• Tidak ada hasil yang ditemukan

3.5. RTRW Kabupaten Malang

3.5.2. Arahan Pola Ruang

Kawasan lindung adalah kawasan hutan yang memiliki sifat khas yang mampu memberikan perlindungan kepada kawasan sekitarnya maupun kawasan bawahannya sebagai pengatur tata air, pencegah banjir dan erosi serta memelihara kesuburan tanah. Kriteria penetapan kawasan lindung adalah :

1. Kawasan hutan dengan faktor-faktor lereng lapangan, jenis tanah, curah hujan yang melebihi nilai skor 175; atau

2. Kawasan hutan yang mempunyai lereng lapangan 40% atau lebih; dan atau

3. Kawasan hutan yang mempunyai ketinggian di atas permukaan laut 1000-2000 meter/dpl. Kawasan lindung di Kabupaten Malang meliputi kawasan hutan di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TN-BTS) di Kecamatan Jabung, Poncokusumo, Wajak, Ampelgading dan Tirtoyudo, Gunung Kawi di Kecamatan Wonosari dan Kecamatan Ngajum, Gunung Kelud di Kecamatan Ngantang serta Taman Hutan Raya (Tahura) R. Soeryo di Kecamatan Pujon, Kasembon, Ngantang, Karangploso, Singosari, dan Lawang. Luas hutan lindung di Kabupaten Malang secara keseluruhan adalah 39.889,76 Ha atau 16,86 % dari luas kabupaten, dan luas kawasan hutan secara keseluruhan adalah seluas 108.597,30 Ha atau 32,44 % dari luas kabupaten. Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TN-BTS) di Kecamatan Poncokusumo merupakan juga sebagai Kawasan Taman Nasional

Pengembangan kawasan lindung ini juga merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan fungsi pelestarian DAS Brantas Hulu. Hal ini dilakukan mengingat sebagian besar kawasan lindung merupakan area yang termasuk dalam aliran Sungai : Brantas, Metro, Amprong, Bango, dan sungai lainnya. Pelestarian ini memiliki arti yang sangat penting dalam menjaga kualitas air sungai, ketersediaan air sungai, serta pelestarian berbagai flora dan fauna sepanjang DAS termasuk peningkatan produktivitas lahan. Adapun penetapan lokasi pelestarian dari DAS Brantas adalah

4

Pakishaji, Kecamatan Kepanjen, Kecamatan Kromengan, Kecamatan Kalipare, (Kabupaten Blitar). Penggantian luas hutan di Kabupaten Malang yang masih kurang, terbentur dengan kurang tersedianya lahan serta kegiatan pembangunan wilayah. Oleh sebab itu, di tempuh upaya lain dengan pemanfaatan kawasan resapan air yang sebagian besar merupakan kawasan hutan juga pemanfaatan kawasan perkebunan dengan fungsi hutan.

Kawasan lindung mutlak yaitu kawasan yang ditetapkan untuk menjaga dan melindungi keseimbangan dan kelestarian sumber daya alam (tanah dan air) dan sumber daya buatan yang bersifat mutlak, sedangkan kawasan lindung terbatas yaitu kawasan yang ditetapkan untuk menjaga dan melindugi keseimbangan dan kelestarian sumber daya alam (tanah dan air) dan sumber daya buatan yang bersifat terbatas.

Gambar 5.1 Kawasan lindung di Taman Nasional Bromo - Tengger – Semeru

Tujuan perlindungan kawasan ini adalah untuk mencegah terjadinya bencana erosi, banjir, sedimentasi, dan menurunnya fungsi hidrolik tanah untuk menjamin ketersediaan, unsur hara tanah, air tanah, dan air permukaan. Temasuk didalamnya adalah upaya pelestarian DAS.

