3.1.2 Arahan Penataan Ruang
3.1.2.3 Arahan Strategis Rencana Tata Ruang Provinsi (RTRW) Provinsi Papua
Sistem pusat permukiman di Papua, berdasarkan Perda No 23 Tahun 2013, menetapkan:
A. Sistem Perkotaan Nasional
Strategi operasionalisasi perwujudan sistem perkotaan nasional terkait dengan wilayah Papua pada umumnya secara regional yakni PKN Timika, Jayapura dan Merauke, PKW Biak, PKW Nabire, PKW Muting, PKW Bade, PKW Sarmi, PKW Arso, dan PKW Wamena. Beberapa strategi operasionalisasi yang diarahkan meliputi:
1. Pengembangan PKN dan PKW sebagai pusat industri pengolahan hasil pertambangan mineral, batubara, serta minyak dan gas bumi yang didukung oleh pengelolaan limbah industri terpadu yaitu pusat industri pengolahan hasil pertambangan mineral, batubara, serta minyak dan gas bumi di PKN Timika.
2. Pengembangan PKN dan PKW sebagai pusat industri pengolahan lanjut dan industri jasa hasil perkebunan kelapa sawit dan karet yang berdaya saing dan ramah lingkungan meliputi:
a. pusat industri hilir pengolahan hasil perkebunan kelapa sawit dan karet di PKW Nabire, PKW Muting, PKW Bade, PKW Sarmi, PKW Arso, dan PKW Wamena; dan
b. pusat industri pengolahan hasil perkebunan kelapa sawit dan karet di PKW Biak, PKW Nabire, PKW Muting, PKW Bade, PKW Sarmi, PKW Arso, dan PKW Wamena.
3. Pengembangan PKN dan PKW sebagai pusat industri pengolahan hasil hutan yang berdaya saing dan ramah lingkungan meliputi:
a. Pusat industri hilir pengolahan hasil hutan PKW Biak, PKW Nabire, PKW Muting, PKW Bade, PKW Sarmi, PKW Arso, dan PKW Wamena;
b. Pusat pengolahan hasil hutan di PKW PKW Biak, PKW Nabire, PKW Muting, PKW Bade, PKW Sarmi, PKW Arso, dan PKW Wamena.
4. Pengembangan PKN dan PKW sebagai pusat industri pengolahan dan industri jasa hasil pertanian tanaman pangan dilakukan di PKW Biak, PKW Nabire, PKW Muting, PKW Bade, PKW Sarmi, PKW Arso, dan PKW Wamena.
5. Pengembangan PKN dan PKW sebagai pusat industri pengolahan dan industri jasa hasil perikanan yang ramah lingkungan dilakukan di PKW Biak, PKW Nabire, dan PKW Sarmi,.
6. Pengembangan PKN, PKW, dan PKSN sebagai pusat pengembangan ekowisata dan wisata budaya meliputi:
a. pusat pengembangan ekowisata di PKN Timika, Jayapura dan Merauke, PKW Biak, PKW Nabire, PKW Muting, PKW Bade, PKW Sarmi, PKW Arso, dan PKW Wamena; dan
b. pusat pengembangan wisata budaya di PKN Timika, Jayapura dan Merauke, PKW Biak, PKW Nabire, PKW Sarmi, PKW Arso, dan PKW Wamena.
7. Pengembangan pusat kegiatan ekonomi di PKN dan PKW yang berdekatan/menghadap badan air dilakukan di PKN Timika, PKN
Jayapura dan PKN Merauke, PKW Biak, PKW Nabire, PKW Muting, PKW Bade, PKW Sarmi, PKW Arso, dan PKW Wamena.
8. Pengembangan jaringan drainase di PKN dan PKW yang terintegrasi dengan sungai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf i meliputi pengembangan jaringan drainase di:
a. PKN Timika yang terintegrasi dengan Sungai Kamoro;
b. PKN Jayapura yang terintegrasi dengan Sungai Kali Acai dan Sungai Klofkamp;
c. PKN Merauke yang terintegrasi dengan Sungai Maroo;
9. Penataan kawasan perkotaan yang adaptif terhadap ancaman bencana banjir dilakukan di PKN Timika, PKN Jayapura dan PKN Merauke, PKW Biak, PKW Nabire, PKW Muting, PKW Bade, PKW Sarmi, PKW Arso, dan PKW Wamena.
