BAB III ASBABUN NUZUL DAN MUNASABAH
A. Asbabun Nuzul
Secara bahasa asbābun nuzūl terdiri dari kata asbāb dan nuzūl, asbāb
merupakan jama’ dari kata
ٌبَبَس
yang mempunyai arti latar belakang, alasan atau sebab (Ahmad Warson Munawwir, 1984: 602) sedang kata nuzūl berasal dari akar kataلاْوُزُ ن
– ُل ِزْنَ ي
- َلَزَ ن
yang berarti turun (Ahmad Warson Munawwir, 1984: 1409). Secara istilah pengertian asbābun nuzūl adalah suatu kejadian yang terjadi di zaman Nabi SAW atau suatu pertannyaan yang di hadapkan kepada Nabi sehingga turunlah ayat dari Allah SWT yang berhubungan dengan kejadian itu atau sebagai jawaban atas pertanyaan itu (Hasby ash-Shiddieqy, 2014: 18).Allah telah memberikan petunjuk kepada manusia dengan wahyu yang diturunkan-Nya melalui utusan-Nya. Petunjuk Allah yang berlaku untuk semua manusia di semua tempat dan zaman itu termaktub dalam kitab suci al-Qur’an. al-Qur’an diturunkan Allah untuk menjadi petunjuk bagi manusia dalam upaya mencapai kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat nanti. Oleh karena itu, al-Qur’an diturunkan sesuai dengan kebutuhan orang dan masyarakat.
Ayat-ayat al-Qur’an yang turun, ada yang tanpa didahului sebab dan ada yang didahului oleh sebab tertentu. Ayat yang turun yang didahului oleh sebab tertentu ada yang secara tegas tergambar sebab tersebut dalam ayat dan ada pula yang tidak dinyatakan secara jelas dalam ayat yang bersangkutan
30
Peristiwa atau persoalan yang melatar belakangi turun ayat itu disebut asbābun
nuzūl. Pengetahuan tentang asbābun nuzūl atau sejarah turunnya ayat-ayat suci al-Qur’an amatlah diperlukan bagi seseorang yang hendak memperdalam pengertian tentang ayat-ayat suci al-Qur’an. Dengan mengetahui latar belakang turunnya ayat, orang dapat mengenal dan menggambarkan situasi dan keadaan yang terjadi ketika ayat itu diturunkan (Nashruddin Baidan, 2005: 131).
Ada beberapa hal yang mendorong manusia untuk mengetahui asbābun
nuzūl. Pertama, mengetahui hikmah yang terkandung di balik ayat-ayat yang
mempersoalkan syari’at (hukum). Misalnya, kita dapat memahami lewat
pengetahuan asbābun nuzūl kenapa judi, riba, memakan harta anak yatim itu diharamkan. Sebaliknya, bagaimana mula-mula Allah mensyari’atkan shalat
khauf (shalat yang dilakukan waktu situasi gawat atau perang), mengapa tidak boleh melakukan shalat jenazah atas orang musyrik, bagaimana pembagian harta rampasan perang, dan seterusnya. Hampir semua ayat hukum itu mengandung aspek filosofis yang sebagian di antaranya dapat diketahui lewat pengertian tentang asbābun nuzūl. Kedua, mengetahui pengecualian hukum
(takhsis) terhadap orang yang berpendirian bahwa hukum itu harus dilihat terlebih dahulu dari sebab-sebab yang khusus. Ketiga, mengetahui asbābun
nuzūl adalah cara yang paling kuat dan paling baik dalam memahami pengertian ayat, sehingga para sahabat yang paling mengetahui sebab-sebab turunnya ayat lebih didahulukan pendapatnya tentang pengertian dari satu ayat dibandingkan dengan pendapat sahabat yang tidak mengetahui sebab-sebab turunnya ayat itu (Departemen Agama RI, 2009: 228).
