• Tidak ada hasil yang ditemukan

Asesmen Portofolio (Assessment Portfolios)

Dalam dokumen ASESMEN DALAM PENDIDIKAN (Halaman 52-58)

ASESMEN BERBASIS KOMPETENSI

A. Pendidikan Berbasis Kompetensi

7. Asesmen Portofolio (Assessment Portfolios)

Sebagai konsekuensi desentralisasi pendidikan, saat ini sejumlah pembaharuan pendidikan sedang dilaksanakan dalam upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan. Fokus pembaharuan pendidikan diletakkan pada tingkat sekolah melalui Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dan implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). MBS adalah paradigma baru pengelolaan sekolah berdasarkan kekhasan, keunikan, kebolehan, kebutuhan, dan kemampuan sekolah

dengan melibatkan partisipasi stakeholders. Sedangkan KBK merupakan bagian dari Pendidikan Berbasis Kompetensi (PBK), yaitu pendidikan yang mengacu pada standar kompetensi yang akan dicapai dan diperlukan oleh peserta didik. Standar kompetensi adalah pernyataan tentang kompetensi yang harus dimiliki oleh peserta didik untuk melakukan sesuatu sesuai dengan unjuk kerja yang dipersyaratkan, baik logos, etos, maupun patos. Pendekatan pembelajaran yang cocok untuk melaksanakan Pendidikan Berbasis Kompetensi, antara lain adalah belajar tuntas (mastery learning), belajar melalui kegiatan nyata (learning by

doing), dan pembelajaran yang memperhatikan kemampuan peserta didik

(individualized learning). Untuk mengetahui tingkat keberhasilan pendidikan berbasis kompetensi adalah dengan melaksanakan sistem evaluasi yang tepat, yakni evaluasi berbasis kompetensi. Evaluasi berbasis kompetensi adalah evaluasi yang disusun dan dilaksanakan berdasarkan standar kompetensi, yaitu suatu proses penilaian dengan cara membandingkan kompetensi yang dicapai oleh peserta didik dengan standar kompetensi yang telah ditetapkan. Hal ini dilakukan dengan maksud untuk memperoleh informasi tentang tingkat ketercapaian kompetensi peserta didik. Evaluasi semacam ini, oleh beberapa ahli disebut evaluasi otentik. Evaluasi otentik merupakan kombinasi dari berbagai cara penilaian, seperti: tes tertulis, hasil pekerjaan rumah, proyek, kuis, karya tulis, laporan, jurnal, portofolio, observasi, praktek, dan kinerja (performance) peserta didik. Evaluasi otentik termasuk jenis evaluasi berbasis kelas (classroom-based

assessment), yang memiliki prinsip dasar keberlanjutan dan komprehensif, dalam

arti dilakukan secara berencana, bertahap, dan terus menerus untuk memperoleh informasi yang lengkap tentang keberhasilan belajar peserta didik. Menurut Engel (dalam Fogarty, 1996), asesmen otentik (authentic assessment) adalah alat untuk membantu pendidik dan peserta didik untuk bekerja bersama-sama dengan cara yang paling produktif dan merupakan cara efektif untuk berkomunikasi dengan orang tua peserta didik. Engel mengajukan dua cara koleksi data, yaitu koleksi data yang dilakukan oleh pendidik, meliputi: catatan kurikulum, observasi, refleksi atas peserta didik atau kelas secara keseluruhan, catatan-catatan tentang konferensi orang tua peserta didik, hasil tes, dan apa saja yang diperlukan oleh pendidik. Koleksi peserta didik (portofolio), meliputi sampel pekerjaan peserta

didik untuk semua bidang studi. Kedua koleksi tersebut memberi informasi tentang profil peserta didik, dan laporan dikirimkan kepada orang tua peserta didik. Salah satu bentuk penilaian yang dipandang lebih sesuai dan cocok dalam Pendidikan Berbasis Kompetensi adalah dengan asesmen portofolio (assessment

