• Tidak ada hasil yang ditemukan

PANJA. Selasa, 16 Oktober 2001 ARSIP DPR RI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PANJA. Selasa, 16 Oktober 2001 ARSIP DPR RI"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

PANJA

Selasa, 16 Oktober 2001

ARSIP DPR RI

(2)

PANJA 16 Okt 2001

kita.

KETUA RAPAT ( A.TERAS NARANG):

Berapa 7 ya, iya kan skorsing, saya bisa mulai dulu Pak, kita cabut skor dulu ya skorsing

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh, Salam sejahtera bagi kita semuanya,

Yang terhormat Saudara Dirjen yang mewakili Menteri Kehakiman dan HAM, Yang terhormat Anggota Panja Komisi II.

8erdasarkan laporan dari sekretariat Rapat Kerja di hadiri oleh 7 fraksi, kemudian hanya berapa 12 ... , 11 Anggota, tapi karena kemarin kita skors jadi karenanya ini melanjutkan yang lalu dengan demikian skors saya buka (ketok palu).

Saudara Dirjen yang mewakili Menteri Kehakiman dan HAM, serta para Anggota Komisi II DPR RI yang terhormat, sebelum kita melanjutkan materi Rancangan Undang-Undang Perubahan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang ada dalam persandingan Daftar lnventarisasi Masalah dari fraksi-fraksi perkenar 11\an saya menyampaikan terlebih dahulu hal-hal sebagai berikut :

1. Rapat Panja hari kamis tanggal 11 Oktober 2001 yang lalu, membahas DIM Nomor 42, rumusan Pasal 128 dari Pemerintah dan DIM Nomor 43 usul dari Fraksi PPP tentang penambahan Pasal 13A, namun dalam pembahasan ditemukan masalah krusial antara lain : 1. Apakah tepat substansi hukum materiil dan hukum formil digabung menjadi satu pasal,

kalau tidak tepat maka substansi hukum formil yang ada di Pasal 128 dipindahkan dan diatur dalam pasal yang mengatur hukum acara, kemudian

2. Nilai Rp. 10.000.000,- pada saat itu dianggap tidak tepat, oleh karena itu disesuaikan dengan jumlah nilai yang diatur dalam Pasal 12A yaitu Rp. 5.000.000,-.

3. Perlu dipertimbangkan untuk menggunakan istilah gratifikasi dan dijelaskan dalam penjelasan pasal, terakhir Pasal 128 baru menjadi delik ditentukan oleh hasil laporan yang diserahkan kepada Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, oleh karena itu perlu juga dirumuskan secara jelas mengenai sistem dan mekanisme laporan karenanya Pasal 128 disepakati dirumuskan kembali oleh Pemerintah dengan memperhatikan permasalahan krusial tersebut diatas.

2. Terhadap usul Fraksi PPP, tentang penambahan Pasal 13A baru khususnya substansi dalam tanda kutip bagi mereka yang terlibat dalam kurung merintangi, memperlambat dalam proses penyelidikan, penyidikan tindak pidana korupsi termasuk hakim dan terdakwa, disepakati, dirumuskan oleh Pemerintah dan penempatannya di Bab Ill Pasal 21 A atau Bab IV romawi.

Sebelum saya menyerahkan kepada Pemerintah kita sepakati dulu yang menjadi acuan kita bersama adalah pertama DIM yang ini mungkin sudah dibagikan kepada Bapak-bapak sekalian, ada DIM yang merupakan lampiran dari laporan singkat itu satu. Kemudian bahan yang menjadi acuan kita adalah juga rancangan yang seperti ini, ini menjadi acuan kita bersama, saya sekali lagi mengingatkan, harapan kita agar masalah yang kemarin dibahas dirumuskan kembali oleh Pemerintah dapat kita selesaikan dalam waktu yang tidak begitu lama sehingga kita bisa memasuki DIM-DIM yang berikutnya dan memang kita minta pada saat itu kepada BAMUS agar tanggal 18 bisa di PARIPURNA kan. Tanggal 18 hari Kamis besok lusa ya, tetapi kalau memang misalnya kita sudah berupaya dengan maksimal ternyata kita belum dapat menyesuaikan pada jadwal itu kita akan segera minta perubahan tetapi tetap harapan kita adalah agar di PARIPURNA kan pada masa persidangan sekarang ini ya itu, karena ini menganggap pentingnya Undang-Undang Nomor

ARSIP DPR RI

(3)

31 Tahun 1999 ini, itu harapan dari meja pimpinan dan selanjutnya saya persilakan kepada Pemerintah.

PEMERINTAH ( GANI ) : Bismillahirrohmanirrahim,

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Salam sejahtera buat kita sekalian,

Terima kasih kepada Bapak Pimpinan dan para Anggota Dewan yang terhormat, yang telah dengan sepenuhnya telah mempelajari usul perubahan yang disiapkan oleh Pemerintah, sesuai dengan keputusan Rapat Panja yang lalu yaitu seperti yang terumuskan di dalam naskah yang tel ah ditunjukan oleh pimpinan tadi terutama rumusan-rumusan yang masih dalam bentuk miring ya, Pemerintah juga sangat mengharapkan apabila rumusan-rumusan dari pasal-pasal ini baik yang dirumuskan ulang ataupun yang belum kita bahas sudah mencakup segala hal yang pemah kita bicarakan maka saya kira mudah-mudahan hari ini bisa diselesaikan, kemudian untuk rumusan-rumusan lebih lanjutnya bisa diserahkan kepada Pemerintah sehingga besok itu sudah diprogramkan bisa selesai Timus, Timsir dan lain sebagainya sehingga dalam bentuk batang tubuh Rancangan Undang-Undang nya besok tanggal 17 itu mudah mudah bisa, lantas jika memang bisa lancar sedikit tanggal 18 saya kira bisa di tapi kalau tidak, seperti apa yang dikatakan oleh Bapak-bapak pimpinan, nah untuk detilnya saya persilakan kepada Bapak Professor Nata Baya untuk menyampaikan, terima kasih.

PROF. NATA BAVA:

Saudara Ketua, sebelum kita melanjutakan rapat ini, saya mohon perhatian ada beberapa hal yang perlu diperbaiki dari Rancangan Undang-Undang yang telah ada ditangan Bapak-bapak sekalian yaitu halaman 9, halaman 9 itu didalam kurung kecil itu tertulis, satu, yang mestinya itu nomor 3 itu lanjutan dari itu udah bisa dilihat, sini nih yang dibagikan, ya, ada halaman 9, diatasnya, ya atasnya Pak, masuk tidak, ada tidak, ada Pak, mana itu Pak, kata-kata diantara pasal ini, ada Pak, oke yakin, ada Pak, tadi tidak kelihatan itu artinya ada, tadi tidak kelihatan sekarang kelihatan. Jadi itu kekeliruan, mestinya angka 3 harap itu tertulis angka 1 didalam kurung, itu ya mestinya 3 itukan lanjutan dari halaman 7 di atas, nah jadi 3 diantara Pasal 12 dan 13 disisipkan 4 bukan 5, 4 pasal baru yakni Pasal 12 ini dan Pasal 120 stop di situ, yang Pasal 12E itu akan dihapus nanti karena ada yang penggabungan nanti jadi tinggal 4, 4 pasaf saja yang diadakan perubahan itu, yang dihapus itu 12E, iya nanti itu, nah lantas halaman 10 yang Pasal 128 itu ada kekurangan jadi saya bacakan pada Pasal 128 itu rumusan Pemerintah setiap pemberian kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara yang nilainya Rp. 10.000.000,- atau lebih dianggap pemberian suap dan ini mesti ada dan penerima suap, nah ini kurang, dan dan penerima suap di pidana dengan pidana ensukor-ensukor, jadi kurang pokok kalimatnya itu dan penerima suap, lantas ayat (2) nya itu berbunyi sebagai berikut jadi dalam hal pemberian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) nilainya kurang dari Rp. 10.000.000,-nah ini dilanjutkan ke bawah penerima suap ini diambil dari kata kata yang Pasal 12C ini yang tadi yang kata saya bilang buang, penerima suap dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,- ke (c) ya tapi dimulai itu yang dipidana saja Pak, jadi yang setiap pegawai sampai ayat (2) itu hilang, ditambah kata penerima suap dipidana dengan ini, jadi ayat (2) itu nyambung terus kesitu.

F. PDIP (PROF. DR. JE SAHETAPY, SH, MA):

Bagaimana dengan PROF. NATA BAVA:

Tadi saya bacain Pak, jadi ya jadi keseluruhannya berbunyi demikian ayat (2) itu dalam hal pemberian suap sebagaimana yang dimaksud ayat (1) nilainya kurang dari Rp. 10.000.000,- penerima suap dipidana dengan pidana paling lama 5 tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,-begitu kira-kira ayat (2) itu.

ARSIP DPR RI

(4)

F. PDIP {PROF. DR. JE SAHETAPY, SH, MA):

Jadi pembuktian bahwa pemberian tersebut bukan suap itu hapus.

PROF. NATA BAVA:

Ya, nanti pindah, nantikan kita pindah yang formal ke formal yang inikan kita menentukan yang materil.

F. PDIP (PROF. DR. JE SAHETAPY, SH, MA):

Sebab soalnya tadi pagi bukan yang tadi pagi tadi siang atau saya baca tadi kok tidak klop begitu.

PROF. NATA BAVA:

Ya, bukan nantikan di pasal itu hat yang hukum pidana ini formulimya Pak, jadi ini kita kan Pak Zain kemarin supaya ini dirumuskan dipisahkan antara hukum pidana materiil dan pidana formilnya inikan beda Pak, lantas

KETUA RAPAT:

Maaf sebentar, jadi Pasal 128 ayat (2) itu ada perubahan dalam hal pemberian suap ya Pak ya, sebagaimana dimaksud

PROF. NATA BAVA:

Pemberian saja Pak dulu KETUA RAPAT:

Pemberian

PROF. NATA BAVA:

Sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) KETUA RAPAT:

Dengan ayat (1) nilainya kurang dari Rp. 10.000.000,- PROF. NATA BAVA:

Penerima suap dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling ban yak

KETUA RAPAT:

Dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun PROF. NATA BAVA:

Ya, dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,-, oh naikin (c) nya, ya, ya sudah, ya, ok, lantas 12 tadi terus D terus C ya, ya jadi 120 itu dari C itu, 120 selanjutnya terus E jadi D dan sekarang perubahan lagi yang ke halaman 14 (empat belas).

