BAB IV HASILPENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.2.3. Arus Kas Dari Aktivitas Operasi
mengendalikan arus kas yang cukup untuk melunasi pinjaman, memelihara kemampuan operasi perusahaan, membayar dividen dan melakukan investasi baru tanpa mengendalikan pada sumber pendanaan dari luar.
Menurut Livnat dan Zarowin (1990) dalam Triyono dan Jogiyanto (2000) menyatakan bahwa aktivitas operasi akan mempengaruhi harga saham melalui pengaruhnya pada arus kas sehingga diharapkan komponen arus kas dari aktivitas operasi mempunyai hubungan yang positif dengan return saham.
2.2.9. Teori Yang Melandasi Pengaruh Arus Kas dari Aktivitas Investasi Terhadap Harga Saham
Teori keputusan ekonomi memberikan pemahaman yang baik mengenai bagaimana investor membuat keputusan yang rasional dalam kondisi ketidakpastian. Ini berarti keputusan yang dibuat oleh pengguna didasarkan atas keputusan bisnis yang rasional bukan emosional yang memungkinkan keputusan yang dibuat minimal memungkinkan keinginannya. Laporan arus kas dari aktivitas investasi menyajikan informasi untuk membantu investor dan kreditur (sekarang maupun potensial) dalam mengevaluasi jumlah, waktu serta ketidakpastian penerimaan dan pengeluaran kas yang berhubungan dengan sumber daya yang bertujuan untuk menghasilkan pendapatan dan arus kas di masa depan.
Menurut PSAK (2004: 2.4) arus kas mencerminkan penerimaan dan pengeluaran kas sehubungan dengan sumber daya yang bertujuan untuk menghasilkan poendapatan dan arus kas masa depan. Pembelian atau penjualan aktiva tetap seperti tanah, gedung atau peralatan juga termasuk dalam kegiatan investasi. Apabila perusahaan mengeluarkan banyak dana untuk aktivitas produktif, maka perusahaan itu akan mampu berkembang dan akan berpengaruh terhadapa harga saham.
Miller dan Rock (1985) dalam Triyono dan Jogiyanto (2000) melakukan pengujian untuk menyelidiki apakah informasi tambahan komponen aliran kas dari aktivitas investasi mempunyai hubungan yang positif dengan return
saham. Hasil studi ini mengemukakan bahwa peningkatan investasi berhubungan dengan peningkatan arus kas masa yang akan datang dan mempunyai pengaruh positif dengan return saham pada saat pengumuman investasi baru.
2.2.10.Teori Yang Melandasi Pengaruh Arus Kas dari Aktivitas Pendanaan Terhadap Harga Saham
Teori sinyal menjelaskan mengapa perusahaan mempunyai dorongan untuk memberikan informasi laporan keuangan pada pihak eksternal karena terdapat asimetri informasi antara perusahaan dan pihak luar karena perusahaan mengetahui lebih banyak mengenai perusahaan dan prospek yang akan datang daripada pihak luar (investor dan kreditur). Kurangnya informasi pihak luar mengenai perusahaan menyebabkan mereka melindungi diri mereka dengan memberikan harga yang rendah untuk perusahaan. Perusahaan dapat meningkatakan nilai perusahaan dengan mengurangi asimetri dengan cara memberikan sinyal pada pihak luar berupa informasi keuangan yang dapat dipercaya dan akan membantu mengurangi ketidakpastian mengenai prospek perusahan yang akan datang. Aktivitas pendanaan memasok bagi sebuah perusahaan yang membutuhkan dana yang besar untuk mengembangkan pasar, menguasai teknologi dan mendanai investasi dalam kesempatan berkembang. Arus kas dari aktivitas pendanaan yang positif mencerminkan perusahaan memiliki kesempatan berkembang. Arus kas dari
aktivitas pendanaan yang positif mencerminkan perusahaan memiliki kesempatan untuk tumbuh sehingga diharapkan harga saham tinggi.
