• Tidak ada hasil yang ditemukan

KISAH, AZIMAT, RAMALAN DAN KEKUATAN GAIB

7. Asal-Usul Sebuah Tempat

Dalam naskah-naskah tradisi tulis Cirebon yang berisi cerita Sunan Gunung Jati, asal-usul sebuah tempat disajikan dalam hampir seluruh naskah, kecuali Babad Cerbon-Hadi, dan Carub Kanda, terutama mengenai asal-usul nama Cirebon (lihat tabel 2 dan 3 bagian B). Demikian pula dalam tradisi lisan, cerita tentang asal-usul sebuah tempat, baik yang sealur maupun tidak dengan tradisi tulis, cukup banyak dan variatif.

Mengenai asal-usul negeri Cirebon, hampir semua naskah menyajikan cerita ini. Sejarah Cirebon, jilid ketiga menceritakan asal-usul nama Cirebon dengan latar belakang ketika upacara pengangkatan Ki Pangalang-alang sebagai kepala desa yang disaksikan oleh para menteri utusan kerajaan Galuh sebagai berikut.

... Setelah selesai upacara pengangkatan, Cakrabumi berpidato dan menganjurkan agar seluruh rakyat tunduk dan taat kepada perintah pimpinannya. Sebelum rombongan menteri pulang, mereka dijamu oleh Ki Cakrabumi, dalam jamuan itu disajikannya garagal (tumbukan rebon) dan mereka merasakan kenikmatannya. Kemudian mereka berkata dengan bahasa Sunda, ”Aduh ngeunah teuing garagal teh” (alangkah enaknya garagal ini). Kemudian Ki Cakrabumi menjawab dengan bahasa Sunda pula, ”mundak caina”

(apalagi airnya). Lalu mereka berteriak minta cai rebon (air rebon), kemudian diberinya oleh Cakrabumi air rebon yang diberi bumbu petis, mereka bertambah kenikmatannya, sehingga ramailah di antara mereka mengucapkan cai-rebon, cai-rebon. Ucapan ini menjadi buah bibir mereka.

Oleh karena itulah akhirnya desa tersebut dinamakan desa Cairebonan (Cirebon).

Hal yang sama terdapat dalam Babad Tanah Sunda, bagian ke delapan, ketika para menteri dari Palimanan utusan kerajaan

161

Kisah, Azimat, Ramalan dan Kekuatan Gaib –– G

Rajagaluh memeriksa pedukuhan yang baru didirikan oleh Ki Cakrabumi. Sulendraningrat menceritakan sebagai berikut.

... Tidak berapa lama datanglah utusan Palimanan, Mantri Pepitu, memeriksa dedukuh (pemukiman) baru itu, sudah ada cacah jiwa 346 orang. Ki Cakrabumi sudah bertemu di hadapan mereka. Berkata juru bicara Mantri Pepitu,

”Hai tukang penangkap rebon, engkau oleh perintah Sang Prabu diharuskan mengirim pajak tiap-tiap tahun satu pikul bubukan rebon gelondongan, karena Sang Prabu lebih terasih dan aku beri nama bubukan gelondongan rebon itu terasi, karena Sang Prabu Rajagaluh lebih terasih sekali dan minta keterangannya bagaimana membikin terasi itu.”

Cakrabumi mengucap sandika. Adapun menangkapnya dengan jala tiap malam, diambilnya pagi-pagi. Rebon lalu diuyahi (diberi garam) seantara lalu diperas, setelahnya lalu dijemur, setelah kering lalu ditumbuk digelondongi, demikian. Adapun air perasannya dimasak dengan diberi bumbu-bumbu. Masakan perasan air rebon lebih enak, diberi nama petis blendrang.” Ki Mantri berkata, ”Coba ingin tahu rasanya cai/air rebon itu.”

Cakrabumi segera menyuruh istrinya memasak air perasan rebon.

