• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ekonomi Pasar

Dalam dokumen clemens recker liberalisme arab (Halaman 78-81)

E

konomi pasar ada dalam jantung konsep liberalisme. Prinsip dasar dari ekonomi pasar adalah hak khusus manusia dalam kepemilikan. Hak kepemelikan yang pertama adalah hak manusia memiliki semua hasil kerjanya. Seorang petani berhak atas hasil sawahnya dan keuntungan yang ia dapatkan dari pertanian. Begitu pula dengan pekerja pabrik dan pedagang. Mereka berhak memiliki apa yang mereka hasilkan dari kerja-kerja mereka. Syarat utama dalam konsep ini adalah setiap orang tidak boleh melanggar hak-hak kebebasan orang lain dan setiap transaksi ekonomi harus dilakukan dengan sukarela.

Liberalisme juga menjamin kebebasan alami lainnya, seperti kebebasan beragama, kebebasan memilih ideologi politik dan kebebasan ekonomi. Liberalisme juga mengajak manusia untuk mandiri dalam mengatur dirinya sendiri dan menjalankan kehidup- annya. Manusia tidak mungkin mencapai kebebasan seperti ini kecuali ia sudah mendapatkan kebebasan dalam ekonomi.

Tuntutan liberalisme berhubungan erat dengan tuntutan lainnya, seperti tuntutan demokrasi dan negara hukum. Karena, manusia yang menggantungkan hidupnya pada Negara tidak akan menjadi manusia yang bebas dan merdeka. Liberalisme menetapkan—ideologi kapital- isme—kebebasan manusia dalam ekonomi melalui konsep kepemi-

likan khusus terhadap berbagai sarana produksi. Kebebasan ini tidak hanya berlaku di dalam negeri tertentu, akan tetapi berlaku antar negara. Setiap negara boleh melakukan jual-beli di antara mereka. Inilah yang disebut dengan perdagangan bebas.

Semua unsur-unsur penting liberalisme saling berhubungan. Tidak ada kebebasan dalam bidang ekonomi tanpa undang-undang yang pasti dan jaminan kebebasan berinteraksi. Hal ini sesuai dengan pondasi-pondasi dasar liberalisme yang menjamin persaingan secara sehat dan tidak ada monopoli. Khususnya ketika terjadi perubahan dari ekonomi sosialis yang dikontrol dan diatur oleh negara menjadi ekonomi pasar. Kepastian undang-undang menjadi unsur terpenting bagi suksesnya perubahan ini.

Dalam konteks ini, negara mengambil perang penting dalam menjaga keberlangsungan sistem ekonomi. Negara boleh menentukan pajak yang menguntungkan rakyatnya. Negara adalah sarana, bukan tujuan. Pemerintah boleh menentukan pajak yang wajar untuk mewujudkan apa yang harus dipenuhi oleh negara.

Liberalisme mendorong ekonomi pasar bukan hanya karena ekonomi pasar sesuai dengan kebebasan masyarakat, tapi sistem ini lebih bermanfaat dibanding sistem lainnya; sistem ekonomi pasar ini sangat membantu dalam mencipatkan kemajuan masyarakat karena sistem ini selalu menerima kritik dan perbaikan. Bentuk sistem kapitalisme yang desentralistik mampu berubah setaip hari sesuai dengan perubahan lingkungan.

Dalam pandangan liberalisme, semua manusia orang setara dalam hak-hak ekonomi dan dalam segala aktivitasnya. Pajak yang dipungut harus didistribusikan secara adil kepada rakyat. Kelompok liberal pernah menentang kebijakan Muhammad Ali di Mesir yang menentukan pajak besar terhadap para petani sedang mereka hidup dalam kemiskinan. Sementara itu, sebagian dari pemilik lahan yang luas tidak membayar pajak sama sekali atau hanya membayar pajak

dalam jumlah kecil. Sistem sosial ini jelas tidak sejalan dengan li beralisme.