ARSIP DPR RI

(5)

F. PDIP (PROF. DR. JE SAHETAPY, SH, MA):

Saya masih belum bisa mengikuti.

KETUA RAPAT:

Sebentar-sebentar Pak, kita ulang aja lagi F. PDIP (PROF. DR. JE SAHETAPY, SH, MA):

ltu bagaimana 12 C itu.

PROF.NATA BAVA:

12 C itukan dibuang Pak.

F.

PDIP (PROF. DR. JE SAHETAPY, SH, MA):

Seluruh 12 C dibuang PROF. NATA BAVA:

Ya, hanya buntutnya saja diambil Pak

F. PDIP (PROF. DR. JE SAHETAPY, SH, MA):

Mulai di kata pidana itu tetap KETUA RAPAT:

Oke jadi 12 D udah, 12 C itu diambil naik ke ayat 2, 12 B, ok, ya ngga keliru sampai situ Pak.

F. PDIP ( PROF. DR. JE SAHET APY, SH, MA ) :

12 B ayat (2) itu ditambah dengan 12 C bagian bawah ya yang 12 C bagian atas dibuang.

PROF. NATA BAVA:

Mulai dari pembuktian bahwa itu dibuang Pak, ayat (2) itu F. PDIP (PROF. DR. JE SAHETAPY, SH, MA) :

Tidak 12 C setiap pegawai negeri dan seterusnya itukan tidak dipakai.

PROF. NATA BAVA:

lya, tidak dipakai

F. PDIP (PROF. DR. JE SAHETAPY, SH, MA):

Lalu kita sekarang masuk ke 12 D dari david, 12 D dari david berubah menjadi 12 C dari carli begitu

PROF. NATA BAVA:

Sebentar dulu Pak, begini Pak, 12 B dulu Pak, 12 B ayat (2), begini Pak, 12 B itu terdiri dari pada 2 ayat, nah tapi di ayat (2) nya ini kita perbaiki ya, berbunyi demikian dalam hal pemberian

ARSIP DPR RI

(6)

sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) nilainya kurang dari Rp. 10.000.000,- nah ini pembuktian bahwa pemberian tersebut dibuang ya terus penerima suap dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,- ok, kata-kata itu diambil dari 12 C ya, akhimya 12 C itu hilang ya hapus, ya sehingga yang 12 C itu yang D jadi C, 12 D dan terus, sekarang halaman empat belas 13 A, eh 38 A, 38 A ini ada ayat (2) baru ya nanti ayat (2) yang ada itu menjadi ayat (3) dan ayat (3) itu hilang, ayat (2) barunya berbunyi seperti berikut, dalam hat pemberian kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara yang nilainya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 128

ini.

KETUA RAPAT:

Pak pelan dulu Pak, pelan dulu sambil diketik di situ, ya, jadi nanti anggota bisa mengikuti di

F. PDIP (PROF. DR. JE SAHETAPY, SH, MA):

Ya, jadi Pasal 38A.

KETUA RAPAT:

38A, ada perubahan

F. PDIP (PROF. DR. JE SAHETAPY, SH, MA):

Ada perubahan, ayat satu tetap

KETUA RAPAT:

Perubahan ayat (2), tolong diketik dulu de, ya tolong diketik, ya F. PDIP ( PROF. DR. JE SAHETAPY, SH, MA ) :

Ayat (2)

PROF. NATA BAVA:

Ayat (2) baru Pak, iya, bunyinya dalam hal pemberian kepada pegawai negeri F. PDIP ( PROF. DR. JE SAHETAPY, SH, MA ) :

Sebentar dalam hal pemberian PROF. NATA BAVA:

Kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara yang nilainya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 B ayat (2)

F. PDIP (PROF. DR. JE SAHETAPY, SH, MA):

Dalam hal pemberian kepada pegawai negeri atau penyelenggara regara PROF. NATA BAVA:

Yang nilainya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 128 ayat (2), yang kurang dari itu tadi

ARSIP DPR RI

(7)

F. PDIP ( PROF. DR. JE SAHETAPY, SH, MA ) : Yang nilainya sebagaimana dimaksud

PROF. NATA BAVA:

Dalam Pasal 128 ayat (2), pembuktian adanya suap merupakan kewajiban penuntut umum.

F. PDIP (Prof. DR. JE Sahetapy, SH, MA}

Pembuktian, pembuktian apa Pak.

PROF. NATA BAVA:

Pembuktian adanya suap merupakan kewajiban penuntut umum · F. PDIP (PROF. DR. JE SAHETAPY, SH, MA) :

Pembuktian adanya suap PROF. NATA BAVA:

Merupakan kewajiban penuntut umum

KETUA RAPAT:

Sudah, jadi perubahannya ada di .... sudah Pak,. bawah ini, kemudian ayat (2) nya, berarti ayat (2) yang semula

PROF. NATA BAVA:

Jadi ayat (3)

KETUA RAPAT:

Jadi ayat (3), oke PROF. NATA BAVA:

Tapi ayatnya ada tambahan, sudah fase terakhir, fase terakhir, terakhir, sekarang ayat (3) yang tadinya ayat (2), sudah

F. PDIP (PROF. DR. JE SAHETAPY, SH, MA) : Tidak keliru Pak Pasal 38A ayat ( 1) tidak berubah PROF. NATA BAVA:

Tidak berubah

F. PDIP ( PROF. DR. JE SAHETAPY, SH, MA ) : Ayat (2) berubah

PROF. NATA BAVA:

Ya, yang baru ini tadi

ARSIP DPR RI

(8)

F. PDIP ( PROF. DR. JE SAHETAPY, SH, MA } : Yalalu

PROF. NATA BAVA:

Ayat (2) yang lama itu menjadi ayat (3)

F. PDIP (PROF. DR. JE SAHETAPY, SH, MA):

Ooh begitu

PROF. NATA BAVA:

Tapi ada sedikit tambahan, ia jumlahnya sedikit saja, bunyinya sebagai berikut pembuktian sebagaimana dimaksud dalam ayat ( 1) dan ayat (2) di atas dilakukan pad a saat pemeriksaan di sidang pengadilan, ayat (3) lama itu hapus, oh hapus ya, mengenai yang di inikan kemarin karena pas al ini tadi Pasal 30 Pasal 12 itu akan menjadi hal yang mati kaf au tidak ada laporan dan laporan kepada komisi dan kemarin kita mengatakan bagaimana kalau komisinya betum terbentuk kan

KETUA RAPAT:

Sebentar, sebentar Pak jadi koreksi sudah selesai Pak PROF. NATA BAVA:

Ada ada saya terangkan bahwa tugas yang diberikan ke KETUA RAPAT:

Sebelumnya di Pasal 12 lagi PROF. NATA BAVA:

Tidak lain

KETUA RAPAT:

Ok

PROF. NATA BAVA:

Oiaturan peralihan, 16

KETUA RAPAT:

Halaman 16 Pak ya, ok PROF. NATA BAVA:

Kan kemarin ditugaskan kepada Pemerintah, kan kita ini ditugaskan kepada Komisi Pemberantasan Korupsi, Komisi Pemberantasan Korupsi kan belum terbentuk, kalau belum terbentuk kan mana bisa beres, sekarang siapa yang metaksanakan, nah itu diatur di dalam ketentuan peralihan di dalam Pasal 438, jadi akan berbunyi dalam hal Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana yang dimaksud Pasal 12C, 12C nih bukan D, 12C ayat (1) belum terbentuk laporan disampaikan kepada pengadilan negeri yang wilayah hukumnya meliputi

ARSIP DPR RI

(9)

tempat kedudukan pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima pemberian kira-kira itu apa namanya.

F. PDIP ( PROF. DR. JE SAHETAPY, SH, MA} :

Boleh diketahui rasional dari pada kenapa disampaikan kepada pengadilan negeri.

KETUA RAPAT:

Nanti dulu Pak, biar kita koreksi dulu, sampai selesai, biar nanti baru kita akan bahas satu raun. silakan dihabiskan dulu Pak.

PROF. NATA BAVA:

Habis selesai, yang ditugaskan kepada Pemerintah.

KETUA RAPAT:

Ok kalau begitu PROF. NATA BAVA:

Pasal 44 ya Pasal 44 KETUA RAPAT:

Pasal berapa Pak PROF. NATA BAVA:

Yang mana, oh ya ini, karena kita kita kan tuliskan pennintaan Pak Akil itu rumusan elemen- elemennya itu sehingga pada saat undang-undang ini berlaku, Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, tambahan lembaga Negara ... Pasal 209, 210 dan seterusnya ini tentang perubahan kitab undang-undang dinyatakan tidak berlaku, kira-kira apa namanya itu, apa carli, 43 8 ya jadi 12 C itu jadikan D itukan C karena tadi dihapus

KETUA RAPAT:

Pak Tatang, jadi yang Pasal 438 halaman enambelas disitu tertulis 12 D dari delta itu berubah menjadi Pasal 12 C dari carli.

PROF. NATA BAVA:

Demikianlah Bapak apa namanya, udah Pak ya, bahan untuk diskusi kita.

KETUA RAPAT:

Baik sekarang sebefum menyerahkan pada Anggota Panja kami minta penjelasan dulu dari Pemerintah terhadap rumusan baru yang dibuat ini, singkat saja Pak dari beberapa pasal yang diminta oleh Panja pad a tanggal 10 yang lalu mohon dijelaskan perubahan-perubahannya itu secara singkat Pak.

