BAB II ASAS HUKUM ACARA PERDATA DAN ULTRA PETITA DALAM
D. Asas Hakim Aktif dan Pasif dalam Hukum Acara Perdata
Secara normatif, ketentuan H.I,R, RBg, maupun R.v tidak menyebutkan secara eksplisit istilah asas hakim aktif dan hakim pasif. Dalam berbagai literatur hukum, kedua asas ini juga tidak di definisikan secara pasti dan sistematis. Beberapa asarjana hukum mengartikan asas hakim pasif adalah hakim bersikap menunggu datangnya perkara yang diajukan oleh para pihak.42
Sudikno Mertokusumo adalah salah seorang jurist yang mengakui eksistensi prinsip hakim aktif dan hakim pasif, dan secara konsisten menggunakan kedua istilah tersebut dalam referensi-referensinya. Beliau mengemukakan teorinya bahwa asas hakim pasif tidak tidak berkaitan dengan kepasifan total atau
41 Modul Hukum Perdata Materiil Badan Diklat Kejaksaan. Lihat http://badiklat.kejaksaan.go.id/e-akademik/uploads/modul/b28f1a50d34f26a2982e5d09966800cd.pdf, diakses pada tanggal 18 Oktober 2020, pukul 21.25 WIB, h. 30.
42 A.T Hamid, 1986, Hukum Acara Perdata serta Susunan dan Kekuasaan Pengadilan, Bina Ilmu, Surabaya. hlm. 6
absolut dari hakim dalam memeriksa dan memutus perkara bagi para pihak, tetapi berkaitan dengan ruang lingkup arau luas pokok sengketa yang pasa asas nya ditentukan oleh para pihak yang berperkara dan bukan hakim.43
Sedangkan asas hakim aktif adalah asas yang harus ditegakkan oleh hakim dalam memeriksa dan memutus perkara perdata, karena hakim adalah pimpinan sidang yang harus berusaha menyelesaikan sengketa seefektifan dengan seadilnya mungkin serta mengatasi segala hambatan dan rintangan bagi para pencari keadilan dalam menjalankan peradilan yang fair. Pengejawatahan asas hakim aktif ini tercermin dalam beberapa ketentuan H.I.R. oleh karena itu, sistem H.I.R. dianggap menerapkan asas hakim aktif.
Sistem H.I.R. ini tentu berbeda dengan sistem R.v. secara tegas menganut asas hakim pasif. Peran hakim dalam persidangan menurut R.v. sangat terbatas. Akan tetapi, R.v. pada saat ini dianggap hanya sebagai pedoman belaka karena sudah tidak berlaku sebagaimana mestinya.
1. Pemahaman para praktisi mengenai asas hakim aktif dan pasif
Beberapa praktisi dan akademisi berpendapat bahwa ini keberadaan asas hakim pasif dan aktif tidaklah esensial. Pertanyaan mengenai asas mana yang lebih penting dalam hukum acara perdata tidak lagi menjadi persoalan.44 Secara normatif maupun empiris, kedua asas tersebut sama-sama diterapkan oleh hakim dalam menyelesaikan perkara perdata di pengadilan. Meskipun demikian, bukan berarti hubungan kedua asas tersebut komplementer: kedua duanya sama-sama fundamental karena memiliki fungsinya masing-masing.
Fungsi yang berada ini muncul karena hukum perdata sebagai hukum privat mengatur kepentingan antara induvidu mempunyai batasan yang sifat nya perseorangan (individual). Persoalan baru muncul ketika pihak yang mrasa dirugikan ingin kepentingan dan hak hukumnya terjamin. Oleh karena
43 Sudikno Mertokusumo, Op, Cit., hlm. 12-13
44 Focused Group Discussion (FGD) di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 11 September 2009.
itu, sangat logis jika hakim mencerminkan sikap pasif, baik pada saat menunggu datangnya perkara yang diajukan padanya maupun bersikap pasif dalam hal ini menentukan batasan tentang perkaranya (ruang lingkup perkara).45 Hanya pihak pencari keadilan (penggugat dalam gugatanya dan tergugat dalam jawabanya) yang mengetahui tujuan yang ingin mereka capai dalam penyelesaian perkara mereka.
