PERSENTASE TEMPAT PENYALURAN AKHIR TINJA DI KABUPATEN LABUHANBATU SELATAN TAHUN 2016
PERSENTASE LOKASI GENANGAN DI SEKITAR RUMAH
1) Lokasi Genangan dan Perkiraan Genangan
2.4 Area Berisiko dan Permasalahan Mendesak Sanitasi
Dalam konteks Area Berisiko Sanitasi Kabupaten Labuhanbatu Selatan ditetapkan berdasarkan kolaborasi dan elaborasi antara data sekunder, persepsi SKPD dan hasil Study EHRA (data primer). Elaborasi data tersebut dilakukan dengan menggunakan Istrumen Profil Sanitasi Tahun 2016. Adapun data primer dan data sekunder dalam Instrumen Profil Sanitasi Tahun 2016 yang digunakan adalah sebagai berikut:
Informasi Umum tentang Kabupaten
Labuhan Batu Selatan meliputi: Data Persampahan:
a) Luas Administrasi (ha);
b) Luas Terbangun (ha);
c) Pertumbuhan Penduduk;
d) Jumlah Penduduk (org) 2015;
e) Jumlah Kepala Keluarga (KK) 2015;
f) Kepadatan Penduduk (org/ha) 2015;
g) Klasifikasi Perkotaan (urban) dan Perdesaan (rural) saat ini;
h) Klasifikasi Perkotaan (urban) dan Perdesaan (rural) 20 Tahun Mendatang;
i) Area CBD Saat Ini; dan
j) Jumlah Penduduk Miskin (org) 2014
a) Prosentase jumlah sampah rumah tangga yang terkumpul dan terangkut (%);
b) Jumlah TPS yang ada (unit);
c) Jumlah TPS 3 R yang ada; dan d) Jumlah pasar.
Data Drainase:
a) Area terpengaruh oleh pasang surut ; dan b) Prosentase area permukiman rawan
genangan.
Data Air Limbah Domestik meliputi: Data Studi EHRA (IRS):
a) Jumlah Kepala Keluarga BABS;
b) Jumlah KK yang memiliki akses ke Jamban/Cubluk “tidak layak” ;
c) Jumlah KK yang memiliki akses ke jamban/cubluk “yang layak”;
d) Jumlah KK yang memiliki akses ke jamban bersama “yang layak” ;
e) Jumlah unit MCK;
f) Jumlah unit IPAL Komunal;
g) Jumlah unit tanki septik komunal >10 KK;
h) Jumlah unit yang terkoneksi dengan MCK;
i) Jumlah KK yang terkoneksi dengan IPAL
c) Perilaku Hidup Bersih Sehat;
d) Air Limbah Domestik;
e) Sumber Air rumah tangga.
II - 54 Berdasarkan hasil pengolahan data Instrumen Profil Sanitasi Kabupaten Labuhanbatu Selatan Tahun 2016 dan kemudian dilakukan diskusi lintas SKPD terkait penyesuaian berdasarkan kondisi eksisting Desa/Kel., pengetehuan dan pengalaman dari anggota Pokja Sanitasi terhadap Desa/Kel. yang ada di Kabupaten Labuhanbatu Selatan, menunjukkan bahwa kategori Desa/Kel.
berdasarkan besaran dampak risiko sektor air limbah secara umum dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 2.16. Area Berisiko Air Limbah Domestik
No. Area Berisiko Sanitasi Wilayah Prioritas
Kecamatan Desa/Kel.
1 Risiko Sangat Tinggi (kode 4) Kec. Sungai Kanan Kel. Langgapayung Kec. Torgamba 2) Sungai Meranti
3) Torganda 4) Aek Raso 5) Aek Batu 6) Asam Jawa 7) Pangarungan Kec. Kotapinang Simatahari
Mampang Kel. Kotapinang Sisumut
Kec. Silangkitang Binanga Dua Mandalasena Ulumahuam Kec. Kampung Rakyat Teluk Panji I
Kamp.Teluk Panji Tanjung Selamat Tanjung Mulia
2 Risiko Tinggi (kode 3) Kec. Sungai Kanan Sabungan Huta Godang Marsonja Kec. Torgamba Rasau
Pinang Damai Kec. Kotapinang Hadundung
Sosopan
No. Area Berisiko Sanitasi
Kecamatan Desa/Kel.
