• Tidak ada hasil yang ditemukan

ASN Profesional

Dalam dokumen Hak Cipta Pada Lembaga Administrasi Nega (Halaman 123-127)

BAB V ASN SEBAGAI PELAYAN PUBLIK

B. ASN Profesional

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, profesional diartikan sebagai sesuatu yang berhubungan dengan profesi, yang me- merlukan keahlian khusus untuk melakukan suatu pekerjaan. Sedangkan profesi dipahami sebagai bidang pekerjaan yang dilandasi dengan keahlian tertentu. Seorang yang bekerja secara profesional dengan demikian dapat dipahami sebagai seseorang yang bekerja sesuai dengan protokol dan peraturan dalam bidang yang dijalaninya secara sungguh-sungguh sesuai keahlian khususnya dan menerima gaji sebagai upah atas jasanya. Istilah lain yang memiliki akar kata yang sama, yaitu profesionalisme dipahami sebagai komitmen para anggota suatu profesi untuk meningkatkan kemampuannya secara terus-menerus. Sedangkan profesionalitas adalah sikap para anggota profesi yang benar-benar menguasai dan sungguh- sungguh dengan profesinya.

Sementara itu, menurut Bussiness Dictionary birokrasi profesional dipahami sebagai:

“A group of officials in either a private sector or govern- ment organization working in a professional capacity that is respon- sible for carrying out the functions and implementing the laws and regulations governing the institution. A professional bureaucracy in business allows employed professionals a greater degree of control over their work.”

profesional adalah sekelompok petugas atau aparat pada sektor privat atau organisasi pemerintah yang bekerja secara profesional yang bertanggung jawab menjalankan fungsi dan mengimplementasikan hukum dan peraturan perundang- undangan yang mengatur institusi tersebut.

Abbott (1988) dalam tulisannya berjudul The System of Profession menyebutkan bahwa profesionalisme sering dipahami secara kurang jelas sebagai suatu jenis pekerjaan yang dilakukan oleh seorang spesialis yang mengaplikasikan pengetahuan abstrak terhadap kasus spesifik atau partikular. Namun, secara umum menurut Jeroen van Bockel (2008) dalam tulisannya yang berjudul Professional Bureau- crats or bureaucratic Professionals? Menyebutkan bahwa profesionalisme dapat dipahami sebagai mekanisme institusional, di samping adanya mekanisme pasar dan manajemen. Jika mekanisme pasar dicirikan oleh kontrol terhadap konsumen dan mekanisme manajerial dicirikan oleh bagaimana mengendalikan organisasi, profesionalisme lebih sebagai mekanisme yang bersifat horizontal, sebagai para profesional yang mengontrol satu-sama lain di antara mereka atas kualitas pekerjaan yang mereka lakukan. Profesi dengan demikian mengatur kontrol (control) dalam suatu kelompok spesialis atau para ahli. Di samping itu, profesi juga mengatur konten (content) melalui pelatihan, pendidikan, dan pengujian. Ini yang disebut Bockel sebagai dua komponen utama yang membentuk profesionalisme, yaitu konten dan kontrol.

Mengapa penting mendorong manajemen birokrasi yang profesional? Atau dengan kata lain, mengapa pegawai ASN dituntut bekerja secara profesional? Hal ini tidak lain adalah untuk mengatasi sifat kecenderungan birokrasi yang dapat mengalami kemunduran dalam pelayanan publik. SP. Siagian (1994) dalam bukunya berjudul Patologi Birokrasi: Analisis, Identifikasi, dan Terapinya menyebutkan adanya patologi birokrasi yang ditandai dengan tidak efisiennya suatu birokrasi bekerja. Birokrasi juga dapat memiliki kecenderungan

mengutamakan kepentingan sendiri, mempertahankan status quo dan resisten terhadap perubahan serta melakukan pemusatan kekuasaan. Akibatnya muncul kesan bahwa birokrasi cenderung lebih banyak berkutat pada aspek-aspek prosedural ketimbang mengutamakan substansinya, sehingga lambat dan dapat menghambat kemajuan.

Singkatnya, ada lima aspek penting yang harus diperhatikan untuk melakukan reformasi birokrasi dalam rangka mendorong agar pegawai ASN dapat bekerja secara profesional mewujudkan birokrasi yang berorientasi pada pelayanan publik untuk kepentingan publik. Lima aspek itu adalah (lihat Islamy 2001):

• Adanya tuntutan dari masyarakat untuk menerapkan prinsip good governance dan mendorong agar rekrutmen pegawai ASN jauh dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme, tetapi lebih didasarkan pada sistem merit (kompetensi). • Adanya kritik dari masyarakat bahwa kualitas pelayanan

publik semakin menurun.

