Asuransi dalam terminologi hukum merupakan suatu perjanjian, oleh karena itu perjanjian itu sendiri perlu dikaji sebagai acuan menuju pada pengertian asuransi. Di samping itu karena acuan pokok perjanjian asuransi tetap pada pengertian dasar dari perjanjian. Secara umum pengertian perjanjian dapat dijabarkan antara lain adalah sebagai berikut:
1. Suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih.
2. Suatu hubungan hukum antara pihak, atas dasar mana pihak yang sau (yang berpiutang atau kreditur) berhak untuk suatu prestasi dari yang lain. (yang berhubungan atau debitur) yang juga berkewajiban melaksanakan dan bertanggung jawab atas suatu prestasi.71
Berdasarkan Pasal 1 KUHD, ketentuan umum perjanjian dalam KUHD Perdata dapat berlaku pula dalam perjanjian asuransi sebagai perjanjian khusus. Dengan demikian, para pihak tunduk pula pada beberapa ketentuan-ketentuan dalam KUH Perdata. Asas-asas yang terdapat dalam hukum perjanjian sebagaimana diatur dalam KUH Perdata perlu diperhatikan, asas-asas termaksud pada umumnya memberikan pengamanan terhadap kepentingan-kepentingan yang
71
berkaitan dengan pemilikan dan kebendaan. Adapun asas-asas yang lahir dari ketentuan KUH Perdata tersebut adalah sebagai berikut :72
1. Asas Konsensual
Asas konsensual merupakan cerminan daripada Pasal 1320 (1) KUH Perdata yang menyatakan di dalamnya syarat sah suatu perjanjian, yaitu :
a. Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya, b. Kecakapan untuk membuat suatu perjanjian, c. Mengenai suatu hal tertentu,
d. Suatu sebab yang halal.
Asas konsensual diambil dari salah satu syarat perjanjian yaitu adanya kesepakatan kedua belah pihak. Orang tidak dapat dipaksa untuk memberikan
sepakatnya. Sepakat yang diberikan dengan paksa adalah Contradictio interminis.
Kesepakatan memberikan pilihan kepada para pihak, untuk setuju atau tidak setuju mengikatkan diri pada perjanjian dengan akibat hukumnya. Selain paksaan, cacatnya kesepakatan dapat terjadi karena kekeliruan, dan kesalahan.
2. Asas Kebebasan Berkontrak
Dapat disimpulkan dari ketentuan Pasal 1338 ayat (1) KUH Perdata yang menyatakan bahwa, “ semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya.”
Menurut Sultan Remy Sjahdeini, dalam hukum perjanjian Indonesia ruang lingkup asas kebebasan berkontrak meliputi :
a. Kebebasan untuk membuat atau tidak membuat perjanjian ;
b. Kebebasan untuk memilih pihak dengan siapa ia ingin membuat perjanjian ;
72
c. Kebebasan untuk menentukan atau memilih isi (causa) dari perjanjian yang dibuatnya ;
d. Kebebasan untuk menentukan objek perjanjian ; e. Kebebasan untuk menentukan bentuk suatu perjanjian ;
f. Kebebasan untuk menerima atau menyimpangi ketentuan undang-undang yang bersifat opsional (aanvullend, optional).73
Sumber dari kebebasan berkontrak adalah kebebasan individu, sehingga titik tolaknya adalah kepentingan individu pula. Dengan demikian dapat dipahami bahwa, kebebasan individu memberikan kepadanya kebebasan untuk berkontrak. Berlakunya asas konsensualisme menurut hukum perjanjian Indonesia memantapkan adanya asas kebebasan berkontrak. Tanpa adanya kata sepakat dari salah satu pihak yang membuat perjanjian, maka perjanjian yang dibuat dapat dibatalkan.
Hukum perjanjian dikuasai oleh “asas konsensualisme”. Ketentuan tersebutmengandung pengertian bahwa kebebasan suatu pihak untuk menentukan isi perjanjian dibatasi oleh sepakat pihak lainnya. Dengan kata lain asas kebebasan berkontrak dibatasi oleh asas konsensualisme. Berdasarkan Pasal 1320 ayat (4) para pihak tidak bebas untuk membuat perjanjian yang menyangkut causa yang dilarang oleh undang-undang, bertentangan dengan kesusilaan atau bertentangan dengan ketertiban umum dengan ancaman batal demi hukum. Pasal 1338 Ayat (3) menentukan bahwa, kebebasan suatu pihak dalam membuat perjanjian tidak dapat diwujudkan sekehendaknya tetapi dibatasi oleh iktikad baiknya.74
73
Ibid., hal. 43.