PEMERINTAH :

Sebagaiman diminta perubahan-perubahan itu satu menyangkut bagaimana hasil keputusan kita kemarin adalah mengenai pengertian kita masih mengguanakan istilah pemberian apakah itu mau gratifikasi terserah itu nanti di dalam apa penjelasan atau ini dinamakan gratifikasi kita sama-

ARSIP DPR RI

(10)

sama akan berunding, kedua mengenai pemindahan mengenai hukum acara formal kita pindahkan masuk Pasal 38 dan juga mengenai masalah komisi yang belum terbentuk, saya kira itu saja yang diminta, 20A, oh ya ini yang itu masalah yang diambil idenya dari pasal komisi itu mengenai apa bedanya kata Pak Zain itu kalau di dalam tim komisi itu penyidik dan penuntut tidak boleh bertemu itukan, juga sebetulnya mereka penyidik jug a ke polisi dan segala macamnya nah ini sud ah dirampung dalam Pasal 30A itu setiap orang selain penyidik atau penuntut umum atau hakim yang karena jabatannya dengan sengaja mengadakan pertemuan dengan tersangka itu tidak diperbolehkan itu idenya yang kita ambil dari pasal di dalam Rancangan Undang-Undang mengenai komisi itu, itu saja Pak, terima kasih.

KETUA RAPAT:

Baik, terima kasih dari Pemerintah, Bapak-bapak sekafian jadi sudah disampaikan beberapa rumusan baru yang diajukan oleh Pemerintah berkaitan dengan usulan kita pada saat itu dan saya memberikan kesempatan kalau bisa satu round saja khusus terhadap halaman 10 Pasal 128 yang ada disini Pasal 128 sampai dengan tadi yang disebutkan oleh Pemerintah terakhir Pasal 438, saya persilakan Pak, Pak Sahetapy.

F. PDIP ( PROF. DR. JE SAHETAPY, SH, MA) :

Kai au khusus mengenai halaman 10 saudara ketua itu tidak ada catatan dari saya, hanya pada waktu rapat terakhir saya sudah beri tahu tapi rupanya kelewatan lagi yaitu pada halaman pertama, kata membentuk itu mestinya mengganti dibentuk tetap masih belum diubah itu, yang halaman pertama Pak, halaman pertama bagian bawah sekali karena berdasar saya baca butir C, bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf A dan huruf B perlu membentuk, lalu di bawah kata membentuk diganti dibentuk itukan tidak cocok, ya ini agak sedikit mengganggu, tidak membentuk Pak di atasnya itu, iya betul, tapi di bawah catatan kata membentuk diganti mesti kata membentuk mengganti.

KETUA RAPAT:

Kalau begitu, begini ini memang sudah disepakati oleh kita pada saat itu di Panja pada tanggal 3.

F. PDIP (PROF. DR. JE SAHETAPY, SH, MA):

Saya, saya setuju cuma catatannya ini.

KETUA RAPAT:

Kita ini aja Pak, kita ganti aja bahwa ini kita setujui saja, nanti untuk menjadi perhatian bagi Timus jadi membentuk diganti dengan dibentuk bukan, ya, ya betul, oh sorry membentuk diganti dibentuk.

FI PDIP (PROF. DR. JE SAHETAPY, SH, MA) :

Bukan diganti, kata membentuk mengganti dibentuk gitu loh Pak, kata membentuk mengganti itu kalimat aktif bukan kalimat pasif.

KETUA RAPAT:

Mengganti ya baik Pak, mengganti dibentuk, ya ok.

PROF. NATABAYA:

Jadi memeang yang mestinya di dalam itu membentuk kan, ya, jadi yang benar itu perlu membentuk undang-undang.

ARSIP DPR RI

(11)

F. PDIP (PROF. DR. JE SAHETAPY, SH, MA):

Ya, cuma perlu diperbaiki, padahal sudah saya minta 2 kali, tapi rupanya kelupaan itu, ya, itu Pak apa namanya error is human. Kemudian masih ada lagi kalau bukan pasal, bukan halaman 10 saudara ketua, halaman 9, dalam halaman 9 ini mengenai catatan yang dimaksud dengan advokat adalah orang yang berprofesi memberi jasa hukum baik di dalam maupun di luar pengadilan, ya kenapa tidak begitu saja yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan saja kenapa mesti yang memenuhi persyaratan lagi, kan ini berkelebihan menurut hemat saya, berikut ....

KETUA RAPAT:

Nanti dulu Pak, nanti dulu Pak, silakan Pak, jadi ada satu catatan, pertama tadi ya kemudian kedua halaman 9 mengenai definisi dari yang dimaksud dengan advokat usulan dari Pak Sahetapy, kenapa tidak langsung saja dengan kalimat yang sesuai, ya, begitu saja, dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku gitu ya Pak.

F. PDIP ( PROF. DR. JE SAHETAPY, SH, MA ) :

Kalau sudah yang sesuai berarti persyaratan dengan inikan yang dinamakan dalam dunia hukum totologi mengulangi yang tidak pertu.

KETUA RAPAT:

Ya, adalagi Pak Sahetapy

FI PDIP ( PROF. DR. JE SAHET APY' SH, MA ) :.

Ada juga saya cuma apa ini mau tunggu tiap-tiap pasal atau bagaimana ini, kalau boleh saya, saya ini aja, saya sekaligus ya catatan-catatan yang lain kalau diperkenankan dari pada lupa, ya, ya itu halaman 12, terus aja Pak, halaman 12 itu Pasal 208 di situ, ini rupanya baru begitu lalu sehingga mengakibatkan proses tersebut tidak sesuai dengan ketentuan undang-undang, menurut saya kalau kita taruh nomor 8 Tahun 1981 andai kata dan dalam waktu satu dua tahun ini KUHP itu diubah bagaimana ini, jadi saya kira, hukum acara pidana, tidak sesuai dengan undang-undang tentang hukum acara pidana, nomor dan tahun dibuang, ini untuk menggampangkan sebab hakim- hakim kita itukan berfikir seperti kuda satu begitu ya, kemudian ada lagi yang saya baca yaitu mengenai Pasal 43A saya pikir baca ini juga ada bahayanya juga, salah tafsir. Jadi kalau boleh saya baca, tindak pidana korupsi yang terjadi sebelum Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi diundangkan diperiksa dan diputus berdasarkan ketentuan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, kalimat berikut itu semuanya dibuang dengan memperhatikan ketentuan Pasal 1 ayat (2) KUHP. ltukan yang meringankan, jadi tidak usah lagi. Di sini kecuali ketentuan yang menentukan maksimum ini. lni kalau dibaca salah-salah bisa kita membingungkan. Jadi pemberantasan tindak pidana korupsi, dengan memperhatikan ketentuan Pasal 1 ayat (2) karena Pasal 1 ayat (2) itu harus menetapkan yang ringan, itu pertama.

Kemudian Pasal 438, itu saya minta dari Pemerintah untuk menjelaskan rasional daripada mengapa harus disampaikan ke pengadilan negeri, mengapa tidak ke Pemerintah Daerah, mengapa tidak ke kejaksaan, atau ke kepolisian atau apapun. Yang terakhir, ini Pasal 44 pada saat undang- undang ini mulai bertaku, ayat (2) itu, ini, ini semuanya tidak ada KUHP dibelakangnya itu. Pasal 425 dan Pasal 435 tidak ada kata 'KUHP". Pertanyaan saya, apakah Pasal 209, Pasal 210, Pasal 387 ini isinya sama dengan rencana KUHP yang baru? Kalau sama berarti Pemerintah harus mengubah angka-angka itu 209, 210, 387 sebab nanti bagaimana kalau ada di sini, tetapi direncana KUHP baru ada pasal-pasal itu juga kan nanti double risk. ltu yang ingin saya minta perhatian.

Di belakang Pasal 435 dicantumkan KUHP, tetapi ini dan Pasal 435 Undang-Undang Nomor 1, ini lain Undang-undang Nomor 1 tahun 1946 itu lain 'memperlakukan Kitab Undang-

ARSIP DPR RI

(12)

Undang Hukum Pidana'. Jadi saya setuju saja, Undang-Undang Nomor 1 ini mau dicantumkan, tetapi sebetulnya sudah tidak begitu relevan tagi. ltu tahun 1946 sampai sekarang kalau saya tidak salah di dalam konsideran rencana KUHP baru itu juga dicantumkan Undang-Undang Nomor 1. Jadi ditulis saja Pasal 43 kalau mau dipertahankan boleh saja, tetapi harus ditambah KUHP. lnikan sebenarnya teori aspek akademis yang sebetulnya saya itu tidak keberatan. Tetapi terus terang saja ada di kalangan para akademisi yang mempersoalkan rasional daripada Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946.

Saya sendiri mempersoalkan, karena semua KUHP yang sekarang ini bukan KUHP dalam arti sah sebab tidak ada satupun pasal dalam Undang-Undang Nomor 1 tahun 1946 yang memerintahkan bahwa pasal-pasal itu adalah dafam bahasa Indonesia. Jadi sebetulnya itu terjadi perdebatan bahwa KUHP yang sekarang itu sebagian ditulis dalam bahasa Belanda, sebagian ditulis dalam bahasa Indonesia termasuk pasal-pasal ini yang disebut. Jadi daripada kita nanti membuka polemik mengenai perdebatan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 itu tutupi saja supaya orang yang tidak tahu mengenai latar belakang itu tidak menimbulkan persoalan baru, itu yang saya ingat.

Perdebatan pada waktu itu adalah antara Profesor Barda dan saya, itu supaya diketahui saja di GBHN.

Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Terima kasih, Pak Sahetapy.

Untuk Pemerintah ada beberapa catatan tadi dari Profesor Sahetapy. Pertama, Pasal 44, Pasal 438, Pasal 43A dan kemudian beberapa usulan Pasal 208 agar Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 itu tidak usah dimuat, serta hal-hal lain yang terkait dengan sebelumnya itu. Sebelum saya menyerahkan kepada Pemerintah, saya berikan kesempatan 1 (satu) around untuk fraksi-fraksi dalam kaitan hanya untuk membicarakan atau mempertanyakan usulan Pemerintah yang terkait dengan halaman 10 sampai dengan halaman terakhir.

Saya persila~an dari Fraksi Partai Golkar.

F .PG (M. AKIL MOCHTAR, SH) : Terima kasih, Pimpinan. ·

Pertama-tama, yang berkaitan dengan Pasal 128. Pasal 128 ini yang ayat (1) itu utuh kecuali tambahan 'dan penerima suap'. Kemudian ayat (2)nya, 'Rp. 10.000.000,- penerima suap langsung diambil dipidana dengan pidana penjara 5 (lima) tahun atau denda paling banyak sekian'.

Sisa ayat yang di ayat (2) itu drop (hapus). Jadi pembuktian oleh penuntut umum tidak lagi, hilang ya. Lalu Pasaf 12C hilang jadinya, Pak.