Setelah masak lalu dihidangkan kepada Ki Mantri Pepitu. Mereka lalu makan bersama dengan lauk pauk petis blendrang, sambil saling berkata, bahwa cai/air rebon lebih enak ketimbang gragenya (terasinya). Karenanya Ki Mantri Pepitu mengumumkan kepada rakyat dedukuh baru itu, bahwa pedukuhannya diberi nama dukuh Cirebon, kala waktu tahun 1447 M.

Carita Purwaka memberi penjelasan singkat tentang asal-usul nama Cirebon---yang berbeda dengan Sejarah Cirebon dan Babad Tanah Sunda---pada bagian pembukaan, halaman kedua (naskah) baris kelima sampai dengan ke sepuluh:

G Sunan Gunung Jati –– Bag. 4

Selain Cirebon, nama pedukuhan yang dibangun oleh Ki Cakrabumi juga dikenal dengan sebutan Gerage. Sejarah Cirebon, jilid ketiga menguraikan sebagai berikut:

... Pekerjaan Somadullah menebang hutan sudah banyak berhasil sehingga tempat itu tidak merupakan hutan, tetapi sudah menjadi tanah lapang yang agak luas. Kakek Pangalang-alang merasa sangat gembira karena hasil pekerjaan Somadullah itu. Akhirnya banyak orang yang datang dari Plumbon dan Palimanan turut serta bertempat tinggal di tempat itu. Sehingga tempat tersebut menjadi suatu perkampungan yang agak ramai. Perkampungan itu sudah terkenal dengan tumbukan rebonnya. Karenanya banyak orang Pasundan datang berduyun-duyun ke perkampungan itu untuk membeli rebon. Dalam pembelian itu mereka berderet antri sambil berteriak “Oga oge garagalna oga oge garagalna”. Demikianlah teriakan mereka dalam bahasa Sunda yang artinya “Lekas-lekas garagalnya”. Mereka masing-masing ingin segera dilayani. Dari ucapan mereka, maka dalam bahasa Jawa Cirebon ada ucapan gerage yang dimaksudkan ialah tempat (Cirebon). Jadi perkataan gerage berasal dari perkataan garagalna yang berarti tumbukan rebon.

Naskah Carita Purwaka

.. riwitan ikang ngaran Caruban yeka Sarumban /

tumuli inucapakna dumadi Caruban /

i wekasan ikan mangko Carbon tumuli/

hana pwa ike nagari de ning sang kamastu kang sangan //

winastwan ngaran puser bumi nagari ikang sinebut yugang /

nagari kang hana madyeng bunthala Jawa Dwipa / ...

Terjemahan

Pada mulanya nama Cirebon ialah Sarumban

lalu diucapkan menjadi Caruban akhirnya Carbon (Cirebon).

Adapun negeri ini oleh para wali sembilan diberkati nama

Negeri Puseur Bumi, juga disebut negeri

yang ada di tengah bumi Pulau Jawa …

163

Kisah, Azimat, Ramalan dan Kekuatan Gaib –– G

Dalam Babad Tanah Sunda, bagian ke delapan, juga dikemukakan hal yang sama.

... Diceritakan, Cakrabumi bersama sang istri dan sang adik sedang menumbuk rebon di lumpang batu dengan halu batu. Orang yang mengkulak rebon berebut saling ingin mendahului, berdesak-desak sambil berceloteh, ”Oga age, geura age, geura bebek.” (cepat-cepatlah ditumbuk).

Karenanya, pedukuhan itu jadi termashur dengan nama Grage.

Adapun, Carita Purwaka halaman dua (naskah) baris ke delapan sampai ke tigabelas mengungkapkan bahwa kata Garage berasal dari kata Nagari Gede yang lama-lama diucapkan menjadi Gerage atau Grage.

Naskah Carita Purwaka

... hana pwa ike nagari de ning sang kamastu kang sangan //

winastwan ngaran puser bumi nagari ikang sinebut yugang /

nagari kang hana madyeng bunthala Jawa Dwipa /

de ning pribumi engke inarananan nagari gedhe /

lawanira irika ta inucapakna mangko dumadi Garage yatika //

Grage tumuli /..

