KETUA RAPAT:
Silakan Pak Sahetapy
F.PDIP (PROF. DR. J.E. Sahetapy, SH, MA):
Saya interupsi, saya setuju yang tadi dikemukakan. Cuma penempatannya itu saya tidak mengatakan supaya itu dihilangkan. Ada beberapa kemungkinan yang saya tawarkan bisa melalui Pemerintah, peraturan pemerintah pengganti UU, bisa dimasukan dalam Undang-Undang Tindak Pidana Suap dan bisa dimasukan dalam Komisi Pemberantasan Korupsi. Jadi sama sekali saya sepakat mendukung tidak membuang itu. Cuma penempatannya di sini itu sepertinya kurang bijaksana. Nah barangkali bisa kita pikirkan lagi, kalau perlu dalam Pemerintah bikin peraturan pengganti undang-undang. Langsung itu, saya satu-satunya saya kira yang akan mendukung itu atau dimasukan dalam. Bagaimana caranya pasal ini jangan kita buang, hanya itu saja cuma penempatannya rasanya kurang sreg. Jadi saya harap Pemerintah jangan salah paham ia toh. Kalau per1u kita bikin pro memori, pro memori dalam keputusan Komisi ini bahwa pasal itu harus dimasukkan entah dengan jalan bagaimanapun dimana-mana kita sepakat begitu supaya mendukung usul Pemerintah. ltu usul saya, hanya itu saja, jadi kita tidak membuang pasal itu, tapi saya juga tidak sepakat kalau pasal itu dimasukan lalu kita serba repot mencari pemecahan yang memuaskan.
Terima kasih.
KETUA RAPAT:
Terima kasih ini Pasat 12A lama, yang sekarang menjadi Pasal 128 ini membuat kita menjadi beberapa kali. Pertama kali saya ingat sekali bahwa Pasal 12A ini yang terdiri dari 5 ayat, kita hanya pegang ayat (1) dan ayat (5). Ayat (2), ayat {3}, dan ayat (4) nya kita drop. Kemudian Pemerintah membuat dua pasal itu, dua aya itu, itupun juga masih bermasalah sehingga timbulah rumusan yang sekarang diajukan oleh Pemerintah. Namun demikian ada satu hal yang harus kita pahami bersama, bahwa kita sepakat bahwa semangat pelaporan ini memang harus ada, tetapi ada beberapa pemikiran apakah tidak sebaiknya semangat pelaporan ini kita muat di tempat lain misalnya di suap, tentang suap. Kemudian mungkin bisa juga di Komisi Pemberantasan Tindak·
Pidana Korupsi, jadi ada beberapa pemikiran di sini. Memang kalau kita mengacu kepada usulan ini, disini tetap memakai kata dianggap, tetapi buntut dibelakangnya ada sanksi. Jadi apa, pertama memang asas praduga tidak bersalah itu tetap ditonjolkan di situ. Kemudian, tapi yang menjadi permasalahan adalah dengan adanya sanksi yang di belakangnya. la yang seperti Pak Akil katakan, dan Pak Zen Badjeber juga sampaikan ada penggabungan pidana formil dengan pidana materiil.
T entang acara, pad a saat itu yang Pak Zen Badjeber sampaikan, nah kira-kira apa ada pemikiran baru lagi dari Pemerintah terhadap rumusan-rumusan yang terkait dengan Pasal 128 yang baru ini.
Silakan.
F.PG (M. AKIL MOCHTAR, SH) :
Atau ini Pak, rumusan pidananya merujuk ke atas, tapi yang di belakangnya. lni kita bikin dulu sistem pelaporannya, yang menerima ini ... ini baru kita tunjuk ke atas.
KETUA RAPAT:
Kongkritnya Pak Akil kita mengacu kepada Pasal 12 baru, Pasal 12 baru ada yang disebutkan ini menerima ini.
F .PG (M. AKIL MOCHTAR, SH) :
Kalau kita sepakat bahwa sebuah pemberian yang mewajibkan harus adanya sebuah pelaporan, maka mekanisme itu yang kita atur. Nanti apa namanya jika dibuktikan sebaliknya, maka ketentuannya mengacu kepada Pasal 12. Jadi biar bikin rumusan delik tersendiri akibat ini begitu.
ARSIP DPR RI
PEMERINTAH :
Pak AkU, sebenamya ketentuan yang ada di Pasal 128 ini mengambil alih mengenai sanksinya yang di 12a kecil. Tapi seperti Pak Akil bilang nunjuk saja Pasal 12 huruf a kecil.