Menurut PSAK (2004, 2.5) arus kas masuk dari aktivitas pendanaan biasanya berasal dari penerbitan sekuritas yaitu harga saham dan obligasi. Penerbitan sekuritas seperti obligasi biasanya merupakan sinyal yang baik untuk menaksir arus kas karena dapat mempertahankan posisi kepemilikan dibanding dengan penerbitan saham sehingga pasar akan bereaksi positif dan mempengaruhi saham.
Leland dan Pyle (1977) dalam Triyono dan Jogiyanto (2000) berargumen bahwa penerbitan hutang merupakan sinyal yang baik untuk menaksir arus kas karena pemilik dapat mempertahankan proporsi kepemilikannya dari pada menerbitkan saham. Miller dan Rock (1985) dalam Triyono dan Jogiyanto (2000) berargumen bahwa pasar akan bereaksi negatif terhadap pengumuman pendanaan dari luar karena akan berpengaruh terhadap arus kas dari aktivitas pendanaan dari luar karena akan berpengaruh terhadap arus kas dari aktivitas operasi yang lebih rendah untuk masa yang akan datang.
2.3. Kerangka Pikir
Aliran Kas Aktivitas Pendanaan (X5)
Aliran Kas Aktivitas Investasi (X4)
Aliran Kas Aktivitas Operasi (X3)
Total Aliran Kas (X2) Harga Saham (Y) Laba Akuntansi (X1) Uji Statistik Regresi Linier Berganda
32
2.4. Hipotesis
Berdasarkan rumusan masalah, tujuan penelitian, landasan teori, penelitian terdahulu maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
Diduga terdapat pengaruh yang positif terhadap informasi laba, aliran kas dan komponen aliran kas ( aktivitas operasi, aktivitas investasi, aktivitas pendanaan) terhadap harga saham industri barang konsumsi.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel
Menurut Nazir (1999:152) definisi operasional adalah suatu definisi yang diberikan kepada suatu variabel dengan cara memberikan arti atau menspesifikasikan kegiatan ataupun memberikan suatu operasional yang diperlukan untuk mengukur variabel tersebut.
Adapun variabel – variabel yang digunakan dalam penelitian adalah variabel bebas X, sedangkan variabel terikat Y.
Berikut ini dijelaskan definisi operasional dari masing -masing variabel dalam penelitian ini:
1. Laba akuntansi (X1)
Adalah penghasilan bersih sebelum pajak yaitu penghasilan usaha bersih ditambah dan dikurangi dengan pendapatan – pendapatan dan biaya diluar usaha seperti pendapatan sewa dan bunga.
Data dalam penelitian variabel ini diambil dari laporan keuangan perusahaan terutama laporan laba rugi. Dan untuk pengukurannnya menggunakan skala rasio dengan satuan rupiah.
2. Total aliran kas(X2)
Adalah kenaikan atau penurunan kas atau setara kas dari aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan. Dengan demikian, dapat dikatakan
bahwa total aliran kas merupakan jumlah aliran kas dari aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan.
Data dalam penelitian variabel ini diambil dari laporan keuangan perusahaan terutama laporan arus kas. Dan untuk pengukurannnya menggunakan skala rasio dengan satuan rupiah.
3. Aliran kas dari aktivitas operasi(X3)
Adalah aktivitas penghasil utama pendapatan perusahaan dan aktivitas yang bukan merupakan aktivitas investasi.
Data dalam penelitian variabel ini diambil dari laporan keuangan perusahaan terutama laporan arus kas. Dan untuk pengukurannnya menggunakan skala rasio dengan satuan rupiah.
4. Aliran kas dari aktivitas investasi(X4)
Adalah perolehan dan pelepasan aktiva jangka panjang serta investasi lain yang tidak termasuk setara kas.