74
3. Asas Ketentuan Mengikat
Asas ketentuan mengikat dilahirkan dari Pasal 1338 (1) KUH Perdata, apabila dihubungkan dengan perjanjian asuransi berarti bahwa pihak penanggung dan tertanggung atau pemegang polis terikat untuk melaksanakan ketentuan perjanjian yang telah disepakatinya. Sebab, perjanjian yang telah dibuat oleh para pihak memiliki kekuatan mengikat sebagaimna undang-undang yang memiliki akibat hukum apabila tidak diindahkan oleh para pembuat perjanjian, dan hanya berlaku bagi mereka para pihak yang membuatnya.
4. Asas Kepercayaan
Asas kepercayaan ini juga terlahir dari Pasal 1338 (1) KUH Perdata. Asas kepercayaan mengandung arti bahwa, mereka yang mengadakan perjanjian melahirkan kepercayaan di antara kedua belah pihak, bahwa satu sama lain akan memenuhi janjinya untuk melaksanakan prestasi seperti yang diperjanjikan. Ketentuan tersebut berlaku pula bagi perjanjian asuransi, sehingga pemegang polis dan penanggung terikat untuk memenuhi perjanjian yang telah dibuatnya. Asas akepercayaan merupakan modal yang harus dimiliki para pembuat perjanjian ketika mengucapkan kata “sepakat’ dalam membuat sebuah perjanjian.
5. Asas Persamaan Hukum
Asas persamaan hukum adalah bahwa subjek hukum yang
mengadakanperjanjian, mempunyai hak dan kewajiban yang sama dalam hukum, dan tidak dibedak-bedakan satu sama lain. Keberlakuan hukum tidak mengenal kulit, semua sama dimata hukum.
Asas keseimbangan adalah suatu asas yang menghendaki kedua belah pihak memenuhi dan melaksanakan perjanjian. Dalam perjanjian asuransi, hak dan kewajiban tertanggung adalah membayar premi dan menerima pembayaran ganti kerugian, sedangkan hak dan kewajiban penanggung adalah menerima premi
dan memberikan ganti kerugian atas objek yang dipertanggungkan.75
7. Asas Kepastian Hukum
Perjanjian sebagai figur hukum yang mengandung kepastian hukum. Kepastian ini terungkap dari kekuatan mengikatnya perjanjian, yaitu sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya. Selain itu, dalam Pasal 1338 ayat (2) KUH Perdata yang menyatakan bahwa, “perjanjian-perjanjian itu tidak dapat ditarik kembali selain dengan sepakat kedua belah pihak atau karena alasan-alasan yang oleh undang-undang dinyatakan cukup untuk itu”
8. Asas Iktikad Baik
Asas ikitikad baik ini terdapat dalam Pasal 1338 ayat (3) yang dimana keberlakuannya adalah untuk semua perjanjian termasuk perjanjian asuransi yang diartikan pula secara menyeluruh bahwa, dalam pelaksanaan perjanjian tersebut para pihak harus mengindahkan kenalaran dan kepatutan Pasal 1339 KUH Perdata, yaitu:
“suatu perjanjian tidak hanya mengikat untuk hal-hal yang dengan tegas dinyatakan didalamnya, tetapi juga untuk segala sesuatu yang menurut sifat perjanjian, diharuskan oleh kepatutan, kebiasaan atau undang-undang”76
Iktikad baik yang dikehendaki undang-undang ialah objektif. Hal demikian memang sangat tepat. Sebab, apabila ukurannya subjektif, maka akan bersifat
75
Ibid.,hal. 46. 76
R. Tjitrosudibio., Kitab Undamg-Undang Hukum Perdata, PT. Pradnya Paramita, Jakarta, 2009, hal. 342.
relatif. Satu pihak dapat menyatakan dengan iktikad baik, sedangkan pihak lain mungkin menganggapnya sebaliknya.
