PROFIL SANITASI SAAT INI
2.1 Gambaran Wilayah
Gambaran umum Kabupaten Labuhanbatu Selatan yang dimaksud adalah berupa gambaran mengenai karakteristik umum fisik wilayah. Karakteristik umum fisik wilayah adalah berupa gambaran fisik wilayah Kabupaten Labuhanbatu Selatan, terutama yang terjadi secara ilmiah dan telah berlangsung dalam jangka waktu yang lama, seperti ; letak geografis, topografi, hidrologi, klimatologi, geologi dan jenis tanah, serta pola penggunaan tanah. Uraian masing-masing dari kondisi fisik tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:
2.1.1 Letak Geografis dan Batas Administrasi
Kabupaten Labuhanbatu Selatan merupakan salah satu kabupaten yang baru terbentuk pada tahun 2008 yang merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Labuhanbatu sesuai dengan Undang-undang RI Nomor 22 Tahun 2008 tentang Pembentukan Kabupaten Labuhanbatu Selatan di Provinsi Sumatera Utara.
Ibukota Kabupaten Labuhanbatu Selatan adalah Kotapinang. Kabupaten Labuhanbatu Selatan berbatasan langsung dengan Provinsi Riau, sehingga wilayah ini memiliki potensi ruang karena dilalui oleh Jalur Lintas Timur Sumatera, yaitu jalur mulai dari Batas Aceh - Tanjung Pura - Binjai - Medan - Lubuk Pakam - Sei Rampah - Tebing Tinggi - Indrapura - Limapuluh - Sei Bejangkar - Kisaran - Simpang Kawat - Pulau Rakyat - Aek Kanopan - Rantauparapat - Kotapinang - Batas Riau.
Secara geografis Kabupaten Labuhanbatu Selatan terletak diantara koordinat 10 26’ 00’’ - 20 12’ 55’’ Lintang Utara dan 990 40’ 00’’ - 1000 26’ 00’’ Bujur Timur.
Kabupaten Labuhanbatu Selatan memiliki luas wilayah sekitar 3.116,00 Km2 (311.600 Ha) yang terdiri dari 5 Kecamatan dan 54 Desa/Kelurahan. Kecamatan yang memiliki wilayah paling luas adalah Kecamatan Torgamba, yaitu seluas 113.600 Ha atau sekitar 36,47% dari luas total Kabupaten Labuhanbatu Selatan.
Sedangkan kecamatan yang memiliki wilayah paling kecil adalah Kecamatan
II - 2 Kabupaten Labuhanbatu Selatan.
Secara administratif Kabupaten Labuhanbatu Selatan berbatasan dengan beberapa daerah, yaitu:
Sebelah Utara : berbatasan dengan Kabupaten Labuhanbatu;
Sebelah Selatan : berbatasan dengan Kabupaten Rokan Hilir Provinsi Riau, Kabupaten Padang Lawas Utara;
Sebelah Barat : berbatasan dengan Kabupaten Padang Lawas Utara;
Sebelah Timur : berbatasan dengan Kabupaten Rokan Hilir Provinsi Riau;
Untuk lebih jelasnya mengenai batas wilayah administratif Kabupaten Labuhanbatu Selatan dapat dilihat pada Gambar 2.1 dan Tabel 2.1 berikut:
Sumber: Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Labuhanbatu Selatan Tahun 2010-2030
II - 4 Nama
Kecamatan
Jumlah Desa/Kelura
han
Luas Wilayah
Administrasi Terbangun
(Ha) (%) thd total
administrasi (Ha) (%) thd luas administrasi
Sungai Kanan 9 48.435 15,54 3.462 7,15
Torgamba 14 113.640 36,47 6.247 5,50
Kotapinang 10 48.240 15,48 2.786 5,78
Silangkitang 6 30.370 9,75 2.262 7,45
Kampung Rakyat 15 70.915 22,76 4.240 5,98
TOTAL 54 311.600 100,00 18.997 31,85
Sumber: Pokja Santasi Kabupaten Labuhanbatu Selatan 2016
2.1.2 Topografi dan Kemiringan Lereng
Secara topografis Kabupaten Labuhanbatu Selatan berada pada ketinggian 100 s/d 500 M diatas permukaan laut. Ketinggian antara 100 – 500 M diatas permukaan laut hanya terdapat di Kecamatan Sungai Kanan, tepatnya pada bagian barat yang berbatasan dengan Kabupaten Padang Lawas Utara. Lihat Gambar 2.2.
Berdasarkan kemiringan lerengnya, pada umumnya Kabupaten Labuhanbatu Selatan berada pada kawasan yang realitif datar dengan kemiringan antara 0 - 8%
hingga landai dengan kemiringan 8 - 15%. Wilayah dengan kontur bergelombang hingga curam dengan kemiringan lereng antara 15 - 25% terdapat di bagian barat Kecamatan Sungai Kanan yang berbatasan dengan Kabupaten Padang Lawas Utara.
Sumber: Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Labuhanbatu Selatan Tahun 2010-2030
II - 6 Jenis batuan yang terdapat di Kabupaten Labuhanbatu Selatan antara lain singkapan batuan berumur Pratersier yang tampak di bagian Barat Kecamatan Sungai Kanan dan Kecamatan Silangkitang (Pul), kemudian diikuti oleh kelompok Kampar yang berumur Tersier di Kecamatan Sungai Kanan, Silangkitang dan sebagian Kecamatan Kotapinang, dan dikuti dengan selaras (Tmt) di Selatan Kecamatan Sungai Kanan dan Silangkitang kemudian diikuti dengan tidak selaras (Tup) yang nampak pada Kecamatan Silangkitang dan Kotapinang. Penyebaran satuan batuan berumur Quarter di endapkan dengan tidak selaras (Qpmi) yang menyebar disecara luas di Kecamatan Torgamba dan bagian Selatan Kecamatan Kampung Rakyat dan dilanjutkan denga selaran (Qp) dibagian Utara Kecamatan Kampung Rakyat.
Jenis-jenis tanah yang terdapat di Kabupaten Labuhanbatu Selatan dapat dibedakan atas 5 (lima) jenis, yaitu: Podsolik kuning, Organosol, Latosol/Podsolik,/Regosol, Hidromorfik Kelabu dan Gley humus Regosol. Jenis tanah yang terbesar adalah jenis tanah Podsolik Kuning yang terdapat sekitar 200.641,60 Ha yang tersebar di semua kecamatan. Kemudian jenis tanah Hidromorfik Kelabu dan Gley Humus Regosol yang terdapat seluas 57.980,20 Ha yang terdapat di Kecamatan Torgamba dan Kecamatan Kotapinang. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel I.2 berikut:
Tabel 2.2. Jenis Tanah di Kabupaten Labuhanbatu Selatan
No. Kecamatan Podsolik
Kuning Organosol Litosol/
Podsolik
Regosol Regosol
Hidromorphik Kelabu Gley
Humus Regosol
Jumlah
1 Sungai Kanan 40.453,20 - 7.981,80 - - 48.435,00
2 Torgamba 102.640,90 - - - 10.999,10 113.640,00
3 Kotapinang 33.851,90 - - 1.864,30 12.523,80 48.240,00
4 Silangkitang 15.280,60 - - 15.089,40 - 30.370,00
5 Kampung Rakyat 8.415,00 28.042,70 - - 34.457,30 70.915,00
Jumlah 200.641,60 28.042,70 7.981,80 16.953,70 57.980,20 311.600,00 Sumber: Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Labuhanbatu Selatan Tahun 2010-2030
Kabupaten Labuhanbatu Selatan memiliki iklim tropis dimana kondisi iklimnya hampir sama dengan Kabupaten Labuhanbatu yang merupakan kabupaten induk.
