BAB II: PENGATURAN HUKUM DIPLOMATIK TERKAIT
C. Asas, Tujuan, dan Ruang Lingkup Keprotokolan
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2010 tentang Keprotokolan, maka keprotokolan diatur berdasarkan asas:
a. kebangsaan
b. ketertiban dan kepastian hukum
c. keseimbangan, keserasian, dan keselarasan, dan;
d. timbal balik
Adapun penjelasan atas 4 asas diatas adalah:
a. Asas kebangsaan
Asas kebangsaan adalah sebuah asas yang diberlakukan untuk negara pada setiap warga negaranya, yaitu untuk setiap warga negara, terlepas dari keberadaan mereka di luar negeri, perlakuan hukum di negara asalnya tetap berlaku. Dengan asumsi bahwa seseorang melakukan kejahatan atau tindakan pidana di luar negeri, itu akan terus diatur oleh hukum negara asal, karena dalam asas tersebut mempunyai sebuah kekuatan ekstrateritorial.47
Prinsip yang diberikan oleh Asas Kebangsaan ini memiliki sifat yang terbuka namun harus memenuhi persyaratan yang sudah ditetapkan oleh suatu negara tersebut. Maka setiap warga negara yang ingin menetap di negara lain harus bisa menjadi warga negara yang sebelumnya untuk bisa menjaga dan memberikan hukum yang dipergunakan.
Asas Kebangsaan ini memiliki beberapa contoh, misalnya seseorang yang berkewarganegaraan Indonesia ingin mengikuti Pemilu di negara lain untuk bisa
47 Evitasari, pengertian hukum internasional, diakses dari
https://guruakuntansi.co.id/pengertian-hukum-internasional/, pada tanggal 8 Januari 2020, pukul 23.42.
mengikutinya, Namun dengan itu harus bisa diberikan penjelasaan yang rinci untuk bisa mengatakan bahwa seseorang ini akan mengikuti Pemilu di dalam atau diluar negara tersebut. Maka penyelesaian yang tepat untuk penggunaan Asas kebangsaan ini adalah seseorang itu harus ditanya dan harus memilih untuk berkewarganegaraan Indonesia atau dinegara lain, dan harus bisa menyesuaikan diri dengan hukum yang sudah diterapkan oleh suatu negara tersebut. Dengan adanya Asas Kebangsaan ini maka warga negara harus bisa membentuk hukum yang sudah dibentuk kepada aturan yang ditetapkan oleh Presiden.48
Yang dimaksud dengan “kebangsaan” dalam asas keprotokolan adalah keprotokolan harus mencerminkan sifat dan watak bangsa Indonesia yang pluralistik (kebinnekaan) dengan tetap menjaga prinsip negara kesatuan Republik Indonesia.49
Penjelasan kebangsaan dalam hal ini ialah pengaturan dilakukan selaras dengan kedudukannya sebagai lambang kedaulatan meningkatkan jiwa dan semangat kebangsaan. Kebangsaan ini meliputi presean, kunjungan pejabat RI dan tamu asing ke daerah serta penghormatan jenazah dengan menggunakan bendera kebangsaan.50
b. Asas ketertiban dan kepastian umum
Kepastian adalah perihal (keadaan) yang pasti, ketentuan atau ketetapan.
Kepastian hukum merupakan ciri yang tidak dapat dipisahkan dari hukum, terutama untuk norma hukum tertulis. Hukum tanpa nilai kepastian akan kehilangan makna karena tidak lagi dapat dijadikan pedoman perilaku bagi semua
48 Mardhi Andika Luthfi, pengertian asas territorial, kebangsaan, dan kepentingan umum, diakses dari http://mardhiandikaluthfi.com/2012/06/pengertian-asas-teritorial-kebangsaan.html , pada 13 Januari 2020, pukul 18:06
49 Penjelasan Pasal 2 huruf a Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2010
50 Korps Protokoler Mahasiswa Universitas Padjadjaran, loc.cit
33
orang. Ubi jus incertum, ibi jus nullum yang bermakna di mana tiada kepastian hukum, di situ tidak ada hukum.