Sejak perkara diserahkan kepada hakim sebagai pemutus perkara, maka hakim yang menjunjung nilai impartiality (ketidak berpihakan) dan kebijaksanaan sebagai seorang ahli dalam penyelesaian sengketa hukum, harus memastikan agar para pencari keadilan mampu menyelesaikan sengketa secara efektif dan mengakomodir lebih banyak hasrat keadilan bagi keduanya (audi et alteram partem). Disinilah hakim harus bersikap aktif. Jika para pihak sudah menyerahkan sengketa mereka pada hakim, mereka seharusnya menyadari bahwa hakim adalah orang yang paham hukum (ius curia novit) dan ia telah percaya untuk memutuskan sengketa antara keduanya.
2. Alasan masih Berlakunya Asas Hakim Pasif dalam Pemeriksaan Perkara Perdata di Pengadilan
Ada saat nya hakim wajib bersifat pasif, seperti telah di uraikan sebelumnya. Sebagaimana dijelaskan oleh L.J. vanApeldoorn,46alasan-alasan masih ditegakanya asas hakim pasif yang mengiringi kebenaran hakim pasif dalam hukum acara perdata adalah sebagai berikut:
a) Inisiatif untuk mengajukan perkara perdata selalu dilakukan oleh pihak yang berkepentingan dan tidak pernah dilakukan oleh hakim. Hal ini merupakan hal yang rasional, karena hukum acara perdata mengatur cara mempertahankan kepentingan partikelir dan hanya para pihaklah yang
45 Garda Siswadi dan Kunthoro Basuki, dalam focused group discusion (FGD), Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 11 September 2009
46
mengetahui apakah mereka menghendaki agar kepentingan khusus mereka perlu untuk dipertahankan atau tidak;
b) Sebelum hakim memberikan putusan –baik karena kesepakatan untuk menempuh jalan perdamaian (Pasal 130 H.I.R.) maupun alasana pencabutan gugatan lainya (Pasal 227 R.v.) – para pihak mempunyai kuasa untuk menghentikan acara yang telah mereka mulai;
c) Luas pertikaian yang diajukan kepada hakim bergantung para pihak. Dengan perkataan lain, hakim wajib menentukan apakah hal-hal yang diajukan dan dibuktikan oleh para pihak itu relevan dengan tuntutan mereka;
d) Jika para pihak seia sekata mengenai hal-hal tertentu dengan satu pihak mengakui kebenaran hal-hal yang diajukan oleh pihak yang lain, maka hakim tidak perlumenyelidiki lebih lanjut apakah hal-hal yang diajukan itu sungguh-sungguh benar. Ia harus menerima apa yang diterapkan oleh para pihak. Hal ini merupakan suatu hal pembeda antara hukum acara pidana. Dalam acara pidana, hakim tidak dapat begitu saja menerima kebenaran pengakuan terdakwa dan juga tidak boleh memberi putusan hanya berdasarkan pengakuan terdakwa yang tidak dikuatkan oleh hal-hal lain. Ini menginformasikan bahwa hukum acara perdata, hakim sangat terkait kepada alat-alat bukti yang diajukan oleh para pihak, sedangkan dalam hukum acara pidana, alat bukti saja tidak cukup namun juga harus dikuatkan dengan keyakinan hakim (beyond reasonable doubt);
e) Hakim perdata tidak boleh melakukan pemeriksaan atas kebenaran sumpah decisoir (sumpah yang memutus dan menentukan) yang telah dilakukan oleh salah satu pihak dengan maksud menggantungkan putusan pada sumpah tersebut. Jika sumpah itu telah dilakukan, maka hakim dalam sengketa perdata tidak boleh memeriksa apakah sumppah itu palsu atau tidak. Ia harus menerima hal-hal yang dilakukan atas sumpah sebagai sesuatu yang nyata.
