• Tidak ada hasil yang ditemukan

Arahan Pengembangan Kawasan Lindung dan Budidaya

GAMBAR 3.2 PETA RENCANA KAWASAN STRATEGIS PROVINSI NTT

A. Arahan Pengembangan Kawasan Lindung dan Budidaya

Kawasan lindung adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian kemampuan lingkungan hidup mencakup sumberdaya alam, sumberdaya buatan guna kepentingan pembangunan bekelanjutan. Pengelolaan kawasan lindung adalah upaya penetapan, pelestarian dan pengendalian pemanfaatan kawasan lindung.

1. Kawasan Hutan Lindung

Kemudian wilayah rawan bencana alam terutama longsor dan erosi, selain karena kondisi tanah, juga diakibatkan oleh minimnya penyangga air limpasan pada wilayah hulu sehingga menyebabkan erosi pada wilayah hilirnya. Kondisi ini diakibatkan karena semakin berkurangnya luas hutan lindung. Berkurangnya luasan areal hutan lindung diakibatkan pula oleh kegiatan budidaya yang memanfaatkan lahan pada kawasan peruntukkan hutan lindung.

Dalam rangka mengembalikan areal dengan peruntukkan hutan lindung dan mencegah memburuknya kondisi lingkungan (agar siklus hidrologi dan keseimbangan lingkungan dapat tetap terjaga), maka diperlukan penguasaan lahan oleh pemerintah pada kawasan peruntukkan hutan lindung dan pengembalian fungsi hutan lindung pada daerah konflik (pemanfaatan kegiatan hutan lindung bukan berdasarkan fungsinya) serta pengendalian dan pengawasan terhadap setiap kegiatan yang berada di kawasan hutan lindung. Penentuan kawasan hutan lindung dapat mengacu kepada cara Keputusan Menteri Pertanian No. 183/KPTS/UM/II/1980 dimana unsur-unsur yang digunakan adalah keadaan lereng, jenis tanah dan intensitas curah hujan. Penetapan kawasan hutan lindung didasarkan pada Keputusan Presiden No.32 Tahun 1990. Kriteria yang digunakan adalah :

 Kawasan hutan dengan faktor-faktor lereng lapangan, jenis tanah, curah hujan yang melebihi nilai skor 175;

 Kawasan hutan yang mempunyai lereng lapangan 40% atau lebih; dan  Kawasan hutan yang mempunyai ketinggian di atas permukaan laut 1.500

m atau lebih.

Berdasarkan kriteria tersebut, maka di Kabupaten Sumba Barat dapat diidentifikasi kesesuaian lahan untuk kawasan hutan lindung seluas 2.754,48 Ha meliputi :

 Kawasan Hutan Poronumbu seluas 1.154,48 Ha yang tersebar di Kecamatan Tana Righu (Desa Wanukaka dan Desa Bondo Tera) dan Kecamatan Loli (Desa Dokaka dan Desa Ubu Raya)

 Kawasan Hutan Pola Pare Cako seluas 1.400 Ha yang tersebar di di Kecamatan Laboya Barat Desa Weetana dan Desa Gaura.

 Hutan Kabota seluas kurang lebih 200 Ha tersebar di Desa Ringu Rara di Kecamatan Lamboya dan Desa Rua di Kecamatan Wanukaka. Untuk lebih jelasnya lihat peta 4.1.

Berdasarkan permasalahan pada kondisi eksisting di Kabupaten Sumba Barat, maka rencana pola ruang untuk hutan lindungnya antara lain :

 Kawasan lindung yang saat ini berupa hutan lindung, dipertahankan keberadaannya dan dijaga kelestariannya;

 Mengalih fungsikan lahan-lahan yang eksistingnya belukar/ilalang/padang rumput yang sesuai untuk hutan lindung dijadikan hutan lindung;

 Merehabilitasi lahan dengan menanam vegetasi yang mampu memberikan perlindungan terhadap permukaan tanah dan mampu meresapkan air;  Pembentukkan lembaga/tim khusus yang melibatkan seluruh komponen

masyarakat, swasta dan pemerintah di semua tingkatan pemerintahan;  Mengelola kawasan sekitar hutan lindung dengan prinsip hutan kemitraan,

yaitu dengan melibatkan masyarakat lokal secara aktif dalam pengelolaan, penanaman, panen dan pasca panen untuk keberhasilan program dalam jangka waktu yang panjang;

 Melaksanakan gerakan rehabilitasi hutan dan lahan secara sistematis dan periodik, yang dapat dilakukan melalui Penyusunan Rencana Teknik Tahunan selama 5 tahun; dan Memonitor dan membina semua kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan secara terpadu dan berkesinambungan.