Kepastian hukum adalah sicherkeit des Rechts selbst yang bermakna kepastian tentang hukum itu sendiri. Ada empat hal yang berhubungan dengan makna kepastian hukum. Pertama, bahwa hukum itu positif, artinya bahwa hukum itu adalah perundang-undangan (gesetzliches Recht). Kedua, bahwa hukum itu didasarkan pada fakta (Tatsachen), bukan suatu rumusan tentang penilaian yang nanti akan dilakukan oleh hakim, seperti “kemauan baik”, “kesopanan”. Ketiga, bahwa fakta itu harus dirumuskan dengan cara yang jelas sehingga menghindari kekeliruan dalam pemaknaan, di samping juga mudah dijalankan. Keempat, hukum positif itu tidak boleh sering diubah-ubah. Berbicara mengenai kepastian, maka seperti dikatakan Radbruch, yang lebih tepat adalah kepastian dari adanya peraturan itu sendiri atau kepastian peraturan (sicherkeit des Rechts).
Ketidakpastian hukum, akan menimbulkan kekacauan dalam kehidupan masyarakat, dan akan saling berbuat sesuka hati serta bertindak main hakim sendiri. Keadaan seperti ini menjadikan kehidupan berada dalam suasana social disorganization atau kekacauan sosial.
Dalam Penjelasan Pasal 3 angka 1 Undang-undang Nomor 28 tahun 1999, yang dimaksud dengan asas kepastian hukum adalah asas dalam negara hukum yang mengutamakan landasan peraturan perundang-undangan, kepatutan, dan keadilan dalam setiap kebijakan Penyelenggara Negara.51
Dalam menjaga kepastian hukum, peran pemerintah dan pengadilan sangat penting. Pemerintah tidak boleh menerbitkan aturan pelaksanaan yang diatur oleh
51 Penjelasan Pasal 3 angka 1 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999
undang-undang atau bertentangan dengan undang-undang. Apabila hal itu terjadi, pengadilan harus menyatakan bahwa peraturan demikian batal demi hukum, artinya tidak pernah ada sehingga akibat yang terjadi karena adanya peraturan itu harus dipulihkan seperti sediakala.
Dalam hal ini yang dimaksud dengan “ketertiban dan kepastian hukum”
dalam asas keprotokolan adalah keprotokolan harus dapat menimbulkan ketertiban dalam masyarakat melalui adanya kepastian hukum.52
c. Asas keseimbangan, keserasian, dan keselarasan
Dalam hal ini yang dimaksud dengan “keseimbangan, keserasian, dan keselarasan” adalah keprotokolan harus mencerminkan keseimbangan, keserasian, dan keselarasan, antara individu dan masyarakat dengan kepentingan bangsa dan Negara.53
d. Asas timbal balik
Dalam hubungan Internasional dikenal asas reciprocity atau asas timbal balik, yaitu adanya hubungan timbal balik dan saling menguntungkan antar negara yang mengadakan hubungan. Contohnya jika seorang kepala negara mengunjungi suatu negara, maka suatu saat kepala negara yang dikunjungi itu harus melakukan kunjungan balasan. Memang hal ini jika tidak dilakukan juga tidak ada sanksi tegas, tetapi lebih kepada perasaan ‘tidak enak hati’ jika tidak melakukan hal yang sama.54
Dalam keprotokolan, yang dimaksud dengan “timbal balik” adalah keprotokolan diberikan setimpal atau balas jasa terhadap keprotokolan dari negara
52 Penjelasan tentang pasal 2 huruf b UU Nomor 9 Tahun 2010 tentang Keprotokolan
53 Penjelasan tentang pasal 2 huruf c UU Nomor 9 Tahun 2010 tentang Keprotokolan
54 Kompasiana, Asas Reciprocity Dalam Kehidupan, diakses dari
https://www.kompasiana.com/noenurlaely/55202e0ba333112745b659db/asas-reciprocity-dalam-kehidupan , pada 19 Januari 2020, pukul 23:19
35
lain.55 Yang berarti perlakuan protokol antar negara itu sendiri bergantung bagaimana negara satu memperlakukan negara lainnya, apabila perlakuannya baik kepada negara lain maka baiklah yang akan diterima perlakuan protokolnya, sebaliknya apabila buruk perlakuannya maka buruk pula yang akan diterima perlakuan protokolnya. Istilah ini seringkali disebut sebagai resiprokal di dalam dunia diplomatik.