3. Arti penting penerapan asas hakim aktif secara intensif dalam pemeriksaan perkara perdata.
Dalam penyelesaian perkara perdata di pengadilan, para pihak secara peraktis telah mempercayakan perkara mereka kepada hakim untuk diadili dan diberi putusan yang seadil-adilnya. Inilah alasan mengapa hakim haris bersikap aktif. Hakim bukan sekedar corong undang-undang (Ia boeche de la loi) yang hanya menerapkan peraturan hukum, melaikan pejabat negara yang tinggi pengetahuan, martabat, serta wibawanya dan menjadi tempat mengadu bagi para pencari keadilan (justitiabellen).
Teori klasik menyatakan bahwa acara perdata hanya mencari kebenaran formal (Formelewaarheid), sementara acara pidana mencari kebenaran material (Materielewaarheid), padahal dalam kenyataannya, teori ini tidak sepenuhnya benar. M. Yahya Harahap.47 Berusaha menjelaskan relevansi teori kebenaran formal ini dengan kenyataannya di lapangan (Law in practice). Menurut beliau, kebenaran formal yang dimaksud dalam hukum acara perdata ini muncul dikarenakan para pihak yang berperkaralah yan memikul beban pembuktian (burden of proof) mengenai kebenaran yang seutuhnya untuk diajukan di depan persidangan. Namun setelah hakim dalam persidangan menampung dan menerima segala kebenaran yang diajukan oleh para pihak tersebut, maka tugas hakim adalah menetapkan kebenaran tersebut berdasarkan pembuktian yang telah dilakukan dengan berlandaskan pada hukum yang berlaku (baik dalam arti sempit maupun luas) serta kesadaran dan cita hukum yang ia anut. Oleh karena itu, pengertian kebenaran formal jangan sampai ditafsirkan dan dimanipulasi sebagai bentuk kebenaran yang setengah-setengah atau kebenaran yang tak sungguh-sungguh. Tidak ada larangan bagi hakim perdata untuk mencari dan menemukan kebenaran hakiki (kebenaran
47
material).48 Namun apabila kebenaran hakiki tersebut tidak ditemukan dalam proses persidangan, hukum tetap membenarkan apabila hakim menemukan dan mengambil putusan berdasarkan kebenaran formal.
L.J.van Apeldoorn sendiri menjelaskan bahwa hakim perkara perdata tidak mengadakan penyelidikan terhadap kebenaran hal-hal yang diakui oleh para pihak dan terhadap kebenaran sumpah yang dilakukan dikarenakan hal tersebut merupakan akibat dari hakikat bahwa para pihak bebas dalam menentukan hak-hak khususnya. Jika para pihak sendiri tidak menghendaki pemeriksaan, hakim tudak perlu melakukannya. Namun jika mereka tidak sepakat tentang suatu hal dan menghendaki pemeriksaan, maka hakim perdata tentu harus mencari kebenaran material, misalnya hakim tidak akan menerima begitu saja semua hal yang dinyatakan oleh para saksi, tetapi sebanyak mungkin memeriksa hingga mana para saksi tersebut dapat dipercayai (pasal 1945 B.W.).49
Keaktifan hakim juga dituntut karena dalam H.I.R. yang dianut sekarang ini para pihak diberi kebebasan untuk beracara sendiri tanpa hatu mewakilkan pada pihak lain yang diberi kuasa khusus untuk itu. Hal ini berbeda dengan R.v. yang tegas-tegas menyatakan bahwa beraktivitas beracara di pengadilan perdata harus diwakilkan, hal yang dipertegas kembali dalam pasal 186 Reglement op de Rechterlijke Organistatie en het Beleid der justitie (R.O.) yang menyebutkan bahwa yang berhak mewakili hanyalah seorang Sarjana Hukum (verplichteprocureurstelling). Beberapa hakim termasuk hakim pengadilan agama melihat ketimpangan yang luar biasa ketika salah satu pihak yang berperkara diwakili oleh seorang advokat yang tangguh sementara pihak lain tidak.50 Selain itu, tentu saja banyak masyarakat
48 Komari, dalam Focused group discussion (FGD), Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 11 September 2009.
49 L.J. van Apledoorn, Op. Cit., hlm. 250-251.
50 Deddy Supriyadi dalam Focussed Group Discussion (FGD), Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 11 September 2009.