2. Kawasan Yang Memberikan Perlindungan Terhadap Kawasan Bawahannya. Kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya di Kabupaten Sumba Barat terdiri dari kawasan resapan air. Kawasan Resapan air adalah daerah yang mempunyai kemampuan tinggi untuk resapan air hujan, sehingga merupakan tempat pengisian air bumi (akifer) yang berguna sebagai sumber air. Kawasan resapan air di Kabupaten Sumba Barat seluas kurang lebih 6.249,9 Ha yang tersebar di seluruh kecamatan

3. Kawasan Perlindungan Setempat

Kawasan perlindungan setempat adalah kawasan yang berfungsi untuk melindungi kelestarian suatu manfaat atau suatu fungsi tertentu, baik yang merupakan bentukan alami maupun buatan. Sebagaimana dimaksud Keputusan Presiden No. 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung Pasal 5, kawasan perlindungan setempat terdiri dari sempadan pantai, sempadan sungai, sempadan danau dan kawasan sekitar mata air. 4. Kawasan sempadan pantai

Kawasan sempadan pantai adalah kawasan sepanjang pantai yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi pantai. Luas kawasan sempadan pantai direncanakan seluas kurang lebih 625,45 Ha dan untuk lebih jelasnya lihat peta 4.3. Kawasan sempadan pantai terletak di sepanjang pantai yaitu sepanjang pantai utara dan pantai selatan. Kecamatan yang memiliki sempadan pantai terdapat di 4 kecamatan antara lain Kecamatan Laboya Barat, Kecamatan Lamboya, Kecamatan Wanukaka dan Kecamatan Tana Righu. Sempadan pantai sekurang-kurangnya adalah 100 m dari titik tertinggi muka air ke arah darat.

Pada kawasan lindung setempat sempadan pantai ini terdapat fungsi budidaya seperti perikanan, pariwisata, permukiman dan tambak. Guna menjaga kawasan sekitar pantai dari kerusakan lingkungan dan kerusakan ekosistem pantai dari kegiatan yang menganggu kelestarian fungsi pantai dan juga untuk mengatisipasi gelombang pasang dan bahaya tsunami. Sehingga dilakukan pembatasan perluasan kegiatan pada kawasan yang telah ditetapkan sebagai kawasan perlindungan setempat.

5. Kawasan Sempadan Sungai

Sebagaimana dimaksud Keputusan Presiden No. 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung Pasal 15, perlindungan terhadap sempadan sungai dilakukan untuk melindungi sungai dari kegiatan manusia yang dapat mengganggu dan merusak kualitas air sungai, kondisi fisik pinggir dan dasar sungai serta mengamankan aliran sungai. dalam pasal 16, kriteria sempadan sungai adalah :

a. Sekurang-kurangnya 100 m dari kiri kanan sungai besar dan 50 m di kiri kanan anak sungai yang berada diluar pemukiman; dan

b. Untuk sungai di kawasan pemukiman berupa sempadan sungai yang diperkirakan cukup untuk dibangun jalan inspeksi antara 10 - 15 m.

Kriteria sempadan sungai di atas dengan tujuan melindungi sungai dari kegiatan manusia yang dapat mengganggu dan merusak kualitas air sungai, kondisi fisik dan dasar sungai, serta mengamankan aliran sungai. Luas kawasan sempadan sungai yang direncanakan di wilayah Kabupaten Sumba Barat seluas kurang lebih 2.969,30 Ha. Kawasan sempadan sungai yang ada di Kabupaten Sumba Barat meliputi seluruh wilayah di pinggir sungai antara lain yaitu Sungai Kadengar di Kecamatan Lamboya, Sungai Loku Bakul di Kecamatan Wanukaka, Sungai Loko Kalada di Kecamatan Loli, dan Sungai Tabaka Dana di Kecamatan Kota Waikabubak,

