• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEOR

A.5. Aspek-aspek dalam Perilaku Prososial

Baron & Byrne (2003, h.263) memberikan definisi perilaku prososial sebagai perilaku yang memberikan keuntungan pada orang lain, namun tidak memberikan keuntungan yang jelas bagi individu yang bersangkutan. Baron & Byrne juga menyebutkan tiga aspek perilaku prososial, yang antara lain :

1. Menolong orang lain yang kesulitan (Helping A Stranger Distress)

Pengaruh kehadiran orang lain (bystander effect) membuat seseorang cenderung kurang memberikan bantuan pada orang asing yang mengalami kesulitan. Semakin banyak orang yang hadir, semakin kecil kemungkinan individu yang benar-benar memberikan pertolongan. Terdapat dua variabel yang bisa mendukung dan menghambat individu untuk menolong orang yang mengalami kesulitan, yaitu penyebaran tanggung jawab dan menghindari kesalahan.

a. Penyebaran tanggung jawab

Bila tanggung jawab sosial merupakan keyakinan normatif yang jelas bagi kelompoknya, maka kehadiran orang lain

menyebabkan meningkatnya kemungkinan dalam berperilaku prososial.

b. Menghindari kesalahan

Kehadiran orang lain bisa menjadi penghambat berperilaku prososial, karena individu yang berada dalam kelompok orang banyak takut apabila melakukan kesalahan sosial. Apabila individu sedang sendiri, maka tidak akan ragu-ragu dalam melakukannya. Namun, saat ada beberapa orang di tempat, kecenderungannya adalah menunggu perintah daripada membuat kesalahan dan terlihat kebodohannya.

Individu yang menolong orang yang mengalami kesulitan juga mempertimbangkan hadiah dan kerugian yang diperoleh, suasana hati individu pada waktu itu, empati dan karakteristik individu

2. Mengurangi suatu tindak pelanggaran (Deterring A Wrongdoer) Adanya keinginan untuk menciptakan keamanan dengan mengurangi pelanggaran dan adanya rasa tanggung jawab untuk memberikan bantuan terhadap orang yang mengalami tindak pelanggaran. Komitmen utama terhadap tanggung jawabnya akan meningkatkan kemungkinan untuk ikut serta dalam berperilaku prososial.

3. Menahan godaan (Resist Temptation)

Individu seringkali dihadapkan pada pilihan antara melakukan apa yang diketahui dengan mempertahankan perilaku moral atau melakukan cara penyelesaian yang mudah melalui berbohong, berbuat curang, atau mencuri. Hal tersebut sangat menggoda individu untuk melanggar aturan yang ada agar memperoleh keuntungan dengan segera. Misalnya, perawat yang mencuri waktu istirahat di luar izin antara 20-25 menit setiap minggunya atau seorang pegawai yang melakukan pencurian terhadap penyediaan barang bagi para pekerjanya. Individu nampaknya lebih menyukai melakukan kejahatan sederhana jika keuntungan yang diperoleh secara potensial tinggi dan jika kemungkinan diketahui atau ditangkap dan kerugian yang diperoleh rendah. Meskipun ada sejumlah orang yang melakukan tindakan ilegal atau tidak bermoral namun masih banyak orang yang mampu menahan godaan tersebut.

B. Pengguna Jalan

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengguna jalan berarti semua orang yang menggunakan jalan sebagai lintasan

untuk menuju suatu tempat. Pengguna jalan ini antara lain, pejalan kaki, pengguna kendaraan, dan pengemudi angkutan kota.

Pengguna jalan adalah pemakai jalan raya atau jalan umum. Jalan adalah tempat untuk lalu lintas orang atau kendaraan sebagai perlintasan, dari satu tempat ke tempat lain. Sedangkan jalan raya adalah jalan besar, lebar, biasanya beraspal, dapat dilalui kendaraan besar (truk, bus) dari dua arah yang berlawanan (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1999, h.396)

C. Polisi Lalu Lintas

Menurut Kamus Besar Ilmu Pengetahuan, polisi adalah badan sipil, sebagai bagian lembaga eksekutif yang bertugas memelihara ketertiban umum dan melindungi setiap pribadi dan harta milik dari ancaman tindakan di luar hukum. Pengertian lain, polisi adalah badan pemerintah yang bertugas memelihara keamanan dan ketertiban umum (menangkap orang yang melanggar Undang- undang) atau pegawai negara yang bertugas menjaga keamanan. Di Indonesia terlembaga dalam wujud Polisi Negara Republik Indonesia yang terbagi dalam beberapa dinas.

Dinas pengawasan keselamatan Negara bertugas mengawasi infiltrasi, penetrasi, spionase, dan sabotase di bidang politik,

ekonomi, dan sosial. Reserse kriminal mempunyai tugas memberantas kejahatan. Polisi perairan bertugas melakukan perondaan di perairan untuk memberantas perdagangan gelap dan penyelundupan. Brigadir mobil (Brimob) bertugas menjaga keamanan secara preventif. Sedangkan, polisi lalu lintas memiliki tugas mengatur dan mengawasi lalu lintas di jalan-jalan umum, atau polisi yang bertugas memelihara keamanan dan keselamatan lalu lintas.

Diantara aparat keamanan negara diatas, polisi lalu lintaslah yang paling sering berhubungan langsung dengan masyarakat, terutama pengguna jalan. Polisi lalu lintas mempunyai misi sebagai mitra masyarakat. Unit Patroli lalu lintas merupakan unsur pelaksana pada satuan lalu lintas yang bertugas melaksanakan satu atau beberapa fungsi operasional satuan lalu lintas. Dalam pelaksanaan tugas tersebut meliputi penjagaan, pengaturan, pengawalan, dan patroli lalu lintas.