2. Tujuan Keprotokolan
Selain asas-asas tersebut terdapat pula tujuan dari pengaturan keprotokoleran itu sendiri antara lain:
a. Memberikan penghormatan kepada Pejabat Negara, Pejabat Pemerintahan, perwakilan Negara asing dan/atau organisasi internasional, serta Tokoh Masyarakat Tertentu, dan/atau Tamu Negara sesuai dengan kedudukan dalam negara, pemerintahan, dan masyarakat;
b. Memberikan pedoman penyelenggaraan suatu acara agar berjalan tertib, rapi, lancar, dan teratur sesuai dengan ketentuan dan kebiasaan yang berlaku, baik secara nasional maupun internasional; dan
c. Menciptakan hubungan baik dalam tata pergaulan antarbangsa56 3. Ruang Lingkup Keprotokolan
Disamping asas-asas yang mengatur keprotokolan serta tujuan adanya keprotokolan itu sendiri, didalam Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2010 diatur juga mengenai Ruang Lingkup Keprotokolan yang meliputi:
a. Tata Tempat;
b. Tata Upacara; dan
55 Penjelasan tentang pasal 2 huruf d UU Nomor 9 Tahun 2010 tentang Keprotokolan
56 Pasal 3 UU Nomor 9 Tahun 2010 tentang Keprotokolan
c. Tata Penghormatan57
Adapun penjabaran atas 3 Ruang Lingkup Keprotokolan sebagai berikut:
1. Tata Tempat
Tata tempat seringkali disebut ‘preseance’ dalam bahasa Perancis, atau
‘order of precedence’ dalam bahasa Inggris. Dalam Bahasa Indonesia orang lebih mengenalnya dengan istilah ‘tata urutan’. Berdasarkan pasal 1 ayat 4 Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2010 tentang Keprotokolan dan pasal 1 ayat 7 Peraturan Pemerimtah Nomor 62 Tahun 1990 tentang Ketentuan Keprotokolan mengenai Tata Tempat, Tata Upacara, dan Tata Penghormatan, maka Tata Tempat adalah pengaturan tempat bagi Pejabat Negara, Pejabat Pemerintahan, Perwakilan Negara Asing dan/atau Organisasi Internasional, serta Tokoh Masyarakat Tertentu dalam Acara Kenegaraan atau Acara Resmi.58
Tata tempat pada hakekatnya mengatur penempatan orang yang berhak didahulukan, dan/atau orang yang mendapat hak menerima prioritas dalam urutan tempat. Orang yang mendapatkan tempat untuk didahulukan adalah seseorang karena jabatan, pengkat dann derajatnya di dalam pemerintahan atau masyarakat yang hadir dalam acara kenegaraan dan acara resmi.
Adapun aturan dasar mengenai tata tempat sebagaimana terdapat dalam Penjelasan Umum Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 62 Tahun 1990 adalah:
a. Orang yang berhak mendapat tata urutan pertama adalah mereka yang mempunyai urutan paling depan atau paling mendahului;
57 Pasal 4 Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2010 tentang Keprotokolan
58 Pasal 1 ayat 4 Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2010 tentang Keprotokolan dan pasal 1 ayat 7 PP Nomor 62 Tahun 1990 tentang Ketentuan Keprotokolan mengenai Tata Tempat, Tata Upacara, dan Tata Penghormatan
37
b. Jika mereka berjajar, maka yang berada di sebelah kanan dari orang yang mendapat urutan tata tempat paling utama dan yang paling tinggi/mendahului orang yang duduk di sebelah kirinya;
c. Jika menghadap meja, maka tempat utama adalah yang menghadap ke pintu keluar dan tempat terakhir adalah tempat yang paling dekat dengan pintu keluar;
d. Pada posisi berjajar pada garis yang sama, maka tempat yang paling utama adalah tempat sebelah kanan luar, tempat paling tengah.