KETUA RAPAT:

Kalau begitu, begini saja Pemerintah, saya memberikan waktu sepenuhnya sampai dengan Pukul 15.15 Wib kepada Pemerintah untuk memperbaiki koreksi-koreksinya atau 10 menit cukup?

Jadi biar nanti kita tidak bolak-balik lagi. 10 men it cukup, Pak Natabaya? Baik, 15 menit cukup dan kalau begitu kita skors dulu.

(RAPAT DISKORS PUKUL 15.00 WIB)

Bapak dan lbu sekalian, temyata Pemerintah sudah bisa menyelesaikannya dalam waktu hampir 5 (lima) menit saja. Dengan demikian skors saya cabut kembali.

(SKORS DI CABUT PUKUL 15.05 WIB)

Kesempatan ini, saya berikan kepada Pemerintah untuk menyampaikan penjelasan sekali lagi berkenaan dengan rumusan baru yang kemarin disampaikan.

ARSIP DPR RI

(13)

Silakan, Pak.

PROF. NATA BAVA:

lni memang di 12Bnya ini agak kurang, jadi yang dirumuskan oleh Pemerintah agak kurang.

Jadi mestinya demikian 'setiap pemberian kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara sebagaimana dima~sud dalam Pasal 12 huruf a, b dan c yang nilainya di susutkan. Jadi ini disusutkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 huruf a, b, dan c, itu saja. Jadi yang di atas ini adalah perbuatan yang melanggar Pasal 12A, B dan C yang nilainya Rp. 10.000.000,- dan diancam lebih tinggi, sedang ayat (2) yang tidak melanggar pasal itu tetapi nilainya di bawah ini diancam juga lebih rendah.

KETUA RAPAT:

Baik, jadi ada rumusan baru lagi dari Pemerintah untuk halaman 10 Pasal 128. Jadi Pasal 128 ayat (1) menjadi berbunyi "setiap pemberian kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 Huruf a, b, c, yang nilainya'. Selanjutnya tidak ada perubahan, perubahan yang pertama tadi tetap dan disisipkan lagi dengan yang baru. Selanjutnya saya persilakan kembali, mohon maaf tadi Pak Akil langsung diinterupsi.

Silakan, Pak.

F .PG (M. AKIL MOCHTAR, SH) :

Jadi begini kalau saya membaca Pasal 128 inikan adalah sebuah pemberian yang tidak terkait dengan tindak pidana. Tetapi apa yang dirumuskan di dalam Pasal 2, kemudian Pasal 12 itu adalah sebuah delik suap. Oleh sebab itu saya melihat begini, yang saya maksudkan itu adalah mengapa Pasal 128 ini mesti ada sebuah ancaman pidana juga. Saya memberi contoh misalnya begini Pak, 'setiap pemberian kepada pegawai negeri, dan seterusnya atau lebih dianggap pemberian suap dan penerima suap'. Kita kembali ke Pasal 12, Pasal 12 itukan 'di pidana penjara 4 tahun dan paling lama 20 tahun, pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima hadiah atau janji'.

Sedangkan Pasal 128 inikan 'setiap pemberian kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara yang lainnya sebesar Rp. 10.000.000,-'. Padahal di depan kita sudah membuat mimik, khususnya pada Pasal 5 sampai dengan Pasal 12 ini. Pemberian yang Rp. 7.000.000,- itu suap tetapi tidak terkena ancaman minimum, yang Rp. 5.000.000,- ancaman maksimum tetapi inikan bagi pemberi, kalau misalnya Pasal 5 ini pemberi. Lalu Pasal 12 itu penerima, lalu kita kembali lagi ke Pasar 128 ini pemberian yang Rp. 10.000.000,-. Jadi maksud saya, bagaimana konsekuensinya? Di atas kami sudah katakan Rp. 5.000.000,- untuk si pemberi, harus orang memberikan janji dan segala macam, 12A. Terus di bawah kita Rp. 10.000.000,- misalnya terus ada ancaman maksimumnya 20 (dua puluh) tahun, ada ancaman paling singkat 4 (empat) tahun.

Maksud saya adalah kalau misalnya ini sebagai sebuah pasal yang bukan merupakan pidana formil atau tindak pidananya belum terjadi karena ini adalah gratifikasi. Pemberian yang diperluaskan apa-apa saja, tetapi dia akan terjadi tindak pidana setelah komisi menentukan. Setelah komisi menentukan, apakah pemberian itu menjadi milik negara atau milik pribadi? Asumsi saya kalau lihat di pasal seterusnya, Pasal 128, 30 (tiga puluh) hari kalau dia tidak melaporkan itu dianggap sebagai penerima suap. Kemudian 15 hari sejak komisi itu menerima laporan pemberian itu maka komisi menentukan apakah hadiah itu menjadi milik negara atau milik si penerima. Baru di sana kalau misalnya itu menjadi milik negara, delik ini terjadi kalau menurut saya karena sebelumnya kan tidak ada delik.

Tetapi kalau di Pasal 12 itu otomatis, 12, 12A itu otomatis. Sedangkan elemen-elemen yang disebut itu ada di sana. Pegawai negeri, penyelenggara negara, di 12 itu, di Pasal 5nya si pemberi, di Pasal 12 itu penerima, masuk lagi 12b, kita gali lagi ini. Jadi di sini yang kita maksudkan kalau misalnya 2b ini adalah untuk memberikan sebuah lempatif terhadap pemberian yang harus dilaporkan maka tidak lain dan tidak bukan agar dia tidak terkena tindak pidana korupsi Rp .

ARSIP DPR RI

(14)

5.000.000,-. Tetapi Rp. 5.000.000,- itu wajib dilaporkan sebab Rp. 5.000.000,- saja di alas dia sudah kena ancaman minimum pempidanaan. Di bawah Rp. 5.000.000,-, Rp. 1,- misalnya dia juga tetap di nilai korupsi, menerima suap. Suap itu berkaitan dengan pemberian, tetapi kalau Pasal 128 ini adalah mumi sebuah pemberian.

Oleh sebab itu rumusan yang berkaitan dengan ancaman dan denda, menurut saya tidak bisa masuk di sini. Tetapi harus ada pelaporan bahwa itu ada sebuah pemberian kepada pegawai negeri, kita hanya mengatur mekanismenya saja. Saya menerima hadiah Rp. 1.000.000.000,- (1 milyar), sayakan harus lapor hanya ada pemberiannya, tetapi kalau di bawah Rp. 5.000.000,- apakah harus lapor? Kemudian dilaporkan walaupun saya belum tentu sepakat atau tidak, tetapi tetaplah komisi ini berwenang menentukan. Sebab itu di pasal ini tidak dijelaskan, misalnya komisi menyatakan Pasal 128 ayat (4) kan komisi menentukan dalam waktu 15 (lima belas) hari, apakah pemberian itu dapat dimiliki oleh saya atau diterima oleh negara. Kalau misalnya diterima oleh negara, saya tidak kena tindak pidana korupsi karena tidak dijelaskan di sini. Saya bisa komplain tidak atas penetapan itu? Saya keberatan karena itu pemberian sah misalnya, atau setelah ditetapkan menjadi milik negara maka terjadilah delik suap, korupsi itu kepada saya. tnikan harus kita lihat betul-betul.

Jadi kalau misalnya Pasal 128 ini kita ingin menjelaskan bahwa ini adalah sebuah pemberian yang wajib dilaporkan maka kita mengatur mekanisme itu. Sebab di depan sudah jelas Pak, Rp. 5.000.000,- karena korupsi, itu Pasal 5. Pasal 12 itu bagi yang menerima, pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima a, b, c, d sampai e pun sudah diatur semuanya. Belum bisa saya terima secara rumit, bagaimana maksud daripada Pasal 128 ini? Kita mohon juga kepada Pemerintah, apakah dimaksudkan ini untuk memberitahu bahwa itu adalah sebuah pemberian yang tidak ada kaitan. Kitakan diberi contoh jalan ke luar negeri, pejabat negara dapat hadiah, misalnya, ltukan tidak ada hubungan dengan yayasan, tetapi itukan hanya sebuah pemberian tapi ada kewajiban yang dilaporkan.

Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Mungkin sebelum saya melanjutkan kepada fraksi yang lain. Saya rasa 2 (dua) hal yang tadi disampaikan oleh Bapak Profesor Sahetapy dan Pak Akil Mochtar tadi cukup substansial untuk dijawab oleh Pemerintah. Jadi saya berikan kesempatan kepada Pemerintah untuk menjawab 2 (dua) penanya tadi yaitu yang pertama Profesor Sahetapy dan Pak Akil Mochtar.

Silakan.

PROF. NATABAYA:

Pada prinsipnya saya setuju setelah saya mefihat di dalam Pasal 128 ini. Tetapi ada hal yang perlu saya jelaskan terlebih dahulu. Perubahan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 ini adalah 2 (dua) persoalan yang dirubahnya. Pertama adalah persoalan yang menjadi concern Pak Sahetapy dan yang kedua adalah perubahan mengenai masalah pemberian, gratifikasi, jadi 2 (dua) ini. Sehingga issue daripada peraturan undang-undang ini masalah 2 (dua) ini. Kalau di sini yang dirumuskan di dalam Pasal 5 ini sebetulnya pindahan menyebutkan elemen-elemen dari Pasal 418, Pasal 419, Pak Akil kan kalau takut nanti berubah undang-undang pidana itu sehingga kita sebutkan elemennya. lnipun sebetulnya ini adalah tindak pidana yang diatur oleh KUHP. Yang oleh Undang- Undang Nomor 3 Tahun 1971 dikualifikasi sebagai tindak pidana korupsi. Dia hanya mengambil pasal, ini, pasal ini adalah tindak pidana korupsi kalau dilakukan oleh semua orang.