10. Pengendalian perkembangan fisik PKN dan PKW untuk kelestarian lahan pertanian pangan berkelanjutan dan kawasan berfungsi lindung dilakukan di PKN Timika, PKN Jayapura dan PKN Merauke, PKW Biak, PKW Nabire, PKW Muting, PKW Bade, PKW Sarmi, PKW Arso, dan PKW Wamena.
B. Kawasan Yang Memberikan Perlindungan Terhadap Kawasan Bawahannya
Strategi operasionalisasi kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya meliputi:
1. Pemertahanan luasan dan pelestarian kawasan bergambut untuk menjaga sistem tata air alami dan ekosistem kawasan dilakukan pada kawasan bergambut di Kabupaten Biak Numfor, Kabupaten Supiori, Kabupaten Kepulauan Yapen, Kabupaten Waropen, Kabupaten Sarmi, Kabupaten Mamberamo Raya, Kabupaten Jayapura, Kabupaten Mamberamo Tengah, Kabupaten Jayawijaya, Kabupaten Lanny Jaya, Kabupaten Tolikara, Kabupaten Deiyai, Kabupaten Puncak, Kabupaten Puncak Jaya, Kabupaten Yalimo, Kabupaten Yahukimo, dan Kabupaten Nduga, Kabupaten Pegunungan Bintang, Kabupaten Mimika, Kabupaten Dogiyai, Kabupaten Paniai, Kabupaten Nabire, Kabupaten Intan Jaya, Kabupaten Asmat, Kabupaten Mappi, Kabupaten Boven Digoel, Kabupaten Merauke, Kabupaten Keerom dan Kota Jayapura. 2. Pemertahanan dan peningkatan fungsi kawasan resapan air,
khususnya pada hulu sungai dilakukan pada hulu Sungai.
3. Pengendalian kegiatan pemanfaatan ruang di kawasan resapan air dilakukan pada hulu Sungai.
C. Kawasan Yang Memberikan Perlindungan Setempat
Strategi operasionalisasi perwujudan kawasan yang memberikan perlindungan setempat meliputi:
1. Pengendalian perkembangan kawasan terbangun yang mengganggu dan/atau merusak fungsi sempadan sungai dilakukan di sempadan Sungai;
2. Pengendalian pemanfaatan ruang pada kawasan sekitar danau atau waduk yang berpotensi mengganggu dan/atau merusak fungsi
kawasan sekitar danau atau waduk sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c dilakukan pada:
kawasan sekitar Danau Sentani (Kabupaten Jayapura dan Kota Jayapura), Danau Tigi (Kabupaten Deiyai dan Kabupaten Paniai.
D. Kawasan Suaka Alam, Pelestarian Alam Dan Cagar Budaya
Strategi operasionalisasi perwujudan kawasan suaka alam, pelestarian alam, dan cagar budaya meliputi :
a. Pemertahanan kawasan cagar alam merupakan kawasan lindung nasional dilakukan pada : Cagar Alam Cycloop (Kabupaten Jayapura dan Kota Jayapura); Cagar alam Enarotali (kabupaten Paniai, Kabupaten Deiyai dan Kabupaten Dogiyai); cagar alam pegunungan wayland (kabupetan Dogiyai dan Kabupaten Nabire); cagar alam Bupul (Kabupaten Merauke); Cagar Alam Biak Utara (Kabupaten Biak); cagar alam Yapen Tengah (Kabupaten Kepulauan Yapen); Cagar Alam Supiori (Kabupaten Supiori);
b. Pemertahanan kawasan cagar alam dilakukan pada Cagar Alam Wiay (Kabupaten Nabire).