Kec. Silangkitang Aek Goti Rintis
Kec. Kampung Rakyat Kamp. Perlabian Pekan Tolan Teluk Panji II Teluk Panji III Tanjung Medan
3 Risiko Sedang (kode 2) Kec. Sungai Kanan Batang Nadenggan Hajoran
Ujung Gading Parimburan Sampean Kec. Torgamba Bukit Tujuh
Torgamba Bangai
Teluk Rampah Beringin Jaya Bunut
Kec. Kotapinang Perk. Normark Perk. Nagodang Perk. Sei Rumbia Kec. Silangkitang Sukadame Kec. Kampung Rakyat Perk. Perlabian
Tolan I/II
Kec. Kotapinang Pasir Tuntung Kec. Silangkitang -
Kec. Kampung Rakyat - Sumber: Instrumen Profil Sanitasi Kabupaten Labuhanbatu Selatan Tahun 2016
II - 56 Selatan pada tabel 2.16 diatas dapat dijelaskan sebagai berikut:
Area Berisiko Sangat Tinggi dengan kode 4 (warna merah) yang paling terbanyak di Kecamatan Torgamba terdiri dari 6 (enam) Desa/Kel., kemudian di Kecamatan Kotapinang terdiri dari 4 (empat) Desa/Kel., Kecamatan Kampung Rakyat juga terdiri dari 4 (empat) Desa/Kel., Kecamatan Silangkitang terdiri dari 3 (tiga) Desa/Kel., dan Kecamatan Sungai Kanan yang paling sedikit, yaitu terdiri dari 1 (satu) Desa/Kel.
Dengan demikian jumlah total Area Berisiko Sangat Tinggi sebanyak 18 (delapan belas) Desa/Kel. Di Kabupaten Labuhanbatu Selatan.
Area Berisiko Tinggi dengan kode 3 (warna kuning) yang paling terbanyak di Kecamatan Kampung Rakyat juga terdiri dari 5 (lima) Desa/Kel.
Kecamatan Sungai Kanan terdiri dari 3 (tiga) Desa/Kel., Kecamatan Torgamba, Kecamatan Kotapinang dan Kecamatan Silangkitang masing-masing terdiri dari 2 (dua) Desa/Kel. Sehingga jumlah total Area Berisiko Tinggi sebanyak 14 (empat belas) Desa/Kel. Di Kabupaten Labuhanbatu Selatan.
Area Berisiko Rendah dengan kode 2 (warna hijau) yang paling terbanyak di Kecamatan Kampung Rakyat dan Kecamatan Torgamba masing-masing terdiri dari 6 (enam) Desa/Kel. Kecamatan Sungai Kanan terdiri dari 5 (lima) Desa/Kel., Kecamatan Kotapinang terdiri dari 3 (tiga) Desa/Kel. Dan Kecamatan Silangkitang terdiri dari 1 (satu) Desa/Kel. Sehingga jumlah total Area Berisiko Rendah sebanyak 21 (dua puluh satu) Desa/Kel. Di Kabupaten Labuhanbatu Selatan.
Area Berisiko Sangat Rendah dengan kode 1 (warna biru) yang ada Kecamatan Kotapinang terdiri dari 1 (tiga) Desa/Kel., dan Kecamatan Silangkitang, Torgamba, Silangkitang dan Kampung Rakyat tidak ada.
Sehingga jumlah total Area Berisiko Rendah sebanyak 1 (satu) Desa/Kel. di Kabupaten Labuhanbatu Selatan.
Sumber: Pokja Sanitasi Kabupaten Labuhanbatu Selatan 2016
II - 58 baik aspek teknis maupun non teknis dalam pengelolaan air limbah domestik di Kabupaten Labuhanbatu Selatan.