PROF. NATABAYA:
Kita tengok ke belakang, sebab kita harus lihat sejarahnya, sebab Bung Kamo dulu bilang jangan sekali-kali meninggalkan sejarah. Nah, jadi kita harus melihat yang Pasal 5 yang di dalam perubahan ini. Pasal 5 ini sebetulnya itukan pada waktu perubahan undang-undang ini itu adalah dari Pasal 5 perubahan. Tapikan Anggota Dewan tidak setuju, menggunakan kata-kata Pasal 29 dan tidak setuju minimum dihapus, sehingga kita rumuskanlah Pasal 5 menurut kehendak kita bersama.
Jadi Pasal 29 tidak lagi disebut, tapi kita sebut mengenai minimumnya dan juga unsur-unsurnya, itu Pak Ketua ia. Lantas Pasal 12 itu juga asalnya dari Pasal 12 yang sudah disetujui, tapi tidak disetujul oleh kita menyebutkan Pasal 19, Pasal 20, Pasal 23 dan juga minimumnya. Sehingga kita rumuskan kembali sebagaimana yang sekarang. Jadi itu sebetulnya yang dirumuskan itu adalah sebetulnya perubahan yang tadinya itu adalah perubahan minimum. Sekarang dihilangkan minimumnya tapi ancamannya diperberat. Jadi dengan kata lain Pasal 5 dan Pasal 12 itu perubahan dengan sekarang . ini adalah perubahan dengan ancaman yang berat inikan dan minimumnya dicantumkan kembali sesuai dengan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tambah lagi apa namanya itu tetap.
Sekarang perubahan kedua kita mengintrodusir satu adatah mengenai yang selama ini menjadi konsen kita yang diberikan pemberian ini. Bagaimana pemberian ini akan dipidana, ini yang menjadi persoalan kita yang dalam bahasa lnggrisnya itu gratifikasi itu. Sehingga kita rumuskanlah mengenai gratifikasi itu Pasal 12A ini, tapi pada waktu itu juga kita merumuskan kembali diminta oleh Dewan kita rumuskanlah dengan yang ada ini sekarang. Karena tidak sesuai dengan menyebutkannya mengenai pasaf-pasal itu maka kita sebutkan merujuk bahwa gratifikasi itu ketentuan pegawai negeri atau penyelenggara sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 12 huruf a, b, dan c jadi itu ininya. ltu kalau bisa kita mindahan yang ini dianggap sebagai pemberian suap karena itu baru dianggap. Dan bagaimana hukumannya dalam penerima suap dipidana paling lama sekian-sekian. Tapi ada pembatasan ini, ini akan berlaku Pasal 128 ini kalau itu dia diadakan pelaporan. Nah, sistem pelaporan ini yang kita gunakan ini. Bagaimana pelaporan ini, Pasal 12C yang baru ini menurut Pak Akil tadi apakah perlu ada meski sebagaimana melapor, bagaimana dia memberi berita acara daftar yang dia terima juga, kita juga menerima itu saya kira hal teknisnya itu. Tapi inilah yang akan menentukan kalau dia tidak melaksanakan ini, maka dia itu akan kena pemberian selama ini yang kita anggap yang sering dilakukan mendapatkan hadiah segala macam itu, inilah yang kira-kira Pak Sahetapy. Jadi saya kira harus ada di sini, ini adalah merupakan bagian dari tindak pidana korupsi, tak bisa di tempat lain.
KETUA RAPAT:
Dengan perkataan lain, bahwa Pasal 128, Pasal 12C, Pasal 12D itu adalah merupakan satu kesatuan, b, c, dan d. Artinya Pasal 12C kalau ketentuan Pasal 12 ayat (1) di 128 itu, ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 128 tidak berlaku jadi hukuman itu tidak berlaku dia tidak kena pidana. Jika penerima melaporkan pemberian, ayat (2) tidak berlaku. Jadi membaca Pasal 128, Pas al 12C, Pasal 120 itu harus satu-kesatuan. lni saya mencoba alur dari Pemerintah ini, kena tadi terakhir tadi Pak Natabaya menyampaikan bahwa laporan ini merupakan sesuatu yang keharusan artinya begitu. Kalau kita berbicara masalah Pasal 12 huruf d, bagaimana Pak Sahetapy, Pak Akil.