31
Tidak sedikit ayat al-Qur’an yang diturunkan karena sebab atau peristiwa tertentu. Dalam pembahasan ini, penulis hanya akan menjelaskan
asbābun nuzūl dari ayat-ayat al-Qur’an yang dikaji oleh penulis yaitu surat al- Baqarah ayat 183-187. Seperti telah dijelaskan di atas bahwa al-Qur’an diturunkan sesuai dengan kebutuhan orang dan masyarakat. Untuk itu, al-
Qur’an ada pula yang turun tanpa sebab dan ada pula ayat-ayat yang diturunkan setelah terjadinya suatu peristiwa yang perlu di respon atau dijawab. Dalam kajian ini penulis tidak menemukan informasi mengenai
asbābun nuzūl ayat-ayat tersebut seluruhnya baik dari sumber buku, internet, maupun sumber informasi lainnya karena pada kenyataannya tidak ada penjelasan mengenai sejarah atau sebab turunnya ayat tersebut yaitu asbābun
nuzūl dari surat al-Baqarah ayat 183 dan 185. Adapun asbābun nuzūl surat al- Baqarah ayat 184, 186, dan 187 adalah sebagai berikut:
1. Surat al-Baqarah ayat 184
يِطُي َنيِذَّلا ىَلَعَو رَخُأ ماَّيَأ ْنِّم ٌةَّدِعَف رَفَس ىَلَع ْوَأ ًاضيِرَّم مُكنِم َناَك نَمَف تاَدوُدْعَّم ًاماَّيَأ
ُهَنوُق
ُموُصَت نَأَو ُهَّل ٌرْ يَخ َوُهَ ف ًاْيَخ َعَّوَطَت نَمَف ينِكْسِم ُماَعَط ٌةَيْدِف
َنوُمَلْعَ ت ْمُتنُك نِإ ْمُكَّل ٌرْ يَخ ْاو
Artinya:
(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barang siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari hari yang lain. Dan bagi orang-orang yang berat menjalankannya wajib membayar
fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin. Tetapi barangsiapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itu lebih baik baginya. Dan puasamu itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui (QS. al-Baqarah, 2: 184).
32
َع ِهِتاَقَ بَط ِْفِ ْدِعَس ِنْبا َجَرْخَأ
لاْوَم ِْفِ ْتَلَزَ ن ُةَيَلاا ِهِذَه : َلاَق ِدِهاَُمج ْن
،بِئاَّسلا ِنْب ِسْيَ ق ي
اًنْ يِكْسِم مْوَ ي ِّلُكِل ُمِعْطَأَو ُرِطْفَأَف
Ibnu sa’ad dalam kitab ath-thabaqaat meriwayatkan dari mujahid,dia berkata,” Ayat ini turun pada tuan saya, Qais ibnus-Saa’ib lalu dia pun tidak berpuasa dan memberi makan kepada orang miskin untuk setiap harinnya (Jalaluddin as-Suyuthi, 2008: 67). Ayat tersebut turun berkenaan dengan Qais bin as-Saib yang memaksakan diri berpuasa, padahal dia sudah tua sekali (Jalaluddin as-Suyuthi, 2000: 50)
2. Surat al-Baqarah ayat 186
ُنِمْؤُ يْلَو ِلِ ْاوُبيِجَتْسَيْلَ ف ِناَعَد اَذِإ ِعاَّدلا َةَوْعَد ُبيِجُأ ٌبيِرَق ِّنِِّإَف ِّنَِّع يِداَبِع َكَلَأَس اَذِإَو
ِبِ ْاو
َنوُدُشْرَ ي ْمُهَّلَعَل
Artinya:
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran (QS. al-Baqarah, 2: 186).
اَو ِِتِاَح ِْبَِأ ِنْباَو ُرْ يِرَج ِنْبا َجَرْخَأ
ِدْبَع ِنْب ِرْيِرَج ْنَع ِقِرَط ْنِم ْمِهِْيَغَو ِخْيَّشلا وُبَأَو ِهْيَوُدْرَم ِنْب
33
َ ف ، ِبَِّّنلا َلَِإ ْبِاَرْعَأ َءاَج :َلاَق
َلَزْ نَأَف ،ُهْنَع َتَكَسَف ؟ِهْيِداَنُ نَ ف دْيِعَب ْمَا ِهْيِجاَنُ نَ ف اَنُّ بَر ُبْيِرَقَأ :َلاَق
َةَيلاَا ُهٰ للا
Ayat ini turun berkenaan dengan datangnya seorang Arab Badui
kepada Nabi SAW, lalu berkata,”apakah Tuhan kita dekat sehingga kita
cukup berbisik saat memohon kepada-Nya, atau Dia jauh sehingga kita
perlu berteriak memanggilnya?” Mendengar pertanyaan itu Rasulullah
terdiam, kemudian turunlah ayat ini sebagai jawaban atas pertanyaan orang Arab Badui tersebut dan juga untuk memberi penjelasan kepada setiap orang muslim yang ingin berdoa kepada Allah SWT (Jalaluddin as-Suyuthi, 2000: 51).