6. Kawasan Sempadan Danau

Kawasan sempadan danau dilakukan untuk melindungi dari kegiatan budidaya yang dapat menganggu kelestarian danau. Kriteria kawasan sekitar danau adalah daratan sepanjang tepian danau yang lebar proporsional dengan bentuk dan kondisi danau dengan jarak 50-100 m. Perlindungan terhadap kawasan sekitar danau dari kegiatan budidaya yang dapat merusak kualitas air dan kondisi fisik kawasan sekitarnya. Di Kabupaten Sumba Barat terdapat danau yang berperan menyimpan air, menjaga keseimbangan lingkungan selain itu juga sangat potensial sebagai obyek wisata. Luas kawasan perlindungan danau direncanakan seluas kurang lebih 112,09 Ha dan tersebar di Kecamatan Lamboya, Kecamatan Wanukaka dan Kecamatan Laboya Barat,

7. Kawasan Sempadan Mata Air

Kawasan sempadan mata air, didefinisikan sebagai kawasan di sekeliling mata air yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi mata air Kawasan ini kurang lebih berjari-jari 200 m dari mata air. Perlindungan terhadap kawasan sekitar mata air dilakukan untuk melindungi mata air dari kegiatan budidaya yang dapat merusak kualitas air dan kondisi fisik kawasan sekitarnya. Rencana pengembangan kawasan sempadan mata air seluas kurang lebih 37,5 Ha, untuk lebih jelasnya lihat peta 4.6. Kawasan mata air di Kabupaten Sumba Barat meliputi :

a. Mata air Katibaluji di Desa Gaura Kecamatan Laboya Barat; b. Mata air Laboya di Desa Laboya Bawah Kecamatan Lamboya; c. Mata air Lapopu di Desa Humupada Kecamatan Wanukaka;

d. Mata air Praijing di Desa kalibukini Kecamatan Kota Waikabubak; e. Mata air Umbalingho di Desa Karekaduku Kecamatan Tana Righu; f. Mata air Wangge Desa Lokori Kecamatan Tana Righu; dan

g. Mata air Weekabete di Desa Dokaka Kecamatan Loli. 8. Kawasan Suaka Alam, Pelestarian Alam dan Cagar Budaya

Daerah yang termasuk dalam jenis kawasan suaka alam dan cagar budaya adalah kawasan suaka alam, kawasan suaka alam laut dan perairan lainnya, suaka margasatwa dan suaka margasatwa laut, cagar alam dan cagar alam laut, kawasan pantai berhutan bakau, taman nasional dan taman nasional laut, taman hutan raya, taman wisata alam dan taman wisata alam laut, dan kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan. Secara garis besar tidak semua kawasan tersebut terdapat di Kabupaten Sumba Barat akan tetapi perlu penelitian lebih lanjut untuk mencari kawasan yang sesuai dengan kriterianya. Pada saat ini di Kabupaten Sumba Barat terdapat kawasan lindung taman nasional, taman nasional laut, kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan.

9. Pencadangan Kawasan Konservasi Perairan Nasional Laut

Laut Sawu merupakan pecandangan kawasan konservasi perairan nasional laut . Pada dasarnya Laut Sawu akan menguntungkan bagi masyarakat karena dapat menjamin produksi ikan di Laut Sawu. Nelayan tidak dilarang menangkap ikan di Laut Sawu, tapi diatur cara, waktu dan tempat penangkapannya.

Yang harus diperhatikan dalam Laut Sawu ini harus dibuat daerah perlindungan ikan. Daerah perlindungan ikan ini seperti bank ikan. Dengan adanya bank ikan tersebut, ikan akan tumbuh dan berkembang dengan baik dan persediaan ikan akan terjaga. Jika Laut Sawu ini berhasil maka kegiatan ekonomi masyarakat secara keseluruhan pun dapat berkembang dengan sendirinya.

Penangkapan ikan akan terus berlangsung baik, dan kegiatan budidaya dapat dilakukan. Usaha wisata bahari akan menggerakkan sektor penginapan, transportasi, perdagangan dan lain‐lain. Dari situ kita akan bisa mengambil keuntungan dengan menyediakan kebutuhan turis asing tesebut. Secara tidak langsung akan menguntungkan masyarakat dan daerah kita secara keseluruhan.