Daerah ini memiliki dua musim, yaitu musim kemarau dan musim hujan. Musim kemarau dan musim hujan biasanya ditandai dengan sedikit banyaknya hari hujan dan volume curah hujan pada bulan terjadinya musim. Selama tahun 2009, rata- rata hari hujan di Kabupaten Labuhanbatu Selatan sebanyak 13,25 hari perbulan dengan rata-rata curah hujan 280 MM perbulan.
2.1.5 Hidrologi
Kabupaten Labuhanbatu Selatan dilewati oleh sungai besar Barumun yang melewati beberapa kecamatan, seperti Kecamatan Sungai Kanan, Kotapinang dan Kampung Rakyat. Sungai Barumun atau DAS Barumun termasuk kedalam Wilayah Sungai (WS) Kualuh - Barumun yang merupakan Wilayah Sungai (WS) Lintas Kabupaten (Kewenangan Provinsi). Selain sungai Barumun terdapat sungai-sungai kecil lainnya seperti sungai Kanan, Aek Raso, Aek Kabaro, Aek Tasik dan sebagainya.
2.1.6 Pola Penggunaan Lahan
Penggunaan lahan di Kabupaten Labuhanbatu Selatan terdiri atas bermacam- macam pemanfaatan lahan, terutama untuk lahan perkebunan yang terdiri perkebunan Kelapa Sawit dan perkebunan Karet serta lahan pertanian. Selain itu penggunaan Lahan juga digunakan untuk Bangunan Perumahan, Perkantoran, Industri, Pendidikan, Jalan, dan lain-lain. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 2.3. berikut:
Tabel 2.3. Penggunaan Lahan per Kecamatan di Kabupaten Labuhanbatu Selatan Tahun 2014
No Penggunaan Lahan Luas ( Ha ) Persentase ( % ) 1
2 3 4 5 6
Kehutanan Perkebunan Sawit Perkebunan Karet Tanaman pangan
Bangunan dan Fasilitas Umum Lainnya
62.607,57 162.549 30.777 3.549 18.997 33.120
20.09 52.17 9.88 1.14 6.10 10.33
Jumlah 311.600 100
Sumber: Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Labuhanbatu Selatan Tahun 2010-2030
II - 8 Pada tahun 2015 jumlah penduduk Kabupaten Labuhanbatu Selatan berjumlah 313.884 jiwa. Jumlah penduduk terbanyak terdapat di Kecamatan Torgamba, yaitu 112.251 jiwa, sedangkan jumlah penduduk terkecil terdapat di Kecamatan Silangkitang, yaitu 31.192 jiwa. Jika dibandingkan dengan luas wilayah, maka rata- rata pertumbuhan penduduk di Kabupaten Labuhanbatu Selatan telah mencapai 2.60%. Pertumbuhan penduduk paling tinggi terdapat di Kecamatan Sungai Kanan, yaitu 3.84%, dan Pertumbuhan penduduk paling rendah terdapat di Kecamatan Kampung Rakyat, yaitu 2.23%. Lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel dan gambar berikut:
Pada tabel 2.4 dibawah dapat diketahui jumlah keluarga wilayah perdesaan saat ini dan proyeksi 5 tahun mendatang di setiap kecamatan, dimana jumlah keluarga perdesaan saat ini (tahun 2015) yang terbesar ada di Kecamatan Torgamba, yaitu 23.328 KK dan terkecil ada di Kecamatan Silangkitang, yaitu 7.627 KK. Untuk proyeksi penduduk 5 (lima) tahun mendatang (tahun 2020), jumlah keluarga perdesaan yang terbesar ada di kecamatan Kotapinang, yaitu 1.117.271 KK dan terkecil ada di Kecamatan Dawarblandong, yaitu 352,416 KK.
Tahun 2016 – 2020
Nama Kecamatan
Jumlah Penduduk
Wilayah Perkotaan Wilayah Perdesaan
Tahun Tahun
2015 2016 2017 2018 2019 2020 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Jiwa KK Jiwa KK Jiwa KK Jiwa KK Jiwa KK Jiwa KK Jiwa KK Jiwa KK Jiwa KK Jiwa KK Jiwa KK Jiwa KK
Sungai Kanan - - - - - - - - - - - - 51.944 12.986 56.343 14.086 66.289 16.572 84.595 21.149 117.099 29.275 175.817 43.954
Torgamba - - - - - - - - - - - - 112.251 28.063 113.470 28.368 115.948 28.987 119.767 29.942 125.056 31.264 131.996 32.999
Kotapinang - - - - - - - - - - - - 60.228 15.057 60.946 15.237 62.409 15.602 64.669 16.167 67.811 16.953 71.953 17.988
Silangkitang - - - - - - - - - - - - 31.192 7.798 32.045 8.011 33.821 8.455 36.671 9.168 40.849 10.212 46.746 11.687
Kampung
Rakyat - - - - - - - - - - - - 58.269 14.567 60.560 15.140 65.417 16.354 73.442 18.360 85.694 21.423 103.921 25.980
Nama Kecamatan
Jumlah Penduduk Total Tahun
2015 2016 2017 2018 2019 2020
Jiwa KK Jiwa KK Jiwa KK Jiwa KK Jiwa KK Jiwa KK
Sungai Kanan 51.944 12.986 56.343 14.086 66.289 16.572 84.595 21.149 117.099 29.275 175.817 43.954 Torgamba 112.251 28.063 113.470 28.368 115.948 28.987 119.767 29.942 125.056 31.264 131.996 32.999 Kotapinang 60.228 15.057 60.946 15.237 62.409 15.602 64.669 16.167 67.811 16.953 71.953 17.988 Silangkitang 31.192 7.798 32.045 8.011 33.821 8.455 36.671 9.168 40.849 10.212 46.746 11.687 Kampung Rakyat 58.269 14.567 60.560 15.140 65.417 16.354 73.442 18.360 85.694 21.423 103.921 25.980
Sumber: Kabupaten Dalam Angka 2016, diolah
II - 10 rata-rata sekitar 0,90% per tahun. Kecamatan yang paling padat adalah Kecamatan Sungai Kanan, dengan kepadatan populasi 27 jiwa/ha. Sedangkan kecamatan dengan kepadatan penduduk terendah adalah Kecamatan Kampung Rakyat, yaitu sekitar 16 jiwa/ha.
Untuk lebih lengkapnya mengenai tingkat pertumbuhan dan kepadatan penduduk Kabupaten Labuhanbatu Selatan dapat dilihat dalam tabel 2.5 berikut.
