• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Intergovermental Panel on Climate Change (IPCC), deforestasi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. Menurut Intergovermental Panel on Climate Change (IPCC), deforestasi"

Copied!
38
0
0

Teks penuh

(1)

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Menurut Intergovermental Panel on Climate Change (IPCC), deforestasi dan degradasi hutan memberikan kontribusi global hingga mencapai 17% dari seluruh emisi gas rumah kaca yang berarti melebihi sektor transportasi dan peringkat ketiga setelah global energy (26%) dan sektor industri (19%), sedangkan lebih dari 60% dari emisi karbon di Indonesia berasal dari deforestasi dan lahan gambut. 1 Besarnya tingkat degradasi hutan serta penebangan hutan menyebabkan meningkatnya kadar emisi gas rumah kaca (GRK) yang tentunya dapat merugikan seluruh makhluk hidup di dunia.

Momentum awal mula kemunculan REDD+ di tatanan global dimulai pada Konvensi Perubahan Iklim (UNFCCC) di Bali atau dikenal dengan Bali Action Plan pada tahun 2007. Konvensi itu membahas mengenai pendekatan kebijakan dan insentif positif pada isu-isu yang berkaitan dengan upaya pengurangan emisi dan penurunan kerusakan hutan, tutupan hutan, peningkatan kapasitas konservasi, pengelolaan hutan lestari serta peningkatan stok karbon hutan di negara berkembang. 2 Pada masa kepemimpinannya, arah pemerintahan Presiden SBY

1

Satuan Tugas dan Kelompok Kerja REDD, 2010, REDD, dan Satuan Tugas Kelembagaan REDD: Sebuah Pengantar. Jakarta: Satuan Tugas dan Kelompok Kerja REDD+, dalam https://agungwi.files.wordpress.com/2012/07/laporansatgastothepresident.pdf, (13 Februari 2017 14.06 WIB).

2

Ari Wibowo, Implementasi Kegiatan REDD+ pada Kawasan Konservasi di Indonesia, jurnal, Vol. 13, No. 3, Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial, Ekonomi, Kebijakan dan Perubahan

Iklim Indonesia, dalam

https://www.researchgate.net/publication/313447108_IMPLEMENTASI_KEGIATAN_REDD_P

ADA_KAWASAN_KONSERVASI_DI_INDONESIA, (15 Februari 2017 15.09 WIB).

(2)

2

lebih berfokus kepada isu lingkungan di Indonesia. Menurut perspektif Pemerintah Indonesia, ekonomi hijau adalah prinsip pembangunan ekonomi yang mengacu pada integrasi pilar pro environment, pro growth, pro poor, dan pro jobs yang berarti ekonomi terus tumbuh dan memberikan lapangan kerja serta mengurangi kemiskinan, namun tetap meperhatikan kelestarian lingkungan khususnya fungsi ekosistem dan keanekaragaman hayati yang berdasar pada keadilan sosial. 3 Presiden SBY menyatakan jika ada enam faktor yang signifikan untuk menyukseskan ekonomi hijau, yakni: (1) Kepemimpinan atau political will dari pemimpin negara, (2) adanya kebijakan dan regulasi yang tepat, (4) investasi dan green bussines, (3) edukasi tentang pelestarian lingkungan, (5) kontribusi sains, teknologi dan inovasi, (6) kerjasama internasional. 4

Sebagai upaya perwujudannya, Presiden SBY menunjukkan langkah besar dalam upaya pelestarian lingkungan seperti adanya moratorium penebangan hutan, konservasi terumbu karang, dan Presiden SBY menyatakan komitmennya untuk mengurangi emisi GRK hingga 41%. 5 Komitmen tersebut disambut baik oleh pemerintah Norwegia. Puncaknya, Pemerintah Republik Indonesia dan Kerajaan Norwegia sepakat menandatangani Surat Niat (Letter of Intent) REDD+

Pada tanggal 26 Mei 2010. Dengan adanya LoI tersebut, Pemerintah Norwegia setuju untuk memberikan bantuan keuangan dengan total $ 1 Miliar untuk mendukung komitmen Indonesia. Insentif akan diberikan sesuai jumlah

3

Srihandriatmo Malau, Presiden SBY Canangkan Konsep Ekonomi Hijau¸dalam https://www.tribunnews.com/nasional/2012/06/05/presiden-sby-canangkan-konsep-ekonomi-hijau, (28/03/2020 15.04 WIB)

4

Tempo, 6 Langkah Ekonomi Hijau Ala SBY di COP 21, dalam https://dunia.tempo.co/read/726478/6-langkah-ekonomi-hijau-ala-sby-di-cop21/full&view=ok (7/4/2020 21.35 WIB)

5

Ibid.

(3)

3

pengurangan emisi yang telah dicapai dan terverifikasi sesuai skema REDD+.

Pada tahun 2014, atas adanya upaya pengelolaan lingkungan hidup dan konservasi yang telah dilakukan, Presiden SBY mendapatkan banyak penghargaan seperti dari PBB yakni “Champions of The Earth” dalam bidang “policy leadership”.

Menurut UNEP, Presiden SBY dinilai telah berhasil menjalankan program pembangunan berkelanjutan dan berhasil mensinergikan pembangunan ekonomi dengan pelestarian lingkungan. 6 Presiden SBY juga dianugerahi gelar Doktor Kehormatan (Honoris Causa) dari ITB di bidang pembangunan berkelanjutan. 7

Ruang lingkup pelaksaan REDD+ di Indonesia yakni: 8 (1) Penurunan emisi dari deforestasi, (2) Penurunan emisi dari degradasi hutan dan/atau degradasi lahan gambut (3) Pemeliharaan dan peningkatan cadangan karbon melalui:

pemeliharaan hutan, pengelolaan hutan yang lestari atau sustainable, rehabilitasi dan restorasi kawasan yang rusak, penciptaan manfaat tambahan bersama dengan peningkatan manfaat dari karbon melalui: peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan, peningkatan kelestarian keanekaragaman hayati, peningkatan kelestarian produksi jasa ekosistem lain. Dalam melaksanakan program-program di atas, REDD+ bekerjasama dengan organisasi Internasional, di Taman Nasional

6

Detik News, SBY Terima Penghargaan di Bidang Lingkungan Hidup, dalam https://news.detik.com/berita/d-2756348/sby-terima-penghargaan-di-bidang-lingkungan-hidup- dari-unep (28 /03/2020 15.08 WIB)

7

Mega Liani Putri, Prof. dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono: Kampanyekan Ekonomi Hijau dan Pembangunan Berkelanjutan, dalam https://www.itb.ac.id/news/read/5038/home/prof-dr-h-susilo- bambang-yudhoyono-kampanyekan-ekonomi-hijau-dan-pembangunan-berkelanjutan (7/3/2020 22.06 WIB)

8

Natural Resources Development Center, Modul: Konsep REDD+ dan Impelentasinya, dalam

https://www.nature.or.id/publikasi/...dan.../modul-konsep-redd.pdf, hal. 34, (18 Agustus 2018

14.22 WIB).

(4)

4

Sebangau ada WWF Indonesia sebagai organisasi yang membantu pelaksanaan program REDD+.

Presiden SBY pada saat Sidang Kabinet Paripurna Tahun 2010 menetapkan Provinsi Kalimantan Tengah sebagai pilot province pelaksanaan REDD+ di Indonesia. 9 Provinsi Kalimantan Tengah dipilih untuk menjadi pilot province berdasarkan kombinasi dari penilaian aspek kualitatif yang meliputi asepek tata kelola, sosial dan ekonomi, data dan MRV dan aspek kuantitatif yang meliputi luasan hutan atau gambut dan ancaman dari deforestasi. Hasil penilaian menunjukkan bahwa kondisi geografis Kalimantan Tengah memiliki hutan dan lahan gambut yang luas dengan ancaman kerusakan yang nyata. Selain itu, tingkat kesiapan Pemerintah Kalimantan Tengah untuk melaksanakan REDD+ dianggap cukup dan memiliki tingkat keberhasilan yang cukup menjanjikan. 10

Dengan adanya program ini diharapkan agar masyarakat menjadi garda terdepan dalam menjaga pelestarian hutan yakni seperti melibatkan masyarakat dalam memberikan masukan bagi pelaksanaan kinerja para pihak serta penanggulangan kebakaran hutan. Selain dapat menjaga kelestarian hutan, ada manfaat lain yang dapat diperoleh yakni terciptanya kegiatan pemberdayaan masyarakat sekitar hutan. Berbeda dengan pengelolaan hutan konvensional, REDD+ memberikan insentif finansial sebagai konversi penyimpanan karbon di hutan. 11 Dalam pelaksanaannya, REDD+ memastikan adanya keterlibatan para

9

Antara, Presiden Pilih Kalteng Provinsi Percontohan REDD, dalam https://www.antaranews.com/berita/239939/presiden-pilih-kalteng-provinsi-percontohan-redd, (7/3/2020 22.02 WIB)

10

Ibid.