Data dalam penelitian variabel ini diambil dari laporan keuangan perusahaan terutama laporan arus kas. Dan untuk pengukurannnya menggunakan skala rasio dengan satuan rupiah.
5. Aliran kas dari aktivitas pendanaan (X5)
Adalah aktivitas yang mengakibatkan perubahan dalam jumlah serta komposisi modal dan pinjaman perusahaan.
Data dalam penelitian variabel ini diambil dari laporan keuangan perusahaan terutama laporan arus kas. Dan untuk pengukurannnya menggunakan skala rasio dengan satuan rupiah.
6. Harga saham(Y)
Adalah harga saham dari perusahaan yang tercatat dalam pasar modal pada saat closing price (harga pada saat akhir bursa) setelah terjadi pengumuman laporan keuangan pada saat periode pengamatan.
Data dalam penelitian variabel ini diambil dari harga saham penutupan setelah terjadi pengumuman laporan keuangan di Bursa Efek Indonesia. Dan untuk pengukurannya menggunakan skala rasio dengan satuan rupiah.
3.2 Teknik Penentuan Sampel 3.2.1. Populasi
Populasi merupakan kelompok subyek atau obyek yang memiliki ciri – ciri atau karakteristik – karakteristik tertentu yang berbeda dengan kelompok subyek atau obyek yang lain dan kelompok tersebut akan dikenai generalisasi dari hasil penelitian (Sumarsono , 2004:44). Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan industri barang konsumsi hingga tahun 2009 yang jumlahnya 17:
1.PT.Ades Waters Indonesia Tbk. 2.PT.Cahaya Kalbar Tbk.
3.PT.Davomas Abadi Tbk. 4.PT.Delta Djakarta Tbk. 5.PT.Fast Food Indonesia Tbk. 6.PT.Indofood Sukses Makmur Tbk. 7.PT.Mayora Indah Tbk.
8.PT.Multi Bintang Indonesai Tbk.
9.PT.Pioneerindo Gourmet International Tbk. 10.PT.Prasidha Aneka Niaga Tbk.
11.PT.Siantar Top Tbk. 12.PT.Sierad Produce Tbk. 13.PT.Sekar Laut Tbk. 14.PT.Smart Tbk.
15.PT.Tiga Pilar Sejahtera Tbk. 16.PT.Tunas Baru Lampung Tbk.
17.PT.Ultra Jaya Milk Industry dan Trading Company Tbk. 3.2.2 Sampel
Pengambilan sampel ini menggunakan teknik purposive sampling yang artinya penarikan sampel berdasarkan ciri – ciri atau sifat khusus yang dimiliki oleh sampel dan sampel tersebut merupakan representative dari populasi (Sumarsono,2002:52).
1.Perusahaan manufaktur kategori food and baverages yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2006 – 2009.
2.Perusahaan yang telah menyampaikan laporan keuangan tahun 2006 – 2009. 3.Perusahaan yang datanya tersedia lengkap dari tahun 2006 – 2009.
Berdasarkan kriteria – kriteria diatas, perusahaan yang dijadikan sampel dalam penelitian dibatasi sebanyak 10 perusahaan manufaktur kategori food and baverages, selama tahun 2006 – 2009, perusahaan tersebut adalah:
1.PT.Cahaya Kalbar Tbk. 2.PT.Fast Food Indonesia Tbk. 3.PT.Indofood Sukses Makmur Tbk. 4.PT.Mayora Indah Tbk.
5.PT.Multi Bintang Indonesia Tbk. 6.PT.Prashida Aneka Niaga Tbk.
7.PT.Sekar Laut Tbk.
8.PT.Siantar Top Tbk. 9.PT. Sierad Produce Tbk.
10.PT.Ultra Jaya Milk Industri Tbk.