F.PDIP {PROF. DR. J.E. SAHETAPY, SH, MA):
Kalau saya tidak ada masalah buat saya, tapi apakah nanti bisa saja dimasukan. Cuma nanti kita lihat dalam prakteknya bagaimana, kalau praktek saya belum yakin, tapi silakan. Saya tidak mau dianggap menghalangi pasal mengenai gratifikasi, silakah. Saya sudah kemukakan berbagai, kalau kawan-kawan yang lain juga semua setuju pola pikir yang tadi dikemukan oleh Pemerintah dalam hal ini oleh Prof. Natabaya, ia terserah. Saya tidak mau dianggap apa itu Stal breker kata orang Belanda. Silakan saja cuma nanti apakah ini bisa berjalan dafam praktek nanti kita lihat. Tapi please atau kalau cara Jawa ya monggo.
ARSIP DPR RI
KETUA RAPAT:
Biar ada . . . . Jadi begini, kalau begitu ini apakah kita pakai yang terakhir sebelum saya lemparkan ke sebelah kanan, Pak Saiful, Pak Max, Pak Tatang, Pak Soeminto.
PROF. GANI:
Kalau sayakan bukan ahli hukum pidana, tapi hanya memahami. Setelah saya memahami apa yang disampaikan Prof. Sahetapy dan Pak Akil tadi, apa yang dikatakan Prof. Natabaya ada jalan keluar saya lihat. Jalan keluamya apabila dikaitkan dengan Pasal 120, itu terkait di situ. Kalau 120 itu tidak menyampaikan laporan, sedangkan 128 itu belum ada perintah menyampaikan laporan. Jadi saya kira perlu ditambah satu ayat lagi di 128 ini untuk menyelesaikan persoalan itu, sehingga berkait dengan 12C dan 120 itu. Pad a 128 ayat ( 1) itu rumsannya setiap pemberina kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara yang nilainya sebagaimana dimaksud dengan yang nilainya sekian atau lebih itu wajib menyampaikan laporan kepada mana. Nah kemudian sampai ke 120 dalam hal tidak menyampaikan laporan maka dipandang tindakan itu sebagai tindakan menerima suap. Tindakan sebagaimana dimaksud 120 itu langsung dipidana dengan pidana penjara. Jadi berkait dia, jadi bertemulah tempatnya tadi seperti yang dipertanyakan oleh Prof. Sahetapy tadi, jadi be rte mu dia.
KETUA RAPAT:
Kalau memang Pemerintah tidak bersatu padu mengajukan usulan, yang penting Pemerintah ketemu, Pemerintah satu dulu berdebat dululah silakan Pak. Terserah Pak, apakah ini memang jadi suara Pemerintah karena jangan sampai seperti Pak Akil dulu pengadilan HAM itu, silakan Pak Natabaya ada tambahan.
PROF. NATABAYA:
Kalau sudah digabung-gabungkan begini, dia tidak menunjukan keseluruhan. Jadi itu dikatakan keseluruhan dulu begini-begini, ini namanya ini nanti dia ini tidak berlaku kalau mefakukan di sini ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ini tidak berfaku jika penerima melaporkan ini. Dia mesti ada kewajiban untuk melaporkan itu, jadi bukan di sini, kita masih merumuskan mengenai deliknya itu. Deliknya ini beginilah, tapi dia tidak berlaku terdapat ada dekremilisasi kalau memenuhi Pasal 12C itu. Jadi jangan digabung cara, terus keberatan Pak Akil dimana kira-kira.
KETUA RAPAT : Silakan Pak Akil.
Pak Akil itu yang dipertanyakan oleh Pak Akil itu, ini Pasal 128 inikan bukan merupakan delik. Kalau bukan merupakan delik itu mengapa diberikan, dicantumkan mengenai sanksi pidana.
PEMERINTAH :
Pemberian kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 128 ini yang nilainya ini, atau lebih dianggap sebagai suap. Dianggap sebagai suap, bukan merupakan suap, dianggap.