11

Dian Agung Wicaksono dan Ananda Prima Yurista, Konservasi Hutan Partisipatif Melalui

REDD+ (Studi Kasus Kalimantan Tengah Sebagai Provinsi Percontohan REDD+), Jurnal, Vol. 1,

(5)

5

pemegang kepentingan, dan mempertimbangkan pendapat dari masyarakat, penduduk asli dan komunitas tradisional agar hak bagi yang tinggal di dalam maupun sekitar hutan dapat terjamin. Strategi REDD+ di kawasan Kalimantan Tengah bertujuan untuk mengatur sumber daya alam secara berkelanjutan sebagai aset demi kesejahteraan bangsa dan masyarakatnya. 12

Masalah ini menarik untuk dibahas karena diketahui jika Indonesia di bawah pemerintahan Presiden SBY merupakan negara yang menjadi anggota di forum internasional mengenai perubahan iklim dan Indonesia adalah negara berkembang yang pertama kali menyatakan komitmen secara sukarela dalam upaya mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 26%-41% pada 2020 di KTT G20. 13 Komitmen Indonesia dalam pengurangan deforestasi, pengurangan emisi GRK dan kontribusinya dalam perubahan iklim tersebut menjadi yang pertama dalam sejarah menjadi perhatian utama dari lembaga dan media internasional.

Presiden SBY juga menandatangani moratorium izin untuk melindungi 63 juta hektar hutan dan gambut, SBY mengklaim jika tingkat deforestasi Indonesia turun drastis dari 1,2 juta pada 2003-2005 menjadi 450-600 ribu hektar per tahun pada masa moratorium tahun 2011-2013 dan menanam lebih dari empat miliar pohon. 14

No. 2 (Agustus 2013), Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada, dalam http://download.portalgaruda.org/article.php?article=366438&val=8308&title=Konservasi%20Hut an%20Partisipatif%20Melalui%20REDD+%20(Studi%20Kasus%20Kalimantan%20Tengah%20S ebagai%20Provinsi%20Percontohan%20REDD+), (24 Desember 2016 18.45 WIB).

12

Ibid.

13

Harian Nasional, SBY Terima Penghargaan Lingkungan dari PBB, dalam http://www.harnas.co/2014/11/22/sby-terima-penghargaan-lingkungan-dari-pbb, (28/03/2020, 14.03 WIB)

14

Sapariah Saturi, SBY Berharap Presiden Baru Lanjutkan Moratorium Hutan dan Lahan, dalam

https://www.mongabay.co.id/2014/05/05/sby-berharap-presiden-baru-lanjutkan-moratorium-

hutan-dan-lahan/ (7/3/2020 23.01 WIB)

(6)

6

Alasan penulis memilih Provinsi Kalimantan Tengah karena sebelum adanya kontestasi provinsi percontohan REDD+, pemerintah Kalimantan Tengah telah menunjukkan keseriusan dalam mengatasi krisis lingkungan dengan mengeluarkan kebijakan berbasis pendekatan ekonomi hijau yang pro- environment seperti green and clean province dan green government policy. 15

Perkembangan ekonomi yang terbilang pesat di Kalimantan menjadi salah satu penyebab rusaknya sumber daya alam yang penting seperti hutan, lahan gambut, serta jasa lingkungan yang tersedia di dalamnya. Pendekatan ekonomi hijau dianggap menjadi solusi yang tepat untuk Provinsi Kalimantan Tengah dalam rangka mewujudkan keseimbangan aspek perlindungan dengan pemanfaatan modal alam untuk membangun perekonomian, dan hasilnya dibagi secara adil. Dengan pendekatan ini, diharapkan dapat mewujudkan penggunaan sumber daya alam secara bijaksana, melindungi habitat alam dan cadangan karbonnya, longterm sustainable development, dan manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Atas dasar itu, dalam penelitian ini penulis mengangkat judul “Upaya Pemerintah Indonesia dalam Mewujudkan Ekonomi Hijau Melalui Program REDD+ di Kawasan Taman Nasional Sebangau Kalimantan Tengah.”

.

15

Green and Clean Province mengutamakan perkembangan sosio-ekonomi, lingkungan hidup,

pemerintahan yang terpercaya, kepatuhan terhadap hukum, dan meningkatkan transparansi terkait

dengan pengeluaran izin penggunaan lahan. Green Government Policy berfokus pada pencegahan

dan pengendalian kebakaran hutan, perencanaan lahan,restorasi lahan yang terdegradasi,

pengaturan sumbermata air, pengadaan air bersih dan sistem sanitasi, pemeliharaan kualitas udara,

pengolahan sampah, danadaptasi serta mitigasi terhadap perubahan iklim. Bappenas, Kalimantan

Tengah Menuju Pertumbuhan Ekonomi Hijau, dalam http://greengrowth.bappenas.go.id/wp-

content/uploads/2018/05/20151020214928.Central_Kalimantan_Green_Growth_Report_BAHAS

A.pdf, (28/03/2020 15.09 WIB)

(7)

7

1.2 Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah, bagaimana Pemerintah Indonesia mewujudkan ekonomi hijau melalui program REDD+ di kawasan Taman Nasional Sebangau Kalimantan Tengah?

1.3 Tujuan dan Manfaat penelitian 1.3.1 Tujuan penelitian

Dalam penelitian ini penulis bertujuan untuk: (1) Menjelaskan implementasi kesepakatan mengenai kerusakan hutan dan pengurangan emisi GRK melalui REDD+ di Indonesia, (2) Menjelaskan upaya pemerintah Indonesia di Kalimantan Tengah dalam rangka mencapai kepentingan ekonomi hijau.

1.3.2 Manfaat Penelitian 1.3.2.1 Manfaat Akademis

Secara akademis, melelui penelitian ini diharapkan pembaca memperoleh pengetahuan secara umum tentang program REDD+ di kawasan Taman Nasional Sebangau Kalimantan Tengah untuk mewujudkan ekonomi hijau di kawasan tersebut. Selain itu, peneletian ini juga diharapkan dapat menjelaskan kepada pembaca mengenai penggunaan konsep Green Economy atau ekonomi hijau dalam kajian Hubungan Internasional.

1.3.2.2 Manfaat Praktis

Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk

bahan pembelajaran dan untuk menambah informasi bagi peneliti selanjutnya

(8)

8

yang ingin menggunakan penelitian ini sebagai referensi yang berhubungan dengan program REDD+ dan kegiatan ekonomi hijau di Taman Nasional Sebangau Kalimantan Tengah.

1.4 Penelitian Terdahulu

Dalam sub point penelitian ini menggunakan enam penelitian terdahulu.