3.3. Teknik Pengumpulan Data 3.3.1. Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif. Data kuantitatif adalah data yang berupa nilai atau angka. Ditinjau dari sisi sumber,
data penelitian ini merupakan data sekunder. Data sekunder biasanya dikumpulkan oleh suatu lembaga tertentu dan diterbitkan secara berkala untuk kepentingan umum. Sumber data yang dipergunakan dalam penelitian ini berasal dan diperoleh langsung dari Bursa Efek Indonesia (BEI)
Data sekunder yang digunakan berupa:
1. Data nama perusahaan industri barang konsumsi yang terdaftar di
Bursa Efek Indonesia. Data tersebut diperoleh dari Bursa Efek Indonesia
2. Data laporan keuangan tahunan auditan untuk periode yang berakhir
pada tanggal 31 Desember 2006-2009. 3.3.2. Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data yang dipergunakan adalah dokumentasi yang diambil meliputi laporan keuangan terutama laporan arus kas, laporan laba rugi dan neraca serta harga saham masing – masing perusahaan yang dijadikan sampel dalam penelitian ini, juga teori –teori yang berhubungan dengan penelitian ini.
Prosedur pengumpulan data yang digunakan untuk penelitian ini mengumpulkan data sekunder dari Bursa Efek Indonesia.
3.4. Teknik Analisis dan Uji Hipotesis 3.4.1. Uji Kualitas Data
3.4.1.1. Uji Normalitas
Normalitas digunakan untuk mengetahui apakah dalam model regresi, variabel bebas (independent variabel) dan variabel terikat (dependent variabel) mempunyai distribusi normal atau tidak. Regresi yang baik adalah mempunyai distribusi data normal, dapat diuji menggunakan metode Kolmogorov Smirnov Test, yaitu dengan melihat angka probabilitas. Pada prinsipnya normalitas dapat dideteksi dengan melihat penyebaran data (titik) pada sumbu diagonal dari grafik atau dengan melihat histogram dari residulnya. Dasar pengambilan keputusan (Sumarsono, 2004: 43 ) :
Jika nilai signifikan (nilai probabilitasnya) < 5 %, maka
distribusi adalah tidak normal.
Jika nilai signifikasi ( nilai probabillitasnya ) > 5 %, maka
distribuasi adalah normal.
3.4.2. Uji Asumsi Model Klasik
Perasamaan regresi tersebut harus bersifat BLUE (Best Linier Unbrased Estimator), artinya pengambilan keputusan uji F dan uji t tidak boleh bias. Untuk memperoleh persamaan regresi yang dapat dipertanggungjawabkan maka asumsi klasik sebagai berikut harus dipertimbangkan :
1.Non multikolinearitas 2.Non autokorelasi 3.Non heteroskedasitas
1.Multikolineritas
Tujuan dari multikolinearitas adalah untuk menguji apakah ada model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas. Model regresi yang baik seharusnya tidak ada korelasi diantara variabel bebas (independen) (Ghozali, 2006: 95).
Salah satu cara yang digunakan untuk mengetahui ada tidaknya multikolonearitas yaitu dengan melihat besarnya nilai Variance Inflation Factor (VIF). VIF ini dapat dihitung dengan rumus : VIF = 1.
Tolerance mengukur variabilitas variabel bebas yang terpilih yang tidak dapat dijelaskan oleh variabel bebas lainnya. Nilai tolerance yang umum dipakai adalah 0,01 atau sama dengan nilai VIF dibawah 10, maka tidak terjadi multikolonearitas. Apabila nilai VIF lebih tinggi dari 10 maka akan terjadi multikolonearitas.
2.Autokorelasi
Autokorelasi dapat didefinisikan sebagai ” korelasi antara data observasi yang diurutkan berdasarkan urut waktu ( data time series ) atau data yang diambil waktu tertentu (data cross – sectional )” (Gujarati, 1995:201).