Tabel 2.5. Tingkat Pertumbuhan Penduduk dan Kepadatan saat ini dan proyeksi 5 tahun
Nama Kecamatan
Tingkat Pertumbuhan (%) Kepadatan Penduduk (orang/Ha)
Tahun Tahun
2015 2016 2017 2018 2019 2020 2015 2016 2017 2018 2019 2020
Sungai Kanan 0.17 0.18 0.21 0.27 0.37 0.56 15.00 16.27 19.15 24.44 33.82 50.78
Torgamba 0.36 0.36 0.37 0.38 0.40 0.42 17.97 18.16 18.56 19.17 20.02 21.13
Kotapinang 0.19 0.19 0.20 0.21 0.22 0.23 21.61 21.87 22.40 23.21 24.34 25.82
Silangkitang 0.10 0.10 0.11 0.12 0.13 0.15 13.79 14.17 14.95 16.21 18.06 20.67
Kampung Rakyat 0.19 0.19 0.21 0.23 0.27 0.33 13.74 14.28 15.43 17.32 20.21 24.51
Sumber: Pokja Sanitasi Kab. Labuhanbatu Selatan 2016, diolah
2014 sebesar 8.216 KK yang tersebar di tiap kecamatan. Kategori dan parameter keluarga miskin ini ditinjau dari faktor ekonomi, yaitu mata pencaharian keluarga, pendapatan keluarga, dan tingkat pemenuhan kebutuhan keluarga yang tercantum dalam pra keluarga sejahtera dan sejahtera 1 (satu) serta 2 (dua). Kecamatan dengan keluarga miskin terbanyak adalah Kecamatan Kampung Rakyat, yaitu sebanyak 2.242 KK, sedangkan kecamatan dengan keluarga miskin terkecil adalah di Kecamatan Sungai Kanan, yaitu sebanyak 1.088 KK. Adapun jumlah keluarga miskin tiap Kecamatan di Kabupaten Labuhanbatu Selatan dapat dilihat pada tabel 2.6 berikut.
Tabel 2.6. Jumlah Penduduk Miskin Per Kecamatan
Nama Kecamatan Jumlah Keluarga Miskin (KK)
Sungai Kanan 1.088
Torgamba 2.171
Kotapinang 1.274
Silangkitang 1.441
Kampung Rakyat 2.242
Total 8.216
Sumber: BPM Pemdes Kab. Labuhanbatu Selatan 2015
2.1.8 Arahan dan Kebijakan Tata Ruang Wilayah (RTRW)
2.1.8.1 Arahan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Labuhanbatu Selatan
Adapun tujuan penataan ruang Kabupaten Labuhanbatu Selatan merupakan arahan perwujudan ruang wilayah kabupaten yang ingin dicapai pada masa yang akan datang yaitu ”Mewujudkan Kabupaten Labuhanbatu Selatan Yang Aman, Nyaman, Produktif Dan Berkelanjutan Yang Berbasis Perkebunan Dengan Memanfaatkan Posisi Strategis Yang Berada Pada Jalur Lintas Timur Dan Penghubung Jalur Lintas Barat Sumatera”
II - 12
sebagai dasar untuk menformulasikan kebijakan dan strategi penataan ruang wilayah kabupaten;
memberikan arah bagi penyusunan indikasi program utama dalam RTRW kabupaten; dan;
sebagai dasar dalam penetapan arahan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah kabupaten.
Tujuan penataan ruang wilayah kabupaten dirumuskan berdasarkan:
visi dan misi pembangunan wilayah kabupaten;
karakteristik wilayah kabupaten;
isu strategis; dan
kondisi objektif yang diinginkan.
Tujuan penataan ruang wilayah kabupaten dirumuskan dengan kriteria:
tidak bertentangan dengan tujuan penataan ruang wilayah provinsi dan nasional;
jelas dan dapat tercapai sesuai jangka waktu perencanaan; dan
tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan.
2.1.8.2 Kebijakan dan Strategi Penataan Ruang Kabupaten Labuhanbatu Selatan
Berdasarkan tujuan penataan ruang yang ingin dicapai, maka kebijakan penataan ruang Kabupaten Labuhanbatu Selatan beserta strategi penataan ruang yang mendukung kebijakan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Membangun prasarana dan sarana wilayah yang berkualitas, adil dan merata.
Kebijakan tersebut diwujudkan melalui strategi sebagai berikut:
a. Pembangunan prasarana dan sarana transportasi yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan secara signifikan dan berimbang;
proporsional dan memadai sesuai kebutuhan masyarakat pada setiap pusat permukiman.
c. Peningkatan prasarana dan sarana perhubungan dari pusat produksi komoditi unggulan menuju pusat pemasaran;
d. Penyediaan sarana dan prasarana pendukung produksi untuk menjamin kestabilan produksi komoditi unggulan;
e. Pembangunan dan pemerataan fasilitas pelayanan sosial ekonomi (kesehatan, pendidikan, air bersih, pemerintahan dan lain-lain).
2. Mengembangkan berbagai bentuk pemanfaatan sumber daya alam yang berbasis pertanian, perkebunan, dan kehutanan guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Kebijakan tersebut diwujudkan melalui strategi sebagai berikut:
a. peningkatan produktivitas hasil perkebunan, pertanian, perikanan, perternakan dan kehutanan melalui intensifikasi lahan;
b. pemanfaatan lahan non produktif secara lebih bermakna bagi peningkatan kualitas lingkungan dan peningkatan pendapatan masyarakat;
c. peningkatan teknologi pertanian, termasuk perkebunan, perikanan, peternakan dan kehutanan sehingga terjadi peningkatan produksi dengan kualitas yang lebih baik dan bernilai ekonomi tinggi;
d. penguatan pemasaran hasil pertanian melalui peningkatan sumber daya manusia dan kelembagaan serta fasilitasi sertifikasi yang dibutuhkan;
e. pengembangan industri pengolahan hasil kegiatan agro sesuai komoditas unggulan kawasan dan kebutuhan pasar (agroindustri dan agribisnis); dan
f. peningkatan kegiatan pariwisata melalui peningkatan prasarana dan sarana pendukung, pengelolaan objek wisata yang lebih profesional serta pemasaran yang lebih agresif dan efektif.
II - 14 Kebijakan tersebut diwujudkan melalui strategi sebagai berikut:
a. penetapan tata batas kawasan lindung dan budidaya untuk memberikan kepastian rencana pemanfaatan ruang dan investasi;
b. penyusunan dan pelaksanaan program rehabilitasi lingkungan yang berbasis masyarakat;
c. peningkatan pengelolaan lingkungan hidup dan pengendalian kerusakan dan pencemaran lingkungan;
d. peningkatan kapasitas masyarakat dalam pengelolaan sumber daya keanekaragaman hayati;
e. pengembangan kegiatan konservasi yang bernilai lingkungan dan sekaligus juga bernilai sosial-ekonomi, seperti hutan kemasyarakatan, dan hutan tanaman rakyat;
Tabel 2.7. Arahan RTRW Kabupaten Labuhanbatu Selatan Arahan Pola Ruang Arahan Struktur Ruang Rencana pola ruang wilayah kabupaten
merupakan rencana distribusi peruntukan ruang dalam wilayah kabupaten yang meliputi rencana peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan rencana peruntukan ruang untuk fungsi budidaya. Pembagian Kawasan Lindung di Kabupaten Labuhanbatu Selatan, meliputi:
a) kawasan hutan lindung;
b) kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya, meliputi:
kawasan bergambut dan kawasan resapan air;
c) kawasan perlindungan setempat, meliputi:
sempadan pantai, sempadan sungai, kawasan sekitar danau atau waduk, kawasan sekitar mata air, serta kawasan lindung spiritual dan kearifan lokal lainnya;
d) kawasan suaka alam, pelestarian alam dan cagar budaya meliputi: kawasan suaka alam, kawasan suaka alam laut dan perairan lainnya, suaka margasatwa dan suaka margasatwa laut, cagar alam dan cagar alam laut, kawasan pantai berhutan bakau.