Terjemahan

... Adapun negeri ini oleh para wali sembilan

diberkati nama Negeri Puser Bumi, juga disebut negeri yang ada

sebuah negeri di tengah bumi Pulau Jawa.

Oleh anak negeri kini dinamai Nagari Gede.

Lama kelamaan diucapkan oleh mereka menjadi Garage, yang kelak menjadi Grage...

Tempat-tempat lain yang ada di Cirebon dilatarbelakangi oleh cerita legenda yang terdapat dalam naskah-naskah lama. Sejarah Cirebon, jilid kedua menguraikan panjang lebar tentang asal-usul sebuah tempat yang ada di Cirebon105, yakni asal-usul nama

105 Sulendraningrat (1985:78-79) memberikan penafsiran lain terhadap nama-nama tempat di atas. Lemahwungkuk, dulunya tanah yang kini di atasnya berdiri balai desa Lemahwungkuk, Panjunan adalah tempat ajun (pembuatan barang keramik/gera-bah dari tanah liat), Pasayangan adalah tempat pembuatan alat-alat dapur dari seng

G Sunan Gunung Jati –– Bag. 4

Lemah Wungkuk, Panjunan, Pasayangan, Pekarungan, Gunung Sari, Dukuh Semar, Parujakan, Pekalangan, Pandesan, Kebon Pring, Anjatan, Pulasaren, dan Jagasatru sebagai berikut.

Syahdan, setelah menerima wejangan yang cukup berharga dari Syekh Nurjati, Walangsungsang alias Somadullah berpamitan berangkat menuju ke arah Selatan dari Gunung Jati. Hari itu adalah hari Sabtu. Akhirnya ia sampai di suatu tempat yang sunyi sepi, tiada seorang pun melainkan seorang lelaki yang sudah sangat tua usianya ialah Ki Pangalang-alang, beliau adalah orang yang berhak atas tempat itu. Setelah sampai di tempat tersebut, Walangsungsang mengucapkan kalimat lamma waqo’tu (saya telah tiba). Karenanya nama tempat tersebut dinamakan Lemah Wungkuk.

... Setelah selesai sembahyang, Somadullah keluar dari rumah untuk memulai pekerjaan. Ia melihat banyak pohon besar bahkan ada yang tingginya mencapai 500 meter, dengan rajin ia membuka hutan belukar, menebang pepohonan, sedikit-demi sedikit menuju ke arah utara dari Lemah Wungkuk hingga tiba di suatu tempat yang sangar dan banyak binatang buas, lalu ia membaca doa; ”audzu bi kalimatillahittammati kuliha min syarri maa kholaq106” sebanyak tiga kali. Berkat bacaan itulah ia selamat dari segala gangguan dalam melakukan pekerjaannya. Kemudian ia berucap fa anjaena, artinya aku telah selamat. Oleh karena itu tempat tersebut dinamakan Panjunan, berasal dari perkataan fa anjaena.

Dari situ sambil melakukan pekerjaannya, ia berjalan menuju ke arah Barat, sampai di suatu tempat ia merasa kebingungan tidak tahu jalan, maka ia berucap; ”ala ya’lamu man kholaqo

dan kuningan atau pembuatan sarang burung, Pekarungan adalah tempat berjualan ikan kering, Pandesan adalah tempat penjual padasan untuk mengambil air wudu, Dukuh Semar adalah suatu kampung yang samar-samar, atau yang dilupakan yang baru ditemukan kemud ian, Parujakan adalah tempat orang menjual bahan-bahan rujak untuk upacara tujuh bulanan wanita hamil, Kebonpring karena dahulu banyak pohon bambu, Pulasaren adalah tempat makam Pangeran Pulasaren, dan Jagasatru adalah pos keamanan.

106 Aku berlidung pada kalimat Allah yang sempurna dari segala mahluk.

165

Kisah, Azimat, Ramalan dan Kekuatan Gaib –– G

wahuwallatiifu khobir”. Lalu tampak ada jalan, dan ketika itu ia berucap fasyalamuna, artinya maka mengetahuilah. Oleh karena ada ucapan ini maka tempat tersebut dinamakan Pasayangan.

