Indonesia turut berperan aktif dalam mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (GRK) yang disebabkan oleh deforestasi serta degradasi hutan dan lahan gambut dengan menjanjikan pengurangan emisi gas sebesar 26% dengan upaya sendiri 41% dengan bantuan komunitas Internasional pada tahun 2020. Dalam kasus ini, Pemerintah sebagai salah satu legitimate institution sadar jika diperlukan tindakan dan pengambilan keputusan untuk mengatasi krisis lingkungan yang dihadapi Indonesia seperti kerusakan dan degradasi hutan. Pemerintah Indonesia mempunyai peran penting untuk membuat kebijakan-kebijakan yang pro-environment. Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden SBY melakukan beberapa langkah besar dan menunjukkan komitmennya dalam upaya mengatasi perubahan iklim dan krisis lingkungan. Salah satunya adalah Presiden SBY menyatakan komitmennya untuk mengurangi emisi GRK 26%-41% di KTT G20.
Komitmen tersebut mendapatkan sambutan baik dari pemerintah Norwegia.
31
Puncaknya, Pemerintah Republik Indonesia dan Kerajaan Norwegia sepakat menandatangani Surat Niat (Letter of Intent) REDD+ Pada tanggal 26 Mei 2010.
Atas usahanya tersebut, Presiden SBY mendapatkan banyak penghargaan salah satunya adalah dari PBB yakni “Champions of The Earth” dalam bidang “policy leadership” karena dinilai telah berhasil menjalankan program pembangunan berkelanjutan dan berhasil mensinergikan pembangunan ekonomi dengan pelestarian lingkungan.
Dari sisi pemerintah daerah, Provinsi Kalimantan Tengah menunjukkan keseriusan dalam mengatasi kerusakan hutan dan gambut melalui kebijakan seperti green province dari program green government policy yang dibuat. Karena hal itu, Provinsi Kalimantan Tengah terpilih menjadi daerah percontohan atau pilot province pelaksaan REDD+ di Indonesia. Melalui salah satu proyek REDD+
bersama WWF di Kalimantan Tengah yakni di Taman Nasional Sebangau, implementasi ekonomi hijau berpeluang besar untuk diwujudkan. Dalam implementasinya REDD+ mengedepankan peran serta masyarakat sekitar hutan dan diikut sertakan dalam kegiatan pelestarian hutan. Dengan begitu akan didapat manfaat bukan hanya kelestarian hutan yang berkelanjutan, namun juga pemberdayaan masyarakat sekitar hutan melalui berbagai program swadaya yang memberikan insentif ekonomi dan peningkatan kesejahteraan bagi masyarakat masyarakat sekitar hutan. Di TN Sebangau sendiri masyarakat sekitar hutan dilibatkan secara langsung dalam berbagai kegiatan pengeloaan hutan maupun pengembangan ekowisata. Contohnya seperti, pada tahun 2014 WWF memberikan pelatihan kepemanduan dan metode pengamatan orangutan,
32
mengajak masyarakat untuk mengenali jenis-jenis tumbuhan dan karakteristik gambut. Harapannya, agar masyarakat sekitar menjadi pelaku utama wisata TN Sebangau.
Selain itu, di Punggualas (salah satu destinasi utama di TN Sebangau) telah dibentuk Simpul Ekowisata yang merupakan kelompok yang beranggotakan masyarakat desa di sekitar kawasan yang berfokus pada kegiatan wisata. Kegiatan yang sudah dilakukan masyarakat terkait pengelolaan wisata di Punggualas adalah penyedia jasa transportasi, guide (pemandu), dan porter yang juga dibekali pelatihan berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris.
Berbagai kegiatan yang ada di kawasan Taman Nasional Sebangau sejalan dengan tiga kebijakan pelaksanaan ekonomi hijau di sektor kehutanan yang telah disebutkan di atas. Pertama, adanya kontribusi sektor kehutanan dalam perubahan iklim. Dalam hal ini, di kawasan Taman Nasional Sebangau dilakukan restorasi lahan gambut yang rusak akibat pembalakan liar dan kebakaran lahan gambut dengan penabatan untuk menciptakan prakondisi lingkungan yang baik untuk regenerasi hutan gambut. Restorasi lahan gambut ini penting sebagai salah satu upaya mengatasi pemanasan global karena ekosistem gambut yang selalu basah dapat menghalangi lepasnya emisi gas rumah kaca yang dapat memperburuk pemanasan global.