Tabel 2.16. Permasalahan Mendesak Air Limbah Domestik
No. Permasalahan Mendesak
1 Aspek Teknis: Pengembangan Sarana dan Prasarana (user interface-pengolahan awal-pengangkutan-pengolahan akhir-pembuangan akhir) serta Dokumen Perencanaan Teknis.
a) Berdasarkan data hasil Studi EHRA 2016 Kabupaten Labuhanbatu Selatan Tahun 2016, bahwa saat ini masih terdapat sekitar 53,70% atau sebanyak 42.374 KK melakukan buang air besar sembarangan (BABS). Hal ini kemungkinan disebabkan ketiadaan akses untuk buang air besar dan/atau karena masih rendahnya kesadaran terhadap pola hidup bersih dan sehat pada sebagian warga Kabupaten Labuhanbatu Selatan. Dari sisi kultur dan geografis keberadaan sungai yang mengalir membelah Desa/Kel, dan keberadaan lingkungan perkebunan sekitar permukiman warga. Namun demikian, permasalahan ini harus dituntaskan hingga perilaku stop buang air besar sembarangan tercapai. Hal yang perlu dilakukan Pemerintah Kabupaten Labuhanbatu Selatan adalah kampanye dan sosialisasi PHBS, pemicuan, dan membangun sarana dan prasarana pada Desa dan Lingkungan yang belum tersedia tempat buang air besarnya sesuai dengan standart.
b) Tingkat kepemilikan jamban warga berdasarkan Studi EHRA di Kabupaten Labuhanbatu Selatan 2016 adalah 76,0%, atau setara 59.638 KK. Penduduk yang memiliki akses ke fasilitas pengolahan air limbah yang tidak memadai atau masih merupakan akses terhadap jamban yang tidak layak, yaitu tanpa leher angsa dan pengolahan tangki septik termasuk di didalamnya cubluk, dan pembuangan akhir dialirkan ke sungai atau saluran drainase terdekat atau saluran drainase menjadi sarana penerima air limbah domestik, yaitu sekitar 2,00%. Persentase tempat penyaluran akhir tinja di Kabupaten Labuhanbatu Selatan tahun 2016 yang menggunakan tangki septik sebesar 58,50% atau 45.905 KK. Untuk tanki septik suspek aman dan tidak aman di Kabupaten Labuhanbatu Selatan tahun 2016, dimana yang aman sebesar 40.30% dan tidak aman 59,80%.
c) Kabupaten Labuhanbatu Selatan belum mempunyai Masterplan/Rencana Induk Pengelolaan Air Limbah.
d) Praktek pengurasan tinja sangat rendah.
e) Kabupaten Labuhanbatu Selatan belum mempunyai sarana dan prasarana IPLT f) Minimnya sarana dan prasarana IPAL Komunal.
g) Kabupaten Labuhanbatu Selatan belum mempunyai sarana dan prasarana IPAL Kawasan ataupun IPAL Skala Kota.
2 Aspek Non Teknis: Pendanaan, kelembagaan, Peraturan dan Perundang-undangan, Peran serta Masyarakat dan Dunia Usaha/Swasta, Komunikasi.
a) Belum optimalnya koordinasi antar SKPD di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kabupaten Labuhanbatu Selatan.
b) Belum optimalnya Pemerintah Kabupaten kerjasama dengan pihak CSR/swasta dan masyarakat untuk pembangunan dan pengembangan pengelolaan air limbah domestik. Kemudian, kerjasama dengan dunia usaha, unsur-unsur media sejauh ini belum berkembang, masih kurangnya upaya-upaya promosi, publikasi dan sosialisasi yang betul-betul menyentuh pada peningkatan kepedulian masyarakat.
c) Kabupaten Labuhanbatu Selatan belum mempunyai Peraturan Daerah dalam Pengelolaan Air Limbah.
d) Belum adanya lembaga/organisasi/UPTD Pengolahan Air Limbah (PAL) Kabupaten Kabupaten Labuhanbatu Selatan dimana lembaga ini merupakan operator pengelolaan air limbah domestik termasuk IPAL Kawasan dan IPLT serta pembina KSM Sanitasi IPAL Komunal.
e) Masih rendahnya kesadaran masyarakat untuk menggunakan tank septik yang standar dan PHBS.
f) Masih rendahnya kesadaran swasta khususnya developer perumahan untuk membangun IPAL kawasan di lingkungan perumahan.