Rencana Struktur Ruang Wilayah Kabupaten Labuhanbatu Selatan merupakan kerangka tata ruang wilayah kabupaten yang tersusun atas konstelasi pusat-pusat kegiatan yang berhierarki satu sama lain yang dihubungkan oleh sistem jaringan prasarana wilayah kabupaten. Sistem jaringan prasarana wilayah kabupaten meliputi sistem prasarana transportasi, energi, telekomunikasi, dan sumber daya air yang mengintegrasikannya dan memberikan layanan bagi fungsi kegiatan yang ada di wilayah kabupaten.
1. Rencana Sistem Pusat Kegiatan Rencana sistem pusat kegiatan di Kabupaten Labuhanbatu Selatan meliputi pusat-pusat kegiatan di wilayah Kabupaten Labuhanbatu Selatan yang merupakan simpul pelayanan sosial ekonomi masyarakat dan terdiri atas kawasan perkotaan dan kawasan pedesaan.
Sistem Pusat Kegiatan di wilayah Kabupaten Labuhanbatu Selatan dapat berupa:
1. Kawasan Hutan Lindung
Hal penetapan kawasan hutan lindung di Kabupaten Labuhanbatu Selatan acuan yang digunakan adalah SK Menteri Kehutanan Nomor: 579/Menhut-II/2014 tentang Kawasan Hutan di Provinsi Sumatera Utara.
Berdasarkan SK Menteri Kehutanan Nomor:
579/Menhut-II/2014 luas kawasan Hutan Lindung di Kabupaten Labuhanbatu Selatan adalah sebesar 6.736 Ha di Kecamatan Sungai Kanan.
Kawasan yang Memberikan Perlindungan terhadap Kawasan Bawahannya
Kawasan yang potensial bagi konservasi dan resapan air di Kabupaten Labuhanbatu Selatan meliputi luas seluruh kawasan hutan menurut SK Menhut Nomor: 579/Menhut-II/2014 tentang Kawasan Hutan seluas ± 42.997 Ha yang berada di Kecamatan Silangkitang, Kecamatan Torgamba, dan Kecamatan Kotapinang.
Kawasan Perlindungan Setempat a. Sempadan Sungai
Di Kabupaten Labuhanbatu Selatan banyak terdapat sungai-sungai yang mengalir dari arah Selatan menuju Utara dan bersatu menjadi satu di Sungai Barumun atau sering disebut dengan DAS Barumun. Dengan demikian maka berdasarkan hasil kajian potensi sungai dan pertimbangan kriteria diatas, maka kawasan sempadan sungai yang ditetapkan adalah: Sungai Barumun.
Selain sungai Barumun terdapat sungai- sungai kecil lainnya seperti Sungai Kanan, Aek Raso, Aek Kabaro, Aek Tasik dan sebagainya.
b. Kawasan Sekitar Danau/
Bendungan/Waduk
Pemanfaatan ruang kawasan lindung sempadan danau yang ditetapkan di Kabupaten Labuhanbatu Selatan adalah Danau Pagaran Padang yang terdapat di Kecamatan Torgamba.
a. Pusat Kegiatan Nasional (PKN) yang berada di wilayah Kabupaten Labuhanbatu Selatan;
b. Pusat Kegiatan Wilayah yang berada di wilayah Kabupaten Labuhanbatu Selatan;
c. Pusat Kegiatan Lokal yang berada di wilayah Kabupaten Labuhanbatu Selatan;
d. PKSN yang berada di wilayah Kabupaten Labuhanbatu Selatan; dan e. Pusat-pusat lain di dalam wilayah
Kabupaten Labuhanbatu Selatan yang wewenang penentuannya ada pada pemerintah Kabupaten Labuhanbatu Selatan, yaitu:
Pusat Pelayanan Kawasan (PPK) yang merupakan kawasan perkotaan yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala kecamatan atau beberapa desa;
dan
Pusat Pelayanan Lingkungan (PPL) yang merupakan pusat permukiman yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala antar desa.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN), maka di Kabupaten Labuhanbatu Selatan tidak terdapat kawasan yang ditetapkan sebagai Pusat Kegiatan Nasional (PKN) dan Pusat Kegiatan Wilayah (PKW).
Memperhatikan perkembangan kawasan perkotaan di Kabupaten Labuhanbatu Selatan yang mempunyai potensi perkembangan yang cukup pesat serta memperhatikan arahan struktur ruang provinsi sebagaimana tertuang dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Sumatera Utara tahun 2010-2030, maka kawasan perkotaan di Kabupaten Labuhanbatu Selatan yang ditetapkan sebagai Pusat Kegiatan Lokal (PKL) adalah
II - 16 RTH Kawasan Perkotaan
Berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: 05/PRT/M/2008 tentang Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan, proporsi RTH harus mencapai minimal 30% dari total luas kawasan perkotaan di Kabupaten Labuhanbatu Selatan. RTH kawasan perkotaan di Kabupaten Labuhanbatu Selatan diperkirakan seluas 2.478 Ha, terdiri dari RTH publik dan privat di kawasan perkotaan Kotapinang, Cikampak, Langgapayung, Aek Goti dan Tanjung Medan.
Kawasan Suaka Alam, Pelestarian Alam dan Cagar Budaya
Kawasan suaka alam terdiri dari cagar alam, suaka margasatwa, hutan wisata, daerah perlindungan satwa dan daerah pengungsian satwa. Berdasarkan kriteria tersebut maka kawasan di Kabupaten Labuhanbatu Selatan yang dapat dikategorikan sebagai kawasan Suaka Alam adalah: Taman Wisata Holiday Resort.