Pengujian autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam suatu model regresi linier terdapat korelasi antara kesalahan. Untuk mengetahui ada atau tidaknya gejala autokorelasi maka perlu dilihat kriteria Durbin Watson sebagai berikut (Ghozali, 2006 : 99 )
Tabel x.x Deteksi adanya autokorelasi dengan criteria Durbin Watson
Hipotesis Nol Keputusan Jika
Tidak ada autokorelasi positif Tolak 0 < d <dl
Tidak ada autokorelasi positif No decision dl < d < du
Tidak ada korelasi negatif Tolak 4-dl < d < 4
Tidak ada korelasi negative No decision 4 – du < d < 4 – di
Tidak ada autokorelasi positif atau negative Tidak ditolak du < d < 4 – du
Sumber: Ghozali, Imam, 2006, Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS, Edisi Tiga, Penerbit Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang.
3.Heteroskedasitas
Pada regresi linier nilai residual tidak boleh ada hubungan dengan variabel X. Hal ini bisa didefinisikan dengan cara menghitung korelasi Rank
Spearman antara residual dengan seluruh variabel bebas. Untuk mendeteksi
ada atau tidaknya heteroskedastisitas digunakan korelasi Rank Spearman antara residual dengan variabel independen, adalah :
a. Nilai probabilitas >0,05 berarti bebas dari heteroskedastisitas.
3.4.3. Teknik analisis
Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan regresi linier berganda.
Metode analisis data yang digunakan untuk menguji hipotesa adalah ” Analisis Regresi Linier Berganda” dengan pendekatan levels. Model levels untuk menguji hipotesa adalah sebagai berikut:
Y=β0 + β1X1 + β2X2 + β3X3 + β4X4 + β5X5 + ei (Anonim, 2003:L-20)
Keterangan: Y: Harga saham
X1:Laba akuntansi
X2:Total aliran kas
X3: Arus kas dari aktivitas operasi
X4: Arus kas dari aktivitas investasi
X5: Arus kas dari aktivitas pendanaan
Β0: Konstanta
Β1- β5: Koefisien variabel independen
3.4.4. Uji Hipotesis 3.4.4.1 Uji F
Uji F digunakan untuk menguji kococokan model regresi variabel bebas (X) terhadap variabel terikat (Y), dengan prosedur sebagai berikut :
a.Hipotesis
H0 : β1 = β2 = β3 =β4 = β5 = 0 (Model regresi tidak cocok)
H1 : β1 = β2 = β3 =β4 = β5 ≠ 0 (Model regresi cocok )
) jika tingkat signifikan ( p – value ) < 0,05 maka H0 ditolak dan H1 diterima.
3.3.4.2 Uj
hadap variabel dependen, ji t dengan prosedur sebagai berikut :
ara parsial tidak terdapat pengaruh variabel bebas terhadap
ara parsial terdapat pengaruh positif variabel bebas tehadap
b. Level of signifikan (α ) = 0,05
c. Ketentuan pengujian :
1) Jika tingkat signifikan ( p – value ) > 0,05 maka H0 diterima dan H1
ditolak. 2
i t
Uji t dapat digunakan untuk menguji signifikan atau tidaknya pengaruh antara variabel independen secara parsial ter
digunakan u a.Hipotesis H0 : βi = 0 (sec variabel terikat). H1 : βi ≠ 0 (sec variabel terikat).
44
= 0,05
ditolak.
) Jika tingkat signifikansi (p – value) < 0,05 maka H0 ditolak dan H1
diterima.
Keterangan I = 1,2,3,4
b. Level of Signifikan (α)
c. Ketentuan pengujian :
1) Jika tingkat signifikansi (p – value) > 0,05 maka H0 diterima dan H1
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Deskripsi Obyek Penelitian
4.1.1. Sejarah Pasar Modal di Indonesia
Secara historis, pasar modal telah hadir jauh sebelum Indonesia merdeka. Pasar modal atau bursa efek telah hadir sejak jaman kolonial Belanda dan tepatnya pada tahun 1912 di Batavia. Pasar modal ketika itu didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda untuk kepentingan pemerintah kolonial atau VOC. Meskipun pasar modal telah ada sejak tahun 1912, perkembangan dan pertumbuhan pasar modal tidak berjalan seperti yang diharapkan, bahkan pada beberapa periode kegiatan pasar modal mengalami kevakuman. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor seperti perang dunia ke I dan II, perpindahan kekuasaan dari pemerintah kolonial kepada pemerintah Republik Indonesia, dan berbagai kondisi yang menyebabkan operasi bursa efek tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya.