Dalam pelaksanaanya, terdapat hal-hal yang tidak dapat dipisahkan ataupun terdapat keharusan terhadap hal-hal tersebut untuk ada di dalam bagian pelaksanaan asuransi. Adapun bagian-bagian terpenting yang harus diketahui dan dipahami oleh masyarakat umum dan secara khusus bagi pengguna asuransi adalah :
1. Risiko
Risiko adalah segala hal yang bisa terjadi pada diri manusia yang tidak diinginkan untuk terjadi. Setiap manusia memiliki risiko atas apa pun yang dia lakukan. Risiko yang dilindungi dengan asuransi lebih banyak merupakan risiko yang dapat dinilai dengan uang atau disebut risiko materiil. Meskipun demikian, risiko immateriil dapat dilindungi dengan asuransi, tetapi kerugian tidak dapat diukur dengan finansial (dinilai dengan uang). Risiko demikian biasanya terdapat pada asuransi sejumlah uang. Oleh karena itu, dalam asuransi sejumlah uang (asuransi jiwa, asuransi kesehatan, asuransi pendidikan, dan sebagainya) yang lebih menonjol manfaatnya adalah sebagai investasi (menyimpan dana). Dengan demikian, risiko pada asuransi kerugian (misal kebakaran, kehilangan mobil, kecurian, kebongkaran, kerusakan, dan lain-lain) adalah “ketidakpastian akan terjadinya suatu peristiwa yang dapat menimbulkan kerugian ekonomis”.77
Secara umum, jenis-jenis risiko yang dikenal dalam perasuransian antara lain:
77
a. Risiko Umum; berarti ada ketidakpastian terjadinya suatu kerugian atau hanya ada peluang merugi dan bukan suatu peluang keuntungan dengan kata lain, risiko murni adalah suatu yang terjadi tidak juga memberikan keuntungan. b. Risiko Spekulatif atau Speculative Risk;adalah risiko yang berkaitan dengan
terjadinya dua kemungkinan, antara lain peluang mengalami kerugian finansial dan peluang memperoleh keuntungan.
c. Risiko Individu atau Risiko Pribadi; adlah risiko yang mempengaruhi kapasitas atau kemampuan seseorang memperoleh keuntungan yang dapat disebabkan mati muda, uzur, cacat fisik, dan kehilangan pekerjaan.
d. Risiko Harta; adalah terjadi kerugian keuangan apabila kita memiliki suatu benda atau harta, di mana adanyan peluang harta tersebut hilang, dicuri, atau rusak. Hilangnya suatu harta berarti suatu kerugian finansial.
e. Risiko Tanggung Gugat; adalah risiko yang mungkin kita alami atau derita sebagai tanggung jawab akibat kerugian atau lukanya pihak lain.78
Pada sebuah perusahaan risiko melekat pada setiap aktivitas kegiatan usaha. Untuk itu, pengelolan keuangan yang benar menjadi prinsip yang harus dilaksanakan, perusahaan haruslah memiliki apa yang disebut dengan manajemen risiko. Manajemen risiko adalah proses pengelolaan risiko yang mencakup identifikasi, evaluasi, dan pengendalian risiko yang dapat mengancam kelangsungan usaha atau suatu aktivitas. Menghilangkan risiko berarti menghapuskan semua kemungkinan terjadinya kerugian misalnya dalam mengendarai mobil di musim hujan, kecepatan kendaraan dibatasi maksimum 60 km/jam. Menimalisasi risiko dilakukan dengan upaya-upaya untuk meminimumkan kerugian misalnya dalam produksi, peluang terjadinya produk gagal dapat dikurangi dengan pengawasan mutu (quality control). Sedangkan pengalihan/transfer risiko dapat dilakukan dengan memindahkan kerugian/risiko yang mungkin terjadi kepada pihak lain, misalnya perusahaan asuransi.79
Tidak semua risiko dapat diasuransikan, risiko-risiko yang dapat diasuransikan adalah: risiko yang dapat diukur dengan uang, risiko homogen
78
Ibid., hal. 10. 79
(risiko yang sama dan cukup banyak dijamin oleh asuransi), risiko murni (risiko ini tidak mendatangkan keuntungan), risiko partikular (risiko dari sumber individu), risiko yang terjadi secara tiba-tiba (accidental)¸insurable interest (tertanggung memiliki kepentingan atas objek pertanggungan) dan risiko yang
tidak bertentangan dengan hukum.80
2) Klaim
Klaim merupakan tuntutan dari pihak tertanggung sehubungan dengan adanya kontrak perjanjian antara asuransi dengan pihak tertanggung yang masing-masing pihak mengikatkan diri untuk menjamin pembayaran ganti rugi oleh penanggung jika pembayaran premi asuransi telah dilakukan oleh pihak tertanggung, ketika terjadi musibah yang diderita oleh pihak tertanggung.81
Klaim diajukan oleh pihak tertanggung atas dasar kerugian atau musibah yang menimpanya, yang sebelumnya bentuk-bentuk kerugian yang dapat ditanggung sudah diperjanjikan terlebih dahulu oleh pihak tertanggung dan penanggung. Ketika pengajuan klaim itu diserahkan kepada pihak penanggung, tidak serta merta pihak penanggung langsung memenuhinya. Ada tahap-tahap dalam pemenuhan pengajuan klaim tersebut, yang mana pihak penanggung harus melihat kerugian yang diderita tertanggung dan besar premi yang dibayar tertanggung. Sehingga tidak ada yang merasa dirugikan dalam hal tersebut.