Kemudian ia meneruskan lagi perjalanannya hingga di suatu tempat ia berfikir apakah perjalanannya akan dilanjutkan atau tidak. Kemudian ia berucap; fakkarnaa, artinya aku berfikir, karenanya tempat tersebut dinamakan Pekarungan yang berasal dari perkataan fakkarnaa.

Kemudian ia melanjutkan pekerjaannya hingga merasa sangat senang dan tenang, kemudian ia membaca kalimat, ”Qooma sirri jami’an samarin”, artinya rahasia perasaanku merasa senang. Oleh karena itu maka tempat tersebut dinamakan Gunung Sari dan Dukuh Semar, kedua tempat tersebut berdampingan. Kemudian ia melanjutkan pekerjaannya menebang hutan ke arah utara dan dalam hatinya berkata kalau nanti sudah menjadi perkampungan lalu airnya dari mana. Pada saat itulah pikirannya terbuka bahwa soal itu mudah saja apabila sudah menjadi perkampungan tentu Allah memberi rizki. Kemudian ia berdoa, ”farjanaa”, artinya “ya Allah berilah rizki pada hamba”. Oleh karena itu tempat tersebut dinamakan Parujakan dan di tempat itulah orang-orang mudah mencari rizki.

Selanjutnya ia kembali lagi ke arah Tenggara hingga tiba di suatu tempat dan di situ ia pingsan, pikirannya sama sekali tidak ingat apa-apa. Lalu ia membaca kalimat, ”facholanaa”, artinya “aku terlupa pikiran”.Maka tempat tersebut dinamakan Pekalangan.

Kemudian ia melanjutkan perjalanan ke arah Selatan dan tiba-tiba ia melihat cahaya terang, lalu ia mengucapkan kalimat ”fahandasnaa”, artinya aku mendapat petunjuk. Oleh karena itu tempat tersebut dinamakan Pandesan. Lalu ia meneruskan lagi perjalanannya dan sampai di suatu tempat ia merasa senang kemudian mengucapkan

”rokibuna rumatallahi farihin”, sehingga tempat itu dinamakan Kebon Pring, kemudian berangkat lagi dari situ menuju ke Selatan, sampai di suatu tempat beliau berhenti karena melihat dua sinar bercahaya dari arah Kanoman dan Kasepuhan, pada saat itu beliau mengucapkan ”faroetu aajataini” yang artinya aku melihat dua tanda. Maka oleh karenanya tempat itu dinamakan Anjatan.

G Sunan Gunung Jati –– Bag. 4

Selanjutnya dari situ terus menuju Selatan, dan di suatu tempat berhenti lagi karena melihat ada musuh, lalu ia mengucapkan

”falaa sasarenaa”. Artinya aku tidak terus berjalan. Oleh karena itu tempat tersebut dinamakan Pulasaren dan di dekat tempat tersebut ada tempat yang dinamakan Jagasatru. Setelah selesai melakukan perjalanan dan membabat hutan, Somadullah pulang kembali ke tempat kediamannya kira-kira jam delapan seperempat.

Setelah tiba di rumah ia bersujud syukur ke hadirat Tuhan, lalu bersembahyang duha, sedangkan golok cabang ditancapkan di atas tanah, sambil beliau membaca niat sembahyang duha.

Cerita legenda di atas, terutama nama tempat Panjunan agak berbeda dengan cerita legenda yang terdapat dalam Babad Tanah Sunda. Dalam Babad Tanah Sunda, mengenai asal mula Panjunan terdapat pada bagian kelima belas sebagai berikut:

Syahdan, di negeri Bagdad, Sultan Maulana Sulaeman merasa tidak tentram karena anak-anaknya yang bernama Syarif Abdurrahman, Syarif Kafi (Syarif Abdurrahim), dan Syarifah Bagdad tidak mengindahkan aturan-aturan agama, tingkah laku mereka selalu bertentangan dengan ajaran Islam. Sultan Maulana Sulaeman berusaha menasihati anak-anaknya, namun tidak diindahkan. Akhirnya, ia mengusir ketiga anaknya keluar dari negeri Bagdad. Atas saran Syekh Juned, Syarif Abdurrahman pergi menuju Pulau Jawa untuk berguru kepada Syekh Nurjati di Cirebon. Dengan membawa empat buah kapal dan 1200 orang anggota rombongan, mereka pergi menuju Cirebon.

