• Tidak ada hasil yang ditemukan

Aspek-Aspek efikasi diri pelajaran matematika

BAB I. PENGANTAR

D. Keaslian Penelitian

2. Aspek-Aspek efikasi diri pelajaran matematika

Bandura (1997) menyebutkan bahwa pengukuran terhadap efikasi diri individu didasarkan pada tiga dimensi yaitu:

a. Dimensi tingkat (magnitude level)

Dimensi tingkat berkaitan dengan tingkat kesulitan tugas, di mana individu merasa mampu melaksanakannya, individu merasa mampu melakukan tugas, apakah berkaitan dengan tugas yang sederhana, sedang, atau yang paling sulit. Contoh pada dimensi ini adalah keyakinan seorang akan berbeda tingkatannya ketika menghadapi soal matematika yang mudah dengan soal matematika yang susah. Siswa cenderung merasa lebih yakin ketika mengerjakan soal yang dianggapnya mudah.

b. Dimensi Kekuatan (strength)

Dimensi ini berkaitan dengan kekuatan penilaian tentang kecakapan individu. Hal ini mengacu pada derajat kemampuan individu terhadap keyakinan akan kemampuannya menyelesaikan tugas. Pada dimensi ini keyakinan siswa digolongkan

dalam beberapa tingkatan misalnya ketika siswa tersebut mengerjakan soal yang susah siswa tersebut dapat merasakan sangat yakin atau sedikit yakin, atau bahkan tidak yakin.

c. Dimensi generalisasi (generality)

Dimensi yang berhubungan dengan luas bidang perilaku. Efikasi diri seseorang tidak terbatas hanya pada satu bidang spesifik saja. Dimensi ini mengacu pada variasi situasi di mana penilaian seseorang tentang efikasi diri dapat diungkapkan. Pada dimensi ini keyakinan seseorang bisa terpengaruh ketika seseorang mendapatkan tugas lebih dari satu.

Berdasarkan uraian di atas, efikasi diri terbagi menjadi 3 dimensi. Dimensi yang pertama adalah dimensi tingkat (magnitude level), yaitu dimensi yang berhubungan dengan tingkat kesulitan tugas. Kemudian dimensi yang kedua adalah dimensi kekuatan (strength)yang membahas tentang penilaian seseorang terhadap kemampuan dirinya dalam mengerjakan suatu hal. Dimensi yang ketiga adalah dimensi generalisasi (generakity) di mana pada dimensi ini membahas tentang kemampuan seseorang dalam mengerjakan beberapa tugas dalam waktu yang sama.

Ketiga dimensi tersebut kemudian menjadi bagian dari efikasi diri pelajaran matematika.

3. Standar Kompetensi Pelajaran Matematika Sekolah Menengah Atas

Pelajaran matematika pada tingkatan SMA juga memiliki standar kompetensi yang sama antara sekolah yang satu dengan yang lainnya. Setiap

tingkatan kelas akan terbagi menjadi beberapa bab dan sub bab yang sesuai dengan silabus yang telah ada.

Untuk kelas XI terbagi menjadi 8 bab. Bab pertama membahas tentang statistika. Kemudian untuk bab kedua kompetensi dasarnya adalah peluang.

Selanjutnya kompetensi dasar pelajaran matematika pada kelas XI adalah mempelajari tentang lingkaran. Bab ke 4 memiliki kompetensi dasar membahas Rumus-rumus Trigonometri. Kompetensi dasar pada bab selanjutnya memnbahas tentang Suku Banyak yang kemudian dilanjutkan pada komposisi fungsi dan invers fungsi, kemudian limit fungsi, dan bab yang terakhir pada kelas XI memiliki kompetensi dasar tentang Turunan Fungsi.

Uraian di atas adalah standar kompetensi untuk kelas XI. Standar kompetensi kelas XI meliputi lingkaran, rumus trigonometri, suku banyak, komposisi fungsi dan invers fungsi, limit fungsi, dan turunan fungsi. Dari kompetensi-kompetensi tertersebut juga akan digunakan digunakan sebagai komponen alat ukur pada penelitian ini.