Jadi kalau dulu mula-mulanya tindak korupsi itu harus ada unsur pidana lain, harus dia pegawai negeri. Lantas pada waktu Pak Lopa itu diinterupsi bagaimana mengenai on clefunde' wes last (bahasa hukum). Sehingga yang diatur mengenai yang kena pasal on cfefunde'wes last itu adalah pemberian dalam pengertian gratifikasi bukan pemberian dalam arti brybery. ltulah yang diatur sekarang di dalam Pasal 128 itu sebagai lanjutan daripada 12A itu. Memang saya pribadi dari semula tidak mau menggunakan kata 'pemberian' tetapi tel ah menggunakan kata gratifikasi untuk membedakan dengan 12 sebelumnya itu bahwa ini memang baru. Jadi setuju kalau memang setiap

ARSIP DPR RI

(15)

gratifikasi pada pegawai negeri atau penyelenggara negara sebagaimana dimaksud dalam pasal ini, di hukum sekian.

Jadi saya dapat mengerti mengenai jalan pikiran Pak Akil, mengapa di dalam Rp.

10.000.000,- ini dia itu harus dihukum karena dia mempunyai keharusan untuk melapor. Berarti kalau Rp. 5.000.000,- itu tidak perlu dihukum karena yang Rp. 10.000.000,- sajakan dihubungkan dengan Pasal 12C baru ayat (1) itu. Tetapi karena kita mau menghukum kedua-duanya ini maka kami mengusulkan memang 12C ayat (1) itu dirubah menjadi "ketentuan sebagaimana dimaksud di dalam Pasal 128 ayat (1) dan (2)'. Jadi baik yang Rp. 10.000.000,- maupun yang Rp. 5.000.000,- juga diwajibkan untuk dia melapor, hanya apabila dia tidak melaporkan maka ancamannya itu berbeda.

Kalau yang Rp. 10.000.000,- ke atas itu ancamannya lebih tinggi, kalau yang Rp. 5.000.000,- itu lebih rendah. Sebab otomatis kalau begitu Rp. 5.000.000.- tidak diapa-apakan, tetapi dia harus lapor, itu kira-kira.

Sekarang Pak Sahetapy itu adalah mengenai Pasal 208, saya setuju saja bahwa itu dihilangkan saja Undang-Undang Nomor 8 'sebagaimana diatur di dalam ketentuan hukum acara pidana', itu undang-undangnya bisa berubah itu betul. Jadi pokoknya ketentuan apa saja yang mengenai hukum acara pidana itu. Tetapi ini ada masalah juga sebetulnya, Pak. Kalau kita tidak sebut nama 8 (delapan) hukum acara pidana ini karena kalau kita mau hukum acara pidana, sebab hukum acara pidana itu tidak saja ada di dalam KUHP, tetapi juga di dalam aturan-aturan yang lain.

Sedangkan kita ini mengacu kepada KUHPnya.

Kedua, mengenai penerbitan undang-undang yang memakai ini, tetapi KUHP, Pasal 17 itu.

Maka ini ada bibit permasalahan akademis, memang kalau tidak sebut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946, perubahan dengan 73, 58 dan unsur-unsur itu. ltu pemah terjadi sesuatu, sebagaimana yang Pak Sahetapy ketahui. Pada waktu semula hukum nasional yang pertama, ini terdapat perdebatan yang hebat antara Hans Lee Seung dengan Mulyatmo mengenai kapan berlakunya KUHP itu dan dimana? Sebab pada waktu itu ada KUHP yang hanya berlaku di negara Republik Indonesia, dalam arti ini yang diberlakukan di Yogja, sedangkan yang di luar itu tidak berlaku KUHP.

Jadi yang Undang-Undang Nomor 1 T ahun 1946 itu hanya berlaku di negara Republik Indonesia yang Yogja, sedangkan di luar itu tidak berlaku. Baru berlaku untuk keseluruhan Indonesia yaitu yang diatur Undang-Undang Nomor 73 tahun 1958.

Selanjutnya mengenai mengapa di dalam negeri? karena pemikiran pada waktu itu katanya keuntungan negeri itu ada di masing-masing Tingkat II. Kedua, juga barangkali pemikiran kita yaitu pengadilan ini kalau umpamanya kalau kita lapor itukan kadang-kadang kita ada apakah ini trauma atau segala macam. Kalau kita lapor dengan polisi, dengan jaksa itu ini dan segala macam. Jadi yang mana nanti mau kita pilih, mau ke jaksa, mau ke polisi atau pengadilan negeri, yang mana sebetulnya yang lebih baik antara ketiga pilihan ini.

Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Terima kasih.

Masih ada, silakan Pak Sahetapy.

F.PDIP (PROF. DR. J.E. SAHETAPY, SH, MA):

Saya setuju saja, artinya kita inikan hanya cari jalan keluar, tidak ngotot. Jadi khusus mengenai pasal peralihan 44, saya pikir di belakang Pasal 435 itu ditambah 'KUHP juncto' itu saya bisa menerima, itu satu.

Kemudian saya ini mulai berpikir bahwa tidak ada pekerjaan, cari pekerjaan. Saya ini mulai berfikir tidak ada pekerjaan cari pekerjaan ia pergi ke apa, ada pepatah ngga ada pekerjaan cari pekerjaan pergi ke apa pulau apalah gitu, ada pepatah gitu, setelah saya mikir apa namanya itu apa yang dikemukakan oleh Pak Akil, memang dalam hukum perdata ada yang dinamakan ofskor ... dalam syarat itu berlaku kalau, kenapa kita harus bikin rumit-rumit, menurut hemat saya

ARSIP DPR RI

(16)

yang bikin rumit-rumit ini juga kesempatan buat orang Indonesia cari kesempitan, yang sulit kenapa dipersulit, eh yang mudah kenapa dipersulit, ya jadi usul saya begini saja kalau kalau disetujui oleh Pemerintah, barang siapa yang menerima gratifikasi dia atas Rp. 10.000.000,- ya, ya sudah dipidana titik, tidak usah dilaporkan, tidak usah macam-macam lagi, ini kalau dilaporkan nanti harus ada formulirnya harus ada orang barangnya itu harus disimpan, tidak tahu kapan itu bisa diperoleh kembali, terlafu rumit menurut saya, setelah saya dengar Pak argumentasi Pak Akil, lagi pula gratifikasi itu kalau dia terima di bawah Rp. 10.000.000,- itukan bukan pidana, kalaupun dia lapor itu juga belum tentu pidana karena dia sudah lapor, nah sekarang kalau dia lapor suatu anthropological arlifek, saya tidak bicara tentang mas ya siapa yang menentukan harga itu lebih dari Rp. 10.000.000,- wah itu dari pada saya terima anthropological artifek katakan saja kalau saya ambit contoh yang paling ekstrim, kotekanya obah orok yang pertama kali dipakai dibilang lebih dari Rp. 10.000.000,- ribut saya harus perkarakan itu di pengadilan negeri, waduh sudahlah kalau orang mau kasih, saya tolak saja itu yang paling aman itu sebetulnya dan Pemerintah itukan tidak pusing nanti di Departemen Kehakiman harus menciptakan mekanisme baru lagi ya toh, saya ini khawatir terus terang, ini kalau kita masukan jadi bulan-bulanan dari para pengacara

ya

tidak saya tidak usah sebut namalah ya nanti salah begitu ya ini juga jadi bulan-bulanan dari LSM kok sekarang Pemerintah dan DPR ini kok munafik ya toh padahal anda terima terus di DPR ya kira kira begitu, jadi menurut saya sudahlah dengan segala hormat kepada almarhum Pak Lopa ya kita bilang Pak Lopa next time sajalah kita pikirkan itu lagi entah itu nanti dimasukan dalam tindak pidana dan saya pikir apa yang dikemukakan oleh Pak Akil itu sangat logis dan masuk akal, karena itu memang dari tadi saya tidak mau bicarakan cuma saya pikir kenapa sih harus kita bikin sulit-sulit ya toh, sudah kita tolak saja ya, andaikan saja kalau Pak Lopa ada pun saya akan bilang sama Pak Lopa, Pak Lopa buat apa dipertahankan yang sulit ini dan saya ya seperti ya saya tidak dekat dengan beliau tapi saya kira orangnya cukup berjiwa besar, ya jadi kita apa kita tolak dan tidak lagi kita berdebat terus saja ya, mengenai masalah ini, hanya satu hal yang saya masih pikir 43A itu bagaimana Profesor Nata Baya itu yang saya bilang tidak usah pakai panjang-panjang cukup disebut saja dengan memperhatikan ketentuan Pasal 1 ayat (2) KUHP itu usul saya, kalau mengenai hukum acara, itu dipasal berapa itu Pasal 208 ya itu saya mengerti di dalam berbagai undang-undang ada hukum acara kita masih bisa pakai Undang-Undang Nomor 8 itu atau saya masukan kita bisa pakai proses tersebut tidak sesuai dengan ketentuan kitab KUHP kan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana kalau sudah sebut kitab itu sudah tidak mungkin yang lain lagi kendatipun Undang- Undang Nomor 8 Tahun 1981, kalau saya tidak salah Pak Seno Aji tuh pernah bilang sama saya, Sahetapy itu kenapa you tidak ribut itu, mana ada itu Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 mana buku 1 buku 2 itu tidak ada, itu mesti namanya KUHP ya sudah lah Pak memang Pemerintah pada waktu itu bilang KUHP jadi kita ikut saja sudah pada waktu itu, lagi pula saya waktu itu masih yunior mau mutut besar jug a agak kurang enak begitu, ya saya malahan bilang, loh kenapa Pak Seno sendiri tidak ngomong, jawabnya kaya solo ya sudahlah ya saya tidak mau lagi, tapi kalau Pemerintah setuju, ketentuan kitab hukum acara pidana jadi otomatis Nomor 8 Tahun 1981 itu hilang, ini hanya mefihat ke depan tapi kalau Pemerintah bilang bahwa itu masih perlu, saya boleh- boleh aja terserah dari pada yang terhormat para Anggota ini kalau para Anggota bilang begitu ya saya orangnya tidak terlalu apa itu apa ngeyel begitu ya ya setuju saja begitu toh pada akhimya kita semua memikul tanggung jawab itu, hanya itu saja saudara ketua, terima kasih.

KETUA RAPAT:

Sebentar sebentar Pak Akil mempersingkat saja ini, ya sedikit saja, kalau memang kita bisa sepakat apa yang tadi diusulkan Pak Sahetapy kita bisa ketok sekarang, pertama yang terkait dengan masalah Pasal 208 bravo halaman 12 Pasal 208, Pasal 12 disitu tertera Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang hukum acara pidana, usulan dari Pak Sahetapy sesuai dengan ketentuan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana titik, kalau memang ini sudah disetujui kita ini kita ketok aja yang ini dulu ya ok, kita setuju ini, Pasal 208 ya terima kasih. ( ketok palu ).