Pemerintah Republik Indonesia mengaktifkan kembali pasar modal pada tahun 1977, dan beberapa tahun kemudian pasar modal mengalami pertumbuhan seiring dengan berbagai insentif dan regulasi yang
dikeluarkan pemerintah. Secara singkat, tonggak perkembangan pasar modal di Indonesia dapat dilihat sebagai berikut :
a.14 Desember 1912 : Bursa Efek pertama di Indonesia dibentuk di Batavia oleh Pemerintah Hindia Belanda.
b.tahun 1914-1942 : Bursa Efek di Batavia ditutup selama Perang Dunia I
c.Tahun 1925-1942 : Bursa Efek di Jakarta dibuka kembali bersama dengan Bursa Efek di Semarang dan Surabaya.
d.Awal tahun 1939 : Karena isu politik (Perang Dunia II) Bursa Efek di Semarang dan Surabaya ditutup.
e.Tahun 1942 – 1952 : Bursa Efek di Jakarta ditutup kembali selama perang dunia II
f.Tahun 1952 : Bursa Efek di Jakarta diaktifkan kembali dengan UU Darurat Pasar Modal 1952, yang dikeluarkan oleh Menteri Kehakiman (Lukman Wiradinata) dan Menteri Keuangan (Prof.DR. Sumitro Djojohadikusumo). Instrumen yang diperdagangkan : Obligasi Pemerintah RI (1950)
g.Tahun 1956 : Program nasionalisasi perusahaan Belanda. Bursa Efek semakin tidak aktif.
i.10 Agustus 1977 : Bursa Efek diremiskan kembali oleh Presiden Soeharto. BEJ dijalankan dibawah BAPEPAM (Badan Pelaksana Pasar Modal ). Tanggal 10 Agustus diperingati sebagai HUT Pasar Modal. Pengaktifan kembali pasar modal ini juga ditandai dengan go publik PT. Semen Cibinong sebagai emiten pertama.
j. Tahun 1977 – 1987 : Perdagangan di Bursa Efek sangat lesu. Jumlah emiten hingga 1987 baru mencapai 24. Masyarakat lebih memilih instrument perbankan disbanding instrument Pasar Modal.
k. Tahun 1987 : ditandai dengan hadirnya Paket Desember 1987 (PAKDES 87) yang memberikan kemudahan bagi perusahaan untuk melakukan Penawaran Umum dan Investor asing menanamkan modal di Indonesia.
l.Tahun 1988 -1990 : paket deregulasi dibidang Perbankan dan Pasar Modal diluncurkan. Pintu BEJ terbuka untuk asing. Aktivitas bursa terlihat meningkat.
m.2 Juni 1988 : Bursa Paralel Indonesia (BPI) mulai beroperasi dan dikelola oleh Persatuan Perdagangan Uang dan Efek (PPUE), sedangkan organisasinya terdiri dari broker dan dealer.
n. Desember 1988 : Pemerintah mengeluarkan Paket Desember 88 (PAKDES 88) yang memberikan kemudahan perusahaan untuk go public dan beberapa kebijakan lain yang positif bagi pertumbuhan pasar modal.
o. 16 Juni 1989 : Bursa Efek Surabaya (BES) mulai beroperasi dan dikelola oleh Perseroan Terbatas milik swasta yaitu PT Bursa Efek Surabaya.
