BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. Hakekat Penerimaan Diri
2. Aspek-aspek Penerimaan Diri
Menurut Hurlock (1973), beberapa aspek peneriman adalah sebagai berikut :
a. Sifat percaya diri dan menghargai diri sendiri.
Seseorang dengan penerimaan diri baik mampu menerima kelebihan dan kelemahan dalam dirinya. Menghargai apa yang dimiliki dalam diri, membantu individu untuk lebih percaya diri dan mampu melakukan apa yang ingin dilakukan. Remaja diharapkan mampu bersikap percaya diri dengan keadaannya saat ini meskipun memiliki orangtua tunggal. Remaja dengan orangtua tunggal tidak menghindar dari lingkungan namun mampu terbuka dengan keadaannya.
b. Kesediaan menerima kritikan dari orang lain.
Mampu menerima kritik dari orang lain membantu individu untuk lebih berkembang. Seseorang yang mau menerima kritik dan terbuka terhadap perbedaan menunjukan penerimaan diri yang baik. Dengan adanya kritik dari orang lain, seseorang diharapkan mampu berubah kearah yang baik.
c. Mampu menilai diri dan mengkoreksi kelemahan.
Individu mampu menyadari kelemahan yang dimiliki dan berusaha untuk mengembangkannya menjadi lebih baik. mampu menerima kelemahan menjadi salah satu ciri individu yang memiliki penerimaan diri baik. Remaja mampu melihat kekurangan dari dirinya dan mau belajar untuk menjadi lebih baik lagi.
d. Jujur terhadap diri sendiri dan orang lain.
Seseorang yang menerima diri mampu membuka diri terhadap orang lain. Bersikap jujur dengan diri sendiri dan orang lain juga berkaitan dengan menerima semua kelebihan dan kelemahan yang dimiliki. Orang yang mampu menerima diri terbuka tentang apa saja yang mampu ia lakukan dan apa saja yang tidak mampu ia lakukan, sehingga dalam bersosialisasi ia dapat melakukauan sesuatu dengan lebih baik. Remaja dengan orangtua tunggal diharapkan mampu jujur terhadap orang lain dengan
keadaannya saat ini. Remaja yang mampu bersikap jujur dengan keadaannya berarti mampu menerima dirinya sendiri.
e. Nyaman dengan dirinya sendiri.
Nyaman dengan diri sendiri berarti tidak merasa tertekan dengan apa yang dimiliki dan apa yang tidak dimiliki. Tidak selalu membandingkan diri dengan orang lain merupakan salah satu cara kita untuk dapat menerima diri. Proses perkembangan manusia sebagian ditentukan oleh kehendaknya sendiri. Dalam hal ini, remaja dengan dengan orangtua tunggal diharapkan tidak selalu menyalahkan dirinya ataupun lingkungannya karena memiliki orangtua tunggal. Melainkan remaja dengan orangtua tunggal mampu berkembang tanpa merasa tertekan oleh lingkungan dengan keadaan orangtua mereka.
f. Memanfaatkan kemampuan dengan efektif.
Mampu menerima diri berarti juga mampu mengelola kemampuan yang dimiliki dengan baik. Menjadikan kelebihan yang dimiliki sebagai sarana untuk mengembangkan diri.
g. Mandiri dan berpendirian.
Seseorang yang menerima diri mampu bersikap mandiri.
Mandiri dengan permasalhannya ataupun dengan kebutuhannya, tidak tergantung pada orang lain. Selain itu, seseorang yang mampu menerima diri juga biasanya memiliki pendirian dan tidak
mudah berubah. Hal ini dapat membantu individu untuk terus berkembang menjadi lebih baik.
h. Bangga menjadi diri sendiri.
Hal yang palin penting dari menerima diri adalah bangga dengan dirinya sendiri. Seseorang yang mampu mencapai tahap ini biasanya tidak merasa tersaingi dengan orang lain. Bangga dengan diri sendiri juga merupakan salah satu cara untuk mencintai diri sendiri.