Taman Wisata Holiday Resort ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 695/KPTS-II/1990 Tanggal 27 Nopember 1990 terdapat di Desa Aek Raso Kecamatan Torgamba. Berdasarkan PP No. 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN), Taman Wisata Holiday Resort ditetapkan sebagai Kawasan Lindung Nasional. Taman Wisata Holiday Resort ditetapkan sebagai Kawasan Suaka Alam karena mempunyai fungsi sebagai: tempat perlindungan satwa, yaitu sebagai Pusat Latihan Gajah (PLG) seluas 2.100,42 ha di Kecamatan Torgamba. Selain itu kawasan ini juga berfungsi sebagai tempat perlindungan jenis fauna seperti: Perkutut (Geopelia striata), Murai Batu (Copsychus delivutia), Jalak (Acridoteres fuscus) dan lain-lain. Jenis mamalia yang ada antara lain ; Rusa (Cervus timorensis), Babi Hutan (Sus Vittatus), Kijang (Muntiacus muntjak), Monyet (Macaca
Kotapinang. Kotapinang ditetapkan sebagai Ibukota Kabupaten Labuhanbatu Selatan. Dengan statusnya sebagai Ibukota Kabupaten Labuhanbatu Selatan maka fungsi dan peranan dari Kotapinang juga akan semakin besar, sehingga fungsi utama yang akan dikembangkan pada kawasan perkotaan Kotapinang adalah:
Pusat pemerintahan kabupaten;
Pusat perdagangan dan jasa;
Industri pengelolaan dan pengolahan pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan;
Pusat permukiman;
Pusat pelayanan pendidikan, kesehatan dan pariwisata.
Pusat-pusat kegiatan di Kabupaten Labuhanbatu Selatan yang telah menunjukkan ciri-ciri perkotaan adalah Ibukota kecamatan yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala kecamatan atau beberapa desa. Dengan demikian maka pusat-pusat kegiatan di Kabupaten Labuhanbatu Selatan yang ditetapkan sebagai Pusat Pelayanan Kawasan (PPK), adalah:
Langga Payung, Kecamatan Sungai Kanan;
Cikampak, Kecamatan Torgamba;
Aek Goti , Kecamatan Silangkitang; dan
Tanjung Medan, Kecamatan Kampung Rakyat.
Desa-desa yang mempunyai potensi besar untuk berkembang dan telah mempunyai sarana dan prasarana lingkungan yang memadai dan dapat melayani beberapa desa disekitarnya akan ditetapkan sebagai Pusat Pelayanan Lingkungan (PPL), yaitu :
Desa Simatahari, Kecamatan Kotapinang;
Desa Teluk Panji, Kecamatan Kampung Rakyat;
Desa Pinang Damai, Kecamatan
fascicularis), Musang (Viveridae), Gajah (Elephas maximus) dan sebagainya.
Taman Wisata Alam dan Buatan
Kawasan di Kabupaten Labuhanbatu Selatan yang dapat dikembangkan sebagai Taman Wisata Alam adalah; Taman Wisata Alam Holiday Resort di Kecamatan Torgamba.
Dengan demikian maka kawasan Taman Wisata Alam Holiday Resort juga termasuk sebagai Kawasan Suaka Alam. Atau dengan kata lain kawasan suaka alam dan taman wisata alam berada dalam satu kawasan, yaitu; Taman Wisata Alam Holiday Resort, serta pengembangan di taman wisata Pemandian Alam Pandayangan Indah di Kec. Silangkitang, Kawasan Wisata Danau Pagaran Padang di Kec.
Torgamba, Pantai Lumpatan dan Pantai Keceper di Kec. Sungai Kanan dan Danau Biramata di Kec. Kotapinang. Taman wisata buatan terdapat di Taman Wisata Water Park dan Bumi Perkemahan di Kecamatan Torgamba, Taman Wisata Simatahari Indah dan Taman Wisata Sandrina di Kecamatan Sungai Kanan.
Kawasan Cagar Budaya dan Ilmu Pengetahuan
Kawasan Cagar Budaya dan Ilmu Pengetahuan di Kabupaten Labuhanbatu Selatan yang dapat dikembangkan adalah: Situs Budaya peninggalan sejarah Kesultanan Kabupaten Labuhanbatu Selatan, yaitu Istana Kota Bahran di Kotapinang.
Kawasan Rawan Gerakan Tanah
Kawasan rawan gerakan tanah atau tanah longsor di Kabupaten Labuhanbatu Selatan jarang terjadi karena disebabkan oleh kondisi topografi yang relatif datar. Namun dibeberapa tempat seperti pada kawasan Selatan kabupaten memiliki lereng yang landai sehingga berpotensi terjadinya gerakan tanah.
Gerakan tanah yang terdapat di Kabupaten Labuhanbatu Selatan dapat dikatagorikan
Torgamba;
Desa Hutagodang, Kecamatan Sungai Kanan, dan
Desa Mandalasena, Kecamatan Silangkitang.
Pada desa-desa tersebut diatas saat ini telah tumbuh kegiatan perekonomian desa yang dapat melayani desa-desa sekitarnya sehingga potensial untuk dikembangkan menjadi Pusat Pelayanan Lingkungan sekaligus sebagai sub pusat pelayanan kawasan, agar terjadinya pemerataan pada setiap kecamatan.
2. Rencana Sistem Jaringan Prasarana Wilayah
Jaringan jalan di Wilayah Kabupaten Labuhanbatu Selatan perlu ditingkatkan dan direncanakan untuk pembukaan jalan baru yang bertujuan untuk menghindari kemacetan pada jam-jam sibuk, pembukaan jalan baru berupa jalan lingkar luar (outer ringroad) dapat dilakukan di Kecamatan Kotapinang, mengingat Kotapinang merupakan ibukota kabupaten dan kondisi saat ini kemacetan kerap terjadi maka akan dibangun jaringan jalan baru yang tidak melewati pusat kota. Dalam peningkatan jaringan jalan salah satu dasar pemikirannya adalah meminimalkan pencampuran antara pergerakan lokal dengan regional untuk memenuhi kebutuhan pelayanan dan mendukung perkembangan wilayah. Rencana peningkatan dan pembangunan jaringan jalan baru di Kabupaten Labuhanbatu Selatan dapat diuraikan sebagai berikut:
A. Rencana Pengembangan dan Peningkatan Jaringan Jalan
Pengembangan dan peningkatan jaringan jalan di Kabupaten Labuhanbatu Selatan terdiri atas pengembangan dan peningkatan jaringan jalan bebas hambatan,
II - 18 sebagai gerakan tanah rendah, karena pada
umunya lahan yang ada berupa lahan dataran yang landai. Sedangkan kawasan yang berpotensi terjadinya gerakan tanah menengah hanya terdapat di sepanjang DAS Barumun mulai dari arah Selatan menuju Utara yang meliputi Kecamatan Kampung Rakyat seluas 4.229 Ha, Kecamatan Kotapinang Seluas 4.167 Ha dan Kecamatan Torgamba seluas 1.423 Ha.
Kawasan Rawan Banjir
Kawasan rawan banjir di Kabupaten Labuhanbatu Selatan sangat dipengaruhi oleh kondisi pada daerah hulu (selatan). Daerah- daerah yang sering terkena banjir adalah daerah hilir sepanjang sungai yang mempunyai kelerengan datar. Kawasan-kawasan yang dapat dikatagorikan sebagai kawasan berpotensi banjir di Kabupaten Labuhanbatu Selatan adalah; Kecamatan Kampung Rakyat, Kecamatan Sungai Kanan dan Kecamatan Kotapinang.