Pengaturan tata temoat dapat pula mengacu pada situasi dan kondisi tempat, sifat acara serta kepatutan dan mengupayakan tempat yang paling ujung tidak ditempat oleh perempuan.
e. Apabila naik kendaraan, orang yang mendapat tata urutan [aling utama di pesawat terbang naik paling akhir dan turun paling dahulu. Di kapal laut, ia naik dan turun paling dahulu. Di mobil atau kereta api, ia naik dan turun paling dahulu, dan duduk paling kanan. Di mobil, posisi duduk disesuaikan dengan pintu masuk di tempat tujuan. Dalam hal tempat duduk, pengaturannya disesuaikan terus dengan kebiasaan-kebiasaan yang berkembang, memeperhatikan pula norma-norma dan kebiasaan-kebiasaan yang berlaku secara internasional.
f. Dalam hal kedatangan dan pulang, orang yang paling dihormati selalu dating paling akhir dan pulang paling dahulu.
g. Jajar kehormatan orang yang paling dhormati harus dating dari arah sebelah kanan dari pejabat yang menyambut.
h. Bila orang yang paling dihormati yang menyambut tamu, maka tamu akan dating dari arah sebelah kirinya.59
2. Tata Upacara
Untuk melaksanakan suatu upacara diperlukan aturan agar seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan secara tertib dan khidmat. Dalam kaitan itu, yang dimaksud dengan Tata Upacara adalah aturan untuk melaksanakan upacara dalam acara kenegaraan atau acara resmi.60 Acara Kenegaraan61 adalah acara yang diatur dan dilaksanakan oleh panitia negara secara terpusat, diahdiri oleh Presiden dan/atau Wakil Presiden, serta Pejabat Negara dan undangan lain.
Acara Kenegaraan adalah kegiatan Yang diselenggarakan oleh negara;
dilaksanakan oleh Panitia Negara yang diketuai oleh Menteri yang membidangi urusan kesekretariatan negara; dan dilaksanakan secara penuh berdasarkan peraturan Tata Tempat, Tata Upacara dan Tata Penghormatan. Sedangkan, yang disebut dengan Acara Resmi62 adalah acara yang diatur dan dilaksanakan oleh pemerintah atau Lembaga negara dalam melaksanakan tugas fungsi tertentu dan dihaidiri oleh Pejabat Negara dan/atau Pejabat Pemrintahan serta undangan lain.
Adapun jenis-jenis upacara yang memerlukan pengaturan keprotokolan, antara lain:
a. Penerimaan tamu Presiden dan Wakil Presiden
b. Perjalanan Presiden maupun Wakil Presiden ke daerah/luar negeri;
c. Pengaturan rapat/siding/konferensi;
d. Penyelenggaraan resepsi/jamuan;
59 Penjelasan Umum PP Nomor 62 tahun 1990 tentang Ketentuan Keprotokolan Mengenai Tata Tempat, Tata Upacara dan Tata Penghormatan
60 Pasal 1 ayat (5) Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2010 tentang Keprotokolan
61 Pasal 1 ayat (2) Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2010 tentang Keprotokolan
62 Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2010 tentang Keprotokolan
39
e. Penyelenggaraan upacara-upacara, terutama yang dihadiri oleh Kepla Negara/Wakil Kepala Negara/Pemerintahan dan/atau para korps diplomatik, seperti:
1. Hari Besar Nasional/Keagamaan;
2. Penyerahan Surat-surat Kepercayaan/Credential Letters;
3. Penyematan Tanda Kehormatan dan Pemberian Penghargaan;
4. Pidato Kenegaraan Presiden RI dalam rangkaian Hari Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan RI dan Pengantar/Keterangan Pemerintah atas RUU tentang APBN serta Nota Keuangannya pada Pembukaan Rapat Paripurna DPR RI pada bulan Agustus setiap tahun;
