BAB III. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Pembahasan
1. Argumentasi Hukum Penuntut Umum dalam Dakwaan
Mencermati paparan kasus posisi, surat dakwaan serta requisitoir (surat tuntutan), selanjutnya peneliti akan menguraikan pembahasan sebagai berikut. Penyusunan argumentasi hukum penuntut umum suatu surat dakwaan yang baik adalah merupakan awal keberhasilan tugas penuntut umum dalam melakukan penuntutan, karena surat dakwaan menduduki posisi sentral dalam proses penyelesaian perkara pidana di Pengadilan.
Dikatakan menduduki posisi sentral, karena surat dakwaan menjadi dasar dan membatasi ruang lingkup pemeriksaan sidang pengadilan, dasar pembuktian, dasar tuntutan pidana, dasar putusan pengadilan dan dasar dalam melancarkan upaya hukum.
Perbuatan Pelaku KUHP
Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain.
Pasal 81 ayat (1)
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor
23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak.
commit to user
Setiap orang yang dengan sengaja melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain. Pasal 81 ayat (2) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak.
Barang siapa bersutubuhan dengan seorang wanita diluar pernikahan, padahal diketahui bahwa wanita itu dalam keadaan pingsan atau tidak berdaya.
Pasal 286 KUHP.
Gambar 2. Skematik Argumentasi Hukum Penuntut Umum
Mencermati paparan skematik Argumentasi hukum penuntut umum dalam dakwaan dan Requisitoir kasus Nomor Reg.Perkara:PDM-72/Sragen/Ep.2/1010 dapat peneliti jabarkan mengenai argumentasi hukum yang disusun penuntut umum adalah sebagai berikut :
Sebelum membuat surat dakwaan yang perlu diperhatian penuntut umum adalah menguasai hukum materiil terhadap tindak pidana yang dilakukan oleh terdakwa secara baik. Menguasai hukum materiil secara baik, termasuk juga mengenai dasar hukum yang tepat untuk menjerat perbuatan terdakwa.
Ketentuan mengenai tindak pidana persetubuhan anak dibawah umur dapat dijumpai dalam Pasal 81 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak, Pasal 81 ayat (2) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak. Selanjutnya, peraturan mengenai tindak pidana persetubuhan anak dibawah umur dapat dijumpai pula dalam Pasal 286 KUHP.
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
62
Dengan mengetahui secara umum pengaturan tindak pidana persetubuhan anak dibawah umur dalam peraturan perundang-undangan, maka penuntut umum dapat menjadikannya sebagai acuan dalam menentukan ketentuan hukum mana yang tepat untuk menjerat perbuatan persetubuhan anak dibawah umur yang dilakukan oleh terdakwa atau dengan orang lain. Pembuatan argumentasihukum dakwaan dalam suatu perkara pidana menurut undang-undang harus segera dibuat setelah penuntut umum berpendapat bahwa dari hasil penyidikan dapat dilakukan penuntutan.
Untuk menghindari gagalnya penuntutan, maka pembuatan argumentasi hukum dalam surat dakwaan harus benar, tepat, dan sempurna. Untuk itu surat dakwaan yang dibuat harus memenuhi syarat berikut :
1. Syarat formil
Syarat formil diatur dalam Pasal 143 (2) huruf a KUHAP. Syarat formil adalah suatu syarat yang belum menyangkut materi perkara melainkan masih berkisar pada identitas terdakwa, yang meliputi :
a. Diberi tanggal.
b. Memuat identitas terdakwa secara lengkap yang meliputi : 1) nama lengkap,
2) tempat lahir,
3) umur atau tanggal lahir, 4) jenis kelamin,
5) kebangsaan, 6) tempat tinggal, 7) agama,
8) dan pekerjaan.
c. Ditandatangani oleh penuntut umum.
Bila tidak dipenuhi ketentuan Pasal 143 ayat (2) huruf a KUHAP, maka tidak akan batal menurut hukum, namun ada alasan hakim untuk dapat membatalkan karena dipandang identitas terdakwa tidak jelas yang mungkin akan mengakibatkan timbulnya eror in persona pada akhir keputusan pengadilan.
commit to user
2. Syarat materiil
Syarat materiil adalah suatu syarat yang menyangkut mengenai materi perkara yang didakwakan kepada terdakwa. Syarat materiil diatur dalam Pasal 143 ayat (2) huruf b KUHAP, dimana surat dakwaan harus memuat uraian secara cermat, jelas, dan lengkap mengenai tindak pidana yang dilakukan, dengan menyebut waktu (tempus delicti) dan tempat tindak pidana itu dilakukan (locus delicti). Bila dalam membuat surat dakwaan tidak memenuhi ketentuan syarat materiil tersebut maka surat dakwaan tersebut dapat dibatalkan.
