• Tidak ada hasil yang ditemukan

Aspek-Aspek Keterampilan Berpikir Kreatif

Keterampilan berpikir kreatif terdiri dari aspek berpikir lancar (fluency), berpikir luwes (flexibility), berpikir orisinil (originality), dan berpikir merinci (elaboration) Torrance (Munandar; 2009). Penelitian menunjukkan kenaikan yang berbeda pada setiap aspek keterampilan berpikir kreatif, berikut uraian pembahasan masing-masing aspek tersebut:

commit to user

a. Berpikir Lancar (fluency)

Berpikir lancar adalah aspek keterampilan berpikir kreatif yang paling rendah jika dibandingkan dengan aspek lainnya. Hasil dari siklus I menunjukkan kenaikan jika dibandingkan pada tahap pra-siklus, pencapaian pada siklus I sebesar 31,4% jika dibandingkan pada tahap pra-siklus sebesar 25,5%.

Peningkatan persentase pada siklus I merupakan akibat dari penerapan Project Based Learning (PjBL) yang memberikan kebebesan untuk siswa berpikir dan mengemukakan gagasan serta ide yang dimiliki. Akan tetapi, percapaian pada siklus I untuk aspek berpikir lancar belum memenuhi target penelitian, karena aspek berpikir lancar siswa masih masuk kategori kurang kreatif. Hal ini karena jawaban siswa masih mengacu pada buku pegangan dari sekolah, buku yang digunakan siswa yakni buku Biologi 1 SMA Kelas X Kurikulum 2013. Siswa belum bisa mengembangkan gagasan serta ide dan masih belum bisa berpikir out of the box.

Hasil tes aspek fluency siklus I menunjukkan peningkatan menjadi 31,4%

dengan kategori kurang kreatif terhadap pra-siklus sebesar 25,5%. Peningkatan pada siklus I merupakan akibat dari penerapan model PjBL yang memberikan kepercayaan kepada siswa untuk berpikir dan berani mengukapkan gagasan baru.

Akan tetapi, capaian tersebut belum memenuhi target penelitian karena siswa belum mampu berpikir out of the box dari fenomena yang diangkat dalam soal tes sehingga jawaban siswa hanya mengacu pada bacaan soal. Kemudian dilanjutkan penelitian siklus II karena pada siklus I aspek berpikir lancar belum memenuhi target penelitian. Adapun hasil tes aspek fluency siklus II menunjukkan peningkatan menjadi 76,8% dengan masuk kategori kreatif. Refleksi terhadap kekurangan selama proses pembelajaran di siklus I yang dilakukan antara peneliti dan guru menjadi faktor utama peningkatan aspek berpikir lancar atau fluency.

Tahap dalam model Project Based Learning yang mampu melatih aspek berpikir lancar atau fluency yakni start with the essential question, monitor the students and the progress of project, dan evaluate the experience (Utami dkk., 2015). Ketiga tahap Project Based Learning tersebut mambantu siswa commit to user

merumuskan pertanyaan mendasar, menyampaikan banyak gagasan maupun ide, dan memberikan solusi atau jawaban atas pertayaan mendasar yang dikembangkan berdasarkan permasalahan.

b. Berpikir Luwes (flexibility)

Menurut Munandar (2009) berpikir luwes (flexibility) merupakan aspek yang ditandai dengan keragaman gagasan, pertanyaan, jawaban, maupun solusi atas suatu permasalahan. Hasil dari siklus I menunjukkan kenaikan jika dibandingkan pada tahap pra-siklus, pencapaian pada siklus I sebesar 42,3% jika dibandingkan pada tahap pra-siklus sebesar 24,1%. Pencapaian tersebut telah memenuhi target penelitian yang diakibatkan dari penerapan model Project Based Learning (PjBL). Sedangkan untuk hasil siklus II, persentase yang didapatkan sebesar 53,6% yang masuk ke kategori cukup kreatif. Peningkatan pada siklus II merupakan dampak dari tahap refleksi yang dilakukan oleh peneliti dan guru mata pelajaran biologi yang mengampu, siswa lebih banyak diberikan kesempatan untuk bertanya hal yang tidak diketahui dan guru selalu mengingatkan siswa untuk menggunakan waktu sebaik mungkin.