5. Pelantikan, pengucapan sumpah dan serah terima jabatan;
6. Penandatanganan kerja sama internasional;
7. Peresmian pembukaan, penutupan seminar, lokakarya, konferensi internasional;
8. Temu wicara.
Untuk melaksanakan upacara dalam acara Kenegaraan/Resmi, diperlukan program yang meliputi kelengkapan upacara, antara lain inspektur upacara, komandan upacara, penanggung jawab upacara, petugas upacara, peserta upacara, dan master of ceremony. Disamping itu, diperlukan juga perlelngkapan upacara, antara lain tiang bendera dan tali, mimbar upacara, naskah yang akan dibacakan, backdrop, lambing kehormatan Negara Kesatuan RI/NKRI, yaitu terdiri atas lambang negara “Garuda Pancasila”, bendera negara “Sang Merah Putih’, gambar resmi Presiden RI dan Wakil Presiden RI serta lagu kebangsaan “Indonesia
Raya”, dan urutan acara serta Juklak (Petunjuk Pelaksanaan) upacara, mulai dari pembukaan, acara pokok, dan penutup. Langkah persiapan dapat dilakukan dengan menyusun acara, menagtur tempat, membuat petunjuk pelaksanaan upacara, menetapkan jenis pakaian yang harus dikenakan, dan melaksanakan galdi acara.
3. Tata Penghormatan
Sesuai dengan Pasal 31 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2010 tentang Keprotokolan dan Pasal 24 Peraturan Pemerintah Nomor 62 Tahun 1990 tentang Ketentuan Keprotokolan Mengenai Tata Tempat, Tata Upacara, dan Tata Penghormatan, telah diatur bahwa kepada Pejabat Negara, Pejabat Pemerintahan, Perwakilan Negara Asing dan/atau Organisasi Internasional, serta Tokoh Masyarakat tertentu, dalam Acara Kenegaraan atau Acara Resmi mendapat penghormatan. Penghormatan dimaksud dilengkapi Lambang-Lambang Kehormatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), meliputi:
a. Penghormatan dengan bendera negara;
b. Penghormatan dengan lagu kebangsaan; dan/atau
c. Bentuk penghormatan lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Dalam pengertiannya, Tata Penghormatan ialah “Aturan untuk melaksanakan pemberian hormat bagi Pejabat Negara, Pejabat Pemerintahan,
41
Perwakilan Negara Asing dan/atau Organisasi Internasional dan Tokoh Masyarakat Tertentu dalam Acara Kenegaraan atau Acara Resmi.63
Pemberian penghormatan kepada Pejabat Negara, Pejabat Pemerintah, dan Tokoh Masyarakat Tertentu diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 62 Tahun 1990 dan menyesuaikan dengan tradisi bangsa serta praktek/kebiasaan internasional. Bentuk-bentuk penghormatan terhadap Pejabat Negara, Pejabat Pemerintah dan Tokoh Masyarakat Tertentu meliputi tata tempat (preseance) dan (rotation), serta penghormatan dengan menggunakan Bendera Negara dan Lagu Kebangsaan dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Penghormatan kepada seseorang dalam bentuk preseance, yakni seseorang dengan kedudukan atau jabatan tertinggi memeproleh urutan tempat pertama;
b. Penghormatan kepada seseorang dalam bentuk rotation, meliputi:
1. Urutan sambutan dalam upacara
Orang dengan preseance tertinggi selalu memberikan sambutan paling akhir, namun pada acara yang bersifat non-seremonial, seperti briefing, maka terjadi kebalikannya di mana seseorang dengan preseance tertinggi selalu ditempatkan paling pertama;
2. Kedatangan dan keberngkatan pulang
Orang yang paling dihormati dalam suatu acara selalu datang di temapat acara paling akhir dan pulang paling dahulu;
3. Naik kendaraan
63 Pasal 1 ayat 6 Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2010 tentang Keprotokolan, dan Bagian Umum Penjelasan PP Nomor 62 Tahun 1990 tentang Peraturan Keprotokolan mengenai Tata Tempat, Tata Upacara, dan Tata Penghormatan
Bagi seseorang yang mendapat tata urutan paling utama, maka di kapal terbang, naik paling akhir, turun paling dahulu; di kapal laut naik dan turun paling dahulu; di mobil atau kereta api, naik dan turun paling dahulu, duduk paling kanan; letak kendaraan/mobil, pintu kanan mobil berada di arah pintu keluar gedung;
4. Jajar kehormatan (receiving line)
Orang yang paling dihormati harus dating dari arah sebelah kanan dari pejabat yang menyambut. Bila orang yang paling dihormati yang meyambut tamu, maka tamu akan dating dari arah sebelah kirinya;
5. Jajar pada garis yang sama
Tempat yang paling utama adalah tempat sebelah kanan luar, atau tempat paling tengah;
6. Menghadap Meja
Tempat utama adalah yang menghadap pintu keluar, dan tempat terakhir adalah tempat yang paling dekat dengan pintu keluar.
