KABUPATEN KEPULAUAN ANAMBAS
B. Sektor Persampahan
2.6. Area Berisiko dan Permasalahan Mendesak Sanitasi
Proses penentuan area berisiko dimulai dengan analisis data sekunder, diikuti analisis berdasarkan hasil studi EHRA dan dengan penilaian SKPD. Penentuan area berisiko berdasarkan data sekunder adalah kegiatan menilai dan memetakan tingkat risiko sebuah area (kelurahan/desa) berdasarkan data yang telah tersedia di SKPD mengenai ketersediaan layanan fasilitas air bersih dan sanitasi dan data umum, meliputi nama kelurahan, luas administratif, luas terbangun; pertumbuhan penduduk; Jumlah KK dalam setiap kelurahan/desa; kepadatan penduduk; klasifikasi urban dan rural; area CBD (Central Bussiness Development); Jumlah KK miskin; jumlah KK yang masih melakukan BABS; jumlah KK ke akses sistem tidak layak dan layak (On-Site) dan akses ke Sistem Komunal serta akses ke sistem terpusat (Off-Site); jumlah sampah rumah tangga yang terkumpul dan terangkut; jumlah TPS dan TPS-3R yang ada dan juga jumlah Pasar; serta daerah yang terpengaruh pasang surut dan wilayah yang terpengaruh genangan.
Adapun penentuan area berisiko berdasarkan hasil Studi EHRA merupakan data primer yang diambil berdasarkan survey partisipatif di tingkat kabupaten Kepulauan Anambas untuk memahami kondisi fasilitas sanitasi dan perilaku higiene dan sanitasi skala rumah tangga di kabupaten Kepulauan Anambas dengan jumlah responden yaitu 2160 rumah tangga di 54 Kelurahan/Desa se- Kepulauan Anambas. Hasil dari analisa Studi EHRA yang tergambarkan dalam Indeks Risiko Sanitasi (IRS) diartikan sebagai ukuran atau tingkatan risiko sanitasi, dalam hal ini dapat memberikan informasi “Indicative Magnitude” atas skala permasalahan sanitasi secara relative di satu strata terhadap strata lainnya dan sebagai salah satu komponen dalam menentukan area berisiko sanitasi. Sebagai penentu area berisiko sanitasi, maka telah dipilih dan disepakati oleh Pokja Sanitasi Kabupaten Kepulauan Anambas beberapa indikator penentu area berisiko sanitasi yaitu : (1) Genangan Air, (2) Persampahan, (3) Perilaku Hidup Bersih dan Sehat, (4) Air Limbah Domestik, (5) Sumber Air Minum Rumah Tangga. Persepsi SKPD dalam penentuan area berisiko merupakan pengamatan, pengetahuan praktis dan keahlian profesi yang dimiliki individu anggota Pokja Sanitasi kabupaten Kepulauan Anambas.
Penentuan area berisiko dilakukan bersama-sama seluruh anggota pokja berdasarkan hasil dari ketiga data tersebut. Dalam penentuan area berisiko, maka digambarkan tingkat resiko dengan skor yang diberikan terlihat pada tabel 2.17.
Tabel 2.17
Skor Tingkat Risiko Sanitasi
4 Sangat Tinggi
3 Tinggi
2 Rendah
1 Sangat Rendah
Area yang tingkat resiko sanitasi sangat tinggi adalah kelurahan yang dianggap memiliki resiko kesehatan lingkungan yang tinggi karena buruknya kondisi sanitasi. Berdasarkan informasi yang tersedia, kelurahan memiliki potensi resiko terhadap kesehatan dan mendesak untuk dilakukan intervensi tertentu yang kemungkinan akan memperbesar potensi terjadinya kasus kejadian penyakit. Tujuan dari Pemetaan Area Berisiko adalah memetakan area area yang memiliki tingkat resiko sanitasi dan klasifikasi area berdasarkan tingkat resiko kesehatan lingkungan akan menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan prioritas program pembangunan dan pengembangan sanitasi. Dari penentuan Area berisiko ketiga komponen sanitasi, yakni Air Limbah, Persampahan dan Drainase dari masing-masing desa/kelurahan dengan menggunakan instrumen Profil Sanitasi, yang menjadi prioritas permasalahan adalah wilayah dengan resiko tinggi ( 3 ) dan Sangat Tinggi ( 4).