Pasal 208 biar kita lompat aja dulu itu satu.

ARSIP DPR RI

(17)

F. PDIP (PROF. DR. JE SAHETAPY, SH, MA) :

Hukum acara pidana memang terdapat dalam berbagai undang-undang, tapi yang namanya kitab hanya cuma satu Pak ya itu usulan saya tapi kalau dibicarakan boleh lagi ini bukan harga mati loh Pak bukan,

PROF. NATA BAVA:

Ada sedikit ini Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981, tidak pemah mengatakan itu .Kitab Hukum Acara Pidana tidak pemah, di belakang tapi dia namanya undang-undang .. hukum acara pidana jadi bukan macam KUHP, jadi KUHP itu oleh karena itu dulu orang bertanya apakah ini adalah tidak seluruh ya di belakang tapi nama undang-undangnya tidak saya tahu itu sama dengan undang-undang pidana, namanya tentang hukum acara pidana, kalau menunjuk nama tapi pasal terakhir dia mengatakan bahwa ini kitab pasal terakhir nah karena ini ada dulu pemah ditanya oleh Pak Seno Aji, ini apa namanya itu kodifikasi atau tidak, kan ditanya dulu, kalau kodifikasi katanya mesti ada buku 1 buku 2 buku 3 ensukor-ensukor Pak kan begitu, nah oleh karena itu kalau dilihat dari situ dari segi akademis kan ada buku 1 inikan KUHP, itu tidak ada buku 1 buku 2 buku 3, tidak ada dia lompong saja na oleh karena itu namanya itu undang-undang nomor sekian tentang hukum acara pidana, tapi di pasal terakhir disebut di sini kitab itu tapi ini tergantung dengan perjanjian kita ya.

F. PDIP ( PROF. DR. JE SAHETAPY, SH, MA ) :

Ya Pak, jadi begini ini ada dua hal yang pemah terjadi di dalam legislatif teratif dalam Pasal 285 disebut · undang-undang ini disebut kitab, jadi itu satu, dalam undang-undang kekuasaan kehakiman namanya juga berbeda antara nama di atas dengan pasal terakhir, jadi saya kira meskipun argumentasi Pak Nata Baya dapat disetujui tapi saya kira kita tidak terlalu meleset Pak ya.

KETUA RAPAT:

Ok ya, ya

PROF. NATA BAYA:

Ada yang di luar jadi kalau kita mengatakan nanti di dalam penjelasan ini disebut kitab dalam penyelesaianya bahwa ini sesuai dengan hukum Undang-Undang Nomor 8 itu sudah ya, saya tidak menjadi persoalan itu.

KETUA RAPAT:

Baik, jadi kita sepakat, jadi tidak perlu lagi kita ketok ketok lagi, baik jadi Pasal 208 sudah selesai, kemudian ada satu lagi yang tadi usulanya Pak Sahetapy yang perlu ada.

PROF. NATA BAVA:

Tetapi ada saat ini untuk Pak Sahetapy sebab Pak Sahetapy untuk dapat me-inikan mengenai aturan peralihan, saya pribadi ini dari Pemerintah ini setelah saya baca ini ya apa memang sudah diatur dengan Pasal 343 ini perlu, ini terus terang ini saya apa namanya itu walaupun Pemerintah sudah mengeritik sendiri ini apa memang sudah diatur terhadap perkara yang belum diperiksa dengan kata-kata yang ini 43A yang Bapak bilang, jadi begini peraturan peralihan itu itu adatah mengatur mengenai dua permasalahan ya satu permasalahan mengenai perkara yang belum disidangkan sama sekali, kedua perkara yang sedang diperiksa nah jadi ini sedangkan ini yang belum bagaimana ini yang perumusan ini ya kalau Bapak baca supaya sekaligus ini nanti dibicarakan, tindak pidana korupsi yang terjadi sebelum undang-undang tindak pidana korupsi yang disidangkan, diperiksa, diputus apakah sudah termasuk terhadap suatu tindak pidana yang belum diperiksa dengan rumusan ini, nah jadi kalau itu belum ini perlu dipikirkan sebab ada yang sedang diperiksa, ada yang belum diperiksa kan perubahan terjadi perubahan begitu, jadikan peristiwa itu

ARSIP DPR RI

(18)

begini pada sebelum Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 ini dibuat, itukan ada perkara yang belurn diperiksa, ada perkara yang sedang diperiksa kan begitu, jadi ini ada dua teks teks yang tahun 1971 itu berlaku setelah dan bagaimana yang sebelum, nah sekarang ini mau rnengatur tentu yang digunakan adalah ini tapi di sini saya lihat apakah sudah termasuk menurut Bapak-bapak, jangan sampai ini kelewatan, terhadap perkara yang belum diperiksa sama sekali nah itu yang saya maksud, apa aja, nah itu saya bilang apanamanya itu

F. PDIP (PROF. DR. JE SAHETAPY, SH, MA):

Yang belum diperiksa ya jadi saya kira masih banyak itu orang-orang yang belum diperiksa itu masih banyak.

PROF. NATA BAVA:

Jangan sampai nanti, ya anusnya nanti.

F. PDIP ( PROF. DR. JE SAHETAPY, SH, MA) :

Saya takut nanti anusnya pecah lagi, ya itu saja, dan ini supaya, saya berterima kasih sama Pak Professor Nata Baya, karena saya baca tadi itu mungkin terburu-buru, tapi saya sepakat jadi tindak pidana korupsi yang terjadi sebelum Undang-Undang Nomor 31 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi di undangkan yang belum belum diperiksa, yang sedang diperiksa dan diputus kira-kira demikian.

KETUA RAPAT:

Ya ok jadi kongkritnya begini, tindak ini kita Pasal 43A ya halaman enambelas Pasal 43A tentang ketentuan peralihan tindak pidana korupsi yang terjadi sebelum Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi diundangkan koma, yang belum dan sedang diperiksa serta diputus berdasarkan ketentuan Undang-Undang Nomor 3 tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dengan memperhatikan ketentuan Pasal 1 ayat (2) ke Kitab Undang-Undang Hukum Pidana titik, ini usulnya Pak Sahetapy gitu ya, ini usul tapi kalau mau di ubah, dengan perkataan lain kecuali ketentuan dan terakhir ini sampai pidana korupsi itu dihapus.

F .PG ( M. AKIL MOCTHAR ) :

Saya hanya melihat begini khusus Pasal 43 ya tindak pidana korupsi yang terjadi ya itu yang terjadi loh sebelum Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 ya di undangkan, diperiksa, diputus berdasarkan ketentuan Undang-Undang Nomor 3Tahun 1971 kan begitu ya tentang kecuali ketentuan yang menentukan maksimum pidana, jadi menurut saya kalau dari pengertian kalimat ini yang belum itukan otomatis akan berlaku ya betul itu Pak saya hanya mengingatkan itu saja jangan sampai nanti kalau itu memang belum, menurut saya otomatis, kalau yang belum Pak, inikan yang diatur. inikan yang sedang diperiksa dan diputus, kan begitu, kalau belum otomatis berlaku ini, berlaku yang mana, sesuai dengan perubahan itu, berlaku yang mana, tidak inkan tindak pidana korupsi yang terjadi sebelum Undang-Undang Nornor 31 Tahun 1999 di undangkan Pak, nah yang maksud Bapak tadi kan yang belum diperiksa, persoalannya apa gitu loh.

PROF. NATA BAVA:

Bukan persoalan itu kan ada yang belum diperiksa, ada yang sedang diperiksa, ada yang sedang di pengadilan diputus, kan berubah undang-undang, maka menurut asasnya itu berlakulah yang menguntungkan bagi dia, na itukan, nah sekarang rumusan yang ini apakah yang sedang belum diperiksa ada kemungkinan si A belum diperiksa , ketahuan oh si A itu korupsi tapi diberlakukannya sebelum Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 maka dia kan harus berlaku Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1971 nah apakah itu sudah tercakup, kalau sudah diperiksa jelas, nah kan kemarin kan menjadi persoalan ini, nah ini yang saya katakan kalimat ini apakah sudah

ARSIP DPR RI

(19)

mencangkup yang itu, kalau sudah mencangkup ya syukur ya jangan nanti dikemudian hari dikatakan.

F.PG ( M. AKIL MOCTHAR, SH ) :

Saya kira sudah mencangkup Pak, karena yang terjadi itu termasuk yang belum diperiksa jug a.

Saya rasa udah sudah otomatis seperti Pak Akil bilang itu.

KETUA RAPAT:

Ok, jadi kita kembali lagi.

F.PG ( M. AKIL MOCTHAR, SH ) : Saya Pak Ketua Pasal 12 itu.

KETUA RAPAT:

Sebentar Pak Akil kita tuntaskan Pasal 43A dulu, kalau memang bisa kita tuntaskan kita ketok, biar ini menjadi kesepakatan di Panja, saya ulangi lagi ya, kita kembali pada rumusan semula tindak pidana korupsi yang terjadi sebelum Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi di undangkan, diperiksa dan diputuskan berdasarkan ketentuan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, usulan Pak Sahetapy dengan memperhatikan ketentuan Pasal 1 ayat (2) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana titik, selanjutnya itu dihapus, usulan ini apakah bisa diterima atau ada pemikiran lain untuk kembali kepada rumusan yang disampaikan oleh Pemerintah.

F .PG ( M. AKIL MOCTHAR, SH ) :

lni saya kira cukup panjang juga ini cukup masalah juga ini karena kalau Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1971 itukan ancaman hukumannya tidak ada pidana maksimum sedangkan Undang- Undang Nomor 31 Tahun 1999 itu ada pidana maksimum ada pidana minimum, makanya disinikan ditentukan kecuali iya kan menentukan maksimum pidana artinya perkara-perkara yang sebelum di undangkan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 itu diperiksa dengan 31, 71 kan tapi Undang- Undang Nomor 3 Tahun 1971 itu tidak memberikan pidana minimum dan maksimum, makanya ada pengecualian disini, ini pengertian saya.