Sebagian kawasan ini telah mengalami alih fungsi untuk kawasan budidaya terutama permukiman perdesaan, pengembangan hortikultura, pertanian tanaman pangan semusim, dan perkebunan. Adapun pengelolaan kawasan ini diarahkan pada :

1. Peningkatan fungsi lindung pada area yang telah mengalami alih fungsi melalui pengembangan vegetasi tegangan tinggi yang mampu memberikan perlindungan terhadap permukaan tanah dan mampu meresapkan air;

pada area yang mengalami alih fungsi;

3. Pengembalian berbagai rona awal sehingga kehidupan satwa langka dan dilindungi dapat lestari;

4. Percepatan rehabilitasi lahan yang mengalami kerusakan;

5. Peningkatan fungsi lahan melalui pengembangan hutan rakyat yang memberikan nilai ekonomi melalui pengambilan hasil buah bukan kayu, sehingga pola ini memiliki kemampuan perlindungan seperti hutan terutama di area Gunung Anjasmoro, Pegunungan Kawi dan Kelud; serta

6. Meningkatkan kegiatan pariwisata alam (misalnya mendaki gunung, out bond, camping) terutama di Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru, sekaligus menanamkan gerakan cinta alam.

B. Kawasan Resapan Air

Kawasan resapan air adalah daerah yang memiliki kemampuan tinggi meresapkan air hujan, sehingga merupakan tempat pengisian air bumi (akuiver) yang berguna sebagai penyedia sumber air.

Jenis kawasan ini terletak di Kecamatan Poncokusumo, Kecamatan Tumpang, Kecamatan Jabung, Kecamatan Pujon, Kecamatan Ngantang, Kecamatan Singosari, Kecamatan Dau dan Kecamatan Kasembon, hutan di Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru (TN-BTS), Gunung Anjasmoro, Pegunungan Kawi, dan hutan di daerah Kelud serta Taman Hutan Raya (Tahura) R. Soeryo. Secara keseluruhan kawasan resapan air di Kabupaten Malang adalah 38.688,46 Ha, dimana kawasan ini sebagian besar merupakan kawasan lindung. Penetapan dan pemantapan kawasan resapan air juga merupakan salah satu upaya dalam pelestarian DAS yang ada di Kabupaten Malang. Peningkatan manfaat lindung pada kawasan ini dilakukan dengan cara :

1. Pembuatan sumur-sumur resapan;

2. Pengendalian hutan dan tegakan tinggi pada wilayah-wilayah hulu; serta

3. Pengolahan sistem terasering dan vegetasi yang mampu menahan dan meresapkan air. Sebagian besar kawasan yang berfungsi sebagai kawasan resapan air ini merupakan kawasan lindung, sehingga pelestarian kawasan lindung pada dasarnya juga meningkatkan kemampuan akan resapan air. Adapun pengelolaan kawasan ini adalah :

1. Peningkatan fungsi lindung pada area yang telah mengalami alih fungsi melalui pengembangan vegetasi tegakan tinggi yang mampu memberikan perlindungan terhadap permukaan tanah dan mampu meresapkan air ke dalam tanah;

pada area yang mengalami alih fungsi;

3. Percepatan rehabilitasi lahan yang mengalami kerusakan;

4. Peningkatan fungsi lahan melalui pengembangan hutan rakyat yang memberikan nilai ekonomi melalui pengambilan hasil buah bukan kayu, dan vegetasi yang menjadi tempat kehidupan berbagai satwa;

5. Meningkatkan kegiatan pariwisata alam (misalnya mendaki gunung, out bond, camping) terutama di Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru sekaligus menanamkan gerakan cinta alam;

6. Pengolahan tanah secara teknis (misalnya membuat embung, cekungan tanah, bendung) sehingga kawasan ini memberikan kemampuan peresapan air yang lebih tinggi; serta 7. Melestarikan kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) R. Soeryo di Kecamatan Pujon,

Kasembon, Ngantang, Karangploso, Singosari, dan Lawang yang selain berfungsi sebagai tempat berbagai kehidupan flora juga memiliki fungsi sebagai hutan wisata, mengingat pentingnya kawasan ini sebagai kelestarian flora, maka kawasan ini harus dilindungi sepenuhnya dari perubahan fungsinya dengan melarang perubahan dari kawasan Taman Hutan Raya menjadi kawasan budidaya, serta meningkatkan kegiatan kepariwisataan di kawasan Taman Hutan Raya tersebut misalnya untuk out bond dan pendidikan/penelitian.