4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Efikasi Diri Pelajaran Matematika Efikasi diri masing-masing orang tidaklah sama. Kepercayaan seseorang terhadap kemampuan dirinya merupakan aspek utaman dari pengetahuan diri.

Keyakinan akan efikasi diri dibangun dari empat prinsip sumber informasi. Bandura (1997) juga mengungkapkan bahwa informasi mengenai efikasi diri berasal dari empat sumber utama, yaitu.

a. Pengalaman keberhasilan (Enactive Mastery Experience)

Sumber ini dipercaya sebagai sumber yang paling dominan dan terpengaruh karena berdasarkan pengalaman-pengalaman langsung individu dalam menuntaskan suatu tugas. Pengalaman keberhasilan akan meningkatkan penilaian terhadap efikasi diri sedangkan pengalaman kegagalan akan menurunkan penilaian terhadap efikasi diri seseorang.

b. Pengalaman orang lain (Vacarious Experience)

Pengalaman tentang keberhasilan seseorang merupakan sumber informasi mengenai efikasi diri yang diperoleh melalui pengamatan terhadap oralng lain.

Apabila individu melihat orang lain tersebut menghadapi aktivitas sulit dan berhasil tanpa konsekuensi buruk, maka akan terbentuk harapan keberhasilan serupa pada dirinya bila bertindak seperti model yang dihadapi. Pengaruh dari pengalaman keberhasilan orang lain tersebut begantung pada beberapa hal, yaitu:

karakteristik model, keadaan situasional dan variasi hasil yang mampu dicapai oleh model.

c. Persuasi verbal (Verbal Persuasion)

Sumber ini mengacu pada penyampaian informasi verbal oleh orang yang berpengaruh. Persuasi verbal ini biasanya digunakan untuk meyakinkan individu bahwa dirinya cukup mampu melaksanakan tugasnya hingga kemudian mendorong individu untuk melakukan tugasnya dengan sebaik mungkin.

d. Kondisi dan afeksi fisiologis (Phsysiological and Affective States)

Kondisi somatis dan emosi seperti kecemasan, stres dan keadaan mood juga memberikan informasi tentang keyakinan efikasi seseorang. Mereka dapat mengukur tingkat keyakinan mereka dengan pengalaman emosi yang mereka antisipasi terhadap keberhasilan atau kegagalan. Ketika mereka mengalami pikiran negatif dan ketakutan mengenal kemampuan mereka, hal tersebut dengan sendirinya dapat menurunkan efikasi diri dan memicu stres sehingga apa yang mereka takutkan dapat benar-benar terjadi. Karena itu, peningkatan kesehatan emosi dan mengurangi kondisi emosi negatif agar efek yang ditimbulkan dapat dikurangi.

Uraian di atas adalah sumber-sumber dari efikasi diri. Sumber yang pertama adalah pengalaman keberhasilan, maksudnya seseorang merasa yakin ketika pernah berhasil dalam mengerjakan suatu tugas dan kemudian mengerjakan tugas itu lagi. Sumber yang kedua adalah pengalaman orang lain yaitu orang yakin karena melihat orang lain yang sudah berhasil dalam menyelesaikan suatu tugas. Sumber yang ketiga adalah persuasi verbal, dimana keyakinan seseorang dapat di tingkatkan oleh persuasi dari orang lain. Sumber yang terakhir adalah kondisi afeksi fisiologis dari orang itu sendiri. Sumber-sumber tersebut yang kemudian dapat menghasilkan efikasi diri pada seseorang.

B. Dukungan Sosial 1. Pengertian Dukungan Sosial

Reber & Reber (2010) dalam kamus psikologi menyatakan bahwa dukungan sosial adalah semua bentuk dukungan yang disediakan individu dan kelompok lain yang membantu seorang individu mengatasi hidup. Johnson dan Johnson (1991) mengemukakan dukungan sosial sebagai keberadaan orang lain yang bisa diandalkan untuk dimintai bantuan, dorongan dan penerimaan apabila individu mengalami kesulitan.