p.13 Juli 1992 : Swastanisasi BEJ. BAPEPAM berubah menjadi Badan Pengawas Pasar Modal. Tanggal ini diperingati sebagai HUT BEJ.
q. 22 Mei 1995 : Sistem Otomasi perdagangan di BEJ dilaksanakan dengan system computer JATS (Jakarta Automated Trading Systems).
r.10 November 1995 : Pemerintah mengeluarkan Undang – Undang No.8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Undang – Undang ini mulai diberlakukan mulai Januari 1996.
s. Tahun 1995 : Bursa Paralel Indonesia merger dengan Bursa Efek Surabaya.
t. tahun 2000 : Sistem Perdagangan Tanpa Warkat (sripless trading) mulai diaplikasikan di pasar modal Indonesia.
u.Tahun 2002 : BEJ mulai mengaplikasikan system perdagangan jarak jauh (remote trading).
v.Tahun 2007 : Penggabungan Bursa Efek Surabaya (BES) ke Bursa Efek Jakarta (BEJ) dan berubah nama menjadi Bursa Efek Indobesia (BEI).
4.1.2. Sejarah PT.Bursa Efek Indonesia (BEI)
Penggabungan PT Bursa Efek Surabaya (BES) ke dalam PT Bursa
Efek Jakarta (BEJ) yang kemudian menjadi PT Bursa Efek Indonesia
(BEI), telah efektif mulai tanggal 30 November 2007. Bursa hasil merger tersebut telah memulai operasional pertamanya pada tanggal 3 Desember 2007. Bursa saat ini memfasilitasi perdagangan ekuiti, surat utang, dan perdagangan derivatif. Dengan penggabungan, kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia meningkat menjadi Rp 2.538 triliun yang terdiri dari Rp 1.982 triliun kapitalisasi ekuiti, Rp 79,065 triliun obligasi korporasi, dan Rp 477 triliun Surat utang Negara (SUN). hadirnya Bursa Efek tunggal ini diharapkan akan meningkatkan efisiensi industry Pasar Modal di Indonesia dan menambah daya tarik masyarakat untuk berinvestasi. Sinergi merger ini diharapkan akan semakin meningkatkan pertumbuhan Pasar modal kita, baik dalam kapitalisasi pasar, jumlah emiten, dan jumlah investor baik lokal maupun asing. Harapan kedepan Pasar Modal Indonesia akan menjadi salah satu pilar utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Bursa Efek Indonesia sangat memahami peran Surabaya sebagai salah satu basis utama penggerak perekonomian di wilayah Indonesia Timur. BEI kemudian melalui Sentra Informasi dan Edukasi (SIE) di Surabaya akan semakin meningkatkan kegiatan sosialisasinya mengenai pasar Modal sebagai alternative investasi bagi masyarakat umum, dan alternative pendanaan bagi perusahaan. Harapan BEI, sosialisasi tersebut akan menyumbang peningkatan jumlah investor dan perusahaan tercatat
(emiten) baik dari Jawa Timur maupun dari wilayah sekitarnya. Bagi daerah sendiri, peningkatan jumlah perusahaan tercatat akan mampu menyokong pertumbuhan perekonomian daerah, melalui peningkatan pendapatan daerah, penciptaan lapangan kerja, peningkatan pelaksanaan good corporate governance di perusahaan, dan sebagainya.
Dengan mempertimbangkan pertumbuhan industri Pasar Modal Indonesia beberapa tahun terakhir yang sedemikian pesat, Bursa Efek Indonesia (BEI) berencana melakukan pemutakhiran system Jakarta Automated Trading System (JATS) yang telah beroperasi selama 13 tahun terakhir, dengan system baru yang akan mampu menangani semua produk financial (saham, obligasi dan derivatif) dalam satu platform.