Penelitian pertama yakni jurnal dari Eko Novrialdi tahun 2015 yang berjudul Kepentingan Norwegia Mendukung Program Reducing Emission From Deforestation and Degradation di Hutan Amazon Peru Tahun 2014. 16 Penelitian ini menjelaskan bahwa Pemanasan global telah mempengaruhi kegiatan industri Norwegia seperti industri perikanan, pariwisata, dan mengancam keberadaan pulau-pulau kecil yang ada di sana akibat kenaikan permukaan air laut. Norwegia merupakan anggota Annex I dalam Protokol Kyoto dan diwajibkan untuk mengurangi emisi karbonnya sebesar 5,2%. Explorasi minyak dan industri Norwegia merupakan sumber terbesar emisi karbonnya. Jika Norwegia diharuskan untuk mengurangi karbonnya sebesar 5,2%, hal tersebut akan merugikan Norwegia karena industri dan eksplorasi minyak adalah sumber pendapatan utama Norwegia. Agar kegiatan industri Norwegia tetap bisa berjalan, Norwegia memutuskan untuk menggandeng beberapa negara berkembang seperti Peru yang memiliki hutan tropis luas untuk diberikan insentif di bidang kehutanan dengan imbalan karbon melalui program REDD+. Sekitar 60% wilayah Peru

16

Eko Novrialdi, Kepentingan Norwegia Mendukung Program Reducing Emission From Deforestation and Degradation di Hutan Amazon Peru Tahun 2014, Jurnal, Vol. 2 No. 2 (Oktober 2015), Jurusan Hubungan Internasional, FISIP, Universitas Riau, dalam https://media.neliti.com/media/publications/32367-ID-kepentingan-norwegia-mendukung-

program-reducing-emission-from-deforestation-and.pdf, (28/03/2020 15.03)

(9)

9

adalah hutan tropis Amazon dengan luas sekitar 73 juta ha. Hutan Amazon Peru memiliki kondisi ideal untuk mengimplementasikan program REDD+.

Skema yang ada di dalam program REDD+ memungkinkan Norwegia untuk tetap bisa menjalankan industrinya tanpa harus menurunkan tingkat emisi karbonnya. Kerjasama Norwegia dengan Peru mengenai REDD disahkan pada tanggal 23 September 2014 melalui penandatanganan Letter of Intent (LoI) dalam konferensi iklim PBB di New York. Dalam kesepakatan tersebut, Norwegia mendukung Program REDD+ di hutan Amazon Peru. Hal tersebut Selaras dengan tujuan pemerintah Peru untuk mengurangi angka deforestasi dan degradasi hutan dalam negeri menjadi 0% pada 2021 dan dalam upaya mengatasi perubahan iklim.

Rainfroest Foundation Norwegia menandatangani perjanjian dengan organisasi adat Peru, AIDSEP dan memberikan insentif senilai $300 juta untuk memerangi deforestasi hutan. Norwegia akan membayar $50 juta pertahun dan $250 juta jika target pengurangan emisi terpenuhi. Peru juga menginvestasikan uang tersebut dalam bisnis-bisnis alternative untuk komunitas lokal seperti pertanian, pariwisata, dan kerajinan tangan. Peru mengatakan jika REDD+ adalah win-win untuk lingkungan, kesehatan dan ekonomi Peru.

Kedua, paper oleh Sithong Thongmanivong, Khamla Panvilay, dan Thoumthone Vongvisouk yang berjudul “How Laos Is Moving with REDD+

Schemes”. 17 Penelitian ini menjelasakan jika tutupan hutan di Laos telah menurun selama tiga decade terakhir. Atas dasar itu, Pemerintah Laos telah berkomitmen

17

Thongmanivong, Sithong, Khamla Panvilay, and Thoumthone Vongvisouk, 2013, How Laos Is

Moving with REDD+ Schemes,

https://www.academia.edu/20733955/How_Laos_is_moving_forward_with_REDD_schemes,

(28/03/2020 16.23 WIB)

(10)

10

untuk memulihkan tutupan hutan menjadi 70% pada tahun 2020. Banyak proyek dan program konservasi yang telah direncanakan dan diimplementasikan di berbagai bagian Negara Laos. REDD+ diperkenalkan di Laos pada akhir 2007.

Namun, implementasi REDD+ di Laos berjalan lambat karena faktor internal dan eksternal. Saat ini ada berbagai organisasi internasional dan LSD dari sektor publik maupun swasta mencoba untuk memulai proyek-proyek REDD+. Laos adalah salah satu Negara di Asia Tenggara yang 50% dari total wilayahnya adalah hutan. Pada tahun 1960, tutupan hutan Laos sekitar 70% dari total luas daratan.

Namun, jumlah tersebut menurun menjadi 41% pada tahun 2010. Penyebab menurunya jumlah hutan di Laos adalah pembangunan infrastruktur, pengembangan listrik tenaga air, penebangan hutan tanpa tebang pilih, pembakaran hutan dan konversi hutan menjadi hutan tanaman komersial serta hutan industri. Sumber emisi GRK Laos terbesar (71%) berasal dari industri kehutanan, diikuti oleh pertanian (24%), produksi energy (4%) dan lingkungan (1%). Pada tahun 2020, Pemerintah Laos berkomitmen untuk memulihkan tutupan hutannya menjadi 70%. Mekanisme REDD+ memungkinkan untuk mewujudkan komitmen Pemerintah Laos tersebut.

Pemerintah Laos menghadapi banyak tantangan dalam implementasi

REDD+. Tantangan tersebut seperti pengaturan kelembagaan, metode yang tepat

untuk penghitungan laporan dan verifikasi karbon, pembagian manfaat (benefit

sharing), serta partisipasi komunitas lokal. Berbagai tantangan tersebut semakin

sulit karena komitmen internasional terutama dalam pertemuan COP18 terbaru di

Doha belum mencapai konsensus yang konkret. Dalam fase kesiapan REDD+

(11)

11

Laos tidak hanya membutuhkan perhatian pada sektor kehutanan, namun juga harus memastikan bahwa public dan pemangku kepentingan utama lainnya memahami proposal REDD+ dan mengkoordinasikan kegiatan sesuai dengan pedoman REDD+. Langkah-langkah untuk melindungi hutan dari degradasi dan kerusakan perlu dilaksankanan. Namun, permasalahnnya adalah pemerintah malah membuat keputusan mengenai eksploitasi sumber daya alam untuk menghasilkan pembangunan ekonomi dan PDB. Tentunya, langkah tersebut menjadi bertentangan dengan program REDD+. Kementerian Laos saat ini masih kekurangan sumber daya (terutama staf dan kapasitas). Hal seperti itu menjadi penghambat suksesnya pelaksaan program REDD+ di Laos.

Ketiga, Penelitian oleh Dian Wahyudin pada tahun 2016 yang berjudul Strategi Konsep Ekonomi Hijau sebagai Sustainable Development Goals di Indonesia. 18 Penelitian ini menjelaskan dalam pembangunan berwawasan lingkungan, pertumbuhan ekonomi diharuskan untuk berjalan bersamaan dengan kelestarian lingkungan. Peralihan menuju paradigma pertumbuhan ekonomi hijau ini harus ada harmonisasi antara pemerintah, masyarakat dan pihak swasta. Tidak lagi mengeksploitasi lingkungan hanya demi keuntungan sesaat tanpa memikirkan generasi yang akan dating dikarenakan lingkungan yang sudah tidak hijau lagi.

Sustainable development dianggap sebagai pembangunan yang memenuhi kebutuhan masa sekarang tanpa mengorbankan hak pemenuhan kebutuhan- kebutuhan generasi di masa depan. Di dalamnya terdapat konsep penting yakni,

18

Dian Wahyudin, Strategi Konsep Ekonomi Hijau sebagai Sustainable Development Goals di

Indonesia, Jurnal, Volume 3, No. 1 (Feb 2016), Institut Ilmu Sosial dan Manajemen STIAMI,

dalam http://www.stiami.ac.id/jurnal/download/139/strategi-konsep-ekonomi-hijau-sebagai--

suistainable-development-goals-di-indonesia, (12 Desember 2017 17.03 WIB)

(12)

12

konsep kebutuhan fundamental untuk keberlanjutan kehidupan manusia dan konsep keterbatasan yang bersumber pada kondisi teknologi dan organisasi sosial terhadap kemampuan lingkungan untuk memenuhi kebutuhan kini dan masa depan. Lebih lanjut, Dian menjelaskan jika pada intinya pembangunan berkelanjutan adalah suatu pross perubahan yang di dalamnya, seluruh aktivitas seperti eksploitasi sumber daya, arah investasi, orientasi pengembangan teknologi, dan perubahan kelembagaan berada dalam keadaan yang selaras serta meningkatkan kapasitas masa kini dan masa depan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan manusia. Jadi, tujuan pembangunan ekonomi dan sosial harus dilakukan secara berkelanjutan.