Pada pengajuan klaim ganti kerugian perusahaan asuransi biasanya
menggunakan sistem penggantian (reimbursement), cash plan atauprovider.
Apabila menggunakan dengan sistem reimbursement, nasabah harus membayar
80
Ibid. 81
http://www.akademiasuransi.org/2012/11/pengertian-dan-tahapan-klaim.html, dikutip pada tanggal 14 Juni 2014, pukul 19:16 WIB.
seluruh biaya perawatan terlebih dahulu, baru kemudian diganti oleh pihak asuransi. Sedangkan dalam sistem cash plan, nasabah akan menerima biaya perawatan perhari dalam jumlah pasti, dan sistem provider tertanggung tidak mengeluarkan uang sepeser pun, tertanggung hanya akan dibekali kartu keanggotaan guna mendapatkan pelayanan medis yang dibutuhkan, tentunya di rumah sakit atau klinik yang telah dipilih sebelumnya.82
3) Polis
Menurut ketentuan Pasal 255 KUHD, perjanjian asuransi harus dibuat secara tertulis dalam bentuk akta yang disebut polis. Selanjutnya, Pasal 19 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 73 Tahun 1992 menentukan, polis atau bentuk perjanjian asuransi dengan nama apa pun, berikut lampiran yang merupakan satu kesatuan dengannya, tidak boleh mengandung kata, kata-kata atau kalimat yang dapat menimbulkan penafsiran yang berbeda mengenai risiko yang ditutup asuransinya, kewajiban penanggung dan kewajiban tertanggung, atau mempersulit tertanggung mengurus haknya.83
Berdasarkan ketentuan 2 (dua) pasal tersebut di atas, maka dapat dipahami bahwa polis berfungsi sebagai alat bukti tertulis yang menyatakan bahwa telah terjadi perjanjian asuransi antara tertanggung dan penanggung. Polis juga memuat kesepakatan mengenai syarat-syarat khusus dan janji-janji khusus yang menjadi dasar pemenuhan hak dan kewajiban untuk mencapai tujuan asuransi. Jadi, polis asuransi itu merupakan kontrak perjanjian bahwa perusahaan asuransi akan menanggung sejumlah kerugian pada masa mendatang yang mungkin timbul pada nasabah asuransi.
82
Tuti Rastuti, Op.Cit., hal. 26.
83
Polis sangat penting bagi pihak nasabah maupun pihak perusahaan asuransi, karena di dalam polis tersebut tercantum perjanjian yang mereka kehendaki yang merupakan undang-undang bagi mereka pelaksana asuransi. adapun fungsi lain dari polis adalah :
a. Sebagai bukti tertulis bagi kedua belah (tertanggung dan penanggung dalam perjanjian yang sudah disepakati
b. Bagi nasabah, adanya polis berarti adanya jaminan penggantian kerugian dari pihak asuransi jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan seperti tertera dalam polis. Sedang bagi perusahaan asuransi, polis berarti bukti tanda terima premi dari nasabah.
c. Bagi nasabah, adanya polis berarti bukti pembayaran premi kepada asuransi. Dengan polis itu juga, nasabah bisa menuntut pihak asuransi jika tidak memenuhi kewajiban seperti kesepakatan dalam polis asuransi.84
Adapun isi dalam sebuah polis tersebut adalah : a. Syarat khusus dan janji khusus
b. Hari dan tanggal pembuatan asuransi
c. Nama tertanggung untuk diri sendiri atau pihak ketiga d. Uraian mengenai objek asuransi
e. Jumlah yang diasuransikan
f. Bahaya (evenemen) yang ditanggung g. Saat bahaya mulai berjalan dan berakhir h. Premi Asuransi
i. Semua keadaan dan syarat-syarata khusus
Sebelum memutuskan membeli sebuah polis asuransi, pihak tertanggung harus ketahui terlebih dulu manfaat serta detail dari produk asuransi itu. Begitupun ketika polis sudah diterbitkan, pihak tertanggung harus membaca secara cermat poin-poinnya. Terutama pada bagian-bagian berikut ini :
a. Hak dan kewajiban nasabah serta pihak asuransi.