Sarafino (1990) mengungkapkan bahwa dukungan sosial mengacu pada kesenangan yang dirasakan, penghargaan atau kepedulian, atau membantu orang menerima sesuatu dari orang lain atau kelompok lain. Menurut Katz & Kahn (1979), komunikasi akan memberikan sifat positif disertai rasa suka, rasa percaya, dan adanya penghormatan yang sangat berarti yang dirasakan bagi orang yang mendapatkan dukungan sosial. dukungan sosial adalah sebuah proses dinamis. Kebutuhan seseorang akan dukungan sosial dapat berubah-ubah. Terkadang seorang sangat membutuhkan dukungan sosial dan sebaliknya terkadang seseoreang tidak memerlukan dukungan sosial (Wortman & Dunkel-Scheter, 1987)

Caplan (Sugiyanto & Suseno, 2010) mengungkapkan bahwa dukungan sosial adalah tindakan menolong orang lain dan ketentraman berkomunikasi dengan orang lain. Perilaku menolong ini termanifestasi dalam tiga bentuk yaitu pertama, pemberian perhatian afeksi dan pemeliharaan yang membantu mempertahankan harga

diri dan mendukung keyakinan, kedua adalah bantuan informasi dan bimbingan pemecahan informasi dan bimbingan pemecahan masalah yang praktis, dan ketiga yaitu dukungan dalam bentuk pemberian dorongan berupa penilaian atau umpan balik (Crider, 1983)

Johnson dan Johnson (1991) mengemukakan dukungan sosial sebagai keberadaan orang lain yang bisa diandalkan untuk dimintai bantuan, dorongan dan penerimaan apabila individu mengalami kesulitan. Dukungan sosial dapat berupa informasi atau nasehat verbal dan nonverbal, bantuan nyata atau tindakan yang diberikan oleh keakraban sosial atau didapat karena kehadiran mereka dan mempunyai manfaat emosional atau efek perilaku bagi pihak penerima (Gottlieb, 1983).

Berdasarkan beberapa pendapat mengenai dukungan sosial maka dapat disimpulkan bahwa dukungan sosial adalah suatu bentuk hubungan interpersonal dengan orang-orang yang ada di sekitar, yang didalamnya terdapat pemberian bantuan yang dapat berupa empati yang diberikan melalui proses komunikasi, kontak sosial pada akhirnya akan mendapatkan kesenangan, penghargaan dari orang yangmendapatkan bantuan, serta perasaan diperhatikan dari orang yang menerima bantuan atau dukungan. Pemberian dukungan ini meliputi perhatian afeksi dan pemeliharaan yang membantu mempertahankan harga diri dan mendukung keyakinan, kedua adalah bantuan informasi dan bimbingan pemecahan masalah yang

praktis, dan ketiga yaitu dukungan dalam bentuk pemberian dorongan berupa penilaian atau impan balik.

2. Aspek – Aspek Dukungan Sosial

Menurut Caplan (dalam Crider, 1983) dukungan sosial mempunyai tiga komponen, yaitu:

a. Dukungan Emosional

Perhatian emosional yaitu individu merasa bahwa orang-orang yang ada di sekitarnya memberikan perhatian pribadi pada dirinya dan membantu memecahkan masalah, baik masalah yang dihadapi dalam pekerjaan maupun masalah pribadi. Aspek ini melibatkan kekuatan jasmanani dan keinginan untuk percaya pada orang lain sehingga individu yang bersangkutan menjadi yakin bahwa orang lain tersebut mampu memberikan dukungan kepadanya.

b. Dukungan Informasi

Perhatian informasi yaitu individu mendapatkan informasi-informasi yang dibutuhkan dan juga dapat menyampaikan informasi kepada individu-individuyang lain. Aspek informasi ini terdiri dari pemberian nasehat, pengarahan, dan keterangan lain yang dibutuhkan oleh individu yang bersangkutan.

c. Dukungan Penilaian

Penilaian (umpan balik) yaitu individu mendapatkan perhatian dorongan, umpan balik atau penilaian yang mendukung atas pekerjaan yang dilakukannya.