Keempat, jurnal yang ditulis oleh Dian Agung Wicaksono dan Ananda Prima Yurista yang berjudul Konservasi Hutan Partisipatif Melalui REDD+

(Studi Kasus Kalimantan Tengah Sebagai Provinsi Percontohan REDD+). 19 Penelitian ini menjelaskan bahwa mekanisme REDD+ dipilih sebagai mekanisme alternatif yang menawarkan konsep dengan upaya konservasi hutan dengan adanya insentif ekonomi atas besarnya karbon yang mampu dijaga sejalan dengan lestarinya suatu kawasan hutan atau lahan gambut. Provinsi Kalimantan Tengah dengan insiasi implementasi REDD+ telah memperoleh pencapaian ditunjuk oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono sebagai pilot province implementasi REDD+ di Indonesia. Provinsi Kalimantan Tengah ditunjuk sebagai provinsi

19

Dian Agung Wicaksono dan Ananda Prima Yurista, Konservasi Hutan Partisipatif Melalui

REDD+ (Studi Kasus Kalimantan Tengah Sebagai Provinsi Percontohan REDD+), Jurnal, Vol. 1,

No. 2 (Agustus 2013), Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada, dalam

http://download.portalgaruda.org/article.php?article=366438&val=8308&title=Konservasi%20Hut

an%20Partisipatif%20Melalui%20REDD+%20(Studi%20Kasus%20Kalimantan%20Tengah%20S

ebagai%20Provinsi%20Percontohan%20REDD+), (24 Desember 2016 18.45 WIB).

(13)

13

percontohan REDD+ di Indonesia dengan melihat rekam jejak perjalanan Provinsi Kalimantan Tengah dalam menjaga kelestarian kawasan hutan dan lahan gambut yang terdapat di sana. Komitmen tersebut terlihat dalam visi misi pro lingkungan yang dilakukan oleh jajaran Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah yang peduli dengan lingkungan dan melibatkan partisipasi aktif dari masyarakat, khususnya masyarakat sekitar hutan.

Selanjutnya penelitian ini menjelaskan bahwa dengan adanya implementasi dari REDD+ dalam mekanisme pengelolaan hutan di Provinsi Kalimantan Tengah, maka terjadi pergeseran pola pikir dan cara pandang masyarakat sekitar hutan, bahwa masyarakatlah yang menjadi garda terdepan dalam menjaga kelestarian hutan. Dengan begitu, manfaat yang diperoleh bukan hanya kelestarian hutan, namun juga pemberdayaan masyarakat sekitar hutan melalui berbagai program swadaya yang memberikan insentif ekonomi dan peningkatan kesejahteraan bagi masyarakat di sekitar hutan.

Kelima, skripsi dari Fatchur Rozi yang berjudul Implementasi Program Ecoutourism Development dalam Kerjasama Heart of Borneo Terhadap Pelestarian Hutan Kawasan Jantung Borneo. 20 Dalam penelitian ini lebih menekan kan pada Strategic Plan of Action yang ada di kawasan Hob dan berfokus pada pembangunan social dan ekonomi masyarakat yang ada di kawasan jantung Borneo, dengan membuat perencanaan pemanfaatan. Kawasan hutan di sini adalah sebagai salah satu dari kegiatan ekowisata yang di jadikan sebagai

20

Fatchur Rozi, 2016, Implementasi Program Ecoutourism Development dalam Kerjasama Heart

of Borneo Terhadap Pelestarian Hutan Kawasan Jantung Borneo, Skripsi, Malang: Ilmu

Hubungan Internasional, Universitas Muhammadiyah Malang.

(14)

14

tujuan inisiatif Hob yang juga melibatkan Lembaga internasional dan negara lain yang telah di laksanakan sejak tahun 2007-2015.

Dalam pelaksanaan program ini, setiap negara dituntut untuk melakukannya sesuai dengan inisiatif suatu negara tersebut. Hal ini di dasari pada karakteristik wilayahnya yang terletak berbeda dan memiliki potensi-potensi alam yang berbeda pula, walaupun dilakukan bedasarkan cara masing-masing negara tetap terikat dalam pencapaian tujuan yang sama. Tujuan program Ecotourism Development yaitu untuk memperkenalkan dan menjaga nilai-nilai tempat atau situs kebudayaan yang bersejarah dana lam yang ada di dalam kawasan Borneo.

Serta konsep yang di pakai dalam penelitian ini adalah Green Economy dan Ecotourism yang bertujuan untuk melestarikan lingkungan dan membantu perekonomian program-program tersebut.

Penelitian terdahulu yang keenam yaitu skripsi dari Marisa Miftakhul Jannah yang berjudul Pencapaian Kepentingan Nasional Indonesia Melalui Indonesia-Australia Forest Carbon Partnership (IAFCP) (Studi Pada Proyek Kalimantan Forest and Climate Partnership). 21 Marisa menyatakan jika REDD+

merupakan mekanisme baru untuk mengurangi emisi dari deforestasi dan degradasi hutan yang belum memiliki mekanisme secara resmi dari tingkat internasional. REDD+ adalah salah satu upaya masyarakat internasional untuk menerapkan konsep pembangunan berkelanjutan agar maraknya pembangunan di seluruh negara di dunia tidak menambah kerusakan dan pencemaran lingkungan.

21

Marisa Miftakhul Jannah, Pencapaian Kepentingan Nasional Indonesia Melalui Indonesia-

Australia Forest Carbon Partnership (IAFCP) (Studi Pada Proyek Kalimantan Forest and

Climate Partnership), Skripsi, Malang: Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Muhammadiyah

Malang.

(15)

15

Indonesia telah berhasil mengurangi emisi karbon di hutan tempat dilakukannya uji coba REDD+ meskipun jumlah emisi Gas Rumah Kaca (GRK) mengalami ketidakstabilan, namun telah terjadi penurunan dengan presentase sekitar 33%

dibandingkan sebelum ada proyek Kalimantan Forest and Climate Partnership (KFCP).

Marisa menyimpulkan jika pencapaian kepentingan nasional Indonesia untuk mengurangi emisi melalui IAFCP dengan berbagai kegiataan inti maupun pendukung yang dilaksanakan adalah baik dan memuaskan. Jika terjadi kekurangan selama menjalankan program, hal tersebut adalah wajar karena ini merupakan mekanisme yang baru untuk bisa dijadikan pelajaran kedepannya.

Terdapat persamaan antara penelitian Marisa dengan penelitian yang penulis buat yakni sama-sama membahas mengenai program REDD+, namun ada perbedaan antara kedua penelitian yakni penelitian Marisa hanya membahas REDD+ sebagai data pendukung, bukan sebagai bahasan utama karena lebih berfokus kepada IAFCP, sedangan penelitian penulis membahas REDD+ sebagai topik utama.

Selain itu, ada perbedaan konsep yang digunakan untuk menjawab rumusan masalah, yakni Marisa menggunakan konsep pembangunan berkelanjutan dan kepentingan nasional, sedangkan penulis menggunakan konsep ekonomi hijau.

Penelitian yang terakhir yaitu skripsi oleh Ika Raudini Hayati yang berjudul Implementasi “Inisiatif Heart of Borneo” dalam Peningkatan Kualitas Lingkungan, Sosial, Ekonomi di Kalimantan Timur. 22 Ika menjelaskan bahwa,

22

Ika Raudini Hayati, 2018, Implementasi “Inisiatif Heart of Borneo” dalam Peningkatan

Kualitas Lingkungan, Sosial, Ekonomi di Kalimantan Timur, Skripsi, Malang: Ilmu Hubungan

Internasional, Universitas Muhammadiyah Malang.

(16)

16

hilangnya potensi keanekaragaman hayati menyebabkan penurunan fungsi hutan yang dikarenakan pengelolaan lingkungan yang kurang bijaksana serta pengalihan terhadap fungsi hutan. Aktivitas ekonomi di kawasan hutan seperti pertambangan dan perkebunan memberikan hasil yang sangat signifikan kepada masyarakat, namun di sisi lain eksploitasi hutan juga terjadi. Sebagai perwujudan untuk memperbaiki pengelelolaan hutan dengan konsep konservasi dan pembangunan berkelanjutan dalam program manajemen hutan maka dibentuklah inisiatif Heart of Borneo (HoB). Inisiatif HoB ini merupakan komitmen antara Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam yang termasuk di dalam wilayah HoB yang bertujuan untuk mempromosikan pembangunan berkelanjutan. Inisiatif HoB membentuk kelompok kerja tingkat nasional, provinsi hingga daerah.