F.PG (M. AKIL MOCHTAR, SH) :
lni yang kita maksudkan inikan penggabungan kan Pak, unsur deliknya dengan ancaman pidananya sekaligus di sini. Kalau itu terjadi maka inikan delik, yang maksudkan begini kan kita harus memberi sebuah penjelasan dulu, ini pemberian kan begitu. Pemberian itu dianggap suap sampai dibuktikan sebaliknya itu harus sebuah rumusan tersendiri dulu kan begitu, baru ada item berikutnya. Kalau tidak dilaporkan baru ada ancaman delik tersendiri. Tidak bisa dia digabungkan
ARSIP DPR RI
jadi satu, ltu yang saya maksudkan Pak. Rumusan awal Pemerintahpun seperti itu, jadi tidak ujuk-ujuk setiap pemberian tidak bisa langsung begitukan. Jadi dia harus setip pemberian kepada pegawai negeri yang ini kita jelaskan dulu. Ketika orang baca ini dia sama dengan rumusan pasal yang di atas delik dia. lnikan kita ingin menyatakan pemberian itu bukan delik, tapi kalau dibuktikan sebaliknya itu baru, maka dia ada ancaman pidana tersendiri Pak. Kalaupun ancaman pidananya ini, menurut saya ancaman pidananya sudah terkandung di Pasal 12 yang sekarang juga ada di situ.
Perlu kita sebutkan di sini misalnya, kalau perlu toh. Kenapa, karena ini kita bukan merumuskan unsur deliknya, tapi kita merumuskan sebuah pemberian yang punya kewajiban dilaporkan. Tapi rumusan deliknya sudah tercantum dalam Pasal 12 a, b, c, d, sampai i kan disitu Pak, itu satu. Yang kedua kalau kita ingin mengambil deliknya itu sesuai dengan Pasal 419 dan Pasal 420, maka tidak boleh dia melebihi Rp.5.000.000,- pemberian. Di atas Rp.5.000.000,- dia kena ancaman maksimum, di bawahnya di kena itukan, inikan Pasal 12 Pak paling singka 4 tahun, tapi di sini dibagi oleh Pemerintah dibikin ayat (2). Kalau di bawah Rp.10.000.000,- tidak terkena apa namanya pidana minimum. Cu ma yang saya maksudkan .. mesti 1 O berarti kita tidak konkordan dengan yang di atas, tidak konsekuen dengan yang di atas. Yang di atas Rp.5.000.000,- saja dikenai pidana, ini Rp.10.000.000,- baru kena, kalau terbukti nanti. ada ketidakkonsistenan kita sementara ancamana hukumannya sama dengan Pasal 12 itu yang saya maksudkan Pak.
KETUA RAPAT:
Baik Pak Akil ada dua pokok yang disampaikan tadi oleh Pak Akil, Pasal 128, C, dan D menurut beliau itu hanya tentang mekanisme pelaporan, jadi fokus ke situ mekanisme pelaporan.
Loh dia ngangguk tadi Pak, maksudnya beliau 128, 12C, dan 120 itu hanya berbicara mekanisme pelaporan, tetapi pada saat berbicara masalah ancaman hukuman terutama yang Rp.5.000.000,-, Rp.10.000.000,- itu dianggap oleh beliau tidak konsisten di satu sisi. Dan itu mengacu kepada Pasal 12 sebelumnya, kalau berbicara masalah hukuman, jadi ada dua hal ini yang kita konsentrasi Pak.
Silakan.
PROF. GANI:
Kalau saya tidak salah bahwa Pak Akil itu memindahkan rumusan ini, delik ini kapan dia itu merupakan delik. Kalau hanya baru dianggap menurut beliau itukan belum delik, jadi harus dibuktikan kelengkapan. Maka itukan seotah-oleh harus dianggap pemberian suap kalau dibuktikan sebaliknya. Kemarin kita itukan menurut Pak Zen itukan hukum acara, sehingga kita pisahkan. la itulah yang dianggap ... penerima suap itu. Pasal 12A yang pengertian pemberian suap dibuktikan sebaliknya itu. Justru kita rumuskan itu ada di pembuktian, memang di Malaysia juga itu mengenai . . . ada di dalam pembuktian. Jadi kita keluarkan itu oleh karena kita atur lagi di Pasal 38. Saya setuju kalau mau seolah-oleh menggantung Pasal 12. Tapi Pasal 12 itu tidak bisa dihilangkan kita harus tentukan dulu rumusan normanya itu Gratifikasi itu apa.
F .PG (M. AKIL MOCHTAR, SH) :
Saya katakan Pasal 12 itu tetap, tetapi yang saya maksudkan itu pencantuman dari pada ketentuan pidananya itu tidak lumrah. Coba bapak baca Pasal 12 itu tidak ada menyatakan dibuktikan sebaliknya, tidak ada. Pasal 128 ini hanya dianggap pemberian suap begitu.