Dukungan penilaian ini misalnya adalah dengan memberikan umpan balik, baik secara langsung (verbal) atau bisa juga secara tidak langsung misalnya dengan memberikan nilai tambahan.

Penjabaran di atas merupakan aspek dari dukungan sosial. Dukungan sosial terbagi menjadi tiga aspek. Yang pertama adalah dukungan emosional yang berupa perhatian-perhatian pribadi dari guru. Kemudian dukungan informasi berupa informasi yang jelas dalam penyelesaian tugas tertentu. Yang terakhir adalah dukungan penilaian atau umpan balik dengan cara memberikan penilaian terhadap tugas yang sudah diselesaikan. Ketiga hal tersebut menjadi aspek dari dukungan sosial yang kemudian akan dijadikan sebagai acuan dalam pembuatan alat ukur pada penelitian ini.

C. Hubungan Antara Dukungan Sosial Guru Dengan Efikasi Diri Pelajaran Matematika

Dalam setiap jenjang pendidikannya manusia pasti mengalami mata pelajaran Matematika. Hal ini dikarenakan matematika sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia. Matematika sebagai ilmu dasar, sangatlah dirasakan keterkaitannya dengan ilmu-ilmu yang lain seperti ekonomi, teknologi, psikologi dan rekayasa. Peran

matematika dalam interaksi ini terletak pada struktur ilmu dan penalaran yang digunakan. Sekarang ini ilmu matematika makin banyak digunakan dalam berbagai bidang kehidupan seperti bidang industri, asuransi, ekonomi, pertanian dan bidang sosial maupun teknik. Pada abad informasi sekarang dan masa mendatang, peranan matematika akan semakin dirasakan terutama menganalisa dan mengintepretasikan data dari pengamatan untuk diolah menjadi informasi yang berguna bagi pengambilan keputusan. Namun terkadang siswa cenderung menganggap matematika itu sebagai hal yang menakutkan sehingga cenderung menghindari dan tidak berhasil dalam bidang ini.

Menurut Bandura (1997), individu yang memiliki efikasi diri yang tinggi akan sangat mudah dalam menghadapi tantangan. Individu tidak merasa ragu karena memiliki kepercayaan yang penuh dengan kemampuan dirinya. Individu ini menurut Bandura (1997) akan cepat menghadapi masalah dan mampu bangkit dari kegagalan yang dialami. Efikasi diri yaitu keyakinan pada kemampuan diri sendiri dalam menghadapi dan memcahkan masalah dengan efektif. Efikasi diri juga berarti meyakini diri sendiri mampu berhasil dan sukses. Individu dengan efikasi diri tinggi memiliki komitmen dalam memecahkan masalah dengan tidak akan menyerah ketika menemukan bahwa strategi yang sedang digunakan itu tidak berhasil (Reivich dan Shatte, 2002) Siswa membutuhkan dukungan dari orang lain untuk dapat memecahkan persoalan-persoalan yang berhubungan dengan matematika dengan sebaik mungkin. Dalam hal ini, guru yang dapat membantu siswa untuk

menyelesaikan pelajaran matematika nya secara efektif (Bandura,1997). Dukungan dari orang lain yang membantu dan berkualitas disebut dengan dukungan sosial.

Artinya dengan adanya dukungan sosial mampu meningkatkan kekuatan (reinforcement) atau kemantapan subjek terhadap keyakinannya. Skinner (1987) mengungkapkan bahwa tujuan psikologi adalah meramal, mengontrol tingkah laku.

Pada teori ini guru memberi penghargaan hadiah atau nilai tinggi sehingga anak akan lebih rajin. Teori ini juga disebut dengan operant conditioning. Operant conditioning adalah suatu proses penguatan perilaku operant yang dapat mengakibatkan perilaku tersebut dapat diulang kembali atau menghilang sesuaikeinginan.Tingkat kekuatan atau kemantapan subjek merupakan salah satu aspek dari efikasi diri pelajaran matematika.