Hob bekerja sama dengan World Wide Fund (WWF) dan The Borneo Initiative (TBI) untuk meningkatkan kualitas lingkungan, sosial, dan ekonomi di kawasan HoB. WWF dan TBI menjadi mitra pemerintah yang dapat mendorong pihak swasta untuk memperoleh sertifikat Forest Stewardship Council (FSC) dan menjalankan aktivitas ekonominya dengan prinsip sustainable forest management, yakni aktivitas ekonomi dapat berjalan terus tanpa merusak lingkungan dan berdampak pada pemenuhan sosial masyarakat setempat.

Selanjutnya Ika menjelaskan jika, selain memberikan peningkatan

terhadap lingkungan, inisiatif HoB juga memberikan peningkatan kapasitas sosial

yang mengacu pada peningkatan kapasitas sumber daya manusia di kawasan HoB

Kaltim seperti melalui kerjasama yang dibangun WWF dan juga masyarakat yang

berada di sekitar lokasi wisata, adapun pembentukan kelompok sadar wisata yang

(17)

17

didorong oleh WWF yakni kelompok sadar wisata Bangen Tawai, Kecamatan Long Bagan, Kabupaten Mahakam Ulu, Kelompok Sadar Wisata Embau Blaam, Kecamatan Long Pahangai, dan lain-lain. Pemerintah Kaltim berperan sebagai aktor sentral dan bertindak sebagai penanggung jawab dalam pelaksanaan HoB dilingkup provinsi. Persamaan pelitian Ika dengan penelitian penulis adalah sama- sama membahas mengenai isu lingkungan dan pembangunan berkelanjutan.

Perbedaannya berada pada fokus kajian yakni Ika fokus pada HoB dan penulisa fokus pada program REDD+. Konsep yang digunakan juga berbeda, yang mana Ika menggunakan konsep sustainable development dan penulis menggunakan konsep ekonomi hijau.

Tabel 1.1 Tabel Posisi Penelitian No. Nama/Judul Penelitian Teori/Konsep,

Metodologi

Hasil

1. Eko

Novrialdi/Kepentingan Norwegia Mendukung Program Reducing

Emission From

Deforestation and Degradation di Hutan Amazon Peru Tahun 2014

-Kepentingan Nasional Donald E.

Nuchterlain -Deskriptif analitis

1. Norwegia memberikan insentif senilai $300 juta kepada Peru dengan imbalan karbon agar Norwegia bias memenuhi kepentingan nasionalnya.

Norwegia perlu agar

kegiatan industri dan

eksplorasi minyaknya tetap

berjalan untuk menghindari

(18)

18

kerugian tanpa harus menurunkan emisi karbon negaranya.

2 2.

Thongmanivong, Sithong, Khamla Panvilay, and Thoumthone

Vongvisouk/How Laos Is Moving with REDD+

Schemes

- Kerjasama Internasional - Deskriptif

1. Implementasi REDD+ di Laos berjalan lambat karena faktor internal dan eksternal seperti permasalahan mengenai pengaturan kelembagaan, metode yang tepat untuk penghitungan laporan dan verifikasi karbon, pembagian manfaat (benefit sharing), serta partisipasi komunitas lokal.

2. Kementerian Laos kekurangan sumber daya (terutama staf dan kapasitas) untuk dapat mengembangkan program REDD+.

3 3.

Dian Wahyudin/Strategi Konsep Ekonomi Hijau

-Green Economy

1. Pembangunan

berwawasan lingkungan

(19)

19

sebagai Sustainable Development Goals di Indonesia.

-Sustainable Development

mengharuskan

pertumbuhan ekonomi yang berjalan secara bersamaan dengan kelestarian lingkungan.

2. Perubahan menuju paradigma pertumbuhan ekonomi hijau ini harus ada keselarasan antara pemerintah, masyarakat dan pihak swasta. Tidak lagi mengeksploitasi lingkungan hanya demi keuntungan sesaat tanpa memikirkan generasi yang akan datang dikarenakan lingkungan yang sudah tidak hijau lagi.

4 4.

Dian Agung Wicaksono dan Ananda Prima Yurista/Konservasi Hutan Partisipatif Melalui REDD+ (Studi Kasus

-Green Economy

1. Adanya implementasi

dari REDD+ dalam

mekanisme pengelolaan

hutan di Provinsi

Kalimantan Tengah, maka

(20)

20

Kalimantan Tengah Sebagai Provinsi Percontohan REDD+)

terjadi pergeseran pola pikir dan cara pandang masyarakat sekitar hutan.

2. Masyarakat menjadi garda terdepan dalam menjaga kelestarian hutan.

Dengan begitu, manfaat yang diperoleh bukan hanya kelestarian hutan, namun juga pemberdayaan masyarakat sekitar hutan melalui berbagai program swadaya yang memberikan insentif ekonomi dan peningkatan kesejahteraan bagi masyarakat di sekitar hutan.

5 5.

Fatchur

Rozi/Implementasi

Program Ecoutourism Development Dalam Kerjasama Heart of Borneo Terhadap

-Green Economy -Ecotourism

1. Strategic Plan of Action yang ada di kawasan Hob

berfokus pada

pembangunan sosial dan

ekonomi masyarakat yang

ada di kawasan jantung

(21)

21

Pelestarian Hutan Kawasan Jantung Borneo

Borneo.

2. Bentuk pembangunan ekonomi hijau dapat berperan dalam pelestarian hutan Borneo, program tersebut dapat memajukan perekonomian negara yang berbasis lingkungan hidup untuk mencegah kerusakan hutan Borneo.

6 6.

Marisa Miftakhul Jannah/Pencapaian

Kepentingan Nasional Indonesia Melalui Indonesia-Australia Forest Carbon Partnership (IAFCP) (Studi Pada Proyek Kalimantan Forest and Climate Partnership)

-Sustainable Development -Kepentingan Nasional -Deskriptif

1. REDD+ adalah salah satu upaya masyarakat internasional untuk menerapkan konsep pembangunan

berkelanjutan agar maraknya pembangunan di seluruh negara di dunia tidak menambah kerusakan

dan pencemaran

lingkungan.

2. Indonesia telah berhasil

mengurangi emisi karbon

(22)

22

di hutan tempat dilakukannya uji coba REDD+.

7 7.

Ika Raudini Hayati/

Implementasi “Inisiatif Heart of Borneo” dalam Peningkatan Kualitas Lingkungan, Sosial, Ekonomi di Kalimantan Timur.

-Sustainable Development -Deskriptif

1. Pemerintah Kaltim membentuk Green Growth Compact (GGC) untuk menaikkan status surat edaran penundaan izin pertambangan.

2. Ekowisata berbasis masyarakat (community based ecotourism) mampu memberikan peningkatanan kesejahteraan sosial-

ekonomi kepada

masyarakat.

8 8.

Jiehan Nila Azhari/

Implementasi Program REDD+ untuk

Mewujudkan Ekonomi Hijau di Kawasan Taman Nasional Sebangau Kalimantan Tengah.

-Green Economy -Deskriptif

1. Melakukan restorasi

lahan gambut yang rusak

dengan penabatan untuk

menciptakan prakondisi

lingkungan yang baik

untuk regenerasi hutan

gambut dan fungsi

(23)

23

hidrologis hutan rawa gambut Taman Nasional Sebangau.

2. Melakukan upaya bersinergi terhadap pengembangan ekonomi masyarakat di sekitar kawasan konservasi, seperti pembentukan kelompok kegiatan pemberdayaan masyarakat terkait eko- wisata TN Sebangau.