Mengingat pentingnya surat dakwaan untuk dapat dibuktikan bahwa perbuatan yang disebutkan dalam surat dakwaan itu benar-benar telah terjadi dan penuntut umum yakin bahwa terdakwa yang bersalah, maka surat dakwaan perlu dibuat dengan bentuk tertentu, dengan tujuan jangan terjadi suatu perbuatan yang merupakan tindak pidana dan sifatnya mengganggu keamanan, ketertiban hukum dalam masyarakat lepas dari tuntutan masyarakat. Bentuk dakwaan yang tepat digunakan tergantung pada sifat perkara dan jalannya peristiwa, serta tingkat kesulitan pembuktiannya. Menyusun surat dakwaan berhubungan dengan seni sehingga bagi setiap penuntut umum tidak sama. Akan tetapi, ada patokan-patokan (standart operational procedure) umum bagi setiap bentuk surat dakwaan yang harus dituruti dan dipenuhi. Berdasarkan bervariasinya bentuk tindak pidana yang dilakukan terdakwa, maka surat dakwaan juga berkembang mengikuti lajunya ilmu pengetahuan dan praktek peradilan. Bentuk-bentuk surat dakwaan tersebut adalah berbentuk tunggal, alternatif, subsidair, kumulatif dan kombinasi atau gabungan.
Bentuk dakwaan penuntut umum merupakan dakwaan alternatif, yang pada hakekatnya hanya ingin membuktikan satu tindak pidana saja diantara tindak pidana yang didakwakan. Dalam dakwaan bentuk alternatif terdapat beberapa dakwaan yang disusun secara berlapis, lapisan yang satu merupakan alternatif dan bersifat mengecualikan dakwaan pada lapisan lainnya. Meskipun dakwaan terdiri dari beberapa lapisan, tetap hanya satu dakwaan yang akan dibuktikan. Pembuktian dakwaan tidak perlu dilakukan secara berurut sesuai lapisan dakwaan,
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
64
tetapi langsung kepada dakwaan yang dipandang terbukti. Apabila salah satu telah terbukti maka dakwaan pada lapisan lainnya tidak perlu dibuktikan lagi. Kata penghubung antara dakwaan satu dengan dakwaan yang lainnya menggunakan
kata “atau”.
Dasar pertimbangan penuntut umum menyusun bentuk dakwaan alternatif adalah dapat diuraikan sebagai berikut :
Perumusan atau penyusunan surat dakwaan harus sejalan dengan hasil pemeriksaan penyidikan. Perumusan atau penyusunan surat dakwaan yang menyimpang dari hasil pemeriksaan penyidikan merupakan surat dakwaan yang palsu dan tidak benar. Surat dakwaan yang demikian tidak dapat dipergunakan jaksa untuk menuntut terdakwa. Maka dari itu, berdasarkan dari hasil dan kesimpulan pemeriksaan penyidikan yaitu atas inisiatif sendiri atau sengaja terdakwa melakukan tindak pidana.
Kemudian berdasarkan fakta-fakta yang terungkap dari hasil pemeriksaan penyidikan dan oleh karena penuntut umum membuat surat dakwaan dalam bentuk alternatif, penuntut umum memilih dakwaan yang paling benar dan terbukti yaitu dakwaan pertama subsidiair melanggar Pasal 81 ayat (2) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak.
Dengan alasan pembuktian mengenai unsur Pasal tindak pidana yang didakwakan kepada terdakwa terbukti, yang unsur-unsurnya adalah sebagai berikut :
i. Unsur : “setiap orang”
Yang dimaksud dengan setiap orang adalah siapa saja yang melakukan tindak pidana dan dapat dipertanggungjawabkan atas perbuatannya, dalam arti sehat phisik maupun psikisnya. Berdasarkan fakta persidangan berupa keterangan saksi CITRA AYU SAPUTRI, saksi SUNARTO, saksi EKO WARDOYO, saksi TEGUH WIYONO dan SAIMAN, keterangan terdakwa sendiri dipersidangan serta adanya barang bukti yang dihubungkan dengan kejadian, menunjukkan bahwa pelaku tindak pidana adalah terdakwa SURYA JULIANDY alias ANDY bin EFFENDY, dengan identitas tersebut dalam surat dakwaan dan dipersidangan tidak ditemukan adanya alasan-alasan yang
commit to user
dapat menghapuskan kesalahan terdakwa baik alasan-alasan pemaaf maupun alasan-alasan pembenar. Sehingga dengan demikian unsur ”setiap orang” telah
dapat dibuktikan.