Di Cirebon, Syarif Abdurrahman membangun pemukiman di sebelah utara, adapun Syarif Kafi dan Siti Bagdad berdiam di Gunung Jati, siang malam keduanya memberi wejangan kitab Qur’an kepada masyarakat sehingga disebut Syekh Datuk Kafi.

Sementara Syarif Abdurrahman yang menjadi ayunaning orang (pemimpin masyarakat) bekerja membuat barang-barang keramik dari tanah liat, sehingga ia disebut Pangeran Panjunan. Karenanya pemukimannya pun kemudian disebut dukuh Panjunan pada tahun

167

Kisah, Azimat, Ramalan dan Kekuatan Gaib –– G

1464.

Tempat lain yang mempunyai cerita legenda adalah Kejaksan, Kapetakan, Karanggetas, Gunung Ciremai, dan Pakungwati.

Nama tempat Kejaksan diambil dari nama jabatan yang disandang oleh Syarif Abdurrahim ketika ia tinggal di Cirebon.

Dalam Babad Tanah Sunda dijelaskan sebagai berikut:

Adapun Syarif Abdurrahim menjabat sebagai jaksa untuk mengurus agama dan drigama (urusan duniawi), karenanya ia disebut Pangeran Kejaksan, demikian pula pemukimannya disebut dengan nama Kejaksan.

Nama Kapetakan diambil dari nama sungai yang didiami oleh Jaka Supetak salah seorang sinatria yang tampil dalam sayembara melawan Nyi Mas Panguragan. Dalam Babad Tanah Sunda, bagian ke tigapuluh delapan, diceritakan sebagai berikut:

Ketika sayembara tengah berlangsung, datanglah dua siluman bersama seratus pengiringnya yang menjelma menjadi manusia. Dia adalah Jaka Supetak dan Jaka Pekik. Jaka Supetak tertarik mengikuti sayembara, ia menantang Sang Putri. Nyi Mas Panguragan segera melepaskan anak panah hingga yang paling ampuh, namun tidak berhasil mencederai Jaka Supetak. Sang Putri akhirnya melarikan diri dan terus dikejar oleh Jaka Supetak. Ketika Nyi Mas Panguragan tengah dikejar oleh Jaka Supetak, ia tiba di tepi sungai yang kebetulan Kanjeng Sinuhun Jati Purba atau Sunan Gunung Jati sedang berdiri di sana. Sunan Gunung Jati mempersilakan Jaka Supetak untuk mengangkat Sang Putri jika mampu, namun Jaka Supetak tidak berhasil mengangkatnya. Jaka Supetak merasa malu, ia kemudian menyerah dan memberikan sebuah keris.

Jeng Sunan Gunung Jati berkata, “Jaka Supetak engkau belum waktunya mati, baiklah turut ke Cirebon, bangunlah sebuah dukuh sekehendak engkau”. Berkata Jaka Supetak, “Oleh karena hamba sangat malu, hamba seterusnya tidak bisa bercampur lagi dengan manusia, namun hamba mohon izin bermukim di dalam

G Sunan Gunung Jati –– Bag. 4

sungai ini”. Segera Jaka Supetak terjun ke dalam sungai. Jeng Sunan berkata, “Jaka Supetak sewadya baladnya seperti buaya, ada manusia bermukim di dalam air.” Ternyatalah Jaka Supetak sewadya baladnya salin rupa menjadi buaya. Sungai itu seterusnya termasyhur dengan sebutan Sungai Kapetakan.