KETUA RAPAT:

Memang ketentuan peralihan ini di dalam revisi yang kita lakukan kita melakukan penambahan dengan menentukan maksimum pidana penjara, nah dengan adanya maksimum pidana penjara berarti ada perubahan secara substansial yang menyangkut masalah maksimum ini, karenanya kalau misalnya ini kita hilangkan justru akan yang dikhawatirkan adalah mengaburkan atau peralihan itu sendiri, bagaimana Pak Sahetapy apakah kita tetap dengan rumusan ini.

F. PDIP (PROF. DR. JE SAHETAPY, SH, MA):

Saya hanya mau kita berpikir saja tidak berdebat siapa yang benar ya ini kalau saya baca begini berarti kalau diperiksa berdasarkan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1971 bisa ada pidana minimum apa begitu maksudnya, padahal dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1971 tidak ada pidana minimum, la ini saya mau tanya aja dulu situ aja jawabnya dulu ini kta tidak berdebat siapa menang atau .. tapi kita tukar pikiran bagaimana itu kira-kira dari pihak Pemerintah atau Pak Akil, kalau boleh kita, jawab dulu.

ARSIP DPR RI

(20)

KETUA RAPAT:

Silakan Pak PEMERINTAH :

Begini Prof setahu saya apa namanya mengenai ketentuan peralihan ini jadi Undang- Undang Nomor 3 Tahun 1971 ini berlaku sebelum perbuatan ini dilakukan sebelum perbuatan oleh si pelaku ini dilakukan undang-undang ini kan undang-undang ini ditetapkan tanggal 16 Agustus Tahun 1999 terhadap semua perbuatan yang dilakukan sebelum 16 Agustus Tahun 1999 berlaku Undang- Undang Nomor 3 Tahun 1971 kalau ini yang diberlakukan secara absolut artinya si pelaku dikenakan sanksi semua sanksi pidana yang ada di dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1971 pidana maksimumnya itukan seumur hidup. Karena itu ada pengecualian. Kalau dibertakukan oleh si pelaku itu dikanakan maksimum, maksimum pidana seumur hidup sedangkan di undang-undang yang baru Nomor 31 Tahun 1999 untuk perbuatan yang sama itu pidananya lebih rendah dari pada seumur hidup, itukan artinya melanggar perinsip Pasal 1 ayat (2). Karena itu khusus untuk Pasal 5, 6, 7, 8 kecuali 12 dan 13 diberi straf saja pemidanaannya diberlakukan pasal itu Pasal 5, 6, 7, 8 jadi terhadap perbuatan-perbuatan yang dilakukan sebelum 16 Agustus T ahun 1999 si pelaku korupsi itu berfaku pemidanaannya yang ditentukan dalam Pasal 5, Pasal 6, Pasal 7, Pasal 8 tidak mungkin diberlakukan apa pidana seumur hidup. Karena kan prinsip Pasal 1 ayat (2) kan apabila terjadi perubahan maka aturan yang menguntungkan bagi terdakwa. Kalau dipakai Undang-Undang Nomor

3

Tahun 1971 pasti yang menguntungkan di ancaman pidananya ya seumur hidup untuk perbuatan yang sama ada dua ancaman hukuman satu yang Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1971 itu memberatkan yang meringankan justru yang undang-undang yang baru ya kalau prinsip asas dalam Pasal 1 ayat (2) diberlakukan absolut artinya Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1971 yang berlaku dikarenakan ancaman pidana seumur hidup.

F. PDIP ( PROF. DR. JE SAHETAPY, SH, MA ) :

Saya setuju saja, cuma ini dengan konsekuensi juga bahwa dengan redaksi seperti ini berarti tidak berlaku apa itu hakimnya tidak bisa menjatuhkan pidana di bawah minimal iya kan itu akontrario begitukan, karena kita tidak mau hukuman mati, kita tidak mau hukuman seumur hidupya karena itu bisa merugikan akontrario kita sepakat pakai pasal ini tapi ketentuan pidana minimum tidak boleh tidak boleh di bawah minimum, kalau itu yang dimaksudkan saya sepakat ya.

KETUA RAPAT:

Ya, kalau kita mengikuti kalimat di sini kecuali ketentuan yang menentukan maksimum pidana penjara yang menguntungkan bagi terdakwa diberlakukan ketentuan Pasal 5, Pasal 6, Pasal 7 betul seperti yang Pak Sahetapy tadi katakan.

F. PDIP ( PROF. DR. JE SAHETAPY, SH, MA ) :

Saya setuju saja cuma ini tidak boleh ditafsirkan minimum khusus hapus di dalam memberlakukan Undang-Undang Nomor 3 T ahun 1971 itu aja ini, ini perlu kata sepakat itu dan itu yang saya khawatirkan begitu.

PEMERINTAH :

Benar Prof Sahetapy bilang disini tidak tergambar secara jelas, benar Prof Sahetapy bilang.

KETUA RAPAT:

Nah kalau begitu nanti di dalam penjelasan di dalam penjelasan kita lebih jelas kan lagi bahwa minimum khusus tidak dapat diberlakukan

ARSIP DPR RI

(21)

PEMERINTAH :

Sebaiknya kalau pengertian ini dimasukkan dalam penjelasan dalam arti minimum khusus tidak diberlakukan ini juga bertentangan dengan Pasal 1 ayat (2) tapi benar Prof Sahetapy bilang, ini bisa menjadi multi interpretasi bagi hakim ya ini ada klausul baru.

KETUA RAPAT:

Memang kita menjadi terbentur terhadap Pasal 1 ayat (2) ini Pak Sahetapy, kalau kita semata-mata ini yang kita khawatirkan adalah multi interpretasi tetapi kalau kita masukan di dalam penjelasan ada kendala kita yaitu Pasar 1 ayat (2) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, bisa ada jalan keluar tidak pihak dari Pemerintah untuk ini untuk satu ini sebelum kita ini mau dipending tapi sebelum dipending, persoalannya apa, Bapak tadi tidak mengikuti Pak, mengikuti tapi, ok.

F. PDIP ( PROF. DR. JE SAHETAPY, SH, MA ) :

Kalau diperkenankan begini Professor Nata Baya saya tidak keberatan rumusan yang diajukan Pemerintah ini ya, itu dulu tetapi kalau rumusan itu dipakai dalam arti kecuali ketentuan yang menentukan maksimum pidana penjara yang menguntungkan bagi terdakwa diberlakukan ketentuan Pasal 5 kalau Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1971 itu kalau saya tidak salah maksimum itu ada sampai seumur hidup ya toh, tapi tidak ada minimum, kalau pakai rumusan ini maksimum kena minimum pun juga kena itulah itu saja jadi bagaimana itu saya apa saja saya juga senang kalau minimum kena.

PROF. NATA BAVA:

Pikiran ini dua undang-undang ini dikenakan kepada dia jadi ini Undang-Undang

Nomor 3

Tahun 1971 itu bisa menguntungkan bagi dia dan juga Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 ini menguntungkan dia juga khususnya mengenai Pasal 5 ini dan yang berapa itu yang kecuali tadi kenapa, karena menurut Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1971 itu tindak pidana itu diancam penjara selama 20 tahun dan denda setinggi-tingginya Rp. 30.000.000,- sedangkan Pasal 5 ini dia mengatakan kalau terjadi tindak pidana seperti yang ini ya Pasal 5 ini dendanya paling lama 5 tahun atau denda paling sedikitnya Rp. 50.000.000,- sekian berarti kalau umpamanya itu dia melakukan tindak pidana seperti apa yang dikenakan dengan Pasal 5 ini dia akan kena yang baru undang- undang yang baru disinilah kecuan itu.

PEMERINTAH :

Penyelenggara negara, saya menerima misalnya mobil mewah dari seseorang saya tidak akan melaporkan bahwa tidak ketentuan itu. Karena ketentuan sistem pelaporan itu yang dapat menentukan apakah seorang pegawai negeri atau penyelenggara negara itu melakukan delik atau tidak. Saya rasa begitu, saya sependapat dengan Pak Akil, bahwa yang dipertanyakan oleh Pak Akil apakah Pasal 128 itu sudah merupakan delik atau bukan. Untuk menentukan adanya pegawai negeri atau penyelenggara negara itu melakukan delik itu apabila dia tidak menjalankan ketentuan kewajiban imperatif tentang sistem pelaporan. Tapi kalau ketentuan Pasal 128 itu saja, mana ada ....

sebagai suatu ada. Makanya Pasal 418 tidak menjadi acuan dari kita. f tu lebih jauh lagi kenaapa kita menunjuk Pasal 419, Pasal 420 karena menyangkut penerima suap yang pasif itu. Dua ketentuan satu-satunya, dua ketentuan itu yang memenuhi unsur seorang pegawai negeri atau penyelenggara negara itu menggerakkan kekuasaan yang mefekat pada jabatannya untuk melakukan atau tidak melakukan itu yang bertentangan dengan kewajibannya dengan menggerakkan sesuatu dengan bertentangan dengan kewajibannya atau tugasnya. Ketentuan yang lain tidak ada, ada yang di Pasal 209, Pasal 210 tapi untuk pemberi suap bukan penerima suap. Pasal 418 mengenai penerima suap tidak unsur itu, yang ada Pasal 419, Pasal 420. Jadi saya rasa apabila Dewan tidak keberatan, saya hanya mengingatkan bahwa sistem pelaporan itu satu-satunya indikasi untuk menentukan apakah pemberian itu sebagai suap atau bukan. Apabila sistem pelaporan ini hilang, saya percaya dan saya bertaruh ketentuan Pasal 128 akan menjadi ketentuan yang impoten.

Terima kasih.