C. Kawasan Perlindungan Setempat

Kawasan perlindungan stempat meliputi kawasan sempadan pantai, kawasan sekitar danau/waduk, kawasan sempadan sungai, kawasan sekitar mata air, dan kawasan sempadan irigasi.

a) Kawasan Sempadan Pantai

Kawasan sempadan pantai adalah kawasan sepanjang pantai yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi pantai. Perlindungan ekosistem ini terdiri atas perlindungan hutan bakau (mangrove) yaitu pada Pantai Sipelot dan Pantai Tamban, dimana didominasi oleh jenis-jenis pioner yaitu Avicenia dan Sonneratia, perlindungan terumbu karang terdapat hampir di sepanjang kawasan pesisir di Kabupaten Malang khususnya di Pulau Sempu, Pantai Tambaksari, Pantai Wonogoro, Pantai Tamban dan Pantai Kondang Ikan, perlindungan rumput laut atau padang lamun terdapat di Pantai Kondangmerak, sedangkan perlindungan kawasan estuaria sebagai tempat pertemuan sungai dan laut terdapat di berbagai kecamatan.

100 meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat. Kawasan perlindungan sempadan pantai di Kabupaten Malang berada di 6 (enam) kecamatan yaitu :

Tabel 5.1 Luas Sempadan Pantai di Kabupaten Malang No Kecamatan Luas Sempadan Pantai (Ha)

1 Ampelgading 215 2 Tirtoyudo 766 3 Sumbermanjingwetan 863 4 Bantur 221 5 Gedangan 267 6 Donomulyo 409

Sumber : Hasil Rencana 20012

Pada kawasan lindung setempat sempadan pantai ini terdapat fungsi budidaya seperti perikanan, pariwisata, permukiman dan tambak. Guna menjaga kawasan sekitar pantai dari kerusakan lingkungan dan kerusakan ekosistem pantai, maka perlu adanya perlindungan terhadap sempadan sungai, untuk melindungi pantai dari kegiatan yang menganggu kelestarian fungsi pantai dan juga untuk mengantisipasi gelombang pasang dan bahaya tsunami. Sehingga dilakukan pembatasan perluasan kegiatan pada kawasan yang telah ditetapkan sebagai kawasan perlindungan setempat.

Gambar 5.2 Hutan Bakau di Pantai Tamban dan Terumbu Karang di Pantai Balekambang, yang merupakan Kawasan Perlindungan Pantai

Pengelolaan kawasan sempadan pantai dilakukan dengan :

1. Perlindungan kawasan sempadan pantai 100 meter dari pasang tertinggi dilarang mengadakan alih fungsi lindung yang menyebabkan kerusakan kualitas pantai;

ekosistem bakau, terumbu karang, padang lamun, dan estuaria harus dilindungi dari kerusakan;

3. Hutan bakau yang ada di Sekitar Pulau Sempu dan Pantai Tamban di Kecamatan Sumbermanjingwetan, serta Pantai Kondangmerak di Kecamatan Bantur, alih fungsi bakau untuk tambak diijinkan maksimum 20% dari optimum luas hutan bakau. Pada kawasan yang potensial untuk dilakukan penanaman bakau, maka dilakukan penanaman sehingga menambah area bakau di Kabupaten Malang;

4. Beberapa pantai seperti Sendangbiru, Kondangmerak, Bajulmati, Jonggringsaloko dapat dikembangkan terumbu karang buatan untuk meningkatkan fungsi ekologis pesisir; 5. Pada kawasan sepanjang pantai yang termasuk sebagai kawasan lindung memiliki fungsi

sebagai kawasan budidaya seperti : permukiman perkotaan dan perdesaan, pariwisata, pelabuhan, pertahanan dan keamanan, serta kawasan lainnya. Pengembangan kawasan ini harus dilakukan sesuai dengan peruntukan lahan yang telah ditentukan dalam rencana tata ruang kawasan pesisir;

6. Melakukan sistem peringatan dini terhadap kemungkinan terjadinya bencana;

7. Memantapkan kawasan lindung di daratan untuk menunjang kelestarian kawasan lindung pantai;

8. Bangunan di pantai diarahkan di luar sempadan pantai, kecuali bangunan yang harus ada di sempadan pantai seperti dermaga, tower penjaga keselamatan pengunjung pantai; 9. Menjadikan kawasan lindung sepanjang pantai yang memiliki nilai ekologis sebagai daya

tarik wisata dan penelitian; serta

10. Dalam skala besar diperlukan penetapan zona lindung di Pantai Sendangbiru sebagai kota Pelabuhan dan Industri.

b) Kawasan Sempadan Sungai

Kawasan sempadan sungai adalah kawasan sepanjang kanan-kiri sungai, termasuk sungai buatan/kanal/saluran irigasi primer yang mempunyai manfaat penting untuk melestarikan fungsi sungai.