awam yang tidak memahami prosedur beracara di pengadilan sehingga seringkali mereka sama sekali buta hukum dan mengalami kesulitan yang luarbiasa, baik dalam mengupayakan gugatannya dikabulkan maupun dalam membela diri dari serangan penggugat. Keadaan seperti ini tentu saja menuntut keaktifan seorang hakim yang menjunjung nilai imparialitas untuk memastikan setiap pihak yang beracara memperoleh hak dan kewajiban yang sama (audi et alteram partem) dalam rangka mencapai keadilan melalui jalur pengadilan. Hal ini sudah merupakan amanat dari pasal 5 (1) UU 4/2004 yang menyatakan bahwa pengadilan mengadili menurut hukum dengan tidak membeda-bedakan orang. Sedangkan ayat (2) menyatakan bahwa pengadilan membantu pencari keadilan dan berusaha mengatasi segala hambatan dan rintangan untuk dapat dipercayainya peradilan yang sederhana, cepat dan biaya ringan.51
Kontradiksi antara asas hakim pasif biasayanya dihubungkan dengan persoalan larangan ultra petitum partium, yaitu larangan bagi hakim untuk memutus melebihi dari yang apa dituntut berdasarkan ketentuan pasal 178 (2) dan (3) H.I.R. Namun dalam perkembangannya terdapat yurisprudensi Mahkamah Agung yang menyatakan bahwa hakim dapat mengabulkan lebih dari yang dituntut dalam petitum selama masih sesuai dengan posita.52 Putusan Mahkamah Agung tertanggal 10 November 1971 juga memperbolehkan hakim mengabulkan lebih dari yang dituntut selama sesuai dengan kejadian material dan ada tuntutan subsider yang berupa ex aequo et bono. Di samping itu ditegaskan pula dalam putusan tahun 1971 tersebut bahwa dalam hukum acara yang berlaku di indonesia, baik hukum pidana maupun hukum acara perdata, hakim harus beraifat aktif. Meskipun sistem hukum di indonesia tidak menerpakan secara penuh asas the binding force of
51 Ekuivalen dengan pasal 4 (1-2) UU 48/2009. (Ed)
52 Putusan Mahkamah Agung tertanggal 15 Juli 1975 (425K/Sip/1975) dalam perkara Fa. Indah Enterprice Film, dkk lawan Tjoe Kini Po, dkk dan Ali Susanto alias Lie Kim Tjoan, dkk
preccedents, namun yurisprudensi merupakan salah satu sumber hukum acara positif di Indonesia dan dalam hukum acara dikenal teori tentang terikatnya para pihak pada putusan (gezag van gewijsde) dengan menegakkan prinsip res judicata pro veritatehabiteur. Oleh karena itu, yurisprudensi ini bersifat mengikat selama diyakini kebenarannya dan belum terbukti sebaliknya.
4. Hambatan Penerapan Asas Hakim Aktif dalam Pemeriksaan Perkara Perata Beberapa hambatan dijumpai oleh para praktisi ketika menerapkan prinsip hakim pasif dan aktif dalam rangka mencari kebenaran formal di pemeriksaan perkara perdata di pengadilan. Hambatan itu misalnya tidak adanya keseragaman pendapat dari para hakim tentang bagaimana dan sejauh apa penerapan asas hakim aktif dalam penyelesaian sengketa perdata di pengadilan seluruh Indonesia dapat dilaksanakan. Putusan seorang hakim yang telah berupaya menerapkan secara optimal asas hakim aktif kemungkinan dibatalkan oleh pengadilan yang lebih tinggi maupun oleh Mahkamah Agung. Pembatalan putusan tersebut dapat menyebabkan mentahnya kembali perkara dan sengketa yang telah diputus dengan mempertimbangkan asas kepastian hukum. Keadilan dan kemanfaatan teresebut. Perkara pun akhirnya tidak benar-benar diselesaikan secara efektif, sehingga menghemat terwujudnya proses pengadilan yang sederhana, cepat, dan biaya ringan.