3. Ciri-ciri Individu yang Menerima Diri
Menurut Allport (Hjelle & Daniel, 1981), seseorang yang mampu menerima dirinya akan memiliki ciri sebagi berikut :
a. Memiliki gambaran positif tentang dirinya.
Seseorang dengan penerimaan diri yang baik mampu melihat kelebihan dalam dirinya, bukan hanya melihat kekurangan yang dimiliki. Memandang diri secara positif membantu seseorang untuk dapat menerima dirinya sendiri dan juga menerima orang lain. hal ini juga berkaitan dengan kepercayaan diri yang dimiliki oleh individu.
Dua sumber penting dukungan sosial yang berpengaruh terhadap rasa percaya diri remaja adalah hubungan dengan orangtua dan hubungan dengan teman sebaya (Santrock, 2003).
Remaja memiliki tingkat rasa percaya diri yang paling tinggi ketika mereka berhasil di dalam dominan-dominan diri yang penting.
Maka dari itu, remaja harus didukung untuk menghargai kompetensi-kompetensi mereka.
Prestasi juga dapat memperbaiki tingkat percaya diri remaja. Hal ini sejalan dengan konsep teori belajar sosial kognitif Bandura mengenai kualitas diri (self-efficacy)yang merupakan keyakinan individu bahwa dirinya dapat menguasai suatu situasi dan menghasilkan sesuatu yang positif (Santrock, 2003).
Rasa percaya diri dapat juga meningkat ketika remaja menghadapi masalah dan berusaha untuk mengatasinya, bukan hanya menghindarinya. Perilaku ini menghasilakan suatu evaluasi diri yang menyenangkan yang bisa meningkatkan rasa percaya diri (Santrock, 2003).
Dalam kehidupan kelompok biasanya remaja juga akan melakukan perbandingan antara dirinya dengan orang lain dan penilaian diri ini akan sangat mempengaruhi gambaran diri mereka (Soetjiningsih, 2004).
b. Dapat mengatur dan dapat bertoleransi dengan rasa frustasi atau kemarahannya.
Mampu mengelolah emosi menjadi salah satu ciri individu yang dapat menerima diri. Seseorang yang menerima diri mampu melihat situasi dan kondisi sekitar dalam memunculkan emosinya.
Sedangkan seseorang yang kurang mampu menerima diri tidak
dapat mengelolah emosi dan cenderung meluapkan emosi secara berlebihan.
Seseorang memiliki kebutuhan untuk menyesal dan mengetahui sesuatu yang baru. Seseorang memiliki kebutuhan untuk bebas melakukan percobaan-percobaan serta penyelidikan-penyelidikan tentang kehidupan. Demikianlah seseorang memiliki kebutuhan untuk melakukan penelitian terhadap sesuatu yang belum jelas tentang dirinya (Rifai. 1984).
c. Dapat berinteraksi dengan orang lain tanpa memusuhi mereka apabila orang lain memberi kritikan.
Seseorang yang mampu menerima diri memiliki sosialisasi yang baik dengan orang lain. Sosialisasi ini terwujud dalam bentuk komunikasi ataupun kerja sama dengan orang lain. Selain itu, seseorang yang mampu menerima diri tidak merasa khawatir ataupun tertekan dengan kehadiran orang lain. Dapat menerima kritik dari orang lain merupakan salah satu hal yang menunjukan bahwa seseorang mampu menerima diri dan menghargai adanya perbedaan, serta mau berubah untuk menjadi lebih baik.
Proses perkembangan pribadi dan sosial dapat digambarkan sebagai proses perkembangan dari taraf penemuan dan penyadaran yang intolerant terhadap perbedaan-perbedaan individual yang luas, menuju kepada taraf dimana perbedaan-perbedaan dan keragaman itu dapat diterima dengan penuh kesabarandengan
penilaian yang memberikan kepuasan (Rifai, 1984). Kesadaran terhadap perbedaan-perbedaan orang lain berhubungan dengan perkembangan toleransi sosial. Toleransi sosial berhubungan dengan perkembangan pembentukan kritisme remaja terhadap dirinya sendiri dan pembentukan kritisme remaja terhadap hubungannya dengan kelompok.