Kawasan Lindung Geologi
Kawasan yang memberikan perlindungan terhadap Cekungan Air Tanah (CAT) di Kabupaten Labuhanbatu Selatan terdapat seluas 21.799 Ha. CAT di Kabupaten Labuhanbatu Selatan merupakan CAT lintas provinsi, yaitu: CAT Teluk Durian/ Pekanbaru yang meliputi 3 (tiga) kabupaten di Provinsi Sumatera Utara, antara lain Kabupaten Labuhanbatu Selatan, Kabupaten Padang Lawas, dan Kabupaten Padang Lawas Utara seluas 21.799 Ha Sedangkan daerah imbuhan air tanahnya berada di sebelah selatan Kabupaten Labuhanbatu Selatan.
2. Rencana Pola Ruang Kawasan Budidaya Untuk menciptakan stabilitas ekonomi dan memanfaatkan potensi yang dimiliki oleh Kabupaten Labuhanbatu Selatan, maka setiap luasan pengembangan kawasan budidaya harus memperhatikan potensi tenaga kerja dan daya dukung lingkungan yang dimiliki.
jaringan jalan arteri primer, dan jaringan jalan kolektor primer 1, 2 dan 3:
(1) Pengembangan jaringan jalan bebas hambatan meliputi ruas;
Rantauprapat - Kotapinang - Provinsi Riau, yang merupakan bagian dari jalan bebas hambatan pulau Sumatera
(2) Jaringan Jalan Arteri Primer yang merupakan jalan nasional, meliputi:
a. Perbatasan Labuhanbatu - Simpang Kotapinang;
b. Kotapinang - Torgamba - Batas Provinsi Riau;
(3) Jaringan Jalan Kolektor Primer 1 yang merupakan jalan strategis nasional, meliputi ruas Kotapinang – Langga Payung – batas Kabupaten Padang Lawas Utara.
(4) Pengembangan jaringan jalan kolektor 2 yang merupakan jalan kabupaten meliputi:
a. Sp. Ranto Jior – Hajoran – Hutagodang;
b. Sampean – Marsonja – Bargot Topong – Patihe Julu – Sp.
Maropat – Hasahatan – batas Paluta;
c. Ranto Jior – Sigadung Laut – Ujung Gading;
d. Ujung Gading – Singkam – Tapian Nadenggan;
e. Ujung Gading – Tapian Nadenggan – Batang Gogar;
f. Tapian Nadenggan – Sp. Pintu Padang;
g. Hutagodang – Sp. Pintu Padang – Aek Korsik – Parimburan – Sampean;
h. Marsonja – Sibadar – Binaga Tualang – Padang Ri – Rondaman – Sinjoman Aek Gambir – Mandala –
Berdasarkan fungsinya, pembagian Kawasan Budidaya di Kabupaten Labuhanbatu Selatan, sesuai dengan UU No. 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang dan Peraturan Menteri PU No.16/PRT/M2009 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten, meliputi:
a. kawasan hutan produksi:
b. kawasan hutan produksi terbatas;
c. kawasan pertanian, yang dirinci meliputi kawasan-kawasan: peruntukan pertanian lahan basah, peruntukan pertanian lahan kering (perkebunan rakyat), peruntukan tanaman pangan, dan peruntukan hortikultura;
d. kawasan peruntukan perikanan, yang dirinci meliputi kawasan-kawasan: peruntukan perikanan budidaya air tawar dan peruntukan kawasan pengolahan ikan;
e. kawasan pertambangan, yang dirinci meliputi kawasan-kawasan: peruntukan mineral dan batubara, peruntukan minyak dan gas bumi, peruntukan panas bumi, dan peruntukan air tanah di kawasan pertambangan;
f. kawasan industri, yang dirinci meliputi kawasan-kawasan: peruntukan industri besar, peruntukan industri menengah dan peruntukan industri rumah tangga
g. kawasan peruntukan pariwisata, yang dirinci meliputi kawasan-kawasan:
peruntukan pariwisata budaya, peruntukan pariwisata alam, dan peruntukan pariwisata buatan;
h. kawasan peruntukan permukiman, yang dirinci meliputi kawasan-kawasan:
peruntukan permukiman perkotaan dan peruntukan permukiman perdesaan.
sebagai kawasan budidaya maka permukiman diarahkan dalam kajian lokasi dan fungsi masing-masing permukiman, terutama dikaitkan dengan karakter lokasi, misalnya di pegunungan, dataran tinggi, permukiman pantai, dan sebagainya; dan i. kawasan peruntukan lainnya.
Sihalombuk – batas Paluta;
i. Aek Korsik – Batu Porkas – batas Paluta;
j. Parimburan – Sipilpil;
k. Hutagodang – Tanjung Marulak – batas Labuhanbatu;
l. Aek Tobang – Banyumas – Tanjung Beringin;
m. Tandikat – Pasir Putih – Bintais;
n. Sp. Tiga Kotapinang – batas Paluta;
o. Batas Labuhanbatu (Kp. Dalam) – Aek Goti (Silangkitang) – Salingsing;
p. Salingsing – Normark – Sp.
Mampang;
q. Batas Labuhanbatu – Rintis – Ujung Padang – Ulu Mahuam – Salingsing;
r. Aek Goti – Tanjung Beringin – Aek Tinga – Simandiangan;
s. Salingsing – Aek Kulim – Aek Tinga;
t. Aek Tinga – Karang Sari;
u. Ulu Mahuam – Paya Mambang – Sukadame – batas Labuhanbatu – Tugu Sari – Blok Songo;
v. Rintis – Sukadame;
w. Padang Ri – Simatahari – Babussalam – Aek Hije – Bato Ajo;
x. Sp. Jalan Propinsi – Bangun Jadi – Perk. Nagodang;
y. Jl. Kalapane
II - 20 Kawasan Hutan Produksi Terbatas adalah
kawasan hutan yang sesuai dengan kriteria kawasan penyangga. Alokasi pemanfaatannya dipertahankan sesuai dengan fungsinya dimana exsploitasinya dapat dilakukan dengan Tebang Pilih Tanam.
Kawasan Hutan Produksi Terbatas
Luas kawasan hutan produksi terbatas di Kabupaten Labuhanbatu Selatan terdapat sekitar 3.356 Ha, yang terdapat di Kecamatan Sungai Kanan.
A. Kawasan Peruntukan Hutan Produksi Tetap
Hutan Produksi Tetap atau bebas adalah kawasan hutan yang dapat diexsploitasi dengan Tebang Jalur dan tebang habis dengan memperhatikan pelestarian lingkungan. Menurut SK Menteri Kehutanan Nomor: 579/MENHUT-II/2014 luas hutan produksi tetap di Kabupaten Labuhanbatu Selatan adalah sebesar 30.804 Ha yang tersebar di Kecamatan Sungai Kanan, Kecamatan Torgamba, dan Kecamatan Kotapinang.
Kawasan Hutan Suaka Alam
Hutan Suaka Alam adalah kawasan hutan yang dapat dikonversi menjadi kawasan lain, seperti kawasan yang diarahkan sebagai kawasan budidaya perkebunan, kawasan budidaya pertanian, kawasan budidaya peternakan, kawasan transmigrasi dan kawasan lainnya yang mempunyai prospek yang lebih menguntungkan. Menurut SK Menteri Kehutanan Nomor: 579/Menhut-II/2014, luas hutan suaka alam di Kabupaten Labuhanbatu Selatan seluas 2.100,42 Ha.