Kriteria penetapan garis sempadan sungai terdiri dari :

1. Sungai bertanggul di luar kawasan perkotaan, ditetapkan sekurang-kurangnya 5 meter di sebelah luar sepanjang kaki tanggul;

2. Sungai bertanggul di dalam kawasan perkotaan, ditetapkan sekurang-kurangnya 3 meter di sebelah luar sepanjang kaki tanggul;

atau lebih;

b. Sungai kecil yaitu sungai yang mempunyai daerah pengaliran sungai seluas kurang dan 500 km2;

4. Sungai tidak bertanggul di dalam kawasan perkotaan, ditetapkan:

a. Sungai yang mempunyai kedalaman tidak lebih dan 3 meter, garis sempadan ditetapkan sekurang-kurangnya 10 meter dihitung dari tepi sungai pada waktu ditetapkan;

b. Sungai yang mempunyai kedalaman tidak lebih 3 meter sampai dengan 20 meter, garis sempadan ditetapkan sekurang-kurangnya 15 meter dihitung dari tepi sungai pada waktu ditetapkan;

c. Sungai yang mempunyai kedalaman maksimum lebih dari 20 meter, garis sempadan ditetapkan sekurang-kurangnya 30 meter dihitung dari tepi sungai pada waktu ditetapkan.

Adapun kawasan sempadan sungai di Kabupaten Malang adalah:

1. Perlindungan pada sungai besar di luar kawasan permukiman ditetapkan minimum 100 meter kiri-kanan sungai. Termasuk sungai besar di Kabupaten Malang ini antara lain adalah : Sungai Brantas, Sungai Lesti, Sungai Metro, Kali Genteng, Kali Sumber Bulus, Kali Rejo dan Kali Manjing;

2. Perlindungan terhadap anak sungai- anak sungai diluar permukiman ditetapkan minimum 50 meter. Termasuk pada wilayah ini adalah seluruh anak Sungai Lesti dan Anak Sungai Brantas, anak-anak sungai dari Sungai Brantas dan Sungai Lesti ini hampir ada pada setiap kecamatan di Kabupaten Malang; serta

3. Pada sungai besar dan anak sungai yang melewati kawasan permukiman ditetapkan minimum 15 meter. Kawasan ini hampir setiap kecamatan, bahkan pada sekitar aliran sungai ini banyak yang digunakan untuk keperluan sehari-hari oleh masyarakat setempat. Untuk lebih jelasnya mengenai luasan sempadan sungai diuraikan sebagai berikut :

1. Perlindungan pada sungai besar di luar kawasan permukiman ditetapkan minimum 100 meter;

2. Perlindungan anak sungai ditetapkan minimum 50 meter; serta

3. Perlindungan pada sungai-sungai besar dan anak sungai yang melewati kawasan permukiman kurang padat, ditetapkan kawasan konservasinya adalah 50 - 100 meter. Luasan sempadan sungai pada masing-masing kecamatan di Kabupaten Malang adalah sebagai berikut :

Tabel 5.2 Luas Sempadan Sungai di Kabupaten Malang No Kecamatan Luas Sempadan Sungai (Ha) 1 Ampelgading 7.435 2 Bantur 2.175 3 Bululawang 410 4 Dampit 3.170 5 Dau 2.364 6 Donomulyo 5.316 7 Gedangan 2.781 8 Gondanglegi 490 9 Jabung 2.943 10 Kalipare 2.540 11 Karangploso 1.655 12 Kasembon 1.869 13 Kepanjen 856 14 Kromengan 956 15 Lawang 1.399 16 Ngajum 1.909 17 Ngantang 4.285 18 Pagak 2.080 19 Pagelaran 757 20 Pakis 1.061 21 Pakisaji 903 22 Poncokusumo 7.015 23 Pujon 3.586 24 Singosari 2.573 25 Sumbermanjingwetan 5.950 26 Sumberpucung 829 27 Tajinan 747 28 Tirtoyudo 6.889