Laut Sawu akan menguntungkan masyarakat sebab pemerintah pasti memikirkan nasib nelayan. Pemerintah hanya berupaya membuat aturan yang menguntungkan bagi semua pihak dan tidak merugikan masyarakat. Laut Sawu ini baik untuk masa mendatang, tapi yang paling penting adalah dukungan dari semua pihak.

Pencadangan kawasan konservasi perairan nasional Laut Sawu berada di perairan sebelah utara di Kabupaten Sumba Barat.

10. Kawasan Taman Nasional

Penetapan suatu wilayah sebagai taman nasional, taman hutan raya dan taman wisata alam adalah berupa kawasan berhutan atau bervegetasi tetap yang memiliki tumbuhan dan satwa beraneka ragam, memiliki arsitektur bentang alam yang baik dan memiliki akses untuk keperluan pariwisata dengan lokasi yang ditunjuk dan ditetapkan oleh pemerintah. Taman Nasional yang terdapat di Kabupaten Sumba Barat adalah Taman Nasional Hutan Manupeu Tanadaru seluas kurang lebih 1.870,30 Ha yang terdapat di Kecamatan Kota Waikabubak,

Kecamatan Loli dan Kecamatan Wanukaka. Rencana pola ruang untuk taman nasional adalah dengan :

 Melindungi ekosistem baik flora maupun fauna yang terdapat dalam kawasan suaka alam, taman hutan raya dan taman nasional;

 Menambah dan memelihara keanekaragaman flora dan fauna;

 Pembangunan pos-pos keamanan di sekitar kawasan cagar alam yang berfungsi menjaga keamanan kawasan cagar alam; dan

 Mempertahankan keberadaannya dan menjaga kelestarian taman nasional.

11. Kawasan Cagar Budaya dan Ilmu Pengetahuan

Kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan adalah kawasan dimana lokasi bangunan hasil budaya manusia yang bernilai tinggi maupun bentukan geologi alami yang khas berada. Kriteria yang digunakan adalah tempat serta ruang di sekitar bangunan bernilai budaya tinggi, situs purbakala dan kawasan dengan bentukan geologi tertentu yang mempunyai manfaat tinggi untuk pengembangan ilmu pengetahuan. Berdasarkan kriteria tersebut maka kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan yang dapat dikembangkan di Kabupaten Sumba Barat adalah perkampungan tradisional (desa-desa yang banyak memiliki rumah adat/rumah tradisional) yang tersebar di beberapa kecamatan, meliputi :

1. Kampung Adat Kadenger, Kampung Adat Sodana, Kampung Adat Malisu, Kampung Adat Wora Djawa, dan Kampung Adat Watu Karere di Kecamatan Lamboya;

2. Kampung Adat Prai Goli, Kampung Adat Waikawolu, Kampung Adat Waiwuli, Kampung Adat Ubu Bewi, Kampung Adat Kabba, Kampung Adat Kadoku dan Kampung Adat Wai Galli di Kecamatan Wanukaka; 3. Kampung Adat Tarung, Kampung Adat Wee Tabar, Kampung Adat

Tabera, Kampung Adat Kalowo, Kampung Adat Gelle Koko, Kampung Adat Bondo Ede dan Kampung Adat Wee Kalowo di Kecamatan Loli; 4. Kampung Adat Prai Ijing, Kampung Adat Prairame, Kampung Adat Bodo

Maroto, Kampung Adat Gollu, dan Kampung Adat Paleti Lolu di Kecamatan Kota Waikabubak; dan

5. Kampung Adat Dikita dan Kampung Adat Homba Rade di Kecamatan Tana Righu.

 Melestarikan budaya masyarakat setempat dalam satu kesatuan dengan kehidupan masyarakat; dan

 Melaksanakan kerjasama antar wilayah dalam penanganan cagar budaya.

12. Kawasan Rawan Longsor

Kawasan rawan bencana longsor di Kabupaten Sumba Barat terdapat kecamatan Wanukaka; Kecamatan Laboya Barat; Kecamatan Lamboya, Kecamatan Kota Waikabubak dan Kecamatan Loli seluas kurang lebih 1.407,9 Ha. Pada lokasi ini sering mengalami gerakan tanah atau longsor terutama pada musim hujan atau saat gempa bumi terjadi.