Sementara itu, nama Karanggetas diambil dari kisah pemotongan rambut Pangeran Remagelung atau Syekh Magelung oleh Sunan Gunung Jati. Dalam Babad Tanah Sunda, masih bagian ke tigapuluh delapan diceritakan sebagai berikut:

... Suatu ketika, dari negeri Syam, Syria, datanglah seorang pemuda bernama Syarif Syam ke Cirebon dengan tujuan ingin berguru kepada orang yang dapat memotong rambutnya yang keras seperti kawat. Ketika bertemu dengan Syekh Bentong ia diberi nama Pangeran Remagelung. Syekh Bentong menyarankan agar Remagelung menemui Sunan Gunung Jati dan berguru kepadanya.

Antara lama kemudian, Remagelung berjumpa dengan Sunan Gunung Jati yang menyamar sebagai seorang kakek tua.

Berkata Remagelung, ”Hai kakek tua, di manakah tempatnya Sunan Cirebon.” Berkata kakek tua, ”Wallahu ’alam tempatnya Sunan Cirebon dan anda dari mana, siapa namamu, dan apa kemauanmu?” Berkata Remagelung, ”Putra Syam mau berguru kepada Sunan Cirebon yang bisa memotong rambutku, sungguh aku akan mengabdi kepadanya.” Berkata kakek tua, ”Kasihan sekali orang Syam ini, rambutnya bergelantungan tidak dapat digelung karena kerasnya seperti kawat, kalau engkau sukalila, saya akan memotongnya, namun saya minta melihatnya dari belakang.”

Remagelung berkata, ”Sukalila (suka rido) kalau kakek tua mau memotongnya.” Segera Remagelung membelakanginya. Kakek tua lalu memegang rambutnya, segera rambut itu getas (rapuh) putus berjatuhan di tanah. Kakek tua lalu lenyap. Remagelung kehilangan kakek tua, kepalanya sudah gundul, ia lalu memakai

169

Kisah, Azimat, Ramalan dan Kekuatan Gaib –– G

destar hijau dan seterusnya disebut Pangeran Sukalila, karena suka rido dipotong rambutnya, dan tempatnya seterusnya disebut Karanggetas, sebab mengingat tatkala getas (rapuhnya) rambut Remagelung. Lalu rambut itu ditanamnya di bawah pohon asem di tempat itu pula.

Di dalam Carita Purwaka asal usul nama Karanggetas berbeda dengan Babad Tanah Sunda. Carita Purwaka halaman (naskah) 79 baris ke lima hingga ke delapan menceritakan bahwa Karanggetas berasal dari sebutan warga masyarakat yang melalui jalan menuju Gunung Jati, karena rapuh, selalu amblas jika dilalui oleh kuda atau pedati.

Naskah Carita Purwaka Terjemahan ... nulya amangun margi

kang umareng Giri Jati //

kang haneng pinggir sagara yata margi kang lok ambeles getas yan kapedek kapal lawan padati /

karana nka deng janmapadha sinebut Karangetas.

... Selanjutnya membuat jalan yang menuju Gunung Jati, yang ada di pinggir laut, ialah jalan yang lebar terbenam rapuh, jika terinjak kuda dan pedati.

Karena itu oleh warga masyarakat disebut Karanggetas.

Adapun nama Gunung Ciremai diambil dari kata bahasa Jawa, penyareman yang artinya permusyawaratan. Sejarah Cirebon Jilid ketiga menguraikan sebagai berikut:

... Suatu ketika, para wali di Cirebon telah membuat tempat persidangan untuk merundingkan penyusunan peraturan-peraturan dan mengatur pekerjaan di Gunung Ciremai.

Nama Gunung Ciremai berasal dari perkataan penyareman yang artinya permusyawaratan, karena di tempat itulah para wali memusyawarahkan berbagai hal mengenai keagamaan.

G Sunan Gunung Jati –– Bag. 4

Sementara nama keraton Pakungwati diambil dari nama putri Somadullah, Nyi Mas Pakungwati yang kemudian menjadi salah seorang istri Sunan Gunung Jati. Legenda ini tertulis pada Sejarah Cirebon, jilid keempat sebagai berikut:

... Pada saat itu Cirebon belum menjadi kota yang ramai seperti sekarang ini. Atas kedatangan Ki Somadullah di Cirebon---sepulangnya dari tanah Mekah---ia kembali bergaul dengan rakyatnya seperti sedia kala, ia dapat berkumpul lagi dengan istrinya. Dalam perkembangannya, Cirebon bertambah maju dalam segala lapangan terutama mengenai soal peribadatan, sehingga di situ segera dibangun sebuah keraton yang indah.

