PENDUDU K (Ribu
C. Arahan Pengembangan Sistem Prasarana Lingkungan
Pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development) hanya akan tercapai bila kebutuhan manusia dan kapasitas sumber daya alam terbaharui yang akan memenuhi kebutuhan manusia tersebut dapat seimbang seiring dengan perjalanan waktu. Dengan kata lain, pembangunan dikatakan terlanjutkan apabila pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam bagi kepentingan manusia pada saat sekarang ini masih menjamin kelangsungan pemanfaatan sumberdaya alam tersebut bagi anak cucu di masa yang akan datang.
Peningkatan tingkat kesejahteraan dan kualitas hidup manusia diupayakan dengan melakukan pembangunan ekonomi melalui pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber daya alam yang ada, menekan tingkat perkembangan/kelahiran penduduk dan tingkat kematian. Eksploitasi sumber daya alam secara menerus tanpa diikuti dengan pengelolaan kualitas lingkungan telah menyebabkan adanya gejala berkurangnya produktivitas sumber daya alam dan penurunan daya dukung alam. Tentu penurunan produktifitas dan daya dukung alam pada gilirannya akan mengganggu pertumbuhan ekonomi dan proses pembangunan di masa depan.
Pembangunan ekonomi dan pengembangan sumber daya manusia yang konsisten dengan peningkatan kualitas lingkungan, dapat dilaksanakan melalui komitmen bersama para pelaku pembangunan dengan memasukkan pertimbangan lingkungan dalam kebijaksanaan pembangunan baik ditingkat makro dan sektoral.
Dalam pembangunan berwawasan lingkungan secara berkelanjutan eksploitasi sumber daya alam secara berlebih dan pembuangan bahan pencemar penyebab penurunan kualitas lingkungan hidup serta daya dukung alam harus dihindari. Pembuangan secara langsung emisi pencemar dalam bentuk cair, padat dan gas harus dihindari. Pengelolaan lingkungan hidup dapat dilakukan dengan mereduksi bahan pencemaran dari sumbernya.
Prasarana lingkungan merupakan arahan pengelolaan prasarana yang digunakan lintas wilayah administratif, prasarana yang digunakan lintas wilayah secara administratif, meliputi:
1. Tempat pembuangan akhir (TPA) terpadu yang dikelola bersama untuk kepentingan antar wilayah.
Dewasa ini, kegiatan sehari-hari masyarakat semakin memperburuk kondisi lingkungan hidup. Dimana jumlah konsumsi yang berlebihan dan banyaknya pembuangan sampah, merupakan penyebab utama dari semakin memburuknya kondisi lingkungan hidup. Untuk itu diperlukan adanya perbaikan dalam tatanan kehidupan bermasyarakat yang dikelola secara bersama antar wilayah, dan upaya yang dilakukan adalah sebagai berikut:
a. Pemahaman hubungan manusia dan lingkungan hidup, dengan berperan aktif dalam mengenal alam sekitar.
REVIEW RPI2-JM BIDANG CIPTA KARYA KABUPATEN MADIUN TAHUN 2016 - 2019
b. Anjuran untuk memilih barang kebutuhan yang dapat di recycle dan sedikit bebannya terhadap lingkungan hidup.
c. Menggunakan energi secara efektif serta mengurangi jumlah sampah dan lain-lain.
d. Berperan aktif dalam kegiatan recycle, penghijauan, dan kegiatan yang dilakukan oleh organisasi-organisasi masyarakat.
e. Berkerjasama dengan pemerintah dan organisasi masyarakat lainnya. 2. Tempat pengelolaan limbah limbah industri B3 dan non B3.
Kawasan industri di Propinsi Jawa Timur memerlukan suatu pengolah limbah baik B3 dan non B3, maka limbah dalam bentuk cair yang dihasilkan oleh kegiatan Kawasan Industri yang dibuang ke lingkungan hidup dan diduga dapat menurunkan kualitas lingkungan hidup. Dengan demikian diperlukan prasarana pengolah limbah terpadu.
Arahan pengembangan sistem prasarana lingkungan yang digunakan lintas wilayah secara administratif , adalah :
1. Kerjasama antar wilayah dalam hal pengelolaan dan penanggulangan masalah sampah terutama di wilayah perkotaan.
2. Pengalokasian tempat pembuangan akhir sesuai dengan persyaratan teknis.
3. Pengolahan dilaksanakan dengan teknologi ramah lingkungan sesuai dengan kaidah teknis.
4. Pemilihan lokasi untuk prasarana lingkungan harus sesuai dengan daya dukung lingkungan.
5. Setiap kabupaten/kota diwajibkan menyediakan ruang untuk TPA dan/atau TPA terpadu. Pengelolaan Pencemaran Air
Pencemaran air disebabkan oleh adanya pembuangan limbah cair pada badan air secara berlebihan sehingga daya dukung atau kemampuan pemurnian diri/self purification badan air terlampaui. Penurunan daya dukung badan air menimbulkan gangguan ekosistem perairan dan berakibat pada penurunan sumber daya hayati dari badan air tersebut. Penurunan sumber daya hayati dapat berupa hilangnya mata rantai produksi ikan dan tumbuhan air lainnya. Badan air penerima umumnya terdiri dari air permukaan (sungai, danau) dan air tanah.