Kawasan Pertanian Tanaman Pangan Kawasan pertanian tanaman pangan di Kabupaten Labuhanbatu Selatan diarahkan di:
Kelurahan Langga Payung Kecamatan Sungai Kanan seluas lebih kurang 27,70 Ha;
Desa Sampean Kecamatan Sungai Kanan
seluas lebih kurang 10,10 Ha;
Desa Mampang Kecamatan Kotapinang seluas lebih kurang 65,12 Ha;
Desa Pasir Tuntung/Hadundung Kecamatan Kotapinang seluas lebih kurang 75 Ha.
Rencana Perluasan Lahan Basah:
Desa Pasir Tuntung,Hadundung dan Mampang Kecamatan Kota Pinang seluas 300 Ha;
Desa Bunut Kecamatan Torgamba 357 Ha;
Desa Air Merah Kecamatan Kampung Rakyat 250 Ha.
Kawasan Pertanian Hortikultura
Kawasan pertanian hortikultura dikembangkan khususnya di daerah aliran Sungai Barumun dengan sebaran sebagai berikut:
Kecamatan Torgamba seluas 35 Ha;
Kecamatan Silangkitang seluas 41 Ha;
Kecamatan Kotapinang seluas 20 Ha;
Kecamatan Kampung Rakyat seluas 40 Ha;
Kecamatan Sungai Kanan seluas 13 Ha.
Rencana pola pemanfaatan ruang untuk kawasan permukiman dapat dikembangkan sebagai berikut:
A. Permukiman Perkotaan
Kawasan permukiman perkotaan diarahkan pada ibukota Kabupaten Kotapinang dan ibukota Kecamatan Langgapayung, Cikampak, Aek Goti dan Tanjung Medan. kecamatan yang mempunyai pertumbuhan cepat dan telah menunjukkan ciri-ciri perkotaan, terutama di Kotapinang sebagai Ibukota Kabupaten Labuhanbatu Selatan. Pemanfaatan ruang yang diarahkan pada kawasan permukiman perkotaan adalah; permukiman kepadatan sedang sampai dengan tinggi, jasa dan perdagangan, perkantoran, dan industri secara terbatas.
B. Permukiman Perdesaan
Kawasan permukiman pedesaan diarahkan pada desa-desa yang mempunyai
II - 22 pertumbuhan cepat dengan ciri-ciri perdesaan
yaitu kegiatan utama penduduknya merupakan sektor pertanian dan perkebunan.
Permukiman pedesaan terutama di arahkan pada desa-desa yang telah ditetapkan sebagai Pusat Pelayanan Lingkungan (PPL) meliputi Simatahari, Teluk Panji, Pinang Damai, Huta Godang dan Mandala Sena.
Sumber: Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Labuhanbatu Selatan Tahun 2010-2030
Tabel 2.8. Identifikasi Kawasan Strategis Berdasarkan RTRW Kabupaten Labuhanbatu Selatan
Kawasan Strategis Kabupaten
Labuhanbatu Selatan Sudut Kepentingan Lokasi Kawasan Strategis
Lingkungan
kawasan pelindungan dan pelestarian lingkungan hidup,
1. Kawasan lindung Nasional Taman Wisata Alam Holiday Resort di Kecamatan Torgamba.
2. Kawasan Hutan Lindung di Kecamatan Sungai Kanan.
Kawasan yang memiliki potensi cepat tumbuh
Untuk mempercepat
pertumbuhan dan
pemerataan wilayah
1. Kawasan perkotaan Kotapinang, di Kecamatan Kotapinang, 2. Kawasan perkotaan Cikampak, di
Kecamatan Torgamba;
3. Kawasan perkotaan Langga Payung, di Kecamatan Sungai Kanan;
4. Kawasan perkotaan Aek Goti, di Kecamatan Silangkitang;
5. Kawasan perkotaan Tanjung Medan, di Kecamatan Kampung Rakyat.
Kawasan yang memiliki sektor unggulan
yang dapat menggerakkan pertumbuhan ekonomi serta memiliki memiliki potensi ekspor yang diarahkan pada perkebunan kelapa sawit dan karet yang dimiliki oleh masyarakat dan perusahaan yang mempunyai peluang untuk ekspor
Pemusatan untuk kawasan ini diarahakan dibeberapa kecamatan, antara lain:
Kotapinang: industri pengolahan CPO, Minyak Goreng dan Lateks;
Torgamba dan Kampung Rakyat:
industri pengolahan CPO.
Sungai Kanan dan Silangkitang:
Industri pengolahan CPO dan Lateks.
Sumber: Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Labuhanbatu Selatan Tahun 2010-2030
Sumber: Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Labuhanbatu Selatan Tahun 2010-2030
II - 24 Sumber: Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Labuhanbatu Selatan Tahun 2010-2030
Pada tahun 2016 Kabupaten Labuhanbatu Selatan untuk saat ini masih dalam tahap penyusunan dokumen Strategi Sanitasi Kab/Kota (SSK), maka dengan demikian kemajuan pelaksanaan SSK Kabupaten Labuhanbatu Selatan belum ada.
2.3 Profil Sanitasi Saat Ini
Seiring dengan aktifitas pembangunan yang meningkat dengan bertambahnya penduduk akan memberikan dampak negatif terhadap lingkungan, apabila tidak dikelola dengan baik maka akan dapat menimbulkan masalah di bidang sanitasi.
Hal ini akan menyebabkan adanya pencemaran lingkungan, menurunnya kualitas lingkungan dan estetika serta kemungkinan timbulnya penyakit sehingga merugikan masyarakat di sekitarnya. Kebiasaan masyarakat membuang sampah dan limbah rumah tangga ke saluran drainase, sungai-sungai dan pada tempat- tempat yang bukan peruntukannya ikut memperburuk kondisi sanitasi di Kabupaten Labuhanbatu Selatan. Dari semua persoalan sanitasi di Kabupaten Labuhanbatu Selatan, penyebab utamanya adalah minimnya pengetahuan masyarakat tentang sanitasi yang berakibat kepada kurangnya kesadaran terhadap pentingnya sanitasi dalam kehidupan.
Sebagai bagian dari pengelolaan lingkungan dan peningkatan kualitas sanitasi di Kabupaten Labuhanbatu Selatan lebih difokuskan kepada upaya peningkatan kualitas yang berbasis masyarakat. Sedangkan sebagai subsistem pengembangan kawasan, peningkatan kualitas sanitasi di Labuhanbatu Selatan difokuskan kepada penataan drainase lingkungan, pengelolaan persampahan dan pencegahan kontaminasi terhadap air tanah oleh limbah hasil kegiatan manusia khususnya di lingkungan pemukiman yang padat penduduk dan atau pusat-pusat kegiatan masyarakat serta peningkatan kualitas, kuantitas dan kontinuitas penyediaan air minum bagi masyarakat.
Profil sanitasi Kabupaten Labuhanbatu Selatan saat ini, dapat digambarkan atau dilihat dari kondisi air limbah domestik, persampahan, dan drainase lingkungan.