c. Penghormatan kepada Pejabat Negara, Pejabat Pemerintahan dan Tokoh Masyarakat Tertentu yang diwujudkan dengan perlakuan terhadap orang dimaksud berasaskan kebangsaan, ketertiban dan kepastian hukum, keseimbangan, keselarasan dan timbal balik sesuai dengan kedudukan dalam negara, pemerintahan, dan masyarakat.64
64 Bagian Umum Penjelasan PP Nomor 62 Tahun 1990 tentang Ketentuan Keprotokolan mengenai Tata Tempat, Tata Upacara, dan Tata Penghormatan
43 BAB III
ASPEK HUKUM INTERNASIONAL DALAM KEPROTOKOLAN DIPLOMATIK
A. Pengertian, Sejarah, dan Sumber Hukum Diplomatik 1. Pengertian Hukum Diplomatik
Hukum Diplomatik merupakan bagian dari hukum internasional, karena keberlakuannya melintasi batas yurisdiksi nasional. Hukum Internasional merupakan sekumpulan kaidah hukum yang mengatur ubungan anatara subjek hukum internasional, yang didalamnya ditentukan hak dan kewajiban subjek tersebut. Hukum diplomatik merupakan bagian dari hukum internasional, yaitu yang khusus mengatur hubungan diplomatik, hubungan konsuler dan keterwakilan negara dalam organisasi internasional.65
Densa mengemukakan bahwa hukum diplomatik adalah berbagai komentar atas Konvensi Wina yang menyangkut hubungan diplomatik.66 Sementara itu, Edmund Jan Osmanczyk mengartikan hukum diplomatik sebagai salah satu cabang dari hukum kebiasaan internasional, terdiri atas seperangkat kaidah dan norma hukum yang menetapkan kedudukan dan fungsi para diplomat, termasuk berbagai aturan tentang bentuk-bentuk organisasi dan dinas kediplomatikan.67
Secara substantif, hakikat hukum diplomatik adalah seluruh ketentuan dan prinsip-prinsip hukum internasional yang khusus mengatur hubungan diplomatik antarnegara yang diselenggarakan berdasar kesepakatan Bersama.