Pada waktu selesai pembangunan keraton, kebetulan Nyi Endang Ayu melahirkan seorang putri yang diberi nama Pakungwati. Maka keraton tersebut kemudian juga diberi nama seperti nama putrinya, yakni keraton Pakungwati.

Kisah legendaris tentang Gunung Jati, sebuah tempat cikal bakal penyebaran agama Islam yang dilakukan oleh Syekh Datul Kahfi dan Sunan Gunung Jati yang diyakini oleh masyarakat Cirebon sebagai tempat keramat, terdapat dalam tradisi lisan masyarakat Cirebon107 dengan cerita asal-usulnya sebagai berikut:

Sebelum ajaran-ajaran agama Islam berkembang di tanah Jawa, Pulau Jawa merupakan pulau yang penuh dengan hutan belukar digenangi air rawa-rawa dengan berjejal gunung-gunung yang angker. Pada zaman Nabi Isa As di Pulau Jawa terdapat seorang manusia yang sakti mandraguna dan sudah mencapai titel sanghiyang, yang sedang bertapa di puncak sebuah gunung bernama Pendeta Bageral Banjir.

Bertapanya Pendeta Bageral Banjir untuk memohon kepada Yang Tunggal, agar diturunkannya ilmu wijihing srandil dan mencapai kesempurnaan hidup. Empat puluh tahun Pendeta Bageral Banjir menjalankan tapa di atas puncak gunung, sampai akhirnya permohonannya dikabulkan oleh Yang Maha Tunggal dengan meraga sukmanya ilmu wijihing srandil ke

107 Ditulis oleh Masduki Sarpin dalam Pikiran Rakyat Edisi Cirebon tanggal 11 Oktober 1989 dalam kolom Kisah Masyarakat Cirebon dengan judul Asal-usul Gunung Jati.

171

Kisah, Azimat, Ramalan dan Kekuatan Gaib –– G

tubuh Sang Pendeta, Pendeta Bageral Banjir menggigil hingga pingsan tidak sadarkan diri.

Bersamaan dengan kejadian itu, dirasakan oleh Sang Pendeta bahwa gunung tempat bertapanya meletus dan puncaknya terlempar jauh dibawa angin melambung ke udara hingga jatuh di atas laut dan mengambang bagaikan perahu terkena ombak, dan Pendeta Bageral Banjir sendiri ngahiyang (merad) di alam lain. Beberapa ratus tahun kemudian, datanglah di tempat itu seorang waliyullah, Syekh Nurjati, untuk mencari penglinggihan yang terakhir. Setelah Syekh Nurjati memperhatikan tempat yang dipijaknya ada di atas air dan bergoyang bagaikan perahu, maka beliau segera menyempurnakan bekas pertapaan Pendeta Bageral Banjir yang mengambang di atas laut menjadi daratan biasa.

Syekh Nurjati adalah waliyullah berilmu tinggi, beliau mengambil tempat itu di samping sebagai kediaman yang terakhir, juga untuk mengkhusyukan diri kepada Allah supaya mendapat petunjuknya untuk mengembangkan agama Islam di tanah Jawa. Sedang khusyuknya Syekh Nurjati mengkhusyukkan diri kepada Allah Swt, tiba-tiba terdengar suara dari pepohonan

Syekh Nurjati adalah waliyullah berilmu tinggi, beliau mengambil tempat itu di samping sebagai kediaman yang terakhir, juga untuk mengkhusyukan diri kepada Allah supaya mendapat petunjuknya untuk mengembangkan agama Islam di tanah Jawa. Sedang khusyuknya Syekh Nurjati mengkhusyukkan diri kepada Allah Swt, tiba-tiba terdengar suara dari pepohonan