c. Pemertahanan suaka margasatwa merupakan kawasan lindung nasional meliputi : Suaka margasatwa pulau dolok (kabupaten merauke); suaka margasatwa jayawijaya (Kabupaten yahukimo, kabupaten Pegunungan Bintang dan Kabupaten Yalimo); suaka margasatwa Danau Bian (Kabupaten Merauke); suaka margasatwa komolon (kabupaten merauke); suaka margasatwa Mamberamo
foja (kabupaten Jayapura, Kabupaten Sarmi, Kabupaten Keerom, Kabupaten Mamberamo Raya, Kabupaten Mamberamo Tengah, Kabupaten Pegunungan bintang, Kabupaten Puncak, Kabupaten Puncak Jaya, Kabupaten Tolikara, Kabupaten Yahukimo dan Kabupaten Yalimo); suaka margasatwa pulau Pombo (kabupaten merauke); suaka margasatwa savan (kabupaten merauke).
d. Pemertahanan dan rehabilitasi luasan taman nasional, taman hutan raya, dan taman wisata alam dilakukan pada: Taman Nasional Lorentz (Kabupaten Asmat, Kabupaten Mimika, Kabupaten Intan Jaya, Kabupaten Lanny Jaya, Kabupaten Jayawijaya, Kabupaten Nduga, Kabupaten Paniai, Kabupaten Puncak, Kabupaten Puncak Jaya dan Kabupaten Yahukimo), Taman Nasional Wasur (Kabupaten Merauke);
e. Pemertahanan kawasan pantai berhutan bakau di wilayah pesisir untuk perlindungan pantai dan kelestarian biota laut dilakukan pada kawasan pantai berhutan bakau di wilayah pesisir Kabupaten Mamberamo Raya, Kabupaten Kepulauan Yapen, Kabupaten Waropen, Kabupaten Sarmi, Kabupaten Biak Numfor, Kabupaten Supiori, Kabupaten Asmat, Kabupaten Merauke, Kabupaten Nabire, Kabupaten Mimika, Kabupaten Mappi, Kabupaten Jayapura, dan Kota Jayapura.
f. Taman nasional Lorentz sebagaimana dimaksud merupakan kawasan lindung nasional, juga merupakan kawasan strategis nasional, sekaligus merupakan situs warisan alam dunia oleh UNESCO dan warisan alam asean oleh Negara-negara asean.
g. Taman nasional laut yang merupakan kawasan lindung nasional meliputi taman nasional laut teluk cenderawasih (Kabupaten Nabire)
h. Kawasan taman wisata alam dan taman wisata alam laut terdiri atas : kawasan taman wisata alam merupakan kawasan lindung nasional meliputi Taman wisata alam teluk youtefa (Kota Jayapura) dan taman wisata alam anggromeos (Kabupaten Nabire); Kawasan taman wisata alam laut meliputi taman wisata perairan kepualaun padaido (Kabupaten Biak).
E. Kawasan Rawan Bencana Alam
Strategi operasionalisasi perwujudan kawasan rawan bencana alam dilakukan dengan mengembangkan jaringan drainase yang terintegrasi dengan sungai pada kawasan perkotaan yang rawan banjir.
1. Pengendalian perkembangan kegiatan budi daya terbangun pada kawasan rawan bencana alam geologi dilakukan pada: kawasan rawan gerakan tanah Kabupaten Biak Numfor, Kabupaten Supiori, Kabupaten Kepulauan Yapen, Kabupaten Waropen, Kabupaten Sarmi, Kabupaten Mamberamo Raya, Kabupaten Jayapura, Kabupaten Mamberamo Tengah, Kabupaten Jayawijaya, Kabupaten Lanny Jaya, Kabupaten Tolikara, Kabupaten Deiyai, Kabupaten Puncak, Kabupaten Puncak Jaya, Kabupaten Yalimo, Kabupaten Yahukimo, dan Kabupaten Nduga, Kabupaten Pegunungan Bintang, Kabupaten Mimika, Kabupaten Dogiyai, Kabupaten Paniai, Kabupaten Nabire, Kabupaten Intan Jaya,