Dukungan emosional yaitu individu merasa bahwa orang-orang yang ada di sekitarnya memberikan perhatian pribadi pada dirinya dan membantu memecahkan masalah, baik masalah yang dihadapi dalam pekerjaan maupun masalah pribadi.

Kondisi emosional sangatlah berpengaruh dengan kondisi afektif subjek. Kondisi afektif subjek dapat menjadi sumber efikasi diri seperti yang diungkapkan Bandura (1997). Dalam hal ini akan menyebabkan seorang menjadi lebih yakin ketika guru memberikan semangat-semangat atau dukungan kepada siswa.

Dukungan informasi yaitu individu mendapatkan informasi-informasi yang dibutuhkan dan juga dapat menyampaikan informasi kepada individu-individu yang lain. Seorang yang memiliki sedikit informasi akan kesulitan dalam mengerjakan

suatu tugas tertentu dan dapat menurunkan keyakinannya akan dapat menyelesaikan tugas tersebut. Oleh karena itu dukungan berupa informasi dapat mempengaruhi efikasi diri seseorang dalam menyelesaikan suatu tugas tertentu. Dalam Hal ini misalnya ketika guru memberikan penjelasan secara detail dan rinci kepada siswanya hal ini akan dapat meningkatkan keyakinan dan kemampuan siswa tersebut dalam menyelesaikan tugas matematika.

Dukungan penilaian (umpan balik) yaitu individu mendapatkan perhatian dorongan, umpan balik atau penilaian yang mendukung atas pekerjaan yang dilakukannya. Ketika seseorang berhasil dalam menyelesaikan suatu tugas akan lebih baik jika lingkungan sekitarnya memberikan umpan balik akan keberhasilan yang telah dicapainya, sebaliknya ketika seorang mengalamai kegagalan atau kesulitan dalam menyelesaikan suatu tugas maka tetap harus diberikan umpan balik tetapi tidak dengan tujuan menjatuhkan. Ketika umpan balik yang diberikan cenderung tidak membangun maka bisa membuat efikasi diri subjek menjadi menurun dan sebaliknya.

Uraian di atas mengungkap keterkaitan antara dukungan sosial dengan efikasi diri pelajaran matematika. Dukungan sosial yang diberikan secara tepat dapat meningkatkan efikasi diri siswa pada pelajaran matematika sehingga dapat mengerjakan tugas-tugas matematika dengan yakin dan mantap.

D. Hipotesis Penelitian

Hipotesis yang diajukan pada penelitian ini adalah ada hubungan positif antara dukungan sosial guru dengan efikasi pelajaran matematika. Siswa yang mengalami dukungan sosial guru yang tinggi semakin tinggi pula efikasi diri matematikanya.

Sebaliknya, siswa yang mengalami dukungan sosial rendah maka semakin rendah pula efikasi diri pelajaran matematikanya.

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Identifikasi Variabel Penelitian

Pada penelitian ini variabel yang digunakan adalah variabel tergantung dan variabel bebas.

1. Variabel Tergantung : Efikasi Diri Pelajaran Matematika 2. Variabel Bebas : Dukungan Sosial Guru

B. Definisi Operasional Variabel Penelitian 1. Efikasi Diri Pelajaran Matematika

Efikasi diri pelajaran matematika adalah keyakinan siswa akan kemampuan atau konmpetensinya atas kinerja tugas yang diberikan, mencapai tujuan, atau mengatasi sebuah hambatan. Kaitannya dalam pelajaran metematika adalah efikasi diri tersebut mengacu pada keyakinan siswa tersebut untuk dapat melakukan dan berhasil dalam tugas matematika yang diberikan.

27 

Efikasi diri pelajaran matematika diukur dengan menggunakan skala yang disusun peneliti dengan menggunakan teori dari Bandura (Bandura, 1997) yaitu : Dimensi tingkat, dimensi kekuatan, dan dimensi generalisasi.