Manusia memiliki kepekaan sosial. Kepekaan sosial berarti kemampuan untuk menyesuaikan perilaku dengan harapan dan pandangan orang lain (Sarwono, 2009). Salah satu ciri kedewasaan menurut Allport (Sarwono, 2007) yaitu memiliki falsafah hidup tertentu (unifying philosophy of life). Individu paham kedudukannya dalam masyarakat, ia paham bagaimana harus bertingkah laku, dan ia berusaha mencari jalannya sendiri menuju sasaran yang ia tetapkan sendiri. Orang seperti ini tidak lagi mudah terpengaruh dan pendapat-pendapatnya, serta sikap-sikapnya cukup jelas dan tegas.
d. Dapat mengatur keadaan emosi (seperti marah, depresi, atau rasa bersalah).
Mampu mengelola emosi menjadi hal yang sangat penting bagi setiap individu.Dengan mampu mengelola emosi, individu mampu mengatasi segala situasi yang dihadapinya dengan lebih baik.
Rasa marah dan takut pada remaja timbul karena “social slinghting” yaitu kebimbangan remaja akan status sosial yang
belum jelas dan stabil (Rifai, 1984). Pernyataan kemarahan itu kurang bersifat spontan dan kurang banyak dinyatakan dalam bentuk gerakan-gerakan, tetapi lebih banyak dinyatakan dalam kata. pernyataan takut pada remaja dinyatakan melauli kata-kata atau dengan penghindaran diri dari relasi sosial semacam itu.
Masa remaja adalah pencapaian kebebasan emosional dari ketergantungannya pada orangtua.
Secara psikologis, kedewasaan adalah keadaan berupa sudah ada ciri-ciri psikologis. Salah satu ciri psikologis kedewasaan menurut Allport (Sarwono, 2007) yaitu kemampuan untuk melihat diri sendiri secara objektif (self objectivication). Hal ini ditandai dengan kemampuan untuk mempunyai wawasan tentang diri sendiri (self insight) dan kemampuan untuk menangkap humor (sense of humor) termasuk yang menjadikan diri sendiri sebagai sasaran.
e. Mengekspresikan keyakinan dan perasaan dengan mempertimbangkan perasaan dan keadaan orang lain.
Psikologi humanistik menekankan pada kebebasan berkehendak sebagi bagian dari kepribadian manusia. Maslow, salah satu pemuka aliran ini berpendapat bahwa kebutuhan manusia yang tertinggi adalah aktualisasi diri (Sarwono,
2009).Bagaimana manusia itu berusaha untuk mencapai aktualisasi dirinya, itulah yang menentukan perilakunya. Mengekspresikan keyakinan ataupun perasaan diri menjadi salah satu hal yang di perlukan oleh individu sebagai sarana untuk mengaktualisasikan dirinya. Seseorang yang mampu mengaktualisasikan dirinya akan merasa puas dengan dirinya sendiri dan mampu menerima diri dengan lebih baik. Salah satu faktor yang menghambat individu dalam menerima diri adalah ketidakmampuan individu tersebut dalam mengaktualisasikan diri atau mengekspresikan perasaannya.
Seiring dengan perkembangan menuju kedewasaan, remaja akan mulai mengevaluasi dirinya dan perubahan-perubahan yang terjadi disekitar dirinya. ide-ide tentang bagaiman mereka harus menyesuaikan dengan dunia kehidupan semakin banyak dipengaruhi oleh penemuan-penemuannya sendiri daripad pengaruh orang lain (Soetjiningsih, 2004).
Aktualisasi diri membantu remaja untuk mencapai kedewasaan sosial. Selain itu, kedewasaan sosial dapat dibantu dengan memberikan kesempatan informal bagi remaja untuk belajar menerima dirinya sendiri dalam hubungannya dengan diri orang lain, atau menerima diri orang lain dalam hubungannya dengan dirinya sendiri (Rifai, 1984).