g) Terbatasnya kemampuan anggaran pemerintah Kabupaten Labuhanbatu Selatan menyebabkan upaya-upaya pengelolaan air limbah menjadi sangat terbatas termasuk didalamnya pembentukan organisasi khusus pengelola air limbah, pembangunan prasarana air limbah serta upaya-upaya promosi dan sosialisasi kepada masyarakat.
h) Sulitnya pemerintah Kabupaten dalam memperoleh lahan peruntukan pembangunan infrastruktur air limbah terutama yang IPAL skala Komunal atau Kawasan ataupun Terpusat Skala Kota.
i) Sulitnya masyarakat diajak berkontribusi di dalam pengelolaan air limbah, misalnya pengelolaan IPAL kawasan untuk restribusi untuk biaya operasional yang tidak sedikit.
II - 60 Sampah dapat didefinisikan sebagai sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau proses alam yang berbentuk padat. Sampah yang dikelola dibedakan menjadi 3 (tiga) jenis berdasarkan UU 18 tahun 2008 yaitu:
a) Sampah rumah tangga yang berasal dari kegiatan sehari-hari dalam rumah tangga (tidak termasuk tinja);
b) Sampah sejenis sampah rumah tangga berasal dari kawasan komersial, kawasan industri, kawasan khusus, fasilitas sosial, fasilitas umum, dan lain sebagainya;
c) Sampah spesifik meliputi sampah beracun, sampah akibat bencana, bongkaran bangunan, sampah yang tidak dapat diolah secara teknologi, dan sampah yang timbul secara periodik. Sampah spesifik harus dipisahkan dan diolah secara khusus.
d) Apabila belum ada penanganan sampah B3 maka perlu ada tempat penampungan khusus di TPA secara aman sesuai peraturan perundangan.
Sampah berasal dari sumber permukiman dan non permukiman. Sumber sampah non permukiman misalnya kantor, pasar, sekolah, jalan, hotel, restoran, dan industri (SNI, 1995). Diberlakukannya Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah mewajibkan pemerintah propinsi dan tingkat II harus menyediakan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sampah.
Kabupaten Labuhanbatu Selatan dalam pengeloaan TPA masih menggunakan sistem pembuangan terbuka (open dumping) yang berlokasi di Desa Asam Jawa Kecamatan Torgamba. Saat ini proses pengangkutan sampah di Kabupaten Labuhanbatu Selatan masih melayani 3 (tiga) Kecamatan, yakni Kecamatan Sungai Kanan, Kecamatan Torgamba dan Kecamatan Kotapinang.
Dalam konteks area berisiko sanitasi sektor persampahan, hal ini berdasarkan hasil pengolahan data dan analisis Instrumen Profil Sanitasi Kabupaten Labuhanbatu Selatan tahun 2016 dan kemudian dilakukan diskusi penyesuaian bersama Pokja Sanitasi Kabupaten Labuhanbatu Selatan menunjukkan bahwa kategori desa/kelurahan di Kabupaten Labuhanbatu Selatan berdasarkan besaran dampak risiko pengelolaan persampahan secara umum. Desa-desa yang masuk dalam kategori area berisiko tinggi ini umumnya desa-desa pada
kemiskinan yang tinggi relatif terhadap kelurahan lainnya di Kab. Labuhanbatu Selatan serta dilalui Sungai. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi lingkungan dan kemiskinan memberikan sumbangan kepada rentannya kelurahan tersebut masuk dalam area berisiko tinggi persampahan. Berikut ini akan uraikankan secara detail Area Berisiko Persampahan di Kabupaten Labuhanbatu Selatan tahun 2016.
Tabel 2.16. Area Berisiko Persampahan No. Area Berisiko Sanitasi Wilayah Prioritas
Kecamatan Desa/Kel.
1 Risiko Sangat Tinggi (kode 4) Kec. Sungai Kanan Kel. Langgapayung Kec. Torgamba 8) Sungai Meranti
9) Asam Jawa Kec. Kotapinang Simatahari
Sosopan Sisumut Kec. Silangkitang Rintis Kec. Kampung Rakyat Teluk Panji I
Kamp.Teluk Panji Tanjung Selamat
2 Risiko Tinggi (kode 3) Kec. Sungai Kanan Sabungan Hajoran Huta Godang Sampean Marsonja Kec. Torgamba Sungai Meranti
Torganda Kec. Kotapinang Mampang
Hadundung Perk. Normark Perk. Nagodang Kel. Kotapinang
II - 62 No. Area Berisiko Sanitasi
Kecamatan Desa/Kel.