1.5 Kerangka Teori/Konsep

1.5.1 Konsep Ekonomi Hijau (Green Economy)

Menurut Robyn Eckersley, perspektif politik hijau muncul akibat adanya perdebatan antara pemikir antroposentris dengan pemikir ekosentris. 23 Ekosentris berpendapat jika ekonomi hijau muncul sebagai konsekuensi perkembangan peradaban. Ekosentris berusaha mematahkan pendapat antroposentris jika sebenarnya manusia bisa hidup berdampingan. Lalu, Andrew Dobson berpendapat

23

Yuni Andono Achmad, 2015, Ekonomi Hijau: Integrasi Paradigma Berkelanjutan dalam

Pembangunan Nasional, hal. 34, dalam

http://yuniando.staff.gunadarma.ac.id/Publications/files/3599/Ekonomi+Hijau.pdf, (28/03/2020

18.30 WIB)

(24)

24

jika manusia seharusnya memahami tentang pembatasan pertumbuhan (limit to growth) karena krisis lingkungan sebenarnya adalah dampak dari pertumbuhan ekonomi. Karena cepatnya industrialisasi, bahan pangan menipis sedangkan jumlah populasi manusia meningkat dan bumi semakin tidak mampu menampung limbah yang dihasilkan pabrik atau kegiatan manusia lainnya. 24

Namun bagaimanapun, industrialisasi dan globalisasi adalah sesuatu yang tidak dapat terhindarkan. Jika disikapi dengan benar, manusia dapat mengambil peluang. Untuk itu diperlukan struktur politik yang berpihak kepada lingkungan.

Di ranah itu, para institusionalis berpandapat jika diperlukan adanya campur tangan dari pihak berwenang (legitimate institution) yang mempunyai kapasitas untuk membuat aturan atau kesepakatan bersama untuk mencegah terjadinya krisis lingkungan. Institusionalis dalam posisi dan hubungannya dengan krisis lingkungan, mereka adalah masyarakat yang optimis yang bergerak bersama untuk membangun sebuah rezim, komitmen, aturan dan kelembagaan yang dapat mencegah atau memperbaiki krisis lingkungan sebagai dampak dari globalisasi.

Sedangkan Konsep ekonomi hijau muncul sebagai strategi operasional pembangunan ekonomi. Ekonomi hijau merupakan konsep pembangunan berkelanjutan dan paradigma baru yang menawarkan sistem pembangunan tanpa mengorbankan ekosistem. 25 Konsep ekonomi hijau menjadi paradigma dalam pembangunan berkelanjutan yang sangat penting dalam menanggulangi dampak

24

Ibid.

25

Herman Daly, 2007, Ecological Economics and Sustainable Development, UK: Edward Elgar

Publishing Limited.

(25)

25

perubahan iklim yang terjadi. Ekonomi hijau dianggap menjadi jawaban dari ekonomi coklat yang dipandang tidak ramah terhadap lingkungan. 26

Konsep ekonomi hijau dipadang paling ideal dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan tetap menyelamatkan lingkungan. 27 Pembangunan ekonomi yang tidak memperhatikan kelestarian lingkungan tidak hanya akan menyebabkan kerusakan dan merugikan, tetapi juga berdampak buruk untuk masa mendatang. Pendekatan ekonomi hijau dianggap sebagai win-win solution untuk mengakhiri perdebatan determinan atau penentu kebijakan yang tak berujung tentang pelestarian lingkungan dan pertumbuhan ekonomi. Bisa dikatakan jika ekonomi hijau adalah model pembangunan ekonomi yang berdasar pada pengetahuan ecological economic dan green economic yang bertujuan untuk menjawab saling ketergantungan antara ekonomi dan ekosistem serta dampak negatif akibat kegiatan ekonomi seperti perubahan iklim dan pemanasan global.

Ekonomi hijau sangat krusial untuk diterapkan di sektor kehutanan, hal ini karena pentingnya pengelolaan hutan yang berkelanjutan untuk keperluan manusia. Hutan Indonesia juga sudah mengalami degradasi dan deforestasi.

Sekitar lebih dari 48 juta orang menggantungkan hidupnya pada hutan, hutan adalah sumber penghidupan. Selain itu, sektor kehutanan mempunyai peranan penting pada peningkatan devisa negara, penyerapan tenaga kerja, dan nilai

26

Uwe Deichman, seorang senior analis lingkungan mendefinisikan ekonomi coklat adalah kegiatan ekonomi yang memproduksi banyak karbon, menggunakan energi secara tidak efisien (boros), masih menggunakan energi berbahan dasar fosil dan tidak memperhatikan efek dari kegiatan produksi ekonomi dan konsumsi terhadap lingkungan. dalam Sonny Mumbunan, Ekonomi Hijau dan Pemerintahan Bersih, dalam www.perspektifbaru.com, (1 Juni 2017 10.09 WIB).

27

Bappenas, Ekonomi Hijau: Sintesa dan Memulainya, dalam

https://www.bappenas.go.id/files/6714/1170/7264/006630_buku_green_eco_ap150_2muka_17buk

u.pdf (26 Agustus 2017 09.07 WIB).

(26)

26

tambah pertumbuhan ekonomi yang dihasilkan dari kayu dan non-kayu. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan tiga indikator ekonomi hijau antara lain: 28 (1) Adanya kontribusi sektor kehutanan dalam perubahan iklim, (2) Adanya pengelolaan sumberdaya hutan lestari atau berkelanjutan, (3) Adanya penyedian jasa lingkungan lainnya (selain emisi GRK penyebab perubahan iklim).

Berbagai kegiatan yang ada di kawasan Taman Nasional Sebangau sejalan dengan tiga indikator kebijakan pelaksanaan ekonomi hijau di sektor kehutanan yang telah disebutkan di atas. Pertama, adanya kontribusi sektor kehutanan dalam perubahan iklim. Dalam hal ini, di kawasan Taman Nasional Sebangau dilakukan restorasi lahan gambut yang rusak akibat pembalakan liar dan kebakaran lahan gambut dengan penabatan untuk menciptakan lingkungan yang baik untuk regenerasi hutan gambut. Restorasi lahan gambut ini penting sebagai salah satu upaya mengatasi pemanasan global karena ekosistem gambut yang selalu basah dapat menghambat lepasnya emisi gas rumah kaca yang dapat memperburuk pemanasan global.

Pertumbuhan alami mulai terjadi sehingga area yang tandus atau gundul kembali hijau dibandingkan sebelumnya. Program penghijauan melalui studi vegetasi (untuk memilih jenis pohon yang cocok untuk rehabilitasi), pengerasan tanaman, dan penanaman pohon dilakukan untuk mempercepat proses revegetasi.

Selain revegatsi, kegiatan monitoring restorasi melalui penutupan saluran air

28

Deputi Bidang Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup, Prakarsa Strategis Pengembangan

Konsep Green Economy, dalam

https://www.bappenas.go.id/files/6714/1170/7264/006630_buku_green_eco_ap150_2muka_17buk

u.pdf, hal. 50, (12 Agustus 2018 13.20 WIB).

(27)

27

dilakukan untuk memastikan bahwa daerah dekat saluran air tersebut aman dari api.

Kedua, adanya pengeloaan sumberdaya hutan berkelanjutan. Di Kawasan TN Sebangau ada kegiataan penabatan saluran parit atau kanal yang bertujuan untuk memperbaiki fungsi hidrologis hutan rawa gambut. Tabat atau kanal tersebut dibangun untuk mengatur arus air keluar dan dimanfaatkan oleh nelayan untuk mencari ikan. Sekarang, di TN Sebangau sudah ada 70 lebih tabat (canal blocking) di lebih dari 60 kanal atau saluran air. Penutupan saluran air atau penabatan adalah cara untuk menaikkan permukaan air bawah tanah (ground water level), sehingga dapat menjaga kelembaban tanah pada musim kemarau dan mencegah terjadinya kebakaran hutan.

Ketiga, adanya penyediaan jasa lingkungan (selain emisi GRK). Hutan

merupakan penyedia berbagai keragaman hayati maupun ekosistem yang

menyokong proses sosial budaya masyarakat yang ada di sekitarnya. Sumberdaya

hutan memang memiliki manfaat langsung dan tidak langsung, serta tangible

maupun intagible yang mendukung keberlangsungan hidup manusia. Beberapa

jenis jasa lingkungan yakni, jasa lingkungan keindahan (landscape) dan jasa

lingkungan keanekaragaman hayati. Dalam indikator ini, Taman Nasional

Sebangau menyediakan ekowisata seperti kegiatan menyusuri sungai hitam di TN

Sebangau untuk mengamati satwa dan tumbuhan, menyusuri jalur reptil dan satwa

liar lainnya. Selain itu, sesuai keputusan Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam

dan Ekosistem Nomor SK.180/IV-KKH/2015, Balai TN Sebangau adalah salah

satu satuan kerja yang mempunyai tanggung jawab meningkatkan 25% populasi

(28)

28

spesies Orangutan Kalimantan (Pongo Pygmaeus Wurmbii) yang terancam punah di TN Sebangau.

