Tidak ada argumentasi pentingnya kebebasan bepikir selain man faatnya. Tidak ada alasan yang benar bagi pemerintah untuk me laku kan intervensi dan membatasi kebebasan berpikir masyarakat selain karena kewajibannya membela dan menjaga keselamatan jiwa serta menjaga masyarakat dari ancaman langsung. Jika ancaman hanya diperkirakan akan terjadi pada masa yang jauh, maka pemerintah tidak dibenarkan melakukan intervensi. Misalnya, pemerintah tidak dibenarkan melarang seorang penceramah yang menyampaikan pidato tentang manfaat komunisme dan kelebi- hannya dibanding sistem bernegara yang ada saat ini. Pemerintah tidak boleh melarang hanya karena pidato komunisme tersebut akan 3 Artikel ini diambil dari buku karya Salamah Musa (1927) yang berjudul, Hurriyatu
al-Fikr wa Abthâluhâ fî at-Târîkh (Kebebasan Berpikir dan Tokoh-tokohnya dalam Sejarah), Dârul Hilâl, Kairo, hal 198-200.
mem pengaruhi masyarakat dan menciptakan gelombang demonstrasi pada suatu saat nanti. Akan tetapi pemerintah boleh melakukan intervensi ketika sang penceramah mengajak masyarakat melakukan perlawanan terhadap orang-orang kaya dan mengambil alih kekayaan mereka.
Pada kasus yang pertma, sang penceramah hanya menyam- paikan tentang kelebihan sistem komunisme dibandingkan dengan sistem yang sedang berlaku. Ia tidak mengajak masyarakat untung mempersenjatai diri dan tidak mengajak mereka untuk melakukan gerakan revolusi. Jika masyarakat merasa yakin akan kebenaran sistem yang telah dijelaskan kepada mereka dan merasa sistem yang ada sudah tidak relevan, maka mereka memiliki pintu untuk memper- juangkan keyakinannya melalui parlemen.
Sementara pada kasus yang kedua, sang penceramah melakukan hasutan yang jelas agar masyarakat melakukan gerakan demonstrasi. Masyarakat harus diselamatkan dari hasutan seorang penceramah. Masyarakat tidak boleh dibiarkan terbuai oleh kalimat-kalimat yang disampaikan penceramah penghasut seperti seorang pembunuh yang merasa senang bermain-main dengan pedangnya. Dalam hal ini, seorang penceramah bertanggungjawab atas gelombang demonstrasi yang ia gerakkan dan pemerintah dituntut untuk melakukan pen cegahan.
Tak mudah bagi kita menjelaskan dan membedakan antara kasus- kasus kebebasan berpikir yang melahirkan gelombang de mons trasi langsung yang dibenarkan dan kasus-kasus lain yang melahirkan gelombang demontrasi yang tidak dibenarkan. Kita akan memberikan beberapa contoh untuk menjelaskannya.
Ada dua orang penceramah yang mencalonkan diri untuk men jadi anggota legislatif di parlemen dari satu wilayah yang sama. Salah satu penceramah itu memiliki pendukung mayoritas. Walau ia
mengatakan hal-hal yang berlebihan dan merusak dalam pidatonya, tidak ada seorang pun yang menentangnya. Sementara pesaingnya hanya memiliki sedikit pundukung (minoritas). Ketika menyampaikan
gagasan tertentu, ia dianggap kair serta disambut dengan teriakan
cemooh dan demonstrasi. Dalam kasus seperti ini, walau kata-kata penceramah ini melahirkan gerakan protes, kami menyatakan bahwa pemerintah tetap harus melindunginya dari aksi demo masyarakat karena ia sedang berbicara tentang aspirasi kelompok minoritas. Dan, kelompok minoritas berhak menjelaskan berbagai pandangannya walau berdampak kemarahan besar pada kelompok mayoritas.
Ada contoh lain dalam pertunjukan panggung di mana salah satu pemain opera menjelaskan keburukan aturan pernikahan yang ada saat ini, hijab bagi perempuan dan lain-lain. Penjelasannya ini menimbulkan aksi protes dari para penonton. Dalam kasus ini pemerintah dituntut untuk mencegah aksi penolakan yang dilakukan oleh para penonton dan meminta mereka untuk diam. Bukan sebaliknya; melarang pagelaran opera tersebut.
