KISAH, AZIMAT, RAMALAN DAN KEKUATAN GAIB
2. Kisah Islamisasi Negeri Cina dan Putri Ong Tien
2. Kisah Islamisasi Negeri Cina dan Putri Ong Tien
Kisah legendaris lain yang tertulis dalam naskah-naskah tradisi Cirebon, kecuali Carita Purwaka , adalah kisah Syarif Hidayatullah mengislamkan bangsa Cina di negeri Cina dan
125
Kisah, Azimat, Ramalan dan Kekuatan Gaib –– G
pernikahannya dengan Putri Ong Tien. Kisah ini sangat digemari oleh masyarakat Cirebon dan telah menjadi legenda tersendiri baik dalam tradisi tulis maupun tradisi lisan di kalangan masyarakat.
Dalam Kisah Masyarakat Cirebon84 digambarkan sebagai berikut:
Perjuangan Sunan Gunung Jati pada abad ke-15 M. dalam mengembangkan agama Islam di negeri Tartar Cina, dilakukan dengan cara sebagaimana kebijaksanaan yang pernah ditempuh sebagian para penyebar agama Islam terdahulu di kawasan dunia, baik Barat maupun Timur. Namun, rintangan dan tantangan yang tidak sedikit memerlukan pengorbanan, tetapi Islam adalah agama Allah Swt, dan Allah tetap akan melindunginya.
Setelah Sunan Gunung Jati mendapat restu dari ibunda Nyai Mas Syarifah Mudaim dan menyerahkan tahta kesultanan kepada adiknya Syarif Nurullah di Mesir, beliau menyiarkan agama Islam di negeri Tartar Cina. Dalam penyiarannya Sunan Gunung Jati menyamar sebagai rakyat biasa, memasuki perkampungan dengan ikut membuat keramik seperti guci dan piring. Tetapi, karena ucapan Sunan Gunung Jati seusap nyata seidu metu perkataannya menjadi kenyataan, maka dengan waktu yang tidak lama sebagian rakyat negeri Tartar menjadi percaya dan meminta pertolongannya dan memeluk agama Islam.
Penyiaran agama Islam yang secara tidak langsung oleh Sunan Gunung Jati di negeri Tartar, akhirnya dapat diketahui oleh kaisar negeri tersebut. Dan kaisar sendiri mengetahui bahwa sebagian rakyatnya telah memeluk agama Islam. Dengan kejadian itu, Kaisar bermaksud hendak mengusir Sunan Gunung Jati dari negerinya tetapi sebelumnya Kaisar ingin menguji dahulu sampai sejauh mana ilmu kesaktian Sunan Gunung Jati yang dikatakan rakyatnya, bahwa Sunan Gunung Jati adalah manusia sakti mandraguna.
84 Ditulis oleh Masduki Sarpin pada Pikiran Rakyat Edisi Cirebon pada tanggal 3 Juli 1993 dengan judul Arya Kemuning Keturunan Kaisar Cina.
G Sunan Gunung Jati –– Bag. 4
Kaisar memerintahkan putrinya yang bernama Nio Ong Tien supaya memasang sebuah bokor kuningan di atas perutnya untuk mengelabui Sunan Gunung Jati, sehingga putri tersebut terlihat seolah-olah sedang mengandung dan dibuat sedemikian rupa agar terlihat menderita sakit. Selanjutnya Sunan Gunung Jati dipanggil ke istana oleh Kaisar dan diantar menuju kaputren tempat putri Nio Ong Tien, untuk mengobati putrinya yang dikatakan sedang sakit. Setelah Sunan Gunung Jati melihat putri Nio Ong Tien, sebagai insan hatinya terpikat jatuh cinta, begitu juga sebaliknya putri Nio Ong Tien tertarik dengan ketampanan Sunan Gunung Jati.
Sebenarnya Sunan Gunung Jati mengetahui bahwa putri Nio Ong Tien itu tidaklah sakit dan tidak dalam keadaan mengandung, juga mengetahui yang di atas perut sang putri itu adalah sebuah bokor kuningan. Kaisar menanyakan kepada Sunan Gunung Jati,
”Kapankah putri kami ini melahirkan?” Dijawab oleh Sunan Gunung Jati, ”Insya Allah, beberapa bulan lagi”. Dengan jawaban Sunan Gunung Jati itu, Kaisar sangat gembira karena tipuannya berhasil dan apa yang dikatakan rakyatnya, bahwa Sunan Gunung Jati itu sakti ternyata tidak benar.
Sambil mengejek, Kaisar mengatakan kepada Sunan Gunung Jati, sesungguhnya putrinya itu tidaklah mengandung dan untuk membuktikannya Kaisar membuka ikatan bokor kuningan pada perut putri Nio Ong Tien. Tetapi betapa kagetnya Sang Kaisar, dengan kehendak Allah Swt, sirnahing goro wujuding nyata, bokor kuningan yang terkandung di perut putrinya menjadi hilang tanpa krana dan putri Nio Ong Tien benar-benar mengandung.
