; (2) the citizen add-on reporter; (3) open-source reporting; (4) the citizen bloghouse; (5) newsroom netizen transparency blogs; (6) the stand-alone citizen journalism site:
edited version; (7)stand-alone citizen journalism site: unedited version; (8) add a print edition; (9) the hybrid: pro+citizen journalism; (10) integrating citizen and projournalism under one roof; dan (11) wiki journalism: where the readers are editor.
Beberapa kutipan di atas terlihat bahwa keaktifan masyarakat biasa dalam hal pembuatan dan penyebaran informasi ini memang terlihat
amatir, oleh karena itu, terdapat beberapa lapisan yang kemudian mendukung informasi tersebut dengan merangkul masyarakat biasa untuk memproduksi dan mendistribusikan informasinya bersama profesional. Hal inilah yang sampai saat ini menjadi “pergunjingan” di kalangan akademisi, praktisi bahkan dari masyarakat itu sendiri, tentang bagaimana kemudian kredibiltas informasi jurnalisme warga, ketika pembuatnya hanyalah masyarakat biasa yang “mungkin” sebagian dari mereka tidak tahu tentang etika dan tata cara pengumpulan sampai pembuatan dan pendistribusian suatu informasi.Oleh karena itu dalam praktiknya, PPWI telah membuat serangkaian ketentuan yang dapat digunakan oleh para jurnalis warga sebagai pedomannya. Ketentuan – ketentuan tersebut tertulis dalam Kode Etik Pewarta Warga dikutip dari laman Pewarta Indonesia (https://pewarta-indonesia.com/en/2019/06/
kode-etik-pewarta/ diakses 25 Mei 2019), yang termasuk mengenai ketentuan sumber yang harus objektif, tulisan yang berupa fakta, dan adanya tata krama dalam pengambilan informasi.
Pergunjingan terkait jurnalisme warga tidak berhenti sampai disitu saja, namun jurnalisme warga erat dikaitkan dengan jurnalisme online yang merupakan bentuk jurnalisme terkini yang menggunakan media internet untuk menyebarluaskan informasi kepada publik. Kedua jenis informasi ini dikaitkan karena keduanya adalah bentuk informasi dan menggunakan medium yang sama. Seperti yang dikutip dari Romli (2012: 11), jurnalistik online dapat disebut juga dengan cyber journalism, jurnalistik internet dan jurnalistik web yang dapat dikatakan sebagai generasi baru dalam jurnalistik. Romli (2012: 12) juga mengatakan bahwa jurnalistik online merupakan proses penyampain informasi dengan menggunakan media internet, terutama website atau yang sekarang sering digunakan yaitu media online. Hal lain yang terkait adalah bahwa karakteristik-karakteristik jurnalistik online juga menempel dengan informasi jurnalisme warga yang disampaikan melalui media internet. Menurut James C. Foust yang dikutip Romli (2012: 16) dalam bukunya yang bertajuk “Jurnalistik Online”, jurnalisme online memiliki karakteristik sebagai berikut: (1) unlimited space, (2) audience control, (3) nonlienarity, (4) storage and retrieval, (5) immediacy, (6) multimedia capability, dan (7) interactivity.
Meskipun demikian, hal yang paling mendasar yang masih terus diperdebatkan dari keduanya adalah bentuk keakuratan—walaupun jurnalisme online yang berbasis profesional cenderung memiliki nilai
Komunikasi dalam Media Digital | 51 lebih daripada jurnalisme warga, karena terbingkai dengan news values, gate keeper prpcess, dan lainnya. Namun demikian, seiring berjalannya waktu, hal ini terlihat seolah diabaikan. Nilai keringkasan dan kecepatan terlihat layaknya “pion” yang harus ditegakkan, sehingga kedalaman dan keakuratan menjadi “soal” belakangan ini. Keakuratan berdampak pada kredibilitas suatu informsi untuk dinilai para konsumennya. Hal ini yang kemudian tertempel erat dengan jurnalisme warga, bahwa jenis informasi ini dengan basis inter
Metode Penelitian
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan paradigm konstuktivisme, dimana menurut Salim (2001:41) paham ini menyatakan bahwa realitas itu terbentuk dari bermacam-macam konstruksi mental, pengalaman sosial yang bersifat lokal dan spesifik tergantung pada orang yang melakukannya. Dengan pendekatan tersebut akan membantu peneliti dalam mengembangkan penelitian ini berdasarkan situasi yang ada, yaitu dari media yang akan menjadi objek penelitian ini. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk mendeskripsikan hasil data dari hasil penelitian yang didapat. Hasil penelitian ini dapat berupa kata-kata tertulis atau lisan dari objek hasil wawancara dan observasi yang telah dilakukan. Dengan metode ini peneliti dituntut untuk mampu bertanya, menganalisis, merekam dan mengkonstruksikan realitas sosial agar menjadi lebih jelas untuk dimaknai.
Pembahasan
Potret Mekanisme Jurnalisme Warga di Indonesia dalam Jurnalisme Online di Era Digital