PROF. NATABAYA:
Kan aslinya kan begini, setiap pemberian kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 huruf a, b, c yang nilainya Rp.10.000.000,- atau lebih dianggap pemberian suap, dan menerima suap dipidana dengan pidana seumur hidup atau dipidana dengan pidana penjara paling singkat 4 tahun dan paling lama 20 tahun dan denda sekian-sekian.
F .PG (M. AKIL MOCHTAR, SH) :
Tapikan tidak ada dinyatak di sini bahwa saya dibuktikan sebaliknya.
ARSIP DPR RI
PROF. NATABAYA:
Bukan nanti dikatakan itu di Pasal 38 itu tadi kitakan sebut. Pasal 38C kalau Bapak baca, a.
setiap pegawai negeri atau penyelenggara negara yang didakwa menerima pemberian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 128 ayat ( 1) wajib membuktikan bahwa pemberian tersebut bukan merupakan suap. lni kita atur, karena kata Pak Zen itu supaya di dalam acara. 128 ayat (2) dalam hal pemberian kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara yang nilainya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 128 ayat (2) pembuktian adanya suap merupakan kewajiban penuntut umum.
Baru 3 pembuktian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan pada saat pemeriksaan di pengadilan. lni semua yang menyangkut acara ini, kita pindahkan di dalam Pasal 38A ini. ltukan permintaan yang kemarin itu, jadi di Pasal 128 itu kita merumuskan normanya, sedangkan sebaliknya itu acaranya itu, itu kira-kira permintaan kemarin.
F.PDIP (H. M. YUNUS LAMUDA, SH):
Saya kira yang disebut Pak Akil itu bahwa di Pasal 128 ayat (1) ini tidak ada, tadinya ada itu bahwa kecuali dia dapat membuktikan sebaliknya. Karena ini ada kaitannya dengan yang ayat (2) dimana si Jaksa penuntut umum itu membuktikan bahwa itu bukan suap. Jadi tadinya ada itu, kemudian dihilangkan.
PROF. NATABAYA:
Begini kemarin kita rapat itukan seolah-oleh ada penggabungan antara pidana materiil dan pidana formil, kecuali sebaliknya dibuktikan itu menyangkut pidana formil. Maka dipisahkanlah itu yang saya sebutkan Pasal 38 tadi menunjuk kepada itu lagi, karena itu menyangkut pidana formil sedangkan di Pasal 12 itu hanya pidana materiil, keinginan dari pada kemarin coba saja jika pembalikan yang silakan tidak jadi persoalan, ayat (2) juga masih ada formilnya.
Bapak baru datang tadi, jadi ayat (2) itu sudah berbunyi lain Pak sudah diubah itu sudah hilang, jadi saya jelaskan ayat (2) berbunyi sekarang begini Pak : ayat (2) 11 Dalam hal pemberian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) nilainya kurang dari Rp. 10.000,- penerima suap dipidana dengan pidana penjara 5 tahun dan denda paling banyak di situ, itu sudah dihilangkan, sehingga mengenai pidana formilnya Bapak baca di dalam Pasal 38. Sebagai contoh perbandingan saya bacakan yang di Malaysia Pak, itu mengenai pembuktian dikatakannya disini : .. .. .. . .. .. .. .. . .. .. . .. .. .. ... . ... .. . .. .. dan seterusnya ditutup.
Kita begitu jug a disini tadi Pas al 38 itu tadi kita katakan Pasal 38A Setiap pegawai ... ..
wajib membuktikan bahwa pemberian tersebut bukan merupakan suap, jadi sebagai kontroling terhadap Pasal 128 tadi kita pisah itulah kira-kira dan ini permintaan kemarin Pemerintah sebagai pendraft yang baik kami rumuskan.
KETUA RAPAT:
Baik kita kembali lagi bahwa memang Pasaf 128, Pasal 12C, Pasal 120 itu adalah merupakan satu kesatuan, dan kemudian formilnya itu ada di Pasal 38A dan disitulah terlihat adanya pembuktian terbalik itu. Kemudian Pasal 38A ini Pemerintah membuat perubahan Pasal 1 kemudian Pasal 2 itu baru, Pasal 2 menjadi Pasal 3, kemudian Pasal 3 dihapus. Kira-kira bagaimana ini, ya kita sampai pukul 5.00 Wib jadi 10 menit lagi kita, ya kita ada waktu 10 menit lagi apa disetujui untuk masaf ah apakah kita setuju untuk rumusan yang baru ini atau ada usu Ian lain lagi silakan Pak Aki I.