Dalam dua kasus tersebut ada gelombang protes secara langsung yang sumbernya adalah ucapan calon anggota legislatif dan ucapan seniman opera. Akan tetapi gelombang protes tersebut tidak berlan- daskan alasan yang benar karena rendahnya tingkat pendidikan masyarakat yang melakukan protes itu. Maka, pemerintah harus mendidik dan memaksa mereka untuk diam agar tidak terjadi penindasan oleh kelompok mayoritas terhadap kelompok minoritas. Kepada orang-orang bodoh yang tidak mampu menahan kemarahan karena mendengar atau melihat sesuatu yang tidak sesuai dengan nafsunya, kita dapat mengatakan, “Tenang dan santailah. Anda tidak perlu datang ke gedung opera atau ke tempat yang membuat Anda mendengar kalimat-kalimat yang Anda benci.”
Tidak dipungkiri bahwa kebebasan berpikir mengandung bahaya. Tapi, di dunia ini tidak ada sesuatu yang tidak mengandung bahaya.
Dan, bahaya dari kebebasan berpikir tidak berarti menghalangi masyarakat untuk mengambil manfaat darinya. Bisa jadi ada seorang penceramah yang meyakini bahwa ia telah menerima wahyu dan menyatakan bahwa hari kiamat segera datang hingga masyarakat meninggalkan pekerjaan, bahkan melakukan tindak bunuh diri karena takut menghadapi datangnya kiamat. Bisa jadi orang-orang yang terhasut menaati ucapan penceramah tersebut. Seorang yang mengaku al-Mahdi4 dari Sudan telah melakukan hal ini dan membuat
Sudan menjadi seperti neraka selama puluhan tahun. Akan tetapi kasus seperti ini jarang terjadi. Ketika kelompok terdidik melihat dan memahami ada bahaya yang nyata bagi masyarakat, mereka akan mengajak masnyarakat untuk berlindung seperti berlindung dari wabah kolera. Proses perlindungan ini dilakukan melalui per undang- udangan dan pengumuman darurat militer.
Para pemikir bersikukuh pada keharusan adanya kebebasan berpikir dan toleransi walau mengandung dampak negatif sejauh dampak negatif itu tidak parah. Karena, ada beberapa pandangan yang mencegah untuk mengatakan kebenaran. Mereka yang mengekang kebebasan berpikir dari dirinya sendiri adalah orang-orang yang salah. Meski demikian, hal ini masih dapat diterima karena kekuatan yang mencegah masyarakat dari sikap kritis terhadap pendapat tertentu terdiri dari orang-orang yang sangat mungkin berbuat salah. Tidak seorang pun dari mereka yang bebas dari kesalahan. Ilmu pengetahun dan seni yang mendapatkan kebebasan pasti maju dan berkembang dengan baik sebagaimana yang kita lihat dalam ilmu kimia, ilmu alam, ilmu kedokteran dan teknologi. Kemajuan industri selalu didukung oleh kemajuan ilmu pengetahuan sebagaimana kemajuan peradaban 4 Al-Mahdi dari Sudan adalah Muhammad Ahmad yang hidup pada tahun 1844 sam-
pai 1885. Ini mendaku sebagai al-Mahdi dan memimpin revolusi politik agama yang melawan pemerintahan Turki dan Inggris.
selalu berawal dari kemajuan ilmu pengetahuan. Kadangkala ada keluhan akibat perkembangan ilmu pengetahuan yang terlalu cepat, bukan karena keterbelakangannya. Justru ilmu-ilmu akhlak dan syariat agama selalu terbelakang karena masyarakat tidak mendap- atkan kebebasan untuk membicarakan dan membahasnya. Jika kita bandingkan perkembangan ilmu kimia hari ini dengan ilmu kimia yang ada pada zaman Sulaiman al-Hakim, maka ada perbedaan yang sangat jauh seperti perbedaan antara anak kecil yang bermain dengan api dan pengetahuan seorang insinyur yang mampu mengger- akkan kereta. Tapi, perbedaan kita dengan Sulaiman al-Hakim dalam urusan keagamaan dan akhlak sangat kecil, bahkan mungkin tidak