3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penerimaan Diri
Menurut Hurlock (Vera dan Witrin, 2016) faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan diri antara lain :
a. Pemahaman diri.
Pemahaman diri merupakan cara pandang seseorang terhadap dirinya sendiri, bagaimana individu melihat segala sesuatu yang ada dalam dirinya. Pemahaman diri menunjukan seberapa jauh individu mengenali dirinya, baik mengenali segala kekurangannya maupun kelebihannya secara nyata. Pemahaman dan penerimaan diri merupakan dua aspek yang tidak dapat dipisahkan. Individu yang memiliki pemahaman diri yang baik akan memiliki penerimaan diri yang baik, sebaliknya individu yang memiliki pemahaman diri yang rendah akan memiliki penerimaan diri yang rendah pula.
b. Harapan yang realistik.
Harapan realistik yang dimaksud adalah harapan individu yang sesuai dengan kemampuan dirinya atau tidak berlebihan. Harapan yang realistik ini akan membawa rasa puas bagi individu dan berlanjut pada penerimaan diri individu tersebut. Individu yang mampu mewujud nyatakan harapan realistiknya akan semakin memandang dirinya positif dan membentuk penerimaan diri yang positif juga.
c. Tidak adanya hambatan dari lingkungan.
Hambatan dari lingkungan biasanya bisa berupa diskriminasi atau penolakan. Individu yang tumbuh dalam lingkungan seperti ini
biasanya memandang dirinya secara negatif dan sulit menerima dirinya. Sedangkan, lingkungan yang mendukung individu untuk tumbuh secara positif, membantu individu untuk lebih percaya diri dan melihat diri secara positif. Sehingga hal ini secara tidak langsung membantu individu dalam menerima diri.
d. Sikap sosial yang positif.
Sikap sosial yang positif seperti, mendukung remaja mampu membantu dalam menerima diri. Sikap sosial yang positif membantu remaja untuk membentuk pandangan positif juga terhadap dirinya sendiri. Hal ini mampu meningkatkan penerimaan diri yang dimiliki remaja.
e. Tidak adanya tekanan yang berat.
Tidak adanya tekanan yang berat, baik secar fisik,emosi, ataupun psikologis pada diri individu, membantu individu untuk berpikir dan bertindak secara optimal. Pengoptimalan pikiran dan perilaku ini membawa individu pada penerimaan diri yang positif.
f. Pengaruh keberhasilan.
Setiap individu perlu memiliki pengalaman berhasil dalm hidupnya. Semakin banyak pengalaman keberhasilan dalam hidup individu, membuat individu tersebut untuk terus berusaha.
Keberhasilan mengarahkan diri pada peningkatan kemampuan dan rasa percaya diri.
g. Identifikasi dengan orang yang memiliki penyesuaian diri yang baik.
Pengaruh sosial berperan penting dalam penerimaan diri. Remaja yang bersosialisasi dengan orang lain yang memiliki penyesuaian diri baik, memungkinkan remaja tersebut untuk memiliki penyesuaian yang baik juga. Sikap ini akan membantu remaja untuk merasa nyaman dengan dirinya dan lingkungannya. Proses identifikasi yang paling kuat terjadi pada masa kanak-kanak. Pengalaman yang terjadi pada masa kanak-kanak berpengaruh pada perkembangan individu dimasa remajanya.
h. Persepektif diri yang luas.
Perspektif diri yang luas terbentuk jika individu dapat melihat dirinya sama dengan apa yang dilihat orang lain pada dirinya.
Rendahnya perspektif diri akan menimbulkan perasaan tidak puas dan penolakan diri. Namun perspektif diri yang obyektif dan sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya akan memudahkan dalam penerimaan diri.
i. Pola asuh yang baik pada masa kanak-kanak.
Pola asuh yang diterima seseorang sejak kecil berpengaruh pada kepribadian anak pada proses perkembangan selanjutnya. Pola asuh yang baik pada masa kanak-kanak akan memberikan pengaruh positif pada penerimaan diri, sebaliknya penerimaan diri yang tidak baik akan
memberikan pengaruh yang negatif, yaitu sikap penolakan terhadap diri sendiri.
j. Konsep diri yang stabil.