Menurut pengamatan penulis atas unsur ini, hakim mempertimbangkan 2 (dua) aspek yaitu umur terdakwa yang 18 tahun dan kesehatan. Mengenai usia bisa merujuk pada Pasal 45 KUHP. Pada Pasal ini meminta dua syarat yang kedua-duanya harus dipenuhi ialah (R. Soesilo, 1996 : 61-62) :
a. orang itu waktu dituntut harus belum dewasa. Yang dimaksud “belum dewasa” ialah mereka yang belum berumur 21 tahun dan belum kawin.
Jika orang kawin dan bercerai sebelum umur 21 tahun, ia tetap dipandang dewasa.
b. tuntutan itu mengenai peristiwa pidana yang telah dilakukan orang tersebut pada waktu sebelum ia berumur 16 tahun.
Jika kedua syarat itu dipenuhi, maka hakim dapat memutuskan salah satu unsur dari tiga kemungkinan :
a. anak itu dikembalikan pada orang tua atau walinya, dengan tidak dijatuhi hukuman suatu apa.
b. anak itu jadikan anak negara, maksudnya tidak dijatuhi hukuman, akan tetapi diserahkan kepadaq rumah pendidikan anak-anak nakal untuk mendapat didikan dari Negara sampai anak itu berumur 18 tahun. Hal ini hanya dapat dilakukan bila anak itu telah berbuat suatu kejahatan atau pelanggaran yang termaktub dalam pasal ini dan sebagai residive
c. anak itu dijatuhi hukuman seperti biasa. Dalam hal ini ancaman hukuman dikurangkan dengan sepertiganya.
Untuk aspek kesehatan menurut R. Soesilo merujuk pada Pasal 44 KUHP dapat diambil pengertian bahwa sebagai sebab tidak dapat dihukumnya terdakwa berhubung perbuatannya tidak dapat dipertanggung-jawabkan kepadanya karena:
a. kurang sempurna akalnya. Yang dimaksud dengan perkataan, akal disini ialah : ketentuan pikiran, daya pikiran, kecerdasan pikiran. Teks bahasa belandanya memakai kata: “geest vermogens” yang berarti: kekuatan atau
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
66
daya jiwa. Siapakah yang dianggap sebagai kurang sempurna akalnya itu misalnya idioot, imbicil, buta-tuli dan bisu mulai lahir. Orang-orang semacam ini sebenarnya tidak sakit, akan tetapi karana cacatnya mulai lahir, sehingga puikirannya tetap sebagai kanak-kanak.
b. sakit berobah akalnya, “ Ziekelijke storing der verstandelijkevermogens”. Yang dapat masuk dalam pengertian ini misalnya: sakit gila, manie, hysterie, epilepsie, melancholie dan bermacam-macam penyakit jiwa lain-lainya. Orang yang terganggu pikirannya karena mabuk minuman keras pada umunya tidak dipandang masuk golongan orang tersebut diatas, kecuali jika dapat dibuktikan, bahwa mabuknya itu demikian rupa sehingga ingatannya hilang sama sekali (R. Soesilo, 1996 : 60-61).
2. Unsur : ”dengan sengaja melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk anak”
Pengertian dengan sengaja: bahwa perbuatan yang dilakukan terdakwa adalah patut diketahuinya atau patut disangkanya akan menimbulkan akibat yang bertentangan dengan aturan atau sikap atau tingkah laku atau perbuatan tertentu yang bertentangan dengan batin atau hukum yang berlaku.