Pada bagian ini, pihak tertanggung harus cermati hak dan kewajiban seperti yang sudah disepakati. Jika tidak, pihak tersebut bisa minta perusahaan asuransi mengubahnya.
b. Perhatikan premi
Dalam polis juga disebutkan premi yang harus dibayarkan. Pastikan sistem pembayaran premi tersebut seperti yang sebelumnya dijanjikan oleh agen asuransi.
84
http://www.dompetpintar.com/article/r1l7/penjelasan-lengkap-mengenai-polis-asuransi, dikutip pada tanggal 18 July 2014, pukul 17:05 WIB.
c. Manfaat asuransi
Pada polis asuransi tersebut disebutkan secara jelas apa saja manfaat yang bisa diterima pihak tertanggung. Perlu dipelajari secara cermat untuk memastikan manfaat yang sesuai dengan apa yang sudah mereka janjikan.
d. Lihat pengecualian
Pihak tertanggung perlu juga memahami apa saja hal pengecualian yang membuat manfaat asuransi tidak bisa dinikmati.85
Menurut ketentuan Pasal 259 KUHD, apabila asuransi diadakan langsung antara tertanggung dan penanggung, maka polis harus ditandatangani dan diserahkan oleh penanggung dalam tempo 24 jam setelah permintaan, kecuali apabila karena ketentuan undang-undang ditentukan tenggang waktu yang lebih lama. Berdasarkasn ketentuan ini, maka pembuat polis adalah penanggung atas permintaan tertanggung. Penanggung menandatangani polis tersebut, setelah itu segera diserahkan kepada tertanggung. Pembuatan polis oleh penanggung sesuai dengan fungsi polis sebagai bukti tertulis bagi kepentingan tertanggung.86
Dalam praktik asuransi, penanggung adalah pengusaha yang mencari keuntungan dengan cara mengambil alih risiko dari tertanggung dan menerima sejumlah premi sebagai imbalannya. Untuk itu, penanggung membuat polis yang bentuk dan isinya sudah dibakukan (standart poliscy) serta dicetak. Dalam polis dimuat syarat-syarat khusus dan janji-janji khusus tertentu. Kemudian, polis tersebut disodorkan kepada tertanggung yang berminat mengadakan asuransi agar diteliti dan dipahami isinya. Apabila tertanggung setuju, penanggung akan menyelesaikan dan menandatangani polis kemudian diserahkan kepada tertanggung . Akan tetapi, apabila tertanggung tidak setuju, dia tidak perlu mengadakan asuransi dengan penanggung. Dalam praktik hukum kontrak bisnis, asas ini disebut dengan take it or leave it.
85 Ibid. 86
Menurut ketentuan Pasal 260 KUHD, apabila asuransi diadakan dengan perantaran pialang asuransi, maka polis yang sudah ditandatangani penanggung harus diserahkan dalam waktu 8 (delapan) hari setelah dibuat perjanjian asuransi. berdasarkan ketentuan pasal ini, jangka waktu 8 (delapan) hari dihitung sejak polis ditandatangani penanggun penanggung. Mungkin saja polis baru ditandatangani oleh penanggung beberapa hari setelah terjadi kesepakatan asuransi, dalam beberapa hari yang masih tersisa itu, pialang harus sudah menyerahkan polis kepada tertanggung.