Kawasan Rawan Bencana Longsor Di Kecamatan Tana Righu

Upaya untuk pengendalian kawasan rawan longsor dilakukan hal-hal berikut: 1. Pengendalian pemanfaatan ruang, meliputi :

dilakukan dengan mencermati konsistensi kesesuaian antara pemanfaatan ruang dengan rencana tata ruang wilayah kabupaten dan rencana tata ruang kawasan strategis kabupaten atau rencana detail tata ruang kabupaten/kota;

Dalam pemanfaatan ruang zona berpotensi longsor harus memperhitungkan

b. tingkat kerawanan/tingkat risiko terjadinya longsor dan daya dukung lahan/tanah;

c. Tidak diizinkan atau dihentikan kegiatan yang mengganggu fungsi lindung kawasan rawan bencana longsor dengan tingkat kerawanan/ tingkat risiko tinggi; terhadap kawasan demikian mutlak dilindungi dan dipertahankan bahkan ditingkatkan fungsi lindungnya; dan

d. Kawasan yang tidak terganggu fungsi lindungnya dapat diperuntukkan bagi kegiatan-kegiatan pemanfaatan ruang dengan persyaratan yang ketat.

2. Acuan peraturan zonasi pada kawasan rawan longsor. 3. Perizinan pemanfaatan ruang kawasan rawan longsor.

4. Perangkat insentif dan disinsentif pada kawasan rawan longsor.

5. Pengenaan sanksi terhadap pelanggaran penataan ruang kawasan rawan longsor.

Pada daerah aliran sungai yang umumnya memiliki kontur tajam atau terjal juga merupakan kawasan yang mudah terkena longsor. Untuk ini diperlukan pengelolaan DAS dengan membuat terasering dan penanaman tanaman keras produktif bersama masyarakat. Mengingat kawasan sepanjang DAS ini sekaligus merupakan kawasan penyangga untuk mencegah pendangkalan waduk yang disebabkan oleh longsor dan erosi, maka upaya penamanam vegetasi yang berkayu dengan tegakan tinggi juga harus diikuti oleh pengembangan tutupan tanah atau ground cover yang juga memiliki fungsi ekonomi seperti rumput gajah yang dapat

13. Kawasan Rawan Banjir

Berdasarkan hasil analisis, dapat diketahui bahwa kawasan rawan bencana banjir hampir meliputi seluruh wilayah sepanjang pinggir sungai yang dapat menimbulkan kerugian bagi masyarakat yaitu tergenangnya areal pertanian karena terletak di dekat sungai. Kawasan rawan bencana banjir yang ada di Kabupaten Sumba Barat berada di sekitar sungai meliputi seluruh wilayah di pinggir sungai antara lain yaitu Sungai Kadengar di Kecamatan Lamboya, Sungai Loku Bakul di Kecamatan Wanukaka, Sungai Loko Kalada di Kecamatan Loli, dan Sungai Tabaka Dana di Kecamatan Kota Waikabubak, Konsep pengendalian banjir di kabupaten Sumba Barat dibangun dengan orientasi konservasi dan berbasis partisipasi masyarakat, dengan harapan akan berjalan efektif dan menunjang pengkondisian perbaikan kualitas lingkungan. Pelaksanaan penanggulagan akan lebih efektif jika dilakukan secara berjenjang. Penghijauan difokuskan pada daerah yang sangat kritis,

dilanjutkan pada daerah agak kritis. Penyusunan prioritas bangunan baru dapat didasarkan pada status sungai dalam kaitannya dengan bahaya banjir. Dalam melakukan pengendalian banjir perlu disusun strategi agar dapat dicapai hasil yang diharapkan, meliputi :

1. Pembuatan embung, meliputi :

a. Pembangunan embung penahan banjir di Desa Wetena Kecamatan Lamboya;

b. Pembangunan embung penahan banjir di Desa Katikuloku Kecamatan Wanukaka;

c. Pembangunan embung penahan banjir di Desa Ubupede Kecamatan Loli; dan

d. Pembangunan embung penahan banjir di Desa Sobarade Kecamatan Kota Waikabubak.

2. Pembuatan terasering

13. Kawasan Rawan Abrasi Pantai

Kabupaten Sumba Barat memiliki panjang garis pantai sekitar kurang lebih 59 Km dan seperti kabupaten lain di Indonesia juga memiliki masalah dengan ekosistem pantainya terutama dengan masalah abrasi pantai. Kawasan rawan abrasi pantai di Kabupaten Sumba Barat meliputi Kawasan pantai Rua dan Pantai Karewe.