Konsep diri yang stabil bagi seseorang akan memudahkan dia dalam usaha menerima dirinya. Apabila konsep dirinya selalu berubah-ubah maka dia akan kesulitan memahami diri dan menerimanya sehingga terjadi penolakan pada dirinya sendiri. Hal ini terjadi karena individu memandang dirinya selalu berubah-ubah.
4. Faktor-faktor yang Meningkatkan Penerimaan Diri
Menurut Hurlock (1973), faktor yang dapat meningkatkan penerimaan diri, antara lain: aspirasi realistis, keberhasilan, wawasan diri, wawasan sosial, dan konsep diri yang stabil. Hal tersebut dijelaskan sebagai berikut:
a. Aspirasi realistis.
Supaya anak menerima dirinya, ia harus realistis tentang dirinya dan tidak mempunyai ambisi yang tidak mungkin tercapai. Mereka harus menetapkan sasaran yang di dalam batas kemampuan mereka, walaupun batas ini lebih rendah dari apa yang mereka cita-citakan.
b. Keberhasilan.
Anak harus mengembangkan faktor keberhasilan supaya potensinya berkembang secara maksimal. Memiliki inisiatif dan
meninggalkan kebiasaan menunggu perintah apa yang harus dilakukan.
c. Wawasan diri.
Kemampuan dan kemauan menilai diri secara realistis serta mengenal dan menerima kelemahan serta kekuatan yang dimiliki, akan meningkatkan penerimaan diri. Dengan bertambahnya usia dan pengalaman sosial, anak harus mampu menilai dirinya labih akurat.
d. Wawasan sosial.
Kemampuan melihat diri seperti orang lain melihat mereka dapat menjadi suatu pedoman untuk perilaku yang memungkinkan anak memenuhi harapan sosial.
e. Konsep diri yang stabil.
Bila anak melihatnya dengan satu cara pada satu saat dan cara lain pada saat lain kadang-kadang menguntungkan dan kadang-kadang tidak, mereka menjadi ambivalen tentang dirinya.
B. Hakekat Remaja
1. Pengertian Masa Remaja
Menurut Papalia dan Olds (dalam Santrock,2007), masa remaja merupakan periode transisi perkembangan antara masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Masa remaja berada pada rentan usia 13-18 tahun. Masa remaja dibagi menjadi dua periode, yaitu periode awal dan
akhir. Seseorang pada rentan usia 13-16 tahun masuk dalam periode remaja awal. Sedangkan seseorang pada rentan usia 17-18 tahun masuk dalam periode remaja akhir. Perkembangan individu pada masa remaja melibatkan perubahan biologis, psikologis, dan sosial ekonomi. Dilihat dari perkembangan biologis, remaja adalah suatu masa dimana individu berkembang dari saat pertama kali menunjukan tanda-tanda seksual sekundernya sampai saat ia mencapai kematangan seksual. Sedangkan dilihat dari perkembangan psikologis, remaja adalah suatu masa dimana individu mengalami perkembangan psikologis dan pola identifikasi dari anak-anak menuju dewasa. Dilihat dari perkembangan sosial ekonomi, remaja adalah suatu masa dimana individu mengalami peralihan dari ketergantungan sosial-ekonomi yang penuh, menuju keadaan yang relatif lebih mandiri.
Perubahan-perubahan kognitif yang berlangsung selama transisi dari masa kanak-kanak hingga masa remaja adalah meningkatnya pola berpikir abstrak, idealis, dan logis. Pada masa ini, orangtua diharapkan mampu memberikan tanggung jawab lebih besar pada remaja dalam mengambil keputusan. Hal ini menjadi sebuah respon positif dari orangtua pada remaja terhadap perubahan-perubahan yang dialami.