Kabupaten Asmat, Kabupaten Mappi, Kabupaten Boven Digoel, Kabupaten Merauke, Kabupaten Keerom dan Kota Jayapura;
2. Penyelenggaraan upaya mitigasi dan adaptasi bencana melalui penetapan lokasi dan jalur evakuasi bencana, pembangunan prasarana dan sarana pemantauan bencana, serta penetapan standar bangunan gedung untuk mengurangi dampak akibat bencana alam geologi dilakukan pada: kawasan rawan gerakan tanah di Kabupaten Biak Numfor, Kabupaten Supiori, Kabupaten Kepulauan Yapen, Kabupaten Waropen, Kabupaten Sarmi, Kabupaten Mamberamo Raya, Kabupaten Jayapura, Kabupaten Mamberamo Tengah, Kabupaten Jayawijaya, Kabupaten Lanny Jaya, Kabupaten Tolikara, Kabupaten Deiyai, Kabupaten Puncak, Kabupaten Puncak Jaya, Kabupaten Yalimo, Kabupaten Yahukimo, dan Kabupaten Nduga, Kabupaten Pegunungan Bintang, Kabupaten Mimika, Kabupaten Dogiyai, Kabupaten Paniai, Kabupaten Nabire, Kabupaten Intan Jaya, Kabupaten Asmat, Kabupaten Mappi, Kabupaten Boven Digoel, Kabupaten Merauke, Kabupaten Keerom dan Kota Jayapura; dan
3. Pengendalian perkembangan kegiatan budi daya terbangun pada kawasan imbuhan air tanah dilakukan pada kawasan imbuhan air tanah di CAT (Kabupaten Biak Numfor, Kabupaten Supiori, Kabupaten Kepulauan Yapen, Kabupaten Waropen, Kabupaten Sarmi, Kabupaten Mamberamo Raya, Kabupaten Jayapura, Kabupaten Mamberamo Tengah, Kabupaten Jayawijaya, Kabupaten Lanny Jaya, Kabupaten Tolikara, Kabupaten Deiyai, Kabupaten Puncak, Kabupaten Puncak Jaya, Kabupaten Yalimo, Kabupaten Yahukimo, dan Kabupaten Nduga,
Kabupaten Pegunungan Bintang, Kabupaten Mimika, Kabupaten Dogiyai, Kabupaten Paniai, Kabupaten Nabire, Kabupaten Intan Jaya, Kabupaten Asmat, Kabupaten Mappi, Kabupaten Boven Digoel, Kabupaten Merauke, Kabupaten Keerom dan Kota Jayapura).
F. Kawasan Budi Daya Strategis Nasional
Strategi operasionalisasi perwujudan kawasan budi daya yang memiliki nilai strategis nasional terdiri atas strategi operasionalisasi perwujudan:
1. kawasan peruntukan hutan; 2. kawasan peruntukan pertanian; 3. kawasan peruntukan perikanan; 4. kawasan peruntukan pertambangan; 5. kawasan peruntukan industri;
6. kawasan peruntukan pariwisata; dan 7. kawasan peruntukan permukiman.
Strategi operasionalisasi perwujudan kawasan peruntukan hutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48 huruf a meliputi:
1. Pengembangan kawasan peruntukan hutan yang didukung dengan industry pengolahan dengan prinsip berkelanjutan dilakukan pada kawasan peruntukan hutan di Kabupaten Biak Numfor, Kabupaten Supiori, Kabupaten Kepulauan Yapen, Kabupaten Waropen, Kabupaten Sarmi, Kabupaten Mamberamo Raya, Kabupaten Jayapura, Kabupaten
Mamberamo Tengah, Kabupaten Jayawijaya, Kabupaten Lanny Jaya, Kabupaten Tolikara, Kabupaten Deiyai, Kabupaten Puncak, Kabupaten Puncak Jaya, Kabupaten Yalimo, Kabupaten Yahukimo, dan Kabupaten Nduga, Kabupaten Pegunungan Bintang, Kabupaten Mimika, Kabupaten Dogiyai, Kabupaten Paniai, Kabupaten Nabire, Kabupaten Intan Jaya, Kabupaten Asmat, Kabupaten Mappi, Kabupaten Boven Digoel, Kabupaten Merauke, Kabupaten Keerom dan Kota Jayapura.