Bahwa antara terdakwa dengan korban tidak ada ikatan suami isteri dan terdakwa mengetahui korban masih anak-anak, berumur 15 tahun 4 hari, hal ini sesuai dengan akta kelahiran nomor : 2198/UM/1995 tanggal 02 juni 1995, yang dikeluarkan oleh Kepala Kantor Catatan Sipil Kabupaten Sragen, menerangkan bahwa CITRA AYU SAPUTRI (korban) lahir pada tanggal 19 april 1995, sehingga dia belum dewasa dan belum waktunya untuk dikawin atau belum patut untuk melakukan persetubuhan atau hubungan layaknya suami isteri dengan terdakwa, namun meskipun terdakwa mengetahui hal itu, terdakwa tetap menyetubuhi korban pada hari Rabu tanggal 04 Agustus 2010 sekitar jam 23.00Wib diatas jati Dukuh Balu, kelurahan bendungan, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Sragen.
commit to user
Pengertian melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk anak :
Bahwa unsur ini bersifat alternatif, apabila salah satu unsur sub unsur telah terpenuhi, maka unsur ini telah terbukti. Tipu Muslihat adalah suatu tipu yang demikian liciknya, sehingga seseorang yang berpikiran normal dapat tertipu. Serangkain Kebohongan adalah kata-kata/ucapan yang seolah-olah benar, padahal tidak demikian kenyataannya. Membujuk adalah melakukan pengaruh pengaruh terhadap orang itu untuk menuruti kemauannya. Berdasarkan fakta-fakta yang terungkap dipersidangan :
- Bahwa terdakwa pada hari Rabu tanggal 04 Agustus 2010 sekitar jam 23.00 Wib, bertempat di alas jati Dukuh Balu, Kelurahan Bendungan, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Sragen, terdakwa telah mensetubuhi saksi CITRA AYU SAPUTRI (korban), yang dilakukan dengan cara-cara: awalnya pada hari Rabu tanggal 04 Agustus 2010 sekitar jam 18.30 WIB saksi TEGUH WIYONO naik sepeda motor Suzuki satria bertemu dengan korban di jalan saat korban mau beli es dawet di warung PONI di DK. Murong RT. 16, Ds. Kebonromo, Kec. Ngrampal, Kab. Sragen, lalu korban memboceng dan dalam perjalanan korban menanyakan tujuan saksi TEGUH mau kemana dan dijawab oleh saksi TEGUH mau ke waduk kembangan, sehingga korban akhirnya ikut kalau saksi TEGUH mau pergi ke waduk kembangan, ternyata setelah bertemu dengan korban, saksi TEGUH langsung pergi menemui terdakwa dan TEKLE di poskampling Wotan dan
memberitahukan kepada terdakwa dan TEKLE bahwa ada’ wedokkan’
(cewek/perempuan) dan TEKLE menyuruh saksi TEGUH untuk membawanya ke rumah TEKLE di Dk. Balu, Ds. Bendungan, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Sragen nanti TEKLE akan membelikan minuman keras ciu yang banyak, kata- kata TEKLE tersebut memiliki maksud bahwa dengan memberi minuman keras maka akan membuat cewek atau perempuan tersebut mabuk, sehingga mudah untuk berbuat sesuatu kepada cewek atau perempuan tersebut
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
68
dan akan menuruti kemauan mereka dengan tanpa ada perlawanan, lalu saksi TEGUH menjemput korban yang pulang dari warung dan membocengkannya, sedang tanpa setahu korban terdakwa SURYA dan TEKLE membuntuti dibelakangnya berboncengan naik sepeda motor, namun saksi TEGUH tidak membawa korban ke waduk kembangan sesuai dengan ucapannya kepada korban, tapi saksi TEGUH langsung membawa korban kerumahnya TEKLE, sesuai dengan kemauan TEKLE dan saat korban bertanya kok nggak jadi ke waduk kembangan dijawab oleh saksi TEGUH nanti menunggu teman-temannya, sampai dirumah TEKLE sekitar jam 19.30 WIB ternyata TEKLE sudah memberitahu teman-temannya yaitu saksi EKO WARDOYO dan saksi HENDRI supaya datang kerumah TEKLE dan terdakwa SURYA kemudian menjemput saksi SAIMAN atas suruhan TEKLE, diboncengkan kerumah TEKLE , kemudian atas suruhan TEKLE saksi saksi EKO WARDOYO dan saksi HENDRI membeli minuman keras ciu dalam botol aqua sebanyak 1,5 (satu setengah) liter dan coca-cola 1(satu) liter dengan uangnya sendiri sebesar Rp.35.000,- (tiga puluh lima ribu rupiah) dan mereka bertujuh (terdakwa SURYA JULIANDY, TEGUH WIYONO, TEKLE, SAIMAN, EKO WARDOYO, HENDRI, dan korban saksi CITRA AYU SAPUTRI) lalu pergi ke jembatan Dk. Balu dan mereka minum-minuman keras ciu dicampur coca-cola yang dituangkan oleh saksi EKO WARDOYO ke dalam gelas kecil secara bergantian/bergiliran termasuk korban juga disuruh sampai mabuk, kepalanya pusing dan jalannya sempoyongan, setelah melihat korban mabuk mereka masing-masing bermasud mensetubuhi korban, yang pertama kali adalah terdakwa SURYA mengajak korban mombonceng sepeda motor terdakwa dan membawanya ke alas jati utara jembatan Balu dan di tempat itu terdakwa menciumi korban yang sudah tidak berdaya karena mabuk dan meremas-meremas payudaranya, lalu menidurkannya di tanah beralaskan jaket, kemudian terdakwa membuka celana luar dan celana