Untuk mengetahui tingkat efikasi diri pelajaran matematika dilihat dari total jumlah skor yang diperoleh pada skala Efikasi Diri Pelajaran Matematika. Semakin tinggi skor total yang diperoleh, maka semakin tinggi Efikasi Diri Pelajaran Matematika pada siswa SMA Negeri 1 Depok.

Sebaliknya semakin rendah skor total yang diperoleh, maka semakin rendah efikasi diri pelajaran matematika pada siswa SMA Negeri 1 Depok.

2. Dukungan Sosial

Dukungan sosial adalah suatu bentuk hubungan interpersonal dengan orang-orang yang ada di sekitar, yang didalamnya terdapat pemberian bantuan yang dapat berupa empati yang diberikan melalui proses komunikasi, kontak sosial pada akhirnya akan mendapatkan kesenangan, penghargaan dari orang yangmendapatkan bantuan, serta perasaan diperhatikan dari orang yang menerima bantuan atau dukungan.

Dukungan sosial dalam penelitian ini adalah dukungan sosial yang diberikan oleh guru kepada siswa. Untuk mengukurnya adalah memberikan skala dukungan sosial yang diisi oleh siswa dengan menggunakan persepsi dari siswa.Dukungan sosial diungkap dengan Skala Dukungan Sosial yang

disusun peneliti berdasarkan teori dari Caplan (dalam Crider, 1983) yaitu : Dukungan emosional, dukungan informasi, dukungan penilaian.

Besarnya dukungan sosial yang diterima oleh siswa dilihat dari jumlah skor total yang diperoleh pada skala Dukungan Sosial Guru. Semakin tinggi skor total yang diperoleh, maka semakin tinggi dukungan sosial yang diterima oleh siswa SMA Negeri 1 Depok. Sebaliknya semakin rendah skor yang diperoleh maka semakin rendah dukungan sosial yang diterima oleh siswa SMA Negeri 1 Depok.

C. Subjek Penelitian

Subyek dalam penelitian ini adalah siswa atau siswi SMA yang mendapatkan mata pelajaran matematika. Adapun karakteristik subyek dalam penelitian ini antara lain :

1. Tercatat sebagai siswa SMA Negeri 1 Depok 2. Berusia antara 16-19 tahun

3. Kelas XI jurusan IPS

4. Berjenis kelamin laki – laki atau perempuan.

Dipilihnya subjek dengan karakteristik tersebut karena pada usia tersebut subjek mendapatkan pelajaran matematika yang semakin kompleks dari sebelumnya.

Jumlah subjek yang akan diambil sebanyak 37 orang. Menurut Azwar (2005), jumlah subjek penelitian ini sudah memenuhi ukuran minimum sampel metode penelitian

deskriptif korelasional yang menganggap jumlah sampel lebih dari 30 orang sudah cukup.

D. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah skala psikologi, yaitu instrumen yang dapat dipakai untuk mengukur atribut psikologis. Menurut Azwar (2009) skala sebagai alat ukur psikologis mempunyai karakteristik tertentu yaitu :

1. Stimulusnya berupa pertanyaan atau pernyataan yang tidak langsung mengungkap atribut yang hendak diukur melainkan mengungkap indikator perilaku dari atribut yang hendak diukur.

2. Berisi banyak aitem sehingga kesimpulan baru dapat diambil apabila semua aitem sudah direspon.

3. Respon subjek terhadap aitem tidak dklasifikasikan sebagai jawaban benar atau salah.

Penelitian ini menggunakan dua buah skala, yaitu Skala Efikasi Diri Pelajaran Matematika dan Skala Dukungan Sosial Guru. Kedua skala tersebut menggunakan model skala Likert yang terdiri dari pernyataan favorable dan unfavorable. Aitem favourable adalah aitem yang mendukung, memihak dan menunjukkan adanya ciri – ciri serta karakteristik dari atribut yang diukur sedangkan aitem unfavorable yaitu aitem yang tidak mendukung, memihak

dan menunjukkan adanya ciri – ciri serta karakteristik serta atribut yang diukur.