Kec. Silangkitang Binanga Dua Mandalasena Ulumahuam Kec. Kampung Rakyat Kamp. Perlabian
Perk. Perlabian
3 Risiko Sedang (kode 2) Kec. Sungai Kanan Batang Nadenggan Ujung Gading Parimburan Kec. Torgamba Bukit Tujuh
Rasau Bangai
Teluk Rampah Bunut
Kec. Kotapinang Pasir Tuntung Perk. Sei Rumbia Kec. Silangkitang Aek Goti
Sukadame
Kec. Kampung Rakyat Perk. Batang Saponggol Kec. Silangkitang - Kec. Kampung Rakyat - Sumber: Instrumen Profil Sanitasi Kabupaten Labuhanbatu Selatan Tahun 2016
Selatan pada tabel 2.16 diatas dapat dijelaskan sebagai berikut:
Area Berisiko Sangat Tinggi dengan kode 4 (warna merah) yang paling terbanyak di Kecamatan Kotapinang dan Kec. Kampung Rakyat terdiri dari 3 (tiga) Desa/Kel., kemudian di Kecamatan Torgamba terdiri dari 2 (dua) Desa/Kel., Kecamatan Sungai Kanan dan Kec. Silangkitang terdiri dari 1 (satu) Desa/Kel. Dengan demikian jumlah total Area Berisiko Sangat Tinggi sebanyak 1 (sepuluh) Desa/Kel. di Kabupaten Labuhanbatu Selatan.
Area Berisiko Tinggi dengan kode 3 (warna kuning) yang paling terbanyak di Kecamatan Kampung Rakyat terdiri dari 9 (sembilan) Desa/Kel.
Kecamatan Torgamba terdiri dari 7 (tujuh) Desa/Kel., Kecamatan Torgamba, Kecamatan Kotapinang dan Sungai Kanan masing-masing terdiri dari 5 (lima) Desa/Kel., dan Kecamatan Silangkitang terdiri dari 3 (tiga) Desa/Kel. Sehingga jumlah total Area Berisiko Tinggi sebanyak 29 (dua puluh sembilan) Desa/Kel. di Kabupaten Labuhanbatu Selatan.
Area Berisiko Rendah dengan kode 2 (warna hijau) yang paling terbanyak di Kecamatan Torgamba terdiri dari 5 (lima) Desa/Kel., Kecamatan Sungai Kanan dan Kecamatan Kampung Rakyat masing-masing terdiri dari 3 (tiga) Desa/Kel., Kecamatan Kotapinang dan Kecamatan Silangkitang masing-masing terdiri dari 2 (dua) Desa/Kel. Sehingga jumlah total Area Berisiko Rendah sebanyak 15 (lima belas) Desa/Kel. di Kabupaten Labuhanbatu Selatan.
Area Berisiko Sangat Rendah dengan kode 1 (warna biru) tidak terdapat Area Berisiko Rendah di Kabupaten Labuhanbatu Selatan.
II - 64 Sumber: Pokja Sanitasi Kabupaten Labuhanbatu Selatan 2016
baik aspek teknis maupun non teknis dalam pengelolaan persampahan di Kabupaten Labuhanbatu Selatan.
Tabel 2.17. Permasalahan Mendesak Persampahan
No. Permasalahan Mendesak
1 Aspek Teknis: Pengembangan Sarana dan Prasarana (user interface-pengolahan awal-pengangkutan-pengolahan akhir-pembuangan akhir) serta Dokumen Perencanaan Teknis.
a) Berdasarkan data hasil Studi EHRA 2016 Kabupaten Labuhanbatu Selatan Tahun 2016, bahwa saat ini metode yang digunakan penduduk/warga dalam pengelolaan sampah banyak yang dibakar dengan persentase 74,8%, Dikumpulkan dan dibuang ke TPS sebesar 17,0% dan Dikumpulkan oleh kolektor informal yang mendaur ulang sebesar 0.1%.