Pertumbuhan tanaman hijau mulai terjadi di area tandus atau gundul setelah dilakukan revegetasi hutan, program penghijauan melalui studi vegetasi (untuk memilih jenis pohon yang cocok untuk rehabilitasi), pengerasan tanaman, dan penanaman pohon. Monitoring restorasi dilakukan juga dengan menabat
33
saluran air agar daerah dekat saluran air tersebut aman dari api, tidak seperti pada tahun 2005 dan tahun-tahun sebelumnya.
Kedua, adanya pengeloaan sumberdaya hutan berkelanjutan. TN Sebangau juga melakukan penabatan saluran parit atau kanal yang bertujuan untuk memperbaiki fungsi hidrologis hutan rawa gambut. Upayan untuk menaikkan permukaan air bawah tanah (groundwater) dilakukan dengan menutup saluran air hal tersebut juga bertujuan untuk menjaga kelembaban tanah pada musim kemarau dan mencegah terjadinya kebakaran hutan maupun lahan gambut.
Sebagai pilot percontohan dipilih saluran atau kanal milik eks Perusahaan Hak Pengusahaan Hutan (HPH) Sanitra Sebangau Indah (SSI). Tabat atau kanal dibuat untuk mengatur arus air keluar dan dapat dimanfaatkan nelayan untuk mencari ikan.. Sudah ada lebih dari 70 tabat yang dibangun di lebih dari 60 kanal atau saluran air di kawasan TN Sebangau.
Ketiga, penyediaan jasa lingkungan. Hutan merupakan penyedia berbagai keragaman hayati maupun ekosistem yang menyokong proses sosial budaya masyarakat yang ada di sekitarnya. Sumberdaya hutan memang memiliki manfaat langsung dan tidak langsung, serta tangible maupun intagible yang mendukung keberlangsungan hidup manusia. Beberapa jenis jasa lingkungan yakni, jasa lingkungan keindahan (landscape) dan jasa lingkungan keanekaragaman hayati.
Taman Nasional Sebangau juga menyediakan ekowisata seperti kegiatan menyusuri sungai hitam di TN Sebangau untuk mengamati satwa dan tumbuhan, menyusuri jalur reptil dan satwa liar lainnya. Ada 54 spesies ular, 15 jenis mamalia, dan 185 jenis burung ditemukan di TN Sebangau. Selain itu, dalam
34
keputusan Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Nomor SK.180/IV-KKH/2015, Balai TN Sebangau adalah salah satu satuan kerja yang mempunyai tanggung jawab dalam meningkatkan 25% populasi spesies Orangutan Kalimantan (Pongo Pygmaeus Wurmbii) yang terancam punah di TN Sebangau. Melihat satwa tersebut secara langsung di habitatnya juga dapat dilakukan oleh wisatawan saat berkunjung ke TN Sebangau.
Berbagai kegiatan yang telah dijelaskan di atas menujukkan bahwa kegiatan di TN Sebangau adalah kegiatan berbasis green economy yang mana pengelolaan sumber daya alam tetap memperhatikan keberlanjutan lingkungan hidup dan juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar kawasan hutan karena masyarakat mempunyai andil secara langsung dalam berbagai kegiatan pengelolaan hutan, reforestasi, rehabilitisasi lahan gambut sampai pengembangan ekowisata di kawasan TN Sebangau. Maka dari itu dengan adanya REDD+ dan berbagai program kegiatan berbasis ekonomi hijau di Kalimantan Tengah terutama di TN Sebangau diharapkan bisa mengurangi emisi dari deforestasi dan degradasi hutan, serta dapat memastikan manfaat tambahan terkait dengan jasa ekosistem dan peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan.
35