Dengan memberikan tanggung jawab, remaja merasa lebih dihargai kehadirannya dan semakin menguatkan diri remaja tersebut. perubahan sosial-emosional yang berlangsung dimasa remaja meliputi tuntutan untuk mencapai kemandirian, konflik dengan orangtua, dan keinginan
untuk lebih banyak meluangkan waktu bersama teman-teman. Agar masa transisi ini dapat berkembang dengan baik, orangtua diharapkan mampu beradaptasi dengan perubahan remaja, bersikap bijaksana, serta memberikan dukungan pada remaja.
Pada masa remaja awal, seseorang remaja masih beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang terjadi pada fisiknya dan juga dorongan-dorongan yang menyertai perubahan tersebut. pada masa ini, remaja mengembangkan pikiran-pikiran baru, cepat tertarik dengan lawan jenis, serta sulit mengendalikan ego yang dimiliki. Pada masa ini peran teman sangat berpengaruh padah perkembangan diri remaja.
Remaja senang jika memiliki banyak teman dan mulai bereksplorasi untuk mencai jati diri melalui pergaulannya.
Remaja memiliki kebutuhan yang kuat untuk disukai dan diterima teman sebaya atau kelompok (Diananda, 2018). Remaja merasa senang apabila bisa diterima dalam lingkungan pergaulannya, sebaliknya remaja akan merasa tertekan apabila mendapat penolakan dalam lingkungan pergaulannya. Bagi banyak remaja, pandangan teman-teman terhadap dirinya merupakan hal yang lebih penting, bahkan terkadang lebih penting dari orangtuanya sendiri. Hal ini terjadi karena remaja menganggap dirinya sudah besar dan mandiri, sehingga mereka ingin terbebas dari bayang-bayang orangtua.
Pada masa remaja akhir merupakan peralihan dari masa remaja menuju dewasa. Tahap ini ditandai dengan pencapaian lima hal, yaitu :
a. Minat yang makin mantap terhadap fungsi-fungsi intelek.
b. Egonya mencari kesempatan untuk bersatu dengan orang-orang lain dan dalam pengalaman-pengalaman yang baru.
c. Terbentuk identitas seksual yang tidak berubah lagi.
d. Egosentris (terlalu mementingkan diri sendiri) diganti dengan keseimbangan antara kepentingan diri sendiri dan orang lain.
e. Tumbuh “dinding” yang memisahkan antara diri pribadinya dan masyarakat umum.
Berbeda dengan remaja yang tinggal dengan orangtua lengkap, remaja dengan orangtua tunggal memiliki beberapa karakteristik tersendiri. Menurut Heterington dan Kelly (Papalia dan Feldman.
2014) berdasarkan beberapa riset, 25% anak hasil perceraian ketika masa dewasa awal memiliki masalah serius secara sosial, emosional, atau psikologis, dibandingkan dengan 10% dari anak yang orangtuannya tetap bersama. Menurut Kume (Ayuwanti, dkk. 2018) efek dari perceraian adalah berkurangnya kesejahteraan psikologis bagi anak. Kesejahteraan psikologis dalam hal ini menyangkut hal kepribadian, kepuasan hidup, kepercayaan diri, komunikasi dan aktivitas sehari-hari.
2. Tugas Perkembangan Remaja
Perkembangan adalah pola perubahan yang dimulai sejak masa pembuahan dan terus berlangsung selama hidup. Perkembangan manusia ditentukan oleh proses-proses biologis, kognitif, dan
sosio-emosional. Proses kognitif melibatkan perubahan pemikiran dan intelegensi individu, proses biologis melibatkan perubahan fisik, dan proses sosio-emosional melibatkan perubahan dalam hal emosi, kepribadian, relasi, dan sosial. Tugas utama remaja adalah mempersiapkan diri untuk memasuki masa dewasa.
Tugas perkembangan merupakan tugas yang muncul pada periode tertentu dalam rentang kehidupan individu. Apabila tugas perkembangan itu berhasil dituntaskan akan membawa kebahagiaan bagi individu tersebut, sedangkan apabila gagal dipenuhi maka menyebabkan permasalahan bagi individu dan kesulitan dalam menuntaskan tugas-tugas berikutnya. Tugas-tugas perkembangan tersebut muncul karena adanya beberapa faktor, diantarannya kematangan fisik, tuntutan masyarakat secara kultural, tuntutan dari dorongan dan cita-cita individu sendiri, serta tuntutan norma agama.