Hambatan lainya berkaitan dengan pasal 119 dan 132 H.I.R. selama ini dalam praktik hakim mengalami kesulitan dalam menentukan sikap antara memberi pertolongan dan bantuan (pasal 119 dan 132 H.I.R.) dengan berpihakan. Sebagai ilustrasi, dalam suatu kasus perceraian di pengadilan Agama, pihak tergugat bermaksud mengajukan gugatan rekonveksi namun ia tidak mengerti bagaimana cara untuk mengajukanya. Menghadapi situasi seperti ini, hakim pengadilan Agama merasa perlu untuk membantu pihak tergugat dalam membuat gugatan rekonveksi. Namun seringkali bantuan
bantuan tersebut malah sampai pada memformulasikan gugatan rekonveksi. Dari ilustrasi tersebut, seakan-akan hakim tidak lagi sekedar memberi nasihat tetapi membantu dengan memihak pihak tergugat.
Mengenai asas hakim pasif ini terdapat beberapa penjelasan dari ahli hukum di Indonesia. Penjelasan pertama menurut Sudikno Mertokusumo dalam bukunya Hukum Acara Perdata Indonesia dituliskan bahwa:53
“Hakim di dalam memeriksa perkara perdata bersikap pasif dalam arti kata bahwa ruang lingkup atau luas pokok sengketa yang diajukan kepada hakim untuk diperiksa pada asasnya ditentukan oleh para pihak yang berperkara dan bukan oleh hakim. Hakim wajib mengadili seluruh gugatan dan dilarang menjatuhkan putusan atas perkara yang tidak dituntut atau mengabulkan lebih dari pada apa yang dituntut (Pasal 178 ayat (2) dan (3) HIR, Pasal 189 ayat (2) dan (3) Rbg.”
Penjelasan kedua mengenai asas hakim pasif yaitu menurut pendapat Lilik Mulyadi dalam bukunya “Hukum Acara Perdata Menurut Teori dan Praktek Peradilan Indonesia dituliskan bahwa:54
“Ruang lingkup gugatan serta kelanjutan pokok perkara ditentukan oleh para pihak sehingga hakim hanya bertitik tolak terhadap peristiwa yang diajukan para pihak (secundum allegat iudicare). Asas hakim pasif juga memberikan batasan kepada hakim untuk dapat mencegah apabila gugatan tersebut dicabut atau para pihak akan melakukan perdamaian (Pasal 130 HIR, Pasal 154 Rbg, Pasal 16 ayat (2) UU No. 4 Tahun 2004). Hakim hanya mengadili luas pokok sengketa yang diajukan para pihak dan dilarang mengabulkan atau menjatuhkan putusan melebihi dari apa yang dituntut (Pasal 178 ayat (2) dan (3) HIR, Pasal 189 ayat (2) dan (3) Rbg.
53 Sudikno Mertokusumo, Hukum Acara Perdata Indonesia, (Yogyakarta: Liberty, 2002), Cet. I Edisi Ke-6, h. 12.
54 Lilik Mulyadi, Hukum Acara Perdata Menurut Teori dan Praktek Peradilan Indonesia, (Jakarta: Djambatan, 2005), Cet ke-3, h. 18.
Berdasarkan penjelasan mengenai asas hakim pasif tersebut maka dapat disimpulkan bahwa penerapan mengenai asas hakim pasif adalah terbatas hanya mengenai pokok perkara yang disengketakan oleh para pihak yang mana hakim tidak boleh bersikap atktif terhadap pokok perkara tersebut seperti memperluas sengketa para pihak atau membuat amar putusan yang melebihi petitum yang diminta oleh penggugat.