portfolios), karena asesmen portofolio ini menyatu dengan proses pembelajaran

dan dapat mencakup beberapa jenis penilaian lainnya. Asesmen portofolio adalah suatu prosedur pengumpulan informasi mengenai perkembangan dan kemampuan peserta didik melalui portofolionya (Marhaeni, 2004). Salvia dan Ysseldyke (1995) menyatakan bahwa portofolio adalah sekumpulan hasil karya peserta didik yang dapat menunjukkan apa yang bisa dilakukan oleh peserta didik tersebut. Kumpulan dokumen tersebut, berupa tugas-tugas kelas, draf, audio tapes, daftar buku yang telah dibaca, videotapes, hasil ulangan, check list, journal, penyelesaian projek, kerja keterampilan, dan semua hasil kerja peserta didik , termasuk evaluasi diri. Menurut Moss (1994), asesmen portofolio berbeda dengan bentuk asesmen konvensional. Asesmen portofolio menggunakan pendekatan “bottom-up”, sedangkan testing menggunakan pendekatan “top-down” (dalam Robin Fogarty, ed. 1996). Dasar filosofis yang melandasi asesmen portofolio adalah filsafat konstruktivisme sosial yang dimotori oleh Vigotsky (dalam Suparno, 1997) dengan konsep “Zone of Proximal Development” (ZPD) yang menyumbangkan konsep perkiraan wilayah perkembangan tempat peserta didik membangun pemahaman dan interpretasinya apabila digandengkan dengan orang yang lebih berpengalaman. Selanjutnya, Wallace (1991) dengan pendekatan reflektif dalam pengembangan profesi keguruan, menyumbangkan konsep tentang pentingnya dilakukan refleksi dalam proses belajar, sehingga dapat meningkatkan kinerja dan pemahaman pendidik yang mengarah pada cara-cara pengajaran yang lebih baik. Asesmen portofolio sesuai dengan dasar filosofis tersebut, karena (1) menilai performansi yang menunjukkan hasil dari suatu konstruksi makna, (2) bersifat kolaboratif, (3) membimbing peserta didik menjadi peneliti, (4) menunjukkan perkembangan peserta didik secara berkelanjutan, (5) memberikan penilaian yang tinggi terhadap perkembangan pengetahuan dan aplikasinya, dan (6) memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk melakukan asesmen dan refleksi diri ((Marhaeni, 2004). Dalam asesmen portofolio paling sedikit terdapat

tujuh elemen pokok, yaitu (1) adanya tujuan yang jelas dan mencakup ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik, (2) dapat menunjukkan kualitas hasil belajar, (3) mencakup bukti-bukti otentik yang mencerminkan dunia nyata dan multidimensi, (4) menunjukkan profil kerja sama antar peserta didik dan antara peserta didik dengan pendidik, (5) penilaian yang integratif dan dinamis karena mencakup multidimensi, (6) adanya kepemilikan (ownership) melalui refleksi diri dan evaluasi diri, dan (7) perpaduan antara asesmen dan pembelajaran (Dantes, 2003). Dalam beberapa kajian, asesmen portofolio dipandang sebagai asesmen alternatif, asesmen otentik, atau asesmen kinerja (Salvia & Ysseldyke, 1995; O’Malley, 1996). Dalam kajian lain, Wyaatt III dan Loper (1999) mengembangkan suatu model asesmen portofolio yang diakronimkan menjadi CORP, yaitu (1) collecting documents, (2) organizing, yakni disusun secara kronologis berdasarkan fokus atau karya terbaik, (3) reflecting, yaitu refleksi terhadap proses belajar yang telah dilalui serta evaluasi atas karya sendiri, dan (4)

presenting, yakni menampilkan semua hasil dalam sebuah folder. Dalam kaitan

ini, Paulson and Paulson (dalam Fogarty, 1996) mengemukakan tentang cara mengukur portofolio, yang disebut “A Cognitive Model for Assessing Portfolios

(MAP)”. CMAP memandang portofolio dari tiga dimensi secara simultan, yaitu

(1) dimensi stakeholders, yakni orang-orang yang berminat terhadap portofolio, seperti peserta didik, pendidik, orang tua, dan agensi lainnya; (2) dimensi proses, yakni semua aktivitas yang membentuk portofolio, seperti: tujuan, isu, standar, eksibisi (exhibits), dan penilaian; dan (3) dimensi history, yakni semua catatan tentang perubahan yang terjadi sepanjang proses pembelajaran. Menurut O’Malley dan Valdez Pierce (1996), paling sedikit ada tiga elemen penting dalam asesmen portofolio, yakni (1) sampel karya peserta didik, (2) evaluasi diri, dan (3) kriteria penilaian yang jelas dan terbuka. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa suatu kumpulan karya dapat diklarifikasi menjadi pendekatan asesmen portofolio jika (1) kumpulan karya tersebut mampu memberikan informasi yang komprehensif mengenai performansi peserta didik, (2) peserta didik dipandang sebagai subjek dalam proses asesmen, dan (3) menyediakan forum bagi peserta didik untuk mengembangkan kemampuan-kemampuannya agar dapat menjadi pebelajar yang independen dan mampu mengarahkan diri sendiri.