commit to user
dalamnnya sendiri, selanjutnya terdakwa posisi telengkup menindih tubuh korban dan memasukkan kemaluaanya kedalam kemaluan korban, lalu menggerak-gerakkannya naik turun didalam kemaluan korban sampai keluar mani, setelah mensetubuhi korban, kemudian terdakwa momboncengkan korban kembali ke jembatan bergabung teman-teman terdakwa, yang kedua adalah SAIMAN juga mensetubuhi korban dialas jati, selanjutnya mereka delapan orang (terdakwa SURYA JULIANDY, TEGUH WIYONO, TEKLE, SAIMAN, EKO WARDOYO, HENDRI, dan korban saksi CITRA AYU SAPUTRI ditambah RAGIL yang datang belakangan) pulang kerumah TEKLE dan di rumah TEKLE tersebut didalam kamar saksi TEGUH WIYONO, saksi EKO WARDOYO dan RAGIL mencabuli korban dengan cara saksi TEGUH WIYONO menyuruh korban untuk mengocok kemaluannya sampai keluar mani, saksi EKO WARDOYO memeluk tubuh korban dan meremas-remas payudaranya danm RAGIL memeluk tubuh korban dan meremas-remas payudaranya, keesokan harinya barulah korban diantarkan pulang ke rumahnya oleh TEKLE.
- Bahwa korban belum dewasa, belum pernah dikawin, korban berumur 15 tahun 4 hari dan belum waktunya untuk dikawin (sebagaimana Kutipan Akta Kelahiran Nomor : 2198/UM/1995, saksi korban lahir pada tanggal 19 April 1955) dan diantara terdakwa dengan korban tidak ada ikatan suami isteri. Sehingga dengan demikian unsur
“dengan sengaja melakukan tipu muslihat terhadap anak“ telah dapat dibuktikan.
Menurut pengamatan penulis atas unsur ini, Hakim mempertimbangkan mengenai 2 unsur yaitu membujuk dan karangan perkataan bohong merujuk pada Pasal 378 KUHP. Bahwa pada Pasal ini “membujuk” ialah melakuakan pengaruh dengan kelicikan terhadap orang, sehingga orang itu menurutinya berbuat sesuatu yang apabila mengetahui duduk perkara yang sebenarnya, ia tidak akan berbuat demikian itu. Sedangkan “karangan perkataan bohong”
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
70
ialah satu kata bohong tidak cukup, disini harus dipakai banyak kata-kata bohong yang tersusun demikian rupa, sehingga kebohongan yang satu dapat ditutup dengan kebohongan yang lain, sehingga keseluruhannya merupakan certera sesuatu yang seakan-akan benar (R. Soesilo, 1996:261).
3. Unsur : “Melakukan Persetubuhan dengannya atau dengan orang lain”
Persetubuhan adalah peraduan antara anggauta kemaluan laki-laki dan perempuan yang biasa dijalankan untuk mendapatkan anak, jadi anggauta laki-laki harus masuk kedalam anggauta perempuan, sehingga mengeluarkan air mani. Berdasarkan fakta-fakta yang terungkap persidangan :
- Bahwa pada hari rabu tanggal 04 agustus 2010 sekitar jam 23.00 WIB, bertempat di alas jati Dukuh Balu, Kelurahan Bendungan, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Sragen, setelah korban mabuk sehabis diberi minum-minuman keras ciu dicampur coca-cola, terdakwa bermaksud mensetubuhi korban, lalu terdakwa mengajak korban membonceng sepeda motornya dan membawanya ke alas jati utara jembatan Balu dan di tempat itu terdakwa mensetubuhi korban dengan cara: terdakwa menciumi korban yang sudah tidak berdaya karena mabuk dan meremas-meremas payudaranya, lalu menidurkannya di tanah beralaskan jaket, kemudian terdakwa membuka celana luar dan celana dalamnnya sendiri, selanjutnya terdakwa posisi telengkup menindih tubuh korban dan memasukkan kemaluaanya kedalam kemaluan korban, lalu menggerak-gerakkannya naik turun didalam kemaluan korban sampai keluar mani, setelah mensetubuhi korban, kemudian terdakwa momboncengkan korban kembali ke jembatan bergabung teman-teman terdakwa.