a) Area Berisiko dan Permasalahan Air Limbah Domestik
Hasil analisa yang telah dilakukan dari Instrumen Profil Sanitasi dengan berdasarkan Data Sekunder Pengukuran Risiko Sanitasi dan Indeks Risiko Sanitasi dari data Primer atau survey partisipatif terhadap prilaku risiko kesehatan lingkungan serta berdasarkan persepsi SKPD terhadap komponen sanitasi dapat diketahui area berisiko sanitasi sangat tinggi (Risiko 4) di wilayah kabupaten Kepulauan Anambas untuk sektor Air Limbah Domestik terjadi pada Kelurahan Tarempa, Desa Tarempa Barat, Desa Sri Tanjung, dan Desa Munjan. Sedangkan area berisiko tinggi (Risiko 3) sektor Air Limbah Domestik terjadi pada Desa Tarempa Barat Daya, Desa Mubur, Desa Temburun dan Desa Air Sena. Untuk lebih jelas mengenai Area Berisiko sektor Air Limbah Domestik di Kabupaten Kepulauan Anambas dapat dilihat pada Peta 2.9 Area Berisiko Sanitasi sektor Air Limbah Domestik dan Tabel 2.18 Area Berisiko Sanitasi Air Limbah Domestik berikut ini :
Tabel 2.18
Area Berisiko Sanitasi Air Limbah Domestik No Area Berisiko Air LimbahWilayah prioritas
1. Risiko 4 Kelurahan Tarempa Desa Tarempa Barat Desa Sri Tanjung Desa Munjan
2. Risiko 3 Desa Tarempa Barat Daya Desa Mubur
Desa Temburun Desa Air Sena
Sumber : Pokja Sanitasi Kabupaten Kep. Anambas Tahun 2016, hasil analisa
Tabel 2.19
Permasalahan Mendesak Air Limbah Domestik
No Permasalahan Mendesak
1. Aspek Teknis : Pengembangan Sarana dan Prasarana (user interface l
pengolahan awal l pengangkutan l pengolahan akhir pembuangan akhir) serta Dokumen Perencanaan Teknis
86,3% Masih BABS
Sarana dan Prasarana Pengelolaan Air Limbah Domestik Belum Memadai
2. Aspek Non Teknis : Pendanaan, kelembagaan, Peraturan dan Perundang l
undangan, Peran serta Masyarakat dan Dunia Usaha/Swasta, dan Komunikasi Minimnya anggaran terhadap pengelolaan Air Limbah Domestik
SKPD Pelaksana pengelola Sanitasi belum bergerak maksimal dalam pengelolaan air limbah domestic
Tidak tersedianya peraturan daerah terkait pengelolaan air limbah domestik Masih minimnya peran serta masyarakat dan swasta dalam pengelolaan air limbah domestic
Kurangnya Sosialisasi dan kampanye Pengelolaan Air Limbah Domestik
Sumber : Pokja Sanitasi Kab. Kepulauan Anambas Tahun 2016, diolah
b) Ares Berisiko dan Permasalahan Persampahan
Area berisiko sanitasi sektor persampahan di wilayah Kabupaten Kepulauan Anambas berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan, untuk area berisiko sangat tinggi (Risiko 4) terjadi di Desa Pesisir Timur, Desa Tarempa Barat Daya, dan Desa Temburun. Sedangkan area berisiko tinggi (Risiko 3) terjadi di Kelurahan Tarempa, Desa Tarempa Barat, Desa Bayat, Desa Teluk Bayur, Desa Matak, Desa Munjan, Desa Ulu Maras, Kelurahan Letung, Desa Batu Berapit, dan Desa Landak. Untuk lebih jelas area berisiko sanitasi sektor persampahan di kabupaten Kepulauan
Anambas dijelaskan pada Peta 2.10 Area Berisiko Sanitasi Komponen Persampahan dan Tabel 2.20 Area Berisiko Sanitasi Persampahan dibawah ini :
Tabel 2.20
Area Berisiko Sanitasi Persampahan No Area Berisiko PersampahanWilayah prioritas
1. Risiko 4 Desa Pesisir Timur Desa Tarempa Barat Daya Desa Temburun
2. Risiko 3 Kelurahan Tarempa Desa Tarempa Barat Desa Bayat
Desa Teluk Bayur Desa Matak Desa Munjan Desa Ulu Maras Kelurahan Letung Desa Batu Berapit Desa Landak
Sumber : Pokja Sanitasi Kabupaten Kep. Anambas Tahun 2016, hasil analisa
Tabel 2.21
Permasalahan Mendesak Persampahan
No Permasalahan Mendesak