ARSIP DPR RI

(22)

KETUA RAPAT:

Silakan Pak Sahetapy

F.PDIP (PROF. DR. J.E. Sahetapy, SH, MA):

Saya interupsi, saya setuju yang tadi dikemukakan. Cuma penempatannya itu saya tidak mengatakan supaya itu dihilangkan. Ada beberapa kemungkinan yang saya tawarkan bisa melalui Pemerintah, peraturan pemerintah pengganti UU, bisa dimasukan dalam Undang-Undang Tindak Pidana Suap dan bisa dimasukan dalam Komisi Pemberantasan Korupsi. Jadi sama sekali saya sepakat mendukung tidak membuang itu. Cuma penempatannya di sini itu sepertinya kurang bijaksana. Nah barangkali bisa kita pikirkan lagi, kalau perlu dalam Pemerintah bikin peraturan pengganti undang-undang. Langsung itu, saya satu-satunya saya kira yang akan mendukung itu atau dimasukan dalam. Bagaimana caranya pasal ini jangan kita buang, hanya itu saja cuma penempatannya rasanya kurang sreg. Jadi saya harap Pemerintah jangan salah paham ia toh. Kalau per1u kita bikin pro memori, pro memori dalam keputusan Komisi ini bahwa pasal itu harus dimasukkan entah dengan jalan bagaimanapun dimana-mana kita sepakat begitu supaya mendukung usul Pemerintah. ltu usul saya, hanya itu saja, jadi kita tidak membuang pasal itu, tapi saya juga tidak sepakat kalau pasal itu dimasukan lalu kita serba repot mencari pemecahan yang memuaskan.

Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Terima kasih ini Pasat 12A lama, yang sekarang menjadi Pasal 128 ini membuat kita menjadi beberapa kali. Pertama kali saya ingat sekali bahwa Pasal 12A ini yang terdiri dari 5 ayat, kita hanya pegang ayat (1) dan ayat (5). Ayat (2), ayat {3}, dan ayat (4) nya kita drop. Kemudian Pemerintah membuat dua pasal itu, dua aya itu, itupun juga masih bermasalah sehingga timbulah rumusan yang sekarang diajukan oleh Pemerintah. Namun demikian ada satu hal yang harus kita pahami bersama, bahwa kita sepakat bahwa semangat pelaporan ini memang harus ada, tetapi ada beberapa pemikiran apakah tidak sebaiknya semangat pelaporan ini kita muat di tempat lain misalnya di suap, tentang suap. Kemudian mungkin bisa juga di Komisi Pemberantasan Tindak·

Pidana Korupsi, jadi ada beberapa pemikiran di sini. Memang kalau kita mengacu kepada usulan ini, disini tetap memakai kata dianggap, tetapi buntut dibelakangnya ada sanksi. Jadi apa, pertama memang asas praduga tidak bersalah itu tetap ditonjolkan di situ. Kemudian, tapi yang menjadi permasalahan adalah dengan adanya sanksi yang di belakangnya. la yang seperti Pak Akil katakan, dan Pak Zen Badjeber juga sampaikan ada penggabungan pidana formil dengan pidana materiil.

T entang acara, pad a saat itu yang Pak Zen Badjeber sampaikan, nah kira-kira apa ada pemikiran baru lagi dari Pemerintah terhadap rumusan-rumusan yang terkait dengan Pasal 128 yang baru ini.

Silakan.

F.PG (M. AKIL MOCHTAR, SH) :

Atau ini Pak, rumusan pidananya merujuk ke atas, tapi yang di belakangnya. lni kita bikin dulu sistem pelaporannya, yang menerima ini ... ini baru kita tunjuk ke atas.

KETUA RAPAT:

Kongkritnya Pak Akil kita mengacu kepada Pasal 12 baru, Pasal 12 baru ada yang disebutkan ini menerima ini.

F .PG (M. AKIL MOCHTAR, SH) :

Kalau kita sepakat bahwa sebuah pemberian yang mewajibkan harus adanya sebuah pelaporan, maka mekanisme itu yang kita atur. Nanti apa namanya jika dibuktikan sebaliknya, maka ketentuannya mengacu kepada Pasal 12. Jadi biar bikin rumusan delik tersendiri akibat ini begitu.

ARSIP DPR RI

(23)

PEMERINTAH :

Pak AkU, sebenamya ketentuan yang ada di Pasal 128 ini mengambil alih mengenai sanksinya yang di 12a kecil. Tapi seperti Pak Akil bilang nunjuk saja Pasal 12 huruf a kecil.

PROF. NATABAYA:

Kita tengok ke belakang, sebab kita harus lihat sejarahnya, sebab Bung Kamo dulu bilang jangan sekali-kali meninggalkan sejarah. Nah, jadi kita harus melihat yang Pasal 5 yang di dalam perubahan ini. Pasal 5 ini sebetulnya itukan pada waktu perubahan undang-undang ini itu adalah dari Pasal 5 perubahan. Tapikan Anggota Dewan tidak setuju, menggunakan kata-kata Pasal 29 dan tidak setuju minimum dihapus, sehingga kita rumuskanlah Pasal 5 menurut kehendak kita bersama.

Jadi Pasal 29 tidak lagi disebut, tapi kita sebut mengenai minimumnya dan juga unsur-unsurnya, itu Pak Ketua ia. Lantas Pasal 12 itu juga asalnya dari Pasal 12 yang sudah disetujui, tapi tidak disetujul oleh kita menyebutkan Pasal 19, Pasal 20, Pasal 23 dan juga minimumnya. Sehingga kita rumuskan kembali sebagaimana yang sekarang. Jadi itu sebetulnya yang dirumuskan itu adalah sebetulnya perubahan yang tadinya itu adalah perubahan minimum. Sekarang dihilangkan minimumnya tapi ancamannya diperberat. Jadi dengan kata lain Pasal 5 dan Pasal 12 itu perubahan dengan sekarang . ini adalah perubahan dengan ancaman yang berat inikan dan minimumnya dicantumkan kembali sesuai dengan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tambah lagi apa namanya itu tetap.

Sekarang perubahan kedua kita mengintrodusir satu adatah mengenai yang selama ini menjadi konsen kita yang diberikan pemberian ini. Bagaimana pemberian ini akan dipidana, ini yang menjadi persoalan kita yang dalam bahasa lnggrisnya itu gratifikasi itu. Sehingga kita rumuskanlah mengenai gratifikasi itu Pasal 12A ini, tapi pada waktu itu juga kita merumuskan kembali diminta oleh Dewan kita rumuskanlah dengan yang ada ini sekarang. Karena tidak sesuai dengan menyebutkannya mengenai pasaf-pasal itu maka kita sebutkan merujuk bahwa gratifikasi itu ketentuan pegawai negeri atau penyelenggara sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 12 huruf a, b, dan c jadi itu ininya. ltu kalau bisa kita mindahan yang ini dianggap sebagai pemberian suap karena itu baru dianggap. Dan bagaimana hukumannya dalam penerima suap dipidana paling lama sekian-sekian. Tapi ada pembatasan ini, ini akan berlaku Pasal 128 ini kalau itu dia diadakan pelaporan. Nah, sistem pelaporan ini yang kita gunakan ini. Bagaimana pelaporan ini, Pasal 12C yang baru ini menurut Pak Akil tadi apakah perlu ada meski sebagaimana melapor, bagaimana dia memberi berita acara daftar yang dia terima juga, kita juga menerima itu saya kira hal teknisnya itu. Tapi inilah yang akan menentukan kalau dia tidak melaksanakan ini, maka dia itu akan kena pemberian selama ini yang kita anggap yang sering dilakukan mendapatkan hadiah segala macam itu, inilah yang kira-kira Pak Sahetapy. Jadi saya kira harus ada di sini, ini adalah merupakan bagian dari tindak pidana korupsi, tak bisa di tempat lain.

KETUA RAPAT:

Dengan perkataan lain, bahwa Pasal 128, Pasal 12C, Pasal 12D itu adalah merupakan satu kesatuan, b, c, dan d. Artinya Pasal 12C kalau ketentuan Pasal 12 ayat (1) di 128 itu, ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 128 tidak berlaku jadi hukuman itu tidak berlaku dia tidak kena pidana. Jika penerima melaporkan pemberian, ayat (2) tidak berlaku. Jadi membaca Pasal 128, Pas al 12C, Pasal 120 itu harus satu-kesatuan. lni saya mencoba alur dari Pemerintah ini, kena tadi terakhir tadi Pak Natabaya menyampaikan bahwa laporan ini merupakan sesuatu yang keharusan artinya begitu. Kalau kita berbicara masalah Pasal 12 huruf d, bagaimana Pak Sahetapy, Pak Akil.

F.PDIP {PROF. DR. J.E. SAHETAPY, SH, MA):

Kalau saya tidak ada masalah buat saya, tapi apakah nanti bisa saja dimasukan. Cuma nanti kita lihat dalam prakteknya bagaimana, kalau praktek saya belum yakin, tapi silakan. Saya tidak mau dianggap menghalangi pasal mengenai gratifikasi, silakah. Saya sudah kemukakan berbagai, kalau kawan-kawan yang lain juga semua setuju pola pikir yang tadi dikemukan oleh Pemerintah dalam hal ini oleh Prof. Natabaya, ia terserah. Saya tidak mau dianggap apa itu Stal breker kata orang Belanda. Silakan saja cuma nanti apakah ini bisa berjalan dafam praktek nanti kita lihat. Tapi please atau kalau cara Jawa ya monggo.

ARSIP DPR RI

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil wawancara yang dikatakan oleh Joko Widodo bahwa disparitas pidana itu tidak ada, sebab disparitas merupakan sesuatu yang wajar dalam dunia

Nilai rata-rata cadangan karbon mangrove pada lokasi penelitian pada Tabel 4 dapat dijelaskan bahwa total kandungan karbon mangrove pada lokasi penelitian tersebut

Dengan mengacu kepada masalah yang dikemukakan di atas, maka penelitian ini dimaksudkan untuk memperoleh informasi akuntansi keuangan agar dapat mengetahui bagaimana

Pada Gambar 6 terlihat bahwa jumlah buah per tanaman timun untuk masing-masing pupuk kandang sapi memperlihatkan arah yang sama atau respon yang sama untuk

- Jika LQ lebih dari satu (LQ > 1), ini berarti bahwa laju pertumbuhan sektor i di daerah studi k adalah lebih besar dibandingkan dengan laju pertumbuhan sektor yang sama

Penulis : “Menurut pendapat bapak, dengan penggunaan Teknologi Informasi adakah pengaruhnya terhadap hasil akhir pekerjaan anda saat ini?”. Informan 11 :

1.2 Bahan ajar yang digunakan guru cukup bervariatif, ini telihat dengan cukup banyak bahan ajar yang digunakan dan disusun guru dalam proses pembelajaran Pkn

Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan informasi yang berharga bagi perusahaan dalam pengelolaan sumber daya manusia beserta segala kebijakan yang berkaitan