BAB I TUJUAN DAN FUNGSI PENDIDIKAN AGAMA KHONGHUCU SEBAGAI KOMPONEN
2. Argumen tentang Tantangan Pendidikan Agama Khonghucu
Pendidikan Agama Khonghucu memiliki prospek yang cerah dalam menyongsong masa depan seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dipandu oleh keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini terlihat dari makin semaraknya kehidupan beragama, seringnya dialog antarumat beragama, dan kerasnya reaksi masyarakat terhadap pelecehan-pelecehan ajaran agama.
Fenomena yang mungkin sering Anda temui, mengapa banyak orang yang sehari-hari berdoa, bersembahyang, bahkan melaksanakan upacara keagamaan, namun mereka tetap melakukan perbuatan tercela. Gambaran tersebut seakan-akan menyimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara ibadah dan perilaku sehari-hari atau ibadah tidak memberikan pengaruh terhadap perilaku yang terpuji. Apa pendapat Anda terhadap fenomena tersebut? Mengapa hal itu bisa terjadi?
Mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan, seyogianya Pendidikan Agama Khonghucu harus mampu menjawab tantangan-tantangan sebagai berikut:
a. Pendidikan agama harus mampu mendorong peserta didik untuk taat menjalankan ajaran agamanya dalam kehidupan sehari-hari dan menjadikan agama sebagai landasan etika dan moral dalam kehidupan pribadi, berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Hal ini sesuai dengan pasal 5 ayat 3. b. Pendidikan agama juga bertujuan mewujudkan keharmonisan, kerukunan, dan rasa hormat di antara sesama pemeluk agama yang dianut dan terhadap pemeluk agama lain. Hal ini sesuai dengan pasal 5 ayat 4.
c. Pendidikan agama menjadi sarana untuk membangun sikap mental peserta didik untuk bersikap dan berperilaku jujur, amanah, disiplin, bekerja keras, mandiri, percaya diri, kompetitif, kooperatif, tulus, dan bertanggung jawab. Hal ini sesuai dengan pasal 5 ayat 5.
d. Pendidikan agama diharapkan dapat menumbuhkan sikap kritis, inovatif, dan dinamis dalam diri peserta didik sehingga menjadi pendorong untuk memiliki kompetensi dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan/atau olahraga. Hal ini sesuai dengan pasal 5 Ayat 6.
e. Pendidikan agama diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, mendorong kreativitas dan kemandirian, serta menumbuhkan motivasi untuk hidup sukses. Hal ini sesuai dengan pasal 5 Ayat 7.
Pendidik yang baik akan menjadikan orang menyambung cita-citanya. Kata-kata yang diujarkan pendidik ringkas tetapi menjangkau sasaran. Kata-kata pendidik juga tidak mengada-ada tetapi dalam. Meskipun kata-kata pendidik mengandung sedikit gambaran namun mengena. Sesungguhnya mengajar merupakan setengah belajar. Ingatan dari awal sampai akhir hendaknya bertaut pada belajar. Dengan demikian
kebajikan pendidik akan terbina tanpa terasa. Seorang pendidik yang baik mengerti apa yang menyebabkan pendidikan berhasil dan berkembang. Pendidik juga mengerti apa yang menyebabkan pendidikan hancur. Cara mendidik yang baik adalah sebagai berikut:
a. Pendidik membimbing peserta didik berjalan, tetapi tidak menyeret yaitu untuk menumbuhkan keharmonisan.
b. Pendidik menguatkan peserta didik, tetapi tidak menjerakan yaitu untuk memberi kemudahan menyesuaikan diri dengan sikap dan adat istiadat yang baik.
c. Pendidik membuka jalan peserta didik, tetapi tidak menuntun sampai akhir pencapaian yaitu untuk menjadikan peserta didik berpikir.
Mendidik adalah menumbuhkan sifat-sifat baik peserta didik dan menolong dari kekhilafannya. Ada empat kekhilafan peserta didik yang wajib dipahami seorang pendidik, yaitu:
a. peserta didik khilaf karena terlalu banyak yang dipelajari; b. peserta didik khilaf karena terlalu sedikit yang dipelajari; c. peserta didik khilaf karena menggampangkan;
d. peserta didik khilaf karena ingin segera berhenti belajar.