b) Belum optimalnya frekuensi pengangkutan sampah, yaitu 100% tidak memadai berdasarkan Studi EHRA. Praktik pemilahan sampah oleh rumah tangga di Kabupaten Labuhanbatu Selatan tahun 2016 sebesar 8,8% dilakukan pemilahan sampah. Pengolahan Sampah Rumah Tangga berdasarkan Strata sebesar 9,5%
c) Jumlah sarana dan prasarana pengangkutan persampahan tidak memadai sehingga hal ini berdampak pada belum optimalnya pengangkutan sampah masyarakat.
d) Belum ada proses daur ulang sampah dengan metode TPS 3R sehingga belum signifikan mengurangi volume sampah penduduk.
e) Kabupaten Labuhanbatu Selatan belum mempunyai Rencana Induk/PTMP Pengelolaan Persampahan.
f) Pengelolaan Bank Sampah belum ada dan perlu dikembangkan.
g) TPA di Kabupaten Labuhanbatu Selatan belum mempunyai didesain dan dioperasikan menggunakan sanitary landfill dan saat ini masih open dumping.
2 Aspek Non Teknis: Pendanaan, kelembagaan, Peraturan dan Perundang-undangan, Peran serta Masyarakat dan Dunia Usaha/Swasta, Komunikasi
a) Masih kurang efektifnya komunikasi antar pemangku kepentingan di Kabupaten untuk membangun subsektor persampahan khususnya antar SKPD dan antara Pemkab. dengan legislatif. Hal ini dapat dicerminkan dengan relatif rendahnya alokasi anggaran dan pembiayaan persampahan. Kemudian, belum optimalnya kerjasama dengan CSR/Swasta serta masyarakat dalam pengelolaan sampah di Kabupaten.
b) Belum optimalnya Pemerintah Kabupaten kerjasama dengan pihak CSR/swasta dan masyarakat untuk pembangunan dan pengembangan pengelolaan air limbah domestik. Kemudian, kerjasama dengan dunia usaha, unsur-unsur media sejauh ini belum berkembang, masih kurangnya upaya-upaya promosi, publikasi dan sosialisasi yang betul-betul menyentuh pada peningkatan kepedulian masyarakat.
c) Kabupaten Labuhanbatu Selatan belum mempunyai Peraturan Daerah dalam
II - 66 Pengelolaan Persampahan. Perda yang ada saat ini dalam konteks retribusi persampahan.
d) Belum adanya lembaga/organisasi/UPTD Pengolahan Persampahan Kabupaten Kabupaten Labuhanbatu Selatan dimana Dinas masih berfungsi sebagai operator dan regulator.
e) SDM masih kurang memadai, baik dari kualitas maupun kuantitas
f) Terbatasnya kemampuan anggaran pemerintah Kabupaten Labuhanbatu Selatan menyebabkan upaya-upaya pengelolaan persampahan menjadi sangat terbatas termasuk didalamnya pembentukan organisasi khusus pengelola persampahan, pembangunan prasarana persampahan serta upaya-upaya promosi dan sosialisasi kepada masyarakat.
g) Adanya pergeseran gaya hidup masyarakat yang serba menggunakan plastik dan cenderung menggunakan barang-barang yang sekali pakai
h) Sulitnya masyarakat diajak berkontribusi di dalam pengelolaan persampahan, misalnya pemilahan persampahan.
c. Area Berisiko dan Permasalahan Drainase Perkotaan
Seiring dengan pertumbuhan penduduk perkotaan yang amat pesat di Indonesia dan pembangunan tempat tinggal penduduk yang tidak sesuai dengan Rencana Tata Ruang (RTR) seperti di daerah-daerah yang seharusnya jadi resapan/tempat parkir air (Retarding Pond) dan daerah-daerah bantaran sungai mengakibatkan peningkatan volume air yang masuk ke saluran drainase dan sungai sehingga terlampauinya kapasitas penyediaan prasarana dan sarana drainase perkotaan dan daya tampung sungai. Sebagai akibat dari permasalahan tersebut adalah terjadinya banjir atau genangan yang semakin meningkat.