Melihat kenyataan itu, Kaisar menjadi malu dan bingung. Ia hendak minta tolong kepada Sunan Gunung Jati supaya putrinya kembali seperti sediakala, rasanya tidak suka. Akhirnya dengan kemarahannya, Kaisar mengusir Sunan Gunung Jati dari negeri Tartar. Adapun untuk menghilangkan kandungan putri Nio Ong Tien, Kaisar memanggil kakek gurunya yang bernama Sam Po Taizin. Namun kandungan putri tetap tidak pernah hilang.
Kisah di atas berlanjut pada kisah pernikahan putri Ong Tien dengan Sunan Gunung Jati. Kisah pernikahan ini hanya ada
127
Kisah, Azimat, Ramalan dan Kekuatan Gaib –– G
pada Sejarah Cirebon dan Babad Tanah Sunda yang kemudian berkembang di masyarakat---merupakan lanjutan dari cerita di atas---sebagai berikut.
Suatu hari di daerah Kajene, ketika Sunan Gunung Jati sedang mengajarkan agama Islam kepada Ki Gede Luragung dan para gegeden lainnya, tiba-tiba di daerah tersebut kedatangan rombongan tamu agung dari negeri Cina yang mengiring seorang putri cantik yang sedang hamil tua bernama Nio Ong Tien, putri Kaisar negeri Tartar. Kedatangannya di daerah Kajene bermaksud menemui Sunan Gunung Jati.
Kepada Sunan Gunung Jati, putri Nio Ong Tien meminta belas kasihan agar bokor kuningan yang terkandung dan sudah menjadi kandungan di perutnya itu supaya dilepaskan. Juga ia mengatakan, kedatangannya di tanah Jawa ini karena merindukan Sunan Gunung Jati dan dirinya tidak akan kembali lagi ke negeri Cina melainkan akan menetap di pedukuhan Cirebon.
Sunan Gunung Jati dengan putri Nio Ong Tien sudah saling mencintai semenjak pertemuannya di negeri Tartar. Maka dengan kedatangan putri Nio Ong Tien di hadapannya yang bermaksud minta belas kasihan, Sunan Gunung Jati segera memohon kepada Allah Swt. Selanjutnya Sunan Gunung Jati mengusap perut Putri Nio Ong Tien yang didahului membaca dua kalimat syahadat, akhirnya bokor kuningan yang melekat di badan putri Nio Ong Tien terlepas dari kandungannya dan dengan sendirinya kandungannya kempes. Akan tetapi bokor kuningan yang terkandung di perut Nio Ong Tien berubah menjadi seorang bayi laki-laki berparas elok kemilau kekuning-kuningan yang sorotan matanya memancar tajam, kelak bayi tersebut setelah dewasa menjadi seorang pemimpin di daerah Kejene.
Melihat hal itu, Ki Gede Luragung meminta kepada Sunan Gunung Jati dan putri Nio Ong Tien supaya bayi yang terjelma dari bokor kuningan itu diberikan pada dirinya, ia berjanji akan merawatnya bagaikan anak sendiri dan mendidiknya dengan ajaran agama Islam. Kemudian bayi itu diberi nama Raden Kemuning dan atas persetujuan Sunan Gunung Jati diberikan kepada Ki Gede Luragung. Selanjutnya Sunan Gunung Jati beriring bersama putri
G Sunan Gunung Jati –– Bag. 4
Nio Ong Tien bertolak ke pedukuhan Cirebon. Di pedukuhan Cirebon itu putri Ong Tien dinikahkan dengan Sunan Gunung Jati dengan upacara sederhana. Setelah putri Nio Ong Tien menjadi istri Sunan Gunung Jati, ia berganti nama dengan gelar Nyi Mas Rara Sumanding.
Cerita di atas mengandung motif---dalam indeks motif Thompson V220; saints (orang suci) sebagai penyebar agama (Islam) yang mengandur unsur cerita yakni suatu perbuatan (ujian ketangkasan) yang dialami oleh Sunan Gunung Jati dalam menyebarkan agama Islam antara lain mewujudkan keinginan Dewi Kawunganten yang mendambakan sebuah danau yang ingin tercipta dalam satu malam, dan sikap yang ditunjukkan oleh Raja Cina yang menguji ketangkasan Sunan Gunung Jati dengan cara menyimpan bokor di dalam badan Putri Ong Tien.
Namun dengan ilmu yang dimilikinya, berbagai ujian ketangkasan di atas dapat dilalui dengan mulus oleh Sunan Gunung Jati. Dalam motif-indeks Thompson, cerita ini dapat dikategorikan ke dalam motif H; Tests dan dalam kelompok D; magic dalam kelompok D.1772; magic power from saint (kekuatan gaib dari orang suci). Adapun makna yang terkandung di dalamnya adalah bahwa Sunan Gunung Jati adalah sosok yang dapat mengatasi berbagai masalah dan ujian yang dihadapinya sebagai hasil dari proses pendewasaan diri yang pernah dialaminya.