3. Surat al-Baqarah Ayat 187
ُه للا َمِلَع َّنَُّلْ ٌساَبِل ْمُتنَأَو ْمُكَّل ٌساَبِل َّنُه ْمُكِئآَسِن َلَِإ ُثَفَّرلا ِماَيِّصلا َةَلْ يَل ْمُكَل َّلِحُأ
ْمُتنُك ْمُكَّنَأ
ُه للا َبَتَك اَم ْاوُغَ تْ باَو َّنُهوُرِشاَب َنلآاَف ْمُكنَع اَفَعَو ْمُكْيَلَع َباَتَ ف ْمُكَسُفنَأ َنوُناتَْتَ
ْاوُلُكَو ْمُكَل
َيِّصلا ْاوُِّتَِأ َُّْ ِرْجَفْلا َنِم ِدَوْسَلا ِطْيَْلْا َنِم ُضَيْ بَلا ُطْيَْلْا ُمُكَل ََّينَ بَتَ ي َََّح ْاوُبَرْشاَو
ِلْيلَّلا َلَِإ َما
َرْقَ ت َلََف ِه للا ُدوُدُح َكْلِت ِدِجاَسَمْلا ِفِ َنوُفِكاَع ْمُتنَأَو َّنُهوُرِشاَبُ ت َلاَو
ِهِتاَيآ ُه للا ُِّينَ بُ ي َكِلَذَك اَهوُب
َنوُقَّ تَ ي ْمُهَّلَعَل ِساَّنلِل
Artinya:Dihalalkan bagimu pada malam hari puasa bercampur dengan istrimu. Mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan dirimu sendiri, tetapi Dia menerima tobatmu dan memaafkan kamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah bagimu. Makan
34
minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa sampai malam. Tetapi jangan kamu campuri mereka, ketika kamu beriktikaf dalam masjid. Itulah ketentuan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, agar mereka bertakwa (QS. al- Baqarah, 2: 187).
ْسِإ ِبَِأ ْنَع ُليِئاَرْسِإ اَنَرَ بْخَأ َدَْحَْأ وُبَأ اَنَرَ بْخَأ ُّيِمَضْهَْلْا رْصَن ِنْب ِّيِلَع ُنْب ُرْصَن اَنَ ثَّدَح
ْنَع َقَْ
ِص َّنِإَو اَهِلْثِم َلَِإ ْلُكْأَي ََْ َماَنَ ف َماَص اَذِإ ُلُجَّرلا َناَك َلاَق ِءاَرَ بْلا
ىَتَأ َّيِراَصْنَْلا سْيَ ق َنْب َةَمْر
َبَلَغَو ْتَبَهَذَف اًئْيَش َكَل ُبُلْطَأَف ُبَهْذَأ يِّلَعَل َلا ْتَلاَق ٌءْيَش ِكَدْنِع َلاَقَ ف اًمِئاَص َناَكَو ُهَتَأَرْما
ُهْت
ِشُغ َََّح ُراَهَّ نلا ْفِصَتْنَ ي ْمَلَ ف َكَل ًةَبْيَخ ْتَلاَقَ ف ْتَءاَجَف ُهُنْ يَع
ِفِ ُهَمْوَ ي ُلَمْعَ ي َناَكَو ِهْيَلَع َي
ُثَفَّرلا ِماَيِّصلا َةَلْ يَل ْمُكَل َّلِحُأ ْتَلَزَ نَ ف َمَّلَسَو ِهْيَلَع ُهَّللا ىَّلَص ِِّبَِّّنلِل َكِلَذ َرَكَذَف ِهِضْرَأ
َلَِإ
ِرْجَفْلا ْنِم ِهِلْوَ ق َلَِإ َأَرَ ق ْمُكِئاَسِن
،دود وبا(
٧٩٩١
:ةرنم ،
٧٩١٢
)
Artinya:Telah menceritakan kepada kami Nashr bin Ali bin Nashr Al Jahdhami, telah mengabarkan kepada kami Abu Ahmad, telah mengabarkan kepada kami Israil dari Abu Ishaq, dari Al Bara`, ia berkata; dahulu seseorang apabila telah berpuasa ia tidur dan tidak makan hingga keesokan hari. Sesungguhnya Shirmah bin Qais Al Anshari datang kepada isterinya dan ia dalam keadaan berpuasa, ia berkata; apakah engkau memiliki sesuatu? Isterinya berkata; tidak, mungkin aku bisa pergi dan mencari sesuatu untukmu. Kemudian ia pergi dan Shirmah telah tertidur, lalu isterinya datang dan berkata; merugi engkau. Kemudian sebelum tengah hari ia pingsan, dan ia pada hari itu sedang bekerja di lahan tanahnya. Kemudian ia menyebutkan hal tersebut kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Kemudian turunlah ayat: "Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu". Beliau membacanya hingga firmannya: "yaitu fajar".
35 B. Munasabah
Kata munāsabah yang berakar kata dari
ًةَبَسَاَنُم
- َبِساَنُ ي
- َبَساَن
artinya patut, sesuai (Atabiak Ali dan Ahmad Zuhdi Muhdlor, 2003: 1878). Secara etimologi, munāsabah berarti persesuaian, hubungan atau relevansi sedang secara terminologi, munāsabah adalah ilmu untuk mengetahui alasan-alasan penertiban dari bagian-bagian al-Qur’an yang mulia (Abdul Djalal, 2000: 154). Jadi munāsabah merupakan hubungan persesuaian antara ayat atau surat yang satu dengan ayat atau surat yang sebelum dan sesudahnya.Seperti yang telah dikemukakan di atas, mengenai munāsabah, para
mufasir mengingatkan agar dalam memahami atau menafsirkan ayat-ayat al-
Qur’an, khususnya yang berkaitan dengan penafsiran ilmiah, seseorang
dituntut untuk memperhatikan segi-segi bahasa al-Qur’an serta korelasi antar ayat (M. Quraish Shihab, 1998: 135).