Drainase yang dimaksud disini adalah drainase perkotaan yang didefinisikan sebagai drainase di wilayah kota yang berfungsi untuk mengelola dan mengendalikan air permukaan sehingga tidak mengganggu dan/atau merugikan masyarakat. Dalam upaya pengelolaan sistem drainase di banyak kota di Indonesia pada umumnya masih bersifat parsial, sehingga tidak menyelesaikan permasalahan banjir dan genangan secara tuntas. Pengelolaan drainase perkotaan harus dilaksanakan secara menyeluruh, mengacu kepada SIDLACOM dimulai dari tahap Survey, Investigation (investigasi), Design (perencanaan),
peningkatan kelembagaan, pembiayaan serta partisipasi masyarakat.
Peningkatan pemahaman mengenai sistem drainase kepada pihak yang terlibat baik pelaksana maupun masyarakat perlu dilakukan secara berkesinambungan.
Berikut ini akan uraikankan secara detail Area Berisiko Drainase Perkotaan di Kabupaten Labuhanbatu Selatan tahun 2016.
Tabel 2.17. Area Berisiko Drainase Perkotaan
No. Area Berisiko Sanitasi Wilayah Prioritas
Kecamatan Desa/Kel.
1 Risiko Sangat Tinggi (kode 4) Kec. Sungai Kanan Kel. Langgapayung Kec. Torgamba 10) Asam Jawa
Kec. Kotapinang Kel. Kotapinang Kec. Silangkitang -
Kec. Kampung Rakyat -
2 Risiko Tinggi (kode 3) Kec. Sungai Kanan -
Kec. Torgamba Sungai Meranti Aek Raso Aek Batu Kec. Kotapinang Hadundung
Sosopan Kec. Silangkitang Mandalasena
Ulumahuam Kec. Kampung Rakyat Teluk Panji I
Kamp. Teluk Panji Tanjung Medan Tanjung Selamat Tanjung Mulia
3 Risiko Sedang (kode 2) Kec. Sungai Kanan Batang Nadenggan Sabungan
Hajoran Ujung Gading Huta Godang Parimburan Sampean Parimburan
II - 68 No. Area Berisiko Sanitasi
Kecamatan Desa/Kel.
Marsonja Kec. Torgamba Bukit Tujuh
Torganda Torgamba Teluk Rampah Pinang Damai Bunut
Kec. Kotapinang Simatahari Mampang Perk. Normark Perk. Nagodang Perk. Sei Rumbia Sisumut
Kec. Silangkitang Aek Goti Rintis
Kec. Kampung Rakyat Kamp. Perlabian Perk. Perlabian Kec. Torgamba Rasau
Bangai Beringin Jaya Kec. Kotapinang Pasir Tuntung Kec. Silangkitang Binangan Dua
Sukadame
Kec. Kampung Rakyat Perk. Batang Saponggol
Sumber: Instrumen Profil Sanitasi Kabupaten Labuhanbatu Selatan Tahun 2016
Dari hasil Instrumen Profil Sanitasi Tahun 2016 Kabupaten Labuhanbatu Selatan pada tabel 2.17 diatas dapat dijelaskan sebagai berikut:
Kecamatan Sungai Kanan, Kecamatan Torgamba dan Kecamatan Kotapinang masing-masing terdiri dari 1 (satu) Desa/Kel., kemudian di Kecamatan Silangkitang dan Kecamatan Kampung Rakyat tidak ada area berisiko tinggi. Dengan demikian jumlah total Area Berisiko Sangat Tinggi sebanyak 3 (tiga) Desa/Kel. di Kabupaten Labuhanbatu Selatan.
Area Berisiko Tinggi dengan kode 3 (warna kuning) yang paling terbanyak di Kecamatan Kampung Rakyat terdiri dari 5 (lima) Desa/Kel. Kecamatan Torgamba terdiri dari 3 (tiga) Desa/Kel., Kecamatan Kotapinang dan Kec.
Silangkitang masing-masing terdiri dari 2 (dua) Desa/Kel., dan Kecamatan Sungai Kanan tidak ada. Sehingga jumlah total Area Berisiko Tinggi sebanyak 12 (dua belas) Desa/Kel. di Kabupaten Labuhanbatu Selatan.