Apabila melihat pada pendapat Soepomo dalam bukunya Hukum Acara Perdata Pengadilan Negeri dituliskan bahwa menurut Reglement Indonesia maka diharuskan hakim untuk aktif dari permulaan hingga akhir proses bahkan sebelum dimulai, yaitu pada waktu penggugat mengajukan gugatannya hakim berhak memberi pertolongan kepadanya (Pasal 119 HIR) dan pada saat proses berakhir, hakim juga memimpin eksekusi (Pasal 195 HIR). Hal ini berarti dalam pemeriksaan perkara perdata hakim memegang dua asas sekaligus yang berlawanan yaitu asas hakim pasif dalam hal memeriksa pokok perkara yang diajukan oleh para pihak dan juga asas hakim harus bersifat aktif dalam memimpin jalannya persidangan. Pelaksanaan kedua asas tersebut haruslah diterapkan sesuai dengan porsi dan kompetensinya masing-masing secara benar dan tepat. Sifat aktif seorang hakim menurut sistem Reglement Indonesia terletak misalnya dalam Pasal 132 HIR yang memberi kekuasaan kepada hakim untuk memberi penerangan selayaknya kepada kepada kedua pihak yang berperkara dan untuk memperingatkan mereka tentang upaya-upaya hukum (rechtsmiddelen) dan alat bukti (bewijsmiddelen) yang dapat dipergunakannya agar supaya pemeriksaan perkara dapat berjalan dengan baik dan teratur. Penerangan yang dapat diberikan oleh hakim misalnya mengenai perubahan dalam isi gugatan apabila terdapat kekeliruan agar supaya posita dan petitum dapat lebih jelas sebagaimana mestinya, akan tetapi penerangan yang diberikan oleh hakim ini tidak melewati batas-batas posita gugatan yang menjadi dasar tuntutan
(petitum) penggugat dan bahwa haknya tergugat untuk menjawab/membantah tidak akan terdesak.55
Berbeda dengan hakim perdata bersifat pasif mengenai pokok perkara yang diajukan oleh penggugat, hakim dalam praktek peradilan perdata harus aktif memimpin sidang, melancarkan jalannya persidangan, membantu kedua belah pihak dalam mencari kebenaran.56 Jadi pengertian pasif dalam asas hakim pasif hanyalah berarti bahwa hakim tidak menentukan luas daripada pokok sengketa. Hakim tidak boleh menambah atau menguranginya. Akan tetapi semuanya itu tidak berarti bahwa hakim sama sekali tidak aktif. Selaku pimpinan sidang hakim harus aktif memimpin pemeriksaan perkara dan tidak melupakan pegawai atau sekedar alat dari para pihak yang bersengketa tetapi harus berusaha sekeras-kerasnya mengatasi segala hambatan dan rintangan untuk dapat tercapainya peradilan. Hakim berhak untuk memberikan nasehat kepada kedua belah pihak serta menunjukkan upaya hukum dan memberi keterangan kepada mereka (Pasal 132 HIR, Pasal 156 Rbg). Oleh karenanya maka dikatakan bahwa sistem HIR yang berlaku sebagai salah satu sumber Hukum Acara Perdata di Indonesia adalah aktif. Hal ini berbeda dengan sistem Rv (Reglement Rechtsvordering) yang pada pokoknya mengandung prinsip “hakim pasif”.57
Menurut pendapat seorang ahli Abdul Kadir Muhammad dalam bukunya Hukum Acara Perdata Indonesia dituliskan bahwa hakim mempunyai peranan aktif memimpin acara sidang dari awal sampai akhir pemeriksaan perkara. Hakim berwenang untuk memberikan
55
Soepomo, Hukum Acara Perdata Pengadilan Negeri, (Jakarta: PT. Pradnya Paramita, 1989), cet ke-11, h. 19