Ada banyak faktor yang mengakibatkan sebuah pantai mengalami abrasi, dari sekian faktor yang mempengaruhi ada satu faktor yang sangat dominan yaitu ketahanan pantai itu sendiri dalam menghadapi gelombang air laut. Ketahanan pantai akan tercipta dengan sendirinya jika ekosistem di kawasan tersebut masih terjaga, salah satu ekosistem pantai yang berperan penting dalam menciptakan ketahanan pantai adalah keberadaan dari hutan mangrove atau rawa di wilayah pantai tersebut. Pencegahan terjadinya abrasi pantai dapat dilakukan dengan dua pendekatan yaitu :

1. Pendekatan Rekayasa Struktur/Sipil

Pendekatan rekayasa struktur bertujuan untuk mencegah terjadinya abrasi pantai dalam waktu yang singkat, kegiatan rekayasa struktur diantaranya adalah :

1. Bangunan pemecah gelombang 2. Penurapan

3. Jetty

4. Sistem Polder yang dilengkapi dengan sistem pengendali Sumber : Dirjen SDA Dep. PU (SNI 1962-89-F)

2. Pendekatan Non Struktural

Pendekatan rekayasa non struktur bertujuan untuk mencegah terjadinya abrasi pantai dalam jangka waktu yang lama, kegiatan ini bertujuan untuk mengembalikan keseimbangan ekosistem pantai, kegiatan rekayasa non

struktur yang dilakukan adalah merehabilitasi hutan mangrove didaerah peisisir.

Banyak pihak belum paham bahwa hutan mangrove adalah suatu ekosistem yang kompleks tetapi labil karena merupakan pertemuan antara ekosistem lautan dan ekosistem daratan. Dalam konteks itu habitat mangrove berperan penting sebagai basis berbagai jenis ikan, udang, dan biota laut lain, serta merupakan habitat berbagai jenis burung, mamalia, dan reptil.

Keberadaan hutan mangrove juga dapat menjadi benteng hidup bagi gempuran ombak pasang, termasuk mampu meminimalkan efek bencana tsunami. Berdasarkan hasil penelitian ilmuwan dari Universitas Tohoku Jepang yang bekerja sama dengan ITB, pohon mangrove dapat meredam energi gelombang tsunami secara signifikan. Selain manfaat pasti yang mencegah terjadinya abrasi

dan erosi akibat gempuran ombak dan aliran sungai, hutan mangrove juga berfungsi sebagai filter biomekanis yang paling ampuh untuk mengurangi efek pencemaran lingkungan. Di antaranya, dengan membuat jalur hijau sekurang-kurangnya 200 m dari garis pantai berupa hutan mangrove dan tanaman pantai lainnya yang dapat berfungsi sebagai penahan gelombang, serta melestarikan keberadaan batu karang yang dapat berfungsi sebagai pemecah gelombang. Kemudian menetapkan zona permukiman berada di belakang jalur hijau tersebut. Untuk program reboisasi hutan mangrove yang rusak, pemerintah dituntut segera mengeluarkan aturan teknis yang menyangkut fungsi lindung, fungsi pelestarian, dan fungsi produksi. Dengan reboisasi hutan mangrove yang tepat waktu, fungsi pengaturan tata air dapat diperbaiki, polusi dan intrusi air laut dapat dicegah, pantai dilindungi dari abrasi, dan kelestarian habitat biota laut bisa dipertahankan.

Salah satu tipe zonasi hutan mangrove di Indonesia terdiri dari Avicennia spp. pada daerah yang paling dekat dengan laut, dengan substrat agak berpasir. Pada zona ini biasa berasosiasi Sonneratia spp. yang dominan tumbuh pada lumpur dalam yang kaya bahan organik. Lebih ke arah darat, hutan mangrove umumnya didominasi oleh Rhizophora spp. Di Zona ini juga dijumpai Bruguiera spp. dan Xylocarpus spp. Zona berikutnya didominasi oleh Bruguiera spp. Terakhir pada zona transisi antara hutan mangrove dengan hutan daratan rendah biasanya ditumbuhi oleh Nypa fruticans dan beberapa spesies palem lainnya.

B. Arahan Pengembangan Pola Ruang Terkait Bidang Cipta Karya

Dokumen terkait