No Kecamatan Sempadan Sungai (Ha) 29 Tumpang 1.643 30 Turen 804 31 Wagir 1.564 32 Wajak 2.067 33 Wonosari 1.653

Sumber : Hasil Rencana 2012

Kawasan sekitar mata air adalah kawasan di sekeliling mata air yang mempunyai manfaat penting mempertahankan kelestarian fungsi mata air. Kriteria penetapan kawasan sekitar mata air adalah perlindungan sekurang-kurangnya dengan jari-jari 200 meter di sekitar mata air. Keberadaan sumber mata air di wilayah Kabupaten Malang dimana lokasinya cukup banyak dan tersebar di beberapa kecamatan. Perlindungan terhadap sumber mata air dilakukan dengan pembatasan kegiatan budidaya yang dapat merusak kualitas air dan kondisi fisik kawasan sekitarnya.

Pengelolaan kawasan sempadan sungai antara lain dilakukan dengan :

1. Perlindungan sekitar sungai atau sebagai sempadan sungai dilarang mengadakan alih fungsi lindung yang menyebabkan kerusakan kualitas air sungai;

2. Bangunan sepanjang sempadan sungai yang tidak memiliki kaitan dengan pelestarian atau pengelolaan sungai dilarang untuk didirikan;

3. Sungai yang melintasi kawasan permukiman ataupun kawasan perdesaan dan perkotaan dilakukan reorientasi pembangunan dengan menjadikan sungai sebagai bagian dari latar depan;

4. Sungai yang memiliki arus deras dijadikan salah satu bagian dari wisata alam- petualangan seperti arung jeram, out bond, dan kepramukaan;

5. Sungai yang arusnya lemah dan bukan sungai yang menyebabkan timbulnya banjir dapat digunakan untuk pariwisata; serta

6. Sempadan sungai yang areanya masih luas dapat digunakan untuk pariwisata melalui penataan kawasan tepian sungai.

Kawasan sekitar waduk atau bendungan adalah kawasan tertentu di sekeliling waduk atau bendungan yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi waduk atau bendungan. Adapun kriteria penetapan sempadan bendungan/waduk adalah daratan sepanjang tepian waduk/bendungan yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik bendungan/waduk antara 50-100 meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat.

Di Kabupaten Malang terdapat 6 (enam) waduk/bendungan yaitu Bendungan Selorejo yang terletak di Kecamatan Ngantang, Bendungan Sengguruh di Kecamatan Kepanjen dan perbatasan antara Kecamatan Pagak dan Kecamatan Gondanglegi, bendungan Karangkates (Sutami) di Kecamatan Sumberpucung, Bendungan Lahor yang berbatasan antara Kecamatan Sumberpucung dengan Kabupaten Blitar, Waduk Kali Genteng di Kecamatan Dampit, serta Trap Sewu di Kecamatan Tirtoyudo. Guna meminimasi adanya erosi dan sedimentasi pada waduk, maka perlu upaya perlindungan sepanjang sungai dari kerusakan lingkungan terutama mulai dari hulu sungai dan kawasan lindung bawahannya. Pengamanan terhadap sepanjang DAS Brantas juga perlu dilakukan dengan menerapkan ketentuan-ketentuan sempadan sungai yang dilakukan secara lintas wilayah.

Pengelolaan kawasan sempadan danau/waduk dilakukan dengan:

1. Perlindungan sekitar waduk/danau untuk kegiatan yang menyebabkan alih fungsi lindung dan menyebabkan kerusakan kualitas sumber air;

2. Waduk selain untuk irigasi, pengendali air, perikanan, sumber energi listrik juga untuk pariwisata. Untuk itu diperlukan pelestarian waduk beserta seluruh tangkapan air di atasnya;

3. Waduk yang digunakan untuk pariwisata seperti di Selorejo - Kecamatan Ngantang, Sengguruh - Kecamatan Kepanjen - Kecamatan Pagak, Sutami dan Lahor - Kecamatan Sumberpucung - Kecamatan Kalipare, untuk kepentingan pariwisata diijinkan membangun selama tidak mengurangi kualitas tata air yang ada;