Makna tersebut dapat dipahami, apabila suatu ayat atau surah sulit ditangkap maknanya secara utuh, maka menurut metode munāsabah ini mungkin dapat dicari penjelasannya di ayat atau di surah lain yang mempunyai kesamaan atau kemiripan. karena pemahaman ayat secara parsial (pemahaman ayat tanpa melihat ayat lain) sangat mungkin terjadinya suatu kekeliruan. Fazlurrahman mengatakan, apabila seseorang ingin memperoleh apresiasi yang utuh mengenali al-Quran, maka ia harus dipahami secara terkait. Selanjutnya menurut beliau apabila al-Quran tidak dipahami secara utuh dan terkait, al- Quran akan kehilangan relevansinya untuk masa sekarang dan akan datang. Sehingga al-Quran tidak dapat menyajikan dan memenuhi kebutuhan manusia (Abu Anwar, 2002: 61).
36
Dalam pembahasan ini penulis menjabarkan munāsabah ayat dengan ayat yang lain dalam satu surat sesuai dengan yang penulis kaji. Munāsabah ayat-ayat tersebut adalah sebagai berikut:
1. Munasabah Surat al-Baqarah ayat 183-187 dengan Ayat Sebelumnya a. Surat al-Baqarah ayat 178-182
1) al-Baqarah ayat 178
ُلاَو ِدْبَعْلاِب ُدْبَعْلاَو ِّرُْلْاِب ُّرُْلْا ىَلْ تَقْلا ِفِ ُصاَصِقْلا ُمُكْيَلَع َبِتُك ْاوُنَمآ َنيِذَّلا اَهُّ يَأ اَي
ىَثن
َف ٌءْيَش ِهيِخَأ ْنِم ُهَل َيِفُع ْنَمَف ىَثنُلاِب
َكِلَذ ناَسْحِإِب ِهْيَلِإ ءاَدَأَو ِفوُرْعَمْلاِب ٌعاَبِّ تا
ٌميِلَأ ٌباَذَع ُهَلَ ف َكِلَذ َدْعَ ب ىَدَتْعا ِنَمَف ٌةَْحَْرَو ْمُكِّبَّر نِّم ٌفيِفَْتَ
Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh. orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu pema'afan dari saudaranya, hendaklah (yang mema'afkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi ma'af) membayar (diat) kepada yang memberi ma'af dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih (QS. al-Baqarah, 2: 178).
2) al-Baqarah ayat 179
َنوُقَّ تَ ت ْمُكَّلَعَل ِباَبْلَلا ِْلِوُأ ْاَي ٌةاَيَح ِصاَصِقْلا ِفِ ْمُكَلَو
Artinya:
Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa (QS. al- Baqarah, 2: 179).
37 3) al-Baqarah ayat 180
َينِبَرْ قلاَو ِنْيَدِلاَوْلِل ُةَّيِصَوْلا ًاْيَخ َكَرَ ت نِإ ُتْوَمْلا ُمُكَدَحَأ َرَضَح اَذِإ ْمُكْيَلَع َبِتُك
َينِقَّتُمْلا ىَلَع ًا قَح ِفوُرْعَمْلاِب
Artinya:
Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma'ruf , (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa (QS. al-Baqarah, 2: 180).
4) al-Baqarah ayat 181
اََّنمِإَف ُهَعَِسَ اَم َدْعَ ب ُهَلَّدَب نَمَف
ٌميِلَع ٌعيَِسَ َه للا َّنِإ ُهَنوُلِّدَبُ ي َنيِذَّلا ىَلَع ُهُْثِْإ
Artinya:
Maka barangsiapa yang mengubah wasiat itu, setelah ia mendengarnya, maka sesungguhnya dosanya adalah bagi orang-orang yang mengubahnya. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (QS. al- Baqarah, 2: 181).
5) al-Baqarah ayat 182
ٌميِحَّر ٌروُفَغ َه للا َّنِإ ِهْيَلَع َِْْإ َلََف ْمُهَ نْ يَ ب َحَلْصَأَف ًاْثِْإ ْوَأ ًافَنَج صوُّم نِم َفاَخ ْنَمَف
Artinya:
(Akan tetapi) barangsiapa khawatir terhadap orang yang berwasiat itu, berlaku berat sebelah atau berbuat dosa, lalu ia mendamaikan antara mereka, maka tidaklah ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. al-Baqarah, 2: 182).