Menurut Richmond dan Skalansky (dalam Sarwono, 2016), inti dari tugas perkembangan seseorang dalam periode remaja awal dan menengah adalah memperjuangkan kebebasan. Salah satu kebebasan yang ingin dimiliki oleh remaja adalah terlepas dari tuntutan berlebih dari orangtua terhadap diri mereka. Banyak orangtua yang terlalu memaksakan kehendaknya pada remaja, sehingga remaja seringkali sulit menemukan jati dirinya sendiri dan hanya bisa menurut pada orangtua.
Sedangkan menurut Hurlock (dalam Marliani, 2006), tugas perkembangan dalam masa remaja adalah sebagai berikut :
a. Menerima keadaan fisiknya.
b. Menerima dan memahami peran seks usia dewasa.
c. Membina hubungan baik dengan anggota kelompok yang berlainan jenis.
d. Mencapai kemandirian emosional.
Kemandirian emosional yang dimaksud adalah menerima kasih sayang, mampu mengungkapkan perasaan, dan mampu mengendalikan perasaan yang dimiliki. Menurut Rifai (1984), kebutuhan yang dimiliki remaja diantaranya :
1) Menerima kasih sayang dari lingkungan. Termasuk juga menerima penghargaan atau apresiasi.
2) Memberikan atau mengungkapkan kasih sayang kepada lingkungan sekitar. Remaja butuh untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan di lingkungannya.
3) Memahami persoalan-persoalan tertentu yang ingin dipahami.
4) Mempelajari dan memahami sesuatu yang terjadi dalam lingkungannya.
e. Mencapai kemandirian ekonomi.
f. Mengembangkan konsep dan keterampilan intelektual yang sangat diperlukan untuk melakukan peran sebagai anggota masyarakat.
g. Memahami dan menginternalisasikan nilai-nilai orang dewasa dan orangtua.
h. Mengembangkan perilaku tanggung jawab sosial yang diperlukan untuk memasuki dunia dewasa.
i. Mempersiapkan diri untuk memasuki perkawinan.
j. Memahami dan mempersiapkan berbagai tanggung jawab kehidupan keluarga.
C. Hakekat Orangtua Tunggal (Single Parent) 1. Pengertian Orangtua Tunggal
Menurut Gunarsa (2006), orangtua tunggal atau single parent adalah orang yang melakukan tugas sebagai orangtua (ayah/ibu) seorang diri, karena kehilangan pasangannya. Dapat dikatakan bahwa keluarga dengan orangtua tunggalmemiliki struktur dalam keluarga (ayah, ibu, dan anak) sudah tidak utuh lagi. Ketidak utuhan struktur keluarga ini bisa disebabkan karena salah satu orangtua meninggal dunia, atau adanya perceraian diantara orangtua yang membuat mereka tidak bisa hidup bersama lagi. Orangtua yang tidak bercerai, namun memiliki permaslahan dalam keluarga sehingga menyebabkan salah satunya berpisah rumah juga bisa dikatakan sebagai orangtua tunggal.
Menurut Gunarsa (2006), orangtua tunggal atau single parent adalah orang yang melakukan tugas sebagai orangtua (ayah/ibu) seorang diri, karena kehilangan pasangannya. Dapat dikatakan bahwa keluarga dengan orangtua tunggalmemiliki struktur dalam keluarga (ayah, ibu, dan anak) sudah tidak utuh lagi. Ketidak utuhan struktur keluarga ini bisa disebabkan karena salah satu orangtua meninggal dunia, atau adanya perceraian diantara orangtua yang membuat mereka tidak bisa hidup bersama lagi. Orangtua yang tidak bercerai, namun memiliki permaslahan dalam keluarga sehingga menyebabkan salah satunya berpisah rumah juga bisa dikatakan sebagai orangtua tunggal.