• Adanya tuntutan bahwa aparat pemerintah seharusnya lebih memiliki sense of crisis sehingga memahami apa yang harus dilakukan dalam situasi krisis.

• Aparat pemerintah dituntut dapat bekerja secara profesional dengan mengedepankan prinsip public accountability dan responsibility.

• Masyarakat sebagai pihak yang dilayani menuntut agar pemerintah lebih memperhatikan aspirasi mereka.

Di samping lima aspek tuntutan yang ada di dalam masya rakat tersebut, Muh. Irfan Islamy dalam tulisannya berjudul Agenda Kebijaksanaan Reformasi Administrasi Negara menyebutkan ciri negatif birokrasi di negara berkembang termasuk di Indonesia yang bersifat patrimonialistis: tidak efisien, tidak efektif (over consuming dan over producing), tidak objektif, menjadi pemarah ketika berhadapan dengan kontrol dan kritik,

tidak mengabdi kepada kepentingan umum, dan tidak lagi menjadi alat rakyat tetapi telah menjadi instrumen penguasa dan sering tampil sebagai penguasa yang sangat otoritatif dan represif.

Selanjutnya, Islamy juga mengemukakan bahwa rasionali- tas birokrasi ala Weberian juga tidak mampu mengatasi berbagai persoalan birokrasi dan birokratisasi tersebut. Penerapan prinsip-prinsip birokrasi tipe ideal Weber yang berciri struktural-hirarkhi, imparsial, penerapan aturan yang ketat, pengawasan yang ketat, dan bersandar pada keahlian dan spesialisasi yang semua ciri tersebut disebut sebagai rule governance di satu sisi memang telah memberikan dampak positif berupa semakin tingginya tertib administrasi yang dicapai oleh suatu organisasi publik. Namun, ciri birokrasi yang sangat rasional itu justru mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan.

Para birokrat dan aparat negara bekerja secara impersonal seperti robot, yang kaku, formalistik, dan tidak peka terhadap nilai kemanusiaan dan lingkungan sosialnya. Akibat dari sifat layanan publik yang kaku dan formalistik itu pada akhirnya dapat menimbulkan terjadinya konflik dengan masyarakat yang dilayani. Penerapan peraturan bukan untuk melayani kepentingan publik, tetapi dibuat untuk tujuan dirinya sendiri. Atau menurut Islamy, aturan-aturan sebagai sarana mencapai tujuan seringkali berubah menjadi tujuan itu sendiri bila aparat tidak memahami dengan benar fungsi dan peran aturan-aturan tersebut. Namun demikian, paradigma rule governance tidak bisa diterapkan dalam reformasi birokrasi di Indonesia. Paradigma ini bisa diterapkan, tetapi dengan memperhatikan implikasi terhadap eksistensi dan aktivitas penyelenggaraan pemerintahan, yang menurut Jan-Erik Lane (1995 dalam Islamy 2001) mengandaikan bahwa pemerintahan seharusnya kecil dan terorganisir agar dapat menjalankan aturan yang jelas dalam mempromosikan prediktibilitas dan legalitasnya (governance should be small and organized in accordance

with clear rules that promote predictability and legality). Sementara itu, birokrasi pemerintahan di Indonesia saat ini sudah sangat besar dan tidak bisa lagi mengandalkan pada sistem perilaku aparat yang berorientasi pada aturan yang ada (a rule oriented system of behaviour), tetapi harus lebih pada sistem perilaku yang berorientasi pada pencapaian tujuan (goal-oriented behaviour) (Islamiy 2001:17).

Pemerintah kita sekarang membutuhkan lebih banyak tenaga profesional yang menguasai teknik-teknik manajemen pemerintah dan yang lebih berorientasi pada pencapaian tujuan. Atau seperti yang dikatakan oleh Lane (1995 dalam Islamy 2001): "The rule may be handled by administrative prersonnel whereas goals must be accomplished by professionals". Oleh karena itu, manajemen sektor publik sekarang ini membutuhkan lebih banyak aparat-aparat profesional yang dapat menangani tugas-tugas pemerintahan berdasarkan keahlian profesional. Beberapa hal di atas mendasari pentingnya ASN dapat bekerja secara profesional mengedepankan kepentingan publik dan masyarakat yang menjadi konsumen layanan.

Dengan terwujudnya ASN yang profesional turut men- dorong terwujudnya reformasi birokrasi yang lebih baik yang mendorong terciptanya kemajuan bangsa dan negara. Karena pusat pelayanan publik ada pada birokrasi. Jika birokrasi pemerintahan tidak dijalankan dengan baik dan efisien, maka kepentingan nasional akan terabaikan dan lebih mengutamakan kepentingan golongan saja. Adalah kewajiban ASN untuk mengemban tugas tersebut.

Dalam dokumen Hak Cipta Pada Lembaga Administrasi Nega (Halaman 123-127)