- Bahwa berdasarkan Visum et Repertum No. 370/39/VII/2010 tanggal 10 Agustus 2010 yang dibuat oleh Dr. Rahman, SpOG dokter pada Rumah Sakit Umum Kabupaten Sragen yang menerangkan :
Pemeriksan daerah kemaluan :
- Alat kelaminb luar tidak ada kelainan, selaput dara luka robek pada jam 2-7-9 sampai dengan dasar, kesan luka lama.
commit to user
Dengan kesimpulan :
- Tidak tampak tanda-tanda kekerasan. Selaput dara tidak utuh, tampak robekan pada jam 2-7-9 luka lama sampai ke dasar, bisa disebabkan karena kemasukan benda tumpul dalam keadan keras. Sehingga dengan demikian unsur : “melakuakan persetubuhan dengannya (terdakwa)“ telah dapat dibuktikan.
Menurut pengamatan penulis atas unsur ini, Hakim mempertimbangkan mengenai unsur persetubuhan bisa merujuk pada Pasal 286 KUHP. Pada Pasal 286 KUHP mengenai unsur Persetubuhan ialah peraduan antara anggauta kemaluan laki-laki dan perempuan yang biasa dijalankan untuk mendapatkan anak, jadi anggauta laki-laki harus masuk kedalam anggauta perempuan, sehingga mengeluarkan air mani, sesuai dengan Arrest hooge Raad 5 februari 1912 (W.9292). Perempuan itu harus bukan isterinya jika terhadap isterinya sendiri, tidak dikenakan pasal ini (R. Soesilo, 1996:211)
Setelah selesainya pembuatan argumentasi hukum surat dakwaan secara benar, tepat, dan sempurna, surat dakwaan dapat diajukan ke sidang pengadilan untuk dilakukan pembuktian. Selanjutnya setelah berlangsungnya persidangan dengan berbagai kegiatan dalam proses pembuktian, yakni memeriksa semua alat bukti, baik yang diajukan oleh penuntut umum maupun oleh penasihat hukum, maka ketua majelis hakim menyatakan bahwa pemeriksaan selesai. Kemudian ketua majelis hakim meminta kepada penuntut umum untuk mempersiapkan surat tuntutan yang akan dibacakan dalam sidang mendatang yang telah ditetapkan waktunya.
Pembuatan argumentasi hukum Requisitoir (surat tuntutan) didasarkan pada surat dakwaan, fakta-fakta yang diperoleh dalam persidangan dan kemudian menganalisa hukum terhadap fakta-fakta tersebut. Mencermati kasus Nomor Reg.Perkara:PDM-72/SRAGEN/Ep.2/1010 perbuatan terdakwa adalah termasuk tindak pidana berat karena dikualifikasikan dalam kejahatan dengan sengaja melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan atau melakukan persetubuhan terhahap anak dibawah umur. Ancaman untuk tindak pidana persetubuhan terhahap anak dibawah umur dapat diancam dalam dakwaan pertama primair
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
72
Pasal 81 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan paling sedikit 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp 300.000.000 (tiga ratus juta rupiah) dan paling sedikit Rp 60.000.000 (enam puluh juta rupiah). Dan dakwaan pertama Subsidair Pasal 81 ayat (2) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan paling sedikit 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp 300.000.000 (tiga ratus juta rupiah) dan paling sedikit Rp 60.000.000 (enam puluh juta rupiah). Atau dakwaan kedua menurut ketentuan Pasal 286 KUHP diancam dengan pidana penjara paling lama 9 (sembilan) tahun.
Namun penuntut umum menuntut terdakwa hanya dengan pidana penjara selama 8 (delapan) tahun dikurangi selama terdakwa berada dalam tahanan dengan perintah agar terdakwa tetap ditahan dan denda sebesar Rp.60.000.000,-(enam puluh juta rupiah) subsidair 6 Rp.60.000.000,-(enam) bulan kurungan. Hal yang dijadikan pertimbangan penuntut umum dalam penuntutan kasus Nomor Reg.Perkara:PDM-72/Sragen/Ep.2/1010 adalah:
1. Terdakwa mengakui terus terang perbuatannya sehingga memperlancar