Tahap sintaks dalam model Project Based Learning (PjBL) terbukti mampu melatih siswa untuk mengembangkan aspek flexibility. Sintaks dalam PjBL yang mampu melatih aspek flexibility yakni start with the essential question dan assess the outcome (Utami dkk., 2015). Menghadirkan sebuah fenomena atau permasalahan pada tahap start with the essential question dapat membimbing siswa untuk melakukan penafsiran yang berbeda-beda sesuai dengan apa yang siswa tangkap dalam proses pembelajaran sehingga aspek flexibility siswa dapat terlatih. Sintaks Project Based Learning yaitu asses the outcome melatih aspek flexibility dengan melalui hasil pemikiran antar siswa yang terimplementasi dalam bentuk proyek pembuatan poster.

c. Berpikir Orisinal (originality)

Berpikir Orisinal (originality) merupakan aspek berpikir kreatif dengan tingkat kesukaran tertinggi kedua yang menekankan pada kegiatan menghasilkan ungkapan-ungkapan baru atau unik hasil dari kombinasi unsur sebelumnya commit to user

(Munandar, 2009; Siswono, 2007). Hasil dari siklus I menunjukkan kenaikan jika dibandingkan pada tahap pra-siklus, pencapaian pada siklus I sebesar 36,8% jika dibandingkan pada tahap pra-siklus sebesar 17,5%. Berdasarkan hasil persentase yang didapatkan pada siklus I maka sudah memenuhi target penelitian. Faktor utama yang menyebabkan tercapaian target penelitian karena setiap siswa sudah mampu mengkombinasikan ide-ide antar anggota kelompoknya yang telah disampaikan pada tahap design a plan for the project. Setiap kelompok berhasil untuk mengemas presentasi hasil proyek yang sudah dikerjakan sebelumnya sesuai dengan ciri khas oleh masing-masing kelompok. Proses pembelajaran yang demikian, sejalan dengan pendapat Sumarni (2015) yang mengatakan bahwa originality identik dengan kombinasi ide atau elemen yang telah ada sebelumnya menjadi hal baru. Sedangkan untuk hasil tes aspek originality atau berpikir orisinal pada siklus II didapatkan hasil peningkatan persentase menjadi 49,8%.

Peningkatan ini terjadi disebabkan karena pengaruh perbaikan pada aspek fluency, dimana aspek fluency merupakan basic dari keterampilan berpikir kreatif.

Sintaks dari model Project Based Learning (PjBL) yang mampu melatih aspek originality atau berpikir orisinal yakni design a plan for the project dan assess the outcome (Utami dkk., 2015). Pada tahap design a plan for the project siswa dituntut untuk mampu mampu mengkombinasikan ide maupun gagasan sehingga dapat melatih aspek originality. Asses the outcome dapat meningkatkan aspek originality melalui presentasi yang dilakukan oleh kelompok, setiap kelompok memiliki cara yang berbeda dalam melakukan presentasi sehingga menghadirkan penampilan baru yang berbeda dari umumnya.

d. Berpikir Merinci (elaboration)

Berpikir Merinci (elaboration) merupakan aspek berpikir kreatif dengan tingkat kesukaran tertinggi yang menekankan pada pengembangan gagasan melalui langkah-langkah maupun kegiatan- kegiatan yang jelas dan terperinci (Munandar, 2009; Siswono, 2007). Hasil dari siklus I menunjukkan kenaikan jika dibandingkan pada tahap pra-siklus, pencapaian pada siklus I sebesar 40,7% jika dibandingkan pada tahap pra-siklus sebesar 19,6%. Berdasarkan hasil yang commit to user

diperoleh pada siklus I menunjukkan bahwa aspek elaboration sudah memenuhi ketercapaian target penelitian. Design a plan for the project dan assess the outcome mampu melatih siswa untuk membuat dan merancang proyek dari pertanyaan mendasar yang sudah disusun, hal ini yang meningkatkan aspek elaboration pada keterampilan berpikir kreatif. Hasil tes aspek elaboration siklus II menunjukkan peningkatan menjadi 58,6%, peningkatan ini disebabkan salah satunya karena meningkatnya aspek fluency. Karakelle (2009) mengatakan bahwa fluency merupakan elemen dasar keterampilan berpikir kreatif sehingga perbaikan pada aspek tersebut memengaruhi aspek flexibility, originality, dan elaboration.

Sintaks model Project Based Learning (PjBL) yang mampu melatih aspek elaboration yakni design a plan for the project dan assess the outcome (Utami et al., 2015). Sintaks design a plan for the project melatih aspek elaboration dengan cara membimbing siswa membuat rancangan proyek baik pada siklus I dan siklus II beserta dengan jadwal pelaksanaanya. Sintaks assess the outcome melatih aspek elaboration melalui hasil proyek yang sudah dirancang oleh masing-masing kelompok. Proyek yang dirancang merupakan hasil pengamatan secara rinci dari fenomena-fenomena dan permasalahan terbuka yang ditemukan pada tahap awal proses pembelajaran untuk menemukan jawaban dan solusi.

Berdasarkan pembahasan diketahui bahwa masing-masing aspek keterampilan berpikir kreatif mengalami kenaikan pada setiap siklus penelitian sehingga dapat dikatakan bahwa pembelajaran biologi dengan menerapkan model Project Based Learning mampu meningkatkan keterampilan berpikir kreatif siswa kelas X MIPA 5 SMA Batik 1 Surakarta.

commit to user

Dokumen terkait