65 Widodo, Konsep dan Dinamika Hukum Internasional, (Malang, Indonesian Business School, 1997), hlm.48
66 Eileen Denza, Diplomatic Law: Commentary on the Vienna Convention on Diplomatic Relations, (New York, Oceania Publ. Inc, 1976)
67 Edmund Jan Osmanczuk, Encyclopedia of the United Nations and International Agreements, (London, Taylor and Francis, 1995), hlm.21
ketentuan tersebut kemudian dituangkan dalam instrument-instrumen hukum sehingga merupakan hasil kodifikasi dari hukum kebiasaan intenasional yang telah dimatangkan melalui perkembangan masyarakat internasional.68
Secara historis, pada awal perkembangannya, pengertian hukum diplomatik hanya ditafsirkan sebagai norma-norma hukum internasional yang mengatur kedudukan dan fungsi misi diplomatik yang dipertukarkan oleh negara-negara yang menjalin hubungan diplomatik69
Untuk memahami pengertinan hukum diplomatik memang tepat sekali jika membahas lebih lanjut mengenai pengertian diplomasi itu sendiri. Adapun pengertian diplomasi itu sendiri yang diberikan oleh para ahli seperti Sir Ernest Satow, dan kawan-kawan seperti Quency Wright, Harold Nicolson, dan Ian Brownlie, sebagai berikut:
Diplomacy is the application of intelligence and tact to the conduct of official relations between the Governments of Independent States, extending sometimes also to their relations with vassal States; or more briefly still, the conduct of business between States by peaceful means.70
Sementara Quency Wright dalam bukunya “The Study of International Relations”, memberi Batasan diplomasi dalam dua cara, yaitu:
1. The employment of tact, shrewdness, and skill in any negotiations or transaction;
2. The art of negotiation in order to achieve the maximum of costs, within a system of politics in which war is a possibility.
68 Syahmin A.K, Hukum Diplomatik: Suatu Pengantar, (Bandung, Armico, 1988), hlm.14
69 Sumaryo Suryokusumo, op.cit, hlm.1
70 Goore-Booth, D. Pakenham, Satow’s Guide to Diplomatic Practice: 5th edition, (London: Logmann Group Ltd, 1979), hlm.3
45
Batasan yang hampir sama bunyinya dengan definisi yang diberikan oleh Harold Nicholson, adalah batasan yang diberikan oleh Ian Brownlie dalam bukunya Principles of Public International Law,71 menyebutkan:
“… diplomacy comprises any means by which States establish or maintain mutual relations, communicate with each other, or carry out political pr legal transactios, in each case trough their authorized agents.”
Sedangkan menurut Harold Nicholson, diplomasi itu adalah:72 - The management of internal relations by means of negotiation;
- The method by which these relations are adjusted and managed by ambassadors and envoys;
- The business or art of the diplomatist; and
- Skill in the conduct of international intercourse and negotiations.
Berdasarkan berbagai batasan dan pengertian yang telah diutarakan di atas, dapat ditegaskan adanya beberapa faktor penting, yaitu:
1. Adanya hubungan antarbangsa untuk merintis kerja sama dan persahabatan;
2. Hubungan tersebut dilakukan melalui pertikaian misi diplomatik, termasuk para pejabatnya;
3. Para pejabat diplomatik tersebut harus diakui statusnya sebagai agen diplomatik; dan
4. Agar para diplomat itu dapat melaksanakan tugas dan fungsinya dengan baik dan efisien, mereka perlu diberikan kekebalan dan keistimewaan diplomatik yang didasarkan atas aturan-aturan hukum kebiasaan
71 Ian Brownlie, loc.cit
72 Goore-Booth, D. Pakenham, op.cit., hlm.4
internasional, dan persetujuan lainnya yang meyangkut hubungan diplomatik antarnegara.
Dengan demikian, pengertian hukum diplomatik hakikatnya ialah seperangkat kaidah hukum yangbbersumber pada kebiasaan internasional yang berlaku secara imperatif, yang berfungsi sebagai pedoman pelaksanaan hubungan diplomatik, hubungan konsuler, dan keterwakilan negara-negara dalam organisasi internasional, baik kaidah yang terkait dengan fungsi, kedudukan maupun kekebalan dan hak-hak istimewa, serta tata kerja dari organ-organ pelaksana kegiatan tersebut, dan hukum diplomatik merupakan ketentuan-ketentuan atau prinsip-prinsip hukum internasional yang mengatur hubungan diplomatik antarnegara yang dilakukan atas dasar prinsip persetujuan bersama secara timbal balik (reciprocity principles).
2. Sejarah Hukum Diplomatik
Pengaturan hukum diplomatik itu sendiri memiliki sejarah dan
Pengaturan hukum diplomatik itu sendiri memiliki sejarah dan