Lalu, jika mengacu pada konsep kegiatan ekonomi hijau REDD+, pelaksanaan ekonomi hijau bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal maupun sekitar hutan karena masyarakat dilibatkan secara langsung dalam berbagai program swadaya penjagaan dan pengelolaan hutan yang berarti kegiatan tersebut pro-poor, pro-growth dan pro-environmental sesuai dengan prinsip ekonomi hijau yang telah dijelaskan. Berbagai kegiatan yang telah dijelaskan di atas menujukkan bahwa kegiatan di TN Sebangau adalah kegiatan berbasis green economy yang mana pengelolaan sumber daya alam tetap memperhatikan keberlanjutan lingkungan hidup dan juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar kawasan hutan karena masyarakat mempunyai andil secara langsung dalam berbagai kegiatan pengelolaan hutan, reforestasi, rehabilitisasi lahan gambut sampai pengembangan ekowisata di kawasan TN Sebangau.

1.6 Metodologi Penelitian 1.6.1 Tipe Penelitian

Tipe penelitian yang digunakan dalam skripsi ini yaitu tipe penelitian

deskriptif. Penelitian deskriptif sendiri merupakan metode dalam meneliti status

sekelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu pemikiran, ataupun

suatu peristiwa pada masa sekarang. Penelitian deskriptif bertujuan untuk

(29)

29

mendeskripsikan fakta dan hubungannya dengan fenomena yang dikaji secara sistematis, faktual, dan akurat. 29

1.6.2 Teknik Pengumpulan Data

Skripsi ini menggunakan dua teknik pengumpulan data yakni wawancara dan kepustakaan. Teknik wawancara yang dilakukan adalah wawancara dengan narasumber pendukung penelitian ini yakni wawancara dengan petugas Taman Nasional Sebangau, Kalimantan Tengah. Penelitian ini juga menggunakan teknik kepustakaan yakni dengan melakukan pencarian literatur, baik dalam bentuk buku, e-book, jurnal, maupun berita dan artikel dari internet, yang berkaitan dengan isu di penelitian ini sebagai penguat serta pelengkapan asumsi atau fakta yang ada.

1.6.3 Ruang Lingkup Penelitian 1.6.3.1 Batasan Waktu

Batasan waktu digunakan oleh peneliti agar fokus pada rentang waktu agar penelitian tidak jauh dari bahasan yang dikaji. Dalam penelitian ini, peneliti akan menetapkan batasan waktu penelitian yakni pada tahun 2011 hingga 2018. Pada September 2011 digunakan karena program REDD+ mulai disiapkan untuk diimplementasikan di Indonesia dalam memprioritaskan alam untuk ekonomi hijau. Selain itu mulai tahun 2011 REDD+ diinisiasi di Indonesia yakni di

29

Moh. Nasir, 2011, Metode Penelitian, Bogor: Penerbit Ghalia Indonesia. Hal 84-85.

(30)

30

Provinsi Kalimantan Tengah sebagai provinsi percobaan pertama termasuk di TN Sebangau.

1.6.3.2 Batasan Materi

Dalam penelitian ini, peneliti akan membatasi materi penelitian yang akan berfokus pada implementasi kegiatan ekonomi hijau melalui salah satu proyek REDD+ di Indonesia yakni di kawasan hutan Taman Nasional Sebangau Kalimantan Tengah.

1.7 Argumen Sementara

Indonesia turut berperan aktif dalam mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (GRK) yang disebabkan oleh deforestasi serta degradasi hutan dan lahan gambut dengan menjanjikan pengurangan emisi gas sebesar 26% dengan upaya sendiri 41% dengan bantuan komunitas Internasional pada tahun 2020. Dalam kasus ini, Pemerintah sebagai salah satu legitimate institution sadar jika diperlukan tindakan dan pengambilan keputusan untuk mengatasi krisis lingkungan yang dihadapi Indonesia seperti kerusakan dan degradasi hutan. Pemerintah Indonesia mempunyai peran penting untuk membuat kebijakan-kebijakan yang pro- environment. Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden SBY melakukan beberapa langkah besar dan menunjukkan komitmennya dalam upaya mengatasi perubahan iklim dan krisis lingkungan. Salah satunya adalah Presiden SBY menyatakan komitmennya untuk mengurangi emisi GRK 26%-41% di KTT G20.

Komitmen tersebut mendapatkan sambutan baik dari pemerintah Norwegia.

(31)

31

Puncaknya, Pemerintah Republik Indonesia dan Kerajaan Norwegia sepakat menandatangani Surat Niat (Letter of Intent) REDD+ Pada tanggal 26 Mei 2010.

Atas usahanya tersebut, Presiden SBY mendapatkan banyak penghargaan salah satunya adalah dari PBB yakni “Champions of The Earth” dalam bidang “policy leadership” karena dinilai telah berhasil menjalankan program pembangunan berkelanjutan dan berhasil mensinergikan pembangunan ekonomi dengan pelestarian lingkungan.

Dari sisi pemerintah daerah, Provinsi Kalimantan Tengah menunjukkan keseriusan dalam mengatasi kerusakan hutan dan gambut melalui kebijakan seperti green province dari program green government policy yang dibuat. Karena hal itu, Provinsi Kalimantan Tengah terpilih menjadi daerah percontohan atau pilot province pelaksaan REDD+ di Indonesia. Melalui salah satu proyek REDD+

bersama WWF di Kalimantan Tengah yakni di Taman Nasional Sebangau,

implementasi ekonomi hijau berpeluang besar untuk diwujudkan. Dalam

implementasinya REDD+ mengedepankan peran serta masyarakat sekitar hutan

dan diikut sertakan dalam kegiatan pelestarian hutan. Dengan begitu akan didapat

manfaat bukan hanya kelestarian hutan yang berkelanjutan, namun juga

pemberdayaan masyarakat sekitar hutan melalui berbagai program swadaya yang

memberikan insentif ekonomi dan peningkatan kesejahteraan bagi masyarakat

masyarakat sekitar hutan. Di TN Sebangau sendiri masyarakat sekitar hutan

dilibatkan secara langsung dalam berbagai kegiatan pengeloaan hutan maupun

pengembangan ekowisata. Contohnya seperti, pada tahun 2014 WWF

memberikan pelatihan kepemanduan dan metode pengamatan orangutan,

(32)

32

mengajak masyarakat untuk mengenali jenis-jenis tumbuhan dan karakteristik gambut. Harapannya, agar masyarakat sekitar menjadi pelaku utama wisata TN Sebangau.

Selain itu, di Punggualas (salah satu destinasi utama di TN Sebangau) telah dibentuk Simpul Ekowisata yang merupakan kelompok yang beranggotakan masyarakat desa di sekitar kawasan yang berfokus pada kegiatan wisata. Kegiatan yang sudah dilakukan masyarakat terkait pengelolaan wisata di Punggualas adalah penyedia jasa transportasi, guide (pemandu), dan porter yang juga dibekali pelatihan berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris.

Berbagai kegiatan yang ada di kawasan Taman Nasional Sebangau sejalan dengan tiga kebijakan pelaksanaan ekonomi hijau di sektor kehutanan yang telah disebutkan di atas. Pertama, adanya kontribusi sektor kehutanan dalam perubahan iklim. Dalam hal ini, di kawasan Taman Nasional Sebangau dilakukan restorasi lahan gambut yang rusak akibat pembalakan liar dan kebakaran lahan gambut dengan penabatan untuk menciptakan prakondisi lingkungan yang baik untuk regenerasi hutan gambut. Restorasi lahan gambut ini penting sebagai salah satu upaya mengatasi pemanasan global karena ekosistem gambut yang selalu basah dapat menghalangi lepasnya emisi gas rumah kaca yang dapat memperburuk pemanasan global.

Pertumbuhan tanaman hijau mulai terjadi di area tandus atau gundul

setelah dilakukan revegetasi hutan, program penghijauan melalui studi vegetasi

(untuk memilih jenis pohon yang cocok untuk rehabilitasi), pengerasan tanaman,

dan penanaman pohon. Monitoring restorasi dilakukan juga dengan menabat

(33)

33

saluran air agar daerah dekat saluran air tersebut aman dari api, tidak seperti pada tahun 2005 dan tahun-tahun sebelumnya.