2. Pemertahanan kelestarian keanekaragaman hayati tumbuhan dan satwa endemik kawasan dengan meningkatkan fungsi ekologis di kawasan peruntukan hutan dilakukan pada kawasan peruntukan hutan di Kabupaten Biak Numfor, Kabupaten Supiori, Kabupaten Kepulauan Yapen, Kabupaten Waropen, Kabupaten Sarmi, Kabupaten Mamberamo Raya, Kabupaten Jayapura, Kabupaten Mamberamo Tengah, Kabupaten Jayawijaya, Kabupaten Lanny Jaya, Kabupaten Tolikara, Kabupaten Deiyai, Kabupaten Puncak, Kabupaten Puncak Jaya, Kabupaten Yalimo, Kabupaten Yahukimo, dan Kabupaten Nduga, Kabupaten Pegunungan Bintang, Kabupaten Mimika, Kabupaten Dogiyai, Kabupaten Paniai, Kabupaten Nabire, Kabupaten Intan Jaya, Kabupaten Asmat, Kabupaten Mappi, Kabupaten Boven Digoel, Kabupaten Merauke, Kabupaten Keerom dan Kota Jayapura.
3. Pengendalian perubahan peruntukan dan/atau fungsi kawasan peruntukan hutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c dilakukan pada kawasan peruntukan hutan di Kabupaten Biak Numfor, Kabupaten Supiori, Kabupaten Kepulauan Yapen, Kabupaten Waropen, Kabupaten Sarmi, Kabupaten Mamberamo Raya, Kabupaten
Jayapura, Kabupaten Mamberamo Tengah, Kabupaten Jayawijaya, Kabupaten Lanny Jaya, Kabupaten Tolikara, Kabupaten Deiyai, Kabupaten Puncak, Kabupaten Puncak Jaya, Kabupaten Yalimo, Kabupaten Yahukimo, dan Kabupaten Nduga, Kabupaten Pegunungan Bintang, Kabupaten Mimika, Kabupaten Dogiyai, Kabupaten Paniai, Kabupaten Nabire, Kabupaten Intan Jaya, Kabupaten Asmat, Kabupaten Mappi, Kabupaten Boven Digoel, Kabupaten Merauke, Kabupaten Keerom dan Kota Jayapura.
Strategi operasionalisasi perwujudan kawasan peruntukan perikanan dilakukan di :
Pengembangan kegiatan perikanan budi daya dengan memperhatikan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c dilakukan pada kawasan peruntukan perikanan di Kabupaten Biak Numfor, Kabupaten Supiori, Kabupaten Kepulauan Yapen, Kabupaten Waropen, Kabupaten Sarmi, Kabupaten Mamberamo Raya, Kabupaten Jayapura, Kabupaten Mamberamo Tengah, Kabupaten Jayawijaya, Kabupaten Lanny Jaya, Kabupaten Tolikara, Kabupaten Deiyai, Kabupaten Puncak, Kabupaten Puncak Jaya, Kabupaten Yalimo, Kabupaten Yahukimo, dan Kabupaten Nduga, Kabupaten Pegunungan Bintang, Kabupaten Mimika, Kabupaten Dogiyai, Kabupaten Paniai, Kabupaten Nabire, Kabupaten Intan Jaya, Kabupaten Asmat, Kabupaten Mappi, Kabupaten Boven Digoel, Kabupaten Merauke, Kabupaten Keerom dan Kota Jayapura.
Strategi operasionalisasi perwujudan kawasan peruntukan pertambangan dilakukan di:
1. Pengembangan kawasan peruntukan pertambangan mineral, batubara, serta minyak dan gas bumi dengan memperhatikan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup meliputi:
a. Kawasan peruntukan pertambangan mineral di Kabupaten Biak Numfor, Kabupaten Supiori, Kabupaten Kepulauan Yapen, Kabupaten Waropen, Kabupaten Sarmi, Kabupaten Mamberamo Raya, Kabupaten Jayapura, Kabupaten Mamberamo Tengah, Kabupaten Jayawijaya, Kabupaten Lanny Jaya, Kabupaten Tolikara, Kabupaten Deiyai, Kabupaten Puncak, Kabupaten Puncak Jaya, Kabupaten Yalimo, Kabupaten Yahukimo, dan Kabupaten Nduga, Kabupaten Pegunungan Bintang, Kabupaten Mimika, Kabupaten Dogiyai, Kabupaten Paniai, Kabupaten Nabire, Kabupaten Intan Jaya, Kabupaten Asmat, Kabupaten Mappi, Kabupaten Boven Digoel, Kabupaten Merauke, Kabupaten Keerom dan Kota Jayapura;
b. Kawasan peruntukan pertambangan batubara di Kabupaten Puncak, Kabupaten Lanny Jaya, Kabupaten Pegunungan Bintang, Kabupaten Mimika, Kabupaten Deiyai, Kabupaten Paniai, Kabupaten Intan Jaya.