II - 26 Air limbah yang dimaksud adalah air limbah permukiman (municipial wastewater) yang terdiri dari atas adalah black water, yaitu air limbah domestik (rumah tangga) yang berasal dari tinja manusia, urine, air pembersih, air pengelontor dan kertas pembersih, dan grey water, yaitu air limbah domestik yang berasal dari air hujan, air cucian dapur dan cucian pakaian. Pengolahan air limbah domestik dengan On-site System banyak dijumpai di perkotaan Kabupaten Labuhanbatu Selatan
Adapun teknologi atau pengolahan yang dipakai pada On-site system ini adalah jamban yang biasanya dibangun di masing-masing rumah atau di tempat-tempat tertentu dan dipakai secara bersama atau kolektif untuk beberapa rumah tangga. Penyediaan jamban ini sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya faktor ekonomi dan ketersediaan lahan.
(1) Sistem dan Infrastruktur
Kondisi sistem pengelolaan air limbah di Kabupaten Labuhanbatu selatan pada dasarnya berupa pelayanan sanitasi sistem setempat (individual) untuk limbah tinja berupa pengumpulan limbah tinja dari septik tank ke pengolahan akhir. Saat ini Kabupaten Labuhanbatu Selatan belum sarana prasaran Instalasi Pengolahan Limbah Tinja (IPLT), SPAL Terpusat (Skala Komunal, Skala Kawasan dan Skala Kota).
Secara umum pengelolaan limbah tinja di Kabupaten Labuhanbatu selatan dilaksanakan sendiri oleh masyarakat secara individual, sedangkan limbah cair langsung ke saluran drainase. Akan tetapi, kebiasaan ini tidak sesuai dengan prinsip-prinsip sanitasi yang baik sehingga kebiasaan ini harus ditinggalkan.
Pemerintah Kabupaten Labuhanbatu Selatan juga telah membangunkan WC umum untuk digunakan secara komunal. Untuk areal permukiman, golongan masyarakat yang berpenghasilan menengah ke atas telah memiliki WC secara individu. Sedangkan untuk masyarakat golongan menengah ke bawah kebanyakan belum memiliki WC secara individu.
Kabupaten Labuhanbatu selatan didasarkan pada data yang ada, dimana hamper di semua wilayah Kabupaten Labuhanbatu Selatan menggunakan sistem pembuangan air limbah setempat (onsite system). Limbah manusia ditampung dalam tangki septik atau cubluk dimana penguraian terjadi secara alamiah dan cairannya dibuang ke bidang tanah atau sumur resapan.
Sedangkan untuk limbah mandi dan cuci (grey water) penanganannya langsung dibuang ke saluran drainase. Ditinjau dari peran serta pemerintah, sebagian besar pengelolaan air limbah terutama limbah domestik di Kabupaten Labuhanbatu Selatan masih dilaksanakan secara individual oleh masyarakat. Sampai saat ini peran pemerintah daerah dalam hal pengelolaan sanitasi terbatas, dalam hal pemberian bantuan jamban kepada sebagian warga masyarakat serta fasilitasi pembangunan MCK komunal berbasis masyarakat di beberapa titik wilayah.
Prasarana pengelolaan limbah meliputi pengelolaan limbah rumah tangga, dijabarkan sebagai berikut:
a. Penanganan limbah secara Sistem Pengolahan Air Limbah Setempat (SPAL-S) dengan pembangunan jamban keluarga, jamban komunal dan Mandi cuci kakus umum;
b. Penanganan limbah secara Sistem Pengolahan Air Limbah komunal dengan sistem perpipaan dengan membangun instalasi pengolah air limbah (IPAL) komunal;
c. Penanganan limbah padat dengan incenerator dan limbah tinja dengan Instalasi Pengolah Lumpur Tinja (IPLT); dan
d. Menyediakan sarana pengangkutan limbah ke lokasi pengolahan limbah.
Berdasarkan hasil Studi EHRA Kabupaten Labuhanbatu Selatan tahun 2016 bahwa persentase tempat buang air besar adalah Jamban Pribadi 76,0%, MCK/WC Umum 4,8%, WC helikomter 1,5%, Ke sungai/kepantai/laut 11,0%, Ke kebun/pekarangan 1,3%, Ke selokan/parit/got 1,3%, Ke lubang galian 3,3%, Lainnya 3,3%. Untuk lebih jelas dapat dilihat gambar berikut.
II - 28 Sumber: Studi EHRA Kabupaten Labuhanbatu Selatan Tahun 2016
Untuk persentase tempat penyaluran akhir tinja adalah Tangki septik 58,5%, Pipa sewer 0,3%, Cubluk/lubang gali 15,8%, Langsung ke drainase 1,3%, Sungai/danau/pantai 2,0%, Kolam/sawah 0,0%. Untuk lebih jelas dapat dilihat gambar berikut.
Gambar 2.6. Grafik Peresentase Tempat Penyaluran Akhir Tinja
58.5
0.3 15.8 1.32.0
0.0 0.0
22.3
0.0
PERSENTASE TEMPAT PENYALURAN AKHIR TINJA DI KABUPATEN LABUHANBATU SELATAN TAHUN 2016
Tangki septik Pipa sewer
Cubluk/lobang tanah Langsung ke drainase Sungai/danau/pantai Kolam/sawah Kebun/tanah lapang Tidak tahu
Lainnya
Sumber: Studi EHRA Kabupaten Labuhanbatu Selatan Tahun 2016
59,8% dan Tidak Aman sebesar 40,3%. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada gambar berikut.
Gambar 2.7. Grafik Peresentase Tanki Septik Aman dan Tidak Aman
Sumber: Studi EHRA Kabupaten Labuhanbatu Selatan Tahun 2016
Sedangkan hasil Studi EHRA terkait Persentase Pencemaran Karena SPAL dapat dilihat paada gambar berikut.
Gambar 2.8. Grafik Peresentase Pencemaran Karena SPAL
Sumber: Studi EHRA Kabupaten Labuhanbatu Selatan Tahun 2016
II - 30 Diagram Sistem Sanitasi (DSS) yang memuat informasi mengenai infrastruktur pengelolaan limbah domestik di Kabupaten Labuhanbatu Selatan. Pada umum pengelolaan limbah domestik masih tahap mengunakan on-site system (tangki septik). Diagram Sistem Sanitasi (DSS) Air Limbah dapat dilihat pada gambar 2.9 berikut.
Diagram Sistem Saintasi Pengelolaan Air Limbah
Produk Input (A) User Interface
(B) Pengumpulan dan
Penampungan/
Pengolahan Awal
(C)
Pengangkutan / Pengaliran (D) (Semi) Pengolahan
Akhir Terpusat
(E) Daur Ulang dan/atau
Pembuangan Akhir
Pada diagram DSS diatas tergambarkan bahwa:
1. Alur pembuangan Tinja (Black Water) dengan sistem on-site, dan BABS.
2. Alur pembuangan air cucian (Grey Water) ada yang melalui saluran, ada juga ke sungai.
Tangki Septic/Komunal
Sungai Cu
bluk
Kamar Mandi
Tanah
Kebun/
Pekarangan AIR LIMBAH
DOMESTIK
Black &
Grey Water