1. Skala Efikasi Diri Pelajaran Matematika

Skala ini digunakan untuk mengetahui efikasi diri pelajaran matematika pada siswa SMA Negeri 1 Depok. Skala ini disusun sendiri oleh peneliti berdasarkan aspek menurut Bandura (1997), yaitu dimensi tingkat, dimensi kekuatan, dan dimensi generalisasi.

Skala Efikasi Diri Pelajaran Matematika ini terdiri dari 29 pernyataan, yang terbagi dalam aitem favorable dan aitem unfavorable untuk tiap-tiap aspek. Pemberian nilai dalam skala ini menggunakan model Likert dengan empat alternatif jawaban, yaitu Sangat Setuju, Setuju, Tidak Setuju, dan Sangat Tidak Setuju . Pernyataan favorable sangat setuju diberi skor 4, Setuju diberi skor 3, Tidak Setuju diberi skor 2, dan Sangat Ttidak Setuju diberi skor 1.

Pernyataan unfavorable jawaban Sangat Tidak Setuju diberi skor 4, Tidak Setuju diberi skor 3, Setuju diberi skor 2, dan Sangat Setuju diberi skor 1.

Nilai total diperoleh dari penjumlahan skor keseluruhan aitem, dimana semakin tinggi nilai total yang didapat maka semakin tinggi efikasi diri subjek, dan semakin rendah nilai total yang didapat maka semakin rendah efikasi diri subjek. Adapun penyebaran butir-butir skala efikasi diri pelajaran matematika sebelum di uji coba dapat dilihat pada tabel 1 dibawah ini.

Tabel 1

Distribusi Butir Skala Efikasi Diri Pelajaran Matematika

2. Skala Dukungan Sosial

Dukungan sosial diungkap dengan Skala Dukungan Sosial yang disusun peneliti berdasarkan teori Caplan yaitu : Dukungan emosional, dukungan informasi, dukungan penilaian

Skala Dukungan Sosial ini terdiri dari 29 pernyataan, yang terbagi dalam aitem favorable dan aitem unfavorable untuk tiap-tiap aspek. Pemberian nilai dalam skala ini menggunakan model Likert dengan empat alternatif jawaban, yaitu Sangat Setuju, Setuju, Tidak Setuju, dan Sangat Tidak Setuju . Pernyataan favorable sangat setuju diberi skor 4, Setuju diberi skor 3, Tidak Setuju diberi skor 2, dan Sangat Ttidak Setuju diberi skor 1. Pernyataan unfavorable jawaban Sangat Tidak Setuju diberi skor 4, Tidak Setuju diberi skor 3, Setuju diberi skor 2, dan Sangat Setuju diberi skor 1.

Aspek Butir Favorable Butir Unfavorable

Nomor Butir Jumlah Nomor Butir Jumlah

Nilai total diperoleh dari penjumlahan skor keseluruhan aitem, dimana semakin tinggi nilai total yang didapat maka semakin besar dukungan sosial yang diterima subjek, dan semakin rendah nilai total yang didapat kecil dukungan sosial yang diterima oleh subjek. Adapun penyebaran butir-butir skala dukungan sosial pada penderita gagal ginjal kronis sebelum di uji coba dapat dilihat pada tabel 2 dibawah ini.

Tabel 2

Distribusi Butir Skala Dukungan Sosial Sebelum Uji Coba

Aspek Butir Favorable Butir Unfavorable

Nomor Butir Jumlah Nomor Butir Jumlah

1. Dukungan

E. Validitas dan Reliabilitas 1. Validitas

Validitas berasal dari kata validity yang mempunyai arti sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya.

Suatu tes atau instrumen pengukur dapat dikatakan mempunyai validitas yang

Suatu tes atau instrumen pengukur dapat dikatakan mempunyai validitas yang

Dokumen terkait