2. Pengendalian perkembangan kawasan pertambangan yang mengganggu kawasan berfungsi lindung meliputi:
a. Kawasan peruntukan pertambangan mineral di Kabupaten Biak Numfor, Kabupaten Supiori, Kabupaten Kepulauan Yapen, Kabupaten Waropen, Kabupaten Sarmi, Kabupaten Mamberamo Raya, Kabupaten Jayapura, Kabupaten Mamberamo Tengah, Kabupaten Jayawijaya, Kabupaten Lanny Jaya, Kabupaten Tolikara, Kabupaten Deiyai, Kabupaten Puncak, Kabupaten Puncak Jaya, Kabupaten Yalimo, Kabupaten Yahukimo, dan Kabupaten Nduga, Kabupaten Pegunungan Bintang, Kabupaten Mimika, Kabupaten Dogiyai, Kabupaten Paniai, Kabupaten Nabire, Kabupaten Intan Jaya, Kabupaten Asmat, Kabupaten Mappi, Kabupaten Boven Digoel, Kabupaten Merauke, Kabupaten Keerom dan Kota Jayapura;
b. kawasan peruntukan pertambangan batubara di Kabupaten Puncak, Kabupaten Lanny Jaya, Kabupaten Pegunungan Bintang, Kabupaten Mimika, Kabupaten Deiyai, Kabupaten Paniai, Kabupaten Intan Jaya; dan
3. Pelaksanaan reklamasi dan kegiatan pasca tambang pada kawasan peruntukan pertambangan untuk memulihkan kualitas lingkungan dan ekosistem sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c dilakukan pada:
a. Kabupaten Biak Numfor, Kabupaten Supiori, Kabupaten Kepulauan Yapen, Kabupaten Waropen, Kabupaten Sarmi, Kabupaten Mamberamo Raya, Kabupaten Jayapura, Kabupaten Mamberamo Tengah, Kabupaten Jayawijaya, Kabupaten Lanny Jaya, Kabupaten Tolikara, Kabupaten Deiyai, Kabupaten Puncak,
Kabupaten Puncak Jaya, Kabupaten Yalimo, Kabupaten Yahukimo, dan Kabupaten Nduga, Kabupaten Pegunungan Bintang, Kabupaten Mimika, Kabupaten Dogiyai, Kabupaten Paniai, Kabupaten Nabire, Kabupaten Intan Jaya, Kabupaten Asmat, Kabupaten Mappi, Kabupaten Boven Digoel, Kabupaten Merauke, Kabupaten Keerom dan Kota Jayapura; dan
b. Kabupaten Puncak, Kabupaten Lanny Jaya, Kabupaten Pegunungan Bintang, Kabupaten Mimika, Kabupaten Deiyai, Kabupaten Paniai, Kabupaten Intan Jaya.
Kawasan andalan terdiri atas kawasan andalan dengan sektor unggulan kehutanan, pertanian, perkebunan, perikanan, pertambangan, industri, dan pariwisata. Strategi operasionalisasi perwujudan kawasan andalan terdiri atas strategi operasionalisasi perwujudan:
1. kawasan andalan dengan sektor unggulan kehutanan; 2. kawasan andalan dengan sektor unggulan pertanian; 3. kawasan andalan dengan sektor unggulan perkebunan; 4. kawasan andalan dengan sektor unggulan perikanan; 5. kawasan andalan dengan sektor unggulan pertambangan; 6. kawasan andalan dengan sektor unggulan industri; dan 7. kawasan andalan dengan sektor unggulan pariwisata
3.1.2.4 Arahan Strategis Rencana Tata Ruang Kabupaten Sarmi