4.1.3. Gambaran Umum Obyek Penelitian
Tabel 4.1. Gambaran Umum Penjualan Pada Obyek Penelitian
Nama Perusahaan 2009 2008 2007 2006 Rata-rata
PT.Cahaya Kalbar Tbk 1.194.548 1.196.638 812.635 391.062 898.720,75
PT.Fast Food Indonesia Tbk 2.454.359 2.022.633 1.589.642 1.276.416 1.835.762,5
PT.Indofood Sukses Makmur Tbk 37.141 38.799 27.858 21.942 31.435
PT.Mayora Indah Tbk 4.777.175 3.907.674 2.828.440 1.971.513 3.371.200,5
PT.Multi Bintang Indonesia Tbk 1.616 1.327 979 891 1.203,25
PT.Prashida Aneka Niaga Tbk 592.358 713.114 100.060 519.849 606.345,25
PT.Sekar Laut Tbk 28.191 27.867 22.045 18.815 24.229,5
PT.Siantar Top Tbk 627.115 624.401 600.330 555.208 601.763,5
PT.Sierad Produce Tbk 3.243 2.332 1.632 1.111 2.079,5
PT.Ultra Jaya Milk Industry Tbk 1.613.928 1.362.607 1.126.800 835.230 1.234.641,25
Berdasarkan tabel 4.1. diatas, diketahui bahwa penjualan tertinggi
dalam penelitian ini diraih PT. Mayora Indah Tbk pada rata – rata sebesar
Rp.3.371.200,5 pada tahun 2006-2009, hal ini disebabkan tingginya penjualan dikarenakan konsumen tertarik untuk membeli produk. Sedangkan penjualan terendah dalam penelitian ini adalah PT.Sierad
Produce Tbk pada rata – rata Rp 2.079,5 pada tahun 2006‐2009, hal ini
kemungkinan disebabkan karena pembelian bahan baku yang terlalu banyak tanpa diimbangi dengan penjualan yang lancar.
Tabel 4.2. Gambaran Umum Laba Pada Obyek Penelitian
Nama Perusahaan 2009 2008 2007 2006 Rata-rata
PT.Cahaya Kalbar Tbk 49.493 27.868 24.676 15.291 29.332
PT.Fast Food Indonesia Tbk 181.997 125.267 102.537 68.929 119.682,5
PT.Indofood Sukses Makmur Tbk 2.076 1.034 980 661 1.187,75
PT.Mayora Indah Tbk 372.158 196.230 141.589 93.576 200.888,25
PT.Multi Bintang Indonesia Tbk 341 222 84 74 180,25
PT.Prashida Aneka Niaga Tbk 32.450 9.448 (8.646) 11.847 11.274,75
PT.Sekar Laut Tbk 12.803 4.271 5.746 4.637 6.864,25
PT.Siantar Top Tbk 41.072 4.816 15.595 14.426 18.977,25
PT.Sierad Produce Tbk 37.215 27.254 21.196 40.954 31.654,75
PT.Ultra Jaya Milk Industry Tbk 61.153 303.712 30.317 14.732 102.478,5
Sumber: Lampiran 2b
Berdasarkan tabel 4.2. diatas, diketahui bahwa laba tertinggi dalam
penelitian ini diraih PT. Mayora Indah Tbk pada rata – rata sebesar Rp.
200.888,25 pada tahun 2006-2009, hal ini disebabkan besarnya penjualan sehingga mendapatkan keuntungan yang besar. Sedangkan penjualan terendah dalam penelitian ini adalah PT.Multi Bintang Indonesia Tbk pada
rata – rata Rp 2.079,5 pada tahun 2006‐2009, hal ini kemungkinan disebabkan karena laba yang diperoleh dari tahun ke tahun relatif kecil.
Tabel 4.3. Gambaran Umum Aset Pada Obyek Penelitian
Nama Perusahaan 2009 2008 2007 2006 Rata-rata
PT.Cahaya Kalbar Tbk 588.363 605.545 613.680 280.807 522.098,75