Bagaimana akibat hukumnya jika penyerahan polis kepada tertanggung itu terlambat? Menurut ketentuan Pasal 261 KUHD, apabila ada kelalaian penyerahan polis dalam tenggang waktu yang telah ditentukan, maka penanggung atau pialang untuk kepentingan tertanggung wajib mengganti kerugian yang mungkin timbul dari kelalaian tersebut. Ketentuan bergantung juga pada praktik pelaksanaan Pasal 259 dan Pasal 260 KUHD. Artinya, apabila dalam pratiknya, ketentuan waktu dalam kedua pasal itu tidak diikuti, dan yang diikuti adalah ketentuan waktu yang diperjanjikan, maka ganti kerugian yang mungkin timbul itu pun bergantung juga pada ketentuan waktu yang diperjanjikan.87
4)Premi
Dalam Pasal 246 KUHD terdapat rumusan :
“Dengan mana penanggung mengikatkan diri kepada tertanggung dengan menerima premi”
Premi adalah salah satu unsur penting dalam asuransi karena merupakan kewajiban utama yang wajib dipenuhi oleh tertanggung kepada penanggung. Dalam hubungan hukum asuransi, penanggung menerima pengalihan risiko dari
tertanggung dan tertanggung membayar sejumlah premi sebagai imbalannya. Apabila tidakdibayar dibayar, asuransi dapat dibatalkan atau setidak-tidaknya asuransi tidak berjalan. Premi harus dibayar lebih dahulu oleh tertanggung karena tertanggunglah pihak yang berkepentingan. 88
Sebagai perjanjian timbal balik, asuransi bersifat konsensual, artinya sejak terjadi kesepakatan timbullah kewajiban dan hak kedua belah pihak. Akan tetapi, asuransi baru berjalan jika kewajiban tertanggung membayar premi telah dipenuhi. Dengan kata lain, risiko atas benda beralih kepada penanggung sejak premi dibayar oleh tertanggung. Oleh karena itu, dapat dipahami ada atau tidaknya asuransi ditentukan oleh pembayaran premi. Premi merupakan kunci perjanjian asuransi.
Pada asuransi yang diadakan untuk jangka waktu tertentu, premi dibayar lebih dahulu pada saat asuransi diadakan. Pada asuransi yang diadakan untuk 1 (satu) perjalanan, premi dapat dibayar pada saat bahaya sudah mulai berjalan, misalnya pada Kapal yang sudah berangkat (Pasal 603 KUHD). Akan tetapi, ada asuransi yang diadakan untuk jangka waktu panjang, misalnya asuransi jiwa pembayaran premi dapat dilakukan secara periodik, yaitu setiap awal bulan. Pada asuransi yang demikian ini, jika pada suatu periode tertentu premi belum dibayar, asuransi berhenti. Setelah premi periode yang tertunggak itu dibayar, asuransi berjalan lagi. Jika premi tidak dibayar, mengakibatkan asuransi itu batal.89
Untuk mencegah terjadi pembatalan asuransi karena premi tidak dibayar biasanya pihak-pihak mencantumkan klausula dalam polis yang menyatakan: “Premi harus dibayar di muka (pada waktu yang telah ditentukan)”. Jika premi
88Ibid., hal .103. 89Ibid., hal. 104.
tidak dibayar pada waktu yang telah ditentukan, maka asuransi tidak akan berjalan. Jika terjadi peristiwa yang menimbulkan, penanggung tidak berkewajiban membayar klaim tertanggung.
Dari uraian di atas, maka dapat dipahami bahwa premi asuransi merupakan syarat mutalak untuk menentukan perjanjian asuransi dilaksanakan atau tidak. Kriteria premi asuransi adalah sebagai berikut :
a. dalam bentuk sejumlah uang;
b. dibayar lebih dahulu oleh tertanggung; c. sebagai imbalan pengalihan risiko;
d. dihitung berdasarkan presentase terhadap nilai risiko yang dialihkan.90
Penetapan tingkat premi asuransi harus didasarkan pada perhitungan analisis risiko yang sehat. Besarnya jumlah premi yang harus dibayar oleh tertanggung ditentukan berdasarkan penilaian risiko yang dipikul oleh penanggung. Dalam praktiknya penetapan besarnya jumlah premi itu diperjanjikan oleh tertanggung dan penanngung secara layak dan dicantumkan dalam polis. Besarnya jumlah premi dihitung sedemikian rupa, sehingga dengan penerimaan premi dari beberapa tertanggung, penanggung berkemampuan membayar klaim ganti kerugian kepada tertanggung yang terkena peristiwa yang menimbulkan kerugian.
Menurut ketentuan Pasal 20 Peraturan Pemerintah Nomor 73 Tahun 1992, premi harus ditetapkan pada tingkat yang mencukupi, tidak berlebihan, dan tidak ditetapkan secara diskriminatif. Tidak mencukupi yang dimaksud adalah premi yang ditetapkan sedemikian rendah sehingga sangat tidak sebanding dengan manfaat yang diperjanjikan dan juga akan membahayakan tingkat solvabilitas perusahaan. Sementara itu, tingkat premi dinilai berlebihan apabila sedemikian
90 Ibid.
tinggi, sehingga sangat tidak sebanding dengan manfaat yang diperjanjikan dalam polis asuransi yang bersangkutan. Penerapan tingkat premi dinilai bersifat diskriminatif apabila tertanggung dengan luas pengadaan yang sama serta dengan jenis dan tingkat risiko yang sama dikenakan tingkat premi yang berbeda.