Untuk dapat mempertahankan kualitas air perlu ditetapkan baku mutu air. Secara umum baku mutu air dapat ditentukan berdasar pada dua anutan sistem pembuangan yaitu :
1. Sistem Effluent standart
Sistem effluent standart merupakan aturan pembuangan limbah cair yang didasarkan kepada peruntukan badan sungai. Secara umum badan air sungai diklasifikasikan menjadi beberapa golongan :
Golongan I Golongan II Golongan III
Semakin tinggi golongan sungai maka semakin ketat baku mutu yang ditetapka untuk pembuangan air limbah. Pada system ini baku mutu buangan dari suatu kegiatan industri tidak boleh melampaui ambang batas yang ditentukan. Keunggulan system ini adalah pihak pemerintah daerah/otoritas pengelola lingkungan lebih mudah melakukan control dan monitoring. Kelemahannya adalah biaya pengolahan limbah semakin tinggi, yang berdampak pada peningkatan biaya produksi dan menurunkan kompetisi pasar. Sistem ini cocok diterpkan pada kawasan indudtri yang direncanakan atau yang sudah ada di sapanjang sungai.
2. Sistem stream standart
Sistem stream standart, pembuangan limbah cair suatu kegiatan industri dapat dihitung sedemikian rupa asalkan setelah pembuangan, kualitas air sungai tidak melampaui baku mutu golongan air yang ditetapkan. Emisi limbah dapat dibuang ke badan air dalam konsentrasi yang tinggi asalkan daya dukung sungai tidak terlampaui. Kelemahan system ini sangat sulit mengontrol dan memonitor industri mana yang membuang limbah melampaui batas kesepakatan pembuangan.
Disamping itu diperlukan peraturan pemerintah wilayah setempat mengenai peruntukan badan air khususnya pada sungai yang lintas wilayah. Penataan kawasan industri dapat meminimalkan pencemaran air, fasilitas pengolahan limbah terpadu harus menjadi syarat utama didirikannya sebuah kawasan industri sehingga limbah cair yang dihasilkan tertangani dan tidak menimbulkan pencemaran air.
Pengelolaan Pencemaran Udara
Kualitas udara khususnya di kawasaan perkotaan semakin hari semakin menurun. Dampak yanng dirasakan pnduduk cukup merugikan diantaranya gangguan ISPA, penyakit kulit dan tidak jarang unsur kimis yang bersifat karsinogemilk terakumulasi dalam tubuh akibat debu atau partikulat lain yang masuk lewat udara.
Berikut ini beberapa arahan yang dapat diterapkan dalam pengelolaan pencemaran udara yang berakitan dengan penataan ruang khususnya di wilayah Jawa Timur.
1. Penetapan RTH/Ruang Terbuka Hijau/Hutan Kota yang proporsional di kawasan perkotaan.
2. Penghijauan di daerah dengan tingkat polutan tinggi dari sektor transportasi. 3. Penataan kawasan industri yang jauh dari lokasi pemukiman padat.
4. Pemakaian gas alam pada Sektor Industri.
REVIEW RPI2-JM BIDANG CIPTA KARYA KABUPATEN MADIUN TAHUN 2016 - 2019
3.5. Arahan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten/Kota
Sesuai dengan amanat UU No. 26 Tahun 2007, Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten/Kota ditetapkan oleh Peraturan Daerah Kabupaten/Kota. Adapun arahan dalam RTRW Kabupaten/Kota yang perlu diperhatikan dalam penyusunan RPI2-JM Kabupaten/Kota adalah sebagai berikut:
a. Penetapan Kawasan Strategis Kabupaten/Kota (KSK) yang didasari sudut kepentingan: i. Pertahanan keamanan
ii. Ekonomi
iii. Lingkungan hidup iv. Sosial budaya
v. Pendayagunaan sumberdaya alam atau teknologi tinggi
b. Arahan pengembangan pola ruang dan struktur ruang yang mencakup: i. Arahan pengembangan pola ruang:
a) Arahan pengembangan kawasan lindung dan budidaya
b) Arahan pengembangan pola ruang terkait bidang Cipta Karya seperti pengembangan RTH.