Dalam liberalisme tentu kewajiban dan bentuk negara dapat berbeda-beda. Akan tetapi semua sepakat bahwa negara ada untuk melayani masyarakat, bukan sebaliknya. Sebagian masyrakat menentukan peran negara hanya sebatas pada tanggung jawab tertentu yang prinsipil, seperti keamanan dalam negeri dan luar negeri. Sebagian masyarakat memperluas tanggung jawab negara pada bidang kesehatan dan pendidikan.

Tokoh-tokoh liberal Arab mengkampanyekan kebebasan ekonomi sejak lama. Mereka mengajukan gagasan tersebut kepada pemerin- tahan-pemerintahan yang otoriter di wilayah Arab dan negara-negara imperialis Eropa. Kita ambil contoh Muhammad Ali di Mesir. Banyak tokoh liberal yang menerima gagasan modernisme Muhammad Ali dalam rangkan meningkatkan daya saing Mesir. Akan tetapi, dalam waktu yang sama, mereka mengkritik pembesaran peran negara dan monopoli negara dalam produksi kapas yang membuat rakyat Mesir tidak tercekik. Karena, dengan demikian pemerintah menghambat proses modernisasi yang lebih dalam dan berkelanjutan di Mesir.

Contoh lain adalah Daulah Utsmaniyah yang memberikan pe lua ng kepada negara-negara Eropa untuk membuka kantor konsulat dagang mereka di berbagai kota Daulah Utsmaniyah. Daulah Utsmaniyah tidak menentukan pajak mereka dan mereka boleh membuat hubungan dagang dengan para pedagang lokal. Mereka membuat kebijakan dengan menciptakan medan dagang yang sejajar, sementara para pedagang asing itu tidak memberikan masukan bagi kas Daulah Utsmaniyah. Tentu keuntungan dagang seperti ini tidak adil dalam pandangan tokoh-tokoh liberal.

Kita dapat melihat ungkapan Ahmad Luthi Sayyid yang menyat- akan bahwa “negara tidak boleh menjadi pelaku ekonomi secara langsung karena aktivitas ekonomi dilakukan oleh berbagai individu yang ada dalam pemerintahan.”

Sedangkan dalam soal pengaruh dan hasil dari aktivitas ekonomi yang mencekik, Ibnu Khaldun—salah satu bapak ilmu sosial—me- nganalisanya dalam buku Muqaddimah. Ia menulis tentang pember- lakuan pajak dan intervensi ekonomi penguasa terhadap kekayaan masyarakat. Dalam hal ini, Ibnu Khaldun mendahului Adam Smith yang dianggap sebagai peletak ilmu ekonomi klasik pada abad delapan belas.

Ibnu Khaldun menganjurkan kesejajaran individual dalam ekonomi. Ia menjelaskan tentang hubungan antara proses peng um- pulan pajak dan pendapatan. Hubungan ini, pada abad dua puluh dikenal dengan pajak profesi. Artinya, konsep ini sudah diperke- nalkan oleh Ibnu Khaldun sejak enam ratus tahun yang lalu. Setiap pajak yang ditetapkan bagi setiap individu akan membatasi aktivitas ekonomi mereka. Oleh sebab itu, ketentuan pajak harus ditetapkan secara wajar dan tidak boleh menjadi penghalang aktivitas ekonomi setiap individu. Ketentuan pajak tidak boleh diperbesar karena keberhasilan ekonomi individu hingga keuntungan mereka menjadi mengecil. Hal ini membuat masyarakat kehilangan semangat untuk meningkatkan aktivitas ekonomi karena keuntungan dapat mengecil akibat peningkatan jumlah pungutan pajak. Kesimpulan-kesimpulan Ibnu Khaldun ini adalah temuan baru yang terungkap berdasarkan pengamatan terhadap transaksi-transaksi di masa lalu dalam kaca

mata ilmu sosial, politik dan ekonomi. ■

Dalam dokumen clemens recker liberalisme arab (Halaman 78-81)