56 Sudikno Mertokusumo, Hukum Acara Perdata Indonesia, (Yogyakarta: Liberty, 2002), Cet. I Edisi Ke-6, h. 10.
57 Soepomo, Hukum Acara Perdata Pengadilan Negeri, (Jakarta: PT. Pradnya Paramita, 1989), cet ke-11, h. 21.
petunjuk kepada pihak yang mengajukan gugatannya ke pengadilan (Pasal 119 HIR, Pasal 143 Rbg.).58
Pemeriksaan perkara pada peradilan perdata yang dipimpin oleh hakim mengaharuskan hakim untuk bersifat aktif dalam memimpin jalannya persidangan. Akan tetapi terkait dengan asas hakim pasif pada perkara perdata yang mana hakim hanya terikat dengan ruang lingkup pokok perkara yang diajukan para pihak, maka seorang hakim dalam memimpin jalannya suatu persidangan harus mengetahui secara benar ruang lingkup dari asas hakim pasif tersebut. Hakim dalam melakukan pemeriksaan dalam persidangan haruslah bersifat aktif yang mana hakim memimpin proses perkara dari awal sampai akhirnya menghasilkan suatu putusan. Penentuan mengenau porsi dan kompetensi hakim dalam menjalankan jabatannya sangat penting diketahui dan dilaksanakan oleh seorang hakim supaya tujuan dari hukum melalui peraturan perundang-undangan dapat tercapai.
Dilain pihak hakim juga harus menerapkan asas hakim pasif secara tepat dan benar dalam memberikan amar putusannya terhadap petitum penggugat, hal ini terkait dengan materiil perkara. Hakim dilarang untuk bersifat aktif mengenai pokok perkara yang diajukan oleh Penggugat. Dengan adanya pembagian wilayah atas wewenang hakim dalam memimpin perkara perdata yang mana terhadap proses pemeriksaan di persidangan hakim harus senantiasa bersifat aktif (tidak pasif), sedangkan dalam hal mengadili pokok perkara yang diajukan kepadanya hakim harus senantiasa memegang asas hakim pasif dan tidak diperbolehkan untuk bersifat aktif. Permasalahan lainnya dalam penerapan asas hakim pasif adalah terletak dalam batasannya yang masih sulit untuk ditentukan oleh para hakim dalam memeriksa pokok perkara yang diajukan kepadanya sehingga menimbulkan keragu-raguan dalam membuat amar putusan.
58 Abdulkadir Muhammad, Hukum Acara Perdata Indonesia, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, Cet ke-4, 1990), h. 21.
A. Bentuk Petitum
Bentuk Tunggal
Petitum disebut berbentuk tunggal, apabila deskripsi yang menyebut satu per satu pokok tuntutan, tidak diikuti dengan susunan deskripsi petitum lain yang bersifat alternative atau subsidair. Harus menjadi catatan bahwa bentuk petitum tunggal tidak boleh hanya berbentuk compositor atau ex aequo et bono (mohon keadilan) saja. Tetapi harus dirinci satu per satu, sesuai dengan yang dikehendaki penggugat yang kemudian dikaitkan dengan dalil gugatan. Jika petitum hanya mencantumkan klausul ex aequo et bono saja maka gugatan tidak terpenuhinya syarat formil dan materiil petitum
B. Asas Ultra Petitum
Asas ultra petitum adalah putusan yang mengabulkan hal-hal yang tidak dituntut atau melebihi dari yang dituntut. Asas ini sangat berkaitan dengan asas hakim yang pasif di mana kepasifan hakim dapat dilihat dari dua dimensi, yang pertama, ditinjau dari visi inisiatif datangnya perkara, maka ada atau tidaknya gugatan tergantung para pihak yang berkepentingan yang merasa dan dirasa bahwa haknya dilanggar oleh orang lain.
Ultra petitu adalah hukum formil mengandung pengertian penjatuhan Putusan atas perkara yang tidak dituntut atau mengabulkan lebih dari apa yang dituntut. Ultra petitum sendiri banyak dipelajari di bidang hukum perdata dengan keberadaan keadilan perdata yang lebih tua berdiri sendiri sejak di tetapkan kekuasaan kehakiman di indonesia. Di dalam perkara pengujian