4. Pengembangan tanaman perdu, tanaman tegakan tinggi, dan penutup tanah atau ground cover untuk melindungi pencemaran dan erosi terhadap air; serta

5. Membatasi dan tidak boleh menggunakan lahan secara langsung untuk bangunan yang tidak berhubungan dengan konservasi waduk.

d) Kawasan Sekitar Mata Air

Kawasan sekitar mata air adalah kawasan di sekeliling mata air yang mempunyai manfaat penting mempertahankan kelestarian fungsi mata air. Kriteria penetapan kawasan sekitar mata air adalah perlindungan sekurang-kurangnya dengan jari-jari 200 meter di sekitar mata air.

tersebar di beberapa kecamatan. Perlindungan terhadap sumber mata air dilakukan dengan pembatasan kegiatan budidaya yang dapat merusak kualitas air dan kondisi fisik kawasan sekitarnya.

Pengelolaan kawasan sekitar mata air antara lain dilakukan dengan :

1. Perlindungan sekitar mata air untuk kegiatan yang menyebabkan alih fungsi lindung dan menyebabkan kerusakan kualitas sumber air;

2. Pembuatan sistem saluran bila sumber dimanfaatkan untuk air minum atau irigasi; 3. Sumber air yang digunakan untuk pariwisata seperti di Wendit - Kecamatan Pakis,

Sumber Jenon - Kecamatan Tajinan, Wringinsongo - Kecamatan Tumpang, Ubalan - Kecamatan Turen, dan sumber air lainnya. Selain sebagai sumber air minum dan irigasi, sumber air juga digunakan untuk pariwisata peruntukkannya diijinkan selama tidak mengurangi kualitas tata air yang ada. Penggunaan sumber air untuk rekreasi dan renang, perlu dibuat kolam tersendiri;

4. Pengembangan tanaman perdu, tanaman tegakan tinggi, dan penutup tanah atau ground cover untuk melindungi pencemaran dan erosi terhadap air; serta

5. Membatasi dan tidak boleh menggunakan lahan secara langsung untuk bangunan yang tidak berhubungan dengan konservasi mata air.

e) Kawasan Sempadan Irigasi

Kawasan sempadan irigasi adalah kawasan sepanjang kanan-kiri saluran irigasi primer dan sekunder, baik irigasi bertangggul maupun tidak. Kawasan ini bermanfaat untuk pelestarian saliran irigasi, baik dari sisi kualitas air maupun manfaat bagi area yang diairi.

Kriteria garis sempadan pada jaringan irigasi, yaitu :

1. Garis sempadan pada jaringan irigasi yang bertanggul diukur dari bagian terluar kaki tanggul/bangunan/jalan inspeksi dengan kriteria :

a. Untuk mendirikan bangunan :

• 5 (lima) meter untuk saluran irigasi dan pembuangan dengan kemampuan 4 m3/detik atau lebih.

• 3 (tiga) meter untuk saluran irigasi dan pembuangan dengan kemampuan 1 sampai 4 m3/detik.

• 2 (dua) meter untuk saluran irigasi dan pembuangan dengan kemampuan kurang dari 1 m3/detik.

• 3 (tiga) meter untuk saluran irigasi dan pembuangan dengan kemampuan 4 m3/detik atau lebih.

• 2 (dua) meter untuk saluran irigasi dan pembuangan dengan kemampuan 1 sampai 4 m3/detik.

• 1 (satu) meter untuk saluran irigasi dan pembuangan dengan kemampuan kurang dari 1 m3/detik.

2. Garis sempadan pada jaringan irigasi yang tidak bertanggul diukur dari bagian terluar kaki tanggul/bangunan/jalan inspeksi dengan kriteria :

a. Untuk mendirikan bangunan :

• 5 (lima) meter untuk saluran irigasi dan pembuangan dengan kemampuan 4 m3/detik atau lebih.

• 3 (tiga) meter untuk saluran irigasi dan pembuangan dengan kemampuan 1 sampai 4 m3/detik.