D. Kerangka Pikir Peneliti

Kinerja polisi lalu lintas saat ini menghadapi berbagai tantangan yang berkaitan dengan masalah-masalah perkotaan seperti kepadatan lalu lintas. Tugas-tugas polisi lalu lintas antara lain untuk penjagaan, pengaturan, pengawalan, dan patroli lalu

lintas. Polisi lalu lintas sebagai bagian aparat kemanan negara diharapkan mampu merespon kebutuhan pengguna jalan dengan memberikan pelayanan yang terbaik. Bentuk pelayanan yang diberikan merupakan bagian dari tugas polisi lalu lintas, yaitu menciptakan situasi aman terhindar dari kemacetan dan keruwetan, mengatur lalu lintas disaat traffic lightnya tidak berfungsi maksimal, menolong orang yang menyeberang jalan, memberikan informasi berkaitan dengan arah jalan, dan memberi bantuan bila ada orang yang mengalami kesulitan di jalan raya. Oleh karena itu setiap personel polisi lalu lintas (Polantas) dituntut lebih mengedepankan segi efektivitas dan efisien saat bertugas di lapangan, begitu pula, segi moral atau integritas.

Harapannya sebagai polisi lalu lintas juga sama dengan polisi-polisi lain, yaitu memiliki tugas melindungi, mengayomi, dan melayani masyarakat, menegakkan hukum, memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, terutamanya kepada pengguna jalan di jalan raya. Tugas-tugas tersebut menuntutnya untuk menghindarkan diri dari perbuatan tercela, menciptakan tertib sosial dan rasa aman publik, ikhlas dan ramah, serta meningkatkan mutu pelayanan pada masyarakat.

Seorang anggota polisi diharapkan memiliki perilaku yang positif dalam sosial kemasyarakatan. Berdasar pada Kode Etik Profesi Kepolisian Negara Republik Indonesia (2006, h.3), seorang polisi harus memiliki etika kepribadian, etika kenegaraan, etika kelembagaan, dan etika dalam hubungan dengan masyarakat. Semua etika tersebut mengarah pada sikap moral seorang anggota polisi. Nampaknya, peraturan-peraturan kepolisian menuntut polisi bertindak sesuai profesi dan martabatnya sebagai aparat keamanan negara. Pelayanan polisi lalu lintas merupakan salah satu bentuk perilaku prososial, yaitu (dalam Sears dkk, 1994, h.73) perilaku menolong tanpa memperhatikan motif-motif penolongnya.

Kepedulian atau kesediaan berperilaku prososial tidak begitu saja terbentuk dalam diri seseorang. Hal ini bisa diawali oleh pemahaman yang baik tentang altruisme yaitu mendahulukan kepentingan orang lain daripada diri sendiri. Kepedulian sosial yang diberikan keluarga maupun masyarakat menjadi suatu pegangan nilai atau norma sosial bagi seseorang untuk membantu meringankan beban orang lain yang tertimpa musibah. Mereka akan mudah tergugah untuk melakukan sesuatu karena terdorong empati yang begitu besar terhadap suatu peristiwa bencana. Dalam berempati seseorang berusaha memahami dan merasakan

penderitaan orang lain dari sudut pandang yang orang tersebut. Dengan demikian akan timbul perasaan emosional untuk melakukan sesuatu yang dapat meringankan beban penderitaan yang dirasakan orang tersebut

Hal yang utama dalam perilaku prososial adalah adanya kesediaan dalam diri seseorang untuk memberikan apa yang dimilikinya, misalnya kesediaan untuk berbagi perasaan dengan orang lain dalam suasana suka maupun duka, kesediaan untuk melakukan sesuatu seperti apa adanya dan tidak berbuat curang terhadap orang lain, kesediaan memberikan bantuan atau pertolongan kepada orang lain yang sedang mengalami kesulitan, kesediaan untuk memberikan secara sukarela sebagian barang miliknya kepada orang yang membutuhkan, dan masih banyak lagi. Menurut Hurlock (2000, h.287) seseorang yang berhasil melakukan penyesuaian sosial dengan baik mampu mengembangkan sikap sosial yang menyenangkan seperti kesediaan untuk membantu orang lain, meskipun dirinya sendiri mengalami kesulitan. Faktor kesediaan merupakan ciri khas dari perilaku prososial, karena mengandung nilai ketulusan hati dalam memberikan sesuatu pada orang lain. Jika kita dapat melakukannya secara tulus maka semua

menjadi sangat sederhana, tidak ada rasa marah, benci, tidak puas, kecewa, khawatir maupun dendam.

Berdasar pada hasil pengamatan terhadap perilaku polisi lalu lintas, peneliti menemukan adanya perbedaan perlakuan dalam melayani masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat prososial polisi masih banyak yang jauh dari standar yang diharapkan. Norma penting yang harus dimiliki oleh seseorang dalam berperilaku prososial adalah adanya tanggung jawab sosial, norma timbal balik, dan kadilan sosial (Campbell dalam Sears, 1994, h.50). Ketiga norma ini merupakan dasar budaya bagi perilaku prososial. Jadi apabila seorang polisi memiliki ketiga norma tersebut maka perlakuan terhadap masyarakat semata-mata karena adanya tanggung jawab moral dalam memberikan pelayanan dan bukan mencari pengharapan pribadi untuk memperoleh pujian.

Dokumen terkait