F.PG (M. AKIL MOCHTAR, SH) :
Saya tetap meminta agar rumusan pidananya tersendiri tetapi yang dimaksud Pasal 128 setiap pemberian kepada pegawai negeri sebagaimana dimaksud oleh Pasal 1 ayat (2) Undang-Undang Nomor 31 T ahun 1999, kemudian dijelaskan diperluas dengan gratifikasi itu memang harus sebuah pengertian dari pemberian itu dulu. Pasal 12 B sebagaimana amanat Pasal 1 ayat (2) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 pemberian kepada pegawai negeri, pegawai negeri itu yang termasuk penyelenggara ya macam-macam kalau menurut ketentuan pasal itu.
ARSIP DPR RI
Agar tidak memberikan sebuah kesan ini adalah sebuah pasal yang memang memberikan seakan-akan pemberian itu deliknas ketika terjadi padahal masih diberikan sebuah pemaafan dimana pelaporan itu bisa menghilangkan, oleh sebab itu menurut hemat saya pemberian yang dimaksudkan sebagaimana Pasal 128 haruslah dirumuskan tersendiri Pak, baru nanti ayat berikutnya mungkin kita gabungkan, misalnya ayat (2) nya ancaman pidananya, karena tetap dia dianggap sebagai sebuah tindak pidana korupsi sampai dibuktikan sebaliknya saya mengharapkan itu kami fraksi harus ada sebuah kalimat yang ada di dalam rumusan pasal ini sampai dibuktikan sebaliknya, maka ayat (2) nya baru ketentuan pidananya kalau memang kita mau buat, jadi ancaman terhadap pemberian sebagaimana Pasal 1 itu disebutkan oleh Pasal 2, atau Pasal 1, Pasal 2 itu karena ini kita mengambil angka dan kita akan mengklarifikasi perbuatan pidana ini sebagaimana dimaksud Pasal 12 huruf a, b, c, dan seterusnya, maka yang berkaitan dengan ancaman pidananya itu dirumuskan tersendiri Pak yang melakukan pasal ini ancamannya sekian dipisah Pak, jadi biar kita memudahkan pengertian.
Karau soal bahwa yang kita maksud dengan pembuktian di sini di dalam Pasal 38A saya kira tidak juga ini masuk kepada pengertian acara karena inikan yang kita maksud ini kan sebuah ketentuan formal juga, kalau kita bicara pembuktian yang kita balik kepada hukum pembuktian, tapi karena ini adalah sebuah mekanisme pembuktian yang nanti kita maksudkan dengan pembuktian terbalik, kemudian pembuktian terbalik kemudian pembuktian terbalik itu seperti apa inikan kita masukan ketentuan formal Pak. Kalau begitu kitakan harus konsistensi juga dengan Pasal 128 ini, kalau memang kita ingin melakukan sebuah pidana materil saja, maka tidak bisa digabungkan tetapi dia harus ada sebuah rumusan tersendiri lagi. Pasal 38A ini ketentuan formilnya, pidana formil ini kemarin usulan kitapun belum sepakat juga soal ini, apakah kita harus dimasukan disini atau dimana tetapi Pemerintah menstruktur ini dimasukannya di dalam ketentuan acara, kalau misalnya kita mau konsisten juga sebenarnya acaranya tidak bisa disini kita menaruh.
Saya memberi contoh misalnya, yang kita maksudkan misalnya Pasal 26 ini itu sudah tidak cocok lagi kalau kita lihat Pasal 26 Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi ini sudah berubah, oleh sebab itu kami tetap menganggap bahwa perumusan dari Pasal 12 ini harus dibuat sebuah kualifikasi dulu, apa itu pemberian kan begitu ya setidak-tidaknya seperti yang lama, jangan tiba-tiba begitu langsung ada pasal ancaman pidananya, nanti ancaman pidananya menjadi ayat tersendiri supaya kita tahu ini kualifikasi deliknya Pak, kalau di atas kita sudah merumuskan pegawai negari ini dan seterusnya begitu ini dari kami tetapi yang lain silakan.
Terima kasih.
KETUA RAPAT:
Ada tambahan dari yang lain, apakah yang terakhir yang Pak Akil sampaikan ini bisa menjadi kesimpulan kita dalam rangka untuk Pemerintah mempersiapkan lagi.
Ada tambahan dari yang lain, apakah yang terakhir yang Pak Akil sampaikan ini bisa menjadi kesimpulan kita dalam rangka untuk Pemerintah mempersiapkan lagi.