Sebagai asesmen alternatif, asesmen portofolio merupakan lawan dari tes baku, tes objektif, atau bentuk tes yang mensyaratkan hanya satu pilihan jawaban. Dalam kaitan ini, De Fina (1992) membandingkan ciri-ciri asesmen portofolio dengan tes-tes baku sebagai tabel berikut ini.

Tabel 05. Perbandingan antara Asesmen Portofolio dan Tes Baku

No. Asesmen Portofolio Tes Baku

1 Terjadi pada situasi alamiah Terjadi pada situasi ujian, tidak alamiah

2 Memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menunjukkan kelebihan dan kelemahannya

Menunjukkan kelemahan peserta didik dalam suatu hal tertentu

3. Informasinya bersifat langsung pada saat proses pembelajaran berlangsung

Tidak memberikan informasi dianostik secara langsung (informasi tertunda)

4. Asesmen dilakukan bersama oleh guru, orang tua peserta didik , dan peserta didik itu sendiri

Asesmen dilakukan hanya oleh pendidik dan menunjukkan peringkat peserta didik

5. Penilaian berlangsung terus-menerus selama proses

pembelajaran sehingga

memberikan kesempatan untuk menilai berbagai kemampuan

Kesempatan hanya sekali untuk menilai kemampuan dalam hal tertentu

6. Menilai hal-hal yang realistik dan

bermakna Menilai hal-hal yang artifisial, tidaksesuai dengan keseharian yang ada 7. Memberi kesempatan kepada

peserta didik untuk mengadakan refleksi terhadap hasil karyanya

Mengharapkan hanya ada satu respon tentang pengetahuan atau kemampuannya

8. Memberikan kesempatan kepada orang lain yang berkepentingan untuk mengadakan refleksi tentang pengetahuan dan karya-karya peserta didik

Memberikan data numerik yang kadangkala menakutkan dan tidak bermakna secara esensial

9. Mendorong terwujudnya temu wicara antara pendidik dan peserta didik

Mengharuskan pertemuan antara pendidik dan administrator

10. Menempatkan peserta didik sebagai pusat proses pembelajaran sehingga bermanfaat untuk perbaikan kurikulum dan pembelajaran

Menempatkan peserta didik sebagai objek proses pembelajaran dan mendukung kurikulum sebagai pusat proses pembelajaran

Berdasarkan uraian tersebut di atas, dapat disimak bahwa penilaian berbasis kelas, khususnya esesmen portofolio lebih adaptif digunakan dalam proses pembelajaran yang menggunakan Kurikulum Berbasis Kompetensi.

Tabel 06. Contoh Penilaian Portofolio MK. Evaluasi Pendidikan Kompetensi Dasar

Menentukan kualitas alat ukur tes Nama Mahasiswa: SujanaTanggal: 10 Agustus 2006

Indikator Penilaian

1. Menguji validitas butir tes 2. Menghitung reliabilitas tes 3. Menghitung daya beda butir tes 4. Menghitung taraf kesukaran butir tes

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

X X

X X

Dicapai melalui Komentar Dosen

1. Petolongan dosen Sujana telah mencapai hasil yang baik dalam 2. Seluruh kelas menguji validitas butir tes dan reliabilitas tes,

tetapi

3. Kelompok kecil perlu ditingkatkan kemampuannya dalam 4. Sendiri menghitung daya beda dan taraf kesukaran tes 5. Komentar orang tua (khusus untuk

siswa di sekolah) ...

Tabel 07. Perbedaan antara Tes dan Portofolio

TES PORTOFOLIO

1. Menilai peserta didik dengan tugas

terbatas 1. Berdasarkan seluruh tugas dan hasilkerja

2. Hanya pendidik/dosen yang menilai 2. Peserta didik turut menilai 3. Menilai semua peserta didik dengan

satu kinerja

3. Menilai secara individual 4. Penilaian tidak kolaboratif 4. Penilaian kolaboratif 5. Penilaian diri sendiri bukan merupakan

tujuan 5. Pesrta didik menilai diri sendiri sebagaitujuan

6. Hanya pencapaian yang menjadi

perhatian 6. Yang menjadi perhatian meliputikemajuan,

usaha, dan pencapaian 7. Terpisah antara kegiatan pembelajaran,

Dalam dokumen ASESMEN DALAM PENDIDIKAN (Halaman 52-58)

Dokumen terkait