• 2 (dua) meter untuk saluran irigasi dan pembuangan dengan kemampuan kurang dari 1 m3/detik.

b. Untuk membuat pagar :

• 3 (tiga) meter untuk saluran irigasi dan pembuangan dengan kemampuan 4 m3/detik atau lebih.

• 2 (dua) meter untuk saluran irigasi dan pembuangan dengan kemampuan 1 sampai 4 m3/detik.

• 1 (satu) meter untuk saluran irigasi dan pembuangan dengan kemampuan kurang dari 1 m3/detik.

Adapun kawasan sempadan irigasi di Kabupaten Malang adalah meliputi :

1. Perlindungan pada irigasi primer baik di dalam maupun diluar permukiman ditetapkan minimum 10 meter kiri-kanan saluran;

2. Pada kawasan konservasi ini dimungkinkan adanya jalan inspeksi untuk pengontrolan saluran dengan lebar jalan minimum 4 meter.

3. Perlindungan pada irigasi sekunder baik di dalam maupun diluar permukiman ditetapkan minimum 6 meter kiri-kanan saluran;

4. Pada kawasan konservasi ini dimungkinkan adanya jalan inspeksi untuk pengontrolan saluran dengan lebar jalan minimum 3 meter.

mengadakan alih fungsi lindung yang menyebabkan kerusakan kualitas air irigasi;

2. Bangunan sepanjang sempadan irigasi yang tidak memiliki kaitan dengan pelestarian atau pengelolaan irigasi dilarang untuk didirikan;

3. Saluran irigasi yang melintasi kawasan permukiman ataupun kawasan perdesaan dan perkotaan yang tidak langsung mengairi sawah maka keberadaannya dilestarikan dan dilarang untuk digunakan sebagai fungsi drainase;

4. Melestarikan kawasan sumber air untuk melestarikan debit irigasi;

5. Perlindungan sekitar mata air untuk kegiatan yang menyebabkan alih fungsi lindung dan menyebabkan kerusakan kualitas sumber air; serta

6. Pembuatan sistem saluran bila sumber dimanfaatkan untuk air minum atau irigasi. D. Kawasan Suaka Alam

Kawasan suaka alam yaitu kawasan dengan ciri khas tertentu, baik di darat maupun di perairan yang mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya yang juga berfungsi sebagai sistem penyangga kehidupan.

Kawasan suaka alam yang ada di Kabupaten Malang adalah kawasan cagar alam. Kawasan cagar alam yaitu kawasan suaka alam karena keadaan alamnya mempunyai kekhasan tumbuhan, satwa, dan ekosistemnya atau ekosistem tertentu yang perlu dilindungi dan perkembangannya berlangsung secara alami.

Pada prinsipnya kawasan cagar alam ini merupakan kawasan lindung yang ditetapkan fungsinya untuk menjaga kelestarian alam terutama satwa langka dan dilindungi. Di Kabupaten Malang kawasan cagar alam terdapat di Pulau Sempu - Kecamatan Sumbermanjingwetan, Wanawisata Coban Rondo - Kecamatan Pujon, Coban Pelangi - Kecamatan Poncokusumo dan Coban Glotak - Kecamatan Wagir.

Rencana pengelolaan kawasan cagar alam antara lain dilakukan dengan:

1. Perlindungan dan pelestarian keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya;

2. Mempertahankan fungsi ekologis kawasan alami baik biota maupun fisiknya melalui upaya pencegahan pemanfaatan kawasan pada kawasan suaka alam dan upaya konservasi;

3. Peningkatan kegiatan konservasi dan rehabilitasi yang berguna untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dari ancaman kepunahan yang disebabkan oleh kegiatan alam maupun manusia;

fungsi, maka dilakukan pembatasan pengembangan, pengembalian rona awal, disertai pengawasan yang ketat terhadap penetapan fungsi kawasan; serta

5. Kawasan cagar alam Pulau Sempu di Kecamatan Sumbermanjingwetan memiliki keanekaragaman satwa yang harus dilindungi. Mengingat lokasi Pulau Sempu berhadapan dengan Sendangbiru yang akan dijadikan pelabuhan Nasional - Internasional dan kawasan industri, maka pada tepi pantai Sendangbiru harus dilindungi dari berbagai

Dokumen terkait