1. Aspek Teknis : Pengembangan Sarana dan Prasarana (user interface l
pengolahan awal l pengangkutan l pengolahan akhir pembuangan akhir) serta Dokumen Perencanaan Teknis
Tidak adanya TPA
45,77% dibuang ke laut, sungai, dan perkebunan serta lahan kosong/di bakar sendiri
Ketersediaan sarana dan prasarana pengelolaan persampahan belum memadai
2. Aspek Non Teknis : Pendanaan, kelembagaan, Peraturan dan Perundang l
undangan, Peran serta Masyarakat dan Dunia Usaha/Swasta, dan Komunikasi Masih minimnya anggaran dalam pengelolaan persampahan
Belum adanya institusi khusus terkait pengelolaan persampahan Belum adanya perda terkait pengelolaan persampahan
Belum adanya peran masyarakat dalam penanganan pengelolaan persampahan Belum adanya sosialisasi dan kampanye terkait pengelolaan persampahan
c) Area Berisiko dan Permasalahan Drainase
Berdasarkan analisa yang dilakukan, area berisiko sanitasi sektor Drainase di kabupaten Kepulauan Anambas dengan area berisiko sanitasi sangat tinggi (Risiko 4) terjadi di Kelurahan Tarempa, Desa Tarempa Barat dan Desa Ulu Maras, untuk area berisiko sanitasi tinggi (Risiko 3) sektor Drainase di kabupaten Kepulauan Anambas tidak terjadi. Untuk lebih jelasnya mengenai area berisiko sanitasi sektor Drainase di kabupaten Kepulauan Anambas di jelaskan pada Peta 2.11 Area Berisiko Sanitasi Komponen Drainase dan Tabel 2.22 Area Berisiko Sanitasi Drainase sebagai berikut :
Tabel 2.22
Area Berisiko Sanitasi Drainase No Area Berisiko DrainaseWilayah prioritas
1. Risiko 4 Kelurahan Tarempa Desa Tarempa Barat Desa Ulur Maras
Sumber : Pokja Sanitas Kabupaten Kep. Anambas Tahun 2016, hasil analisa
Tabel 2.21
Permasalahan Mendesak Drainase
No Permasalahan Mendesak
1. Aspek Teknis : Pengembangan Sarana dan Prasarana (user interface l
pengolahan awal l pengangkutan l pengolahan akhir pembuangan akhir) serta Dokumen Perencanaan Teknis
Masyarakat masih belum terlayani dengan sistem drainase yang memadai 10,2% Masih terdapat genangan di permukiman
2. Aspek Non Teknis : Pendanaan, kelembagaan, Peraturan dan Perundan l
undangan, Peran serta Masyarakat dan Dunia Usaha/Swasta, dan Komunikasi Belum tersedianya regulasi pengelolaan drainase lingkungan
Minimnya pendanaan pembangunan drainase lingkungan
Minimnya fasilitasi tentang fungsi dan manfaat dari saluran drainase Minimnya kontribusi swasta dan masyarakat dalam penanganan drainase lingkungan
Gambar 2.9.a Peta Wilayah Genangan Kabupaten Kepulauan Anambas (Wilayah Kajian A)
Gambar 2.9.b Peta Wilayah Genangan Kabupaten Kepulauan Anambas (Wilayah Kajian B)
Gambar 2.9.c Peta Wilayah Genangan Kabupaten Kepulauan Anambas (Wilayah Kajian C)
Gambar 2.10.a Peta Area Berisiko Air Limbah Domestik Kabupaten Kepulauan Anambas (Wilayah Kajian I)
Gambar 2.10.b Peta Area Berisiko Air Limbah Domestik Kabupaten Kepulauan Anambas (Wilayah Kajian II)
Gambar 2.10.c Peta Area Berisiko Air Limbah Domestik Kabupaten Kepulauan Anambas (Wilayah Kajian III)
Gambar 2.11.a Peta Area Berisiko Persampahan Kabupaten Kepulauan Anambas (Wilayah Kajian I)
Gambar 2.11.b Peta Area Berisiko Persampahan Kabupaten Kepulauan Anambas (Wilayah Kajian II)
Gambar 2.11.c Peta Area Berisiko Persampahan Kabupaten Kepulauan Anambas (Wilayah Kajian III)
Gambar 2.12.a Peta Area Berisiko Drainase Kabupaten Kepulauan Anambas (Wilayah Kajian I)
Gambar 2.12.b Peta Area Berisiko Drainase Kabupaten Kepulauan Anambas (Wilayah Kajian II)
Gambar 2.12.c Peta Area Berisiko Drainase Kabupaten Kepulauan Anambas (Wilayah Kajian III)