Kedua, adanya pengeloaan sumberdaya hutan berkelanjutan. TN Sebangau juga melakukan penabatan saluran parit atau kanal yang bertujuan untuk memperbaiki fungsi hidrologis hutan rawa gambut. Upayan untuk menaikkan permukaan air bawah tanah (groundwater) dilakukan dengan menutup saluran air hal tersebut juga bertujuan untuk menjaga kelembaban tanah pada musim kemarau dan mencegah terjadinya kebakaran hutan maupun lahan gambut.

Sebagai pilot percontohan dipilih saluran atau kanal milik eks Perusahaan Hak Pengusahaan Hutan (HPH) Sanitra Sebangau Indah (SSI). Tabat atau kanal dibuat untuk mengatur arus air keluar dan dapat dimanfaatkan nelayan untuk mencari ikan.. Sudah ada lebih dari 70 tabat yang dibangun di lebih dari 60 kanal atau saluran air di kawasan TN Sebangau.

Ketiga, penyediaan jasa lingkungan. Hutan merupakan penyedia berbagai keragaman hayati maupun ekosistem yang menyokong proses sosial budaya masyarakat yang ada di sekitarnya. Sumberdaya hutan memang memiliki manfaat langsung dan tidak langsung, serta tangible maupun intagible yang mendukung keberlangsungan hidup manusia. Beberapa jenis jasa lingkungan yakni, jasa lingkungan keindahan (landscape) dan jasa lingkungan keanekaragaman hayati.

Taman Nasional Sebangau juga menyediakan ekowisata seperti kegiatan

menyusuri sungai hitam di TN Sebangau untuk mengamati satwa dan tumbuhan,

menyusuri jalur reptil dan satwa liar lainnya. Ada 54 spesies ular, 15 jenis

mamalia, dan 185 jenis burung ditemukan di TN Sebangau. Selain itu, dalam

(34)

34

keputusan Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Nomor SK.180/IV-KKH/2015, Balai TN Sebangau adalah salah satu satuan kerja yang mempunyai tanggung jawab dalam meningkatkan 25% populasi spesies Orangutan Kalimantan (Pongo Pygmaeus Wurmbii) yang terancam punah di TN Sebangau. Melihat satwa tersebut secara langsung di habitatnya juga dapat dilakukan oleh wisatawan saat berkunjung ke TN Sebangau.

Berbagai kegiatan yang telah dijelaskan di atas menujukkan bahwa

kegiatan di TN Sebangau adalah kegiatan berbasis green economy yang mana

pengelolaan sumber daya alam tetap memperhatikan keberlanjutan lingkungan

hidup dan juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar kawasan

hutan karena masyarakat mempunyai andil secara langsung dalam berbagai

kegiatan pengelolaan hutan, reforestasi, rehabilitisasi lahan gambut sampai

pengembangan ekowisata di kawasan TN Sebangau. Maka dari itu dengan adanya

REDD+ dan berbagai program kegiatan berbasis ekonomi hijau di Kalimantan

Tengah terutama di TN Sebangau diharapkan bisa mengurangi emisi dari

deforestasi dan degradasi hutan, serta dapat memastikan manfaat tambahan terkait

dengan jasa ekosistem dan peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan.

(35)

35

1.8 Sistematika Penulisan

BAB JUDUL BAB SUB BAB PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Rumusan Masalah

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian

1.3.1 Tujuan Penelitian 1.3.2 Manfaat Penelitian 1.3.2.1 Manfaat Akademis 1.3.2.2 Manfaat Praktis 1.4 Penelitian Terdahulu 1.5 Kerangka Teori/Konsep 1.5.1 Konsep Ekonomi Hijau 1.6 Metode Penelitian 1.6.1 Tipe Penelitian

1.6.2 Ruang Lingkup Penelitian 1.6.2.1 Batasan Waktu

1.6.2.2 Batasan Materi 1.7 Argumen Sementara 1.8 Sistematika Penulisan BAB II REDD+ dan Kerusakan Hutan

di Kalimantan Tengah

2.1 REDD+ di Indonesia

2.1.1 Sejarah REDD+ di

Indonesia

(36)

36

2.1.2 Ruang Lingkup dan Startegi Nasional REDD+ di Indonesia 2.1.3 Proses Kebijakan REDD+ di Indonesia

2.1.4 Perangkat Hukum Pelaksanaan REDD+ di Indonesia 2.1.5 Pendanaan REDD+ di Indonesia

2.2 REDD+ dan Kaitannya dengan Ekonomi Hijau

2.3 Masalah Utama Kerusakan Hutan dan Lahan di Kalimantan Tengah

2.4 Inisiasi Proyek REDD+ di Provinsi Kalimantan Tengah BAB III Mewujudkan Ekonomi Hijau

Melalui Proyek REDD+ di Kawasan Taman Nasional Sebangau Kalimantan Tengah

3.1 Situasi dan Kondisi Taman Nasional Sebangau

3.1.1 Biodiversitas Taman Nasional Sebangau

3.1.2 Ekosistem Taman Nasional Sebangau

3.2 REDD+ di Taman Nasional

Sebangau

(37)

37

3.3 Pelaksanaan Green Economy Di Kawasan Hutan Taman Nasional Sebangau

3.3.1 Kontribusi Sektor Kehutanan dalam Perubahan Iklim

3.3.1.1 Restorasi Lahan Gambut di Taman Nasional Sebangau 3.3.1.2 Revegetasi Kawasan Taman Nasional Sebangau Melalui Kegiatan Adopsi Pohon 3.3.1.3 Reforestasi Hutan Taman Nasional Sebangau Melalui Program NEWtrees

3.3.2 Pengelolaan Sumber Daya Hutan Lestari atau Berkelanjutan 3.3.2.1 Konservasi Hutan

3.3.2.2 Restorasi Hidrologi Melalui Program Pembangunan 1000 Dam di Taman Nasional Sebangau

3.3.3 Pengadaan Jasa Lingkungan

Lainnya

(38)

38

3.3.3.1 Pemanfaatan Tanaman Lidah Buaya (Aloe Vera)

3.3.3.2 Kegiatan Eko-Wisata di Taman Nasional Sebangau

3.3.3.3 Pelestarian Orangutan Melalui Ekowisata

3.3.3.4 Pemberdayaan Masyarakat dalam Pengelolaan Kolaboratif Ekowisata Taman Nasional Sebangau

BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan

4.2 Saran

Gambar

Tabel  1.1 Tabel Posisi Penelitian   No.  Nama/Judul Penelitian  Teori/Konsep,

Referensi

Dokumen terkait

Saat ini HK telah melakukan perjanjian turnkey dengan Waskita Karya untuk Jalan Tol Akses Tanjung Priok, sehingga dana jalan tol tersebut dapat digunakan untuk

Berdasarkan hasil dan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran budaya Jepang melalui DVD Erin ga Chosen dapat meningkatkan pemahaman budaya Jepang

Menurut analisa peneliti hubungan faktor ibu dengan kejadian SC di RS Imanuel Bandar Lampung tahun 2014, seperti tabel 12 dari 317 persalinan yang sebagian besar

15 Pucakwangi BAGUS CAHYO KURNIAWAN UTOMO Drs... BAMBANG HERMANU HADI

Pengujian terhadap objek dengan latar belakang yang berbeda ini dimaksudkan untuk melihat sejauh mana latar belakang memberikan pengaruh terhadap proses deteksi

Perubahan Laju Pertumbuhan Harian Benih Ikan Gurame Selama Penelitian.. Perlakuan C = pakan dengan penambahan probiotik 10

1.1 Pengembangan Sistem Seleksi melalui Jalur PMDK (Penelusuran Minat dan Kemampuan) melalui Roadshow ke SMA Luar Pulau Jawa (Sumber Dana DRK). Hasil keluaran dari

Rangkaian photo- voltaic[12, 13] dan amplier ini lah yang akan menghasilkan suatu nilai tegangan yang besarnya sebanding dengan intensi- tas sinar laser yang keluar dari ujung ber