Empat masalah itu timbul di hati yang tidak sama. Apabila diketahui ada masalah di hati peserta didik, pendidik akan menolong peserta didik dari kekhilafan itu. Tentu saja, pendidik perlu menunjukkan jalan yang sebaik-baiknya agar peserta didik dapat menjadi baik dalam perasaan, perkataan, dan perbuatannya.
Kini, di dalam mengajar kebanyakan pendidik membaca buku yang diletakkan dihadapannya. Setelah pendidik selesai membaca, ia memberi pertanyaaan atau tugas kepada peserta didik sebanyak-banyaknya. Pendidik hanya berbicara tentang berapa banyak pelajaran yang telah diberikan, tetapi tidak pernah memperhatikan apa yang telah dapat dihayati oleh peserta didiknya. Banyak pendidik menyuruh peserta didik dengan cara yang tidak tulus dan mengajar peserta didik tidak sepenuh kemampuannya. Cara mengajar seperti itu bertentangan dengan kebenaran dan yang belajar pun akan patah semangat. Dengan cara mengajar seperti itu, peserta didik akan putus asa dan tidak menyukai pendidiknya karena mereka dipahitkan dengan kesukaran, tetapi tidak mengerti apa manfaatnya. Biarpun tampaknya peserta didik dapat menyelesaikan tugas-tugasnya, tetapi dengan cepat akan melupakannya. Hal inilah yang menyebabkan kegagalan pendidikan.
Pendidikan agama haruslah berorientasi pada proses pembelajaran dan bukan pada hasil pembelajaran. Di dalam Kitab Mengzi VIIA: 40 dijelaskan bahwa seorang pendidik yang baik memiliki lima macam cara mengajar yaitu:
Anda dipersilakan mengajukan argumen tentang tantangan Pendidikan Agama Khonghucu. Cara mendidik seperti apa yang diperlukan agar dapat ditanamkan nilai-nilai moral yang tepat bagi mahasiswa sebagai bangsa Indonesia yang beragama Khonghucu? Apa tantangan-tantangan yang Anda hadapi dalam mengikuti Pendidikan Agama Khonghucu?
b. adakalanya ia menyempurnakan kebajikan peserta didiknya; c. adakalanya ia membantu perkembangan bakat peserta didiknya; d. adakalanya ia bersoal jawab;
e. adakalanya ia membangkitkan usaha peserta didik itu sendiri.
Peserta didik yang baik, bila pendidik lalai, ia melipatgandakan upaya belajarnya. Hasilnya ia dapat mengikuti pelajaran itu sebagaimana mestinya. Peserta didik yang tidak baik, bila pendidik bersungguh-sungguh, maka hasilnya hanya separuh saja yang dapat diikuti. Akibatnya ia akan menyesal. Oleh karena itu, di dalam belajar peserta didik yang baikadalah ia mengundurkan diri dari hal yang lain, mencurahkan segenap tenaga untuk belajar, tidak melupakan belajar meskipun saat istirahat, dan menghayati itu sebagai kesukaannya. Demikianlah ia sentosa bertekun dalam belajar dan berdekat dengan pendidik. Ia merasa bahagia di dalam jalan suci. Biarpun ia berpisah dari pendidik dan penolongnya, ia tidak melakukan hal-hal yang bertentangan. Di dalam belajar untuk mencapai cita-cita, orang perlu semangat yang didukung kerendahan hati, senantiasa memacu diri untuk tekun serta cekatan. Dengan demikian, akan datang pembinaan. Orang yang sungguh-sungguh menghargai hal ini, maka jalan suci itu akan berkumpul di dalam dirinya (Li Ji XVI.13- 18).
Anda dipersilakan mengajukan argumen tentang tantangan Pendidikan Agama Khonghucu. Cara mendidik seperti apa yang diperlukan agar dapat ditanamkan nilai-nilai moral yang tepat bagi mahasiswa sebagai bangsa Indonesia yang beragama Khonghucu? Apa tantangan-tantangan yang Anda hadapi dalam mengikuti Pendidikan Agama Khonghucu?