ii. Arahan pengembangan struktur ruang terkait keciptakaryaan seperti pengembangan prasarana sarana air minum, air limbah, persampahan, drainase, RTH, Rusunawa, maupun Agropolitan.
c. Ketentuan zonasi bagi pembangunan prasarana sarana bidang Cipta Karya yang harus diperhatikan mencakup ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan lindung, kawasan budidaya, sistem perkotaan, dan jaringan prasarana.
d. Indikasi program sebagai operasionalisasi rencana pola ruang dan struktur ruang khususnya untuk bidang Cipta Karya.
3.5.1. Arahan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Madiun A. Pengembangan Kawasan Strategis Ekonomi
1. Perkotaan Mejayan Sebagai Ibukota Kabupaten Arahan pengelolaanya :
a) Menyediakan sarana dan prasarana atau infrastruktur yang dibutuhkan untuk pengembangan kawasan perkotaan skala kabupaten;
b) Melakukan optimasi pengembangan kawasan melalui peningkatan nilai ekonomis kawasan;
c) Meningkatkan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia (SDM);
d) Menjalin kerjasama dengan investor untuk pengembangan ibukota kabupaten sebagai pusat pertumbuhan ekonomi; dan
e) Mendukung kebijakan pengembangan kawasan melalui pemberian instrumen insentif berupa keringanan pajak/retribusi, pengurangan atau penghapusan pajak, dan sebagainya.
2. Kawasan Agropolitan, Ekowisata, Agroforestry, Dan Agrowisata Arahan pengelolaanya :
a) Menyediakan sarana dan prasarana atau infrastruktur serta kelembagaan yang dibutuhkan untuk pengembangan kawasan agropolitan, ekowisata, agroforestry, dan agrowisata;
b) Menjalin kerjasama dengan investor untuk pengembangan kawasan agropolitan, ekowisata, agroforestry, dan agrowisata sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru di Kabupaten Madiun;
c) Melakukan optimasi pengembangan kawasan melalui peningkatan nilai ekonomi kawasan;
d) Meningkatkan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia (SDM); e) Mempercepat alih teknologi yang lebih efisien dan efektif;
f) Mendukung kebijakan melalui pemberian instrumen insentif berupa keringan pajak/ retribusi, pengurangan atau penghapusan pajak, dan lain sebagainya; dan; g) Melakukan penelusuran potensi kawasan atau sub sektor strategis yang
dapat dikembangkan.
3. Kawasan Industri Dan Pergudangan Arahan pengelolaanya :
a) Menyediakan sarana dan prasarana atau infrastruktur serta kelembagaan yang dibutuhkan untuk pengembangan kawasan agropolitan;
b) Menjalin kerjasama dengan investor untuk pengembangan Kawasan Agropolitan Gedangsari sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru di Kabupaten Madiun;
c) Melakukan optimasi pengembangan kawasan melalui peningkatan nilai ekonomis kawasan;
d) Meningkatkan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia (SDM); e) Mempercepat alih teknologi yang lebih efisien dan efektif;
f) Mendukung kebijakan melalui pemberian instrumen insentif berupa keringan pajak/retribusi, pengurangan atau penghapusan pajak, dan lain sebagainya; dan; g) Melakukan penelusuran potensi kawasan atau sub sektor strategis yang
dapat dikembangkan. 4. Kawasan Perbatasan
Arahan pengelolaanya :
a) Menyediakan sarana dan prasarana atau infrastruktur yang memadai di kawasan perbatasan;
b) Menjalin kerjasama dengan investor dalam menumbuhkan kawasan perbatasan sebagai salah satu kawasan strategis yang cukup prospektif untuk dikembangkan;
c) Melakukan optimasi pengembangan kawasan melalui peningkatan nilai ekonomi kawasan;
d) Meningkatkan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia (SDM); e) Mempercepat alih teknologi yang lebih efisien dan efektif;
REVIEW RPI2-JM BIDANG CIPTA KARYA KABUPATEN MADIUN TAHUN 2016 - 2019
f) Mendukung kebijakan melalui pemberian instrumen insentif berupa keringan pajak/ retribusi, pengurangan atau penghapusan pajak, dan lain sebagainya; dan g) Melakukan penelusuran potensi kawasan atau sub sektor strategis yang
dapat dikembangkan.
Kawasan strategis ini merupakan kawasan strategis kabupaten. B. Kawasan Strategis Sosial Budaya
1. Peninggalan Situs Nglambangan 2. Makam Kuncen
3. Situs Sewulan