Area Berisiko Rendah dengan kode 2 (warna hijau) yang paling terbanyak di Kecamatan Sungai Kanan dan Kecamatan Kampung Rakyat masing-masing terdiri dari 9 (sembilan) Desa/Kel., Kecamatan Kotapinang dan Kecamatan Torgamba masing-masing terdiri dari 6 (enam) Desa/Kel., Kecamatan Silangkitang terdiri dari 2 (dua) Desa/Kel. Sehingga jumlah total Area Berisiko Rendah sebanyak 32 (tiga puluh dua) Desa/Kel. di Kabupaten Labuhanbatu Selatan.
Area Berisiko Sangat Rendah dengan kode 1 (warna biru) terdapat di Kecamatan Torgamba terdiri dari 3 (tiga) Desa/Kel., Kecamatan Silangkitang terdiri dari 2 (dua) Desa/Kel., Kecamatan Kotapinang dan Kecamatan Kampung Rakyat masing-masing terdiri dari 1 (satu) Desa/Kel., dan Kecamatan Sungai Kanan tidak ada. Sehingga total Area Berisiko Rendah di Kabupaten Labuhanbatu Selatan adalah 7 (tujuh) Desa/Kel.
II - 70 Sumber: Pokja Sanitasi Kabupaten Labuhanbatu Selatan 2016
baik aspek teknis maupun non teknis dalam pengelolaan drainase perkotaan di Kabupaten Labuhanbatu Selatan.
Tabel 2.18. Permasalahan Mendesak Drainase Perkotaan
No. Permasalahan Mendesak
1 Aspek Teknis: Pengembangan Sarana dan Prasarana (user interface-pengolahan awal-pengangkutan-pengolahan akhir-pembuangan akhir) serta Dokumen Perencanaan Teknis.
a) Berdasarkan data hasil Studi EHRA 2016 Kabupaten Labuhanbatu Selatan Tahun 2016, bahwa saat ini masih terdapat genangan dengan persentase 26,8%.
Sementara persentase rumah tangga yang pernah mengalami banjir sekali dalam setahun adalah 10,3% dan tidak pernah mengalami banjir sebesar 80,0%.
b) Daerah rawan banjir dan genangan air menunjukkan bahwa di Kabupaten Labuhanbatu Selatan drainase belum berfungsi dengan baik pada beberapa lokasi permukiman. Genangan air ini merupakan gabungan atau resultan berbagai permasalahan terkait drainase perkotaan, seperti ketiadaan jaringan drainase lingkungan, belum terintegrasi dan terkoneksinya semua jaringan drainase perkotaan, tingginya sedimentasi, dan semakin sempitnya daerah resapan air, serta faktor lainnya.
c) Kabupaten Labuhanbatu Selatan belum mempunyai data base jaringan drainase skala Kabupaten.
d) Kabupaten Labuhanbatu Selatan belum mempunyai Masterplan/Rencana Induk Pengelolaan Drainase Perkotaan.
2 Aspek Non Teknis: Pendanaan, kelembagaan, Peraturan dan Perundang-undangan, Peran serta Masyarakat dan Dunia Usaha/Swasta, Komunikasi.
a) Penanganan permasalahan drainase perkotaan tersebut diperlukan perencanaan yang memadai, namun, saat ini di Kabupaten belum tersedia dokumen Masterplan Drainase dalam bentuk Perda ataupun Peraturan Bupati sebagai langkah awal dalam penanganan drainase perkotaan.
b) Kurang efektifnya komunikasi antar pemangku kepentingan di Kabupaten Deli Serdang untuk membangun sub sektor drainase perkotaan yang berdampak pada sangat rendahnya alokasi anggaran untuk penanganan drainase perkotaan, serta belum adanya strategi untuk melibatkan swasta dan masyarakat dalam
b) Kurang efektifnya komunikasi antar pemangku kepentingan di Kabupaten Deli Serdang untuk membangun sub sektor drainase perkotaan yang berdampak pada sangat rendahnya alokasi anggaran untuk penanganan drainase perkotaan, serta belum adanya strategi untuk melibatkan swasta dan masyarakat dalam